Tag: banyuwangi

  • Daftar Pemenang Lomba Literasi HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi

    Daftar Pemenang Lomba Literasi HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi

    Perayaan HUT ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Cabdindik Kabupaten Banyuwangi berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bertempat di Aula SMKN 1 Glagah pada Sabtu (6/12/2025), acara tahun ini tak hanya diisi seremonial, tetapi juga diramaikan dengan gelaran lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi yang menjadi pusat perhatian seluruh peserta.

    Inisiatif menghadirkan ajang literasi ini datang dari Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, yang ingin membuka ruang kreatif bagi perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga berpartisipasi, menghadirkan semangat yang membuat suasana pagi terasa begitu hidup.

    Menurut Siti Nurjanah, kegiatan ini adalah langkah kecil namun berarti dalam mendorong anggota DWP untuk berani mengekspresikan gagasan mereka.

    Ia menilai, banyak potensi yang selama ini tersimpan dan perlu mendapat ruang untuk ditampilkan.

    Adapun juri yang dihadirkan merupakan pegiat literasi yang telah berpengalaman di berbagai kegiatan kepenulisan dan kesastraan, yakni Maulana Affandi, S.S. dan Andi Budi Setiawan, S.Pd.

    Kehadiran para juri ini turut memberikan warna tersendiri, karena peserta dapat memperoleh penilaian sekaligus masukan langsung dari praktisi yang aktif berkecimpung di dunia literasi.

    Dalam proses penjurian, setiap karya dinilai melalui sejumlah kriteria yang telah ditetapkan.

    Untuk kategori cipta baca puisi, penilaian difokuskan pada pemilihan diksi, kedalaman makna, serta penampilan saat membacakan karya.

    Sementara itu, pada lomba menulis cerpen, juri menilai struktur dan isi cerita yang mencakup tema, alur, perwatakan, dan latar.

    Keindahan bahasa juga menjadi aspek penting, terlihat dari ketepatan diksi, gaya bahasa yang digunakan, serta keefektifan kalimat.

    Tak kalah diperhatikan adalah aspek teknis seperti tata bahasa, ejaan, tanda baca, hingga kerapian tulisan.

    Keseluruhan kriteria ini dirancang untuk memastikan setiap karya tampil utuh, kuat, dan bernilai secara literer.

    Setelah melalui proses penilaian oleh juri pegiat literasi, terpilihlah sejumlah nama yang dinyatakan sebagai pemenang untuk dua kategori perlombaan tersebut. Berikut daftarnya:

    Pemenang Lomba Cipta Baca Puisi

    • Juara 1: Siri Rohmatin Nazilah — SMAN 1 Glagah
    • Juara 2: Muntamah Khoir — SMKN 1 Banyuwangi
    • Juara 3: Danik Suselowati — SMAN 1 Cluring
    • Harapan 1: Lisa Nur Afita – SMAN Glenmore
    • Harapan 2: Vika Nur Imamah — SMAN 1 Banyuwangi
    • Harapan 3: Citra Nuraini — SMAN 1 Rogojampi

    Pemenang Lomba Menulis Cerpen

    • Juara 1: Viola Lutfy Sagita — SMAN 1 Cluring
    • Juara 2: Selvia Rahmawati — SMAN 1 Gambiran
    • Juara 3: Syina Dalila, S.Pd., M.Pd — SMKN 1 Glagah
    • Harapan 1: Ghina Ararifah, S.Pd — SLBN Banyuwangi
    • Harapan 2: Alifia Nudia Umbarika, S.Pd — SMAN 1 Srono
    • Harapan 3: Lesmiyati Hariyani — SMAN Darussholah Singojuruh

    Perayaan HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi tahun ini bukan hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga momentum untuk menegaskan bahwa literasi memiliki ruang penting di lingkungan pendidikan.

    Melalui antusias para peserta, dukungan para juri, serta semangat kolaboratif dari berbagai lembaga, kegiatan ini berhasil menghadirkan atmosfer yang menginspirasi.

    Harapannya, langkah kecil ini dapat menjadi awal dari tradisi literasi yang terus tumbuh, memberi ruang bagi lebih banyak perempuan untuk berkarya, berekspresi, dan menguatkan peran mereka dalam membangun budaya baca dan tulis yang lebih maju di Banyuwangi.

  • Barurrohim Terpilih sebagai Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Banyuwangi

    Barurrohim Terpilih sebagai Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Banyuwangi

    Konferensi Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Banyuwangi pada Minggu (7/12/2025) sukses menuntaskan proses pergantian kepemimpinan yang digelar di Aula Pondok Pesantren Putri Al Anwari Kertosari Banyuwangi.

    Tiga kandidat, yakni Sugito, Haikal Kafili, dan Barurrohim bersaing secara demokratis melalui proses pemungutan suara yang melibatkan 23 anak ranting NU se-Kecamatan Banyuwangi.

    Pada putaran pertama, Sugito meraih 3 suara, Haikal Kafili memperoleh 11 suara, dan Barurrohim mendapatkan 9 suara.

    Konferensi Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Banyuwangi

    Berdasarkan tata tertib konferensi, dua peraih suara tertinggi, yakni Haikal Kafili dan Barurrohim ditetapkan maju ke putaran final pemilihan Ketua Tanfidziah MWC NU.

    Persaingan berlanjut secara ketat hingga pemungutan suara terakhir.

