Tag: sastra

  • Selasar Jejarak: Membaca Pertumbuhan Sastra Banyuwangi melalui Tiga Lanskap Penyair Beda Generasi

    Selasar Jejarak: Membaca Pertumbuhan Sastra Banyuwangi melalui Tiga Lanskap Penyair Beda Generasi

    BANYUWANGI — Sastra tidak pernah sepenuhnya terikat pada ruang geografis. Ia dapat lahir dari suatu tempat, tetapi bergerak melampaui batas-batas teritorial melalui pengalaman, ingatan, bahasa, dan imajinasi.

    Dalam konteks kepenyairan, tanah kelahiran bukan hanya latar biografis, melainkan dapat menjadi ruang kultural yang terus direkonstruksi melalui teks.

    Perspektif tersebut terasa dalam bedah buku puisi Selasar Jejarak karya Nurul Ludfia Rohmah, Muttafaqurrochmah, dan E.P. Albatiruna, yang digelar secara daring, Kamis (3/9/2026).

    Forum ini mempertemukan penyair, akademisi, pembaca, dan pegiat literasi untuk membaca karya ketiga penulis sekaligus menempatkannya dalam dinamika perkembangan sastra Banyuwangi.

    Buku tersebut menarik dibaca bukan semata karena menghadirkan tiga penyair dalam satu ruang antologi, tetapi juga karena memperlihatkan bagaimana pengalaman individual dapat bertransformasi menjadi pengalaman puitik.

    Di dalam puisi, pengalaman personal tidak lagi berhenti sebagai catatan biografis, melainkan mengalami proses seleksi, pengendapan, dan pengucapan melalui bahasa.

    Hadir sebagai pembedah Jack Parmin, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Siswanto, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember (Unej), serta Anton Wahyudi, dosen Universitas PGRI Jombang. Diskusi dipandu Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi.

    Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, membuka kegiatan dengan memberikan apresiasi terhadap ketiga penulis.

    Selasar Jejarak dipandang sebagai bagian dari proses pertumbuhan ekosistem sastra Banyuwangi yang ditandai oleh produktivitas penulis, penerbitan karya, serta terbentuknya ruang-ruang apresiasi dan diskusi.

    Tanah Kelahiran sebagai Ruang Kultural

    Salah satu aspek menarik dalam pembacaan Selasar Jejarak adalah hubungan antara penyair dan ruang asalnya.

    Salah satu penulis bahkan kini berada di Turki. Namun perpindahan geografis tersebut tidak serta-merta memutus hubungan kreatif dengan Banyuwangi. Sebaliknya, jarak dapat menjadi instrumen reflektif yang memungkinkan tanah kelahiran dilihat dari perspektif yang berbeda.

    Dalam konteks sastra, jarak sering kali menghasilkan paradoks. Semakin jauh seseorang meninggalkan sebuah tempat, semakin kuat kemungkinan tempat tersebut hadir sebagai memori.

    Banyuwangi kemudian tidak sekadar muncul sebagai nama geografis, tetapi sebagai konstruksi kultural yang dibentuk oleh pengalaman, bahasa, lanskap, dan ingatan.

    Puisi dengan demikian menjadi semacam ruang antara: antara masa lalu dan masa kini, antara tempat yang ditinggalkan dan tempat yang sedang dihuni, serta antara pengalaman individual dan ingatan kolektif.

    Ketika Teks Menjadi Peristiwa Bunyi

    Bedah buku diawali dengan pembacaan puisi oleh Nukhbatul Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi, peraih Liga Puisi tingkat guru tahun 2023.

    Pembacaan kemudian dilanjutkan Muhammad Enggar, SAW Notodiharjo, dan Kaka Rivy dari SMAN 1 Glagah.

    Rina Kartika, Kepala SMAN 1 Muncar, turut membacakan puisi. Kehadirannya memiliki keterkaitan khusus dengan salah satu penulis, Echa, yang merupakan alumni SMAN 1 Muncar.

    Pembacaan tersebut memperlihatkan bahwa puisi tidak hanya merupakan teks tertulis. Ketika dibaca, puisi mengalami transformasi menjadi peristiwa bunyi. Ritme, tekanan suara, jeda, dan artikulasi memberikan dimensi baru terhadap teks.

    Dengan demikian, forum tersebut tidak semata-mata menjadi ruang kritik sastra dalam pengertian akademis, tetapi juga menjadi ruang apresiasi estetik. Teks memperoleh tubuh melalui suara, sementara suara membuka kemungkinan tafsir baru bagi pembaca.

    Tiga Penyair, Tiga Jalan Kreatif

    Jack Parmin, Siswanto, dan Anton Wahyudi membaca karya-karya dalam Selasar Jejarak melalui perspektif yang beragam. Mereka melihat kekuatan artistik ketiga penyair sekaligus ruang pengembangan yang masih terbuka.

    Siswanto memberikan perhatian terhadap perkembangan sastra Banyuwangi yang dinilainya cukup pesat.

    Pertumbuhan tersebut tidak hanya dapat diukur melalui jumlah penulis dan karya yang lahir, tetapi juga melalui keberadaan komunitas, forum diskusi, kegiatan apresiasi, serta keberanian penulis membangun identitas kepenyairannya.

    Dalam perspektif perkembangan kesusastraan daerah, fenomena tersebut penting. Sebab ekosistem sastra tidak dibangun hanya oleh karya, tetapi juga oleh jejaring yang mempertemukan penulis, pembaca, akademisi, komunitas, lembaga kebudayaan, dan institusi pendidikan.

    Ketiga penulis dalam Selasar Jejarak memperlihatkan karakter kreatif yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan karena menunjukkan bahwa sastra Banyuwangi tidak bergerak dalam satu suara yang seragam.

    Sastra tumbuh melalui keberagaman perspektif.

    Ia berkembang ketika pengalaman yang berbeda diberi kesempatan untuk menemukan bentuk bahasa masing-masing.

    Pandangan mengenai perkembangan kreatif ketiga penulis juga disampaikan Tengsoe Tjahjono. Sastrawan sekaligus akademisi tersebut melihat adanya perkembangan yang cukup pesat dalam kemampuan ketiganya mengolah pengalaman menjadi puisi.

    Pengalaman, dalam konteks ini, tidak berhenti sebagai peristiwa yang dialami. Ia mengalami proses estetisasi: dipilih, direnungkan, ditafsirkan, kemudian dihadirkan kembali dalam struktur bahasa puitik.

    Dari Banyuwangi ke Ruang Sastra yang Lebih Luas

    Pembicaraan mengenai produktivitas sastra Banyuwangi juga datang dari Sangat Mahendra, sastrawan Madura.

    Hadir pula Yulitin dari Balai Bahasa dan Elvin Hendrata dari Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi.

    Sementara itu, Fatah Yasin Nor dari Komite Bahasa dan Sastra DKB Banyuwangi memberikan perhatian terhadap sejumlah puisi dalam buku tersebut, khususnya hubungan antara pengalaman personal penyair, lingkungan, dan Banyuwangi sebagai ruang kultural.

    Pembacaan tersebut memperlihatkan bahwa karya sastra dapat menjadi dokumen kultural tanpa harus kehilangan sifat estetiknya.

    Puisi mampu merekam perubahan zaman, tetapi tidak bekerja seperti laporan jurnalistik. Ia menyimpan realitas melalui simbol, metafora, citraan, dan pengalaman subjektif.

    Karena itu, Selasar Jejarak dapat ditempatkan sebagai salah satu penanda kecil dalam peta pertumbuhan sastra Banyuwangi.

    Bukan karena buku tersebut telah mengatakan segala sesuatu tentang Banyuwangi, melainkan karena ia menunjukkan bahwa masih banyak hal yang dapat dikatakan melalui puisi.

    Selasar yang Belum Berujung

    Pada akhirnya, Selasar Jejarak dapat dibaca sebagai metafora tentang perjalanan kepenyairan.

    Selasar adalah ruang antara. Ia bukan kamar, tetapi juga bukan halaman terbuka. Ia menjadi tempat orang berjalan, berhenti sejenak, berjumpa, lalu melanjutkan perjalanan.

    Demikian pula sastra Banyuwangi.

