Tag: puisi

  • Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    AKU TULIS PAMPLET INI

    Oleh :
    W.S. Rendra

    Aku tulis pamplet ini
    karena lembaga pendapat umum
    ditutupi jaring labah-labah
    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
    dan ungkapan diri ditekan
    menjadi peng – iya – an
    Apa yang terpegang hari ini
    bisa luput besok pagi
    Ketidakpastian merajalela.
    Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
    menjadi marabahaya
    menjadi isi kebon binatang
    Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
    maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
    Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
    Tidak mengandung perdebatan
    Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
    Aku tulis pamplet ini
    karena pamplet bukan tabu bagi penyair
    Aku inginkan merpati pos.
    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
    Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
    Aku tidak melihat alasan
    kenapa harus diam tertekan dan termangu.
    Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
    Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
    Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
    Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
    Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
    Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
    Rembulan memberi mimpi pada dendam.
    Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
    yang teronggok bagai sampah
    Kegamangan. Kecurigaan.
    Ketakutan.
    Kelesuan.
    Aku tulis pamplet ini
    karena kawan dan lawan adalah saudara
    Di dalam alam masih ada cahaya.
    Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
    Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
    Dan di dalam air lumpur kehidupan,
    aku melihat bagai terkaca :
    ternyata kita, toh, manusia !
    Pejambon Jakarta 27 April 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tuhanku,
    WajahMu membayang di kota terbakar
    dan firmanMu terguris di atas ribuan
    kuburan yang dangkal
    Anak menangis kehilangan bapa
    Tanah sepi kehilangan lelakinya
    Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
    tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
    Apabila malam turun nanti
    sempurnalah sudah warna dosa
    dan mesiu kembali lagi bicara
    Waktu itu, Tuhanku,
    perkenankan aku membunuh
    perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Malam dan wajahku
    adalah satu warna
    Dosa dan nafasku
    adalah satu udara.
    Tak ada lagi pilihan
    kecuali menyadari
    -biarpun bersama penyesalan-
    Apa yang bisa diucapkan
    oleh bibirku yang terjajah ?
    Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
    mendekap bumi yang mengkhianatiMu
    Tuhanku
    Erat-erat kugenggam senapanku
    Perkenankan aku membunuh
    Perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Mimbar Indonesia
    Th. XIV, No. 25
    18 Juni 1960

    GERILYA
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling di jalan
    Angin tergantung
    terkecap pahitnya tembakau
    bendungan keluh dan bencana
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Dengan tujuh lubang pelor
    diketuk gerbang langit
    dan menyala mentari muda
    melepas kesumatnya
    Gadis berjalan di subuh merah
    dengan sayur-mayur di punggung
    melihatnya pertama
    Ia beri jeritan manis
    dan duka daun wortel
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Orang-orang kampung mengenalnya
    anak janda berambut ombak
    ditimba air bergantang-gantang
    disiram atas tubuhnya
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Lewat gardu Belanda dengan berani
    berlindung warna malam
    sendiri masuk kota
    ingin ikut ngubur ibunya
    Siasat
    Th IX, No. 42
    1955

    GUGUR
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Tiada kuasa lagi menegak
    Telah ia lepaskan dengan gemilang
    pelor terakhir dari bedilnya
    Ke dada musuh yang merebut kotanya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Ia sudah tua
    luka-luka di badannya
    Bagai harimau tua
    susah payah maut menjeratnya
    Matanya bagai saga
    menatap musuh pergi dari kotanya
    Sesudah pertempuran yang gemilang itu
    lima pemuda mengangkatnya
    di antaranya anaknya
    Ia menolak
    dan tetap merangkak
    menuju kota kesayangannya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Belumlagi selusin tindak
    mautpun menghadangnya.
    Ketika anaknya memegang tangannya
    ia berkata :
    ” Yang berasal dari tanah
    kembali rebah pada tanah.
    Dan aku pun berasal dari tanah
    tanah Ambarawa yang kucinta
    Kita bukanlah anak jadah
    Kerna kita punya bumi kecintaan.
    Bumi yang menyusui kita
    dengan mata airnya.
    Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
    Bumi kita adalah kehormatan.
    Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
    Ia adalah bumi nenek moyang.
    Ia adalah bumi waris yang sekarang.
    Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
    Hari pun berangkat malam
    Bumi berpeluh dan terbakar
    Kerna api menyala di kota Ambarawa
    Orang tua itu kembali berkata :
    “Lihatlah, hari telah fajar !
    Wahai bumi yang indah,
    kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
    Nanti sekali waktu
    seorang cucuku
    akan menacapkan bajak
    di bumi tempatku berkubur
    kemudian akan ditanamnya benih
    dan tumbuh dengan subur
    Maka ia pun berkata :
    -Alangkah gemburnya tanah di sini!”
    Hari pun lengkap malam
    ketika menutup matanya

    HAI, KAMU !
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Luka-luka di dalam lembaga,
    intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
    noda di dalam pergaulan antar manusia,
    duduk di dalam kemacetan angan-angan.
    Aku berontak dengan memandang cakrawala.
    Jari-jari waktu menggamitku.
    Aku menyimak kepada arus kali.
    Lagu margasatwa agak mereda.
    Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
    Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
    Jakarta, 29 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SEORANG GERILYA
    (Untuk puteraku Isaias Sadewa)
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Engkau melayang jauh, kekasihku.
    Engkau mandi cahaya matahari.
    Aku di sini memandangmu,
    menyandang senapan, berbendera pusaka.
    Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
    engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
    Engkau menjadi suatu keindahan,
    sementara dari jauh
    resimen tank penindas terdengar menderu.
    Malam bermandi cahaya matahari,
    kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
    Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
    engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
    Peluruku habis
    dan darah muncrat dari dadaku.
    Maka di saat seperti itu
    kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
    bersama kakek-kakekku yang telah gugur
    di dalam berjuang membela rakyat jelata
    Jakarta, 2 september 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SERDADU
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Kami masuk serdadu dan dapat senapang
    ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
    Yoho, darah kami campur arak!
    Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak
    Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
    Wahai, tanah yang baik untuk mati
    Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
    cukilah ia bagi puteraku di rumah
    Siasat
    No. 630, th. 13
    Nopember 1959

    MAZMUR MAWAR

    Kita muliakan Nama Tuhan
    Kita muliakan dengan segenap mawar
    Kita muliakan Tuhan yang manis,
    indah, dan penuh kasih sayang
    Tuhan adalah serdadu yang tertembak
    Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
    sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
    dengan baju compang-camping
    membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
    Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
    Dengan pandangan arif dan bijak
    membelai kepala para pelacur
    Tuhan berada di gang-gang gelap
    Bersama para pencuri, para perampok
    dan para pembunuh
    Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
    Raja dari segala raja
    adalah cacing bagi bebek dan babi
    Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
    yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu
    Dan sekarang saya lihat
    Tuhan sebagai orang tua renta
    tidur melengkung di trotoar
    batuk-batuk karena malam yang dingin
    dan tangannya menekan perutnya yang lapar
    Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
    menangis di tepi jalan.
    Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
    Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
    Para perampok, pembunuh, penjudi,
    pelacur, penganggur, dan peminta-minta
    Marilah kita datang kepada-Nya
    kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.
    Dikutip dari:
    Sajak-sajak Sepatu Tua
    Rendra
    Pustaka Jaya

    NOTA BENE : AKU KANGEN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,
    indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
    Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
    dan anak kita akan lahir di cakrawala.
    Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
    Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
    untukmu hidupku terbuka.
    Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
    Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
    Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
    aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
    Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ORANG-ORANG MISKIN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Orang-orang miskin di jalan,
    yang tinggal di dalam selokan,
    yang kalah di dalam pergulatan,
    yang diledek oleh impian,
    janganlah mereka ditinggalkan.
    Angin membawa bau baju mereka.
    Rambut mereka melekat di bulan purnama.
    Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
    mengandung buah jalan raya.
    Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
    Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
    Tak bisa kamu abaikan.
    Bila kamu remehkan mereka,
    di jalan kamu akan diburu bayangan.
    Tidurmu akan penuh igauan,
    dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
    Jangan kamu bilang negara ini kaya
    karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
    Jangan kamu bilang dirimu kaya
    bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
    Dan perlu diusulkan
    agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
    Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
    Orang-orang miskin di jalan
    masuk ke dalam tidur malammu.
    Perempuan-perempuan bunga raya
    menyuapi putra-putramu.
    Tangan-tangan kotor dari jalanan
    meraba-raba kaca jendelamu.
    Mereka tak bisa kamu biarkan.
    Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
    Mereka akan menjadi pertanyaan
    yang mencegat ideologimu.
    Gigi mereka yang kuning
    akan meringis di muka agamamu.
    Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
    akan hinggap di gorden presidenan
    dan buku programma gedung kesenian.
    Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
    bagai udara panas yang selalu ada,
    bagai gerimis yang selalu membayang.
    Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    tertuju ke dada kita,
    atau ke dada mereka sendiri.
    O, kenangkanlah :
    orang-orang miskin
    juga berasal dari kemah Ibrahim
    Yogya, 4 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    Sajak Sajak Cinta

