Tag: banyuwangi

  • DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    Dewan Kesenian Blambangan (DKB) menggelar forum diskusi sastra bertajuk “Sastra sebagai Arsip Jiwa” pada Kamis malam, 29 Mei 2025, bertempat di Palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

    Acara ini menghadirkan narasumber utama Dr. Tengsoe Tjahjono, seorang akademisi Universitas Brawijaya Malang sekaligus penyair dengan jejak panjang dalam dunia literasi Indonesia.

    Dalam forum tersebut, Dr. Tengsoe membuka refleksi dengan pernyataan filosofis, “Dunia itu obah, dunia itu berubah.”

    Ungkapan tersebut bukan sekadar pembuka, melainkan titik tolak untuk menjelaskan bagaimana sastra berfungsi lebih dari sekadar pencatat realitas.

    Ia mengemukakan bahwa karya sastra memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali kenyataan melalui perenungan estetis dan pemaknaan ulang oleh subjek kreatif.

    Diskusi yang dimoderatori oleh Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, berlangsung dalam suasana terbuka dan kontemplatif.

    Hadir dalam forum tersebut berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap dunia literasi dan kebudayaan, antara lain para sastrawan, akademisi, guru, mahasiswa, seniman, dan pegiat komunitas literasi.

    Menurut Dr. Tengsoe, sastra merupakan aktivitas interpretatif yang menembus batas-batas logika dan data objektif. Ia menyatakan, “Di tangan ilmuwan, A adalah A. Tapi di tangan penyair, A bisa menjadi A plus.”

    Ungkapan ini menggambarkan fleksibilitas semiotik dalam karya sastra, di mana simbol, metafora, dan bahasa figuratif digunakan untuk menafsirkan dunia secara lebih dalam dan kompleks.

    Dalam paparannya, Tengsoe menolak dikotomi lama yang memisahkan antara kehidupan praktis dan kesusastraan.

    Ia menekankan bahwa menjadi sastrawan tidak identik dengan kehidupan yang terpinggirkan secara ekonomi.

    “Faktanya, banyak sastrawan yang bisa keliling dunia karena puisi yang mereka tulis,” ujarnya.

    Dengan demikian, sastra memiliki dimensi ekonomi, sosial, sekaligus spiritual yang relevan dengan perkembangan zaman.

    Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan dalam akses kesusastraan. Sastra tidak boleh eksklusif hanya bagi kalangan intelektual.

    “Nelayan pun bisa menulis. Petani juga. Kita semua punya pengalaman hidup yang layak dirangkai,” ungkapnya.

    Ia memperkenalkan istilah “arsip jiwa” sebagai konseptualisasi sastra sebagai sarana menyimpan, menata ulang, dan menyuarakan pengalaman manusia secara otentik.

    Salah satu sorotan dalam diskusi adalah pembahasan tentang antologi puisi Jenggirat, karya Tengsoe yang ditulis dengan latar dan napas Banyuwangi.

    Ia menyebut tanah kelahirannya tidak hanya sebagai latar geografis, tetapi sebagai ruang batin yang membentuk kesadaran dan estetika puisinya.

    Dalam sesi tanya-jawab, isu tentang kecerdasan buatan (AI) mengemuka.

    Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan AI menggantikan peran penyair, Dr. Tengsoe menjawab dengan nada santai namun tajam: “AI itu cerdas, tapi tidak bisa nakal. Justru kenakalan itu yang melahirkan puisi.”

    Ia menjelaskan bahwa puisi lahir dari kegelisahan dan ketidakteraturan batin manusia, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma yang rigid dan kalkulatif.

    Ia juga mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar bentuk teknis, melainkan memiliki daya resonansi emosional.

    “Orang yang menulis tapi tidak membaca akan tampak dari puisinya,” paparnya, menekankan pentingnya intertekstualitas dan pengalaman membaca dalam proses kreatif kepenyairan.

    Diskusi ini turut diwarnai oleh respons-respons dari tokoh kebudayaan Banyuwangi. Ketua DKB, Hasan Basri, menyuarakan keprihatinannya terhadap kecenderungan pelombaan puisi di lingkungan pendidikan yang lebih menekankan aspek kompetitif daripada ekspresif.

    Hasan menambahkan bahwa DKB tengah merancang pendekatan kuratorial baru dalam menilai karya sastra, yakni melalui dimensi kedalaman ekspresi dan kejujuran estetis, bukan semata-mata teknik dan kepatuhan formal.

    Sementara itu, dari komunitas Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, Hakim Said menambahkan dimensi reflektif dengan pendekatan humor dan filosofi.

