Tag: literasi

  • Peluncuran Buku Puisi Suwidak Siji (61) Karya Drs. Ir Jaenuri, NZ, M.Pd, Bentuk Pelestarian Bahasa Using Jalur Literasi

    Peluncuran Buku Puisi Suwidak Siji (61) Karya Drs. Ir Jaenuri, NZ, M.Pd, Bentuk Pelestarian Bahasa Using Jalur Literasi

    sastrawacana.id/ – Acara peluncuran buku puisi Using berjudul Suwidak Siji (61) karya Drs. Ir Jaenuri, NZ, M.Pd berlangsung meriah di LKP TBM Elit, Rogojampi, Banyuwangi, pada Minggu (8/12/2024).

    Buku ini menjadi karya terbaru Jaenuri setelah buku sebelumnya yang berjudul Telu Likur (23), dengan tujuan untuk melestarikan budaya dan Bahasa Using.

    Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh literasi dan budayawan Banyuwangi, seperti Aekanu Hariyono (Ketua Kiling Using Banyuwangi), Taufik Rohman, M.Si (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi), Drs. Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan), Dr. Lidiawati, serta tokoh-tokoh lainnya.

    Selain itu, acara ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai komunitas literasi, seperti Kopiwangi, Penerbit Lintang, dan Media Literasi Sastrawacana.

    Dan tamu yang cukup spesial adalah IGB Sudharma, seorang veteran yang dalam waktu dekat juga akan meluncurkan buku berjudul ‘Memoar Sang Veteran.’

    Dalam sambutannya, Jaenuri menjelaskan alasan di balik pemilihan judul Suwidak Siji (61) yang terinspirasi dari angka 61.

    Ternyata, angka tersebut menggambarkan tahun kelahirannya dan usia istrinya yang tahun ini genap 61 tahun.

    Ia juga menyatakan bahwa buku ini dipersembahkan khusus untuk istrinya yang selalu mendukung setiap langkah yang diambilnya.

    “Buku ini saya persembahkan untuk istri, sebab istri saya mendukung apapun yang saya lakukan,” ujar Jaenuri dengan penuh haru.

    Acara yang dipandu oleh Bung Aguk, seorang pegiat literasi dan budayawan Banyuwangi, semakin meriah dengan penampilan pembacaan puisi yang memukau oleh Andre, murid SMP 3 Rogojampi, yang dilatih oleh Yeti Chotimah.

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Aekanu Hariyono, yang mengapresiasi terbitnya buku puisi Suwidak Siji (61).

    “Profesor Nuri, saya ucapkan selamat. Karya-karyanya luar biasa,” terangnya.

    Aekanu juga mengingatkan agar penulis tidak khawatir dengan kritik, karena sebetulnya kritik itu sifatnya membangun.

    Hasan Basri juga memberikan apresiasi terhadap karya Jaenuri dan menekankan pentingnya melestarikan Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi.

    “Saat ini sudah mulai terjadi fenomena alih kode dalam penggunaan bahasa using, sehingga hendaknya kita mengajarkan Bahasa Using kepada anak-anak kita,” terangnya.

    Acara ini semakin meriah dengan penampilan komedi using oleh Dudung yang membuat para peserta terpingkal-pingkal.

    Sebagai informasi, Suwidak Siji (61) adalah lanjutan dari buku puisi Telu Likur (23), yang bertujuan untuk menjaga kelestarian bahasa using.

    Diharapkan, Bahasa Using tetap eksis dan tidak terlupakan, terutama di kalangan generasi muda Banyuwangi.

  • Membanggakan, SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya Terbitkan Dua Buku Antologi Cerpen Siswa

    Membanggakan, SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya Terbitkan Dua Buku Antologi Cerpen Siswa

    SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya kembali mencetak sejarah baru di dunia pendidikan dengan meluncurkan dua buku antologi cerpen karya siswa kelas XI pada bulan November 2024.

    Buku-buku ini diberi judul Ada Apa di Balik Layar Ponselmu? dan Fragmen Masa Remaja SMA.

    Proyek literasi ini menunjukkan betapa sekolah tersebut tak hanya unggul dalam mencetak siswa-siswi berprestasi akademik, tetapi juga kreatif dan imajinatif.

    Karya tersebut lahir di bawah bimbingan penuh dedikasi dari dua guru inspiratif, Ainul Latifah, S.Pd., dan Dhimas Asih Kusuma Persadha, M.Pd.

    Dengan bimbingan pada pendidik, siswa-siswi mampu mengekspresikan ide-ide mereka melalui tulisan.

    Hasilnya, puluhan cerita pendek yang mengisahkan kehidupan sehari-hari, cinta, hingga cita-cita berhasil dirangkum menjadi dua buku yang menggambarkan realitas masa muda dengan penuh warna.

    Ada Apa di Balik Layar Ponselmu? menggali cerita-cerita yang terinspirasi dari dinamika kehidupan digital siswa.

    Mulai dari perjuangan menemukan jati diri di tengah hiruk-pikuk media sosial hingga kisah persahabatan yang diuji oleh teknologi.

    Buku ini menyentuh tema yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini.

    Sementara itu, Fragmen Masa Remaja SMA membawa pembaca menyelami berbagai perasaan, tantangan, dan keindahan masa SMA.

    Dari kisah cinta pertama yang penuh gejolak hingga perjuangan menggapai cita-cita di tengah keterbatasan, buku ini menawarkan beragam cerita yang memotret kehidupan remaja dengan jujur dan menyentuh hati.

    Kedua buku ini menjadi bukti bahwa siswa SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya tidak hanya mampu berprestasi di bidang akademik, tetapi juga memiliki kemampuan literasi yang luar biasa.

    Hal ini tidak lepas dari peran para pembimbing yang mendorong siswa untuk menyalurkan ide-ide mereka dengan cara yang positif.