    Setiap ruang yang tertutup akan retak
    karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
    Dan akhirnya akan meledak
    bila tenaga waktu terus terhadang

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Ikhlas dan sebenarnya
    Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
    Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Kemudian meruang dan mewaktu
    dalam hidupku yang sekedar insan

    Ruang cinta aku berdayakan
    tapi waktunya lepas dari jangkauan
    Sekarang aku menyadari
    usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
    Khazanah budaya percintaan­
    pacaran, perpisahan, perkawinan
    tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta

    Dan kini syairku ini
    Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu

    Syair bermula dari kata,
    dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
    lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
    lepas dari daya korupsi manusia
    Demikianlah maka syairku ini
    berani mewakili cintaku kepadamu

    Juwitaku

    belum pernah aku puas menciumi kamu
    Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca
    Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku
    Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut,
    gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi
    Kamu sulit menghadapi diri sendiri
    Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu
    kamu takut kepada dunia

    Juwitaku
    Lepas dari kotak-kotak analisa
    cintaku kepadamu ternyata ada
    Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita
    Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos
    di dalam kalbuku

    Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu
    Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya
    Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

    Cintaku kepadamu telah mewaktu
    Syair ini juga akan mewaktu
    Yang jelas usianya akan lebih panjang
    dari usiaku dan usiamu

     

     

    Sajak Orang Lapar

     

    kelaparan adalah burung gagak
    yang licik dan hitam
    jutaan burung-burung gagak
    bagai awan yang hitam

    o Allah !
    burung gagak menakutkan
    dan kelaparan adalah burung gagak
    selalu menakutkan
    kelaparan adalah pemberontakan
    adalah penggerak gaib
    dari pisau-pisau pembunuhan
    yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

    kelaparan adalah batu-batu karang
    di bawah wajah laut yang tidur
    adalah mata air penipuan
    adalah pengkhianatan kehormatan

    seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
    melihat bagaimana tangannya sendiri
    meletakkan kehormatannya di tanah
    karena kelaparan
    kelaparan adalah iblis
    kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

    o Allah !
    kelaparan adalah tangan-tangan hitam
    yang memasukkan segenggam tawas
    ke dalam perut para miskin

    o Allah !
    kami berlutut
    mata kami adalah mata Mu
    ini juga mulut Mu
    ini juga hati Mu
    dan ini juga perut Mu
    perut Mu lapar, ya Allah
    perut Mu menggenggam tawas
    dan pecahan-pecahan gelas kaca

    o Allah !
    betapa indahnya sepiring nasi panas
    semangkuk sop dan segelas kopi hitam

    o Allah !
    kelaparan adalah burung gagak
    jutaan burung gagak
    bagai awan yang hitam
    menghalang pandangku
    ke sorga Mu.

     

     

    Surat Cinta

     

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    bagai bunyi tambur yang gaib,
    Dan angin mendesah
    mengeluh dan mendesah,
    Wahai, dik Narti,
    aku cinta kepadamu !

    Kutulis surat ini
    kala langit menangis
    dan dua ekor belibis
    bercintaan dalam kolam
    bagai dua anak nakal
    jenaka dan manis
    mengibaskan ekor
    serta menggetarkan bulu-bulunya,
    Wahai, dik Narti,
    kupinang kau menjadi istriku !

    Kaki-kaki hujan yang runcing
    menyentuhkan ujungnya di bumi,
    Kaki-kaki cinta yang tegas
    bagai logam berat gemerlapan
    menempuh ke muka
    dan tak kan kunjung diundurkan

    Selusin malaikat
    telah turun
    di kala hujan gerimis
    Di muka kaca jendela
    mereka berkaca dan mencuci rambutnya
    untuk ke pesta
    Wahai, dik Narti
    dengan pakaian pengantin yang anggun
    bunga-bunga serta keris keramat
    aku ingin membimbingmu ke altar
    untuk dikawinkan
    Aku melamarmu,
    Kau tahu dari dulu:
    tiada lebih buruk
    dan tiada lebih baik
    dari yang lain­
    penyair dari kehidupan sehari-hari,
    orang yang bermula dari kata
    kata yang bermula dari
    kehidupan, pikir dan rasa

    Semangat kehidupan yang kuat
    bagai berjuta-juta jarum alit
    menusuki kulit langit:
    kantong rejeki dan restu wingit
    Lalu tumpahlah gerimis
    Angin dan cinta
    mendesah dalam gerimis.
    Semangat cintaku yang kuta
    batgai seribu tangan gaib
    menyebarkan seribu jaring
    menyergap hatimu
    yang selalu tersenyum padaku

    Engkau adalah putri duyung
    tawananku
    Putri duyung dengan
    suara merdu lembut
    bagai angin laut,
    mendesahlah bagiku !
    Angin mendesah
    selalu mendesah
    dengan ratapnya yang merdu.
    Engkau adalah putri duyung
    tergolek lemas
    mengejap-ngejapkan matanya yang indah
    dalam jaringku
    Wahai, putri duyung,
    aku menjaringmu
    aku melamarmu

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    kerna langit
    gadis manja dan manis
    menangis minta mainan.
    Dua anak lelaki nakal
    bersenda gurau dalam selokan
    dan langit iri melihatnya
    Wahai, Dik Narti
    kuingin dikau
    menjadi ibu anak-anakku !

  • Kumpulan Puisi Taufik Ismail

    Kumpulan Puisi Taufik Ismail

    Sebuah Jaket Berlumur Darah

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun.

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja
    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
    Berikara setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang.

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan.

    Syair Orang Lapar

    Lapar menyerang desaku
    Kentang dipanggang kemarau
    Surat orang kampungku
    Kuguratkan kertas
    Risau
    Lapar lautan pidato
    Ranah dipanggang kemarau
    Ketika berduyun mengemis
    Kesinikan hatimu
    Kuiris
    Lapar di Gunungkidul
    Mayat dipanggang kemarau
    Berjajar masuk kubur
    Kauulang jua
    Kalau.

    Karangan Bunga

    Tiga anak kecil
    Dalam langkah malu-malu
    Datang ke salemba
    Sore itu.

    Ini dari kami bertiga
    Pita hitam pada karangan bunga
    Sebab kami ikut berduka
    Bagi kakak yang ditembak mati
    Siang tadi.

    Salemba

    Alma Mater, janganlah bersedih
    Bila arakan ini bergerak pelahan
    Menuju pemakaman
    Siang ini.

    Anakmu yang berani
    Telah tersungkur ke bumi
    Ketika melawan tirani.

    Memang Selalu Demikian, Hadi

    Setiap perjuangan selalu melahirkan
    Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
    Jangan kau gusar, Hadi.

    Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
    Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
    Jangan kau kecewa, Hadi.

    Setiap perjuangan yang akan menang
    Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
    Dan para jagoan kesiangan.

    Memang demikianlah halnya, Hadi.

    Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

    Jika adalah yang harus kaulakukan
    Ialah menyampaikan kebenaran
    Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
    Ialah ang bernama keyakinan
    Jika adalah yang harus kau tumbangkan
    Ialah segala pohon-pohon kezaliman
    Jika adalah orang yang harus kauagungkan
    Ialah hanya Rasul Tuhan
    Jika adalah kesempatan memilih mati
    Ialah syahid di jalan Ilahi.

