Tag: bahasa indonesia

  • Numeralia: Pengertian, Jenis, dan Contoh Kata

    Numeralia: Pengertian, Jenis, dan Contoh Kata

    Pengertian Numeralia

    Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang digunakan untuk menyatakan jumlah atau kuantitas benda berdasarkan urutannya dalam suatu deretan.

    Sedangkan menurut KBBI, arti numeralia adalah kata (atau frasa) yang menunjukkan bilangan atau kuantitas; kata bilangan.

    Menurut A. Chart, frasa numeralia adalah kata-kata yang menyatakan jumlah, bilangan, nomor, urutan dan himpunan.

    Sedangkan menurut I.R. Poedjawijatna dan P.J. Zoetmulder menjelaskan arti numeralia sebagai kata yang dipakai untuk menyatakan sejumlah individu dari kelompok sejenis.

    Jenis Jenis Numeralia

    1. Kata Bilangan Takrif

    Kata bilangan takrif ialah kata bilangan yang digunakan untuk menyatakan jumlah.

    Kata bilangan takrif sendiri terbagi menjadi dua macam yaitu: kata bilangan utama dan kata bilangan tingkat. 

    2. Kata Bilangan Tak Takrif

    Kata bilangan tak takrif merupakan kata bilangan yang menyatakan jumlah yang tak tentu (tidak jelas).

    Contoh: beberapa, tiap-tiap, sebagian, separuh, segala, berbagai, segenap, sekalian, semua, seluruh, dan seterusnya.

    Contoh Numeralia Gugus

    Numeralia gugus atau kata bilangan gugus adalah yang digunakan untuk menyebutkan kelompok jumlah satuan (benda, hal, dan sebagainya). Contohnya:

    1 Gros = 144 (12 lusin)
    1 Lusin = 12
    1 Kodi = 20
    1 Tahun = 12 bulan (360 hari)
    1 Abad = 100 tahun
    1 Windu = 8 tahun
    1 Milenium = 1000 tahun

    Contoh Numeralia Tingkat

    Kata bilangan yang melambangkan urutan. Contohnya:

    kesatu
    kedua
    ketiga
    keempat
    kelima
    keenam
    kesepuluh
    keseratus
    dst.

    Contoh Numeralia Pecahan

    Kata bilangan yang terdiri atas pembilang dan penyebut, dalam bahasa huruf kata bilangan pecahan dibubuhi partikel (per-). Contohnya :

    1/2 = satu perdua (setengah)
    1/4 = satu perempat (seperempat)
    3/4 = tiga perempat
    4/8 = empat perdelapan
    dst

    Contoh Numeralia Penuh

    Kata bilangan utama yang menyatakan jumlah tertentu dan dapat berdiri sendiri tanpa bantuan kata lain. Contohnya:

    Satu
    dua
    tiga
    tujuh
    sepuluh
    dua puluh
    empat puluh
    dst.

    Contoh Numeralia Tak Takrif

    Kata bilangan tak takrif adalah kata bilangan yang menyatakan jumlah yang tak tentu (tidak jelas). Contohnya: 

    beberapa
    tiap-tiap
    sebagian
    separuh
    segala
    berbagai
    segenap
    sekalian
    semua
    seluruh
    dst.

    Contoh numeralia lainnya:

    Basung = dua lusin
    Laksa = sepuluh ribu
    Miliun = juta
    Sereguk = seteguk
    Rante = satuan ukuran luas 1/25 ha
    Seketip = 10 sen
    Sepicis = 10 sen
    Secebis = secarik, sepotong
    Ceban = sepuluh ribu
    Gopek = lima ratus
    Cepek = seratus
    Goceng = lima ribu
    Ceceng = seribu
    Cepek = seratus
    Gotun = lima

    Contoh Numeralia dalam Kalimat

    Berikan sedikit gula pada kopi itu agar tidak terlalu manis.
    Tiap–tiap siswa wajib mengumpulkan PR.
    Ibu membeli emas dua gram.
    Adik membeli bensin satu liter.
    Tiga per empat dari sawah itu adalah milik Ayahku.
    Dia adalah anak keempat dari lima saudara.

  • Pengertian Majas Alegori Beserta Contohnya

    Pengertian Majas Alegori Beserta Contohnya

    Pengertian Majas Alegori

    Majas alegori adalah salah satu jenis majas perbandingan untuk menjelaskan suatu hal secara tidak langsung, melalui sebuah kiasan atau penggambaran yang berkaitan.

    Umumnya, majas alegori sering ditemukan pada karya sastra berupa novel, meski juga kadang ditemukan dalam karya ilmiah.

    Jika merujuk dari bahasa, majas alegori berasal dari bahasa Yunani “Allegorein” yang artinya adalah bicara sebaliknya.

    Sedangkan menurut KBBI, alegori adalah cerita yang dipakai sebagai lambang (ibarat atau kias) peri kehidupan manusia yang sebenarnya untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan sesuatu (gagasan, cita-cita, atau nilai kehidupan, seperti kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran).

    Adapun ciri-ciri majas alegori yaitu terbentuk dengan kalimat yang cukup panjang dan identik menggunakan kata-kata kiasan ataupun retorika untuk menggambarkan sebuah perbandingan tidak langsung.

    Contoh Majas Alegori

    1. Cinta itu seperti menggenggam pasir. Bila tidak digenggam akan menghilang, tetapi jika digenggam terlalu erat maka akan terdesak keluar melalui celah jari dan akhirnya juga menghilang.

    2. Otak kita seperti pisau jika kita selalu rajin untuk mengasahnya maka dia akan menjadi sangat tajam, namun jika kita sangat jarang untuk mengasahnya maka lama kelamaan pisau tersebut akan tumpul bahkan bisa berkarat.

    3. Kitab suci adalah rambu lalu lintas manusia. Selama kita patuh akan rambu itu maka kita akan selamat sampai tujuan.

    4. Wajah yang tampan dan cantik ibaratkan bunga, indah mekar membuat semua yang melihatnya suka , saat layu semua akan pergi.

    5. Kedua orang tua kita digambarkan seperti seorang pelukis yang berperan untuk mewarnai kertas putih yang tidak lain yaitu anaknya sendiri. Bagaimana caranya seorang anak akan menjadi orang yang berhasilitu tinggal tergantung dari orang tuanya.