    Hasil akhir menunjukkan Barurrohim unggul tipis dengan 13 suara, sementara Haikal Kafili mengantongi 10 suara.

    Dengan demikian, Barurrohim yang akrab disapa Ayung resmi memimpin MWC NU Kecamatan Banyuwangi untuk periode 2025–2030.

    Konferensi kali ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kaderisasi, membangun soliditas organisasi, serta merumuskan arah perjuangan pengurus baru agar lebih progresif bagi jam’iyah NU, masyarakat, bangsa, dan negara.

    “Terima kasih kepada seluruh peserta konferensi atas kepercayaan yang diberikan. Saya mengajak seluruh pengurus dan anggota jam’iyah NU se-Kecamatan Banyuwangi untuk bekerja bersama secara ikhlas bagi NU dan umat,” ujar Barurrohim seusai terpilih.

    Sholeh Kurniawan, Wakil Sekretaris dari kepengurusan sebelumnya, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota dan stakeholder atas dukungan moral maupun material selama masa tugas.

    MWC NU Kecamatan Banyuwangi

    “Semua pencapaian pengurus lama bukanlah hasil kerja individu, tetapi buah kolaborasi dan kerja bersama yang terbangun dengan tulus,” ungkapnya sambil menyampaikan selamat kepada Barurrohim.

    Ucapan selamat juga disampaikan Ustad Fata Zamroni, fungsionaris pengurus lama sekaligus Ketua MUI Kecamatan Banyuwangi.

    Ia berharap kepemimpinan yang baru dapat membawa manfaat besar bagi NU, khususnya di Kecamatan Banyuwangi, pada masa mendatang.

  • Saestwo Cafe Siap Jadi Ruang Kreativitas Memperingati Harjaba ke-254

    Saestwo Cafe Siap Jadi Ruang Kreativitas Memperingati Harjaba ke-254

    Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 pada 18 Desember 2025 sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap Perang Puputan Bayu 1771, sejumlah komunitas dan pelaku usaha lokal berkolaborasi menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Lomba Literasi Gotong Royong Harjaba 2025.

    Kegiatan yang akan digelar pada 19–20 Desember 2025 di Saestwo Cafe, Jl. Jembrana, Perum BGM Klarak–Kalipuro ini diinisiasi oleh Saestwo Cafe bersama Komunitas Gotong Royong 45 dan Penerbit Lintang yang menerbitkan Antologi Gotongroyong sebagai materi Lomba Baca Puisi.

    Tujuannya ialah menyediakan wadah ekspresi positif bagi generasi muda agar mereka memiliki ruang yang sehat untuk menyalurkan gagasan, menumbuhkan kreativitas, serta membangun rasa percaya diri.

    “Harjaba adalah momentum penting untuk merayakan kebersamaan, kreativitas, dan kecintaan pada daerah. Melalui lomba ini, kami ingin memberi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk menampilkan potensi mereka sekaligus menumbuhkan rasa bangga pada seni dan budaya Banyuwangi,” ujar Bung Aguk Darsono dari EO Senyum Agmadina, salah satu inisiator kegiatan.

    Kateogori Lomba

    Lomba ini mengusung tema Gotong Royong untuk Banyuwangi Berdaya (Lestarikan Bahasa Daerah, Bangga Bahasa Indonesia, dan Kuasai Bahasa Asing), dengan kategori sebagai berikut:

    • Pidato Dai Cilik (SD/MI/TQA)
    • Story Telling Bahasa Inggris (SD/MI)
    • Bercerita Bahasa Using (usia 10–15 tahun)
    • Melukis di Kanvas (usia 10–17 tahun)
    • Baca Puisi Antologi Gotong Royong (umum)

    Ketua Panitia HM. Shodiqin, S.Pd., MM mengajak berbagai pihak untuk bersinergi, mulai dari para pegiat seni, LKSA yatim-dhuafa, pesantren, BKPRMI, hingga emak-emak pegiat lingkungan dari komunitas Green Jasmine.

    HM Shodiqin

    “Seluruh pemenang dan guru pendamping yang beruntung bisa mendapatkan voucher umroh dua juta dari H. Tulus,” ujar guru SMKN 1 Kalipuro yang baru tiga bulan lalu pulang dari Baitullah.

    Pada hari pertama setelah salat Jumat, selain lomba pildacil dan melukis, panitia juga menghadirkan para pelukis seperti Ben Hendro, Wega Averina, MH Basoeki, Momo, dan Mbah Eko untuk melukis langsung di tempat dengan objek yang ada di kafe.

    Tak ketinggalan, penyair Pramoe Soekarno, Mayor Saimah, dan veteran IGM Sudharma turut tampil membawakan karya mereka.

    Dukungan Mengalir Deras

    Sejumlah dukungan pun mengalir, menambah hangatnya suasana kebersamaan dalam gelaran ini, mulai dari dari PT Tulus Hijrah Baitullah, Koppiwangi (Komunitas Pegiat Peduli Pendidikan Banyuwangi), Yayasan Aura Lentera Indonesia, serta sejumlah media partner seperti sastrawacana.id/, Jurnal News, Menaramadinah.com, JRKBB, dan kanal YouTube Ha Pe Aja.

    “Alhamdulillah, bersamaan dengan satu dasawarsa perjalanan kami, relawan Koppiwangi juga mengadakan tasyakuran tumpengan setelah lomba pildacil,” tutur H. Mujiono, SH, selaku founder dari Koppiwangi.