    Setiap tahunnya, pihak sekolah selalu berusaha mengajak siswa untuk berkarya dan mengabadikan hasilnya dalam bentuk buku sebagai salah satu langkah konkret untuk membangun budaya literasi di sekolah kami.

    Kepala sekolah, Elis Santi, M.Pd., memberikan dukungan penuh terhadap proyek literasi ini.

    Dalam Kata Pengantar di kedua buku tersebut, ia mengungkapkan kebanggaannya terhadap para siswa dan guru yang terlibat.

    “Terbitnya buku ini bukan hanya pembuktian bahwa SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya mampu mencetak generasi cerdas, tetapi juga kreatif dan penuh imajinasi,” tulis Elis.

    Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Banyuwangi, Ahmad Jaenuri, S.Pd., M.Pd., turut mengapresiasi lahirnya karya dari siswa-siswi SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya.

    Dalam Kata Pengantar, Ahmad Jaenuri berharap jika karya tersebut bisa menjadi pemantik untuk terus menggali potensi diri yang terpendam.

    Menurutnya, setiap individu memiliki keunikan dan bakat yang berbeda-beda, sehingga langkah yang diambil oleh SMAN 1 Rogojampi sangat tepat.

    “Semoga kumpulan cerpen ini dapat menjadi pemantik bagi kalian untuk terus menggali potensi diri yang terpendam,” tulisnya.

    Dhimas Asih Kusuma Persadha, M.Pd, salah satu guru pembimbing mengungkapkan rasa bangga terhadap anak didiknya.

    Ia berharap kreativitas yang telah terasah ini dapat terus berkembang, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di kehidupan sehari-hari karena setiap kata dapat mengubah dunia.

    “Setiap kata memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Gunakan pena kalian untuk menginspirasi,” harap Dhimas.

    Sementara itu, Ainul Latifah, S.Pd., menambahkan bahwa proses menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga mengenali diri sendiri.

    Ia percaya bahwa menulis dapat menjadi alat untuk merefleksikan perasaan dan pengalaman hidup.

    “Menulis bukan hanya sekadar menuangkan kata-kata di atas kertas, tetapi juga sebuah perjalanan untuk mengenali diri sendiri dan dunia sekitar kita,” kata Ainul.

    Proyek literasi ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas siswa, tetapi juga langkah besar dalam upaya meningkatkan budaya literasi di SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya.

    Dengan adanya karya-karya seperti ini, sekolah berharap dapat memberikan inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan mereka.

    Keberhasilan ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang cara menyampaikan ide dan gagasan kepada dunia.

    SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi pelopor dalam bidang ini.

    Sebagai institusi pendidikan, sekolah ini berkomitmen untuk terus memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi.

    Dengan dukungan guru-guru yang berdedikasi dan kepala sekolah yang visioner, tidak diragukan lagi bahwa SMAN 1 Rogojampi akan terus mencetak generasi yang cerdas, kreatif, dan berprestasi.

    Penulis: Maulana Affandi

  • Rumah Literasi Indonesia, Pusat Inspirasi dan Edukasi untuk Masyarakat Banyuwangi

    Rumah Literasi Indonesia, Pusat Inspirasi dan Edukasi untuk Masyarakat Banyuwangi

    Rumah Literasi Indonesia yang terletak di Ketapang, Banyuwangi adalah pusat edukasi dan literasi bagi anak-anak dan remaja.

    Tidak hanya menyediakan berbagai koleksi buku bacaan, tetapi juga menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif.

    Konsep yang diusung oleh sang penggagas, Tunggul Harwanto berhasil menarik perhatian berbagai pihak untuk berkolaborasi, termasuk lembaga internasional seperti UNICEF dan USAID hingga sejumlah perusahaan dalam negeri.

    Sebagai informasi, Tunggul Harwanto yang merupakan sosok di balik Rumah Literasi Indonesia memiliki latar belakang pendidikan yang menarik.

    Alumni SMAN 1 Jembrana, Bali ini melanjutkan pendidikannya di bidang keperawatan di STIKES Banyuwangi, lalu meraih gelar S2 di bidang Kedokteran Keluarga di sebuah perguruan tinggi negeri di Solo.

    Tunggul pernah menjadi dosen di Universitas Bhakti Indonesia Banyuwangi jurusan Keperawatan, namun ia memutuskan berhenti mengajar untuk fokus mengembangkan dunia literasi.

    Baginya, dunia literasi lebih dari sekadar menyediakan akses buku, tapi bentuk perjuangan untuk membuka wawasan dan masa depan generasi muda.

    “Rumah Literasi Indonesia ini adalah upaya kami untuk memberikan kesempatan bagi setiap anak dan remaja di pelosok daerah agar memiliki akses terhadap buku dan ilmu pengetahuan,” jelas Tunggul.

    Ia berharap Rumah Literasi Indonesia dapat membantu mengatasi kesenjangan dalam akses literasi, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

    Program Kegiatan di Rumah Literasi Indonesia

    Rumah Literasi Indonesia menjalankan beberapa program inovatif yang dirancang untuk menjangkau masyarakat luas.

    Program unggulannya adalah Gerakan 1000 Rumah Baca, sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat mendirikan rumah baca berbasis komunitas di berbagai daerah.

    Gerakan ini dilandasi oleh visi bahwa keluarga memainkan peran penting dalam mendidik generasi muda.

    Dengan adanya 1000 rumah baca di seluruh pelosok negeri, anak-anak di daerah terpencil akan memiliki akses buku dan kegiatan literasi yang dapat membantu mengembangkan kemampuan mereka.

    Selain itu, Tunggul dan timnya juga aktif melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah di daerah terpencil.

    Melalui kegiatan ini, mereka mengajak siswa untuk bermimpi besar dan menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di kota.