    6. Kegagalan seperti sebuah batu besar untuk kita lewati yang dengan batu tersebut kita akan mampu melompat lebih tinggi dari saat sebelum kita menemui batu tersebut.

    7. Mereka berdua akan mendayung bahtera rumah tangganya sendiri. Suami harus dapat menjadi nahkoda yang pandai mempertahankan kapal, sedangkan istri harus bisa menjadi juru mudi. Perjalanan tentu tidak akan mudah, di tengah laut tentu akan berhadapan dengan ombak dan badai.

    8. Hidup itu bagaikan sungai yang mengalir, pasti akan ada rintangan seperti gelombang, bebatuan, arus yang kencang, kedalaman yang sulit ditebak, dan hingga pada akhirnya berhenti saat bertemu dengan laut.

    9. Perjalanan hidup ini seperti sungai yang mengalir menyusuri sebuah tebing dan bebatuan, tetapi sangat sulit untuk menebak kedalamannya. Namun rela menerima segala kotoran dan sampah, yang pada akhirnya berhenti ketika sudah bertemu dengan sebuah lautan.

  • Pengertian Konsonan Rangkap dan Contohnya

    Pengertian Konsonan Rangkap dan Contohnya

    Pengertian Konsonan Rangkap

    Konsonan rangkap adalah gabungan dua huruf konsonan dalam satu kata yang membentuk sebuah bunyi baru.

    Adapun yang termasuk dalam kategori ini adalah:

    kh (gabungan huruf k dan h)
    ng (gabungan huruf n dan g)
    ny (gabungan huruf n dan y)
    sy (gabungan huruf s dan y)

    Contoh Konsonan Rangkap dalam Bentuk Kalimat

    Pepaya adalah buah yang kaya akan vitamin A.
    Konsonan rangkap pada kalimat di atas adalah: ng (gabungan n dan g)
    Kata yang mengandung konsonan rangkap adalah: yang.

    Jangan tidur ketika khotbah jumat.
    Konsonan rangkap pada kalimat di atas adalah: kh (gabungan k dan h)
    Kata yang mengandung konsonan rangkap adalah: khotbah.

    Minggu lalu aku tamasya ke Pulau Bali.
    Konsonan rangkap pada kalimat di atas adalah: sy (gabungan s dan y)
    Kata yang mengandung konsonan rangkap adalah: tamasya.

    Aku sedang menempuh kuliah ekonomi syariah.
    Konsonan rangkap pada kalimat di atas adalah: sy (gabungan s dan y)
    Kata yang mengandung konsonan rangkap adalah: syariah.

    Kelas pilihan itu hanya untuk orang pintar.
    Konsonan rangkap pada kalimat di atas adalah: ny (gabungan n dan y)
    Kata yang mengandung konsonan rangkap adalah: hanya.

  • Pengertian Diftong dan Contohnya dalam Bentuk Kalimat

    Pengertian Diftong dan Contohnya dalam Bentuk Kalimat

    Pengertian Diftong

    Diftong adalah gabungan dua huruf vokal yang diucapkan secara bersamaan dalam satu suku kata dan menghasilkan satu bunyi padu.

    Kedua huruf vokal tersebut tidak dapat dipisahkan karena jika dipisahkan, makna atau bunyi katanya akan berubah.

    Dengan kata lain, diftong merupakan perpaduan bunyi vokal yang terjadi dalam satu tarikan napas sehingga terdengar sebagai satu kesatuan suara.

    Dalam bahasa Indonesia, diftong biasanya terjadi pada kombinasi huruf vokal seperti ai, au, dan oi. Ketiga kombinasi ini menghasilkan bunyi yang khas dan tidak dapat dipecah menjadi dua bunyi vokal yang terpisah.

    Misalnya kata harimau, maka huruf a dan u (au) menghasilkan bunyi “aw” adalah diftong. Contoh lain kata pantai, maka huruf a dan i (ai) menghasilkan bunyi “ay” adalah diftong.

    Dalam sistem fonetik bahasa Indonesia, diftong berbeda dari deret vokal biasa.

    Jika dua vokal berada dalam suku kata yang berbeda (misalnya pada kata seolah → se-o-lah), maka itu bukan diftong, melainkan dua vokal terpisah.

    Namun jika dua vokal berada dalam satu suku kata (misalnya pantai → pan-tai), maka itu disebut diftong.

    • Pada kata “harimau”, huruf a dan u membentuk diftong au yang menghasilkan bunyi “aw”.
    • Pada kata “pantai”, huruf a dan i membentuk diftong ai yang menghasilkan bunyi “ay”.
    • Pada kata “tomboi”, huruf o dan i membentuk diftong oi yang menghasilkan bunyi “oy”.

    Contoh Diftong dalam Kalimat Bahasa Indonesia

    Ayo kita pergi ke pantai.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: ay (gabungan a dan i)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: pantai.

    Burung itu selalu berkicau.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah : aw (gabungan dari a dan u)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: kicau.

    Pak Lurah mengimbau warga untuk jaga kebersihan.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: aw (gabungan dari a dan u)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: imbau.

    Si Dewi sangat tomboi karena sering main dengan pria.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: oi (gabungan dari kata o dan i)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: tomboi.
  • 500 Contoh Antonim Bahasa Indonesia

    Pengertian Antonim

    Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lainnya. Lebih sederhana, antonim adalah suatu kata yang berlawanan makna dengan kata lain. Contoh antonim adalah sebagai berikut:

    Abadi X Fana

    Abdi X Majikan

    Abolisi X Pemberatan

    Absen X Hadir

    Abstrak X Konkrit

    Absurd X Rasional

    Aktual X Basi

    Afirmatif X Negatif

    Akrab X Tak kenal

    Akurat X Meleset

    Akut X Ringan

    Alam fana X Alam baka

    Amatir X Ahli

    Anomali X Normal

    Antagonis X Protagonis

    Antagonis X Searah

    Antipati X Simpati

    Antitesis X Tesis

    Apatis X Aktif

    Apex X Zenit

    Arbitrer X Esensial

    Artika X Antartika

    Asketisme X Hedonisme

    Asli X Duplikat

    Asli X Palsu

    Autentik X Palsu

    Beraneka X Semacam

    Berbeda X Sesuai

    Berhasil X Gagal

    Berongga X Rapat

    Berpihak X Netral

    Berselang-seling X Monoton

    Bersimbah X Kering

    Berubah X Konstan

    Bhineka X Tunggal

    Bonafid X Marjinal

    Bongsor X Kerdil

    Boros X Hemat

    Botani X Nabati

    Brilian X Dungu

    Cacat X Normal

    Canggih X Ketinggalan zaman

    Cepat X Lambat

    Deduksi X Induksi

    Defertilisasi X Pemupukan

    Degenerasi X Kemajuan

    Delusi X Nyata

    Dependen X Independen

    Depresi X Resesi

    Destruktif X Konstruktif

    Dialog X Monolog

    Diferensiasi X Ekuivalensi

    Aristo Cha ndra & Team 7

    Dinamis X Statis

    Diskursus X Dogma

    Distansi X Densiti

    Dualisme X Padu

    Dungu X Brilian

    Eklektik X Gradul

    Ekspresi X Impresi

    Ekspresif X Pasif

    Eksternal X Internal

    Ekstrinsik X Internal

    Elastis X Kaku

    Elektik X Tak pilih-pilih

    Elusif X Canggih

    Elusif X Mudah dimengerti

    Empati X Tidak peduli

    Epigon X Maestro

    Esoteris X Terbuka

    Evaporasi X Kondensasi

    Evolusi X Revolusi

    Fakta X Fiksi

    Feminim X Maskulin

    Fiksi X Nonfiksi

    Fiktif X Fakta

    Fisik X Mental

    Frontal X Gradual

    Gagal X Berhasil

    Gamang X Berani

    Gara-gara X Akibat

    Gasal X Genap

    Harmoni X Sumbang

    Hayati X Baka

    Hayati X Mati

    Hemat X Boros

    Higienis X Kotor

    Hiperbola X Apa adanya

    Holistik X Monistik

    Idealisme X Kompromi

    Illegal X Sah

    Imigrasi X Emigrasi

    Impresi X Ekspresi

    Individual X Kolektif

    Induksi X Reduksi

    Inferior X Superior

    Inflasi X Deflasi

    Insomnia X Nyenyak

    Internal X Eksternal

    Introyeksi X Proyeksi

    Jahat X Baik

    Jawab X Tanya

    Jinak X Buas

    Jumbo X Kecil

    Kakek X Cucu

    Kaleidoskop X Seragam

    Kandang X Tandang

    Kapabel X Bodoh

    Kapitalisme X Sosialisme

    contoh antonim

    Kebal X Mempan

    Kecil X Besar

    Kedaluwarsa X Baru

    Kekal X Fana

    Kekang X Bebas

    Kendala X Pendukung

    Kohesi X Adhesi

    Kolektif X Individual

    Kompatibel X Kaku

    Konduktor X Penghambat

    Konklusi X Uraian

    Konklusif X Elusif

    Konrol X Acuh

    Konservasi X Ekploitasi

    Konstan X Berubah-ubah

    Konsumen X Penghasil

    Kontan X Hutang

    Kontiniu X Terputus

    Kontra X Setuju

    Kontradiksi X Konvergensi

    Konveks X Cekung/konkaf

    Kredit X Pemasukan

    Krisis X Stabil

    Krusial X Sepele

    Kualitas X Kuantitas

    Kurus X Tambun

    Labil X Stabil

    Lambat X Cepat

    Lancar X Macet

    Lancung X Asli

    Langit X Bumi

    Las X Bubut

    Liberal X Pembatasan

    Liberalisme X FundamentalismeLonggar X Sempit

    Makar X Jujur

    Makar X Setia

    Mandiri X Bergantung

    Mandiri X Dependen

    Marah X Senang

    Maya X Nyata

    Merana X Senang

    Merdeka X Vasal

    Metafisika X Nyata

    Metodis X Amburadul

    Minor X Mayor

    Mistis X Realis

    Mitos X Fakta

    Mobilitas X Keajegan

    Modern X Kuno

    Modernisasi X Tradisional

    Monogami X Poligami

    Monoton X Berubah-ubah

    Moral X Amoral

    Mufakat X Tidak setuju

    Nadir X Kosong

    Negasi X Konfirmasi

    Nekat X Takut

    Netral X Berpihak

    Nirwana X Dunia

    Nisbi X Mutlak

    Nomadik X Menetap

    Ofensif X Bertahan

    Oponen X Eksponen

    Orator X Pendengar

    Orisinil X Plagiat

    Otokratis X Demokratis

    Otoriter X Demokrasi

    Out put X Input

    Padan X Bukan bandingan

    Padanan X Pertidaksamaan

    Pakar X Awam

    Pancarona X Seragam

    Pandai X Bodoh

    Panjang lebar X Ringkas

    Pasca X Pra

    Pejal X Berongga

    Pejuang X Pengkhianat

    Pembangun X Destruktif

    Pemberani X Penakut

    Penambahan X Eliminasi

    Penting X Remeh

    Percaya diri X Rendah diri

    Perintis X Pewaris

    Perkasa X Lemah

    Pertahanan X Serangan

    Planning X Tak terencana

    Plural X Tunggal

    Plus X Minus

    Polemik X Rukun

    Poliandri X Monogami

    Positif X Negatif

    Positif X Ragu-ragu

    Preambul X Penutup

    Prefiks X Akhiran

    Pro X Kontra

    Professional X Amatir

    Progresif X Regresif

    Prolog X Epilog

    Prominen X Biasa

    Proporsional X Norak

    Proposisi X Reaksi

    Raksasa X Kerdil

