Puisi rakyat yang bersajak a-a b-b c-c disebut gurindam.

Secara umum, gurindam adalah puisi lama yang terdiri dari dua baris kalimat dalam setiap baitnya. Kedua baris tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan makna.

Biasanya, baris pertama berisi semacam soal, peringatan, atau janji, sementara baris kedua memberikan jawaban, akibat, atau penegasan dari baris pertama.

Dengan bentuk yang sederhana, gurindam tetap memiliki kedalaman makna yang tinggi karena berisi nasihat, ajaran moral, serta petuah kehidupan.

Gurindam adalah salah satu bentuk puisi lama yang tumbuh dalam tradisi sastra Melayu dan hingga kini masih dikenal sebagai warisan budaya yang penuh dengan nilai moral dan nasihat kehidupan.

Gurindam sering digunakan sebagai media pendidikan moral bagi masyarakat pada masa lalu. Isinya berfokus pada nilai-nilai kebaikan, budi pekerti, dan etika dalam pergaulan sehari-hari.

Karena sifatnya yang singkat, gurindam mudah diingat, sehingga sering dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan bijak dari orang tua, guru, atau tokoh masyarakat kepada generasi muda.

Ciri-Ciri Gurindam

Untuk lebih mudah mengenal gurindam, berikut adalah beberapa ciri khasnya:

  • Setiap bait terdiri atas dua baris atau larik.
  • Menggunakan pola rima sama atau lurus, biasanya berbentuk a-a.
  • Setiap baris terdiri dari 4 sampai 6 kata atau sekitar 8 sampai 12 suku kata.
  • Hubungan antara baris pertama dan baris kedua bersifat sebab-akibat atau pernyataan dan jawabannya.
  • Isinya berfokus pada nasihat, ajaran moral, petuah, atau amsal yang mengandung kebenaran hidup.

Contoh Gurindam

Berikut beberapa contoh gurindam yang sarat makna:

Jikalau engkau belajar kitab
Maka haruslah taati adab

Barang siapa tidak berilmu
Bagaikan kursi tidak bertumpu

Guru yang tak bisa jadi teladan
Bagaikan bayang tanpa si badan

Kepada guru harus beradab
Kepada rekan jangan biadab

Jangan hanya pandai saja di benak
Namun juga harus pandai di tindak

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bagaimana gurindam mampu menyampaikan pesan bijak dengan singkat namun sangat jelas. Ia tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai pedoman moral yang membentuk karakter masyarakat.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.