    Ia mengemukakan bahwa keberanian berimajinasi merupakan dasar dari lahirnya karya sastra.

    “Kalau imajinasi itu hidup, maka bisa jadi kenyataan,” ujarnya.

    Ia menyatakan kesiapan Rumah Kebangsaan untuk mendukung ekosistem sastra Banyuwangi agar lebih menyentuh masyarakat luas.

    Forum diskusi tersebut berlangsung dinamis. Beberapa peserta menyampaikan pendapat dan berbagi pengalaman tentang proses kreatif yang muncul dari keseharian, termasuk bagaimana obrolan warung kopi dan tontonan televisi dapat menjadi sumber narasi literer jika dilihat melalui kesadaran estetik.

    Menutup forum, Dr. Tengsoe menyampaikan sebuah pernyataan penting tentang syarat fundamental menjadi penulis: “Menjadi penulis adalah menjadi pembaca yang baik. Membaca buku, membaca peristiwa, atau membaca manusia.”

    Ia menggarisbawahi bahwa karya sastra lahir dari interaksi reflektif antara penulis dan dunia di sekitarnya.

    Sebagai penutup, beberapa peserta membacakan puisi mereka dalam suasana sederhana namun intim.

    Tidak ada mikrofon canggih atau panggung formal, namun kehadiran kata-kata dan semangat kolektif menjadikan malam tersebut sebagai ruang pertukaran intelektual dan ekspresi estetis yang otentik.

    DKB menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari ritual intelektual dan kultural yang berkelanjutan.

    Sastra, sebagaimana ditegaskan oleh para peserta, bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang memberi nyawa pada realitas melalui bahasa.

  • Musyawarah Khusus Kelurahan Singotrunan, Warga Sepakat Bentuk Koperasi Merah Putih

    Musyawarah Khusus Kelurahan Singotrunan, Warga Sepakat Bentuk Koperasi Merah Putih

    Warga Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi, menggelar musyawarah kelurahan khusus pada hari Selasa (28/5) untuk membahas pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

    Kegiatan yang digelar di Pendopo Kelurahan Singotrunan dan dihadiri oleh berbagai pihak terkait, diantaranya Lurah Singotrunan, perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi, perwakilan dari Kecamatan Banyuwangi, Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat, sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, serta puluhan warga yang mewakili berbagai RW di wilayah kelurahan.

    Dalam sambutannya, Lurah Singotrunan, Kadarisman, menyampaikan bahwa pembentukan koperasi ini merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk memperkuat struktur perekonomian masyarakat di tingkat kelurahan.

    Menurutnya, koperasi menjadi solusi konkret untuk menjawab tantangan ekonomi yang muncul pasca pandemi COVID-19, serta merupakan bagian dari upaya jangka panjang menuju kemandirian ekonomi warga.

    “Koperasi Kelurahan Merah Putih ini diharapkan menjadi wadah ekonomi kerakyatan yang dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel, serta mampu menampung berbagai kegiatan usaha masyarakat seperti simpan pinjam, perdagangan, dan layanan usaha kecil lainnya,” ujarnya.

    Sementara itu, perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi, Peni, menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan penuh dalam proses legalisasi dan pembentukan koperasi hingga koperasi tersebut dapat beroperasi secara resmi dan optimal.

    Ia juga mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi aktif sebagai anggota koperasi agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata dan menyeluruh oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Dalam forum musyawarah yang berlangsung secara demokratis dan penuh semangat kekeluargaan tersebut, peserta secara mufakat menyetujui pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

    Mereka juga sepakat untuk segera membentuk struktur organisasi koperasi yang terdiri dari lima orang pengurus dan tiga orang dewan pengawas.

    Dewan pengawas ini dipilih dari perwakilan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang dianggap memiliki integritas dan kepedulian terhadap pembangunan ekonomi warga.

    Pengurus dan pengawas koperasi tersebut diberi mandat untuk segera menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) koperasi serta mempersiapkan seluruh dokumen yang diperlukan untuk pengajuan badan hukum koperasi.

    Sebagaimana diketahui, pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang bertujuan memperkuat basis ekonomi masyarakat di tingkat lokal dan mempercepat pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah Indonesia.

    Salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam musyawarah tersebut turut memberikan pandangan.

    Ia menekankan pentingnya penunjukan pengurus koperasi yang benar-benar kompeten, jujur, dan memiliki pengalaman di bidang usaha maupun dalam pengelolaan koperasi.

    Menurutnya, keberhasilan koperasi sangat bergantung pada kualitas dan integritas orang-orang yang menjalankannya.