    Sementara itu, Ketua Umum BKPRMI, Ahmad Sururudin, SE., M.Si., pun turut mendukung dengan memberi hadiah spesial untuk pemenang lomba Pildacil.

    “Juara 1 pildacil beserta orang tuanya akan mendapat bonus menginap di hotel atau homestay yang memiliki kolam renang,” terangnya.

    Untuk kategori story telling, finalis mendapatkan bonus voucher discount English Language Course (ELC) Sibon Mandar.

    Sementara Toko Seragam & Bordir Tiga Jaya Star (081336275599) menyediakan plakat untuk kategori Baca Puisi Gotongroyong.

    Saestwo Cafe sebagai Ruang Kolaborasi

    Owner Saestwo Cafe, Vonny Lagenia Suhendi, mengatakan bahwa tempat usahanya memang dirancang sebagai ruang kolaborasi yang nyaman dan strategis.

    Selama ini Saestwo menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas, mulai dari Corolla Club & Mercy BWI, komunitas lagu nostalgia, resepsi pernikahan, hingga mahasiswa yang membutuhkan suasana tenang untuk menulis karya fiksi maupun skripsi dengan dukungan Wi-Fi.

    “Bulan depan, jelang puasa, komunitas barista kopi juga berencana mengadakan event di Saestwo Cafe,” ujarnya sambil tersenyum.

    Lomba Harjaba Saestwo Cafe

    Informasi Pendaftaran

    Untuk calon peserta, pendaftaran dibuka hingga 15 Desember 2025 pukul 11.45 WIB.

    Pendaftaran dapat dilakukan langsung di Saestwo Cafe & Creative Space, Klatak, menemui peracik menu Romi (WA 082131497260) atau secara online melalui tautan bit.ly/HarjabaFest2025.

    Biaya pendaftaran untuk tiap peserta sebesar Rp 35.000.

    Informasi lengkap mengenai petunjuk teknis masing-masing lomba dapat ditemukan dengan mengetik kata kunci “lomba Harjaba 2025 di Saestwo Cafe” pada mesin pencarian Google yang terhubung dengan aplikasi GATA.

  • Harmoni Kopi dan Literasi ala X-Barue Coffee Warnai Milad Muhammadiyah ke-113

    Harmoni Kopi dan Literasi ala X-Barue Coffee Warnai Milad Muhammadiyah ke-113

    Gelaran Milad Muhammadiyah ke-113 pada Ahad, 16 November 2025 menghadirkan berbagai stan menarik, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah X-Barue Coffee dengan konsep unik “Coffee & Literasi”.

    Bukan sekadar menyajikan kenikmatan kopi dalam setiap seduhannya, mereka juga mengajak pengunjung untuk lebih dekat dengan budaya literasi.

    Founder X-Barue Coffee, Muhammad Sodek, menjelaskan bahwa gagasan menggabungkan kopi dan literasi lahir dari kecintaannya terhadap dunia baca.

    X Barue Coffee

    “Kopi dan literasi itu seperti dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Menikmati kopi sambil membaca itu rasanya nikmat,” ungkapnya penuh semangat.

    Menurutnya, membaca sambil menikmati kopi memberi pengalaman yang lebih fokus.

    “Ketika membaca sambil ngopi itu lebih fokus. Dengan menyeruput kopi, kita bisa lebih mudah mencerna,” tambahnya.

    Cici Arista Devi

    Sejalan dengan pandangan Cici Arista Devi, S.Pd, pembina Models Jurnalisme, yang menuturkan bahwa menikmati kopi sambil membaca membuka ruang rasa yang berbeda.

    “Saya bukan kopi holic, tapi ketika literasi disandingkan dengan kopi, setiap cecapan kopi yang saya nikmati menghadirkan sensasi yang sulit diungkapkan, approve banget sama konsep yang diusung X-Barue Coffee” tandasnya.

    Sodek juga berbagi bahwa pengalamannya berkunjung ke Yogyakarta memberikan motivasi kuat untuk menghadirkan konsep literasi dalam coffee shop-nya.

    “Di Jogja, banyak coffee shop yang identik dengan buku ada yang menyediakan buku untuk dibaca bahkan untuk dibeli. Selama ini di Banyuwangi rasanya belum banyak yang begitu, makanya itu memotivasi saya untuk membuat konsep Coffee & Literasi ,” ungkapnya.

    Kehadiran X-Barue Coffee dalam acara ini menunjukkan bahwa literasi dapat dipromosikan melalui cara sederhana namun dekat dengan keseharian masyarakat, salah satunya lewat suasana hangat di sekitar secangkir kopi.

  • Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Banyuwangi berlangsung meriah di Aula SMKN 1 Glagah, Sabtu (6/12/2025).

    Acara yang dihadiri seluruh anggota DWP dari SMAN, SMKN, hingga SLBN di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi ini tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bekerjasama dengan media literasi sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang, tahun ini DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi mengangkat tema besar tentang penguatan literasi dengan menggelar lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi.

    Program tersebut diinisiasi langsung oleh Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, sebagai upaya menghadirkan ruang kreatif bagi para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga pendidikan turut ambil bagian, menghadirkan antusiasme yang memenuhi aula sejak pagi.

    Dua pegiat literasi Banyuwangi, yakni Maulana Affandi, S.S., dan Andi Budi Setiawan, S.Pd diundang sebagai juri untuk menilai karya-karya para peserta.

