Tag: literasi

  • DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    Dewan Kesenian Blambangan (DKB) menggelar forum diskusi sastra bertajuk “Sastra sebagai Arsip Jiwa” pada Kamis malam, 29 Mei 2025, bertempat di Palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

    Acara ini menghadirkan narasumber utama Dr. Tengsoe Tjahjono, seorang akademisi Universitas Brawijaya Malang sekaligus penyair dengan jejak panjang dalam dunia literasi Indonesia.

    Dalam forum tersebut, Dr. Tengsoe membuka refleksi dengan pernyataan filosofis, “Dunia itu obah, dunia itu berubah.”

    Ungkapan tersebut bukan sekadar pembuka, melainkan titik tolak untuk menjelaskan bagaimana sastra berfungsi lebih dari sekadar pencatat realitas.

    Ia mengemukakan bahwa karya sastra memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali kenyataan melalui perenungan estetis dan pemaknaan ulang oleh subjek kreatif.

    Diskusi yang dimoderatori oleh Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, berlangsung dalam suasana terbuka dan kontemplatif.

    Hadir dalam forum tersebut berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap dunia literasi dan kebudayaan, antara lain para sastrawan, akademisi, guru, mahasiswa, seniman, dan pegiat komunitas literasi.

    Menurut Dr. Tengsoe, sastra merupakan aktivitas interpretatif yang menembus batas-batas logika dan data objektif. Ia menyatakan, “Di tangan ilmuwan, A adalah A. Tapi di tangan penyair, A bisa menjadi A plus.”

    Ungkapan ini menggambarkan fleksibilitas semiotik dalam karya sastra, di mana simbol, metafora, dan bahasa figuratif digunakan untuk menafsirkan dunia secara lebih dalam dan kompleks.

    Dalam paparannya, Tengsoe menolak dikotomi lama yang memisahkan antara kehidupan praktis dan kesusastraan.

    Ia menekankan bahwa menjadi sastrawan tidak identik dengan kehidupan yang terpinggirkan secara ekonomi.

    “Faktanya, banyak sastrawan yang bisa keliling dunia karena puisi yang mereka tulis,” ujarnya.

    Dengan demikian, sastra memiliki dimensi ekonomi, sosial, sekaligus spiritual yang relevan dengan perkembangan zaman.

    Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan dalam akses kesusastraan. Sastra tidak boleh eksklusif hanya bagi kalangan intelektual.

    “Nelayan pun bisa menulis. Petani juga. Kita semua punya pengalaman hidup yang layak dirangkai,” ungkapnya.

    Ia memperkenalkan istilah “arsip jiwa” sebagai konseptualisasi sastra sebagai sarana menyimpan, menata ulang, dan menyuarakan pengalaman manusia secara otentik.

    Salah satu sorotan dalam diskusi adalah pembahasan tentang antologi puisi Jenggirat, karya Tengsoe yang ditulis dengan latar dan napas Banyuwangi.

    Ia menyebut tanah kelahirannya tidak hanya sebagai latar geografis, tetapi sebagai ruang batin yang membentuk kesadaran dan estetika puisinya.

    Dalam sesi tanya-jawab, isu tentang kecerdasan buatan (AI) mengemuka.

    Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan AI menggantikan peran penyair, Dr. Tengsoe menjawab dengan nada santai namun tajam: “AI itu cerdas, tapi tidak bisa nakal. Justru kenakalan itu yang melahirkan puisi.”

    Ia menjelaskan bahwa puisi lahir dari kegelisahan dan ketidakteraturan batin manusia, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma yang rigid dan kalkulatif.

    Ia juga mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar bentuk teknis, melainkan memiliki daya resonansi emosional.

    “Orang yang menulis tapi tidak membaca akan tampak dari puisinya,” paparnya, menekankan pentingnya intertekstualitas dan pengalaman membaca dalam proses kreatif kepenyairan.

    Diskusi ini turut diwarnai oleh respons-respons dari tokoh kebudayaan Banyuwangi. Ketua DKB, Hasan Basri, menyuarakan keprihatinannya terhadap kecenderungan pelombaan puisi di lingkungan pendidikan yang lebih menekankan aspek kompetitif daripada ekspresif.

    Hasan menambahkan bahwa DKB tengah merancang pendekatan kuratorial baru dalam menilai karya sastra, yakni melalui dimensi kedalaman ekspresi dan kejujuran estetis, bukan semata-mata teknik dan kepatuhan formal.

    Sementara itu, dari komunitas Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, Hakim Said menambahkan dimensi reflektif dengan pendekatan humor dan filosofi.

    Ia mengemukakan bahwa keberanian berimajinasi merupakan dasar dari lahirnya karya sastra.

    “Kalau imajinasi itu hidup, maka bisa jadi kenyataan,” ujarnya.

    Ia menyatakan kesiapan Rumah Kebangsaan untuk mendukung ekosistem sastra Banyuwangi agar lebih menyentuh masyarakat luas.

    Forum diskusi tersebut berlangsung dinamis. Beberapa peserta menyampaikan pendapat dan berbagi pengalaman tentang proses kreatif yang muncul dari keseharian, termasuk bagaimana obrolan warung kopi dan tontonan televisi dapat menjadi sumber narasi literer jika dilihat melalui kesadaran estetik.

    Menutup forum, Dr. Tengsoe menyampaikan sebuah pernyataan penting tentang syarat fundamental menjadi penulis: “Menjadi penulis adalah menjadi pembaca yang baik. Membaca buku, membaca peristiwa, atau membaca manusia.”

    Ia menggarisbawahi bahwa karya sastra lahir dari interaksi reflektif antara penulis dan dunia di sekitarnya.

    Sebagai penutup, beberapa peserta membacakan puisi mereka dalam suasana sederhana namun intim.

    Tidak ada mikrofon canggih atau panggung formal, namun kehadiran kata-kata dan semangat kolektif menjadikan malam tersebut sebagai ruang pertukaran intelektual dan ekspresi estetis yang otentik.

    DKB menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari ritual intelektual dan kultural yang berkelanjutan.

    Sastra, sebagaimana ditegaskan oleh para peserta, bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang memberi nyawa pada realitas melalui bahasa.