    SAJADAH PANJANG

    Ada sajadah panjang terbentang
    Dari kaki buaian
    Sampai ke tepi kuburan hamba
    Kuburan hamba bila mati

    Ada sajadah panjang terbentang
    Hamba tunduk dan sujud
    Di atas sajadah yang panjang ini

    Diselingi sekedar interupsi
    Mencari rezeki, mencari ilmu
    Mengukur jalanan seharian
    Begitu terdengar suara azan
    Kembali tersungkur hamba

    Ada sajadah panjang terbentang
    Hamba tunduk dan rukuk
    Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
    Mengingat Dikau
    Sepenuhnya.
    1984
    (dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo)

    LONCENG TINJU

    Setiap kali lonceng berkleneng
    Tanda putaran dimulai
    Setiap kali mereka bangkit
    Dan mengepalkan tinju
    Setiap teriakan histeria
    Bergemuruh suaranya
    Aku kelu
    Dan merasa di pojok
    Sendirian

    Setiap lonceng berklenengan
    Dan tinju mulai berlayangan
    Meremuk kepala lawan
    Terkilas dalam ingatan
    Nenekku dulu berkata
    “Jangan kamu mengadu ayam”
    Dan bila aku menuntut ilmu
    Di Kedokteran Hewan
    Guruku menasihatkan
    “Jangan kamu mengadu hewan”

    Kini lagi, bel itu berklenengan
    Aku tersudut, bisu
    Dan makin merasa
    Sendirian
    1987

    LONDON, ABAD SEMBILAN BELAS

    1
    Pada ronde ke-99 yang berdarah-darah
    Petinju Simon Byrne selesai sudah
    Dia mati memuaskan penontonnya

    Tinju maut Si Tuli James Burke
    Diacung-acungkan wasit
    Para penonton berteriak gembira
    Polisi Inggeris datang bertugas
    Peraturan langsung menjerat kedua tangannya
    Tapi anehnya dia dibebaskan, tak lama
    Inilah ejekan pada undang-undang
    Walau pun ada manusia masih terlarang
    Putusan pengadilan bisa diperjual-belikan

    2
    Lalu tengoklah berbondong-bondong penonton
    Naik kereta api dari Setasiun Jambatan London
    Menuju tempat rahasia, 25 mil jauhnya
    Inilah pertandingan pertama antarbangsa
    Tom Sayers juara Britania
    Diadu John Heenan jagoan Amerika
    Sastrawan Dickens dan Thackeray menonton juga
    Sesudah 42 putaran adu manusia
    Keduanya berdarah-darah, lebam, habis daya
    Tak berketentuan wasit apa keputusannya
    Para penonton berteriak dalam histeria
    Mengacung-acungkan tinju ke udara
    Polisi melakukan interupsi
    Para juri dipisuhi, wasit dimaki-maki
    Penonton-penonton tak puas jadi buas
    Mereka lalu bertinju sesama mereka
    Mereka bergigitan seperti serigala
    Melolong bagai gorila
    Pertunjukan jadi lengkap
    Dan lumayan biadab

    3
    Itulah adegan abad sembilan belas
    Asal-usul adu manusia yang kita tidak tahu
    Tapi ujungnya kita tiru-tiru
    Sebagai bangsa minder apa saja dari Eropa dan Amerika
    Seperti kawanan bebek diturut dan ditirukan saja
    Sudah jelas ini adu manusia mereka bilang olahraga
    Seperti kambing mengembik kita setuju pula
    Inilah budaya tanpa pikir kita jiplak begitu saja

    Dari abad 19 orang masuk ke abad 20
    Di awal abad, adu manusia di sana dilarang undang-undang
    Tapi pemilik modal si orang kaya membeli undang-undang
    Disobek dicincang itu dokumen undang-undang
    Sebagai sampah hukum masuk keranjang
    Adu manusia jadi tidak lagi terlarang
    Lengkaplah bagian biadab budaya barat
    Yang garang, bringasan dan tamak pada uang
    Menjalar ke negeri sini, ditiru dan diulang-ulang
    Sudahlah minder, ditambah gebleg, kita tak kepalang

    4
    Pada hari ini akhir abad dua puluh
    Kakiku satu sudah masuk abad dua puluh satu
    Kita ketemu
    Kau ajak aku balik ke abad sembilan belas
    Lho tapi, kita ‘kan mau menembus abad 21
    Kenapa kau bujuk aku balik ke abad 19 lagi
    Mana aku mau

    Tapi kau berkeras balik kanan juga
    Kau tetap mau ditipu, adu manusia itu olahraga
    Kau menanam bibit kekerasan dan kebringasan
    Sudah berapa puluh tahun jangka waktunya
    Kau sudah panen lama kau mana tahu itu
    Bibitmu tumbuh, menyebar dan membesar
    Karena kau rabun mana bisa itu kau baca
    Ke masyarakatmu tak pernah kau berkaca
    Dan kau berkeras balik kanan juga

    Kau tak tahu sudah kusiapkan tali rafia biru
    Diam-diam kuikat kedua pergelangan tanganmu
    Kuseret kau masuk abad 21
    Masih saja kau berteriak tak tahu malu
    “Tidak mau! Tidak mau!”
    Tengoklah anak-anak yang berpikir itu
    Mereka terheran-heran melihat kamu.
    1989

    DENGAN PUISI AKU

    Dengan puisi aku bernyanyi
    Sampai senja umurku nanti
    Dengan puisi aku bercinta
    Berbaur cakrawala
    Dengan puisi aku mengenang
    Keabadian Yang Akan Datang
    Dengan puisi aku menangis
    Jarum waktu bila kejam mengiris
    Dengan puisi aku mengutuk
    Napas jaman yang busuk
    Dengan puisi aku berdoa
    Perkenankanlah kiranya

    AIR KOPI MENYIRAM HUTAN

    Tiga juta hektar
    Halaman surat kabar
    Telah dirayapi api
    Terbit pagi ini
    Panjang empat jari
    Dua kolom tegaklurus
    Dibongkar dari pik-ap
    Subuh dari percetakan
    Ditumpuk tepi jalan
    Dibereskan agen koran
    Sebelum matahari dimunculkan
    Dilempar ke pekarangan
    Dipungut oleh pelayan
    Ditaruh di mejamakan
    Ditengok secara sambilan
    Dasi tengah diluruskan
    Rambut isteri kekusutan
    Empat anak bersliweran
    Pagi penuh kesibukan
    Selai di ujung tangan
    Roti dalam panggangan
    Ketika tangan bersilangan
    Kopi tumpah di bacaan
    Menyiram tigajutahektar koran
    Dua kolom kepanjangan
    Apipadam menutup hutan
    Koranbasah dilipat empat
    Keranjang plastik anyaman
    Tempat dia dibuangkan
    Tepat pagi itu
    Jam setengah delapan.
    1988

    BERI DAKU SUMBA

    di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
    aneh, aku jadi ingat pada Umbu

    Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
    Di mana matahari membusur api di atas sana
    Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
    Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

    Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
    Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
    Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
    Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

    Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
    Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
    Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
    Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

    Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
    Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
    Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
    Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

    Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
    Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
    Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
    Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
    1970

    PANTUN TERANG BULAN DI MIDWEST

    Sebuah bulan sempurna
    Bersinar agak merah
    Lingkarannya di sana
    Awan menggaris bawah

    Sungai Mississippi
    Lebar dan keruh
    Bunyi-bunyi sepi
    Amat gemuruh

    Ladang-ladang jagung
    Rawa-rawa dukana
    Serangga mendengung
    Sampaikah suara

    Cuaca musim gugur
    Bukit membisu
    Asap yang hancur
    Biru abu-abu

    Danau yang di sana
    Seribu burung belibis
    Lereng pohon pina
    Angin pun gerimis
    1971

    BUNGA ALANG – ALANG

    Bunga alang-alang
    Di tebing kemarau
    Menggelombang

    Mengantar
    Bisik cemara
    Dalam getar

    Di jalan setapak
    Engkau berjalan
    Sendiri

    Ketika pepohon damar
    Menjajari
    Bintang pagi

    Sesudah topan
    Membarut
    Warna jingga
    Dan seribu kalong
    Bergayut
    Di puncak randu
    Di bawah bungur
    Kaupungut
    Bunga rindu

    Sementara awan
    Menyapu-nyapu
    Flamboyan

    Kemarau pun
    Berangkat
    Dengan kaki tergesa

    Dalam angin
    Yang menerbangkan
    Serbuk bunga.

    LAGU UNGGAS LAGU IKAN

    Katak rawa-rawa
    Menyanyi sendiri

    Pii
    Wii

    Serangga pepohonan
    Daun bermerahan

    Angsa menggelepar
    Dan berbunyi

    Pii
    Wii

    Ikan danau jauh
    Jerami yang luruh

    Langit mengental
    Paya-paya kristal
    Unggas sembunyi
    Hutan pun mati
    Bunyi yang sunyi
    Pii
    Wii

    SEORANG KULI TUA DI SETASIUN YOKOHAMA

    Seorang kuli tua di setasiun Yokohama
    Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
    Berdiri agak terbungkuk di depan peron
    Handuk kecil di lehernya

    Beratus penumpang turun sepanjang ruangan
    Menari dalam kilau jendela kereta
    Ia pun menjamah koporku setelah menatapku
    Agak lama

    Hari itu musim panas di bulan Agustus
    Udara sangat lembab dan angin tak bertiup
    Menyeka dahi ditolaknya lembaran uang
    ‘Aku dulu di Semarang’

    Dengan hormat diucapkannya selamat jalan
    Ia pun kembali ke setasiun berbata-bata
    Berkaus dan bersepatu putih
    Tiba-tiba wajahnya sangat tua

    Di kapal kenapa kuingat kakak sepupuku
    Opsir Peta di Jatingaleh berlucut senjata
    Terbunuh dalam pertempuran lima hari
    Dua belas tahun yang lalu

    Hari itu musim panas di bulan Agustus
    Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota
    Seorang kuli di setasiun Yokohama
    Tiba-tiba wajahnya sangat tua.

    TENTANG SERSAN NURCHOLIS

    Seorang sersan
    Kakinya hilang
    Sepuluh tahun yang lalu

    Setiap siang
    Terdengar siulnya
    Di bengkel arloji

    Sekali datang
    Teman-temannya
    Sudah orang resmi

    Dengan senyum ditolaknya
    Kartu-anggota
    Bekas pejuang

    Sersan Nurcholis
    Kakinya hilang
    Di zaman revolusi

    Setiap siang
    Terdengar siulnya
    Di bengkel arloji

  • Pengertian Diksi Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Pengertian Diksi Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Pengertian Diksi

    Pengertian diksi secara umum adalah pilihan kata, penggunaan diksi berhubungan dengan ketetapan penggunaan kata, setiap kata memilki makna tertentu yang berbeda dengan makna yang lainnya.

    Walaupun ada beberapa kata yang sekilas memilki makna yang hampir sama, tetapi sebenarnya masing-masing memilki perbedaan.

    Menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan).

    Pengertian Diksi Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian diksi menurut para ahli.

    1. Gorys Keraf

    Menurut Gorys Keraf, pengertian diksi terbagi menjadi dua, yakni pilihan kata atau mengenai pengertian kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan, pengungkapan yang tepat dan gaya penyampaian kata yang lebih baik dan sesuai situasi.

    Pengertian diksi juga merupakan sebuah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang disampaikan.

    Selain itu, diksi juga bisa berupa kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi, nilai dari suatu rasa yang dimiliki kelompok masyarakat, pendengar, dan pembaca.

    2. Widyamartaya

    Menurut Widyamartaya, pengertian diksi adalah kemampuan seseorang dalam membedakan suatu nuansa-nuansa makna secara tepat dengan gagasan yang disampaikan.

    Kemampuan seseorang membedakan makna itu sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca.

    3. Susilo Mansurudin

    Susilo Mansurudin berpendapat pengertian diksi adalah pilihan kata.

    Pemakaian atau pemilihan diksi yang tepat, benar dan cermat bisa membantu memberi nilai pada suatu kata.

    Pilihan diksi yang sesuai dengan kata lain akan mencegah terjadinya kesalahan penafsiran yang berbeda.

    4. Enre

    Enre berpendapat pengertian diksi adalah penggunaan kata yang sesuai dalam mewakili pikiran dan perawatan yang ingin disampaikan dalam suatu pola kalimat tertentu.

    5. Harimurti

    Diksi adalah pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam mengarang.

    6. Mustakim

    Membedakan antara istilah pemilihan kata dan pilihan kata.

    Pemilihan kata adalah proses atau tindakan memilih kata yang dapat mengungkap gagasan secara tepat, sedangkan pilihan kata adalah hasil proses atau tindakan tersebut.

    7. Achmadi (1990: 136)

    Memberikan definisi diksi adalah seleksi kata-kata untuk mengekspresikan ide atau gagasan dan perasaan.

    Ciri Ciri Diksi

    Adapun ciri-ciri diksi sebagai berikut:

    • Sesuai konteks kalimat yang akan diungkapkan.
    • Nyaman saat dibaca dan mudah dipahami.
    • Mampu membedakan suasana, makna, dan bentuk kalimat
    • Selaras dengan nilai rasa dari pembacanya.
    • Kosakata yang dipahami oleh pembaca/pendengar
    • Menyatu dengan kata yang lain sehingga melahirkan sebuah makna yang tepat.

    Contoh Diksi

    Berikut ini adalah contoh diksi yang tepat, mari disimak.

    • Rani sudah tinggal di Surabaya selama lima tahun (Diksi tepat)
    • Rani tinggal minum saja, dia sudah makan (Diksi kurang tepat)
    • Kenapa kamu selalu mengacuhkan janji dengan kami (Diksi kurang tepat)
    • Kenapa kamu selalu mengabaikan janji dengan kami (Diksi tepat)
  • Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Parafrasa

    Parafrase atau parafrasa adalah pengungkapan kembali suatu tuturan bahasa ke dalam bentuk bahasa lain tanpa mengubah pengertian.

    Pengungkapan kembali tersebut bertujuan untuk menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.

    Pengertian Parafrasa Menurut Para Ahli

    Adapun pengertian parafrase menurut para ahli adalah sebagai berikut.

    1. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Paraphrase adalah bagian yang menyajikan poin penting, penjelasan, atau argumen tetapi itu tidak mengandung kata-kata yang mudah diingat atau langsung.

    2. Menurut L. Behrens (dalam A Sequence for Academic Writing. Longman, 2009)

    Parafrase adalah sebuah ringkasan, yang ditulis dengan kata-kata Anda sendiri, secara singkat menyatakan kembali poin utama penulis.

    3. Menurut Kridalaksana

    Menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik III bahwa yang dimaksud dengan pengertian parafrasa adalah pengungkapan kembali konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, tanpa mengubah maknanya, dengan memberi kemungkinan penekanan yang agak berlainan.

    4. Menurut Sudaryanto

    Menurut Sudaryanto bahwa Parafrasa adalah bentuk lain (serta makna yang lain) dengan informasi yang sama.

    5. Menurut Crystal (1985)

    Menurut Crystal bahwa parafrasa merupakan istilah dalam linguistik untuk hasil atau proses produksi versi alternatif dari kalimat atau teks tanpa mengubah makna.

    Ciri-Ciri Parafrasa

    • Bentuk tuturan kata berbeda.
    • Bahasa penyampaian berbeda
    • Cara penyampaian berbeda
    • Arti dan Makna tuturan tetap sama.
    • Substansi tidak berubah.

    Cara Membuat Parafrasa

    Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam membuat parafrasa dari sebuah bacaan.

    Untuk membuat parafrasa lisan, langkah-langkahnya adalah membaca informasi secara cermat, mencatat kalimat inti, mengmbangkan kalimat inti menjadi pokok pikiran, menyampaikan pokok pikiran dalam bentuk uraian lisan dengan kalimat sendiri.

    Gunakanlah sinonim, ungkapan yang sepadan, mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, mengubah kalimat aktif menjadi kalimat tidak aktif, serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk narasi jika kesulitan menguraikan.

    Cara Memparafrasekan Puisi Menjadi Prosa

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memfaraprasekan puisi menjadi prosa, ialah sebagai berikut :

    • Membaca atau mendengarkan pembacaan puisi dengan seksama
    • Pahami isi kandungan puisi secara utuh
    • Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi
    • Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri
    • Sampaikan secara lisan atau dibacakan

    Contoh Parafrasa

    Aku

    Kalau sampai waktuku
    ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
    Tidak juga kau
    Tak perlu sedu sedan itu
    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang
    Bila peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang
    Lukadan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang perih peri
    Dan aku akan lebih tidak peduli
    Aku mau hidup seribu tahun lagi

    (Chairil Anwar, DCD 1959:7)

    Parafrasanya :

    Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.

    Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku sebab tidak ada gunanya. Si aku ini adalah binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya.

    Iamerdeka tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak, peluru menembus kulitnya.

    Si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan-aturan yang mengikat tersebut.

    Segala rasa sakit dan penderitaan akan ditanggung, ditahan, diatasi hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada akhirnya akan hilang sendiri.

    Si aku akan makin tidak peduli pada segala aturan dan ikatan, halangan, serta penderitaan. Si aku mau hidup seribu tahun lagi.

    Maksudnya, si aku menginginkan semangatnya, pikirannya, karya-karyanya akan hidup selama-lamanya. (Rachmat Djoko Pradopo)

  • Seloka : Pengertian, Ciri, dan Contohnya

    Seloka : Pengertian, Ciri, dan Contohnya

    Pengertian Seloka

    Seloka adalah bentuk puisi lama melayu klasik, biasanya berisikan pepatah ataupun perumpamaan yang dapat mengandung lulucon, sindiran bahkan tidak sedikit yang isinya berupa ejekan.

    Seloka biasanya ditulis dengan 4 baris atau lebih, dan memakai bentuk pantun.

    Seloka atau pantun seloka tidak lain daripada pantun rantai atau pantun berkait. Pantun ini memiliki beberapa bait yang saling berhubungan.

    Baris kedua pada bait pertama menjadi baris pertama pada bait selanjutnya; sedangkan baris keempat pada bait pertama, menjadi baris ketika pada bait selanjutnya.

    Jadi sebenarnya perbedaan bait pertama dan bait selanjutnya terletak pada satu baris sampiran (baris kedua) yang pada satu baris isi (baris keempat) bait selanjutnya.

    Pengertian Seloka Menurut Para Ahli

    1. Simorangkir

    Seloka merupakan peribahasa atau pepatah yang didalamnya diberi sampiran atau seloka tidak lain dari pada bidal/pepatah yang berirama.

    2. Hooykaas

    Seloka merupakan pantun yang didalamnya mengandung ibarat atau kiasan dan berisi nasihat-nasihat. Juga bahwa seloka atau pantun itu ialah pantun yang bersajak sama, seperti saja syair (a-a-a-a).

    3. Amir Hamzah

    Seloka merupakan pantun yang antara sampiran dan isi terdapat hubungan yang mengandung arti.

    4. Madong Lubis

    Seloka atau pantun seloka tidak lain adalah pantun rantai atau pantun berkait.

    5. Sabaruddin Ahmad

    Dalam seluk beluk bahasa Indonesia, ia menyatakan bahwa seloka ialah pantun berangkai “sama dengan keterangan Madang Lubis”.

    6. Sutan Moh. Zain

    Dalam zaman baru, beliau berpendapat bahwa seloka boleh terdiri atas 2 baris, 4 baris, 6 baris atau lebih. Seloka yang jumlah barisnya lebih dari 2, bersajak pasang (aa, bb, cc, dd), semua kalimatnya mengandung arti dan mempunyai hubungan yang logis seperti halnya syair.

    Ciri-Ciri Seloka

    Di setiap bait dalam seloka ada 2 baris yang panjang
    Di dalam setiap baris seloka terdiri atas suku kata (yaitu 2×9 suku kata)
    Ada hubungan antara isi bait yang satu dengan isi bait berikutnya
    Seloka tidak terikat dengan persajakan
    Isi seloka berupa petuah atau nasihat
    Pada baris kedua dalam bait terdahulu menjadi baris pertama pada bait berikutnya dan baris keempat dalam
    Bait terdahulu menjadi baris ketiga dalam bait berikutnya

    Fungsi Seloka

    Fungsi seloka yaitu untuk mengkritik semua sikap negatif dari anggota masyarakat tanpa harus menyinggung perasaan dari anggota masyarakat tersebut.

    Seloka juga bisa menjadi panduan atau pengajaran bagi individu yang terkait.

    Selain itu fungsi seloka sangat bergantung kepada isinya yaitu untuk menyindir, mengejek, menempelak, melahirkan rasa benci karena sikap manusia, memberi pengajaran dan panduan, serta sebagai alat protes sosial.

    Contoh Seloka

    “Anak ayam turun sepuluh
    Mati satu tinggal sembilan
    Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
    Supaya engkau tidak ketinggalan
    Anak ayam turun sembilan
    Mati satu tinggal delapan
    Ilmu boleh sedikit ketinggalan
    Tapi jangan sampai putus harapan”

    Ada suatu burung merak (a)
    Lehernya panjang suaranya serak (a)
    Tuan umpama emas dan perak (a)
    Hati yang mana boleh bertolak (a)

    “Lurus jalan ke Payakumbuh,
    Kayu jati bertimbal jalan,
    Dimana hati tak kan rusuh,
    Ibu mati bapak berjalan,
    Kayu jati bertimbal jalan,
    Turun angin patahlah dahan,
    Ibu mati bapak berjalan,
    Kemana untung diserahkan”

    “Sudah bertemu kasih sayang
    Duduk terkurung malam siang
    Hingga setapak tiada renggang
    Tulang sendi habis berguncang”

  • Lomba Cipta Puisi Hari Pendidikan Nasional 2021

    Lomba Cipta Puisi Hari Pendidikan Nasional 2021

    Lomba Cipta Puisi Hari Pendidikan Nasional

    Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Penerbit Lintang Banyuwangi menyelenggarakan sebuah lomba cipta puisi dengan tema “Bangkit Pendidikan, Sejahtera Indonesia”

    Syarat dan Ketentuan

    • Kategori Pelajar (Pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Banyuwangi)
    • Kategori Umum (Mahasiswa dan Umum di Kabupaten Banyuwangi)
    • Puisi original, belum pernah dilombakan & tidak menyinggung SARA
    • Diketik dalam Ms. Word maksimal 1 halaman
    • Kirim ke email : [email protected]
    • Subjek email untuk kategori pelajar “Puisi Pelajar”
    • Subjek email untuk kategori umum “Puisi Umum”

    Hadiah Kategori Pelajar

    Juara 1

    Uang pembinaan Rp300.000 + Buku + Sertifikat Juara

    Juara 2

    Uang pembinaan Rp200.000 + Buku + Sertifikat Juara

    Juara 3

    Uang pembinaan Rp100.000 + Buku + Sertifikat Juara

    Hadiah Kategori Umum

    Juara 1

    Uang pembinaan Rp400.000 + Buku + Sertifikat Juara

    Juara 2

    Uang pembinaan Rp300.000 + Buku + Sertifikat Juara

    Juara 3

    Uang pembinaan Rp200.000 + Buku + Sertifikat Juara

    Pengiriman Naskah

    16 April 2021 – 16 Mei 2021

    Pengumuman Juara

    23 Mei 2021 (Via Webinar)

    Dewan Juri

    1. Marifatul Kamila

    – Anggota DPRD Banyuwangi Fraksi Golkar
    – Pegiat Literasi, Seni, dan Budaya.

    2. Maulana Affandi

    – Penulis Buku
    – Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi

    Narahubung

    – 081331076952 (Andi BS)
    – 089512642494 (Admin)

  • Puisi Hidangan Yang Tak Kunjung Usai – MF. Haiqal

    Hidangan yang Tak Kunjung Usai

    Oleh: MF. Haiqal

    Malam berlalu, lelaki itu masih kalang kabut meramu sajak untuk ibu
    Berhari-hari ditunggunya. Namun Jibril tak kunjung datang memberi wahyu
    Dalam kebingungan, sahabatnya Waktu juga tak membantu
    malah menatap nanar dirinya yang makin diburu waktu
    “Untuk pacarmu, ribuan kalimat mampu kaupikat
    Sedang untuk ibumu, sehuruf pun tak mampu kaurayu!”
    Beberapa kalimat indah telah selesai dirangkai
    tersusun dari serakan huruf yang terpungut di tiap persimpangan
    Kendati segar, segalanya terasa hambar; kurang gurih dan sedap
    tak seperti dendeng ibu yang dimasak penuh rempah renjana
    “Mengapa cinta palsu mampu menggerakkan pena meramu aksara
    sedang cinta sejati tak mampu menggerakkan hati mengukir abadi?”
    Lelaki itu kesal, ocehan Waktu terbukti benar
    Dijejalkan tiap huruf dalam wajan. Diaduk-aduk hingga meluap
    Disulutnya api amarah sampai satu-satu meleleh, melebur
    bersetubuh menjadi tumisan yang siap dihindangkan
    “Sudahi saja usaha kerasmu
    Saat semuanya usai, usianya sudah habis terurai!”
    Lelaki itu kembali kesal, sekali lagi Waktu terbukti benar
    Saat kalimat telah rampung ditumis dengan kalimat segar yang tak amis
    tiada lagi pujian untuk sajak hari itu
    Semuanya tertimbun gundukan tanah merah bertabur rempah
    “Sekarang pulanglah, istirahatkan duniamu
    Santaplah bekal terakhir yang ia buat untuk dirimu!”

    Di dapur sudah tersaji sepiring nasi dengan sepotong lauk
    masakan gurih yang dibumbui rempah renjana
    Meski berkecamuk air mata, lelaki itu makan dengan lahapnya
    Potongan dendeng hangat dari hati ibunya

    22 Desember 2020

  • Kumpulan Diksi untuk Menulis Puisi

    Kumpulan Diksi untuk Menulis Puisi

    Pengertian Diksi

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kbbi), diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan).

    Diksi atau sering juga disebut pilihan kata, penggunaan diksi berhubungan dengan ketetapan penggunaan kata, setiap kata memilki makna tertentu yang berbeda dengan makna yang lainnya.

    Walaupun ada beberapa kata yang sekilas memilki makna yang hampir sama, tetapi sebenarnya masing-masing memilki perbedaan.

    Diksi cocok digunakan untuk yang ingin mengikuti lomba puisi atau digunakan untuk puisi bulan ramadhan.

    Sebab, dengan menggunakan diksi maka puisi yang ditulis akan menjadi lebih indah.

    Sehingga cocok digunakan untuk puisi cinta, apalagi bagi kita yang ingin membuat buku kumpulan puisi atau antologi.

    Namun, meski diksi dapat mempercantik puisi, tapi penulis juga perlu bijak dalam menggunakannya.

    Sebab, jika terlalu dipaksakan memasukkan diksi-diksi, maka puisi akan terlihat aneh dan cenderung sulit dipahami oleh pembaca atau pendengar.

    Banyak sastrawan ternama yang tidak terlalu mementingkan diksi, tapi karyanya tetap dapat dinikmati oleh banyak orang, salah satunya adalah Sapardi Djoko Damono.

    Dalam buku puisi Sapardi Djoko Damono, beberapa karyanya tidak terlalu menggunakan diksi yang berat.

    Buku Sapardi Djoko Damono cenderung diisi oleh puisi-puisi dengan kata sederhana, tapi dalam maknanya.

    Sebagai contoh puisi Sapardi Djoko damono Hujan Bulan Juni yang menggunakan kata-kata sederhana, tapi sangat indah bila dibaca.

    Contoh lain puisi Karangan Bunga karya Taufik Ismail. Bisa dilihat setiap baitnya tersusun atas kata-kata yang digunakan sehari-hari.

    Maka, kesimpulannya adalah diksi puisi tetaplah penting, tapi jangan terlalu memaksakan untuk memasukkan diksi-diksi karena yang paling penting adalah makna dari puisi itu sendiri.

    Contoh Diksi Dalam Puisi

    Berikut ini adalah kumpulan diksi yang bisa digunakan untuk menulis puisi.

    Tentunya pemilihan diksi akan mempengaruhi hasil puisi itu sendiri. Maka, gunakanlah diksi-diksi yang tepat agar karya menjadi semakin baik.

    Akara : Bayang
    Aksa : Jauh/Mata
    Aksama : Ampunan
    Ambu : Aroma
    Anala : Api
    Ancala : Gunung
    Anila : Angin
    Anindita : Sempurna
    Anindya : Cantik Jelita
    Anitya : Tidak Kekal
    Asrar : Rahasia
    Astu : Puji
    Atma : Jiwa
    Bagaskara : Matahari
    Baswara : Berkilau, Bercahaya
    Bernas : Berisi Penuh, Semakin Berisi
    Bhama : Nafsu
    Bianglala : Pelangi
    Citta : Maksud Hati, Pikiran
    Cumbana : Mencium
    Dahayu : Cantik, Molek, Elok
    Daksa : Badan; Tubuh
    Dama : Cinta Kasih
    Dayita : Kekasih
    Dekap : Peluk
    Gata : Telah Pergi
    Gundah : Sedih, Bimbang, Gelisah
    Harsa : Kegembiraan
    Hirap : Hilang
    Ina : Matahari Pagi/Senja
    Indurasmi : Sinar Rembulan
    Jamanika : Tirai, Tabir
    Janardana : Menggairahkan
    Kama : Dipuja
    Kampa : Getaran
    Kampana : Mempunyai Getaran
    Korelasi : Hubungan Timbal Balik
    Miang : Lugut
    Nabastala : Langit
    Nestapa : Sedih Sekali, Susah Hati
    Persistensi : Gigih, Kukuh, Tekun, Terus Menerus.
    Rimpuh : Sudah Tua Sekali
    Rinai : Gerimis, Rintik-Rintik
    Sedari : Sejak
    Sempena : Berkah
    Sendu : Sedih, Pilu, Dukacita
    Sporadis : Tidak Tentu, Kadang2
    Termaktub : Tertulis, Tercantum
    Umbu : Nenek Moyang
    Urgensi : Sangat Penting
    Zamin : tanah/negeri/negara
    Wiweka : sangat berhati-hati
    Sujana : berburu (bijaksana, pandai)
    Bianglala : pelangi
    Hibuk : giat bekerja/banyak pekerjaan/sibuk
    Melankolia : depresi
    Pupus : habis sama sekali/hilang/lenyap
    Lenggana : segan/enggan/tidak sudi
    Renjana : rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, dan sebagainya)
    Gemintang : susunan bintang/peta bintang/rasi bintang
    Temaram : remang-renang
    Lazuardi : batu permata berwarna biru
    Lara : sedih/susah hati/sakit
    Mara : bencana/bahaya
    Mandalika : sebuah sebutan atau jabatan (gubernur, Adipati, dan sebagainya)
    Palapa : memikat serta menarik hati
    Padmarini : indah serta tajam
    Asmaraloka : dunia cinta kasih
    Retislaya : luka dalam hati
    Indurasmi : sinar rembulan
    Kama : dipuja
    Mala : sengsara
    Rudita : ditangisi
    Harsa : bahagia/gembira
    Gata : telah pergi
    Kalbu : hati
    Nabastala : langit
    Terdayuh : sedih
    Jelampah : bergelimpang, bergolek, terkapar
    Basirah : hati, penglihatan hati, qalbu
    Relikui : benda keramat, aji-aji, jimat
    Gapah : cakap, lincah, trengginas, pantas
    Sadrah : berserah, pasrah, bertawakkal

    Baca juga: Daftar Tiruan Bunyi Terlengkap (Onomatope)

    Huruf A

    1. Abap : Bunga / Kembang Api
    2. Abhati : Cahaya Agung
    3. Adorasi : Pengorbanan
    4. Afsun : Pesona
    5. Agah : Tatap
    6. Ajun : Maksud
    7. Akara : Bayang
    8. Aksa : Jauh (KBBI) / mata
    9. Aksama : Ampunan
    10. Alap : Bagus
    11. Amaraloka : Dunia cinta kasih
    12. Ambivalen : Mencintai dan membenci pada orang yang sama
    13. Ambu : Aroma
    14. Anak Dara : Anak perempuan yang sudh mencapai usia remaja dan belum kimpoi
    15. Anala : Api
    16. Anca : RIntangan
    17. Abacai : Hacur (minang), abai
    18. Ancala : Gunung (KBBI)
    19. Andam Karam : Lenyap
    20. Angggara : Buas, liar
    21. Anila : Angin
    22. Anindita : Sempurna
    23. Anindya : Cantik Jelita
    24 Anitya : Tidak Kekal
    25. Apatis : Acuh tidak acuh
    26. Arkais : Berhubungan dengan masa lalu atau cerita kuno, tidak lazim dipakai lagi
    27. Arkian : Sesudah itu; kemudian dari itu
    28. Arumi : Harum, wangi
    29. Arunika : Fajar atau matahari terbit
    30. Astu : Puji, alem, sembah
    31. Atma : Jiwa, arwah, sukma
    32. Ayut : Bersetubuh, bersenggama

    Huruf B

    1. Bagaskara : Matahari
    2. Baka : Abadi, awet, kekal, lestari, qadim
    3. Baswara : Berkilau, bercahaya
    4. Bekile : Makan yang dilakukan secara bersama-sama
    5. Belungsang : Bentak / Hardik
    6. Bena : Menarik / Ombak dan banjir
    7. Benawat : Sombong
    8. Berahi : Perasaan cinta antara 2 orang berlainan jenis
    9. Bhama : Nafsu
    10. Bilur : Luka panjang pada kullit (Seperti kena cambuk)
    11. Birai : Dinding berukuran rendah di tepi jembatan atau tangga
    12. Bongko : Mati (Jawa Kasar)
    13. Buhul : Ikatan / simpul

    Huruf C

    1. Candala : Rendah, hina, nista ; kata sifat (KBBI) / rendah diri ‘nggak pede’ ; kata kerja (KBBI)
    2. Candramawa : Hitam bercampur putih / Bulu kucing (KBBI) / Kebijakan
    3. Ceraki : Pedagang bahan obat / jamu
    4. Citta : Maksud hati, pikiran
    5. Cumbana : Mencium
    6. Cumbanarasa : Kenikmatan bersenggama

    Huruf D

    1. Dahayu : Cantik, molek, elok
    2. Daksa : Badan (KBBI)
    3. Dama : Cinta Kasih
    4. Dampo : Sapaan orang tua yang mengadopsi anaknya (Saudara)
    5. Dayita : Kekasih
    6. Dersik : Desir, bunyi angin (KBBI)
    7. Dewana : Tergila-gila
    8. Diksi : Pilihan kata yang tepat atau selaras
    9. Diperdom : Dimaki dengan kata makian “Perdom”
    10. Dore : Lumpur yang sangat cair, dalam dan dapat enghisap objek yang jatuh ke dalamny (lumpur hisap)

    Huruf E

    1. Efemeral : Tidak kekal hanya bersifat sesaat
    2. Eminser : Potongan yang sangat tipis dari daging, buah atau sayur
    3. Eonoia : Pemikiran yang indah dan baik

    Huruf F

    1. Faktisius : Nggak asli, tiruan, imitasi
    2. Fiat : Persetujuan yang diberikan secara penuh atau sah dan biasanya digunakan dalam kontek formal

    Huruf G

    1. Galaksi : Gugusan bintang
    2. Galau : Berat otak, bingung, kacau karut, karuut
    3. Gamang : Merasa takut, ngeri, serta khawatir ketika melihat ke bawah
    4. Gata : Telah pergi
    5. Gelabah : Sedih / gelisah
    6. Gemintang : Peta bintang, rasi bintang
    7. Geni : Api
    8. Geniwara : Ritual berpuasa dengan makanan yang dimasak dengan api
    9. Genosida : Pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau daerah
    10. Genta : Lonceng besar
    11. Gorilya : Pencuri, maling, pencolong

    Huruf H

    1. Halai-balai : Kusut, tidak keruh, terlantar
    2. Harsa : Gembira / bahagia, kegembiraan
    3. Hasta Karya : Kerajinan tangan / swakarya
    4. Hidu : Mencium aroma / bau
    5. Hirap : Hilang (KBBI)
    6. Hirta : Lumpur yang sangat halus, bewarna kuning atau kehijauan dan sering ditemukan menempel pada pipa air
    7. Holokaus : Penghancuran / pembuhan sistematis di seluruh wilayah kekuasaan nazi

    Huruf I

    1. Idrak : Dalam keadaaan merasaka, mencapai, mengetahui, mengsafi (sesuatu) yang diperoleh melalui pancaindera, akal dan batin
    2. Ina : Matahari pagi atau fajar
    3. Indurasmi : Sinar rembulan

    Huruf J

    1. Jamanikaa : Tirai atau tabir
    2. Janardana : Menggairahkan
    3. Japri : Jalur privat, jalur pribadi
    4. Jeremba : Mengulurkan tangan (untuk mencapai sesuatu), menggapai

    Huruf K

    1. Kalbu : Hati
    2. Kalis : Suci, bersih, murni
    3. Kama : Dipuja
    4. Kampa : Getaran
    5. Kampana : Mempunyai getaran
    6. Kenes : Anak kecil yang lincah dan terus aktif/genit
    7. Ketaksaan : Keraguan tentang makna, ambiguitas
    8. Kimpoidra : Rajanya pujangga
    9. Kirana : Sinarnya cantik dan molek
    10. Kiwari : Modern, kin dan kontemporer
    11. Klandestin : Secara diam-diam atau rahasia
    12. Kulacino : Bekas air di meja akibat gelas dingin atau basah

    Huruf L

    1. Lajnah : Panitia / komisi
    2. Laknat : Kutuk, seranah, serapah ,sumpah
    3. Lakuna : Ruang kosong / bagian yang hilang
    4. Ligar : Berligar-ligar / berputar-putar
    5. Lintang : Bintang
    6. Lokawigna : Pengganggu dunia

    Huruf M

    1. Madah : Kata-kata pujian / berpanjang-panjangan
    2. Mala : Sengsara
    3. Mangata : Bayangan bulan di air yang terbentuk seperti jalan
    4. Mangkus : Efektif, berhasil guna
    5. Masygul : Bersusah hati karena suatu sebab; sedih; murung
    6. Matrik : Batas / pembatas
    7. Mega : Awan
    8. Megar : Mekar (Jawa)
    9. Membacang : Menahan
    10. Meraki : Melakukan sesuatu dengan cinta, kreativitas dan sepenuh jiwa
    11. Mudita : Perasaan bahagia melihat kebahagiaan orang lain

    Huruf N

    1. Nabastala : Langit
    2. Nayanika : Mata yang indah dan memancarkan daya tarik
    3. Nirmala : Tanpa cacat, cela, bersih dan tidak bernoda
    4. Nuraga : Empati dan berbagi rasa

    Huruf P

    1. Padika : Syair
    2. Padikaku : Metode
    3. Padma : Teratai merah
    4. Padmarini : Indah serta tajam
    5. Pahang : Tangkai bunga
    6. Pair jantungku : Detak jantungku tidak normal
    7. Paksa : Sayap / separuh bulan
    8. Palapa : Memikat serta menarik hati
    9. Palawa : Bersemi
    10. Panasea : Obat untuk semua penyakit / kesulitan
    11. Pancarona : Bermacam warna / Panca warna ( KBBI)
    12. Payoda : Awan / Awan yang menghasilkan air
    13. Pedar : Benci, antipati, berang, bingit
    14. Perdom : Kata untuk memaki
    15. Petrikor : Aroma tanah saat terkena hujan
    16. Pilau : Perahu
    17. Pilon : Tidak tahu apa-apa

    Huruf R

    1. Rahara : Perempuan yang usisa yang selayaknya menikah
    2. Rahsa : Rasa / Rahasia
    3. Rajaswala : Penuh nafsu
    4. Recaka : Bernafas
    5. Rimpuh : Sudah tua sekali
    6. Risak : Mengusik / mengganggu
    7. Rodra : Kejam
    8. Romansa : Novel / atau kisah prosa lainnya yang berciri khas tindakan kepahlawanan, kehebatan dan keromantisan dengan latar belakang historis atau imajiner
    9. Rucira : Cemerlang
    10. Ruciragati : Luwes
    11. Rucita : Gemerlap
    12. Rudira : Darah
    13. Rudita : Ditangisi
    14. Rundung : Mengganggu, mengusik terus-menerus, menyusahkan

    Huruf S

    1. Saban : Tiap-tiap
    2. Sabana : Padang rumput yang ada pohonnya
    3. Sangkil : Efektif,efesiesn, beradaya guna
    4. Sarayu : Hembusan angin / angin
    5. Savana : Tidak baku dari sabana
    6. Sawala : Debat
    7. Sehari : Sebahu, sebau, sehaluan, sepakat, sependirian, sepikiran dan seragam
    8. Semenjana : Menengah, sedang yang biasa merujuk pada kasta
    9. Sempena : Berkah (KBBI)
    10. Senandika : Percakapan tokoh dengan dirinya sendiri
    11. Sepai : Berpecah menjadi kecil dan berserak kemana-mana
    12. Seracik : Seiris
    13. Serendipiti : Menemukan sesuatu yanng menyenangkan saat tidak bermaksud mencarinya
    14. Shyam : Kegelapan malam
    15. Suar : Nyala api (cahaya) untuk tanda
    16. Subtil : Halus, lembut
    17. Sumarah : Menyerah pada keadaan, pasrah
    18. Suryakanta : Kaca pembesar
    19. Swakarya : Hasil karya sendiri
    20. Swastaita : Matahari terbenam / sore hari
    21. Swastamita : Pemandangan indah matahari terbenam

    Huruf T

    1. Takaluf : Mengutamakan formalitas sampai menyulitkan diri sendiri
    2. Taklif : Menyerahkan beban (tugas kewajiban) yang sangat berat
    3. Terdayuh : Sedih
    4. Tergamang : Merasa kesunyian
    5. Teyan : Donasi / menyumbang
    6. Tirta Airmata : Air kehidupan

    Huruf U

    1. Ufuk : Kaki langit
    2. Ugem : Berpegang (teguh)

    Huruf V

    1. Visus : Ketajaman penglihatan / jernihnya pandangan (biasa digunakan dalam kedokteran)

    Huruf W

    1. Wasana : Kekuatan bawa sadar yang memengaruhi karakter
    2. Weharima : Kerja sama, gotong royong
    3. Wekel : Rajin dan sunggguh-sungguh; tekun
    4. Wiyata : Pengajaran / pelajaran

  • Pengertian, Jenis dan Contoh Rima dalam Puisi

    Pengertian, Jenis dan Contoh Rima dalam Puisi

    Pengertian Rima

    Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak. Rima termasuk salah satu unsur penting dalam puisi.

    Sebab, melalui rima, keindahan suatu puisi akan tercipta. Posisinya rima tidak selalu di akhir baris dalam satu bait, tapi juga bisa terletak dalam satu baris yang sama.

    Jenis-Jenis Rima

    Rima Berdasarkan Suku Kata

    • Rima Sempurna

    Seluruh suku akhirnya berirama sama.

    Contoh :

    ma – lang → ma – tipa – lang → ha – ti

    • Rima Tak Sempurna

    Hanya sebagian suku akhir yang sama.

    Contoh :

    pu – lang → pa – gitu – kang → ha – ri

    • Rima Mutlak

    Seluruh kata berima.

    Contoh :

    Mendatang-datang juaKenangan masa lampau
    Menghilang muncul juaYang dulu sinau-silau
    Kata jua yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak.

    • Rima Terbuka

    Yang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama.

    Contoh :

    bu – ka → ba – tu → pa – gimu – ka → pa – lu → la – ri

    • Rima Tertutup

    Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama.

    Contoh :

    hi – lang →  su – sut → li – dahma – lang → ta – kut → su – sah

    • Rima Aliterasi

    Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiuap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan.

    Contoh :

    Bukan beta bijak berperi
    Pandai  mengubah madahan syair
    Bunyi b pada kata-kata dalam baris pertama bait puisi di atas disebut rima aliterasi.

    • Rima Asonansi

    Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan.

    Contoh :

    se – cu – pak → tum – bang
    se – cu – kat → mun – dam

    Yang disebut asonansi ialah vokal-vokal e – u – a  dan u – a pada kata-kata tersebut di atas.

    • Rima Disonansi

    Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan.

    Contoh :

    Tin – dak → tan – duk ( i– a / a – u )Mon – dar → man – dir  ( o – a / a – i )

    Berdasarkan Letak Kata

    • Rima Awal

    Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata.

    Contoh :

    1. Pemuda kaulah harapan bangsa
    2. Pemuda jangan suka berpangku tangan
    • Rima Tengah

    Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah.

    Contoh :

    1. Pemuda kaulah harapan bangsa
    2. Pemudi kaulah harapan negeri
    • Rima Akhir

    Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir. Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam.

    Contoh :

    1. Tolong – menolong umpama jari
    2. Bantu membantu setiap hari
    3. Bekerja selalu berlima diri
    4. Itulah misal Tuhan memberi
    • Rima Tegak

    Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan.

    Contoh :
    Terlipat
    Terikat
    Engkau mencari
    Terang matahari

    • Rima Datar

    Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama.

    Contoh :

    1. Air mengalir menghilir sungai
    2. (bunyi ir pada akhir ketiga kata)
    • Rima Sejajar

    Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun.

    Contoh :

    1. Dapat sama laba
    2. Cicir sama rugi
    3. Bukit sama didaki
    4. Lurah sama dituruni
    5. Berat sama dipikul
    6. Ringan sama dijinjing
    7. Terapung sama hanyut
    8. Terendam sama basah
    • Rima Berpeluk (Rima Berpaut)

    Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga. Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rima a – b – b – a

    Contoh :

    1. Perasaan siapa ta’kan nyala ( a )
    2. Melihat anak berlagu dendang ( b )
    3. Seorang sajak di tepi padang ( b )
    4. Tiada berbaju buka kepala ( a )
  • Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya

    Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya

    Pengertian Puisi Rakyat

    Pengertian puisi rakyat adalah salah satu jenis sastra lama yang terikat oleh aturan atau syarat penulisan, seperti jumlah bait, baris, dan irama.

    Biasanya puisi rakyat disimbolkan sebagai gambaran atau ungkapan tradisional yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari.

    Lebih dari itu, puisi rakyat juga berisi pesan-pesan moral dan warisan para leluhur nenek moyang Indonesia yang lebih condong untuk selalu mengingat Tuhan (puji-pujian).

    Oleh karenanya, puisi rakyat masih terus dilestarikan sampai saat ini.

    Ciri – Ciri Puisi Rakyat

    Adapun ciri-ciri puisi rakyat adalah sebagai berikut:

    • Penutur atau pengarangnya tidak diketahui secara pasti.
    • Menyebar melalui mulut ke mulut.
    • Berupa sastra lisan.
    • Terikat aturan, seperti jumlah baris, bait, dan irama.
    • Berisi pesan dan nilai moral.
    • Kebanyakan untuk mengingat Tuhan.

    Elemen Puisi Rakyat

    • Puisi rakyat lebih kaku karena terikat aturan seperti jumlah kata dalam tiap baris, serta pengulangan kata yang biasanya diletakkan pada akhir sajak.
    • Puisi rakyat mengandung makna yang kuat melalui rangkaian kata.
    • Terdiri dari beberapa deret kalimat.

    Jenis – Jenis Puisi Rakyat

    Berikut adalah beberapa jenis puisi rakyat, diantaranya:

    1. Gurindam

    Pengertian gurindam adalah karya sastra lama berbentuk puisi yang terdiri dari dua baris kalimat yang memiliki rima atau sajak yang sama.

    Contohnya: Jika belajar besungguh-sungguh, Keberhasilan akan kau rengkuh.

    2. Syair

    Kata “Syair” berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang berarti “Perasaan”.

    Kata Syu’ur berkembang menjadi kata Syi’ru yang berarti “Puisi” dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum.

    3. Pantun

    Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti “penuntun”.

    4. Mantra

    Mantra termasuk dalam puisi lama yang dalam masyarakat Melayu tidak dianggap sebagai karya sastra, tetapi lebih terkait dengan kebiasaan dan kepercayaan.

    5. Karmina

    Karmina dikenal dengan nama pantun kilat atau pantun dua seuntai adalah pantun yang terdiri dari dua baris.

    Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi dengan pola sajak lurus.

    Karmina biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

    6. Seloka

    Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepatah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan.

    Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

    7. Talibun

    Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris.

    Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya. Ciri-ciri Talibun adalah seperti berikut:- Ia merupakan sejenis puisi bebas Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk menjelaskan pemerian.

    Contoh Puisi Rakyat

    Berikut adalah beberapa contoh puisi rakyat, diantaranya:

    Jentayu Yang Luka

    Tiba-tiba dia bangkit
    Dengan kelembutan yang tetap sopan
    Berdiri di barisan paling hadapan
    Sebagai pahlawan keadilan

    Lama dulu wajahnya tersembunyi
    Di belakang pemimpin berani sang suami
    Mengintip dengan mata kecilnya
    Segala tingkah dan senyuman pura-pura
    Si pengampu yang bermuka dua
    Si penyembah yang berjiwa hamba
    Si pengemis segenggam laba

    Dia adalah jentayu yang luka
    Terbang mengepak menyonsong gumpalan awan
    Mencakar menjeritkan kebebasan dan keadilan
    Mencabar dunia yang semakin kejam.

    Contoh Puisi Rakyat Berupa Syair

    1.) Jauhi semua perbuatan jahat
    Jauhi pula pebuatan maksiat
    Mari kita segera bertaubat
    Supaya kita selamat dunia akhirat

    2.) Jangan risau dengan cobaan
    Jangan bersedih karena kesulitan
    Berdoa saja pada Tuhan
    Insya Allah Dia kan kabulkan

    3.) Jangan lalaikan perintah-Nya
    Kerjakan yang disuruh-Nya
    Bertaubatlah kepada-Nya
    Dia pasti menerimanya

    Contoh Puisi Rakyat Berupa Gurindam

    Hakikat Seorang Guru

    Siapa hendak menjadi guru
    Maka rajinlah menuntut ilmu

    Ketika sudah menjadi guru
    Jangan merasa paling berilmu

    Karena di atas langit yang biru
    Masih ada langit yang lebih biru

    Ajarlah murid dengan ilmumu
    Serta teladan tingkah lakumu

    Jikalau itu sudah kau laku
    Resmilah engkau menjadi guru