    Untuk kategori cerpen, peserta menulis karya dari rumah lalu mengumpulkannya kepada panitia.

    Sementara lomba cipta baca puisi digelar langsung di ruang perpustakaan SMKN 1 Glagah.

    Peserta Lomba Puisi HUT DWP Banyuwangi

    Sorak bahagia dan semangat para peserta menghiasi jalannya perlombaan. Suasana hangat dan penuh energi membuat peringatan HUT DWP ke-26 terasa lebih hidup dan bermakna.

    Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E mengatakan bahwa penguatan literasi adalah cara untuk mendorong perempuan-perempuan di lingkungan DWP agar lebih percaya diri menyuarakan gagasannya.

    “Tahun ini kami ingin HUT DWP punya makna yang lebih dalam. Melalui lomba literasi ini, kami menyediakan ruang berkreasi bagi para wanita hebat yang selama ini mungkin belum sempat menunjukkan bakatnya. Kami ingin mereka berani menulis, berani membaca karya sendiri, dan bangga dengan kemampuan mereka,” ujarnya.

    Tak berhenti sampai di situ, ia menambahkan bahwa seluruh karya yang dikumpulkan peserta tidak akan berakhir sebagai dokumen lomba semata.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berencana menyatukannya menjadi sebuah buku antologi yang akan dikenang dan menjadi dokumentasi kreativitas para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Lebih dari sekadar kumpulan karya, antologi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi anggota DWP di tahun-tahun mendatang, sekaligus penanda bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

    “Setiap karya punya nilai. Sayang sekali kalau hanya selesai di meja panitia. Karena itu, semua tulisan dan puisi akan kami abadikan dalam bentuk buku antologi agar dapat menjadi jejak karya bersama,” tambah Siti Nurjanah.

     

    Ia percaya bahwa penerbitan antologi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses dan usaha para peserta.

    Dengan adanya buku tersebut, setiap karya tidak hanya berhenti sebagai hasil lomba, tetapi berubah menjadi jejak kontribusi nyata bagi pengembangan budaya literasi di Banyuwangi.

    Pada sesi penutupan dan penyerahan hadiah, Siti Nurjanah bersama suaminya, Slamet Riyadi, M.Pd yang hadir mewakili Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta.

    Ia menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat menjadi pemantik semangat literasi di Banyuwangi.

    HUT DWP ke 26 Kabupaten Banyuwangi

     

    “Teruslah berkarya, jangan berhenti pada lomba ini saja. Banyuwangi membutuhkan perempuan-perempuan yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi. Semoga dari kegiatan ini lahir lebih banyak penulis, pembaca yang kritis, dan karya-karya yang membanggakan,” tuturnya.

    Peringatan HUT DWP ke-26 tahun ini menjadi bukti bahwa literasi dapat tumbuh di mana saja, termasuk di ruang-ruang organisasi perempuan.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berharap agar kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebagai ruang untuk pengembangan kreativitas serta memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.

  • PKBM Merdeka Gelar Pelatihan Kuliner Empat Hari, Pemdes Grogol Dukung Warga Kembangkan Usaha Rumahan

    PKBM Merdeka Gelar Pelatihan Kuliner Empat Hari, Pemdes Grogol Dukung Warga Kembangkan Usaha Rumahan

    Belum terdapat data resmi mengenai jumlah pasti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Banyuwangi.

    Meski demikian, data Perpustakaan Digital Nasional pada tahun 2019 mencatat terdapat 36 PKBM yang terdaftar.

    Angka tersebut berpotensi berubah mengikuti pembaruan laporan dari Kemendikdasmen.

    PKBM atau Community Learning Activity Center sendiri merupakan lembaga pendidikan nonformal yang dibentuk dan dikelola masyarakat untuk memperluas akses pendidikan, meningkatkan keterampilan, serta memberdayakan warga.

    Di Desa Grogol, Kecamatan Giri, terdapat dua PKBM aktif. PKBM Anggrek Bulan, yang telah berdiri lebih dari 14 tahun, beralamat di Dusun Guwo RT 02/02.

    Sementara PKBM Merdeka, berdiri sekitar empat tahun lalu dan berlokasi di Dusun Sumbermulyo RT 54/08, Kelurahan Tegaldlimo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.

    Selain menjalankan program kesetaraan paket A, B, dan C, kedua lembaga tersebut juga menyediakan ragam pelatihan keterampilan seperti menjahit, membatik, serta kursus kuliner.

    Salah satu kegiatan terbaru adalah pelatihan dasar pembuatan kue kering, cake, dan roti yang diselenggarakan oleh PKBM Merdeka Pokjar Guwo, Desa Grogol, bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kecamatan Muncar atau Balai Latihan Kerja (BLK) Banyuwangi.

    Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Muncar

    Pelatihan berlangsung selama empat hari, mulai Senin (1/12/2025) hingga Kamis (4/12/2025), dengan total 16 resep berbeda yang dipraktikkan peserta setiap harinya.

    Koordinator Pokjar Merdeka Giri, Nurul Ainiyah yang akrab disapa Aini menjelaskan bahwa ini merupakan pelatihan kuliner pertama yang diselenggarakan PKBM Merdeka.

    Sebelumnya, lembaga tersebut bekerja sama dengan BLK Situbondo dalam program membatik, menjahit, serta Hair & Beauty Treatment.

    Aini menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan menambah pengalaman dan memperkaya wawasan ibu-ibu anggota PKBM Merdeka dalam bidang pembuatan kue dan roti.