  • Dari Buku ke Aksi, Ruang Baca Kita Bangun Budaya Baca di Ruang Publik

    Dari Buku ke Aksi, Ruang Baca Kita Bangun Budaya Baca di Ruang Publik

    Ruang Baca Kita, sebuah komunitas kecil dengan mimpi besar, hadir membawa semangat baru dalam upaya menumbuhkan kembali budaya membaca di tengah masyarakat.

    Diinisiasi oleh sekelompok individu dengan latar belakang beragam, mulai dari pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, hingga pegiat literasi, komunitas ini disatukan oleh kecintaan yang sama terhadap buku dan keinginan kuat untuk berbagi manfaatnya kepada lebih banyak orang.

    Komunitas ini tidak hanya menyediakan ruang untuk membaca buku secara gratis, tetapi juga menjadi wadah interaktif yang memfasilitasi berbagai kegiatan menarik.

    Mulai dari diskusi ringan tentang topik-topik terkini, bedah buku bersama penulis atau pembaca aktif, hingga sesi membaca buku bersama anak-anak sebagai bentuk pendekatan literasi sejak dini.

    Semua kegiatan tersebut dilakukan dengan semangat kebersamaan dan kesukarelaan.

    Lahir dari sebuah keresahan sederhana yang melihat tumpukan buku di rumah yang tak tersentuh dan tak terbaca, ide untuk mengajak teman-teman berkumpul dan membaca bersama pun tumbuh menjadi gerakan yang lebih besar.

    Apa yang awalnya hanya percakapan ringan kini menjelma menjadi agenda rutin yang digelar setiap akhir pekan.

    Bahkan tak jarang, Ruang Baca Kita juga menyelenggarakan kegiatan spontan seperti pojok baca dadakan di lokasi-lokasi strategis, yang selalu berhasil menarik perhatian masyarakat sekitar.

    Salah satu kegiatan yang kini menjadi ciri khas komunitas ini adalah membuka lapak baca di area publik seperti Taman Blambangan, sebuah ruang terbuka hijau yang menjadi pusat aktivitas warga Banyuwangi.

    Dari pagi hingga sore hari, lapak ini ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak yang antusias membuka halaman demi halaman buku cerita, pelajar yang mencari referensi bacaan tambahan, hingga orang dewasa yang sekadar ingin bersantai sambil menikmati bacaan ringan.

    Semua larut dalam atmosfer literasi yang hangat dan inklusif.

    Pada Minggu, 18 Mei 2025, Ruang Baca Kita juga menjalin kolaborasi bersama Banyuwangi Book Party, sebuah inisiatif lokal yang memiliki visi serupa dalam menumbuhkan minat baca masyarakat.

    Kolaborasi ini menjadi momen penting yang memperkuat sinergi antar komunitas literasi di Banyuwangi dan menjadi bukti nyata bahwa gerakan membaca bisa tumbuh subur jika digerakkan bersama-sama.

    Bagi Ruang Baca Kita, membaca bukan sekadar aktivitas menambah ilmu pengetahuan, melainkan juga cara untuk memahami dunia dan diri sendiri.

    Melalui membaca, seseorang bisa menemukan minat dan bakat yang sebelumnya tidak disadari.

    Bahkan, membaca bisa menjadi terapi tersendiri untuk menenangkan pikiran, membuka wawasan baru, serta membangun empati terhadap sesama.

    Dengan mengusung semangat gotong royong, keterbukaan, dan inklusivitas, komunitas ini berharap dapat menjadi percikan kecil yang menyalakan api semangat membaca di tengah masyarakat.

    Sebab mereka percaya, perubahan besar dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti satu halaman buku yang dibaca dengan hati.

    Jika Anda meyakini bahwa sebuah perubahan bisa lahir dari lembar demi lembar buku, maka Ruang Baca Kita adalah tempat yang tepat untuk Anda.

    Ayo, bergabung bersama kami dan jadilah bagian dari gerakan literasi yang menyenangkan, inklusif, dan berdampak!

    Untuk informasi kegiatan dan kolaborasi selanjutnya, silakan kunjungi laman Instagram kami di @ruangbacakitaa.

    Kami tunggu kehadiran dan partisipasi Anda dalam menciptakan masyarakat yang gemar membaca!

  • Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan jurnalistik dan digital marketing digelar di pelataran Saestwo Cafe dan diikuti oleh pelajar serta masyarakat Banyuwangi, pada Sabtu malam (10/5/2025)

    CEO Saestwo, HM. Shodiqin, menyampaikan bahwa materi yang disajikan mungkin dianggap biasa dan tidak penting oleh sebagian orang.

    Namun, dengan niat untuk menuntut ilmu, membuka “gelas kosong”, serta adanya semangat inovasi, motivasi, karakter, dan pengalaman dari para narasumber, pasti ada hikmah yang bisa diambil sebagai lentera dalam menghadapi dunia nyata di era digital saat ini.

    Shodiqin, yang juga merupakan guru di SMKN Kalipuro dan dikenal dengan ciri khas udeng PERGUNU-nya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya workshop ini.

    Di antaranya adalah Media Sastrawacana, Penerbit Lintang, Jurnal News, ACTA News, Brader Advertising, Komunitas Gotong Royong 45, dan Yayasan Aura Lentera Indonesia yang peduli pada disabilitas.

    Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan ini, baik secara langsung maupun melalui siaran live di media sosial seperti TikTok Zhie, Instagram Gotongroyong, dan YouTube Sastrawacana.

    Bahkan, ada netizen dari Al Azhar Mesir, Atambua Belu NTT, Probolinggo, Situbondo, dan Malang yang turut berinteraksi.

    “Oleh karena itu, saya berharap melalui pelatihan ini para peserta dapat memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam meliput berita, menulis artikel, memahami etika jurnalistik, dan cakap bermedia sosial secara sehat,” ujarnya.

    Shodiqin menekankan bahwa keberadaan para jurnalis yang bijak dalam bermedia sosial sangat penting untuk menyampaikan berita dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Banyuwangi.

    Ia berharap momentum ini dapat menjadi wadah untuk bertukar pengalaman dan saling belajar.

    “Maka dari itu, mari kita gunakan momentum ini untuk bertukar pengalaman dan belajar satu sama lain. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh sehingga ke depan bisa menjadi calon-calon jurnalis daerah yang berkualitas dan profesional,” tambahnya.

    Ia juga menyebutkan bahwa pada sore hari sebelumnya, Komunitas Kajian Lingkaran Studio Ar Rahman mengadakan diskusi dan silaturahmi bersama ormas keagamaan Islam.

    Sementara pada Minggu besok, Saestwo Cafe akan menjadi tempat berkumpulnya Komunitas Mobil Kuno Corolla.

    Sementara itu, Ketua Perkumpulan Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima yang menjadi fasilitator workshop ini menyampaikan bahwa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang berfungsi sebagai penyampai informasi kepada publik.

    Jurnalistik juga dapat diartikan sebagai bahasa komunikasi pengantar pemberitaan yang biasa digunakan oleh media cetak maupun elektronik.

    Workshop ini dipandu oleh host difabel daksa yang aktif di TikTok, Puji Zhie Winarsih. Narasumber pertama adalah Andi Budi Setiawan, seorang sastrawan dan wartawan.

    “Sebagai media informasi dan komunikasi, jurnalistik dituntut untuk memberikan informasi yang aktual dan faktual. Seorang jurnalis harus mampu menyampaikan informasi yang mendidik kepada masyarakat, sehingga pembaca bisa memperoleh manfaat dan mampu memfilter opini maupun hoaks,” ujar guru penggerak yang aktif di SMK PGRI Rogojampi dan Komunitas Kopiwangi ini.

    Narasumber kedua adalah Rafly Rafjanjani Aziz Attubel, seorang social media specialist yang merupakan diaspora dari perbatasan NTT dan Timor Leste serta mahasiswa UMM.

    Ia menyampaikan materi tentang bijak bermedia sosial, menguasai SEO dan SEM untuk menjadi viral dan menghasilkan cuan tanpa batas ruang dan waktu.

    Narasumber ketiga adalah Agung Broder, pengusaha dan pemilik percetakan digital printing di Rogojampi, Banyuwangi. Ia membagikan materi mengenai bagaimana menjadi pebisnis yang tangguh.

    Ketiga narasumber memberikan materi yang luar biasa dan bermanfaat, mulai dari penulisan, kebijaksanaan dalam bermedia sosial, hingga ketangguhan dalam berbisnis.

    Pemimpin Redaksi Sastrawacana, Affandi Maulana, S.S., dalam pernyataan penutupnya menyampaikan bahwa seluruh peserta akan dimasukkan ke dalam grup WhatsApp sebagai wadah untuk terus belajar literasi dan sosial bisnis.

    Ia juga membuka peluang agar kegiatan serupa dapat diselenggarakan di sekolah-sekolah, lembaga pemberdayaan masyarakat, PKBM, maupun taman baca masyarakat, dengan narasumber dan topik yang bisa disesuaikan.

  • Edukasi Jurnalistik KJJT dan Polresta Banyuwangi: Cetak Generasi Cerdas, Kritis, dan Taat Hukum

    Edukasi Jurnalistik KJJT dan Polresta Banyuwangi: Cetak Generasi Cerdas, Kritis, dan Taat Hukum

    Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) bersama Polresta Banyuwangi menggelar edukasi jurnalistik bagi pelajar SMP/MTs se-Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan bertajuk “Edukasi Jurnalistik Membangun Generasi Taat Hukum” ini bertujuan membekali para siswa dengan kemampuan literasi yang mumpuni agar terhindar dari berita hoaks dan perilaku negatif seperti bullying.

    Pada Selasa (25/2/2025), kegiatan edukasi digelar di SMPN 1 Banyuwangi dengan menghadirkan narasumber dari KJJT Banyuwangi, termasuk Yudha AO, Fitron Jelani, Bobby Yudha, serta Maulana Affandi, seorang penulis dan pegiat literasi.

    Turut hadir pula Aipda Vicki dari Sat Binmas Polresta yang dalam paparannya menjelaskan berbagai bentuk bullying yang kerap terjadi di sekolah, baik verbal maupun fisik, serta sanksi yang dapat menjerat pelaku.

    Para narasumber memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya literasi dan jurnalistik dalam menyaring informasi serta konsekuensi hukum dari tindakan bullying.

    M. Sodiq, S.Pd (1)

    Kegiatan dibuka oleh Kepala SMPN 1 Banyuwangi, M. Sodiq, S.Pd yang mengapresiasi kegiatan edukasi jurnalistik karena dirasa sangat bermanfaat untuk kreativitas siswa, khususnya dalam menghadapi mengenali hoax di era digital.

    “Terima kasih kepada teman-teman KJJT dan pihak Polresta Banyuwangi yang telah hadir, semoga apa yang disampaikan bisa bermanfaat bagi siswa, khususnya dalam meningkatkan kreativitas dan pemahaman tentang informasi digital,” ujarnya.

    Aipda Vicki

    Materi pertama disampaikan oleh Aipda Vicki yang memberi pengetahuan terkait apa saja bentuk perundungan yang kerap terjadi di sekolah.

    Ia juga menegaskan bahwa saat ini perundungan tidak hanya soal fisik saja, tapi juga ke arah digital, misalnya menggunakan stiker WhatsApp yang sifatnya mengolok-olok.

    “Kan biasanya ada foto temannya dijadikan stiker, terus dishare ke banyak orang. Lebih baik jangan, karena bisa membuat orang lain merasa malu dan sakit hati, itu bisa menjadi bentuk bullying,” tegasnya.

    Tak hanya perihal perundungan, Aipda Vicki juga menyelipkan informasi terkait kegiatan-kegiatan yang melanggar aturan hukum, seperti balap liar, hingga bahaya miras bagi pelajar.

    Maulana Affandi

    Dilanjut ke materi selanjutnya oleh Maulana Affandi yang memberi arahan bagaimana peran literasi dan jurnalistik untuk membentengi para pelajar dari informasi hoax yang marak di media sosial belakangan ini.

    “Bagaimana caranya agar kita tidak mudah termakan hoax? Ya, cara paling mudah adalah dengan literasi, terutama banyak membaca,” ujarnya.

    Tak hanya itu, Maulana Affandi yang saat ini menjabat Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi juga menambahkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis saja, tetapi juga tentang memahami informasi secara kritis.

    Setelah pemaparan materi, para narasumber mengajak para siswa untuk praktik langsung menulis berita tentang kegiatan edukasi ini.

    Fitron Jelani mengawali dengan memberi arahan kepada para siswa tentang bagaimana etika saat ingin mewawancarai narasumber, termasuk mengatur tata bahasa agar komunikasi jadi lebih baik.

    “Biasakan untuk memperkenalkan diri dulu, ya. Namanya siapa, terus dari mana, kemudian dijelaskan maksud dan tujuannya,” papar Fitron, yang kemudian langsung dipraktikkan oleh siswa.

    Tak hanya itu, Fitron Jaelani juga memberikan pengetahuan tentang pertanyaan apa saja yang hendaknya ditanyakan kepada narasumber, sehingga muatan serta substansi beritanya jadi lebih bermanfaat bagi pembaca.

    Sementara pemateri lain, Yudha AO lebih fokus kepada teknik penulisan berita, termasuk bagaimana penyusunan kata demi kata agar lebih mudah dibaca dan dipahami.

    “Berita hendaknya diawali dari nama daerah terlebih dahulu, misalnya Banyuwangi,” ujarnya, sembari memperlihatkan contoh berita di layar proyektor.

    Yudha AO juga menegaskan bahwasanya dalam menghasilkan karya jurnalistik, para siswa harus memerhatikan kalimat yang dirangkai agar tidak terjadi pemborosan kata.

    Di sisi lain, pemateri lain, Bobby Yudha yang kerap disapa Bobby menjelaskan rinci bagaimana struktur berita yang baik dan benar, sehingga berita tersebut menjadi lebih tertata dan mudah dimengerti.

    Sembari mencontohkan ke secarik kertas, Bobby membimbing siswa bagaimana proses menulis karya jurnalistik dengan dimulai dari pembuatan judul terlebih dahulu.

    Sebagai bentuk apresiasi, narasumber memberikan buah tangan berupa buku antologi puisi Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan dan beberapa cokelat.

    Sementara itu, Ketua KJJT Wilayah Banyuwangi, Ricky Sulivan, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan ini.

    Ia menekankan bahwa pembekalan kejurnalistikan akan membantu pelajar mendeteksi berita palsu dan memahami produk jurnalistik yang berkualitas.

    “Dengan literasi yang baik, pelajar dapat mengenali arah sebuah berita, sehingga meminimalisir kesalahpahaman,” ujarnya.

    Ricky Sulivan menambahkan bahwa pemahaman tentang jurnalistik sangat krusial bagi generasi muda.

    Mereka perlu mengetahui bagaimana proses pembuatan berita yang benar, mulai dari penerapan prinsip 5W+1H, cara mengumpulkan data, hingga etika wawancara.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda Banyuwangi yang cerdas, kritis, dan taat hukum.

    Dengan pemahaman literasi yang baik, para pelajar tidak hanya akan lebih bijak dalam menerima informasi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara positif di era digital yang serba cepat ini.

  • Pelatihan Menulis Puisi MI Darun Najah II, Majidatul Himmah: Menulislah untuk Dikenang dan Menjadi Ilmu yang Bermanfaat

    Pelatihan Menulis Puisi MI Darun Najah II, Majidatul Himmah: Menulislah untuk Dikenang dan Menjadi Ilmu yang Bermanfaat

    Sebagai bentuk kepedulian terhadap literasi, MI Darun Najah II Banyuwangi menggelar pelatihan Menulis puisi bagi siswi.

    Kegiatan yang melibatkan 99 siswi ini menghadirkan dua orang narasumber, yaitu H. Syafaat, S.H, M.H.I (Ketua Yayasan Lentera Sastra) dan Maulana Affandi, S.S (Pemred Penerbit Lintang & media Sastrawacana)

    Dalam sambutannya, Kepala Madrasah, Majidatul Himmah. S. Ag  mengingatkan jika karya dapat membuat seseorang dikenang dan menjadi amal jariyah jika tulisan itu dimanfaatkan  orang banyak, sehingga ia mengajak kepada setiap siswi untuk berkarya.

    “Tanpa karya, seseorang akan dilupakan. Maka kita harus menulis, agar nama kita dikenang selamanya,” paparnya.

    Pemateri pertama, Syafaat menjelaskan pengetahuan dasar tentang puisi dan memberi motivasi agar para siswi dapat berkarya.

    Kemudian, Syafaat juga menegaskan bahwa tidak ada tulisan yang jelek, sehingga ia menyeru kepada siswi agar tidak malu dengan tulisannya.

    “Tidak ada tulisan yang jelek, semua karya itu bagus. Jadi jangan malu, ya!” tegasnya.

    Tak hanya itu, Syafaat juga berbagi buku ‘Hebat Bersama Ummat’ pada siswa yang bisa menjawab pertanyaan, yaitu Hawa Ummu Salamah yang punya prestasi Hafidz, serta Adelia yang punya prestasi baca puisi di event Porseni, event Komunitas Gotongroyong45 dan finalis lomba se Jawa Bali di Bustanul Makmur 2023.

    Pemateri selanjutnya, Maulana Affandi yang merupakan alumni Fakultas Sastra UNEJ menggiring siswi interaktif untuk ungkapkan perasaan dan tuangkan dalam puisi.

    “Itu kenapa puisi disebut ungkapan hati atau curhat dalam bentuk tulisan yang indah, tapi cukup beberapa bait saja, nggak sampai jadi pentigraf atau cerpen bahkan novel,” paparnya.

    Affandi mengajarkan beberapa trik menulis puisi bagi siswi madrasah, salah satunya adalah menulis daftar kata yang berkaitan dengan tema atau topik yang diangkat.

    Dengan beberapa trik yang diberikan, siswi menjadi lebih mudah dalam menulis puisi.

    Setelah dialog interaktif, Maulana Affandi mengajak para siswi untuk praktik menulis puisi dengan menekankan agar menulis dengan hasil pemikiran sendiri, bukan mencontek atau duplikasi.

    Di sesi akhir, Bung Aguk yang turut hadir juga memberi arahan kepada para siswi, sekaligus membantu mereka dalam mengoreksi puisi yang ditulis.

    Kegiatan yang dipandu Miss Aida dan Yusqi  serta dinotulensi Ust Bagas itu, akhirnya menghasilkan karya puisi spontan dengan waktu relatif cepat.

    “Harapannya saat perpisahan akhir tahun ajaran akan terbit buku kedua ‘Petualangan  Penaku’ karya guru dan siswi tentang cerita dan puisi!” tutur Miss Aida yang diamanati pengembangan literasi dan kesiswaan ini.

    Sebagai iformasi tambahan, madrasah dengan program unggulan hafidzah ini, memiliki ekstra puisi, pantomin, pidato, nasyid, renang, MTQ kaligrafi .

    Di akhir pelatihan, siswi yang ikut lomba menulis surat ke Bupati dikumpulkan via Kepala Madrasah untuk selanjutnya dikirim ke Radar Banyuwangi sebelum deadline jelang Asyar.

    Penulis: Maulana Affandi/Aguk

  • USAID Gelar Lokalatih Literasi Keterbukaan Informasi Publik bagi Penyandang Disabilitas di Banyuwangi

    USAID Gelar Lokalatih Literasi Keterbukaan Informasi Publik bagi Penyandang Disabilitas di Banyuwangi

    sastrawacana.id/ – Sebagai bagian dari upaya peningkatan akses informasi publik, Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten (Diskominfo) Banyuwangi bersama United States Agency for International Development (USAID) Erat dan Yayasan Aura Lentera Indonesia menggelar kegiatan Lokalatih Literasi Keterbukaan Informasi Publik (KIP) bagi penyandang disabilitas, Selasa (17/12/2024).

    Kegiatan yang digelar di Hotel Santika Banyuwangi ini juga menghadirkan berbagai komunitas difabel dan OPD.

    Usai menyanyikan lagu kebamgsaan Indonesia Raya, dilanjut dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz M. Amir, seorang penyandang tuna daksa yang hadir menggunakan kursi roda.

    Koordinator Provinsi USAID Erat Jawa Timur, Muhammad Ikhsan melalui Zoom Meeting menyampaikan apresiasi kepada segenap panitia serta Pemerintah Banyuwangi atas dukungan sehingga kegiatan dapat terselenggara dengan baik dan lancar.

    “Saya ucapkan terima kasih kepada Kepala Diskominfo karena telah memfasilitasi dan mendukung kegiatan yang sangat berguna bagi teman-teman disabilitas,” ucapnya.

    Muhammad Ikhsan menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik adalah hak dasar yang harus dijamin oleh negara.

    Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka ruang berpikir, bertindak serta ketrampilan bagi penyandang disabilitas untuk menyuarakan kebutuhan mereka.

    “Ini adalah momen yang istimewa karena memberi ruang kepada teman-teman penyandang disabilitas untuk mendapatkan hak setara dalam akses informasi publik. Saya harap ada keberlanjutan ke depan sehingga hasil rembug  dapat menjadi evaluasi prioritas bersama antara pemerintah dan komunitas difabel” imbuhnya.

    Tak sampai di situ, ia juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Fasilitator Pelayanan Publik USAID Erat distrik Besuki, Sri Rahayu Sugiartiningsih, penggagas acara yang disebutnya bekerja keras siang dan malam untuk memastikan kegiatan ini terwujud.

    Kepala Dinas Kominfo Banyuwangi, Budi Santoso, S.Sos, M.Si membuka sambutannya dengan mengucapkan Selamat Hari Disabilitas Internasional kepada seluruh penyandang disabilitas.

    Ia menegaskan jika pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memperjuangkan kesetaraan akses informasi bagi penyandang disabilitas.

    “Keterbukaan informasi publik merupakan hak seluruh warga, tanpa kecuali, sehingga semua dapat merasakan manfaatnya dalam berbagai hal,” ujar Budi.

    Budi Santoso juga menuturkan jika Pemkab Banyuwangi terus berbenah dalam menghadirkan fasilitas, termasuk sarana dan prasarana yang ramah disabilitas.

    Sebagai langkah nyata, Budi mengumumkan bahwa berbagai kegiatan besar Pemkab, termasuk perayaan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-253 pada tanggal 18 Desember 2024 akan dilengkapi dengan juru isyarat sebagai bentuk kepedulian terhadap penyandang disabilitas.

    Tak sampai di situ, nantinya juga akan ada event-event yang melibatkan berbagai komunitas disabilitas, sehingga setiap insan yang ada di Banyuwangi memiliki kesetaraan serta hak yang sama.

    Saat ini, Diskominfo sedang fokus kepada Keterbukaan Informasi Publik (KIP), sehingga setiap informasi yang ada di Banyuwangi dapat diterima oleh segenap masyarakat.

    Materi Literasi KIP dari Para Ahli

    Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para narasumber, diawali oleh Astrid, konsultan USAID Erat Jakarta sekaligus pakar keterbukaan informasi publik.

    Dalam materinya yang disampaikan via Zoom Meeting dari Jakarta, Astrid memberikan pemahaman mendalam tentang hak-hak akses informasi bagi penyandang disabilitas.

    Ia menekankan pentingnya memastikan informasi yang disediakan badan publik mudah dipahami oleh semua, termasuk difabel.

    “Keterbukaan informasi bukan hanya sekadar memberikan data, tetapi memastikan informasi tersebut bernilai, dapat diakses, dan dimengerti oleh penerima,” kata Astrid.

    Astrid juga mengapresiasi langkah Banyuwangi sebagai salah satu kabupaten yang melibatkan langsung penyandang disabilitas dalam forum formal seperti ini.

    “Banyuwangi telah melakukan praktik baik yang patut ditiru kabupaten lain,” tambahnya.

    Tak hanya itu, Astrid juga memaparkan bagaimana Undang Undang mengatur akses informasi, termasuk apa saja hak-hak yang dapat diterima oleh masyarakat.

    Dijelaskan pula jika masyarakat dapat mengajukan permohonan untuk mengetahui informasi secara langsung ke Diskominfo, baik via online maupun manual dengan datang langsung ke kantor dinas.

    Dalam FGD yang dipandu Indah Catur Cahyaningtyas, pemateri selanjutnya, yakni M. Arif Fajartono, Hendy serta Nafi Ferdian, ST, MT, selaku pengelola website pemkab dan PPID dari Dinas Kominfo Banyuwangi kemudian memaparkan berbagai kanal informasi publik yang sudah tersedia.

    Dari website PPID, media sosial, hingga kerja sama dengan radio komunitas berijin anggota JRKBB, Pemkab Banyuwangi berusaha menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

    Nafi juga membuka kesempatan kepada peserta untuk memberi masukan agar platform informasi publik menjadi lebih ramah disabilitas.

    “Saat ini kami telah mengembangkan PPID yang ramah disabilitas, nantinya kami mohon masukan dari teman-teman agar website menjadi lebih mudah diakses,” jelas Nafi.

    Nafi berharap agar lokalatih tidak berhenti hanya sampai sini saja, tapi ada dampak dan keberlanjutan bagi segenap peserta yang hadir.

    “Semoga kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan ada tindak lanjut konkret yang melibatkan teman-teman difabel,” tuturnya ramah.

    Arif menekankan bahwa masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak penuh untuk mengajukan permintaan informasi sesuai UU KIP Nomor 14 Tahun 2008.

    Materi disampaikan sekaligus praktik mengakses PPID yang diikuti oleh seluruh peserta, dibantu oleh pendamping masing-masing.

    Terutama bagi tuna netra, Nurhadi Windoyo selaku Ketua Aura Lentera langsung mendampingi dan mengajarkan bagaimana mengakses PPID dan apa saja yang tertera di laman tersebut.

    Dari praktik tersebut, banyak masukan serta saran dari para peserta disabilitas untuk Diskominfo agar laman PPID lebih mudah diakses, khususnya bagi tuna netra.

    Di akhir acara, Sri Rahayu selaku penggerak inisiasi kegiatan ini menyampaikan melalui kegiatan ini, diharapkan penyandang disabilitas di Banyuwangi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang keterbukaan informasi publik dan bagaimana mengaksesnya.

    Bibit Sri Lestari (HWDI) dan Abdullah (Gergatin) menyambut baik lokalatih yang membuat para peserta jadi melek teknologi di era digital. Diharapkan ada pelatihan serta pendampingan berkelanjutan untuk bisa selancar di media sosial.

    Penulis: Maulana Affandi/Aguk

  • Bedah Buku ‘Hebat Bersama Umat’ di Banyuwangi, Membangun Toleransi Lewat Literasi

    Bedah Buku ‘Hebat Bersama Umat’ di Banyuwangi, Membangun Toleransi Lewat Literasi

    Komunitas Lentera Sastra Banyuwangi mengadakan bedah buku berjudul ‘Hebat Bersama Umat’ di Hall Room Hotel Tanjung Asri, pada Selasa (17/12/2024) yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting serta para pegiat sastra di Banyuwangi.

    Beberapa tokoh yang hadir antara lain Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB) Hasan Basri, Muttafaqurrohmah dari Untag Banyuwangi, Aekanu Haryono dari Killing Osing, Hakim Said selaku Founder Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi, sastrawan Fatah Yasin Noer, seniman budayawan Ki Pramoe Sakti, serta para kepala madrasah.

    Bedah buku yang dipandu oleh dosen UIMSYA Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., ini bertujuan untuk membangun semangat literasi sekaligus mengapresiasi karya sastra bertema moderasi beragama.

    Dalam diskusi tersebut, terdapat empat narasumber utama yang dihadirkan, yaitu Chaironi Hidayat (Kepala Kemenag Banyuwangi), Drs. Zen Kostolani, M.Si. (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan), Samsudin Adlawi (Direktur Radar Banyuwangi), dan Syafaat, S.H., M.H.I. (Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi).

    Chaironi Hidayat membuka sesi diskusi dengan menekankan betapa pentingnya literasi sebagai ukuran kemajuan peradaban.

    Menurutnya, budaya literasi yang tinggi menjadi salah satu indikator kualitas peradaban suatu bangsa.

    “Namun, tingginya literasi saja tidak cukup jika peradaban masih menyimpan berbagai kekurangan. Sastra mampu melampaui batas bahasa teknis dan menyentuh sisi emosional manusia,” ujarnya sambil mengapresiasi buku ‘Hebat Bersama Umat’ sebagai karya penuh makna yang menyuarakan moderasi beragama.

    Drs. Zen Kostolani dalam kesempatan itu juga menyampaikan bahwa menulis puisi memerlukan kepekaan dan latihan yang terus-menerus.

    Menulis puisi terlihat sulit, tetapi jika dilakukan dengan tekad kuat, siapa pun bisa melakukannya,” tuturnya.

    Zen juga menjelaskan peran Dinas Perpustakaan dalam mendukung penulis lokal, salah satunya dengan mengurus ISBN untuk memfasilitasi promosi karya-karya mereka ke tingkat nasional.

    Samsudin Adlawi dalam sesi berikutnya membahas tentang teknik serta esensi puisi yang terdapat dalam buku ini.

    Ia menegaskan bahwa keindahan puisi terletak pada kemampuannya untuk menyentuh hati pembaca, bukan hanya pada keindahan diksi semata.

    “Puisi tidak perlu dipaksakan indah. Jika berhasil menyentuh hati, puisi akan indah dengan sendirinya,” terangnya.

    Syafaat, Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, menjelaskan bahwa buku ‘Hebat Bersama Umat’ disusun melalui proses yang melibatkan 79 penulis selama satu tahun.

    Tema moderasi beragama yang diangkat dalam buku ini ternyata cukup menantang untuk dituangkan dalam bentuk puisi.

    “Namun, ini menjadi kontribusi nyata kami dalam menyebarkan pesan perdamaian melalui karya sastra,” terang Syafaat.

    Acara ini mendapatkan apresiasi tinggi dari peserta, salah satunya dari Abdul Aziz, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi.

    “Buku ini membuka wawasan tentang pentingnya menyampaikan pesan melalui karya sastra,” katanya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Junaidi, guru di MTsN 11 Banyuwangi yang berharap kegiatan serupa bisa digelar secara rutin di masa depan untuk memajukan budaya literasi.

    Melalui acara ini, diharapkan semangat literasi di Banyuwangi akan terus berkembang, dan karya-karya sastra lokal dapat menjadi sarana yang efektif untuk membangun toleransi serta menciptakan keharmonisan di masyarakat. (Syaf)

  • SMK PGRI Rogojampi Rayakan HARJABA ke-253 dengan Lomba Celatu Using, Nguri-nguri Budaya dan Semangat Kebersamaan

    SMK PGRI Rogojampi Rayakan HARJABA ke-253 dengan Lomba Celatu Using, Nguri-nguri Budaya dan Semangat Kebersamaan

    Dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (HARJABA) yang ke-253, SMK PGRI Rogojampi mengadakan Classmeeting Lomba Celatu Using & Dongeng Using dan beberapa lomba ketangkasan.

    Classmeeting dilaksanakan mulai tanggal 16 – 18 Desember 2024 di kampus SMK PGRI Rogojampi Pusat Keunggulan yang diikuti oleh peserta didik kelas X-XI.

    Di hari sebelumnya, Sabtu tanggal 14 Desember 2024 ada kegiatan P5 untuk kelas XI, yaitu lomba paduan suara dengan lagu wajib Umbul-Umbul Blambangan dan lagu pilihan lagu Banyuwangi.

    Para peserta kompak serta mengenakan pakaian adat Banyuwangi melantunkan lagu Umbul-Umbul Blambangan dengan merdunya sebagai simbol semangat lare-lare Banyuwangi.

    Classmeeting dimulai hari Senin tanggal 16 Desember 2024 diawali dengan upacara pembukaan dilanjutkan lomba Celatu Using dari peserta kelas X-XI di Aula SMK PGRI Rogojampi.

    Pada lomba celatu perdana ini, sangat luar biasa antusias dari peserta yang mewakili kelas masing-masing dengan menggunakan pakaian adat khas Banyuwangi.

    Lomba Celatu Using dan dongeng Bahasa Using mengambil tema ‘Membangun Kebersamaan Diri Lestarikan Budaya Banyuwangi.’

    Seluruh peserta lomba celatu fasih dalam menggunakan dialog Using. Hal ini terlihat dari dialog yang dipakai selama lomba berlangsung.

    Dimana logat Using dari masing-masing daerah memiliki ciri khas yang berbeda. Sesekali peserta melontarkan wangsalan dan basanan (pantun Bahasa Using).

    Hadir dalam acara lomba celatu sebagai juri, yaitu Andi Budi Setiawan selaku Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPI WANGI) dan Eko Wahyudi (Cak Ndut Arweter) dari Komunitas Osing Pelestari Adat dan Tradisi (KOPAT).

    Pada tanggal 17 Desember 2024 kegiatan lomba dongeng Bahasa Osing yang diselingi dengan lomba-lomba ketangkasan siswa.

    Tepat di akhir kegiatan tanggal 18 Desember 2024 nanti, akan diadakan acara pentas seni dan pengumuman juara classmeeting.

    “Momen classmeeting kali ini kita manfaatkan untuk nguri-nguri bahasa osing lewat lomba celatu dan dongeng bahasa osing. Ini sebagai bentuk komitmen SMK PGRI Rogojampi dalam melestarikan budaya bahasa osing. Kalau tidak kita siapa lagi. Kalo tidak sekarang kapan lagi” jelas Qomaruzzaman (Gus Qomar) selaku ketua panitia.

  • MI Darun Najah II Banyuwangi, Madrasah dengan Segudang Prestasi di Bidang Literasi

    MI Darun Najah II Banyuwangi, Madrasah dengan Segudang Prestasi di Bidang Literasi

    MI Darun Najah II Banyuwangi merupakan salah satu madrasah dengan pencapaian terbaik dalam bidang literasi di Kabupaten Banyuwangi.

    Dengan berbagai prestasi yang diraih oleh para siswi, madrasah ini semakin memantapkan posisinya sebagai percontohan pendidikan literasi di sekolah.

    Sejumlah penghargaan berhasil diraih oleh para siswi MI Darun Najah 2, seperti juara lomba puisi, bercerita, dan pidato di tingkat kabupaten.

    Hal ini mencerminkan komitmen MI Darun Najah II Banyuwangi dalam membentuk generasi yang unggul di bidang literasi.

    Maulana Affandi, pemimpin redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi, berkunjung ke MI Darun Najah II pada Sabtu (14/12/2024).

    Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan Kepala Madrasah, Majidatul Himmah, S.Ag., untuk membahas berbagai program literasi yang telah diterapkan di madrasah ini.

    Affandi juga memberikan kenang-kenangan berupa buku terbitan Penerbit Lintang Banyuwangi sebagai dukungan atas semangat literasi yang digalakkan di sana.

    Keberhasilan MI Darun Najah 2 Banyuwangi di bidang literasi tidak terlepas dari berbagai program unggulan yang diterapkannya.

    Salah satu program unggulannya adalah Gerbang (Gemar Berbahasa Asing), inisiatif dari Kementerian Agama Banyuwangi.

    “Setiap hari Rabu, anak-anak berbahasa Inggris, mulai dari masuk gerbang hingga di kelas, untuk membiasakan mereka menggunakan bahasa Inggris,” ujar Kepala Madrasah.

    Selain itu, setiap siswi diwajibkan mengikuti ekstrakurikuler tahfiz Quran. Kepala Madrasah menyebut bahwa keberhasilan para siswi juga dipengaruhi oleh barokah dari membaca Al-Quran setiap hari.

    “Mungkin salah satu rahasia keberhasilan siswi adalah barokah dari Al-Quran. Dengan membaca dan menghafalnya, para siswi menjadi lebih disiplin dan cerdas,” tuturnya.

    Keberhasilan literasi di MI Darun Najah II juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, salah satunya Yayasan Lentera Sastra yang digawangi oleh Syafaat.

    Sebagai penggerak literasi di Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, Syafaat sering memberikan pelatihan kepada para siswi.

    Ia menekankan pentingnya literasi dalam membentuk generasi madrasah yang cerdas dan berwawasan luas.

    “Sudah dua buku yang diterbitkan oleh para siswi MI Darun Najah II. Dalam pelatihan, kami memberikan panduan sehari penuh, lalu anak-anak langsung menulis cerita berdasarkan pengalaman mereka,” ungkap Syafaat.

    Buku berjudul Petualangan Penaku adalah salah satu hasil kolaborasi antara MI Darun Najah 2 dan Yayasan Lentera Sastra.

    Buku ini memuat cerita-cerita dari para siswi yang mengangkat kehidupan mereka sehari-hari.

    Sementara itu, Aida Aristia Dewi, S.Pd., salah satu guru di MI Darun Najah II, juga turut berperan aktif dalam menggerakkan semangat literasi.

    Sebagai pegiat sastra dan pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris, ia kerap menggunakan puisi sebagai medium untuk meningkatkan minat siswi dalam membaca dan menulis.

    “Kami anggap puisi sebagai kegiatan literasi yang menyenangkan. Harapannya, ketika siswi mulai menyukai puisi, mereka akan gemar membaca,” jelas Aida.

    Selain mengajarkan puisi, Aida juga mendorong siswi untuk menulis karya-karya kreatif yang nantinya dapat diterbitkan sebagai buku.

    Komitmennya dalam bidang literasi menjadikannya salah satu figur penting di MI Darun Najah 2 Banyuwangi.

    Hal senada juga disampaikan oleh Bung Aguk, seorang budayawan dan pengajar puisi di MI Darun Najah II yang turut berkontribusi dalam memajukan literasi di madrasah.

    Ia menuturkan bahwa anak-anak yang mendalami ilmu agama cenderung lebih cerdas dan mampu memahami pelajaran dengan lebih baik.

    “Mereka yang mempelajari ilmu agama memiliki daya tangkap yang lebih tajam dalam memahami pelajaran,” terangnya, sembari mengenalkan salah satu murid berprestasi bernama Nayla.

    Hal ini menunjukkan sinergi antara pendidikan agama dan literasi dalam membentuk karakter para siswi MI Darun Najah 2.

    Dengan berbagai program unggulan, dukungan guru, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, MI Darun Najah II Banyuwangi terus menjadi inspirasi dalam dunia pendidikan.

    Madrasah ini tidak hanya mencetak generasi berprestasi di bidang literasi, tetapi juga generasi yang unggul dalam nilai-nilai agama.

  • Hasan Ali ‘Neko’ Nong Peluncuran Puisi Basa Using Suwidak Siji Karya Jaenuri NZ

    Hasan Ali ‘Neko’ Nong Peluncuran Puisi Basa Using Suwidak Siji Karya Jaenuri NZ

    Kumpulan 61 undharasa Using kanggo nyuguhaken sugihe budaya karya Drs. Ir. Jaenuri NZ, M.Pd Meluncur dino Ahad, 8 Desember 2024 ning LKP ambi TBM ELIT Lemahbang Dewo Rogojampi.

    Undharasa iki kanggo kado rabine hang diwelasi hang wis purnatugas dadi guru ring SMPN 2 Rogojampi setaun sabene: Dra. Yayuk Werdi Arini, MM hang umure 61 ambi kanggo kutha kelahiran hang wis ke-253 taun sakmarine Perang Puputan Bayu 18 Desember 1771.

    Buku Suwidak Siji (61) iki kumpulan ghurit hang ping 2 sakmarine taun sabene temane telulikur (23) mergo jumlah puisi 23 lan makna niat hajate.

    “Dongakno kesat terus nggawe puisi 99 Asmaul Husna dadi taun ngarep kene kumpul maning.Wis ana modal 23 puisi awal hang durung ISBN mung wis nyebar gratis nong 200 an SD/MI!” Jare penggowes onthel lan petani bonsai iki.

    Budayawan Aekanu Haryono seneng nyang kancane iku hang padha pinter Basa Inggris ambi miloni nerbitaken buku kanggo amal jariyah nyang generasi bangsa.

    “Selamat, prof Nuri spesial puisi bahasa dhaerah using hang saktemene kanggo tanah kelahiran!” Jare pendongeng wayang jajang hang seneng berudeng, kaos lukis gandrung ambi sarungan batik iki hang nyelipaken lagu nasional tepak cerita ring ngarepe lalare. Iyane uga siap sosialisasi karya bukune ring sekolah ambi sanggar sanggar seni.

    Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Drs. Hasan Basri tambah apresiasi seru nyang Kang Nuri hang melaku ring dalan hang bener ngeluri karyane nong dalan uripe hang endah nong keluarga, agama uga nulihi sak ubenge kauripan kuno nyang anak putu ambi generasi ring rejane jaman.

    “Kadhung gedigi isun iling ruwahe Hasan Ali hang sabar telaten muputi kosa kata hang suwi kependem!” jare guru agama SMPN 1 iki  ambi suaro mesesegen lan banyu moto ngoco.

    Acara hang diselingi maca puisi, pidato lan ngewer soko murid SMPN 3 Rogojampi hang prestasi nong Festival Sastra Using Dispendik iku, digongi sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufik Rohman, M.Si hang ngarep klendi karya sewidak siji iso gadhuk nong murid lan biso diakses ikawangi lewat e-book.Selamat lan kesuwun nambah nilai ana karya tulis hang langka iki!” jare wong Alas Malang Singojuruh iki ambi nompo buku bareng 45 undangan liyane.

    Undangan antara lain pencipta lagu,penyiar radio komunitas, wartawan, Youtuber Eko Ndut, seniman, pawang, guru, EO lan pegiat literasi.

    Marek gesah apresiasi soko hang hadir, penulis jawab,

    “Pastine buku terbitan Ide Bangsa Yogyakarta hang ISBN: 978-623-89159-6-5, sak durunge isun koreksi ambi kamus bahasa using Hasan Ali hang dadi cekelane mulok. Hang teka ulih buku  ambi madhang ngombe khas bumi belambangan.Hang hing teka monggo gandakno dewek.Hun papag tekan ndiko dulur lan bisa tahun ngarep lomba maca undharasa karya isun trophy souvenir ELIT Kiling Osing!” angene.

    Pemandu gesah Bung Aguk Darsono ugo pimpin dungo kirim Al Fatehah kanggo tuan rumah mugo kian samawa berkah keluargane lan ikhlase dulur kirim dungo kanggo arwahe Hasan Ali, Hasnan Singodimayan, AK Armaya, Andang CY, Bashir Nurdian, Sutejo Hadi, Sayun, Suoinah, Indra Gunawan lan pahlawan seniman budayawan Belambangan liyane: Al Fatehah!