    Ia bergerak dari pengalaman personal menuju pengalaman sosial; dari kampung halaman menuju ruang global; dari teks menuju suara; dari penyair menuju pembaca.

    Seorang penyair dapat berada ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, tetapi bahasa memiliki kemampuan untuk menghadirkan kembali sebuah tempat melalui ingatan.

    Di titik itu, Banyuwangi bukan lagi sekadar koordinat geografis.

    Ia menjadi lanskap batin.

    Dan Selasar Jejarak memperlihatkan bahwa perjalanan sastra Banyuwangi masih panjang. Ketiga penyair tersebut mungkin baru sedang melewati sebuah selasar, tetapi di sepanjang perjalanan itu, mereka meninggalkan jejak kata yang memungkinkan pembaca berhenti, menoleh, lalu bertanya tentang makna.

    Sebab puisi tidak pernah benar-benar selesai ketika ditulis.

    Ia baru menemukan kehidupan ketika dibaca, ditafsirkan, dan diperdebatkan.

    Dari sanalah sastra tumbuh: bukan dalam keseragaman jawaban, melainkan dalam keberanian untuk terus mengajukan pertanyaan melalui bahasa. (Syaf)

  • Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    Festival Literasi Using 2026 Jadi Ajang Pelajar Banyuwangi Kenali Bahasa dan Budaya Daerah

    BANYUWANGI – Upaya menjaga Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi kembali dilakukan melalui Festival Literasi Using 2026.

    Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi ambil bagian dalam ajang tahunan yang digelar Sabtu (5/9) di SDN Kepatihan.

    Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal sekaligus menggunakan bahasa daerah melalui berbagai bentuk perlombaan.

    Festival tahun ini diikuti pelajar jenjang SD dan SMP. Sejumlah cabang yang dilombakan antara lain Geguritan atau baca puisi, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Ketua Panitia Festival Literasi Using 2026, Yeti Chotimah, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan Bahasa Using kepada pelajar melalui kegiatan yang bersifat kreatif.

    “Anak-anak tidak hanya kita ajak untuk belajar Bahasa Using, tetapi juga menggunakannya secara langsung melalui berbagai kegiatan. Harapannya, mereka semakin mengenal dan terbiasa menggunakan bahasa daerahnya,” kata Yeti.

    Menurut Yeti, keberagaman cabang yang dilombakan memberikan pilihan bagi pelajar untuk mengenal Bahasa Using melalui kemampuan yang berbeda-beda.

    Ada yang mengekspresikannya melalui puisi dan tembang, ada pula yang menggunakan bahasa tersebut dalam pidato, cerita, dongeng, maupun tulisan.

    Salah satu yang menarik perhatian adalah cabang Geguritan tingkat SMP. Peserta tidak hanya dituntut mampu membawakan puisi dengan baik, tetapi juga diperkenalkan pada karya-karya yang menggunakan Bahasa Using.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Panitia menyediakan dua buku sebagai pilihan materi yang dapat dibawakan peserta, yakni Antologi Gotong Royong karya Komunitas Gotong Royong 45 dan Sanga Puluh Sanga (99) Basa Using karya Ir. Zaenuri, seorang penyair yang telah menulis beberapa buku berbahasa Using.

    Antusiasme terhadap cabang Geguritan juga cukup tinggi. Jumlah peserta tingkat SMP dibatasi sebanyak 45 orang karena peminatnya pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya cukup banyak.

    Dalam penilaian, juri memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan peserta dalam memahami dan menyampaikan isi puisi.

    Maulana Affandi Juri Festival Literasi Using

    Penilaian cabang Geguritan dilakukan oleh juri dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam.

    Mereka di antaranya Maulana Affandi, mahasiswa Pascasarjana Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Nuhbatul Fakhiroh yang merupakan juara Liga Puisi, Nur Kamilasari yang merupakan praktisi puisi, Ulvatus Soviyah anggota MGMP, serta Ahmad Istiqlal yang menjadi juara Festival Literasi Using pada tahun sebelumnya.

    Tidak hanya Geguritan, cabang lainnya juga memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menggunakan Bahasa Using dalam bentuk yang berbeda.

    Ada peserta yang menyampaikan pidato, menembang, menulis, mendongeng, hingga membaca lontar.

    Beragamnya bentuk perlombaan membuat pelajar tidak hanya berhadapan dengan Bahasa Using sebagai materi pembelajaran.

    Mereka mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut melalui karya sastra, seni, dan penampilan di hadapan publik.

    Bagi budayawan, pertemuan pelajar dengan karya-karya berbahasa Using menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kompetisi itu sendiri.

    Sebab, proses mengenalkan bahasa daerah tidak berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana generasi muda mengenal karya yang lahir dari bahasa tersebut.

    Agus Wahyu Nuryadi alias Bung Aguk, budayawan dari Sanggar Merah Putih 45, menilai penggunaan karya sastra berbahasa Using dalam perlombaan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengenalan bahasa daerah kepada pelajar.

    Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di hadapan publik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan bahasa dan karya lokal.

    “Yang menarik dari kegiatan seperti ini adalah anak-anak tidak hanya belajar tampil. Mereka juga berhadapan langsung dengan karya dalam Bahasa Using. Dari situ mereka bisa mengenal kosakata, cara pengucapan, sekaligus memahami pesan yang ada dalam karya,” ujar Bung Aguk.

    Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan pelajar dengan bahasa dan karya lokal perlu terus dilakukan agar proses regenerasi tidak berhenti pada pengenalan budaya, tetapi berlanjut pada kemampuan untuk menggunakannya.

    Ia menilai pengalaman menggunakan Bahasa Using secara langsung dapat membantu pelajar lebih akrab dengan bahasa daerah, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan berkesenian.

  • Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Oleh: Andi Budi Setiawan

    Ruang kelas selalu menghadirkan wajah-wajah yang berbeda. Tidak hanya berbeda dalam kemampuan akademik, tetapi juga latar belakang keluarga, kondisi sosial, dan pengalaman hidup.

    Di tengah keragaman itulah seorang guru belajar memahami bahwa setiap perilaku peserta didik selalu memiliki cerita yang tidak tampak di permukaan.

    Saya pernah berhadapan dengan seorang siswa pindahan kelas XI, sebut saja Mawar. Pada semester awal, ia hadir sebagai sosok yang tenang, rajin, dan penuh semangat.

    Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjadi pusat perhatian dalam rapat dewan guru beberapa bulan kemudian.

    Namun, memasuki semester kedua, perubahan itu mulai terlihat. Kehadiran berkurang, tugas tidak dikerjakan, nilai merosot, hingga akhirnya terancam tidak naik kelas.

    Sebagai guru matematika yang saat itu juga menjabat kepala sekolah, saya mencoba menelusuri akar persoalan.

    Bersama wali kelas dan guru BK, kami menemukan bahwa Mawar sedang menghadapi konflik berat di rumah.

    Pertengkaran orang tuanya yang terus-menerus membuatnya kehilangan arah. Ia tidak lagi menemukan ketenangan di rumah, dan sekolah menjadi pelampiasan.

    Dari sinilah sikap acuh, pembangkangan, hingga pergaulan yang salah mulai muncul.

    Sekolah tidak tinggal diam. Peringatan diberikan, pembinaan dilakukan, dan orang tua dipanggil berkali-kali.

    Bahkan tiga surat peringatan resmi telah dilayangkan. Namun perubahan yang diharapkan tidak kunjung datang.

    Dalam rapat dewan guru, dengan pertimbangan yang sangat berat, sekolah memutuskan mengembalikan Mawar kepada orang tuanya karena merasa seluruh upaya pembinaan telah maksimal.

    Keputusan itu justru menjadi titik balik. Mawar dan orang tuanya tersadar bahwa waktu yang tersisa sangat sempit.

    Ia sudah berada di kelas XII dan akan segera menghadapi ujian akhir. Pindah sekolah hampir mustahil, sementara masa depan pendidikannya dipertaruhkan. Orang tua Mawar kemudian mengajukan mediasi ke dinas pendidikan.

    Pertemuan di kantor dinas berlangsung panjang dan penuh pertimbangan. Pihak sekolah memaparkan seluruh proses pembinaan yang telah dilakukan.