    Ia juga mengungkapkan harapannya untuk dapat mengembangkan keterampilan ini menjadi peluang usaha di masa depan.

    “Kami ingin ibu-ibu punya pengalaman baru dan semakin percaya diri membuat aneka kue dan roti. Saya sendiri ikut pelatihannya karena ingin terus mengasah skill, bahkan kalau bisa membuka usaha ke depannya,” ujarnya.

    Pelatihan Kuliner PKBM Merdeka

    Selama berlangsungnya kegiatan, pelatihan dipusatkan di kediaman Aini di Dusun Guwoh, Desa Grogol.

    Pada hari pembukaan, Kepala Desa Grogol, Samsul Arifin akrab disapa Pupung tampak hadir dan memberikan sambutan.

    Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan ini, terutama menjelang bulan suci Ramadan yang akan datang dua bulan lagi.

    Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat, mengingat kebutuhan akan kue kering meningkat menjelang perayaan Idulfitri.

    “Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan keterampilan, tetapi peluang nyata bagi warga untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” terangnya.

    Ia juga berharap pelatihan serupa dapat dijadwalkan rutin setiap tiga hingga lima bulan dengan materi yang bervariasi.

    Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk kelas praktik (baking class) dengan sistem kelompok.

    Terdapat empat kelompok, masing-masing beranggotakan empat orang. Pada hari pertama, peserta mempraktikkan pembuatan palm cheese, thumbprint, dan kastengel.

    Mereka mengikuti arahan tutor mulai dari proses pencampuran bahan, pengadonan, pencetakan, hingga pemanggangan menggunakan oven merek Signora.

    Antusiasme peserta yang sebagian besar ibu rumah tangga terlihat sejak hari pertama.

    Ulfiatuz Zuhro

    Pelatih dalam kegiatan ini adalah Ulfiatuz Zuhro, home baker asal Puger, Jember sekaligus pemilik Alfina Bakery Cake & Cookies (dapat dihubungi melalui WhatsApp 081249962400).

    Ia juga dikenal sebagai pendamping tetap kegiatan Baking Class bulanan bertajuk “Latbar” di Kedai Makmoer Banyuwangi, usaha milik suaminya Leo Al Ghifari di Jalan Mayor Supono 10 Banyuwangi.

    Pada hari kedua, terdapat lima resep yang dipelajari, yaitu kue kacang, choco chip, bolu pandan jadul, lidah kucing, dan banana cake.

    Salah satu peserta, Yuliatin, mengaku sangat senang karena materi pelatihan sesuai minatnya.

    Ia menilai ilmu yang diperoleh sangat bermanfaat, terutama beragam tips praktis yang sulit ditemukan ketika belajar secara mandiri.

    Rekannya, Fita Wulandari, menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan bahwa pembuatan aneka kue, roti, hingga pizza merupakan pengalaman baru baginya dan menjadi tambahan pengetahuan yang signifikan.

    Pada hari ketiga, peserta mempelajari pembuatan soft cookies, bolu gulung, soes (choux), dan brownies kukus.

    Koordinasi antaranggota kelompok terlihat semakin solid. Tugas dibagi menjadi beberapa bagian seperti pengadonan, pembentukan adonan, hingga proses pemanggangan.

    Suasana pelatihan berlangsung nyaman dan penuh tawa, namun tetap memperhatikan ketelitian dalam menjaga tingkat kematangan produk yang dipanggang menggunakan oven listrik.

    Pelatihan mencapai puncaknya pada hari keempat, Kamis (4/12/2025), dengan empat resep favorit peserta, yaitu pizza, brownies panggang, donat, dan castella cake.

    Hidangan pizza menjadi perhatian khusus karena jarang ditemui dalam kegiatan pelatihan di wilayah desa.

    Antusiasme peserta meningkat, bahkan beberapa di antaranya meminta dibuatkan ulang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.

    Pada penutupan kegiatan, Kepala Desa Grogol kembali hadir memberikan apresiasi kepada seluruh peserta serta pihak penyelenggara.

    Ucapan terima kasih disampaikan kepada BLK Muncar, Kepala Sekolah PKBM Merdeka, pihak Signora, Koordinator PKBM Merdeka Nurul Ainiyah selaku tuan rumah, serta tutor Ulfiatuz Zuhro atas kontribusi dan ilmu yang dibagikan.

    Penyelenggara berharap pelatihan ini dapat memberi dampak positif dan membuka peluang keterampilan baru bagi warga di masa mendatang. (Leo)

  • Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 bertema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai organisasi penyandang disabilitas dan lembaga peduli difabel, seperti Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut berpartisipasi sebagai pembonceng.

    Konvoi dipandu oleh MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik start di Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, yang melepas keberangkatan konvoi, berharap komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi maupun wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, dan produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan perwakilan Polresta yang sebelumnya memfasilitasi pembuatan SIM D, Bramudya mengibarkan bendera start.

    Iring-iringan dipimpin oleh Kendaraan Tanggap Dinsos yang membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang pernah menjadi Ketua Pertuni dan kini memimpin YALI.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria. Di lokasi tersebut, rombongan disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini bukan sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” ujar Bupati yang selama tiga tahun terakhir menginisiasi program Rembug Disabilitas.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Founds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi turut meramaikan peringatan HDI.

    Bertempat di sisi barat Stadion Diponegoro, digelar laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas.

