Di era serba digital dan serba mahal ini, cinta tak lagi cukup dengan janji manis dan puisi indah.
Banyak hubungan yang kandas bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena tidak sanggup menghadapi tekanan ekonomi bersama.
Lalu, bagaimana jika kesedihan finansial itu kita tuangkan dalam puisi?
Inilah saatnya kita membaca kumpulan puisi pendek yang menggabungkan ironi cinta dan realitas cicilan—sebuah refleksi puitis tentang cinta yang harus bernegosiasi dengan dompet.
1. Puisi: Sebulan Setelah Gajian
Cinta,
waktu kamu bilang ingin jalan-jalan ke Bali,
aku mengangguk pelan,
sambil melirik sisa saldo:
cukup untuk hidup… tiga hari lagi.
Makna:
Puisi ini menggambarkan dilema klasik pasangan muda: ingin romantis, tapi terhalang keterbatasan finansial. Ini dekat dengan realitas anak muda zaman sekarang—terutama yang terjebak gaya hidup FOMO (Fear of Missing Out).
2. Puisi: Kredit Tanpa Bunga
Katamu, kita bisa bahagia dengan sederhana.
Tapi cicilan motor itu datang tiap tanggal lima.
Dan kita mulai bertengkar
karena kamu ingin aku bahagia
tanpa terlambat bayar angsuran.
Makna:
Kritik sosial dalam bentuk puisi: cinta tidak cukup kalau urusan finansial tak beres. Kalimat “bahagia dengan sederhana” menjadi ironi ketika realitas ekonomi lebih rumit dari kata-kata.
3. Puisi: ATM dan Aku
Aku berdiri di depan ATM,
seperti aku berdiri di depanmu:
penuh harapan
tapi tahu takkan ada yang keluar hari ini.
Makna:
Puisi ini menyindir realitas kaum gaji bulanan yang selalu “haus” sebelum tanggal gajian tiba. Relatable, tragis, dan lucu dalam satu waktu.
4. Puisi: Dompet Kosong dan Pesan Singkatmu
Kamu tanya,
“Sudah makan?”
Aku jawab:
“Sudah kenyang lihat saldo rekening.”
Makna:
Puisi ini jadi kritik yang satir terhadap gaya basa-basi pasangan. Lucu dan menyakitkan di saat bersamaan—seperti cinta yang dipaksa bertahan di antara tagihan.
5. Puisi: Tanggal Tua, Rasa Luka
Kamu diam.
Aku diam.
Kita tak bicara karena takut
satu sama lain mengucap:
“Bisa pinjam dulu gak?”
Makna:
Puisi pendek ini sangat dekat dengan relasi anak muda urban yang menghadapi tekanan keuangan bersama—tanpa banyak kata, mereka tahu kondisi masing-masing sudah rapuh.
Cinta dan uang mungkin dua dunia yang tampak berbeda. Tapi dalam realitas hidup, keduanya saling bersinggungan, bahkan saling memengaruhi.
Lewat puisi-puisi ini, kita belajar bahwa cinta tak hanya soal perasaan, tapi juga perjuangan untuk bertahan hidup bersama. Bahkan, kadang, perjuangan itu harus tunduk pada cicilan dan tagihan.
Sebuah webinar literasi bertajuk Pelatihan Menulis Puisi dan Pentigraf Berbahasa Indonesia dan Using sukses diselenggarakan pada Jumat, 18 Juli 2025.
Acara ini merupakan kolaborasi antara Penerbit Lintang Banyuwangi, media online sastrawacana.id/, dan komunitas literasi Kopiwangi.
Kegiatan ini diikuti oleh 75 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, hingga praktisi literasi.
Mereka berkumpul secara daring untuk memperdalam wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis sastra, khususnya puisi dan pentigraf, dalam dua bahasa: Indonesia dan Using.
Webinar dipandu oleh Yeti Chotimah, seorang pendidik sekaligus penulis produktif yang telah menerbitkan sejumlah buku, termasuk yang bertema kebudayaan Banyuwangi.
Jalannya acara semakin dinamis berkat kehadiran Qurrota Ninin sebagai pembawa acara, yang telah berpengalaman dalam berbagai kegiatan literasi dan kebudayaan.
Tiga narasumber utama dihadirkan dalam webinar ini. Pertama, Maulana Affandi, penulis sekaligus pemimpin redaksi Penerbit Lintang.