    Dinas memahami langkah sekolah, namun melihat adanya itikad baik dari Mawar dan keluarganya, kesempatan terakhir pun diberikan.

    Dengan satu syarat tegas: kesalahan sekecil apa pun akan berakibat dikembalikannya Mawar kepada orang tuanya.

    Sejak saat itu perubahan nyata terlihat. Orang tuanya mulai hadir secara utuh dalam kehidupan Mawar.

    Mereka mengantar dan menjemput setiap hari, menempuh jarak sekitar 18 kilometer. Mawar pun menunjukkan kesungguhan.

    Ia kembali masuk kelas, mengerjakan tugas, dan menjauhi pergaulan yang sebelumnya menjerumuskannya.

    Kesempatan terakhir itu benar-benar menjadi pintu kesadaran. Mawar tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh ijazah, tetapi juga memperlihatkan perubahan sikap yang signifikan.

    Ia menjadi lebih santun, bertanggung jawab, dan memiliki tujuan hidup yang jelas untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

    Kisah Mawar mengajarkan bahwa kenakalan peserta didik sering kali bukan semata-mata persoalan disiplin sekolah, melainkan cermin dari luka yang mereka bawa dari rumah.

    Ketika sekolah, keluarga, dan negara hadir bersama, pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki: menyelamatkan masa depan.

    Setiap anak bisa saja tersesat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk kembali. Kesempatan untuk berubah adalah anugerah yang tidak datang dua kali.

    Dan bagi seorang pendidik, melihat seorang siswa bangkit dari keterpurukan adalah keberhasilan yang jauh melampaui angka-angka di rapor.

  • Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Bagi penulis, dunia jurnalisme adalah ruang baru yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran.

    Di tengah keseharian sebagai guru matematika di sebuah SMK swasta di Banyuwangi yang diisi dengan mengajar di kelas, mendampingi bimbingan belajar, serta menulis karya sastra, penulis berusaha tetap menyisihkan waktu untuk menulis berita dan opini.

    Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas tambahan, melainkan panggilan nurani untuk ikut mengabadikan peristiwa dengan menghadirkan cerita yang bermakna bagi pembaca.

    Penulis telah lama menekuni dunia kepenulisan, mulai dari puisi, quote, opini, hingga buku, dengan capaian tiga buku solo serta delapan belas buku antologi fiksi dan nonfiksi.

    Tulisan-tulisan tersebut penulis bagikan melalui media sosial, laman pribadi, serta media daring.

    Namun, ketika bergabung sebagai jurnalis di media online Sastrawacana, penulis merasakan tantangan yang berbeda.

    Menulis berita menuntut kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab yang lebih besar.

    Penulis belajar bahwa sebuah peristiwa tidak cukup hanya ditulis, tetapi harus disajikan secara utuh, berimbang, dan bernilai bagi publik.

    Sastrawacana, bagi penulis, bukan sekadar media, tapi rumah literasi yang telah berdiri lebih dari sepuluh tahun dan konsisten menyuguhkan konten positif, edukatif, serta inspiratif.

    Fokusnya pada pendidikan, literasi, dan prestasi menjadikan media ini sejalan dengan nilai-nilai yang penulis perjuangkan.

    Karena itu, penulis memilih untuk menaruh perhatian besar pada pemberitaan seputar literasi dan dunia pendidikan, tentang bagaimana literasi tumbuh di Banyuwangi, tentang prestasi peserta didik, pendidik, sekolah, hingga peristiwa kecil yang sering kali luput dari sorotan.

    Di tengah padatnya aktivitas, penulis meyakini bahwa sekecil apa pun momen layak untuk ditulis. Sebab setiap peristiwa memiliki cerita, dan setiap cerita dapat menjadi inspirasi.

    Di situlah penulis menemukan makna jurnalisme: dedikasi untuk hadir, merekam, dan menyampaikan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

    Keyakinan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Pimpinan Redaksi Sastrawacana, Maulana Affandi, S.S.

    Menurutnya, Andi Budi Setiawan, S.Pd a.k.a Penapanuluh merupakan salah satu aset penting bagi Sastrawacana karena konsistensi dalam menulis, khususnya di bidang literasi dan pendidikan.

    “konsistensi dalam menulis berita maupun opini yang membuatnya layak memperoleh penghargaan.” ungkap Maulana Affandi.

    Penghujung tahun 2025 menjadi momen yang sangat berkesan bagi penulis.

    Penghargaan sebagai Jurnalis Produktif Tahun 2025 dari Sastrawacana bukan hanya sebuah pencapaian personal, melainkan pengakuan atas proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi.

    Penghargaan ini penulis terima langsung dari Maulana Affandi, sosok yang penulis hormati atas komitmennya menjaga marwah media yang positif dan berorientasi pada literasi.

    Penulis sangat tersanjung dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada beliau serta seluruh jajaran redaksi Sastrawacana atas program apresiasi ini.

    Bagi penulis, penghargaan ini memiliki makna yang mendalam.

    “Penghargaan ini bukan sekadar hadiah di penghujung tahun 2025, melainkan api semangat yang akan terus menyala untuk senantiasa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat lewat berita,” demikian yang selalu penulis yakini.

    Apresiasi ini menjadi motivasi tersendiri, bahwa setiap karya yang ditulis dan dirilis mendapatkan tempat serta penghargaan yang layak.

    Penghargaan ini semakin menguatkan keyakinan penulis bahwa jurnalisme dan literasi adalah dua sayap yang membantu penulis terbang menggapai tujuan: memberi kontribusi positif bagi masyarakat melalui tulisan.

    Sebagai Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), semangat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja literasi harus terus diperjuangkan, kapan pun dan di mana pun.

    Harapan penulis, program apresiasi seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi pemantik semangat bagi jurnalis lainnya untuk giat menulis berita, opini, maupun artikel yang mencerahkan.

    Mari bersama-sama menjaga Sastrawacana sebagai ruang bersama untuk menyuguhkan informasi yang positif dan edukatif, serta terus menyalakan api literasi melalui tulisan yang jujur, konsisten, dan bertanggung jawab.

  • Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

    Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

    Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri
    Oleh : Syafaat

    Suatu hari, di tengah hiruk-pikuk ibukota yang menua oleh kebijakan, seorang menteri berdiri dengan ketenangan yang aneh, seolah baru saja memindahkan bidak terakhir dalam permainan catur yang tak pernah dimenangkan siapa pun.

    Purbaya Yudhi Sadewa, sang Menteri Keuangan, berbicara tentang langkah baru yang tak pernah dibayangkan oleh para birokrat masa lalu: negara akan memanggil para hacker, para penembus dinding digital, untuk menambal bocornya jantung data pajak bangsa yang bernama Coretax.

    Di balik nadanya yang datar terselip sesuatu yang samar: rasa bangga yang berbaur dengan kegelisahan. Sebab apa yang lebih menakutkan daripada sebuah negara yang harus diselamatkan oleh para peretasnya sendiri?

    Di dunia yang lain, beberapa bulan sebelumnya, seperti ditulis Denny JA dengan judul “Dan Artificial Intelligence Pun Diangkat Menjadi Menteri” bercerita tentang sebuah berita dari Albania, negara kecil di Balkan yang tiba-tiba melompat jauh ke masa depan.

    Di sana, pemerintah mengangkat sosok digital bernama Diella, sebuah Artificial Intelligence yang diberi gelar menteri dan diberi tugas memberantas korupsi.

    Ia tidak bernafas, tidak mengenal lapar, tidak mengenal rasa takut. Tak ada darah, tapi penuh logika, tak ada kepentingan, hanya algoritma yang bekerja seperti doa yang tak bisa disuap.

    Diella tampil dalam wujud perempuan berpakaian adat rakyat Albania, suaranya jernih, tidak menuntut kepercayaan, namun justru menimbulkan ketakziman baru, karena untuk pertama kalinya, janji pemberantasan korupsi diucapkan oleh sesuatu yang bukan manusia.

    Dunia menatapnya dengan rasa takjub bercampur gentar, seperti anak kecil yang melihat api untuk pertama kali: indah, tapi tak bisa disentuh.

    Bayangan tentang Diella menimbulkan gema yang aneh di kepala, ada sesuatu yang terasa familiar, seperti deja vu dari dunia sinema dua dekade lalu.