    Pertandingan 2×15 menit yang dipimpin wasit Askab PSSI, Nanang, berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 digelar di SLB Negeri wilayah Giri. Acara menampilkan The Filling Band dan Gamelan Gerayangan yang mengiringi penampilan tari jejer gandrung tunarungu.

    Kegiatan berlanjut dengan sholawatan dan penyerahan santunan yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi para kepala dinas dan Camat Giri.

    “Manusia tidak dinilai dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemda pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang memulai karier birokrasi dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara juga mencakup pelantikan Pengurus Gerkatin serta praktik bahasa isyarat berupa pembacaan Surat Al-Fatihah dan menyanyikan lagu Manusia Kuat (feat. Tulus).

    Selain itu, Perkins menyalurkan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Kegiatan ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh pejabat yang hadir.

    Menurut JBI Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi Dinas Sosial ini, pada tanggal 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember dilaksanakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember sudah hadir kepala sekolah kami, Bu Masfufah, yang saat ini menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar Suyatno Baskoro selaku sie acara.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi, memperbaiki data penyandang disabilitas, serta mengurangi berbagai hambatan yang selama ini dihadapi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan ini.

  • Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Kolaborasi multipihak untuk menyelesaikan berbagai persoalan inklusi di Banyuwangi mendapatkan struktur baru.

    Pada hari kedua Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN), Rabu (26/11/2025) yang disponsori oleh Liliane Foundation dan NLR Indonesia, berhasil dibentuk kepengurusan Sub Cluster Network (SCN) yang akan bekerja untuk tiga tahun ke depan.

    Rapat yang berlangsung dinamis dan akrab di Ruang Rapat Pangripta BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi ini menghimpun berbagai unsur organisasi non-pemerintah (NGO) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) terkait.

    Acara yang dipandu oleh Tunggul Harwanto (Rumah Literasi) dan Indah Cahyaning Tyas (Aura Lentera) ini bertujuan mewujudkan gotong royong dalam menjalankan program, baik dari pemerintah maupun NGO.

    “Intinya, setiap UPTD dan NGO harus saling membantu dan bergotong royong. Program-program yang ada harus dipromosikan hingga ke akar rumput agar semakin banyak yang tahu, terlibat, dan memberikan umpan balik untuk perbaikan,” ujar Indah Cahyaning Tyas saat mereview hasil rapat hari pertama.

    Kegiatan diawali dengan pengisian kuesioner dari NLR untuk pemetaan program BEN, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan struktur kepengurusan SCN.

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN)

    Struktur Kepengurusan SCN Banyuwangi

    Kepengurusan SCN melibatkan perwakilan dari berbagai latar belakang. Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi didapuk sebagai Penasehat, sementara Kepala BAPPEDA menjadi Pembina.

    Ketua umum dijabat oleh Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia, dengan dua wakil ketua dari HWDI dan PPDI.

    Secara teknis, SCN akan dikelola oleh Sekretaris Robin Febriyanto (Aura Lentera) dan Bendahara yang dijabat Mbak Mega.

    Lima bidang utama SCN

    1. Bidang Pengembangan Organisasi: Dikoordinir Leni Tiara (BAKESBANGPOL) dengan anggota Farid Lubiyantoro (FKLPID).

    2. Bidang Pengembangan Sistem Layanan Terpadu: Dikoordinir Sri Indrastuti (DISDUKCAPIL) dengan anggota dari DISNAKER, DINSOS, dan DINKES.

    3. Bidang Pemberdayaan Anak, Remaja dan Keluarga: Dikoordinir Lintang Katon (DISKOPUMDAG) dengan anggota dari DISPORA, Paguyuban Orang Tua, PERTUNI, dan BPVP.

    4. Bidang Inovasi & Teknologi: Dikoordinir Lina Kamalin (DISPENDIK) dengan anggota dari GERKATIN dan PPDI.

    5. Bidang Media dan Informasi: Diisi oleh perwakilan dari LINDUNGIN, DMI, dan AISIYAH.

    Membedah Tantangan di Lapangan: Data, Disabilitas, dan Kusta

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN) Banyuwangi

    Dalam sesi diskusi, beberapa tantangan krusial mengemuka. Lina Kamalin dari DISPENDIK menyoroti persoalan mendasar: yaitu DATA.

    “Keberhasilan program bergantung pada validnya data. Saat ini belum ada data terintegrasi, yang ada hanya data lokal instansi yang dinamis, penuh kekosongan, duplikasi, dan beririsan. Harus ada pengendali akses data, dan program BEN ini bisa menjadi awal yang baik,” paparnya.

    Isu disabilitas juga mendapat perhatian serius. Achmad Amrullah (BPVP) menekankan pentingnya pelatihan bahasa isyarat bagi pelayan publik untuk memudahkan komunikasi dengan penyandang tunarungu.

    Rendy Anugrah (PERTUNI) menambahkan bahwa lingkungan dan keluarga seringkali belum ramah.

    “Masih ada stigma bahwa penyandang disabilitas tidak mampu, bahkan ada keluarga yang menyembunyikannya. Perlu edukasi hingga pelosok desa tentang hak-hak mereka dan motivasi bagi keluarga,” tegas Rendy.

    Persoalan lain yang mengemuka adalah penanganan penyakit kusta. Raras dari Dinas Kesehatan mengungkapkan bahwa kusta seolah menjadi penyakit yang ‘ditinggalkan’.