    Ramai X Sepi

    Ramalan X Pasti

    Rasional X Irrasional

    Rasionalisme X Empirisme

    Regresif X Progresif

    Remeh X Penting

    Remisi X Penambahan hukuman

    Revolusi X Evolusi

    Ritel X Grosir

    Rivalitas X Persesuaian

    Rutin X Jarang

    Salaf X Mutakhir

    Sampling X Random

    Sederhana X Canggih

    Sekarang X Kemarin

    Sekuler X Keagamaan

    Sekulerisme X Spiritualisme

    Senang X Merana

    Senior X Junior

    Separasi X Penyatuan

    Aristo Cha ndra & Team 9

    Sesuai X Berbeda

    Setem X Sumbang

    Siau X Mendidih

    Simpati X Antipati

    Sinergi X Dualistik

    Sinkron X Sumbang

    Sipil X Militer

    Skeptis X Yakin

    Soliter X Individual

    Sporadis X Jarang

    Stabil X Labil

    Statis X Dinamis

    Subur X Tandus

    Sumbang X Tepat

    Takzim X Lancang

    Tambun X Kurus

    Tawa X Tangis

    Terapung X Tenggelam

    Teratur X Kacau

    Terjamin X Tak tentu

    Terkatung X Terbenam

    Terputus X Kontinu

    Tetiron X Asli

    Tidak berdaya X Sinergi

    Tidak Peduli X Empati

    Tinggi X Rendah

    Transedensi X Imanesi

    Tunggal X Heterogen

    Universal X Parsial

    Vademikum X Kamus besar

    Valuable X Tidak berharga

    Vassal X Merdeka

    Vektor X Skalar

    Vertikal X Horisontal

    Virulen X Baik

    Vokal X Pendiam

    Wreda X Muda

  • 500 Contoh Sinonim Bahasa Indonesia

    Sinonim adalah suatu kata yang memiliki bentuk yang berbeda namun memiliki arti atau pengertian yang sama atau mirip. Sinonim dapat juga disebut sebagai persamaan makna atau padanan kata. Adapun contoh sinonim adalah sebagai berikut:

    Abrasi = Pengikisan
    Absah = Sah
    Absolut = Mutlak
    Absurd = Janggal
    Acum = Rujukan
    Ad interim = Sementara
    Adjektiva = Kata sifat
    Afeksi = Kasih sayang
    Agresi = Serangan
    Agunan = Jaminan
    Ahli = Pakar
    Akselerasi = Percepatan
    Akurat = Seksama
    Almanak = Penanggalan
    Ambiguitas = Bermakna ganda
    Andal = Tangguh
    Anemia = Kurang darah
    Anggaran = Aturan
    Anjung = Panggung
    Antagonis = Berlawanan
    Anulir = Abolisi
    Api = Barah
    Aplikasi = Pelaksanaan
    Arogan = Sombong
    Artis = Seniman
    Asa = Harapan
    Asterik = Tanda bintang
    Asumsi = Anggapan

    Bahari = Laut
    Bahtera = Perahu
    Bala = Bencana
    Bandela = Peti kemas
    Barbar = Tidak beradab
    Berdikari = Mandiri
    Bergaul = Berteman
    Berongsang = Marah-marah
    Berpretensi = Prasangka
    Bhineka = Berbeda-beda
    Bicu = Dongkrak
    Biologi = Hayati
    Bisa = Dapat
    Boga = Makanan kenikmatan
    Bonafide = Dapat dipercaya
    Bromocorah = Residivis
    Bubut = Cabut
    Bukti diri = Identitas
    Bungalow = Pesanggrahan
    Bura = Sembur
    Burkak = Cadar

    Centeng = Body guard
    Citra = Gambaran
    Copyright = Hak cipta
    Dampak = Akibat
    Darma = Pengabdian
    Daur = Siklus
    Deduksi = Konklusi
    Defleksi = Penyimpangan
    Dehidrasi = Kehilangan cairan tubuh
    Dekade = Dasa warsa
    Dekadensi = Kemerosotan moral
    Delusi = Ilusi
    Demagog = Tiran
    Demisioner = Habis masa jabatan
    Deportasi = Pembuangan ke luar negeri
    Derivasi = Afiksasi
    Deskripsi = Pelukisan
    Diagnosis = Penaksiran
    Dialog = Obrolan
    Dikotomi = Dibagi dua
    Dinamis = Bergerak maju
    Disharmoni = Tidak selaras
    Diskriminasi = Subordinat
    Disorientasi = Salah tujuan
    Disparitas = Perbedaan
    Dispensasi = Pengecualian
    Ditenggak = Ditelan bulat-bulat
    Divestasi = Pelepasan
    Dominasi = Penguasaan
    Donasi = Bantuan
    Dosis = Takaran
    Dursila = Jahat
    Ebi = Udang kering
    Ebonit = Kayu hitam

    Ekonomis = Hemat
    Eksibisi = Perunjukan
    Ekskavasi = Penggalian
    Eksklusif = Tertentu
    Ekspansi = Perluasan
    Eksploitasi = Pendayagunaan
    Ekspresi = Aktualisasi diri
    Ekstensi = Perluasan
    Ekuilibrium = Keseimbangan
    Elaborasi = Penjelasan terperinci
    Embargo = Larangan
    Embarkasi = Keberangkatan
    Empati = Ikut merasakan
    Empiris = Realitas
    Endemi = Wabah
    Epilog = Penutup
    Ereksi = Birahi
    Estetika = Keindahan
    Estimasi = Perkiraan
    Etos = Pandangan hidup
    Evakuasi = Pengungsian
    Evaluasi = Penilaian
    Evokasi = Penggugah rasa
    Fauna = Hewan
    Fenomena = Kenyataan
    Fertile = Subur
    File = Arsip
    Fitnah = Rekaan
    Flegmatis = Bertemperamen lamban
    Flora = Tanaman
    Forum = Lembaga
    Frekuwensi = Sinyal
    Friksi = Bentrokan
    Frustasi = Putus Harapan
    Fundamental = Mendasar
    Fungi = Jamur
    Fusi = Gabugan
    Futuristis = Menuju masa depan
    Galat = Keliru
    Gemar = Getol
    Generik = Umum
    Genjah = Cepat berbuah
    Genre = Aliran
    Geothermal = Panas bumi
    Getir = Pahit
    Global = Dunia
    Glosarium = Kamus ringkas
    Gongseng = Sangrai
    Grasi = Pengampunan hukuman
    dari presiden
    Green belt = Jalur hijau

    Harmonis = Serasi
    Harta benda = Mal
    Hayati = Hidup
    Hedonisme = Hura-hura
    Hegemoni = Intervensi
    Hepotenusa = Sisi miring
    Herbi = Berhubungan dengan
    tumbuh-tumbuhan
    Heroisme = Jiwa kepahlawanan
    Heterogen = Tidak sejenis
    Higienis = Bersih
    Hiperbola = Berlebihan
    Holistik = Keseluruhan
    Homogen = Sejenis
    Huma = Lahan
    Humanisme = Kemanusiaan

    Identitas = Bukti diri
    Imbas = Efek
    Imbasan = Isapan
    Implikasi = Akibat
    Implisit = Tersirat
    Impulsif = Spontan
    Indolen = Lesu
    Infiltrasi = Penyusupan
    Inheren = Melekat
    Injeksi = Suntik
    Inovasi = Penemuan
    Insentif = Bonus
    Insinuasi = Sindiran
    Insomnia = Tidak bisa tidur
    Inspeksi = Pemeriksaan
    Insting = Naluri
    Instruktur = Pelatih
    Instrumental = Fragmental
    Interaksi = Hubungan
    Interpelasi = Hak bertanya
    Intuisi = Bisikan Hati
    Invasi = Pencaplokan
    Investigasi = Pemeriksaan

    Ironi = Bertentangan dengan
    harapan
    Iterasi = Perulangan
    Jajak = Telaah
    Jargon = Slogan
    Jeda = Jarak
    Jemawa = Angkuh
    Jumantara = Awang-awang

    Kaldera = Kawah
    Kampiun = Juara
    Kapital = Modal
    Kapling = Tanah yang sudah
    dipetak-petak
    Karakteristik = Ciri
    Karat = Zat oksidasi
    Karnivora = Hewan pemakan daging
    Kawat = Dawai
    Kecenderungan = Kesamaan
    Kedap = Rapat
    Kekeh = Gelak tawa
    Kelenger = Pingsan
    Keletah = Genit
    Kendala = Hambatan
    Khayalan = Imajinasi
    Kisi-kisi = Terali
    Klarifikasi = Penjelasan
    Klimaks = Titik puncak
    Kolaborasi = Kerja sama
    Kolong = Rongga di bawah rumah
    Komedi = Lawak
    Kompatriot = Rekan senegara
    Kompendium = Ringkasan
    Komplotan = Persekutuan
    Konduite = Perilaku
    Kondusif = Aman
    Konfiden = Yakin
    Konfrontasi = Pertikaian
    Konkaf = Cekung
    Konklusi = Kesimpulan
    Konkret = Nyata
    Konkurensi = Sengketa
    Konsensus = Mufakat
    Konservasi = Perlindungan
    Konspirasi = Persekongkolan
    Konstan = Kontinu
    Kontemporer = Pada masa ini
    Kontiniu = Bersambung
    Kontradiksi = Pertentangan
    Konveks = Cembung
    Konvoi = Pergerakan
    Korelasi = Hubungan
    Koreografi = Ilmu tari
    Kreasi = Ciptaan
    Kredibel = Andal
    Kredibilitas = Dapat dipercaya
    Krusial = Penting
    Kudeta = Perebutan kekuasaan
    Kudus = Suci
    Kuliner = Masakan
    Kulminasi = Klimaks

    Kuno = Antik
    Laba = Keuntungan
    Landskap = Pertamanan
    Latif = Indah
    Legal = Sah
    Liga = Perserikatan
    Loka = Tempat
    Majemuk = Beragam
    Makar = Muslihat
    Makelar = Pialang
    Mal = Harta benda
    Mala = Bencana
    Manunggal = Bersatu
    Mayapada = Dunia
    Mediator = Perantara
    Mekar = Mengembang
    Mengecoh = Mengakali
    Militan = Agresif
    Misteri = Rahasia
    Mistifikasi = Sakralisasi
    Mistik = Gaib
    Mitra = Kawan
    Mixer = Aduk-aduk
    Mobilitas = Gerak
    Model = Contoh
    Monoton = Terus-menerus
    Motilitas = Gerak
    Mudun = Beradab
    Mutakhir = Terkini
    Mutakhir = Terkini
    Aristo Cha ndra & Team 5
    Mutilasi = Pemotongan
    Nabati = Botani
    Naratif = Terinci
    Nir = Tidak
    Nisbi = Relatif
    Niscaya = Pasti
    Norma = kebiasaan
    Nuansa = Perbedaan makna
    Omnivora = Hewan pemakan daging
    dan tumbuh-tumbuhan
    Opas = Pesuruh
    Oral = Berkaitan dengan mulut
    Orisinil = Asli
    Ortodok = Konservatif
    Otodidak = Belajar sendiri
    Oval = Bulat telur
    Pangkas = Potong
    Paparan = Gambaran
    Paradigma = Kerangka berpikir
    Paradoks = Lawan asas
    Paradoksal = Kontras
    Paras = Wajah
    Paripurna = Sempurna
    Partikelir = Swasta
    Paseban = Penghadapan
    Pedagogi = Pengajaran
    Pedoman = Panduan
    Pembatasan = Restriksi
    Pemugaran = Perbaikan
    Pencerahan = Kesadaran
    Perdeo = Gratis
    Perforasi = Perlubangan
    Perlop = Cuti
    Pingsan = Kelenger
    Pioner = Perintis
    Plagiator = Penjiplak
    Planning = Rencana
    Poly = Banyak
    Preman = Partikelir
    Premi = Iuran pertanggungan
    asuransi
    Preposisi = Kata depan
    Prestise = Martabat
    Pretensi = Pura-pura
    Primer = Utama
    Prominen = Kondang
    Promotor = Penganjur
    Prosedur = Mekanisme
    Proteksi = Perlindungan
    Protesis = Buatan
    Rabat = Potongan harga
    Rahib = Pendeta
    Ralat = Pembetulan
    Rambang = Acak
    Rancu = Kacau
    Random = Secara acak
    Rapel = Pembayaran sekaligus
    Rapuh = Ringkih
    Ratifikasi = Pengesahan
    Referensi = Surat keterangan
    Relasi = Rekanan
    Rendezvous = Pertemuan
    Residu = Sisa
    Restriksi = Pembatasan
    Ringkih = Rapuh
    Risi = Khawatir
    Romansa = Kisah cinta
    Rona = Warna
    Sahih = Benar
    Sandang = Pakaian
    Sanksi = Hukuman
    Sapta = Bilangan
    Sasana = Gelanggang
    Selebaran = Risalah
    Semboyan = Slogan
    Serebrum = Otak besar
    Seremoni = Perayaan
    Serikat = Perkumpulan
    Sine qua non = Harus ada
    Sinkron = Sesuai
    Sintesis = Buatan
    Somasi = Gugatan
    Sosialisasi = Pengenalan
    Spesifik = Khusus
    Sporadis = Jarang
    Stagnasi = Kemacetan
    Standar = Baku
    Statis = Tidak aktif
    Stigma = Cacat
    Strata = Tingkatan

    Strategi = Taktik
    Sumbang = Tidak sinkron
    Supervisi = Pengawasan
    Sutradara = Pengarah adegan
    Swatantra = Otonomi
    Syahdan = Konon
    Ta’aruf = Perkenalan
    Tabiat = Watak
    Talenta = Bakat
    Tandang = Lawatan
    Tanggal = Lepas
    Tangkal = Cegah
    Tanur = Perapian
    Taraf = Tingkat
    Target = Sasaran
    Telatah = Gerak-gerik
    Tendensi = Kecenderungan
    Tentatif = Belum pasti
    Termin = Tahap
    Timpang = Tak seimbang
    Tiran = Diktator
    Trail = Kisi-kisi
    Transedental = Kesinambungan
    Trobadur = Penyanyi lagu cinta
    Vandalisme = Destruksi
    Ventilasi = Jendela
    Verifikasi = Pembuktian
    Versus = Lawan
    Wahana = Sarana
    Warta = Berita

  • 6 Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah dari SD Sampai Perguruan Tinggi

    6 Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah dari SD Sampai Perguruan Tinggi

    Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang menjadi identitas bangsa Indonesia.

    Untuk menjaga kemurnian bahasa Indonesia, diperlukan berbagai upaya, salah satunya adalah dengan membiasakan diri menulis kalimat dengan kaidah-kaidah ejaan dan tulisan bahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

    1. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

    Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikatakan oleh Akhadiah dkk. (1991: 1) adalah agar siswa ”memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar serta dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesia sesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa serta tingkat pengalaman siswa sekolah dasar”.

    Dari penjelasan Akhadiah tersebut maka tujuan pembelajaran bahasa Indonesia dapat dirumuskan menjadi empat bagian.

    1. Lulusan SD diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
    2. Lulusan SD diharapkan dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesia.
    3. Penggunaan bahasa harus sesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa.
    4. Pengajaran disesuaikan dengan tingkat pengalaman siswa SD.

    Dari tujuan tersebut jelas tergambar bahwa fungsi pengajaran bahasa Indonesia di SD adalah sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa itu, terutama sebagai alat komunikasi.

    Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dapat memberikan kemampuan dasar berbahasa yag diperlukan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah maupun untuk menyerap ilmu yang dipelajari lewat bahasa itu.

    Selain itu pembelajaran bahasa Indonesia juga dapat membentuk sikap berbahasa yang positif serta memberikan dasar untuk menikmati dan menghargai sastra Indonesia.

    Dalam pembelajaran bahasa Indonesia perlu diperhatikan pelestarian dan pengembangan nilai-nilai luhur bangsa, serta pembinaan rasa persatuan nasional.

    2. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP/ MTs

    Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP merupakan hasil penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya dan telah diatur dalam undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2003.

    Dalam ketentuan umum undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 diperoleh penjelasan sebagai berikut:

    Pendidikan adalah usaha dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak yang mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. (Depdiknas, 2004:1).

    3. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP/ MTs

    Tujuan dan fungsi pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama berorientasi pada kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. fungsi dan tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia, yaitu sebagai :

    • sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa;
    • sarana peningkatan keterampilan dan pengetahuan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya;
    • sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
    • sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan;
    • sarana pengembangan penataran; dan
    • sarana pemahaman keanekaragaman budaya Indonesia melalui khasanah bahasa Indonesia (Depdikas, 2004:3).

    Berdasarkan fungsi dan tujuannya, siswa dan guru diharapkan sebagai berikut.

    • Siswa dapat mengembangkan potensi sesuai dengan kemampuan, terhadap kebutuhan dan minatnya serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil intelektual bangsa sendiri.
    • Guru dapat memusatkan perhatian dan perkembangan kompetensi berbahasa siswa dengan menyediakan beraneka ragam kegiatan berbahasa dan sumber belajar.
    • Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar agar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan siswa (Depdiknas, 2004:2).

    Pernyataan di atas mengisyaratkan kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia agar dalam setiap proses pembelajaran tidak lagi bertitik tolak pada pemikiran yang salah, yaitu “siswa belajar dan guru mengajar; melainkan siswa belajar dan guru membelajarkan”.

    Melalui pendekatan belajar seperti itu, “siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi; tidak dituntut lebih banyak untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa dan sastra memiliki fungsi utama sebagai penghalus budi pekerti manusia dan arti kemanusiaan” (Depdiknas, 2004:4).

    Itulah sebabnya dasar pemikiran ini harus benar-benar dipakai oleh guru demi kelancaran proses pembelajaran yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

    4. Tujuan Pembelajaran Bahasa tingkat SMA

    Tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi.

    Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa.

    Semua itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Sementara itu, dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA, disebutkan bahwa tujuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi:

    • Siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara.
    • Siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan.
    • Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial.
    • Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).
    • Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
    • Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

    Untuk sampai pada tujuan tersebut, diperlukan strategi penyampaian pembelajaran berupa metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada pebelajar untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari pelajar.

    Adapun strategi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara pelajar dengan variabel pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran.

    5. Tujuan Pembelajaran di Perguruan Tinggi

    Tujuan pengajaran sebagaian besar berpijak pada karya klasik Mager (1975) yang memasukkan 3 komponen utama dalam suatu rumusan.

    1. perilaku
    2. kondisi
    3. derajat (­kriteria) keberhasilan.

    Instructional De­velopment Institute (IDI) menambahkan satu komponen yang perlu juga dispesifikasi da­lam rumusan Yaitu sasaran (audi­ence).

    Komponen-komponen ini lebih mudah diingat dengan bantuan mnemonik ABCD, un­tuk komponen audience, behavior, conditions­, dan pengajaran.

    Kondisi yang mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam menerjemahkan bahasa adalah ada atau tidak adanya sumber informasi mengenai bahasa yang diterjemahkan. Biasanya sumber informasi ini adalah kamus bahasa.

    Dalam contoh rumusan tujuan ini, mahasiswa diharapkan dapat menerjemahkan kalimat bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia tanpa menggunakan kamus.

    “Tanpa menggunakan kamus” dalam rumusan tujuan ini bertindak sebagai kondisi. Indonesia, tanpa menggunakan kamus.

    6. Tujuan Pengajaran Bahasa Indonesia

    Tujuan pengajaran bahasa Indonesia pada semua jenjang pendidikan adalah membimbing anak didik agar mampu memfungsikan bahasa Indonesia dalam komunikasinya dengan segala aspek.

    Dalam pengertian ini jelas bahwa tujuan pengajaran bahasa Indonesia itu diarahkan kepada kemampuan anak didik agar melakukan komunikasi dengan bahasa Indonesia sesuai dengan fungsinya.

    Antar Semi dalam bukunya Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mengemukakan, bahwa tujuan pengajaran bahasa adalah sebagai berikut :

    • Memperluas pengalaman anak didik melalui media massa serta dapat menyenanginya
    • Membantu anak didik agar mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia secara efektif sesuai dengan potensi masing-masing.
    • Memperkenalkan kepada anak didik karya sastra yang bernilai, sehingga mereka tertarik dan terdorong untuk membacanya.
    • Membantu dan membimbing anak didik agar memperoleh kemampuan dalam menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
    • Merangsang perhatian anak didik terhadap bahasa nasional serta menumbuhkan apresiasi yang baik dan mempunyai rasa tanggungjawab sehingga mempercepat keterampilan mereka dalam berbahasa Indonesia
    • Membantu anak didik mengenai aturan bahasa Indonesia yang baik, serta mempunyai kemauan menggunakannya dalam berbahasa, baik ucapan maupun lisan.
    • Membimbing anak didik agar mempunyai keberanian untuk menyatakan pendapat, serta memiliki kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga mampu berkomunikasi dengan baik dan benar dalam berbagai situasi.

    Tujuan pengajaran di atas menunjukan bahwa arah tujuan pengajaran bahasa Indonesia adalah terampil menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan situasi dan kondisi dan juga kemampuan mengapresiasikan sastra yang baik.

  • Pengertian Kalimat Gramatikal dan Contohnya

    Pengertian Kalimat Gramatikal dan Contohnya

    Kalimat Gramatikal

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008: 461), gramatikal diartikan sesuai dengan tata bahasa.

    Dimana makna katanya mengalami proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi.

    Makna dari gramatikal sendiri adalah kata yang berubah-ubah sesuai dengan konteks (berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa) pemakainya.

    Kalimat gramatikal adalah kalimat yang makna katanya berubah-ubah karena mengalami proses pengimbuhan, pengulangan ataupun pemajemukan yang disesuaikan menurut tata bahasa serta terikat dengan konteks pemakainya.

    Contoh Kalimat Gramatikal

    1. Minuman, minum-minum, peminum (makna gramatikal)

    Contoh :

    • Polisi menyita beberapa peti minuman keras dari dalam toko itu.
    • Pagi, siang, malam, kerjanya hanya duduk dan minum-minum saja.
    • Seluruh orang di kampung ini tahu, kalau ia seorang peminum.

    2. Rumah dinas, rumah duka, merumahkan, perumahan (makna gramatikal)

    Contoh :

    • Sejak terpilih menjadi bupati di kota lain, kini ia tinggal di rumah dinas.
    • Setiap hari rumah duka itu tidak pernah sepi pengunjung.
    • Beberapa bulan terakhir ini perusahaan telah merumahkan puluhan karyawannya.
    • Pemerintah tengah gencar membangun perumahan untuk kalangan menengah ke bawah.

    3. Ibu guru, keibuan, ibu-ibu (makna gramatikal).

    Contoh :

    • Wanita yang berpapasan denganku di gerbang sekolah tadi pagi ternyata ibu guru baru kami.
    • Walaupun sudah melahirkan dua anak, sikap keibuannya sedikitpun tak tampak.
    • Hari ini di puskesmas terlihat ramai dengan kehadiran ibu-ibu PKK.

    4. Makan-makan, makanan, makan siang (makna gramatikal).

    Contoh :

    • Gaji pertamanya habis untuk makan-makan bersama teman-teman sekantornya.
    • Jangan membuang-buang makanan, banyak saudara kita yang kelaparan di luar sana.
    • Setiap jam istirahat, warteg menjadi pilihan tempat makan siangnya.

    5. Mobil-mobilan, mobil ambulance, permobilan (makna gramtikal).

    Contoh :

    • Adik menabung uang jajannya untuk membelimobil-mobilan kesukaannya.
    • Korban kecelakaan lalu lintas sore tadi sudah di bawa mobil ambulance ke rumah sakit terdekat.
    • Kakakku bercita-cita ingin membuka permobilan sendiri saat lulus kuliah nanti.
  • Pengertian Kalimat Majemuk Beserta Jenis dan Contohnya

    Pengertian Kalimat Majemuk Beserta Jenis dan Contohnya

    Pengertian Kalimat Majemuk

    Kalimat majemuk adalah kalimat yang tersusun dari dua atau lebih klausa yang dihubungkan dengan kata penghubung.

    Kalimat majemuk digunakan untuk menguraikan, menjelaskan, menjabarkan, dan memerinci suatu materi agar lebih mudah untuk dipahami.

    Jadi, kalimat ini merupakan sebuah kalimat yang memiliki lebih dari satu subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap.

    Kita bisa menemukan adanya penggabungan ataupun perluasan di salah satu bagian kalimat tersebut.