    Dengan semangat gotong royong, kemandirian, dan komitmen bersama, warga Kelurahan Singotrunan optimistis bahwa pembentukan koperasi ini akan menjadi tonggak penting dalam pembangunan ekonomi lokal yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

  • Dibuka Pukul 08.17 WIB, Seleksi Hari Anak Nasional 2025 Meriahkan Panggung Kreativitas Anak Usia Dini

    Dibuka Pukul 08.17 WIB, Seleksi Hari Anak Nasional 2025 Meriahkan Panggung Kreativitas Anak Usia Dini

    Suasana penuh semangat dan keceriaan mewarnai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 yang digelar oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kecamatan Rogojampi pada Senin pagi (26/5).

    Berlangsung di TK Aisyah Bustanul Athfal Rogojampi, kegiatan yang diselenggarakan oleh IGTKI Kecamatan Rogojampi ini diikuti oleh 25 lembaga Taman Kanak-Kanak dan 5 Kelompok Bermain yang tersebar di wilayah kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

    Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Panitia M. Gufron, S.Pd., yang menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan ini.

    Ia menyapa satu per satu tamu undangan, dewan juri, guru, dan peserta lomba dengan penuh semangat.

    “Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, mulai dari orang tua, guru, dewan juri, hingga panitia yang telah bekerja keras. Harapan kami, anak-anak dari Rogojampi bisa menjadi wakil Kabupaten Banyuwangi untuk berkompetisi di tingkat Provinsi Jawa Timur,” ujar Gufron dalam sambutannya.

    Hari Anak Nasional yang rutin diperingati setiap tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk memberikan ruang ekspresi, eksplorasi, dan unjuk bakat bagi para peserta didik.

    Dalam sambutan kedua, Ketua IGTKI Kecamatan Rogojampi, Sri Isniwati, S.Pd., menjelaskan bahwa HAN merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan secara serempak mulai dari tingkat kecamatan hingga pusat oleh IGTKI.

    “Setiap tahun, bentuk lomba yang diadakan selalu berbeda karena HAN bukan sekadar seremoni, tetapi juga ajang pelatihan kompetensi untuk anak-anak dan para pendidik. Tahun ini, kami ingin lebih banyak menggali aspek budaya, lingkungan, dan kemampuan literasi anak sejak usia dini,” terang Isniwati.

    Kegiatan kemudian dibuka secara resmi pada pukul 08.17 WIB oleh Dian Indriyati, S.Pd., selaku Koordinator Wilayah Kerja Satuan Pendidikan (Korwilkersatdik) Kecamatan Rogojampi.

    Dalam sambutannya, Dian menyampaikan apresiasi tinggi kepada IGTKI Rogojampi atas kerja keras dan sinergi dalam menyelenggarakan kegiatan ini dengan sangat baik.

    “Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini yang begitu tertib dan edukatif. HAN bukan hanya milik anak-anak, tapi juga momentum bagi kita sebagai pendidik untuk terus belajar dan mengembangkan pendekatan yang kreatif,” ujar Dian yang juga membuka secara simbolis kegiatan HAN.

    Penampilan Tari TK Kemala Bhayangkari
    Penampilan Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Peringatan HAN tahun ini di Rogojampi menghadirkan beragam cabang lomba yang menarik dan edukatif, seperti: Lomba Bercerita, Lari Rintangan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Kreasi 3M lingkunganm dan 7 Tari Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

    Setiap lomba didesain untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kerja sama, kemampuan motorik, serta menanamkan nilai-nilai budaya dan kecintaan terhadap lingkungan.

    Khusus untuk lomba menari, perwakilan Kecamatan Rogojampi diwakili oleh TK Kemala Bhayangkari.

    Mereka menampilkan pertunjukan penuh semangat dan berwarna yang memikat perhatian penonton, memperlihatkan latihan yang matang dan kerja keras yang dilakukan bersama guru dan orang tua.

    Salah satu cabang lomba yang paling menyita perhatian adalah lomba bercerita, di mana anak-anak tampil membawakan cerita-cerita pengalaman pribadinya, seperti saat sedang berlibur ke luar kota.

    Penampilan mereka tidak hanya menampilkan kemampuan bicara di depan umum, tetapi juga ekspresi, intonasi suara, kesesuaian busana, dan penguasaan panggung untuk anak seusia mereka.

    Lomba ini dinilai oleh tiga juri berpengalaman dari berbagai latar belakang seni dan literasi, diantaranya Bung Aguk, seorang budayawan kenamaan Banyuwangi, Sri Umiati, penari senior sekaligus istri dari almarhum maestro tari Banyuwangi, Sumitro Hadi, serta Maulana Affandi, penulis dan pegiat literasi Banyuwangi.