    “Tidak ada lagi dana dan pelatihan khusus dari pemerintah untuk menangani kusta ditambah banyak keluarga yang menyembunyikan penderitanya,” jelas Raras.

    Terkait dengan hal tersebut Indah menambahkan, “Data tahun 2024 menunjukkan 7 penderita se Kabupaten Banyuwangi, namun dari terakhir kami memperoleh data menjadi 25 orang hanya di Muncar saja. Stigma masyarakat dan tidak adanya anggaran memperparah situasi.”, ujar Indah yang menyoroti rendahnya awareness pemerintah dan masyarakat terhadap penyakit kusta.

    Kolaborasi dan Pilot Project sebagai Solusi

    Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Windoyo, Ketua Aura Lentera, mengkritik pola kerja yang hanya mementingkan kuantitas.

    “Jika hanya mengejar kuantitas, masalah data tidak akan selesai. BEN perlu membuat pilot project terkait database. Jika berhasil, bisa diduplikasi oleh instansi dan NGO lain. Kita harus berkolaborasi, mengesampingkan ego sektoral untuk tujuan yang lebih besar,” ajaknya.

    Pernyataan Windoyo diamini oleh Robin Febriyanto yang kerap menjadi enumerator di lapangan. Ia menceritakan pengalamannya menemui pelayan publik yang masih kaku dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).

    “Contohnya, saat ada program BPJS gratis dari Dinas Ketenagakerjaan, petugas di Dinas Kesehatan tidak bisa membantu dengan alasan ‘bukan tupoksinya’. Akibatnya, program dan anggaran tidak terserap optimal oleh masyarakat,” tutur Robin.

    Dengan terbentuknya SCN, diharapkan kolaborasi yang lebih solid antara pemerintah dan NGO dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut.

    Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem layanan yang terpadu, inklusif, dan tepat sasaran bagi masyarakat Banyuwangi. (Andre Waluyo)

  • Refleksi Satu Dekade Banyuwangi Osoji Club: Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah & Luncurkan Buku Perdana dr. Bintari

    Refleksi Satu Dekade Banyuwangi Osoji Club: Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah & Luncurkan Buku Perdana dr. Bintari

    Komunitas Banyuwangi Osoji Club (BOC) memperingati 10 tahun kiprahnya sebagai pegiat lingkungan dengan penuh makna, Selasa (25/11/2025).

    Perayaan yang berlangsung sederhana namun khidmat digelar di Ruang Seblang Graha Pena Radar Banyuwangi, dipandu Eko Setyowati alias Atik yang akrab disapa Jeng Roro, aktivis lingkungan sekaligus penyanyi keroncong asal Gambiran.

    Acara dibuka dengan pemutaran foto perjalanan satu dekade BOC, dilanjutkan talk show mengenai gerakan lingkungan dan strategi pengelolaan sampah di Banyuwangi.

    Kehadiran tamu istimewa, Retno dari Jakarta Osoji Club, menjadi kejutan bagi peserta.

    Dalam sambutannya, Retno menyampaikan apresiasi atas konsistensi BOC yang terus mengembangkan gerakan bersih-bersih atau osojI serta telah menerbitkan buku lingkungan.

    Ia menjelaskan, Osoji Club di Indonesia kini berjumlah tujuh komunitas, dan cabang Banyuwangi merupakan yang ketiga.

    Gerakan ini diprakarsai oleh relawan lingkungan asal Jepang, Tsuyosi Ashida-san, setelah melihat kondisi memprihatinkan Kali Ciliwung.

    Gerakan Osoji dibangun secara mandiri tanpa dukungan dana, mengandalkan kerelawanan dan kesadaran publik.

    “Teruskan edukasi tanpa henti untuk bersih-bersih lingkungan,” pesan Retno sebelum kembali ke Jakarta.

    Ketua panitia, Tato Oktavianto yang juga memimpin Osoji Milenial di sejumlah SMA di Banyuwangi Selatan menjelaskan bahwa Osoji merupakan budaya Jepang yang menekankan kedisiplinan, kemandirian, dan komitmen menjaga lingkungan.

    Slogan Osoji Indonesia yang diciptakan Tsuyosi Ashida-san, “Malu Buang Sampah Sembarangan”, kembali ditegaskan oleh perwakilan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), Bung Aguk, dengan gaya khas Osing: “Isun isin kadhung mbuwang romot sembyarangan.” Ungkapan tersebut membuat suasana semakin hidup.

    Buku dokter Bintari

    Puncak acara ditandai dengan peluncuran buku karya pendiri sekaligus Ketua BOC, dr. Bintari Wuryaningsih, SE, berjudul “Cerita Seorang Pegiat Lingkungan (Saatnya Sampah Berakhir di Rumah Kita)”.

    Buku ini merangkum perjalanan, pemikiran, dan pengalaman selama satu dekade berkecimpung dalam gerakan lingkungan.

    “Cerita-cerita yang selama ini saya unggah di Facebook, ketika dirangkai dan ditambah pengalaman lain, akhirnya menjadi buku ini,” ujar dr. Bintari.

    Buku tersebut diharapkan menginspirasi masyarakat untuk memulai perubahan positif dari rumah, termasuk kedisiplinan pengelolaan sampah.

    Ia juga membagikan pengalamannya belajar budaya bersih di Jepang dan momen ketika Tsuyosi Ashida-san menunjukkan kemarahan saat melihat kedisiplinan mulai menurun.