Kedua, Andi Budi Setiawan, penulis buku dan editor sastrawacana.id/ yang juga dikenal dengan nama pena Penapanuluh.
Ketiga, Heri Iskandar dengan nama panggung Dzakawangi, pencipta lagu serta pemerhati bahasa Using yang aktif dalam pelestarian budaya lokal.
Dalam pemaparannya, Maulana Affandi mengingatkan para peserta akan pentingnya warisan intelektual melalui karya tulis.
Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan ide, melainkan bentuk tanggung jawab pada generasi mendatang. Ia juga menegaskan jika penulis itu tak akan pernah mati karena pemikirannya selalu abadi.
"Fisik kita akan lenyap suatu hari nanti, tapi pemikiran kita harus tetap hidup dan abadi di dalam buku. Maka, warisan terbaik adalah buku yang membuat kita akan dikenang oleh generasi selanjutnya," paparnya.
Pemateri kedua, Andi Budi Setiawan yang telah menelurkan beberapa karya turut memberikan panduan teknis dalam menulis puisi dan pentigraf yang ideal.
Salah satu poin yang ditegaskan adalah perihal pemilihan diksi yang harus dilakukan secara mendalam agar menghasilkan karya yang kuat dan penuh makna.
"Diksi yang tepat akan menghidupkan puisi, bukan sekadar menghiasinya. Sebab, puisi itu perlu rasa yang dapat hadir dari pemilihan kata.”
Kemudian, penulis buku Algoritma Cinta ini juga memberi tips kepada peserta untuk menggali inspirasi dari pengalaman pribadi dan suasana sekitar.
Sementara itu, Heri Iskandar memberikan perspektif berbeda dengan menekankan pentingnya menulis dalam bahasa Using.
Ia mencontohkan beberapa puisi karyanya dalam bahasa Using yang kemudian dijadikan lagu dan telah dikenal luas oleh masyarakat.
“Saya mengajak generasi muda untuk bangga berbahasa Using. Jangan malu, karena jika kita tidak memakai bahasa ini, maka perlahan akan hilang dari kehidupan kita.”
Webinar ini juga diwarnai sesi diskusi yang aktif. Salah satu peserta, Halili, S.HI, Kepala MTs Nurul Huda Blimbingsari, menyampaikan pertanyaan seputar cara menjaga konsistensi dalam menulis, terutama saat kehabisan ide.
Heri Iskandar menjawab lugas, “Yang membuat tulisan tidak selesai biasanya rasa malas. Karena itu, semangat menulis harus dijaga. Jangan menunda-nunda, karena semakin ditunda, semakin berat untuk memulai kembali.”
Sebagai penutup, panitia memberikan buah tangan berupa beberapa buku bagi peserta yang aktif dan berani berbicara tentang mimpinya menjadi penulis.
Selain itu, disampaikan pula bahwa webinar ini akan berlanjut ke sesi kedua. Nantinya, para peserta akan diajak untuk menulis dan berkolaborasi dalam sebuah buku antologi yang rencananya akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2025.
Webinar ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi menjadi ruang temu yang memperkuat semangat literasi, melestarikan bahasa daerah, dan menumbuhkan kesadaran untuk berkarya sebagai bagian dari warisan budaya.
Pemerintah Kecamatan Rogojampi terus menunjukkan komitmen serius dalam mendorong budaya literasi serta pelestarian warisan lokal melalui peluncuran program bertajuk Literasi Desa.
Program ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Penerbit Lintang Banyuwangi dan media literasi online sastrawacana.id/, serta melibatkan para pegiat literasi dan budayawan.
Program Literasi Desa dirancang untuk mendorong setiap desa di wilayah Kecamatan Rogojampi menuliskan sejarah, kebudayaan, tradisi, tokoh penting, serta potensi yang dimiliki desanya.
Karya-karya tersebut nantinya akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku antologi, yang tidak hanya menjadi dokumentasi penting, tetapi juga sumber inspirasi dan referensi bagi generasi muda dan masyarakat luas.
PLT Camat Rogojampi, Edy Basuki, SE, memberikan dukungan penuh terhadap program ini dan menyambut antusias partisipasi desa-desa yang akan terlibat dalam penulisan.
“Program ini merupakan inovasi untuk meningkatkan literasi yang ada di Kecamatan Rogojampi. Dengan ini, diharapkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih mengenal desanya sendiri,” kata Edy.
Menurutnya, banyak potensi dan kekayaan budaya yang selama ini belum terdokumentasikan secara layak, sehingga rentan terlupakan.
Ia menegaskan bahwa dokumentasi dalam bentuk karya tulis merupakan bentuk pelestarian yang efektif dan abadi.
“Jika tidak diabadikan dalam sebuah karya, setiap potensi desa akan terkikis seiring waktu. Kita punya kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa, dan itu harus diwariskan dalam bentuk yang bisa dibaca dan dipelajari sepanjang zaman,” tegasnya.
Program Literasi Desa (Dok. sastrawacana.id/)
Sebagai contoh, Desa Kedaleman yang berada di wilayah Kecamatan Rogojampi dikenal memiliki beragam tradisi lokal yang khas dan menarik, seperti Ider Bumi, sebuah tradisi spiritual yang dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan desa, serta Pencak Obor, pertunjukan seni bela diri yang dilakukan dengan nyala obor sebagai simbol semangat dan keberanian.
Tradisi-tradisi semacam ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat desa.
Namun, tanpa dokumentasi tertulis, nilai-nilai tersebut bisa saja hilang ditelan zaman, terlebih saat ini sudah memasuki era digital yang sangat padat informasi.
Dengan hadirnya program Literasi Desa, sejarah dan kekayaan budaya desa-desa akan terkuak dan tersaji dalam buku yang dapat dibaca oleh siapa saja, termasuk oleh generasi mendatang yang mungkin sudah tidak mengalami langsung masa-masa kejayaan tradisi tersebut.
Buku ini diharapkan menjadi rujukan penting, semacam ensiklopedia desa yang berisi kisah otentik tentang bagaimana sebuah komunitas tumbuh, berkembang, dan hidup dalam bingkai nilai-nilai lokalnya.
Kecamatan Rogojampi juga telah terlebih dahulu menunjukkan komitmennya terhadap gerakan literasi dengan membentuk sudut baca atau perpustakaan desa di setiap balai desa.
Berkat inisiatif ini, Kecamatan Rogojampi berhasil meraihJuara Harapan dalam lomba perpustakaan tingkat kabupaten, membuktikan bahwa upaya literasi di kawasan ini bukan hanya slogan semata.
Untuk mendukung implementasi program Literasi Desa, Kecamatan Rogojampi merangkul beberapa tokoh serta pegiat literasi di Banyuwangi, seperti Aguk Wahyu Nuryadi (budayawan yang juga pengurus Forum Banyuwangi Sehat), Maulana Affandi (pemimpin Redaksi Penerbit Lintang dan media online sastrawacana.id/), Yeti Chotimah (penulis sekaligus pemerhati budaya), Andi Budi Setiawan (sastrawan sekaligus ketua Kopiwangi), serta Heri Iskandar (penulis puisi dan pencipta lagu).
Semuanya akan menjadi pendamping desa dalam proses penulisan, dari pembekalan teknis, penyusunan naskah, hingga kurasi isi sebelum diterbitkan.
Aguk Wahyu Nuryadi yang akrab disapa Bung Aguk selaku koordinator tim menyambut baik program ini dan mengungkapkan optimismenya bahwa masyarakat desa mampu menghasilkan karya yang berkualitas.
“Kami siap mendampingi desa-desa untuk menggali dan merangkai potensi lokal mereka dalam bentuk tulisan. Program ini luar biasa karena bukan hanya bicara literasi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan sejarah yang selama ini tersembunyi,” ucap Bung Aguk.
Sementara itu, Maulana Affandi menekankan pentingnya menjadikan setiap desa sebagai subjek sejarahnya sendiri.
“Kami percaya bahwa setiap desa punya kisah. Ada narasi lokal yang layak ditulis, ada potensi yang perlu dipetakan, dan ada sejarah yang perlu diangkat ke permukaan. Melalui program ini, kami ingin membantu desa menyuarakan identitasnya sendiri,” ujar Affandi.
Dalam waktu dekat, Kecamatan Rogojampi akan mengundang seluruh kepala desa dan sekretaris desa untuk menghadiri pertemuan awal sebagai langkah pembuka.
Pertemuan ini akan menjadi ajang perkenalan, pengarahan, dan penyusunan strategi pendampingan literasi desa yang sistematis dan terukur.
Program ini bukan hanya soal menulis, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa desa adalah pusat pengetahuan yang autentik.
Ketika desa mampu menarasikan dirinya sendiri, maka pembangunan berbasis identitas lokal akan semakin kuat dan berkelanjutan.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pegiat literasi, dan masyarakat, Literasi Desa diharapkan menjadi model inspiratif bagi kecamatan lain di Banyuwangi, bahkan di Indonesia dalam menanamkan budaya menulis dan mencintai sejarah sendiri.
Anatomi cinta adalah sebuah penyatuan dari bagian bagian bagian penyusun sistem organ yang bernama rasa cinta, ekspresi yang dimunculkan merupakan aktualisasi dari nilai-nilai ketulusan hati yang murni tanpa pengaruh apapun.
Disana ada sedih, disana ada gembira, disana ada rindu, disana ada kesal, disana ada terpuruk, disana ada bangkit, disana ada kasih, disan ada harapan, disana ada benci, disana ada rindu, disana ada kejujuran, disana ada kebohongan, disana ada legowo, disana ada iri, disana ada semangat, disana ada putus asa, semua bergerak sesuai sang operator utama yaitu hati.
Bila sikap mulia yang ditunjukkan, maka kasih sayang yang dirasakan, tapi bila sakit yang di munculkan, maka kecewa yang di rasakan.
Anatomi cinta mengajarkan kita untuk lebih tahu batas antara cinta dan benci. Jangan membuang luka dihati yang penuh cinta karena dia akan membenci dengan pujian dan senyuman.
Kata Penulis:
Motivasi dan harapan penulis terhadap buku karya perdana ini adalah semoga dapat membuka
cakrawala berfikir, merajut rasa dan menyamakan frekuensi pemikiran saat para
pembaca menikmati tiap goresan kata yang berbanjar rapi di lembar demi lembar
buku ini, sehingga menjadi inspirasi bagi para pemula untuk lebih menyukai
dunia menulis puisi, dimanapun dan kapanpun.
Salam hangat berupa
persaudaraan dari hati paling dalam penulis sampaikan semoga buku ini dapat
dinikmati, disukai dan berkesan di hati para pembacanya. Tentunya penulis
menyadari akan ketidaksempurnaan dari karya ini, sehingga kritik dan saran
selalu penulis nantikan untuk menjadi bahan perbaikan dalam buku-buku
selanjutnya.
Komunitas Lentera Sastra Banyuwangi mengadakan bedah buku berjudul ‘Hebat Bersama Umat’ di Hall Room Hotel Tanjung Asri, pada Selasa (17/12/2024) yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting serta para pegiat sastra di Banyuwangi.
Beberapa tokoh yang hadir antara lain Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB) Hasan Basri, Muttafaqurrohmah dari Untag Banyuwangi, Aekanu Haryono dari Killing Osing, Hakim Said selaku Founder Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi, sastrawan Fatah Yasin Noer, seniman budayawan Ki Pramoe Sakti, serta para kepala madrasah.
Bedah buku yang dipandu oleh dosen UIMSYA Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., ini bertujuan untuk membangun semangat literasi sekaligus mengapresiasi karya sastra bertema moderasi beragama.
Dalam diskusi tersebut, terdapat empat narasumber utama yang dihadirkan, yaitu Chaironi Hidayat (Kepala Kemenag Banyuwangi), Drs. Zen Kostolani, M.Si. (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan), Samsudin Adlawi (Direktur Radar Banyuwangi), dan Syafaat, S.H., M.H.I. (Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi).
Chaironi Hidayat membuka sesi diskusi dengan menekankan betapa pentingnya literasi sebagai ukuran kemajuan peradaban.
Menurutnya, budaya literasi yang tinggi menjadi salah satu indikator kualitas peradaban suatu bangsa.
“Namun, tingginya literasi saja tidak cukup jika peradaban masih menyimpan berbagai kekurangan. Sastra mampu melampaui batas bahasa teknis dan menyentuh sisi emosional manusia,” ujarnya sambil mengapresiasi buku ‘Hebat Bersama Umat’ sebagai karya penuh makna yang menyuarakan moderasi beragama.
Drs. Zen Kostolani dalam kesempatan itu juga menyampaikan bahwa menulis puisi memerlukan kepekaan dan latihan yang terus-menerus.
Menulis puisi terlihat sulit, tetapi jika dilakukan dengan tekad kuat, siapa pun bisa melakukannya,” tuturnya.
Zen juga menjelaskan peran Dinas Perpustakaan dalam mendukung penulis lokal, salah satunya dengan mengurus ISBN untuk memfasilitasi promosi karya-karya mereka ke tingkat nasional.
Samsudin Adlawi dalam sesi berikutnya membahas tentang teknik serta esensi puisi yang terdapat dalam buku ini.
Ia menegaskan bahwa keindahan puisi terletak pada kemampuannya untuk menyentuh hati pembaca, bukan hanya pada keindahan diksi semata.
“Puisi tidak perlu dipaksakan indah. Jika berhasil menyentuh hati, puisi akan indah dengan sendirinya,” terangnya.
Syafaat, Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, menjelaskan bahwa buku ‘Hebat Bersama Umat’ disusun melalui proses yang melibatkan 79 penulis selama satu tahun.
Tema moderasi beragama yang diangkat dalam buku ini ternyata cukup menantang untuk dituangkan dalam bentuk puisi.
“Namun, ini menjadi kontribusi nyata kami dalam menyebarkan pesan perdamaian melalui karya sastra,” terang Syafaat.
Acara ini mendapatkan apresiasi tinggi dari peserta, salah satunya dari Abdul Aziz, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi.
“Buku ini membuka wawasan tentang pentingnya menyampaikan pesan melalui karya sastra,” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Junaidi, guru di MTsN 11 Banyuwangi yang berharap kegiatan serupa bisa digelar secara rutin di masa depan untuk memajukan budaya literasi.
Melalui acara ini, diharapkan semangat literasi di Banyuwangi akan terus berkembang, dan karya-karya sastra lokal dapat menjadi sarana yang efektif untuk membangun toleransi serta menciptakan keharmonisan di masyarakat. (Syaf)
Puji syukur kita panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya buku “Memoar Sang Veteran” karya IGB Sudharma.
Buku ini hadir sebagai sebuah cerminan perjalanan hidup, perjuangan, dan dedikasi seorang veteran yang telah berkontribusi besar bagi bangsa dan negara.
Dalam setiap lembar memoarnya, penulis tidak hanya membagikan kisah perjalanan hidup yang penuh liku, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan moral yang dapat dipetik untuk generasi muda.
Melalui pengalaman nyata yang dikisahkan dengan penuh kejujuran, pembaca diajak menyelami arti perjuangan, pengorbanan, serta semangat juang yang tidak pernah pudar meski zaman telah berubah.
Buku ini menjadi lebih dari sekadar sebuah kumpulan cerita, tapi jadi jendela ke masa lalu yang sarat nilai sejarah, kebijaksanaan, dan inspirasi.
Harapan kami, “Memoar Sang Veteran” dapat menjadi pengingat akan pentingnya mengenang dan menghargai jasa para pahlawan, sembari membangun semangat untuk terus melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman.
Terima kasih kepada IGB Sudharma yang telah dengan tulus membagikan perjalanan hidupnya serta kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya buku ini.
Semoga karya ini dapat memberikan manfaat, menjadi inspirasi, serta menyalakan kembali semangat nasionalisme di hati para pembaca.
MI Darun Najah II Banyuwangi merupakan salah satu madrasah dengan pencapaian terbaik dalam bidang literasi di Kabupaten Banyuwangi.
Dengan berbagai prestasi yang diraih oleh para siswi, madrasah ini semakin memantapkan posisinya sebagai percontohan pendidikan literasi di sekolah.
Sejumlah penghargaan berhasil diraih oleh para siswi MI Darun Najah 2, seperti juara lomba puisi, bercerita, dan pidato di tingkat kabupaten.
Hal ini mencerminkan komitmen MI Darun Najah II Banyuwangi dalam membentuk generasi yang unggul di bidang literasi.
Maulana Affandi, pemimpin redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi, berkunjung ke MI Darun Najah II pada Sabtu (14/12/2024).
Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan Kepala Madrasah, Majidatul Himmah, S.Ag., untuk membahas berbagai program literasi yang telah diterapkan di madrasah ini.
Affandi juga memberikan kenang-kenangan berupa buku terbitan Penerbit Lintang Banyuwangi sebagai dukungan atas semangat literasi yang digalakkan di sana.
Keberhasilan MI Darun Najah 2 Banyuwangi di bidang literasi tidak terlepas dari berbagai program unggulan yang diterapkannya.
Salah satu program unggulannya adalah Gerbang (Gemar Berbahasa Asing), inisiatif dari Kementerian Agama Banyuwangi.
“Setiap hari Rabu, anak-anak berbahasa Inggris, mulai dari masuk gerbang hingga di kelas, untuk membiasakan mereka menggunakan bahasa Inggris,” ujar Kepala Madrasah.
Selain itu, setiap siswi diwajibkan mengikuti ekstrakurikuler tahfiz Quran. Kepala Madrasah menyebut bahwa keberhasilan para siswi juga dipengaruhi oleh barokah dari membaca Al-Quran setiap hari.
“Mungkin salah satu rahasia keberhasilan siswi adalah barokah dari Al-Quran. Dengan membaca dan menghafalnya, para siswi menjadi lebih disiplin dan cerdas,” tuturnya.
Keberhasilan literasi di MI Darun Najah II juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, salah satunya Yayasan Lentera Sastra yang digawangi oleh Syafaat.
Sebagai penggerak literasi di Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, Syafaat sering memberikan pelatihan kepada para siswi.
Ia menekankan pentingnya literasi dalam membentuk generasi madrasah yang cerdas dan berwawasan luas.
“Sudah dua buku yang diterbitkan oleh para siswi MI Darun Najah II. Dalam pelatihan, kami memberikan panduan sehari penuh, lalu anak-anak langsung menulis cerita berdasarkan pengalaman mereka,” ungkap Syafaat.
Buku berjudul Petualangan Penaku adalah salah satu hasil kolaborasi antara MI Darun Najah 2 dan Yayasan Lentera Sastra.
Buku ini memuat cerita-cerita dari para siswi yang mengangkat kehidupan mereka sehari-hari.
Sementara itu, Aida Aristia Dewi, S.Pd., salah satu guru di MI Darun Najah II, juga turut berperan aktif dalam menggerakkan semangat literasi.
Sebagai pegiat sastra dan pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris, ia kerap menggunakan puisi sebagai medium untuk meningkatkan minat siswi dalam membaca dan menulis.
“Kami anggap puisi sebagai kegiatan literasi yang menyenangkan. Harapannya, ketika siswi mulai menyukai puisi, mereka akan gemar membaca,” jelas Aida.
Selain mengajarkan puisi, Aida juga mendorong siswi untuk menulis karya-karya kreatif yang nantinya dapat diterbitkan sebagai buku.
Komitmennya dalam bidang literasi menjadikannya salah satu figur penting di MI Darun Najah 2 Banyuwangi.
Hal senada juga disampaikan oleh Bung Aguk, seorang budayawan dan pengajar puisi di MI Darun Najah II yang turut berkontribusi dalam memajukan literasi di madrasah.
Ia menuturkan bahwa anak-anak yang mendalami ilmu agama cenderung lebih cerdas dan mampu memahami pelajaran dengan lebih baik.
“Mereka yang mempelajari ilmu agama memiliki daya tangkap yang lebih tajam dalam memahami pelajaran,” terangnya, sembari mengenalkan salah satu murid berprestasi bernama Nayla.
Hal ini menunjukkan sinergi antara pendidikan agama dan literasi dalam membentuk karakter para siswi MI Darun Najah 2.
Dengan berbagai program unggulan, dukungan guru, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, MI Darun Najah II Banyuwangi terus menjadi inspirasi dalam dunia pendidikan.
Madrasah ini tidak hanya mencetak generasi berprestasi di bidang literasi, tetapi juga generasi yang unggul dalam nilai-nilai agama.
“Rumah Ilalang” merupakan metafora yang melambangkan tempat berkumpulnya ilalang-ilalang, meskipun terlihat sederhana, namun memiliki keindahan dan keistimewaan tersendiri.
Ilalang, rimbun serta bunganya yang halus, menjadi pengingat bahwa keindahan sering kali muncul dari hal-hal yang sederhana, namun memiliki makna yang mendalam.
Begitu pula puisi-puisi dalam buku ini, yang bila dirangkai bersama-sama, menciptakan harmoni keindahan yang menyentuh rasa.
Rimbun Kata Teduhkan Rasa, sebuah frasa yang menjadi jiwa buku ini, lahir dari harapan bahwa setiap puisi yang tertuang mampu memberikan keteduhan dan kenyamanan bagi siapa saja yang membacanya.
Puisi-puisi ini adalah refleksi dari berbagai rasa: bahagia, duka, rindu, dan syukur. Puisi-puisi ini ditulis dengan harapan dapat menyapa hati pembaca, menggugah kenangan, dan menghadirkan kedamaian.
Buku ini penulis persembahkan teruntuk almarhum ayahanda tercinta, sosok yang menjadi teladan dalam mencintai dunia literasi.
Lewat kecintaannya dalam membaca dan menulis, menanamkan benih-benih semangat dan konsistensi sehingga karya ketiga dengan judul “Rumah Ilalang – Rimbun Kata Teduhkan Rasa” ini bisa terbit.
Dalam perjalanan menulis buku ini, penulis menyadari bahwa puisi adalah cara terbaik untuk merekam jejak perasaan.
Seperti halnya ilalang yang tumbuh liar di tanah yang luas, puisi-puisi ini lahir dari berbagai sudut pandang serta pengalaman.
Mereka adalah teman di saat sunyi, penghibur di kala sedih, dan penanda syukur di saat bahagia.
Semoga buku ini menjadi rimbunan kata yang mampu meneduhkan rasa, seperti rindang ilalang di bawah sinar senja.
Selamat membaca, dan semoga Anda menemukan keteduhan dan inspirasi dalam setiap bait yang tertuang.
Kumpulan 61 undharasa Using kanggo nyuguhaken sugihe budaya karya Drs. Ir. Jaenuri NZ, M.Pd Meluncur dino Ahad, 8 Desember 2024 ning LKP ambi TBM ELIT Lemahbang Dewo Rogojampi.
Undharasa iki kanggo kado rabine hang diwelasi hang wis purnatugas dadi guru ring SMPN 2 Rogojampi setaun sabene: Dra. Yayuk Werdi Arini, MM hang umure 61 ambi kanggo kutha kelahiran hang wis ke-253 taun sakmarine Perang Puputan Bayu 18 Desember 1771.
Buku Suwidak Siji (61) iki kumpulan ghurit hang ping 2 sakmarine taun sabene temane telulikur (23) mergo jumlah puisi 23 lan makna niat hajate.
“Dongakno kesat terus nggawe puisi 99 Asmaul Husna dadi taun ngarep kene kumpul maning.Wis ana modal 23 puisi awal hang durung ISBN mung wis nyebar gratis nong 200 an SD/MI!” Jare penggowes onthel lan petani bonsai iki.
Budayawan Aekanu Haryono seneng nyang kancane iku hang padha pinter Basa Inggris ambi miloni nerbitaken buku kanggo amal jariyah nyang generasi bangsa.
“Selamat, prof Nuri spesial puisi bahasa dhaerah using hang saktemene kanggo tanah kelahiran!” Jare pendongeng wayang jajang hang seneng berudeng, kaos lukis gandrung ambi sarungan batik iki hang nyelipaken lagu nasional tepak cerita ring ngarepe lalare. Iyane uga siap sosialisasi karya bukune ring sekolah ambi sanggar sanggar seni.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Drs. Hasan Basri tambah apresiasi seru nyang Kang Nuri hang melaku ring dalan hang bener ngeluri karyane nong dalan uripe hang endah nong keluarga, agama uga nulihi sak ubenge kauripan kuno nyang anak putu ambi generasi ring rejane jaman.
“Kadhung gedigi isun iling ruwahe Hasan Ali hang sabar telaten muputi kosa kata hang suwi kependem!” jare guru agama SMPN 1 iki ambi suaro mesesegen lan banyu moto ngoco.
Acara hang diselingi maca puisi, pidato lan ngewer soko murid SMPN 3 Rogojampi hang prestasi nong Festival Sastra Using Dispendik iku, digongi sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufik Rohman, M.Si hang ngarep klendi karya sewidak siji iso gadhuk nong murid lan biso diakses ikawangi lewat e-book.Selamat lan kesuwun nambah nilai ana karya tulis hang langka iki!” jare wong Alas Malang Singojuruh iki ambi nompo buku bareng 45 undangan liyane.
Undangan antara lain pencipta lagu,penyiar radio komunitas, wartawan, Youtuber Eko Ndut, seniman, pawang, guru, EO lan pegiat literasi.
Marek gesah apresiasi soko hang hadir, penulis jawab,
“Pastine buku terbitan Ide Bangsa Yogyakarta hang ISBN: 978-623-89159-6-5, sak durunge isun koreksi ambi kamus bahasa using Hasan Ali hang dadi cekelane mulok. Hang teka ulih buku ambi madhang ngombe khas bumi belambangan.Hang hing teka monggo gandakno dewek.Hun papag tekan ndiko dulur lan bisa tahun ngarep lomba maca undharasa karya isun trophy souvenir ELIT Kiling Osing!” angene.
Pemandu gesah Bung Aguk Darsono ugo pimpin dungo kirim Al Fatehah kanggo tuan rumah mugo kian samawa berkah keluargane lan ikhlase dulur kirim dungo kanggo arwahe Hasan Ali, Hasnan Singodimayan, AK Armaya, Andang CY, Bashir Nurdian, Sutejo Hadi, Sayun, Suoinah, Indra Gunawan lan pahlawan seniman budayawan Belambangan liyane: Al Fatehah!
sastrawacana.id/ – Acara peluncuran buku puisi Using berjudul Suwidak Siji (61) karya Drs. Ir Jaenuri, NZ, M.Pd berlangsung meriah di LKP TBM Elit, Rogojampi, Banyuwangi, pada Minggu (8/12/2024).
Buku ini menjadi karya terbaru Jaenuri setelah buku sebelumnya yang berjudul Telu Likur (23), dengan tujuan untuk melestarikan budaya dan Bahasa Using.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh literasi dan budayawan Banyuwangi, seperti Aekanu Hariyono (Ketua Kiling Using Banyuwangi), Taufik Rohman, M.Si (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi), Drs. Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan), Dr. Lidiawati, serta tokoh-tokoh lainnya.
Selain itu, acara ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai komunitas literasi, seperti Kopiwangi, Penerbit Lintang, dan Media Literasi Sastrawacana.
Dan tamu yang cukup spesial adalah IGB Sudharma, seorang veteran yang dalam waktu dekat juga akan meluncurkan buku berjudul ‘Memoar Sang Veteran.’
Dalam sambutannya, Jaenuri menjelaskan alasan di balik pemilihan judul Suwidak Siji (61) yang terinspirasi dari angka 61.
Ternyata, angka tersebut menggambarkan tahun kelahirannya dan usia istrinya yang tahun ini genap 61 tahun.
Ia juga menyatakan bahwa buku ini dipersembahkan khusus untuk istrinya yang selalu mendukung setiap langkah yang diambilnya.
“Buku ini saya persembahkan untuk istri, sebab istri saya mendukung apapun yang saya lakukan,” ujar Jaenuri dengan penuh haru.
Acara yang dipandu oleh Bung Aguk, seorang pegiat literasi dan budayawan Banyuwangi, semakin meriah dengan penampilan pembacaan puisi yang memukau oleh Andre, murid SMP 3 Rogojampi, yang dilatih oleh Yeti Chotimah.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Aekanu Hariyono, yang mengapresiasi terbitnya buku puisi Suwidak Siji (61).
“Profesor Nuri, saya ucapkan selamat. Karya-karyanya luar biasa,” terangnya.
Aekanu juga mengingatkan agar penulis tidak khawatir dengan kritik, karena sebetulnya kritik itu sifatnya membangun.
Hasan Basri juga memberikan apresiasi terhadap karya Jaenuri dan menekankan pentingnya melestarikan Bahasa Using sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi.
“Saat ini sudah mulai terjadi fenomena alih kode dalam penggunaan bahasa using, sehingga hendaknya kita mengajarkan Bahasa Using kepada anak-anak kita,” terangnya.
Acara ini semakin meriah dengan penampilan komedi using oleh Dudung yang membuat para peserta terpingkal-pingkal.
Sebagai informasi, Suwidak Siji (61) adalah lanjutan dari buku puisi Telu Likur (23), yang bertujuan untuk menjaga kelestarian bahasa using.
Diharapkan, Bahasa Using tetap eksis dan tidak terlupakan, terutama di kalangan generasi muda Banyuwangi.