    Menurut para juri, penampilan peserta sangat menggembirakan dan menjadi bukti bahwa geliat literasi di Rogojampi semakin berkembang.

    Namun, mereka juga memberikan beberapa catatan penting agar peserta, terutama para juara, dapat meningkatkan kualitas menjelang kompetisi di tingkat kabupaten.

    “Ada beberapa aspek yang bisa ditingkatkan, seperti penguasaan panggung (blocking), ekspresi wajah, dan pemanfaatan properti. Ini bukan untuk mengurangi nilai, tapi sebagai bekal untuk bisa melangkah lebih jauh di tingkat yang lebih tinggi,” ujar Bung Aguk.

    Sementara itu, Sri Umiati menegaskan bahwa dalam bercerita, ekspresi harus diperhatikan agar isi dalam cerita dapat tersampaikan.

    “Jadi, ekspresi harus selaras dengan cerita yang disampaikan supaya penonton merasakan hal yang serupa dengan apa yang diceritakan,” tegasnya.

    Sementara itu, Maulana Affandi yang mengingatkan agar para guru memerhatikan juknis lomba, termasuk durasi waktu sehingga dapat menulis naskah yang disesuaikan dengan waktu penampilan.

    “Bagaimanapun itu, setiap perlombaan terikat oleh aturan, sehingga diharapkan para guru dapat memerhatikan juknis sehingga para peserta bisa tampil maksimal,” tandasnya.

    Membentuk Generasi Hebat Sejak Dini
    Kegiatan Hari Anak Nasional 2025 di Kecamatan Rogojampi menjadi refleksi nyata bagaimana pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, baik secara akademik, emosional, maupun sosial.

    Dengan dukungan dari guru, orang tua, dan pemerintah daerah, anak-anak Rogojampi menunjukkan bahwa mereka siap menjadi generasi hebat Indonesia yang penuh semangat, cerdas, dan cinta budaya.

    Di sisi lain, peringatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan panggung kebanggaan bagi anak-anak untuk tampil dan mendapat ruang yang layak dalam proses pendidikan mereka.

  • Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Banyuwangi Luncurkan Program Gerakan Ambil Ijazah Gratis untuk Siswa SMA/SMK/PKPLK

    Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Banyuwangi Luncurkan Program Gerakan Ambil Ijazah Gratis untuk Siswa SMA/SMK/PKPLK

    Cabg dinas pendidikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Banyuwangi, Drs. Slamet Riyadi, resmi meluncurkan program Gerakan Ambil Ijazah Gratis bagi lulusan SMA, SMK dan PKPLK Negeri di wilayah Kabupaten Banyuwangi.

    Program ini ditujukan untuk membantu siswa yang belum mengambil ijazah karena kendala administrasi, khususnya terkait tunggakan biaya sekolah.

    Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Banyuwangi, Drs. Slamet Riyadi menyampaikan bahwa program ini merupakan upaya untuk memastikan seluruh lulusan memiliki akses penuh terhadap hak dasarnya, yaitu ijazah, tanpa harus terbebani persoalan ekonomi.

    Kami tidak ingin ada lagi anak-anak Banyuwangi yang tertahan masa depannya hanya karena belum bisa mengambil ijazah. Ini adalah gerakan bersama untuk memanusiakan pendidikan,” ujarnya.

    Program ini mulai berlaku sejak Mei 2025 dan berlaku bagi semua siswa SMA/SMK negeri maupun swasta yang lulus dalam lima tahun terakhir, dengan mekanisme verifikasi yang melibatkan sekolah dan pihak Cabang Dinas Pendidikan.

    Selain itu, pihak Dinas juga menggandeng berbagai elemen, termasuk pemerintah desa, relawan pendidikan, serta organisasi masyarakat untuk mendukung penyebaran informasi dan proses distribusi ijazah secara langsung.

    Drs. Slamet Riyadi berharap, melalui program ini, para lulusan yang sebelumnya kesulitan mencari kerja atau melanjutkan pendidikan karena belum memiliki ijazah, bisa segera mendapatkan kembali hak mereka.

    “Pendidikan bukan untuk dikomersialkan, tetapi untuk memerdekakan,” tegasnya. (Mujiono, S.H)

  • Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan jurnalistik dan digital marketing digelar di pelataran Saestwo Cafe dan diikuti oleh pelajar serta masyarakat Banyuwangi, pada Sabtu malam (10/5/2025)

    CEO Saestwo, HM. Shodiqin, menyampaikan bahwa materi yang disajikan mungkin dianggap biasa dan tidak penting oleh sebagian orang.

    Namun, dengan niat untuk menuntut ilmu, membuka “gelas kosong”, serta adanya semangat inovasi, motivasi, karakter, dan pengalaman dari para narasumber, pasti ada hikmah yang bisa diambil sebagai lentera dalam menghadapi dunia nyata di era digital saat ini.

    Shodiqin, yang juga merupakan guru di SMKN Kalipuro dan dikenal dengan ciri khas udeng PERGUNU-nya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya workshop ini.

    Di antaranya adalah Media Sastrawacana, Penerbit Lintang, Jurnal News, ACTA News, Brader Advertising, Komunitas Gotong Royong 45, dan Yayasan Aura Lentera Indonesia yang peduli pada disabilitas.

    Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan ini, baik secara langsung maupun melalui siaran live di media sosial seperti TikTok Zhie, Instagram Gotongroyong, dan YouTube Sastrawacana.

    Bahkan, ada netizen dari Al Azhar Mesir, Atambua Belu NTT, Probolinggo, Situbondo, dan Malang yang turut berinteraksi.

    “Oleh karena itu, saya berharap melalui pelatihan ini para peserta dapat memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam meliput berita, menulis artikel, memahami etika jurnalistik, dan cakap bermedia sosial secara sehat,” ujarnya.

    Shodiqin menekankan bahwa keberadaan para jurnalis yang bijak dalam bermedia sosial sangat penting untuk menyampaikan berita dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Banyuwangi.

    Ia berharap momentum ini dapat menjadi wadah untuk bertukar pengalaman dan saling belajar.

    “Maka dari itu, mari kita gunakan momentum ini untuk bertukar pengalaman dan belajar satu sama lain. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh sehingga ke depan bisa menjadi calon-calon jurnalis daerah yang berkualitas dan profesional,” tambahnya.

    Ia juga menyebutkan bahwa pada sore hari sebelumnya, Komunitas Kajian Lingkaran Studio Ar Rahman mengadakan diskusi dan silaturahmi bersama ormas keagamaan Islam.

    Sementara pada Minggu besok, Saestwo Cafe akan menjadi tempat berkumpulnya Komunitas Mobil Kuno Corolla.

    Sementara itu, Ketua Perkumpulan Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima yang menjadi fasilitator workshop ini menyampaikan bahwa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang berfungsi sebagai penyampai informasi kepada publik.

    Jurnalistik juga dapat diartikan sebagai bahasa komunikasi pengantar pemberitaan yang biasa digunakan oleh media cetak maupun elektronik.

    Workshop ini dipandu oleh host difabel daksa yang aktif di TikTok, Puji Zhie Winarsih. Narasumber pertama adalah Andi Budi Setiawan, seorang sastrawan dan wartawan.

    “Sebagai media informasi dan komunikasi, jurnalistik dituntut untuk memberikan informasi yang aktual dan faktual. Seorang jurnalis harus mampu menyampaikan informasi yang mendidik kepada masyarakat, sehingga pembaca bisa memperoleh manfaat dan mampu memfilter opini maupun hoaks,” ujar guru penggerak yang aktif di SMK PGRI Rogojampi dan Komunitas Kopiwangi ini.

    Narasumber kedua adalah Rafly Rafjanjani Aziz Attubel, seorang social media specialist yang merupakan diaspora dari perbatasan NTT dan Timor Leste serta mahasiswa UMM.

    Ia menyampaikan materi tentang bijak bermedia sosial, menguasai SEO dan SEM untuk menjadi viral dan menghasilkan cuan tanpa batas ruang dan waktu.

    Narasumber ketiga adalah Agung Broder, pengusaha dan pemilik percetakan digital printing di Rogojampi, Banyuwangi. Ia membagikan materi mengenai bagaimana menjadi pebisnis yang tangguh.

    Ketiga narasumber memberikan materi yang luar biasa dan bermanfaat, mulai dari penulisan, kebijaksanaan dalam bermedia sosial, hingga ketangguhan dalam berbisnis.

    Pemimpin Redaksi Sastrawacana, Affandi Maulana, S.S., dalam pernyataan penutupnya menyampaikan bahwa seluruh peserta akan dimasukkan ke dalam grup WhatsApp sebagai wadah untuk terus belajar literasi dan sosial bisnis.

    Ia juga membuka peluang agar kegiatan serupa dapat diselenggarakan di sekolah-sekolah, lembaga pemberdayaan masyarakat, PKBM, maupun taman baca masyarakat, dengan narasumber dan topik yang bisa disesuaikan.

  • Hangatkan Silaturahmi, MWC NU dan YPIA Rogojampi Gelar Halal Bihalal Syawal 1446 H

    Hangatkan Silaturahmi, MWC NU dan YPIA Rogojampi Gelar Halal Bihalal Syawal 1446 H

    Momentum Syawal dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Rogojampi dan Yayasan Pendidikan Islam Ahlussunnah Waljamaah (YPIA) Rogojampi untuk menggelar Halal Bihalal, Ahad pagi (27/4).

    Bertempat di lingkungan gedung MWC NU Rogojampi, kegiatan ini dihadiri jajaran Pengurus MWC NU, pengurus YPIA, serta perwakilan organisasi badan otonom seperti Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, ISNU, Pagar Nusa, Lazisnu, dan para guru di bawah naungan YPIA Rogojampi.

    Acara di buka dengan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu Yalal Waton dan pembacaan ayat suci Al Quran.

    Dalam sambutannya, Ketua MWC NU Rogojampi, Ustad Anwar Rofiq, menegaskan bahwa Halal Bihalal ini menjadi agenda rutin tahunan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan warga NU Rogojampi.

    “Kami berharap, semua ranting NU di kecamatan Rogojampi semakin solid dan kompak demi kemaslahatan umat ke depan,” ungkapnya penuh semangat.

    Kegiatan ini juga mendapatkan perhatian dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi. Perwakilan PCNU yang hadir memberikan pesan agar seluruh MWC NU dan ranting NU se-Kabupaten Banyuwangi menjaga kesolidan, serta tegak lurus dalam barisan yang sejalan dengan arah perjuangan PBNU, PWNU, dan PCNU.

    Mengusung tema “Halal Bihalal adalah Waktu yang Tetap untuk Mengembalikan Kehangatan Persaudaraan dan Menumbuhkan Rasa Saling Mengasihi,” acara ini menjadi refleksi penting untuk memperkuat rasa persatuan di tengah perbedaan.

    Dalam tausiyahnya, Kyai. Fathurraq Ahdini, Rois Syuriah MWC NU Rogojampi, menyampaikan pesan menyejukkan tentang pentingnya memelihara ukhuwah.

    “Jika membenci seseorang, jangan terlalu dalam. Bisa jadi kelak rasa itu berubah menjadi cinta. Begitu pula sebaliknya. Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan adalah rahmat,” tutur beliau, mengingatkan hadirin dengan hikmah penuh makna.

    Hadirin sangat khidmat sekali mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh rois syuriah MWC NU Rogojampi sampai selesai meski dalam suasana panas di siang hari.

    Acara ditutup dengan pembacaan doa dan berjabat tangan antar peserta, sebagai simbol saling memaafkan dan menguatkan kembali ikatan persaudaraan dalam keberagaman.

  • 28 Tahun Planet FM, Radio Komunitas Tetap Eksis di Era Digital

    28 Tahun Planet FM, Radio Komunitas Tetap Eksis di Era Digital

    Radio komunitas Planet FM merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 dengan acara Halal Bi Halal dan silaturahmi bersama Jaringan Radio Komunitas Broadcast Banyuwangi (JRKBB).

    Kegiatan yang berlangsung guyub hangat ini digelar di Pantai Wonderful Bimorejo Wongsorejo, Banyuwangi, pada Minggu (27/4/2024).

    Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia sekaligus pendiri Planet FM, Wisnu Husen, dilanjutkan oleh perwakilan JRKBB, Haderi, serta Wakil Ketua JRKI Jawa Timur, Hadi Purwanto, yang juga merupakan pimpinan Planet FM.

    Dalam pidatonya, Hadi Purwanto mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah lanskap media.

    “Radio, televisi, bahkan media cetak konvensional mulai tergerus oleh platform digital. Karena itu, insan radio harus beradaptasi dengan inovasi,” tegasnya.

    Ia menekankan bahwa siaran radio kini tak hanya mengandalkan frekuensi analog, tetapi juga merambah ke speaker pasar, corong masjid, hingga platform digital seperti streaming, podcast, dan media sosial.

    Usai serangkaian acara Halal Bi Halal dan perayaan ulang tahun yang ditandai tiup dan potong tumpeng kegiatan ditutup dengan semarak nyanyi dan joged bersama mengiringi lagu Umbul-umbul Blambangan yang dipandu oleh Mbok Rehana dan pramusiar.

    Acara ini semakin mempererat kebersamaan komunitas radio di Banyuwangi khusunya para anggota Komunitas Radio Planent FM sambil menyongsong tantangan era digital.

    Acara yang diliput oleh vivanews, jurnal news, sastrawacana dan beberapa media lainnya itu tertarik dengan program harian dan mingguan Planet yang kesannya seperti radio swasta tapi dikemas komunitas.

    Karaoke gratis hanya 2 kali sepekan dan ada layanan di shooting layaknya artis memproduksi klip cover.

    Maka fans tetap setia di frekwensi 107,7 MHZ dan media sosialnya, termasuk streaming via aplikasi Gata.

  • BKPRMI Banyuwangi Gelar Rakerda 2024-2028, Fokus Pada Pendidikan dan Kesejahteraan Umat

    BKPRMI Banyuwangi Gelar Rakerda 2024-2028, Fokus Pada Pendidikan dan Kesejahteraan Umat

    Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) periode 2025-2028 di Pondok Pesantren Safinatul Huda (Safinda) yang berlokasi di Secawan, Dadapan, Kabat, Banyuwangi,Minggu (23/03/25).

    Acara ini dihadiri oleh Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) se-Banyuwangi, Camat Kabat, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi yang mewakili Wakil Bupati, serta para pengasuh pondok pesantren.

    Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars BKPRMI. Suasana penuh semangat dan khidmat terasa sejak awal acara berlangsung.

    Sambutan pertama disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sururudin, S.E, M.Si yang menjelaskan struktur dan program kerja BKPRMI.

    Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa BKPRMI memiliki 7 lembaga utama, yaitu:

    Lembaga Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an (LPPTKA, Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPP SDM), Lembaga Pembinaan Keluarga Sakinah (LPKS), Lembaga Ekonomi dan Koperasi (LPP-Ekop), Lembaga Kesehatan Masyarakat, Lembaga Bantuan Hukum dan Brigade Masjid.

    Selanjutnya, Kabag Kesra Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E, M.Si memberikan apresiasi terhadap peran BKPRMI dalam membangun generasi muda Islami yang berakhlak dan berkarakter.

    Dalam sambutannya, Yusdi Irawan menekankan pentingnya pendidikan sebagai solusi utama dalam memutus mata rantai kemiskinan.

    “Pendidikan adalah kunci utama bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

    Baginya, BKPRMI memiliki peran besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan dan wawasan luas.

    Setelah sesi sambutan, masing-masing tim melakukan rapat koordinasi di tempat yang telah disediakan.

    Salah satu yang menjadi perhatian utama dalam rakor kali ini adalah tim IT yang dikomandoi oleh Ustaz Aguk Wahyu Nuryadi selaku Biro Digital dan Media Sosial BKPRMI.

    Dalam diskusi tim IT, disepakati bahwa perlu adanya pendataan yang lebih sistematis terkait guru ngaji dan lembaga pendidikan Al-Qur’an di seluruh Banyuwang dengan operator tetap di aplikasi Emis Kemenag sekaligus kontributor reporter website.

    Tujuan dari pendataan ini adalah agar bantuan dapat tersalurkan secara merata dan tepat sasaran khususnya guru ngaji.

    Setelah pendataan di lembaga yang sudah punya ijin operator tetap yang dibekali ilmu reportase untuk menghidupkan website BKPRMI.

    Dengan pemanfaatan teknologi digital, diharapkan pengelolaan data semakin akurat dan transparan.

    Setelah rangkaian rapat koordinasi selesai, kegiatan Rakerda BKPRMI Banyuwangi ditutup dengan sesi buka bersama dan pembagian sarung.

    Suasana kebersamaan dan keakraban semakin terasa, menguatkan semangat para peserta untuk menjalankan amanah yang telah diberikan.

    Dengan adanya Rakerda ini, diharapkan BKPRMI Kabupaten Banyuwangi semakin solid dalam menjalankan program-programnya, khususnya dalam pengembangan pendidikan, kesejahteraan umat, serta pemanfaatan teknologi digital untuk kemajuan bersama.

  • Banyuwangi Gelar MUSRENBANG RKPD 2026, Fokus pada Pengentasan Kemiskinan dan Pembangunan Berkelanjutan

    Banyuwangi Gelar MUSRENBANG RKPD 2026, Fokus pada Pengentasan Kemiskinan dan Pembangunan Berkelanjutan

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) hari ini, Senin, 17 Maret 2025.

    Acara ini dihadiri oleh Muspida Banyuwangi, seluruh Camat se-Banyuwangi, perwakilan kelompok masyarakat, serta perwakilan pemerintah kabupaten tetangga seperti Jember, Bondowoso, Situbondo, Jembrana, Buleleng, dan Klungkung.

    Selain itu, melalui Zoom, acara ini juga diikuti oleh para Kepala Desa dan berbagai instansi di Kabupaten Banyuwangi.

    Dr. H. Akh. Jazuli, SH., M.SI., Asisten Administrasi Umum Sekda Provinsi Jawa Timur, hadir sebagai keynote speaker mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

    Dalam sambutannya, Jazuli menyoroti pertumbuhan indeks pembangunan di Jawa Timur, dengan Banyuwangi sebagai salah satu kabupaten yang mencatat pertumbuhan ekonomi cukup baik.

    Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan dampak kebijakan efisiensi anggaran dari Pemerintah Pusat.

    Salah satunya adalah penundaan program infrastruktur jalan senilai sekitar Rp59 miliar. Meski demikian, Ipuk menegaskan bahwa Dana Desa tidak terdampak kebijakan ini.

    Ia mengingatkan pemerintah desa untuk tetap berhati-hati dalam pengelolaan anggaran dan fokus pada tiga prioritas utama: pengentasan kemiskinan, peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, serta penguatan sektor unggulan seperti pertanian, perikanan, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif.

    Ipuk juga menekankan pentingnya pemerataan infrastruktur dasar, pelestarian lingkungan, serta percepatan dan penyempurnaan digitalisasi layanan publik.

    Selain itu, ia mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk mengimplementasikan budaya kerja BERAHLAK, yaitu berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif.

    Di akhir acara, dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan PT. PLN (Persero) UP3 Banyuwangi.

    Kesepakatan ini mencakup penyediaan infrastruktur dan keandalan suplai energi listrik, serta optimasi pendapatan pajak barang dan jasa tertentu atas tenaga listrik di Banyuwangi.

    Selain itu, diluncurkan pula program kesehatan masyarakat bernama Inovasi Permata Hati.

    Program ini dirancang untuk memastikan setiap ibu yang melahirkan mendapatkan penanganan persalinan dalam 24 jam di setiap Puskesmas dan fasilitas kesehatan desa/kelurahan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Banyuwangi.

  • Yatim Mandiri Gelar Buka Puasa Ceria, Hadirkan Kebahagiaan untuk Anak Yatim di Masjid Al Hilal

    Yatim Mandiri Gelar Buka Puasa Ceria, Hadirkan Kebahagiaan untuk Anak Yatim di Masjid Al Hilal

    Kebahagiaan terpancar dari wajah 50 anak yatim dan dhuafa dalam acara Buka Puasa Ceria yang digelar Yatim Mandiri di Masjid Al Hilal Sobo, Kamis (13/3).

    Kegiatan ini dimeriahkan dengan berbagai penampilan dari anak-anak binaan, seperti tilawah, pidato dakwah cilik (pildacil), pembacaan puisi, serta pantomim.

    Selain itu, acara juga diisi dengan doa bersama yang dipimpin salah satu binaan, serta pembagian uang saku, paket kue, dan sembako untuk lebaran yang disalurkan oleh donatur LASNAZ Yatim Mandiri Banyuwangi.

    Ketua Takmir Masjid Al Hilal, Drs. H. Agus Iskandar Zulkarnain, mengungkapkan bahwa acara ini telah rutin digelar selama enam tahun terakhir berkat dukungan berbagai pihak, mulai dari relawan, guru, pengurus yayasan, hingga para donatur.

    “Maka, anak-anakku, jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama. Teruslah belajar hingga sukses, lalu peduli terhadap yatim piatu juga. Jaga salat, puasa, dan selalu doakan orang tua,” tutur putra Sulung H. Ishak Siswomiharjo yang wakafkan rumahnya di Jl KH Imam Bonjol untuk lembaga Yatim Hebat di banyuwangi.

    Sementara itu, Kepala Cabang Yatim Mandiri Banyuwangi, M. Syukron, menuturkan bahwa acara tersebut mengundang 50 anak yatim dan dhuafa dari beberapa sanggar, seperti Karangrejo, Tukangkayu, Kertosari, dan Telemung.

    “Selain program Buka Puasa Ceria ini, masih banyak kegiatan lain yang akan kami selenggarakan berkat kebaikan para donatur. Di antaranya Belanja Bareng Yatim di Mall Banyuwangi, pembagian Paket Lebaran, serta THR untuk Guru Pejuang Yatim,” ujarnya.

    Setelah azan magrib berkumandang, para peserta berbuka puasa dengan kurma, buah naga, dan air putih, dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah. Acara kemudian diakhiri dengan santap nasi kotak dan kue dari para donatur.

    Turut hadir dalam acara tersebut Camat Banyuwangi, H. Hartono, beserta jajaran Muspika Kota. Ia juga mengajak tim Pusbimdu Puskesmas Sobo untuk menggelar bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan bagi warga yang hadir.