    Rangkaian acara berlanjut dengan talk show bersama dua narasumber: Ki Sawunggaling, sejawat penulis dan penerbit dari Yogyakarta, serta Kepala SMAN 1 Giri, I Ketut Ranen, S.Pd., M.Si. Keduanya berbagi praktik nyata pengelolaan sampah di lingkup sekolah dan komunitas.

    Pemantik diskusi dari Dinas Lingkungan Hidup, Tiara, turut mengangkat isu bank sampah dan budaya masyarakat dalam memandang sampah.

    Apresiasi juga datang dari anggota Forum Banyuwangi Sehat, H. Waluyo, yang sudah menuntaskan membaca buku dr. Bintari.

    Ia menilai bahasa buku tersebut lugas, sederhana, mudah dipahami, dan mudah dipraktikkan sebagai karakter.

    Ada pula pesan menarik dari H. Mujiono, SH, pendiri Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi (Koppiwangi), yang lahir hampir bersamaan dengan BOC:

    “Dari dunia maya lalu sinergi di dunia nyata, menjadi relawan dengan objek berbeda, tetapi mimpi sama: Banyuwangi yang tersenyum, wangi, indah, dan bersih, serta saling menguatkan dengan hati.”

    Perayaan satu dekade BOC ditutup dengan prosesi potong tumpeng oleh dr. Bintari sebagai ungkapan syukur dan semangat baru untuk terus mendorong gerakan bersih-bersih lingkungan di Banyuwangi. (ZHIEM/Aguk)

  • FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    SDN 2 Sarimulyo menjadi pilihan Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Cluring untuk kegiatan sosialisasi Kelembagaan UKS, Rabu (26/11/25).

    Sekolah berpagar merah putih ini tampil asri dengan halaman rindang dan fasilitas bersih, termasuk toilet.

    Dua ruang kelas yang disatukan menjadi aula mampu menampung 45 peserta.

    Meja bertaplak batik dilengkapi nama peserta, hiasan tanaman, serta suguhan polo pendem dan minuman segar secang dan markisa yang dipetik dari halaman sekolah.

    Sekolah ini memiliki 64 siswa dari kelas 1–6, dengan 61 di antaranya penerima KIIP/PIP.

    Di bawah kepemimpinan Eny Ismawati, S.Pd., dan didukung delapan guru serta tenaga kependidikan dan komite, SDN 2 Sarimulyo mencatat sejumlah prestasi.

    FKKS Cluring di SDN 2 Sarimulyo Banyuwangi

    “Alhamdulillah, tahun ini kami meraih juara Gerakan Sekolah Sehat dan Adiwiyata Jatim,” ujar Eny, perempuan asal Tampo. Ia menyebut pencapaian lain di bidang drumband, tari, puisi, pantomim, dan akademik.

    Sekolah ini mengusung visi Terwujudnya Peserta Didik yang Unggul dalam Prestasi Akademik dan Nonakademik, Sehat, Disiplin, Berakhlak Mulia, dan Berbudaya Lingkungan.

    Kantin sekolah juga dinyatakan bebas plastik dan bebas 5P (perasa, pemanis, pengawet, pengenyal, pewarna). Masa tugas Eny pada periode pertama akan berakhir pada 22 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Ibu.

    Kegiatan sosialisasi UKS menghadirkan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), K3S, Pembina UKS/M, serta Pokja Desa Sehat se-Kecamatan Cluring.

    Koordinator Satkordikcam Cluring, Wiwit Sukesi, S.Pd., menyebut jumlah siswa SD di wilayahnya rata-rata 50–80 per sekolah.

    Kepala Puskesmas Benculuk yang juga Plt Puskesmas Tampo, Tatiek Setya Ningsih, Bd. SST, M.M.Kes., mengingatkan pentingnya menjaga ODF, budaya hidup bersih dan sehat, pengelolaan sampah, kantin sehat, serta konsumsi buah dan sayur.

    “Tiap sekolah perlu memiliki guru UKS dan kader UKS, serta bersinergi melalui musrenbang desa untuk penguatan sarpras UKS,” ujarnya.

    Plt Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani, menegaskan perlunya kolaborasi dalam pelayanan dan inovasi, terutama di tengah efisiensi anggaran.

    FKKS Cluring

    Ninil, sapaan akrabnya, alumni SMPP/Smada 86 yang dua hari lagi memasuki masa purnabakti sebagai ASN berpamitan dan permohonan maaf, sembari berharap silaturahmi tetap terjaga.

    “kami pamit dan mohon maaf sambung dungo tetap jaga silaturahmi dan sehat senantiasa!”

    Paparan UKS disampaikan Desika Ulfatunissa, S.Kep., setelah Bung Aguk menyinggung kelembagaan dan kondisi Swasti Sabha Padapa yang diterima Banyuwangi.

    Melalui prestasi dan materi UKS–Adiwiyata yang ditampilkan, SDN 2 Sarimulyo menjadi rujukan studi tiru bagi SD, MTs, dan SMK yang hadir. Sinergi sekolah dengan Puskesmas, Kepala Desa, serta unsur kedinasan juga dinilai kuat.

    “Harapannya, segera diterbitkan SK Tim Pelaksana UKS dengan tembusan ke Kades dan Camat. Semester depan, FKKS akan memfasilitasi pelatihan untuk guru UKS,” demikian penutup kegiatan. (Aguk)