    S1m0ne, film lama dari tahun 2002, berkisah tentang sutradara yang menciptakan aktris digital bernama Simulation One (Simone) sebuah ciptaan sempurna yang memikat dunia dengan pesonanya.

    Simone tidak pernah ada, namun dunia mengidolakannya, bahkan mencintainya. dan di situlah paradoks itu lahir: manusia selalu ingin sesuatu yang murni, tapi hanya mampu menciptakannya dalam bentuk ilusi.

    Kini, ilusi itu berjalan di antara kita, dengan bentuk yang lebih halus, lebih nyata, lebih sistematis, dalam dunia yang dikendalikan data, manusia mulai bernegosiasi dengan algoritma dan berunding dengan kode.

    Bayangkan jika suatu pagi, di Jakarta yang masih berkabut oleh debu politik, pemerintah mengumumkan hadirnya seorang Dirjen Pajak digital, AI yang menghitung semua transaksi dengan ketepatan sempurna, yang tidak mengenal amplop, tidak mengenal kasihan, dan tidak pernah tidur.

    Publik mungkin akan bersorak karena merasa menemukan obat bagi penyakit lama, namun di balik sorak itu, ada rasa waswas yang menggantung: manusia selalu takut pada ciptaannya sendiri ketika ciptaan itu mulai melampaui batas tuannya.

    Para hacker yang kini dipanggil oleh sang menteri bisa saja menjadi para patriot digital, penjaga baru negeri yang retak oleh kebocoran data dan korupsi yang tak pernah benar-benar mati.

    Mereka bekerja di sunyi, di hadapan layar yang memantulkan wajah mereka sendiri, dengan mata yang menyala oleh cahaya biru system, dalam diam, mereka memegang kunci dunia yang tak terlihat: dunia di mana uang bisa menguap tanpa jejak, dan kebenaran bisa dihapus dengan satu perintah.

    Namun di sisi lain, mereka juga bagian dari paradoks itu sendiri, manusia yang mampu menembus sistem, tapi tak selalu mampu menembus nuraninya.

    Artificial Intelligence bisa bekerja lebih cepat dari detak jantung manusia, dan mungkin lebih akurat dari nurani yang telah lama aus oleh godaan dunia.

    Ia tidak mengenal lapar, tidak pernah lelah, dan tidak butuh pujian, di tangan algoritma, angka menjadi ayat yang tak bisa dibantah, keputusan menjadi sebersih logika yang tak punya selera.

    Mungkin jika suatu hari ia diangkat menjadi pejabat, meja birokrasi akan berhenti berdebu oleh amplop.

    Tak akan ada lagi tanda tangan yang gemetar oleh rasa takut kehilangan jabatan, atau laporan yang disusun dengan tinta kepentingan, di ruang-ruang kantor yang selama ini berisi bisik-bisik transaksi, hanya akan terdengar dengung mesin yang setia menghitung tanpa menipu.

    Dalam sejarah negeri ini, pernah ada masa ketika para petani, santri, dan penyair menjadi penyelamat bangsa.

    Mereka bangkit dari tanah, dari sajadah, dari lembar-lembar kertas yang berdebu, membawa harapan dalam bentuk yang paling sederhana: cangkul yang menggali kehidupan, doa yang menegakkan langit, dan kata-kata yang menghidupkan kembali jiwa yang letih.

    Dari kesunyian sawah, dari pesantren di pinggir sungai, dari rumah-rumah bambu yang penuh cahaya lampu minyak, lahirlah kesetiaan pada tanah air, pada manusia, pada kejujuran yang tak bisa dijual dengan apapun. Mereka bukan pemilik algoritma, tapi mereka memahami ritme bumi dan rahasia hati.

    Kini, zaman telah berpindah arah. Di tempat yang dulu berdiri lumbung dan langgar, kini menjulang menara-menara sinyal. Dunia yang dulu diikat oleh sabda, kini diatur oleh sistem.

    Dan mungkin, penyelamat itu datang dalam wujud yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulu: mereka yang hidup di dunia maya, bernafas melalui jaringan, bekerja dalam kesunyian cahaya biru layar.

    Mereka bukan malaikat, tidak pula nabi, namun di jari-jarinya mengalir bahasa baru—bahasa yang hanya dimengerti oleh mesin, tapi perlahan menulis ulang nasib manusia.

    Mereka duduk di hadapan layar seperti para rahib digital, menatap baris-baris kode seperti ayat yang terus diperbarui.

    Tak ada aroma tanah, tak ada denting azan, hanya suara kipas prosesor yang terus berputar, seolah zikir yang tak henti-henti.

    Dari balik cahaya itu, mereka mencoba menambal retak dunia—mencegah bocornya data, menjaga kejujuran yang telah kehilangan alamat.

    Di tangan mereka tersimpan kemungkinan baru: masa depan yang tidak lagi digerakkan oleh tangan, melainkan oleh logika yang tak punya rasa. Sebuah dunia yang bersih tapi beku, jujur tapi sunyi, efisien tapi tanpa getar kasih.

    Dan entah bagaimana, manusia harus belajar hidup di dalamnya, antara rindu pada masa lalu yang hangat dan keyakinan pada masa depan yang serba pasti. Sebab zaman terus bergerak, dan penyelamat selalu berganti rupa.

    Dulu mereka datang dengan cangkul, tasbih, dan pena; kini mereka datang dengan algoritma, jaringan, dan layar tanpa wajah.

    Namun satu hal tak berubah: mereka tetap berjuang, dengan cara mereka masing-masing, untuk menjaga sesuatu yang nyaris hilang—jiwa manusia di tengah dunia yang perlahan menjadi mesin.

    Diella di Albania mungkin sedang menatap ke arah selatan dunia, ke negeri yang sedang mencoba menambal lubang-lubang digitalnya dengan cara-cara lama yang dibungkus istilah baru.

    Jika ia mampu tersenyum, mungkin ia akan tersenyum. Karena pada akhirnya manusia memang selalu berlari di belakang ciptaannya sendiri—menciptakan mesin untuk menambal kesalahan manusia, dan menciptakan manusia untuk memperbaiki kesalahan mesin.

    Negeri ini, seperti kapal tua di tengah badai, berderit di setiap sisinya. Bukan karena angin politik, melainkan karena gelombang data yang tak kasat mata, yang bergerak lebih cepat daripada logika para pengelolanya.

    Para hacker itu hanyalah penambal sementara, peretas bocor demi bocor, dalam kapal yang terus berlayar di tengah lautan algoritma.

    Mungkin di ujung perjalanan nanti, akan lahir versi Indonesia dari Diella—sebuah entitas digital yang duduk di kursi birokrasi, menandatangani kebijakan tanpa tremor, berbicara tanpa salah diksi, dan tak mengenal kampanye. Negara akan memujanya, sebagaimana dulu memuja dewa-dewa di masa lampau.

    Namun di antara semua kemungkinan itu, masih tersisa satu ruang kecil yang tidak bisa dijangkau mesin mana pun: ruang di mana manusia menyimpan rasa malu, cinta, dan doa.

    Selama ruang itu masih ada, dunia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya, karena ada sesuatu dalam diri manusia yang tak bisa diretas, bukan oleh hacker paling jenius, bukan oleh Diella dari Albania, dan bahkan bukan oleh Simone yang tak pernah benar-benar hidup.

    Sesuatu yang tak terukur, tapi ada. Seperti keyakinan. Seperti nurani. Seperti iman.

    Bionarasi

    Syafaat, Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, sebuah rumah kecil tempat para penulis dan sastrawan bernaung, seperti lilin- lilin yang bersama-sama menjaga nyala. Juga sebagai pimred wartablambangan.com

    buku-buku yang menjadi saksi perjalanannya: 1, Cinta dan Pernikahan (2014): 2, Mengelola Pernikahan dan Keluarga dalam Praktek Hukum Agama dan Budaya (2025), 3, Perjalanan Haji Orang-Orang Terpilih (2017), 4, Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji (2024), dan kumpulan puisinya, 5, Seikat Petikan Jiwa Malam (2025).

    Beberapa tulisannya juga dimuat di beberapa media seperti kemenag.go.id sastrawacana.id/ dll.

  • Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi
    Oleh: Syafaat

    Liga Puisi 4 yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi memang telah berakhir, namun gema dan napasnya belum benar-benar pergi. Ia masih berputar di udara seperti gema adzan di dada yang belum selesai berdzikir.

    Setiap kali kenangan itu disentuh, terdengar kembali suara-suara anak madrasah yang membaca puisi dengan wajah serius, suara yang mungkin sedikit gemetar, namun jujur. Suara yang tidak hanya mengucapkan kata, tetapi menyalakan lentera kecil di dalam dirinya sendiri.

    Dari empat kategori jenjang yang dilombakan, tiga juara pertama diraih oleh insan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, dan kategori guru.

    Tiga kemenangan itu seperti tiga bait dalam satu puisi panjang tentang kesabaran, bait pertama ketulusan, bait kedua keuletan, bait ketiga doa yang tak bersuara.

    Orang bisa menyebutnya keberuntungan, tetapi siapa pun yang memahami denyut hidup di madrasah akan tahu: ini bukan kebetulan.

    Ini buah dari kerja panjang yang senyap, dari peluh yang jatuh di antara dhuha dan ashar, dari latihan-latihan kecil yang tak pernah dimuat di berita, tapi menyimpan cahaya di baliknya, seperti lampu minyak yang terus menyala di tengah malam panjang.

    Madrasah adalah dunia kecil yang melatih kepekaan dengan cara paling sederhana. Di sana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, melagukan Tilawah dengan suara yang bening, lalu tanpa sadar belajar pula membaca kehidupan dengan rasa yang halus.

    Dua tahun sekali mereka mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) hingga ke tingkat provinsi—dan membaca puisi selalu menjadi cabang lomba yang ditunggu, seperti zikir yang berubah rupa menjadi suara.

    Di madrasah, puisi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan pelengkap iman. Anak-anak membaca dan menulis tentang ibu yang tak pernah berhenti berdoa, tentang guru yang berjalan di bawah gerimis membawa spidol, tentang langit pagi yang disapa dengan salam dan harapan.

    Sering kali terlupa bahwa di balik seragam hijau tua itu, tersimpan anak-anak yang memendam mimpi menjadi penyair. Mereka mungkin tak memiliki banyak buku sastra, tetapi mereka punya guru yang mengajarkan makna kata ikhlas.

    Mungkin karena itu, setiap kali mereka membaca puisi, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, getar yang membuat penonton diam sejenak sebelum bertepuk tangan. Bukan karena kagum, tetapi karena terharu. Sebab yang berbicara di atas panggung bukan sekadar anak madrasah, melainkan hati yang sedang mencari cara untuk bersyukur.

    Kini banyak madrasah menggandeng pelatih profesional, bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena ingin belajar dari yang terbaik. Mereka tahu, membaca puisi bukan hanya tentang suara, tetapi tentang keberanian membuka hati.

    Di antara anak-anak itu, ada yang dulunya pemalu, tak berani bicara di depan kelas. Namun ketika diberi teks puisi dan diminta membaca, sesuatu di dalam dirinya menyala. Puisi memberi ruang untuk menjadi diri sendiri, memberi tempat bagi jiwa untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

    Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir semakin giat menumbuhkan gerakan literasi dan sastra. Guru-guru madrasah dan ASN membentuk komunitas, menerbitkan antologi, menulis di media.

    Sebagian dari mereka bahkan rutin mengadakan pelatihan menulis di sela jam mengajar, di antara azan dan ujian. Literasi di madrasah bukan sekadar program, melainkan jalan menuju empati; bukan lomba untuk menang, tetapi perjalanan menuju pencerahan.

    Entah dengan rahasia apa, madrasah selalu punya cara yang lembut namun dalam dalam menanak rasa. Kata-kata di sana tumbuh dari tanah yang disiram doa dan diterangi ayat.

    Saat para santri menulis, ada aroma kitab yang baru saja dibuka, wangi kertas, tinta, dan kesunyian yang penuh makna. Di antara diksi-diksi mereka tercium jejak sujud yang panjang, langkah kecil menuju pemahaman yang tak selalu perlu dijelaskan.

    Dan ketika mereka membaca, suara mereka datang dari ruang yang lebih jauh dari sekadar panggung, ada gema doa di setiap jeda, ada dzikir yang bersembunyi di antara tanda baca.

    Bahasa mereka mungkin belum semegah para penyair besar, tetapi kejujuran mereka berdenyut lebih hangat, lebih hidup—seperti embun yang tak tahu bahwa dirinya sedang memantulkan cahaya matahari. Sebab di madrasah, kata-kata tak pernah dikejar untuk dipuji, melainkan dijaga agar tetap suci.

    Di sana, kalimat lahir dari hati yang terbiasa tunduk pada makna, dan setiap makna adalah perjalanan pulang menuju Yang Maha Kata.

    Liga Puisi bukan sekadar ajang, melainkan cermin kecil dari apa yang telah mereka tanam bertahun-tahun. Kemenangan bukan tujuan utama, mereka datang bukan hanya untuk bersaing, tetapi untuk berbagi ruh.

    Ada murid MI yang membaca puisi tentang pendidikan dan kemiskinan, guru madrasah yang menulis tentang sunyi ruang kelas dan karut-marut nasib anak bangsa, siswi MTs yang suaranya nyaris pecah menahan tangis saat membaca tentang perjuangan orang tua. Tak satu pun dari itu dibuat-buat, semuanya lahir dari hati yang mengenal kehilangan dan doa.

    Layak diteladani, bagaimana mereka saling mendukung tanpa iri, tanpa ingin tampil paling indah. Di ruang lomba itu, terpantul semangat lama: bahwa puisi tidak dilahirkan dari kepandaian, melainkan dari kepedihan yang diterima dengan sabar.

    Dan barangkali di situlah madrasah menang, karena mereka telah terbiasa menulis dan membaca dengan kesabaran, seperti santri yang belajar menulis huruf arab satu demi satu hingga menjadi doa yang utuh.

    Madrasah, dengan segala kesederhanaannya, kini menjelma taman kata. Di sana, iman dan imajinasi saling berpelukan seperti dua sahabat lama yang tak pernah benar-benar berpisah. Anak-anak belajar shalawat sambil belajar metafora, menulis bukan untuk terkenal, melainkan agar langit mendengar.

    Setiap bait menjadi doa yang disusun dalam bentuk baru; setiap kata adalah zikir yang disampaikan dengan nada lembut. Suatu hari nanti, tak ada lagi yang heran melihat madrasah terus melahirkan penyair.

    Sebab di sana, puisi tak pernah diajarkan sebagai pelajaran, tetapi dihidupkan sebagai kehidupan. Membaca puisi menjadi cara lain untuk bersyukur, menulis puisi menjadi bentuk zikir yang paling sunyi.

    Dan ketika panggung Liga Puisi telah kosong, mikrofon dimatikan, para juri meninggalkan tepat, gema itu masih tinggal. Ia bergetar di dada para guru yang tersenyum bangga, berbisik di hati anak-anak yang malamnya masih mengulang bait-baitnya di depan cermin.

    Di dunia yang semakin bising ini, madrasah telah memberi satu anugerah paling berharga: kemampuan untuk mendengarkan suara hati sendiri, suara yang lirih namun abadi, yang kelak tumbuh menjadi puisi kehidupan itu sendiri.

    Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

  • DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendukung agar sastra lokal, seperti sastra khas Tegal di Jawa Tengah, dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

    Menurut Fikri, upaya tersebut penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal.

    “Semarak Budaya itu mempunyai makna satu perlindungan budaya. Jadi, Tegal itu punya kekhasan Jawa tetapi berbeda, bukan Sunda tetapi Jawa, Nah, bahasanya saja berbeda, kemudian nanti ada budaya-budaya lain seperti tari dan sebagainya,” kata Fikri.

    Dukungan itu disampaikan dalam kegiatan Rembuk Budaya Tegal yang digelar di Pelataran Sastra Piek Ardiyanto Supriyadi, Kota Tegal.

    Acara tersebut merupakan bagian dari masa reses anggota DPR, hasil kerja sama antara DPR RI dan Kementerian Kebudayaan RI, dengan tujuan merawat serta mengembangkan kekayaan budaya lokal.

    Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan seniman, budayawan, dan generasi muda itu diharapkan menjadi momentum memperkuat karakter budaya Tegal.

    Fikri berharap kekayaan lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan.

    Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX, yang meliputi Kabupaten dan Kota Brebes serta Tegal, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

    “Pemajuan budaya harus mencakup empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa kementeriannya terus memberikan dukungan terhadap subsektor yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan.

    “Begitu juga dukungan kepada komunitas dalam berbagai bentuk baik sarana-prasarana, dukungan dalam berbagai macam event, festival-festival internasional. Misalnya, kita hampir hadir di semua festival film internasional dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan sebagian mempunyai prestasi, sebagian besar kita mendapatkan pencapaian. Begitu juga untuk seni dan juga ekspresi budaya lain,” ujar Fadli Zon.

    Fadli menjelaskan bahwa perhatian kementeriannya tidak hanya terfokus pada bidang seni, tetapi juga mencakup manuskrip, bahasa, sastra, pangan tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, dan berbagai unsur budaya lainnya.

    Sumber: Antara

  • Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Suasana haru dan semarak mewarnai peluncuran buku puisi berbahasa Using bertajuk “Sangang Puluh Sanga (99)”, karya Drs. Ir. Jainuri, NZ, M.Pd yang digelar di LKP TMB Elit, Lemahbang Dewo, Sabtu (12/10).

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) merupakan karya ketiga Jainuri dalam genre puisi berbahasa Using, setelah sebelumnya ia menerbitkan Guritan Telu Likur (23) dan Guritan Suwidak Siji (61).

    Ketiga buku tersebut membentuk semacam trilogi yang memperlihatkan konsistensi dan dedikasi Jainuri dalam menghidupkan bahasa Using melalui sastra.

    Acara yang dipandu oleh Nikmatur Rosyida ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan pegiat seni budaya.

    Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd, M.M; Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Drs. Hasan Basri; Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si; budayawan sekaligus Ketua Kiling Using, Aekanu Hariyono; serta perwakilan dari berbagai komunitas literasi dan seni, termasuk komunitas sastra Kopiwangi.

    Para peserta yang hadir berasal dari beragam elemen, mulai dari pengajar, pegiat literasi, seniman, budayawan, serta mahasiswa dan pelajar yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap peluncuran buku ini.

    Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd.,  M.M, memberikan apresiasi mendalam terhadap karya Jainuri. Ia bahkan membacakan salah satu puisi dari buku tersebut yang berjudul “Guru”.

    “Inilah hasil kristalisasi intuisi yang kemudian dijadikan karya. Sebuah proses kreatif yang tidak bisa diraih secara instan,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, “Jika seseorang bisa terus melahirkan karya, berarti orang itu luar biasa. Apalagi jika karya itu mampu menginspirasi dan mengangkat budaya lokal seperti yang dilakukan Pak Jainuri.”

    Sementara itu, dalam testimoni, Aekanu Hariyono, budayawan Banyuwangi yang juga Ketua Kiling Using, menyampaikan bahwa kehadiran buku Sangang Puluh Sanga (99) menjadi oase dalam upaya pelestarian budaya daerah, khususnya bahasa Using.

    “Karya ini bisa digunakan untuk nguri-nguri Bahasa Using agar tetap hidup di kalangan generasi muda. Ini penting agar anak-anak kita tidak kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

    Apresiasi tertulis juga datang dari Ketua DKB, Drs. Hasan Basri. Ia menilai buku puisi Using karya Jainuri memiliki kompleksitas yang tinggi, bukan hanya dari sisi bahasa, tetapi juga tema-tema yang diangkat.

    Acara peluncuran buku juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan seni, salah satunya penampilan Avila, murid MI Islamiyah Rogojampi, yang membawakan dongeng berjudul Sritanjung Hidup Lagi.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si, turut memberikan testimoni. Ia berharap karya ini dapat menjangkau lebih luas generasi muda.

    “Pak Jaenuri menginspirasi kita semua. Buku ini bisa menjadi jendela budaya. Anak-anak muda Banyuwangi harus tahu bahwa bahasa Using itu kaya, dan puisi adalah cara indah untuk menyampaikannya,” tegas Taufik.

    Sementara itu, Ketua komunitas Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, yang juga dikenal sebagai penyair puisi, turut memberikan apresiasi dengan peluncuran buku puisi ini.

    “Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan tonggak sejarah bagi perkembangan literasi lokal. Kita perlu mendukung lebih banyak karya seperti ini agar semangat berkarya tidak pernah padam, khususnya dalam bahasa ibu kita sendiri,” kata Andi.

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) berisi 99 puisi yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Using.

    Sebuah usaha nyata dari Jainuri untuk memperkenalkan kembali keindahan bahasa lokal kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus mendokumentasikannya dalam bentuk karya sastra yang dapat dinikmati lintas generasi.

    Acara peluncuran ini bukan hanya menjadi ajang perayaan karya sastra, tetapi juga ruang temu dan diskusi lintas komunitas tentang pentingnya menjaga budaya dan bahasa daerah di tengah arus globalisasi.

  • Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember
    Oleh : Syafaat
    (Pendamping Kafilah Kab. Banyuwangi)

    Langit malam itu seakan menuliskan ayat-ayat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

    Sejak awal saya tidak mengira bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an provinsi Jawa Timur ke XXXI bisa dihadirkan dengan cara seperti itu, dengan cahaya-cahaya yang menari di udara, dengan huruf-huruf yang seolah jatuh dari langit, dengan kalimat yang tidak bersuara tapi justru lebih dalam menembus hati.

    Bagi sebagian orang mungkin itu hanya atraksi teknologi, hanya permainan lampu dari ratusan drone yang dikendalikan komputer.

    Namun bagi saya, itu adalah tanda, itu adalah isyarat, itu adalah ayat yang lain. Ayat yang tidak ditulis dengan tinta, tidak dibacakan dengan suara, melainkan dilukiskan dengan cahaya, dipamerkan di langit, dan ditinggalkan di hati.

    Malam itu saya belajar sesuatu: bahwa firman Tuhan tidak pernah bisa dibatasi. Mushaf adalah rumahnya, tilawah adalah suaranya, hafalan adalah bentengnya, tetapi hakikat firman Tuhan selalu mencari jalan untuk mendekati manusia.

    Kadang ia hadir dalam lantunan anak kecil yang terbata, kadang dalam suara tua yang parau, kadang dalam doa lirih seorang ibu yang memeluk anaknya, dan malam itu firman itu hadir dalam cahaya, menari di langit Jember.

    Saya tahu, cinta kepada kitab suci bukan sekadar hafalan. Hafalan bisa hilang, bisa terlupa, bisa salah urutan. Tetapi cinta yang menempel di dada tidak akan hilang, ia akan terus menyala bahkan ketika lidah tidak mampu melafalkan lagi.

    Ketika saya melihat anak-anak kafilah yang saya dampingi tertidur di kursi belakang mobil dalam perjalanan pulang, saya merasa seakan Tuhan sedang membisikkan sesuatu: bahwa tugas saya bukan hanya mengantar mereka ikut lomba, bukan hanya memastikan mereka tampil baik di hadapan dewan hakim, tetapi mengantar mereka berjalan di jalan panjang cinta kepada Al-Qur’an.

    Tilawah bisa dilombakan, tajwid bisa dinilai, suara bisa diperingkat, tetapi cinta tidak bisa diberi angka. Cinta hanya bisa ditumbuhkan, dirawat, dipelihara dengan doa dan kasih. Dan cinta itu yang harus menjadi bekal anak-anak ini, bukan hanya piala yang bisa berdebu di lemari.

    Saya teringat pada sebuah kisah lama tentang seorang sufi. Ia tidak pandai membaca Al-Qur’an. Ia hanya bisa mengulang satu ayat, dengan suara yang parau, dengan bacaan yang tidak sempurna.

    Orang-orang menertawakannya, mencibirnya, menganggapnya tak pantas. Tetapi dalam mimpinya, sufi itu mendengar suara Tuhan yang mengatakan: “Aku lebih menyukai satu ayatmu yang penuh cinta daripada seribu ayat yang dibaca tanpa hati.” Malam itu saya merasa seperti sufi itu.