    Cara ini dianggap lebih proaktif dan berfokus pada “menjemput bola” sehingga para siswa merasa lebih dekat dengan dunia literasi.

    Tunggul dan relawan juga mengemas kunjungan ini dengan aktivitas kreatif dan inspiratif untuk membangun cita-cita dan imajinasi anak-anak.

    Kemudian, Rumah Literasi Indonesia juga menjalankan program Wisata Literasi yang unik.

    Program ini menggabungkan unsur pendidikan dengan kegiatan wisata yang menarik, sehingga cocok untuk semua usia, mulai dari pelajar hingga profesional.

    Para pengunjung dapat ikut serta dalam berbagai kegiatan, seperti pengumpulan sampah organik yang kemudian dapat ditukar dengan uang, hingga belajar tentang budidaya lobster dan maggot.

    Pengalaman wisata ini mengajarkan nilai keberlanjutan dan memberikan kesadaran lingkungan bagi para pengunjung.

    SocioPreneur dan Ekonomi Mandiri

    Untuk mendukung keberlangsungan Rumah Literasi, Tunggul menerapkan konsep socio-preneur di mana Rumah Literasi yang berfungsi sebagai ruang belajar dan juga sirkulasi ekonomi mandiri.

    Konsep ini memberi kesempatan kepada para relawan muda untuk mengembangkan bisnis yang berfokus pada penyelesaian masalah sosial, seperti kesehatan masyarakat, pendidikan, dan lingkungan.

    Program ini diharapkan tidak hanya membantu perekonomian komunitas sekitar, tetapi juga melatih para relawan muda dalam mengelola bisnis berkelanjutan dengan tujuan sosial.

    Berkat konsep socio-preneur yang diterapkan, Rumah Literasi Indonesia kini menarik berbagai pihak untuk berkolaborasi.

    Sejumlah lembaga, seperti UNICEF, Alibaba, Gramedia, ASDP, BUMN, dan Rotary International telah bekerja sama dengan Rumah Literasi Indonesia dalam mendukung program-program edukasi.

    Dukungan dari Para Relawan dan Apresiasi Masyarakat

    Setiap harinya, Rumah Literasi Indonesia dikunjungi oleh berbagai tamu, mulai dari perorangan, lembaga, hingga perusahaan yang tertarik untuk berkontribusi.

    Saat ini, lebih dari 500 relawan terlibat aktif dalam mendukung kegiatan di Rumah Literasi.

    Kehadiran para relawan ini menjadi bukti bahwa semangat literasi telah menyebar dan mengakar kuat di masyarakat.

    Bung Aguk, seorang aktivis sosial dan pegiat literasi yang pernah mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara mengapresiasi Rumah Literasi Indonesia.

    “Apa yang dilakukan Rumah Literasi Indonesia ini adalah contoh nyata bagaimana literasi bisa menyentuh dan memberdayakan masyarakat, bukan hanya sebagai sarana membaca, tetapi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masa depan generasi muda,” ungkapnya.

    Bagi Bung Aguk, program ini bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan gerakan besar yang sangat berarti dalam pembangunan masyarakat.

    Harapan di Masa Depan

    Tunggul berharap Rumah Literasi Indonesia bisa terus mengembangkan sayap dan menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.

    Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak, ia optimis Rumah Literasi bisa menjadi contoh model literasi yang berkelanjutan.

    Baginya, Rumah Literasi Indonesia adalah upaya untuk memberikan setiap anak kesempatan yang sama untuk meraih ilmu pengetahuan.

    “Rumah Literasi Indonesia hadir bukan hanya untuk memberikan buku, tetapi untuk menginspirasi dan membentuk generasi yang berdaya,” tegas Tunggul.

    Ia berharap, apa yang mereka lakukan di Rumah Literasi Indonesia bisa memicu munculnya lebih banyak gerakan literasi di berbagai daerah, terutama di pelosok negeri. (MA)

  • Mengenang Pahlawan dan Menghidupkan Literasi, KOPIWANGI Gelar Lomba Menulis Puisi

    Mengenang Pahlawan dan Menghidupkan Literasi, KOPIWANGI Gelar Lomba Menulis Puisi

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, KOPIWANGI mengadakan lomba menulis puisi bertema pahlawan nasional khusus untuk para anggota komunitasnya pada Minggu, 10 November 2024.

    Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi dan penghormatan kepada jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

    Lomba ini juga merupakan salah satu bentuk nyata program KOPIWANGI dalam mendukung event literasi bagi anggota komunitasnya.

    Tujuan dari program ini adalah memberikan wadah kepada anggota yang memiliki minat dan bakat dalam menulis puisi, sekaligus mendorong semangat literasi di kalangan komunitas.

    Lomba diselenggarakan secara daring, di mana peserta memposting hasil karya puisinya dalam bentuk JPEG atau PNG yang telah dibuat sebelumnya melalui aplikasi Canva.

    Peserta kemudian mengunggahnya ke akun Instagram masing-masing dengan menambahkan caption: “Lomba Menulis Puisi Pahlawan Nasional” dan menandai akun IG komunitas, yaitu @komunitas_kopiwangi.

    Penilaian lomba ini berdasarkan jumlah like dan komentar terbanyak pada puisi yang diunggah.

    Satu karya terbaik dipilih untuk menerima hadiah berupa Buku Antologi Puisi berjudul “Lentera Di Pengujung Asa – Pendidikan Yang Memerdekakan” yang ditulis oleh anggota KOPIWANGI, serta sejumlah uang pembinaan.

    Lomba berlangsung dari tanggal 10 hingga 12 November 2024, dengan batas waktu penilaian hingga pukul 18.00 WIB. Pemenang lomba diumumkan pada 12 November 2024 pukul 20.00 WIB.

    Antusiasme peserta dalam mengikuti lomba sangat tinggi, terbukti dari keikutsertaan berbagai kalangan, mulai dari guru, pegiat literasi, hingga kepala sekolah.

    Namun, karena waktu penyelenggaraan lomba yang singkat, beberapa anggota komunitas tidak dapat ikut serta akibat kesibukan dan keterbatasan waktu, sehingga menyayangkan ketidakhadiran mereka dalam lomba ini.

    Pemenang lomba diraih oleh Rohmaniyah, S.Pd.Gr dengan puisinya yang berjudul “Ode Untuk Kartini.”

    Puisi Rohmaniyah
    Puisi Rohmaniyah

    Puisinya berhasil mendapatkan puluhan like dan komentar, menunjukkan betapa puisinya diminati dan diapresiasi oleh para pembaca.

    Pengumuman pemenang ini kemudian dibagikan di grup komunitas KOPIWANGI.

    KOPIWANGI terus berkomitmen melaksanakan program-program literasi yang bermanfaat

    Beberapa program yang sudah berjalan di antaranya lomba menulis puisi, lomba baca puisi dan bercerita, lomba menulis esai, serta seminar kesehatan mental.

    “Itu merupakan bentuk komitmen bersama dalam memajukan literasi di Banyuwangi. Harapannya ke depan KOPIWANGI semakin eksis dan konsisten memberikan budaya positif di bidang literasi”, ujar Andi BS, ketua KOPIWANGI.

  • Lomba Puisi Meriahkan Dies Natalis ke-41 SMP Negeri 1 Glenmore dengan Semangat Literasi dan Kreativitas Siswa

    Lomba Puisi Meriahkan Dies Natalis ke-41 SMP Negeri 1 Glenmore dengan Semangat Literasi dan Kreativitas Siswa

    Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-41, SMP Negeri 1 Glenmore menggelar berbagai acara lomba yang dapat diikuti oleh peserta didik mulai dari jenjang SD/MI hingga SMP.

    Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, mulai tanggal 4 hingga 9 November 2024, dengan mengusung tema SPENSANIA dan tagline ‘Tunjukkan Aksimu, Raih Prestasimu’.

    Lomba yang diselenggarakan memiliki berbagai kategori, baik individu maupun kelompok.

    Beberapa jenis lomba yang diadakan antara lain Market Day, Pantomim, Puisi, E-Sport, Clash of Champions, Run 5Km, Pioneering, Hadang, dan Futsal.

    Puncak acara SPENSANIA akan berlangsung pada 9 November 2024.

    Di sela-sela kegiatan tersebut, peserta didik SMP Negeri 1 Glenmore juga membuka bazar dan pameran produk yang menampilkan berbagai macam hasil karya siswa, mulai dari makanan dan minuman hingga produk-produk kreatif lainnya.

    Terdapat berbagai stand yang menyuguhkan jajanan tradisional yang dikemas secara modern, serta minuman kekinian yang patut untuk dicicipi.

    Semua produk yang dipamerkan merupakan hasil karya peserta didik SMP Negeri 1 Glenmore.

    Menurut Joko Sugiharto, S.Pd., Kepala SMP Negeri 1 Glenmore, Dies Natalis ini merupakan kegiatan tahunan yang rutin diselenggarakan.

    Tujuan dari lomba-lomba ini adalah untuk menumbuhkan semangat dan sportifitas di kalangan peserta didik.

    Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk melatih jiwa kewirausahaan para siswa, agar kelak mereka dapat menjadi entrepreneur yang sukses.

    Dalam bazar, para peserta didik diajarkan mulai dari perencanaan, promosi produk, proses produksi, hingga penjualan produk.

    Pada hari Kamis (7/11), juga diadakan lomba Baca Puisi tingkat SD/MI sederajat yang diikuti oleh peserta didik dari beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi.

    Lomba ini dilanjutkan dengan lomba Baca Puisi tingkat SMP.

    Peni Lestari, S.Pd., selaku Koordinator Lomba Baca Puisi, mengatakan, “Event ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi peserta didik yang memiliki bakat dan minat di bidang sastra, khususnya dalam membaca puisi.”

    Hal ini merupakan bagian dari komitmen SMP Negeri 1 Glenmore untuk meningkatkan literasi serta memperkuat penguasaan bahasa dan sastra di kalangan peserta didik.

    Peserta lomba Baca Puisi menunjukkan antusiasme yang luar biasa dalam membacakan puisi-puisi mereka.

    Kriteria penilaian lomba ini mencakup penghayatan, ekspresi, vokal, dan totalitas dalam membawakan puisi.

    Para peserta membawakan puisi dengan semangat dan ekspresi yang mendalam, sehingga mampu memukau penonton.

    Dewan juri lomba Baca Puisi terdiri dari Andi Budi Setiawan, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Samsuri, anggota Komunitas Paras Blambangan sekaligus purna guru SMP Negeri 1 Glenmore, dan Akira Luhaning Walaranti, guru bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Glenmore.

    Karena banyaknya penampilan peserta yang luar biasa hebat, dewan juri mengaku kesulitan dalam menentukan siapa yang pantas keluar sebagai juara.

    Pada akhir kegiatan, tepatnya pada 9 November 2024, akan diumumkan para pemenang dari masing-masing lomba.

    Pemberian hadiah akan dilakukan dengan mengundang peserta lomba beserta para pembimbing untuk hadir dalam acara tersebut.

    Kegiatan ini akan ditutup dengan penampilan ekstrakurikuler dari SMP Negeri 1 Glenmore sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh peserta dan sebagai ajang promosi kepada masyarakat umum, khususnya SD/MI yang ada di wilayah Kecamatan Glenmore.

  • Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Siswa ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi tampil menawan dalam acara peringatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45, Asosiasi Usaha Mikro Kecil Koperasi Sinergi Gotong Royong 45 (Asosiasi UMKK Segoro 45), Sanggar Merah Putih 45, dan Jaringan Radio Komunitas dan Broadcast Banyuwangi (JRKBB).

    Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 3 November 2024 di Masjid Al Hilal 2 ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menghargai sejarah bangsa.

    Dalam penampilannya, enam siswa ekskul teater yang didampingi oleh Rifkian Kurniawan selaku guru menyuguhkan teatrikal puisi berjudul “Merdekaku Merdekamu”.

    Terbilang sukses, mereka berhasil menggambarkan bagaimana perjuangan para pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

    Melalui ekspresi dan penjiwaan yang mendalam, penampilan mereka tidak hanya memukau, tetapi juga berhasil mengharukan hati seluruh penonton yang hadir, bahkan tak sedikit yang mengurai air mata.

    Teatrikal puisi yang diperagakan oleh enam siswa tersebut juga menjadi pengingat bagi generasi muda yang saat ini sering terlena dengan dunia maya, sehingga cenderung melupakan sejarah bangsanya.

    Dengan iringan lagu “Tanah Airku”, suasana semakin terbangun, menghipnotis penonton dan membangkitkan semangat nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda.

    Budayawan dan praktisi teater kawakan, Bung Aguk, memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan siswa SMK Muhammadiyah 6.

    Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dan penting untuk mengingatkan generasi muda akan sejarah bangsanya.

    Bung Aguk juga memuji kemampuan akting dan penjiwaan siswa yang mampu menarik perhatian serta emosi penonton.

    “Penjiwaannya dapat, penampilan kalian bisa membuat penonton hanyut ke dalam cerita pencipta literasinya,” paparnya.

    Selain itu, Bung Aguk juga menuturkan bahwa penampilan dari para siswa SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi berhasil menggugah rasa nasionalisme yang saat ini mulai memudar di kalangan remaja.

    “Penampilan ini mampu menggugah rasa nasionalisme yang mungkin mulai memudar di kalangan anak muda,” terang Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang saat ini aktif melatih literasi dan dolanan teater di berbagai sekolah, sekaligus baru saja mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara.

    Sementara itu, sutradara sekaligus pelatih ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi, Maulana Affandi menyatakan rasa bangga atas pencapaian anak didiknya.

    Ia berharap agar para siswa tidak hanya berperan di atas panggung, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

    “Harapan saya adalah anak-anak ini tidak hanya menjadi pemeran yang baik di atas panggung, tetapi juga bisa menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus menyadari bahwa seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan moral,” ujarnya.

    Sebagai informasi tambahan, SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi dikenal memiliki prestasi yang membanggakan di bidang teater.

    Sekolah ini pernah meraih juara 1 dalam lomba Porfesi pada tahun 2023 tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Banyuwangi.

    Prestasi tersebut menunjukkan bakat siswa dalam seni peran serta dukungan dari pihak sekolah untuk menumbuhkan potensi yang dimiliki oleh siswa.

    Saat ini, SMK Muhammadiyah 6 juga sedang fokus pada peningkatan bakat dan minat siswa dalam bidang seni dan literasi melalui berbagai program yang dirancang untuk menggali potensi siswa.

  • Olimpiade Literasi KOPIWANGI 2024 Sukses Digelar, Antusias Pelajar Banyuwangi pada Literasi Kian Meningkat

    Olimpiade Literasi KOPIWANGI 2024 Sukses Digelar, Antusias Pelajar Banyuwangi pada Literasi Kian Meningkat

    Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia, Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) menggelar Olimpiade Literasi Baca Puisi dan Bercerita, Minggu (27/10/2024).

    Event ini menjadi ajang istimewa bagi para pelajar untuk mengeksplorasi kemampuan literasi dalam atmosfer yang penuh semangat dan apresiasi terhadap karya sastra.

    Program Olimpiade ini adalah implementasi dari salah satu program unggulan KOPIWANGI yang bertujuan mengembangkan keterampilan literasi bagi anggotanya maupun peserta didik di seluruh Banyuwangi.

    KOPIWANGI sebagai komunitas literasi terus mengedepankan tiga program utama, antara lain:

    1. Pelatihan, pendampingan sampai penerbitan karya untuk anggota KOPIWANGI maupun peserta didik.

    2. Mengadakan event literasi baik via daring atau pun luring diantaranya lomba cipta puisi, lomba menulis esai, lomba baca puisi, bercerita sampai menulis buku bersama.

    3. Program pemberdayaan untuk anggota KOPIWANGI maupun peserta didik.

    Olimpiade Baca Puisi dan Bercerita ini merupakan bagian dari program literasi KOPIWANGI yang kedua, yakni penyelenggaraan berbagai kompetisi literasi.

    Ratusan Peserta Antusias dari Berbagai Sekolah

    Olimpiade Literasi ini diikuti oleh 123 peserta dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA di Banyuwangi.

    Dalam kategori lomba Baca Puisi, tercatat 91 peserta dengan rincian 42 dari SD/MI, 33 dari SMP/MTs, dan 16 dari SMA/SMK/MA.

    Sedangkan lomba Bercerita diikuti oleh 32 peserta yang terdiri dari 14 peserta SD/MI, 9 peserta SMP/MTs, dan 9 peserta SMA/SMK/MA.

    Setiap kategori mempertandingkan kemampuan peserta dalam menyampaikan makna puisi dan cerita dengan ekspresi dan emosi yang kuat.

    Ajang ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi pelajar untuk mengasah bakat dalam bidang literasi sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sastra Indonesia.

    Adapun dewa juri yang terlibat dalam Olimpiade Literasi Baca Puisi & Bercerita diantaranya H. Abdullah Fauzi penulis sastra asal Banyuwangi, Maulana Affandi direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus pimred dari media sastrawacana.id/ dan Tawangalun.com, dan kak Putri Nurul Azizah yang merupakan penulis Balai Besar Bahasa Provinsi Jawa Timur.

    Daftar Pemenang Olimpiade Literasi Baca Puisi dan Bercerita

    Berikut adalah daftar para juara dalam masing-masing kategori:

    Lomba Baca Puisi Jenjang SD/MI

    Juara 1: Sakura Nohana P

    Juara 2: RR Qyara Arkana P

    Juara 3: Avilla Fikratus P.Y

    Juara Harapan 1: Syifa Aulia

    Juara Harapan 2: Atika Zahra R

    Juara Harapan 3: Daffa Adiba Y

    Lomba Baca Puisi Jenjang SMP/MTs

    Juara 1: Sirojun Nawafil

    Juara 2: Sofhiatur Rizkia P

    Juara 3: Andri Maulana

    Juara Harapan 1: Ilham

    Juara Harapan 2: Rafa Tabina P

    Juara Harapan 3: Isma Ayu Arifin

    Lomba Baca Puisi Jenjang SMA/SMK/MA

    Juara 1: Ana Hurin M J

    Juara 2: Dewi Puspita

    Juara 3: Queen Fatimatus Zahra

    Juara Harapan 1: Novi Fitriatul M

    Juara Harapan 2: M. Rizky Yulleo

    Juara Harapan 3: Akmal Deban

    Lomba Bercerita Jenjang SD/MI

    Juara 1: Avila Fikratus Putri Y

    Juara 2: Muhammad Hafis Mahardika

    Juara 3: Alya Ayu Putri Sasaki

    Juara Harapan 1: Jophian Abid Aqila Pranaja

    Juara Harapan 2: Atika Zahra Ratifa

    Juara Harapan 3: Marsya Adelia Vanda

    Lomba Bercerita Jenjang SMP/MTs

    Juara 1: Siska Anindita

    Juara 2: Hudansyah Ahmad Madhani

    Juara 3: Friska Bahtiar R

    Juara Harapan 1: Melan Agustian Ramadhani

    Juara Harapan 2: Ivana Prita Nabila

    Juara Harapan 3: Dina Ayudyah Putri Wahyudi

    Lomba Bercerita Jenjang SMA/SMK/MA

    Juara 1: Nur Alyuni Citra

    Juara 2: Gita Maharani

    Juara 3: Virdiana Agustina

    Juara Harapan 1: Irma Wildani Silvia

    Juara Harapan 2: Mareta Maulida Putri

    Juara Harapan 3: Risma Nur Aini Reza

    Kehadiran Maestro Sastra D. Zawawi Imron

    D. Zawawi Imron di Olimpiadi Literasi KOPIWANGI
    D. Zawawi Imron di Olimpiadi Literasi KOPIWANGI

    Momen istimewa dalam Olimpiade Literasi ini adalah hadirnya maestro sastra nasional, D. Zawawi Imron, yang dikenal dengan julukan “Celurit Emas”.

    Meskipun memiliki agenda padat di Banyuwangi, D. Zawawi menyempatkan hadir untuk memberikan motivasi kepada peserta olimpiade.

    Dengan senyum penuh ketulusan, beliau duduk bersama para peserta dan guru pendamping, menyampaikan nasihat dan inspirasi bagi generasi muda yang memiliki minat di dunia literasi.

    Sebagai bentuk penghargaan dan kecintaannya terhadap literasi, D. Zawawi juga membacakan puisi berjudul “Ibu”, yang menggetarkan hati dan membuat para hadirin terpukau.

    Dalam suasana yang penuh kehangatan, beliau mengakhiri sesi dengan sebuah pantun perpisahan yang disambut tepuk tangan meriah dari para peserta dan guru.

    Olimpiade Literasi sebagai Agenda Tahunan

    Selain menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan minat baca puisi dan bercerita, olimpiade ini juga bertujuan untuk mempererat komunitas literasi di Banyuwangi.

    Dengan dukungan dari berbagai pihak, KOPIWANGI berharap Olimpiade Literasi ini dapat diselenggarakan setiap tahun sebagai agenda rutin.

    Hal ini diharapkan akan menjadi langkah nyata dalam memperkuat budaya literasi, serta memberikan kesempatan bagi anggota komunitas literasi untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

  • Penyair Goes to School di MTsN 10 Banyuwangi Hidupkan Semangat Sastra di Hati Pelajar

    Penyair Goes to School di MTsN 10 Banyuwangi Hidupkan Semangat Sastra di Hati Pelajar

    Kegiatan Penyair Goes to School dalam rangka Jambore Sastra Asia Tenggara berlangsung meriah di Aula MTsN 10 Banyuwangi pada Jumat, 25 Oktober 2024.

    Acara ini mengundang perhatian banyak pihak, khususnya para siswa yang hadir dengan antusias.

    Dua narasumber utama yang turut hadir dan berbagi ilmu dalam acara tersebut adalah Siswanto, S.Pd., M.A., dan Aekanu Haryono.

    Sebagai informasi, Siswanto, S.Pd., M.A., adalah seorang penyair asal Sumenep yang kini juga mengajar di Universitas Jember.

    Sementara Aekanu Haryono adalah Ketua Komunitas Killing Osing Banyuwangi serta anggota Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Belambangan.

    Dalam kesempatan ini, Siswanto memberikan materi tentang teknik menulis sastra.

    Dengan gaya penyampaian yang inspiratif, ia mengajak para siswa untuk lebih mendalami dunia kepenulisan sastra, baik dari segi kreativitas maupun teknik.

    Siswanto menyampaikan berbagai tips penting tentang bagaimana memulai dan mengembangkan karya sastra yang berkualitas.

    “Saya kagum dengan kecepatan siswa MTsN 10 Banyuwangi dalam menyerap teknik menulis puisi yang berakar pada kearifan lokal Banyuwangi. Siswa di sini mumpuni dalam keterampilan menulisnya, dan kami terkejut dengan kualitas puisi-puisi yang mereka sajikan. Potensi ini harus terus dijaga dan dikembangkan agar semakin baik,” ungkap Siswanto, yang merupakan alumni FKIP Universitas Jember dan Universitas Gadjah Mada.

    Di sisi lain, Aekanu Haryono, seorang pemandu wisata terkenal di Banyuwangi, berbagi wawasan mengenai pentingnya sastra dan budaya lokal dalam membentuk identitas bangsa.

    Karya-karya Aekanu, seperti bukunya yang berjudul Sri Tanjung Hidup Lagi, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, menandakan tingginya apresiasi terhadap sastra lokal di tingkat internasional.

    Aekanu menekankan bahwa menulis karya sastra yang berakar pada tradisi dan kearifan lokal adalah cara untuk menjaga identitas budaya bangsa.

    Kepala MTsN 10 Banyuwangi, Sugeng Maryono, S.Pd., M.M., menyampaikan rasa terima kasih kepada para penyair dan pihak penyelenggara.

    “Kami sangat berterima kasih, MTsN 10 Banyuwangi terpilih menjadi salah satu lokasi kegiatan Penyair Goes to School. Semoga kegiatan ini memberikan motivasi dan inspirasi bagi anak-anak untuk mengenal lebih dalam dunia sastra dan menulis,” ungkapnya.

    Para siswa sangat antusias dengan kesempatan berdialog langsung bersama kedua penyair tersebut.

    Acara ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk semakin mencintai sastra, baik sebagai wujud kebudayaan maupun sebagai sarana pengembangan diri.

    Sebagai tuan rumah, MTsN 10 Banyuwangi menampilkan berbagai pertunjukan seni sebagai bentuk penyambutan, termasuk tari, pembacaan puisi, dan Lomba Keterampilan Baris-Berbaris (LKBB) yang sebelumnya meraih juara dalam kegiatan Dispora dan Radar Banyuwangi.

    Setelah acara, para tamu diajak menikmati hidangan ikan bakar di pantai Blimbingsari.

    Salah satu narasumber, yang kerap mengantar misi seni budaya Banyuwangi ke seluruh Nusantara dan mancanegara, menyatakan kekagumannya.

    “Kami ini tukang potret, tapi karena terpukau dan menikmati penyambutan dari warga pendidikan MTsN 10, kami bahkan lupa mengambil gambar, apalagi video!” ujarnya.

    Acara Penyair Goes to School ini tidak hanya memberikan pengalaman berharga bagi para siswa, tetapi juga mempererat hubungan antara pelajar, seniman, dan masyarakat yang peduli pada kemajuan sastra di Banyuwangi.

  • Podcast Dzarra Ungkap Rahasia Menjadi Penulis Bersama Andi Budi Setiawan

    Podcast Dzarra Ungkap Rahasia Menjadi Penulis Bersama Andi Budi Setiawan

    Podcast Dzarra yang semakin dikenal publik kembali hadir dengan episode terbarunya yang mengangkat tema menarik, “Bongkar Rahasia untuk Jadi Penulis.”

    Episode spesial ini mengundang penulis asli Banyuwangi, Andi Budi Setiawan, S.Pd., yang dikenal dengan nama pena Penapanuluh, untuk berbagi pengalaman dan rahasia sukses di dunia kepenulisan.

    Disiarkan pada Jumat, 25 Oktober 2024, acara ini dipandu oleh pembawa acara kondang, Heri Iskandar alias Kang Dzaka yang membawa suasana podcast menjadi penuh inspirasi dan kehangatan.

    Kang Dzaka membuka acara dengan antusiasme tinggi, memperkenalkan sosok Andi yang telah lama berkecimpung di dunia literasi.

    Ia melontarkan beragam pertanyaan untuk menggali lebih dalam perjalanan Andi hingga menjadi seorang penulis yang produktif.

    Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah bagaimana cara seseorang dapat menjadi penulis serta memiliki karya yang orisinal.

    Menanggapi pertanyaan ini, Andi menyampaikan bahwa menulis bukanlah aktivitas yang bisa dipaksakan.

    “Menulis adalah bagian dari intuisi dan naluri kreatif yang muncul melalui intuisi. Ketika hati dan pikiran selaras, inspirasi datang begitu saja,” ujar Andi.

    Dalam podcast tersebut, Andi juga berbagi kisah bahwa ketertarikannya pada dunia literasi sudah tumbuh sejak kecil

    Menceritakan pengalamannya, Andi mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap buku dan tulisan semakin tumbuh seiring berjalannya waktu.

    “Sejak kecil, saya sudah tertarik pada dunia kata-kata. Dari membaca buku hingga menulis puisi, saya merasa menemukan diri saya di dalamnya,” ungkapnya.

    Kang Dzaka tidak berhenti hanya pada tanya jawab seputar kepenulisan. Di tengah acara, ia memberikan tantangan kepada Andi untuk membacakan salah satu puisi dalam buku terbarunya yang berjudul Eunoia Sangkakala.

    Dengan penuh penghayatan, Andi menerima tantangan tersebut dan membacakan sebuah puisi yang menggambarkan makna mendalam tentang kehidupan.

    Suara Andi yang lantang dan berirama mampu membuat suasana podcast semakin hidup, membangkitkan semangat para pendengar untuk lebih mendalami karya-karya lokal yang penuh nilai.

    Namun, tidak berhenti sampai di situ, giliran Andi yang balik menantang sang pembawa acara.

    Mengetahui bahwa Kang Dzaka adalah seorang pencipta lagu sekaligus penyanyi, Andi meminta Kang Dzaka untuk menyanyikan sebuah lagu secara langsung di hadapan para pendengar.

    Tanpa ragu, Kang Dzaka menyambut tantangan tersebut dan membawakan sebuah lagu ciptaannya, menambah keseruan dan variasi dalam episode ini.

    Podcast Dzarra kali ini tidak hanya memberikan wawasan bagi para penulis pemula tetapi juga menyuguhkan hiburan yang menarik bagi semua kalangan.

    Kesuksesan episode ini membuktikan bahwa dengan pembawaan yang hangat serta interaksi yang inspiratif, podcast dapat menjadi medium yang efektif untuk membangkitkan semangat literasi di kalangan masyarakat.

  • MTsN 6 Banyuwangi Sambut Kehadiran Sastrawan Malaysia dalam Rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara

    MTsN 6 Banyuwangi Sambut Kehadiran Sastrawan Malaysia dalam Rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara

    Sebagai bagian dari rangkaian Jambore Sastra Asia Tenggara dalam Festival Sastra dan Gandrung Sewu, sebanyak 200 penyair mengunjungi 33 sekolah tingkat SMP, MTs, MA, dan SMA di Kabupaten Banyuwangi.

    MTs Negeri 6 Banyuwangi yang terletak tak jauh dari Pasar Sapi Karangharjo Glenmore, termasuk dalam program “Sastrawan Goes to School”.

    Sastrawan yang ditugaskan meliputi Norasmah Binti Mohd Noor asal Malaysia, Tri Wulaning Purnami, guru SMKN 1 Surabaya, Yeti Chotimah, guru SMPN 3 Rogojampi dengan prestasi di bidang seni budaya dan literasi, serta Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang dikenal kerap membimbing pembacaan puisi, pidato, pantomim, dan bercerita.

    Acara yang berlangsung pada Jumat (25/10/24) diawali dengan hadrah bersholawat dan Mars MTsN 6 Banyuwangi, serta pantun sebagai sambutan bagi para penyair.

    Kepala MTsN 6 Banyuwangi, Kholiq Masduki, S.Pd., M.Si., menyambut hangat kedatangan para sastrawan.

    “Kesempatan langka bagi murid-murid kami untuk mendapatkan ilmu dari para penyair. Semoga murid kami dapat memanfaatkan anugerah ini sebaik-baiknya. Dengan menulis, adab dan akhlak akan semakin halus,” ungkap alumni Universitas Jember dan ITS ini.

    Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, yang merupakan anggota Komunitas Lentera Sastra dan pencipta Mars MTsN 6, H. Nur Saewan, M.Pd., juga menyampaikan selayang pandang tentang wisata dan sejarah Glenmore.

    Di antaranya terdapat perkebunan kopi, coklat, karet, dan tebu, serta 13 destinasi wisata yang menjadikan Glenmore dikenal sebagai “Secuil Eropa di Pulau Jawa.”

    Dalam acara tersebut, dua siswi, Fitri dan Nazifa El Hadi, turut tampil membacakan puisi.

    Fitri membawakan karya bertema Hari Santri, sementara Nazifa dengan penuh semangat membacakan puisi karya Bung Karno.

    Dipandu oleh Ibu Setyorini, acara ini diikuti oleh 101 murid dari kelas 7, 8, dan 9 A.

    Materi pertama disampaikan oleh Cikgu Norasmah yang menjelaskan cara menggali ide cerita dari pengalaman pribadi, curhatan teman, atau lingkungan sekitar.

    “Cakap sekali, dalam 5 menit ada 8 anak yang berhasil membuat cerita anekdot!” ujar dosen asal Melaka Selangor ini, yang meski sering ke Indonesia, baru pertama kali mengunjungi Banyuwangi.

    “Ayo terus berkarya, nanti kalian bisa diundang ke Malaysia!” ucapnya, yang disambut tepuk tangan meriah.

    Saat ditanya oleh Arina, seorang murid, tentang perbandingan literasi antara Malaysia dan Indonesia, Cikgu Norasmah memuji etos kerja orang Madura dan Minang yang ditemuinya di Malaysia.

    Pemateri berikutnya, Bu Wulan yang telah menerbitkan lebih dari 100 karya sastra dan dinobatkan sebagai salah satu dari 10 penulis fiksi terbaik di Jawa Timur, menjelaskan bahwa puisi memiliki teori dan rumus tersendiri.

    “Puisi itu lebih berat dari novel dan cerpen karena lebih padat,” katanya. Ia juga memberi tugas kepada murid untuk membuat puisi minimal 3 baris dan maksimal 3 bait, dan akan memilih 3 karya terbaik.

    Bung Aguk kemudian memberikan tips memenangkan lomba baca puisi, serta mempraktikkan teknik pernapasan, artikulasi vokal, dan penggunaan suara perut.

    “Pembimbing sebaiknya tidak langsung menyuruh anak membaca, tetapi lebih dulu membedah puisi untuk menangkap esensinya,” ujar pembina Sanggar Merah Putih ’45 yang banyak anak didiknya sukses meraih trofi lomba.

    Ia juga tampil membacakan puisi karyanya yang dikurasi dalam Banyu 7 Sumber.

    Mbok Yeti Chotimah, Ketua MGMP Bahasa Using dan Guru Penggerak SMPN 3 Rogojampi, turut membacakan puisi dari buku Ijen Purba: Tanah Air Batu, sambil mengapresiasi kreativitas peserta didik.

    Kunjungan ini diakhiri dengan nuansa sastra dalam kehidupan di MTsN 6, dimulai dengan menikmati kopi robusta Kalibaru di lounge transit, lalu diakhiri dengan acara makan siang di Doesoen Kakao dengan aneka kuliner berbahan coklat, dipandu oleh Budiyati, seorang pendidik yang bersuamikan seorang sinder. (AWN/YC)