    Jenis Jenis Kalimat Majemuk

    Kalimat majemuk dapat dibagi berdasarkan proses terjadinya atau pembentukannya. Berdasarkan hal ini, kalimat majemuk terbagi menjadi 4 jenis, yaitu;

    1. Kalimat Majemuk Setara

    Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat sederajat atau setara. Kalimat majemuk setara tidak memiliki anak kalimat.

    Kalimat majemuk setara dicirikan dengan adanya kata penghubung dan, lalu, atau, kemudian, namun, tetapi, sedangkan, dan melainkan.

    Contoh Kalimat Majemuk Setara

    1. Aku dan temanku sedang berdiskusi menyelesaikan tugas bahasa Indonesia
    2. Kamu bisa memilih sekolah SMK atau SMA yang terbaik di Surabaya.
    3. Ibu belanja sayuran di pasar, kemudian memasak hingga selesai untuk makan siang kami.
    4. Aku senang dengan suasana pantai yang indah dan damai, namun letaknya sangat jauh dari tempat tinggalku.

    2. Kalimat Majemuk Rapatan

    Kalimat majemuk rapatan sebenarnya berasal dari kalimat majemuk setara yang dirapatkan bagian-bagiannya karena frasa/kata-kata dalam kalimat itu menduduki posisi yang sama.

    Bagian yang dirapatkan bisa subjek atau predikat. Perapatannya didapat dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang sama.

    Contoh Kalimat Majemuk Ratapan

    A. Kalimat majemuk subyek

    – Ibu menyulam taplak meja dengan gamkar kelinci.
    – Ani menyulan taplak meja dengan gamkar kelinci.

    Digabungkan menjadi, = ibu dan Ani menyulam banjo adik dengan gambar bunga.

    B. Kalimat majemuk predikat

    – Ayah sedang membaca Koran diteras
    – Kakak sedang membaca Koran diteras

    Jia digabung menjadi : Ayah dan Kakak sedang membaca Koran diteras.

    C. Kalimat majemuk obyek

    – Tina mengerjakan tugas bahasa Indonesia secara kelompok
    – Neta menmgerjakan tugas bahasa Indonesia secara mandiri

    Digabungkan menjadi: Tina mengerjakan tugs bahasa Indonesia secara kelompok, sedangkan Neta mengerjakan tugas bahasa Indonesia secara mandiri.

    3. Kalimat Majemuk Bertingkat

    Kalimat majemuk bertingkat merupakan satu jenis kalimat majemuk yang hubungan antara unsur-unsurnya tidak sederajat.

    Kalimat majemuk jenis ini kedudukan klausa-klausanya bertingkat sebagai hasil perluasan terhadap salah satu, beberapa, atau semua unsurnya hingga membentuk pola baru.

    Ada satu unsurnya yang berkedudukan sebagai induk kalimat, dan unsur lainnya berkedudukan sebagai anak kalimat.

    Contoh kalimat majemuk bertingkat

    • Rini tinggal di desa, supaya dapat membantu orang tuanya.
    • Meskipun aku baru saja mengalami kesulitan, namun aku tidak merasakan sedih.
    • Rini tidak pernah menangis, meskipun hatinya sedang terluka hebat.
    • Mebantu orang tua lebih baik dari pada melamun..
    • Makan malam di restoran itu dibatalkan, karena terjadi peristiwa tidak menyenangkan.
    • Pelajaran ditiadakan, karena guru sedang mengadakan rapat mendadak.
    • Dia bertingkah biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

    4. Kalimat Majemuk Campuran

    Kalimat majemuk campuran adalah gabungan kalimat majemuk setara atau rapatan dengan kalimat majemuk bertingkat. Umumnya dalam kalimat majemuk campuran, terdapat paling sedikit tiga kalimat tunggal.

    Contoh Kalimat Majemuk campuran

    • Ayah pulang ketika ibu memasak dan adik membaca buku.
    • Ujian sudah selesai ketika tim pemeriksa datang dan guru-guru sudah pulang.
    • Saya sedang menulis dan adik bermain ketika ayah datang.
    • Indonesia adalah negara pertanian, tetapi Indonesia menghadapi kendala serius dalam hal musim sehingga swasembada beras tidak tercapai.
    • Karena hari sudah malam, kami berbincang-bincang sebentar dan langsug pulang.
    • Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.
  • Macam Macam Preposisi Beserta Penjelasan dan Contohnya

    Macam Macam Preposisi Beserta Penjelasan dan Contohnya

    Pengertian Preposisi

    Preposisi berasal dari Bahasa Latin yang berarti prae, “sebelum” dan ponere, “menempatkan, tempat”.

    Sehingga Preposisi (kata depan) berguna untuk menandai hubungan makna antara kata di depan preposisi dengan kata yang berada di belakang preposisi.

    Adapun contoh preposisi atau kata depan adalah sebagai berikut: di, ke, pada, dalam, atas, dari, oleh, kepada, terhadap, dan sebagainya.

    Sampai saat ini, tidak sedikit orang yang salah penulisan kata depan dan awalan.

    Jangan sampai keliru, kata depan ditulis terpisah, sedangkan awalan ditulis menyambung dengan kata utama.

    Contoh awalan : terlewat (dari kata dasar lewat)

    Macam Macam Preposisi

    Adapun macam-macam preposisi adalah sebagai berikut:

    1. Preposisi Tunggal

    Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata. Bentuk preposisi tunggal sebagai berikut:

    A. Kata Dasar

    Misalnya: di, ke, dari, dan pada. Contoh: Banyak karya tulis di sini, salah satunya adalah puisi.

    B. Kata Berafiks

    Misalnya: selama, mengenai, dan sepanjang). Contoh: Puisi adalah pengalaman penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetis.

    2. Preposisi Gabungan

    Preposisi gabungan terdiri dari dua preposisi, yaitu preposisi yang berdampingan dan preposisi yang berkolerasi.

    A. Preposisi yang Berdampingan

    Adalah preposisi yang terdiri atas dua preposisi yang letaknya berurutan (misal: daripada, kepada, selain dari).

    Contoh: Jajan itu diberikan kepada Ibu.

    B. Preposisi yang Berkorelasi

    Adalah preposisi yang terdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain (misal: antara … dan …, dari … sampai …, sejak … hingga …).

    Contoh: Antara puisi Chairil Anwar dan cerita cintaku memiliki persamaan.