    Tidak ada suara, tidak ada tartil, hanya cahaya drone yang menulis huruf-huruf di langit.

    Tetapi justru dari situ hati saya tersentuh, lebih dalam daripada sekadar mendengar suara qari yang merdu. Dan saya sadar, inilah hakikat cinta religius. Ia tidak butuh alasan panjang, tidak butuh penjelasan rumit.

    Cinta religius adalah ketika hati bergetar hanya karena mendengar satu ayat, atau melihat satu cahaya, atau merasakan satu sentuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang berwudhu bukan karena ingin shalat, tetapi karena ia ingin wajahnya segar ketika menghadap Tuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang menangis bukan karena sedang susah, tetapi karena ayat yang dibacanya tiba-tiba terasa seperti surat pribadi dari Tuhan yang ditujukan hanya untuknya.

    Malam MTQ ke XXXI itu memang penuh keramaian, penuh musik, penuh parade. Tetapi yang tinggal di hati saya bukanlah gemerlapnya panggung, bukan pula suara pidato pejabat, melainkan saat-saat langit terbuka dan menuliskan huruf-huruf bercahaya.

    Saya yakin, bagi setiap orang yang menengadah malam itu, ada doa yang diam-diam terpanjat. Ada rasa yang sulit dijelaskan, rasa bahwa kita sedang dilihat oleh sesuatu yang lebih besar, rasa bahwa firman Tuhan selalu menemukan cara untuk turun ke bumi.

    Saya teringat pada ibu saya, yang setiap malam membaca surat Yasin dengan suara lirih. Tidak pernah tartil sempurna, tidak pernah dengan suara merdu.

    Tetapi dari bibirnya saya belajar, bahwa membaca Al-Qur’an bukan untuk dipuji, bukan untuk didengar orang, melainkan untuk membuat hati lebih tenang.

    Cinta ibu kepada Al-Qur’an bukan hafalan yang panjang, melainkan kebiasaan sederhana yang dilakukan tanpa henti. Dari situlah saya tahu, bahwa cinta kepada kitab suci adalah soal kesetiaan, bukan soal kemampuan.

    Kesetiaan membuka mushaf, kesetiaan melafalkan ayat, kesetiaan mendengarkan bacaan orang lain, kesetiaan menundukkan hati ketika ayat dibacakan.

    Dan kesetiaan itulah yang kadang hilang dalam kehidupan modern kita. Kita mudah terpesona pada lomba besar, pada suara merdu, pada panggung yang megah, tetapi lupa pada mushaf kecil yang sepi di pojok rumah.

    Kita sibuk mengejar juara, tetapi lupa membisikkan doa untuk anak-anak yang belajar terbata. Kita bangga dengan hafalan ribuan ayat, tetapi lupa menumbuhkan cinta yang sederhana.

    Padahal, tanpa cinta, hafalan akan kering. Tanpa cinta, tilawah hanya akan jadi nyanyian indah tanpa makna.

    Tanpa cinta, MTQ hanya akan jadi pesta besar yang segera terlupakan. Cinta adalah inti dari semua ibadah. Ketika seseorang shalat tanpa cinta, ia hanya akan menghitung gerakan.

    Ketika seseorang berzikir tanpa cinta, ia hanya akan mengulang kata-kata. Tetapi ketika cinta hadir, shalat akan menjadi pertemuan, zikir akan menjadi percakapan, doa akan menjadi bisikan yang hangat. Dan malam itu, cinta hadir dalam bentuk cahaya.

    Saya tidak tahu apakah bupati muda yang berjanji akan menghadirkan pembukaan istimewa menyadari hal itu.

    Mungkin baginya itu hanya strategi pencitraan, hanya cara untuk menunjukkan kebesaran acara. Tetapi bagi saya, justru di balik permainan cahaya itulah Tuhan menurunkan pelajaran.

    Bahwa firman-Nya tidak hanya terbatas pada lembaran, bahwa cinta bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka.

    Bahkan dari drone yang dingin dan tanpa perasaan. Bukankah Tuhan memang sering menghadirkan kasih-Nya lewat jalan yang aneh, lewat kejadian yang sederhana, lewat orang-orang yang tidak kita kira?

    Cinta religius juga sering datang dengan cara seperti itu. Kita tidak selalu jatuh cinta pada orang yang dekat. Kadang kita jatuh cinta pada seseorang yang hanya kita temui sekali. Kadang kita merasakan kedekatan spiritual dengan seseorang yang bahkan tidak kita kenal namanya. Dan dalam cinta religius, kita sadar bahwa rasa itu hanyalah pantulan dari cinta yang lebih besar: cinta Tuhan kepada makhluk-Nya.

    Saya teringat sebuah kisah tentang Rabi’ah al-Adawiyah, seorang perempuan sufi besar. Ia pernah berdoa: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, jauhkan aku darinya.

    Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Kau haramkan aku dari keindahan-Mu.” Doa itu selalu membuat saya terdiam. Sebab di dalamnya ada keberanian untuk menyingkirkan semua imbalan, semua ketakutan, semua hitungan, dan hanya menyisakan cinta.

    Bukankah itulah yang seharusnya menjadi inti dari MTQ, dari tilawah, dari hafalan, dari doa-doa yang kita panjatkan? Bahwa kita membaca bukan untuk lomba, bukan untuk juara, bukan untuk hadiah.

    Kita membaca karena cinta. Kita melafalkan karena cinta. Kita mengulang ayat-ayat itu karena cinta. Dan cinta itulah yang akan menuntun kita, meski suara kita parau, meski hafalan kita terbata, meski tartil kita tidak sempurna.

    Ketika saya menuliskan ini, cahaya drone malam itu masih terbayang jelas di kepala saya. Huruf-huruf bercahaya itu masih menempel di hati saya. Mereka telah padam di langit, tetapi mereka masih menyala di dada saya. Dan mungkin memang begitu cara Tuhan bekerja: cahaya di langit hanya sebentar, tetapi cahaya di hati bisa bertahan lama, bahkan seumur hidup.

    Saya membayangkan suatu hari nanti, anak-anak kafilah yang saya dampingi akan mengenang malam itu. Bukan karena megahnya panggung, bukan karena panjangnya pidato, tetapi karena mereka pernah menengadah dan melihat langit menulis ayat dengan cahaya.

    Dan mungkin dari kenangan itu, cinta mereka kepada Al-Qur’an akan tumbuh. Cinta yang sederhana, cinta yang tidak mencari juara, cinta yang tidak membutuhkan hadiah, tetapi cinta yang membuat mereka ingin terus membaca, terus mendekat, terus menundukkan hati.

    Pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah ketika nama mereka diumumkan sebagai juara. Kemenangan sejati adalah ketika mereka tetap membuka mushaf meski tidak ada yang menilai, ketika mereka tetap melafalkan ayat meski tidak ada yang mendengarkan, ketika mereka tetap berdoa meski tidak ada yang mengaminkan. Kemenangan sejati adalah ketika mereka bisa meraih rida Tuhan melalui cinta yang tulus.

    Dan saya percaya, doa yang lahir dari cinta tidak akan pernah padam. Ia akan terus menyala, bahkan setelah semua lampu stadion dipadamkan, bahkan setelah semua orang pulang, bahkan setelah semua lomba selesai. Doa itu akan tetap ada, menempel di hati, berjalan bersama kehidupan, menyinari jalan yang panjang.

    Doanya sederhana: jangan berhenti membaca, meski tak bersuara. Jangan berhenti mencari, meski hanya lewat cahaya. Jangan berhenti mencinta, meski sebentar saja. Dan saya tahu, doa itu akan terus menyala, bahkan setelah tulisan ini selesai.

  • Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar – Syafaat

    Negeri ini bukan sekadar tanah, bukan sekadar udara dan batu, tapi ia adalah kekasih yang bernapas, yang menangis dalam senja dan tersenyum di fajar. Ia lahir dari darah yang meresap ke bumi, dari keringat yang menempel di batu-batu, dari rintihan sunyi yang dipanjatkan dalam doa.

    Para pendahulu kita mencintainya dengan pengorbanan yang tak masuk akal: senjata seadanya, perut keroncongan, tubuh ringkih, tapi hati mereka membara, tekad mereka lebih keras dari baja.

    Dari penderitaan dan cinta itu, lahirlah rumah bernama Indonesia, sebuah hati yang kita jaga bersama, yang kita rawat dengan harapan dan doa yang tak pernah padam.

    Rumah itu berdiri di atas kesepakatan bersama, cinta yang disepakati semua hati. Bahasa kita satu, nasib kita satu, perbedaan bukan alasan untuk terpisah.

    Suku-suku yang ratusan jumlahnya, budaya yang bertubrukan di perempatan sejarah, keyakinan yang kadang berbeda bahkan bertolak belakang, semuanya dipayungi oleh satu kata yang lebih besar daripada ego: Indonesia.

    Di rumah itu, setiap suara adalah bisikan cinta, setiap langkah adalah tarian hati, setiap tangan yang terulur bukan untuk diri sendiri semata, tetapi untuk menahan dinding tetap tegak, agar atap tak roboh, agar jiwa rumah tetap hangat.

    Rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi tubuh kekasih yang kita peluk bersama, yang kita sayangi, yang setiap retaknya terasa seperti luka di hati kita sendiri.

    Perbedaan diolah menjadi harmoni rapuh namun indah, seperti sungai yang mengalir di antara batu-batu berwarna, menyatu tanpa kehilangan bentuk masing-masing.

    Bahasa yang satu bukan sekadar kata, tetapi rindu yang diamini bersama; nasib yang satu bukan sekadar nasib individu, tetapi nasib kolektif yang menuntut pengorbanan, perhatian, dan kesadaran bahwa runtuhnya satu bagian akan menimpa seluruh rumah.

    Rumah ini menuntut kesabaran, keberanian mengakui kesalahan, kebijaksanaan menahan amarah, kasih untuk menambal setiap retak dengan kelembutan.

    Indonesia bukan sekadar nama, bukan sekadar tanah dan air, melainkan kekasih yang jiwa-jiwanya kita rawat bersama, sejarahnya menjadi doa panjang, harapannya cahaya yang tak pernah padam meski badai terus datang.

    Tetapi rumah ini, betapapun megah, tak pernah selesai sekali jadi. Selalu ada genteng yang rembes ketika hujan, dinding yang merekah dimakan waktu, kayu yang lapuk bila penghuninya hanya sibuk menolong diri sendiri.

    Menjaga rumah ini adalah menjaga hati kita sendiri; keruntuhannya adalah patah hati kita, keutuhannya adalah kebahagiaan yang kita bagi bersama.

    Pada malam sunyi, ketika lampu padam dan jangkrik bernyanyi, terbayang kekasih bernama Indonesia, dibangun dengan tergesa sekaligus cinta yang membara. Tiangnya kokoh namun belum dipoles, dinding menjulang tapi kasar, atap tegak meski banyak genteng belum rapat.

    Tergesa itu bukan semata ingin berteduh, tetapi karena luka yang ingin segera diobati dengan persatuan, karena hati yang ingin segera dimiliki bersama. Rumah itu dibangun dari bahan seadanya tapi dengan doa yang tak putus, bata rapuh diperkuat harapan, kayu basah dipanaskan semangat.

    Ia berdiri bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai pernyataan: bangsa ini memilih mencintai bersama, meski fondasinya belum sempurna, retakan kecil selalu muncul, dan hanya dengan kesabaran serta ketulusan rumah itu bisa bertahan.

    Hari-hari berlalu. Rumah itu semakin ramai. Anak-anak lahir, cucu-cucu tumbuh. Ada yang rajin membersihkan, ada yang menumpang tidur. Ada yang menyumbang bata, ada yang mencuri kayu.

    Rumah besar itu mulai retak. Retakan kecil, awalnya bisa ditambal tipis, lama-lama dibiarkan. Kita terlalu sibuk. Terlalu lelah. Terlalu mementingkan diri sendiri.

    Kadang negeri ini bukan rumah, tapi perahu yang berlayar di samudra luas, laut yang tak pernah tenang, sesekali hanya beriak kecil, tiba-tiba badai menghadang.

    Perahu itu bernama Indonesia. Kapal-kapal megah berlayar di sekitarnya, dengan layar menjulang, mesin modern, nahkoda terdidik.

    Sedangkan perahu kita sederhana: kayu sederhana, layar tambal dari kain lusuh, tali kadang putus, kemudi retak.

    Namun dengan perahu rapuh inilah pelayaran ditempuh, badai ditantang, gelombang dihadapi, keselamatan tercapai bukan karena keelokan kapal, tapi karena kebersamaan penumpang, doa yang dipanjatkan, dan keyakinan akan arah tujuan.

    Sejarah menuliskan, perahu bernama Indonesia ini pernah oleng, nyaris karam. Namun selalu muncul tangan-tangan yang menambal celah dengan kesetiaan, bahu-bahu yang memikul beban dengan keikhlasan. Badai tidak pernah pergi, ombak terus silih berganti, tapi perahu itu tetap bertahan.

    Rahasianya: keyakinan dan cinta yang melingkupi setiap penumpang. Perahu tetap berlayar meski retak, dengan cahaya harapan yang tak pernah padam.

    Masalah muncul bukan dari laut, bukan dari badai, tetapi dari kita yang ada di dalam perahu. Kita sibuk bertikai, berebut kemudi, tarik layar, saling menyalahkan. Ketika retakan muncul, tak ada yang menambalnya.

    Kita terlalu sibuk membuktikan siapa yang lebih pantas menjadi nahkoda, padahal kekasih ini menangis pelan di setiap retak yang kita abaikan.

    Di era digital, perpecahan tumbuh cepat. Media sosial menjadi pasar riuh sekaligus arena yang menelanjangi manusia. Ada anak muda yang bunuh diri karena dibuli komentar, ada yang diperas karena rekamannya tersebar

    Dunia maya, awalnya jendela kebebasan, berubah menjadi ruang penyiksaan. Retakan perahu hari ini bukan hanya politik dan ekonomi, tapi juga dari sikap kita: jari-jari yang mengetik terlalu cepat, mulut yang ringan menghina, hati yang tipis empati.

    Kita tidak ingin hanya meratap. Retakan bisa ditambal. Rumah bisa diperbaiki, perahu dikuatkan kembali.

    Caranya sederhana tapi tidak mudah: dengan kebersamaan, dengan cinta yang tulus. Ambil semen kesadaran, pasir kesabaran, air pengertian, lalu tambal dinding rumah kita.

    Jika perahu bocor, ambil papan persaudaraan, paku dengan tekad bersama, ikat dengan cinta, ia akan kuat kembali. Menambal retakan bukan pekerjaan satu orang. Semua harus bergerak. Semua harus turun tangan.

    Bayangkan Indonesia sebagai kekasih yang kita cintai dengan seluruh jiwa. Kekasih yang menangis ketika retakan muncul, tersenyum ketika tangan kita menambal, yang berdebar ketika kita mengingatnya.

    Kekasih yang kita peluk dalam doa panjang, yang dulu dicintai para pejuang ketika darah menetes di tanah, yang dibisikkan para ibu ketika melepas anak berperang. Kekasih ini, yang kita warisi, belum selesai kita cintai, tapi terus kita jaga.

    Indonesia adalah perahu itu, rumah itu, kekasih itu. Mungkin tak sebesar kapal modern, tapi punya cerita panjang, daya tahan, dan jiwa yang tak mudah karam. Musuh sejati bukan sesama awak, tetapi badai, ombak, dan bajak laut di luar sana.

    Perahu ini, bagaimanapun keadaannya, adalah rumah kita. Rumah, betapapun rapuh, selalu layak kita jaga bersama. Jangan biarkan ia runtuh hanya karena kita sibuk mengeluhkan retakan kecil tapi enggan menambalnya. Rumah ini milik kita semua. Perahu ini milik kita semua. Negeri ini milik kita semua.

    Dan pada akhirnya, sebagaimana doa dan cinta yang tidak pernah putus, kita hanya bisa berserah, berharap perahu ini, betapapun retak, tetap membawa kita berlayar hingga sampai ke pantai tujuan, dengan kekasih di hati yang selalu menuntun, dengan cinta yang tak pernah surut, dan dengan harapan yang menyalakan lampu di gelapnya samudra.

    Penulis: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi