Tag: sastra

  • Filosofi Semar, Tokoh Wayang dalam Kebudayaan Jawa

    Filosofi Semar, Tokoh Wayang dalam Kebudayaan Jawa

    Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya. Bebadra = Membangun sarana dari dasar dan Naya (Nayaka) = Utusan mangrasul. Bila dipadukan maka artinya: Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

    Filosofi Biologis Semar

    Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun).

    Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”.

    Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

    Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang= gersang) dempel= keteguhan jiwa.

    Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

    Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

    Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

    Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

    Ciri sosok semar adalah :

    • Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
    • Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
    • Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
    • Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
    • Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

    Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

    Dikalangan spiritual Jawa, tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual.

    Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

    Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

    Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :

    Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

    Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.

    Manusia Jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya: “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

    Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

    Dalam Etika Jawa (Sesuno, 1988 : 188) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan Abdi Pamomong yang paling dicintai.

    Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

    Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara (Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25).

    Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa (Brandon dalam Suseno, 1988 : 188). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa.

    Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” (menjadi manusia) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

    Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa (Poedjowijatno, 1975 : 49) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia (Geertz 1969 : 264).

    Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya (Suseno 1988 : 190).

    Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia (Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193)

    Dari segi etimologi, joinboll (dalam Mulyono 1978 : 28) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “.

    Jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa (Mulyono 1978 : 18) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah.

    Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula (Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191).

    Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto (1969 : 31) berpendapat dan menggambarkan (dalam bentuk kaligrafi) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

    Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih (timoer, tt : 13).

    Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ”rasa ingat” (timoer 1994 : 4), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta.

    Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma (Mulyono 1978 : 35)

    Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon “Semar Mbabar Jati Diri”.

    Gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995.

    Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 (Cermomanggolo 1995 : 5).

    Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono (Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10).

    Dikemukan oleh Arum (1995:10) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ”Semar Mbabar Jadi Diri” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi, ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

    Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer (1994:4) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup.

    Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito (dalam Ciptoprawiro 1991:46) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

    Sumber: Alangalangkumitir

  • Puisi Munculnya Sebuah Goresan

    Munculnya Sebuah Goresan
    oleh
    Dedi Eka

    sebuah goresan yang membekas
    sebuah goresan yang akan menentukan hidupku
    sebuah goresan itu seakan-akan membanyangi hidupku

    membuntutiku seakan telah menjadi istriku
    kini goresan itu telah mencuri jejak-jejak kakiku
    dari dunia yang dimana manusia telah diperbudaklah

    ku lihat goresan itu goresan itu semakin mendekat
    dan semakin dekat

    apakah goresan itu akan ku telan lagi
    kelak dimasa yang akan datang
    solah-olah dia telah mengagungkanku dari setiap sudut

  • Pengertian Semantik Menurut Kajian Para Ahli

    Pengertian Semantik Menurut Kajian Para Ahli

    Pengertian Semantik

    Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain.

    Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna.

    Selain itu semantik juga dapat diartikan sebagai studi tentang makna yang digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa.

    Bentuk lain dari semantik mencakup semantik bahasa pemrograman, logika formal, dan semiotika.

    Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan.

    Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam.

    Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat.

    Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001:82) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian.

    Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.

    Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :

    • Maksud pembicara;
    • Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
    • Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
    • Cara menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001: 132).

    Bloomfied (dalam Abdul Wahab, 1995:40) mengemukakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya.

    Terkait dengan hal tersebut, Aminuddin (1998:50) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan antara bahasa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti.

    Dari pengertian para ahli bahsa di atas, dapat dikatakan bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.

    Aspek-aspek Makna

    Aspek-aspek makna dalam semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu :

    1. Pengertian (sense)

    Adalah disebut juga dengan tema. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan bicaranya atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati bersama.

    Lyons (dalam Mansoer Pateda, 2001:92) mengatakan bahwa pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain di dalam kosakata.

    2. Nilai rasa (feeling)

    Adalah aspek makna yang berhubungan dengan nilai rasa berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.

    Dengan kata lain, nilai rasa yang berkaitan dengan makna adalah kata-kata yang berhubungan dengan perasaan, baik yang berhubungan dengan dorongan maupun penilaian.

    Jadi, setiapkata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan perasaan.

    3. Nada (tone)

    Adalah aspek makna nada menurut Shipley adalah sikap pembicara terhadap kawan bicara (Mansoer Pateda, 2001:94).

    Aspek nada berhubungan pula dengan aspek makna yang bernilai rasa.

    Dengan kata lain, hubungan antara pembicara dengan pendengar akan menentukan sikap yang tercermin dalam kata-kata yang digunakan.

    4. Maksud (intention)

    Adalah aspek maksud menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001: 95) merupakan maksud senang atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan.

    Maksud yang diinginkan dapat bersifat deklarasi, imperatif, narasi, pedagogis, persuasi, rekreasi atau politik.

    Aspek-aspek makna tersenut tentunya mempunyai pengaruh terhadap jenis-jenis makna yang ada dalam semantik.

    Di bawah ini akan dijelaskan seperti apa keterkaitan aspek-aspek makna dalam semantik dengan jenis-jenis makna dalam semantik;

    a. Makna Emotif

    Makna emotif menurut Sipley (dalam Mansoer Pateda, 2001:101) adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai atau terhadap sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan.

    Dicontohkan dengan kata kerbau dalam kalimat Engkau kerbau, kata itu tentunya menimbulkan perasaan tidak enak bagi pendengar.

    Dengan kata lain,kata kerbau tadi mengandung makna emosi. Kata kerbau dihubungkan dengan sikap atau poerilaku malas, lamban, dan dianggapsebagai penghinaan.

    Orang yang dituju atau pendengarnya tentunya akan merasa tersimggung atau merasa tidak nyaman.

    Bagi orang yang mendengarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang ditujukan kepadanya tentunya akan menimbulkan rasa ingin melawan.

    Dengan demikian, makna emotif adalah makna dalam suatu kata atau kalimat yang dapat menimbulkan pendengarnya emosi dan hal ini jelas berhubungan dengan perasaan.

    Makna emotif dalam bahasa indonesia cenderung mengacu kepada hal-hal atau makna yang positif dan biasa muncul sebagai akibat dari perubahan tata nilai masyarakat terdapat suatu perubahan nilai.

    b. Makna Konotatif

    Makna konotatif berbeda dengan makna emotif karena makna konotatif cenderung bersifat negatif, sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif (Fathimah Djajasudarma, 1999:9).

    Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau didengar. Misalnya, pada kalimat Anita menjadi bunga desa.

    Kata bunga dalam kalimat tersebut bukan berarti sebagai bunga di taman melainkan menjadi idola di desanya sebagai akibat kondisi fisiknya atau kecantikannya.

    Kata bunga yang ditambahkan dengan salah satu unsur psikologis fisik atau sosial yang dapat dihubungkan dengan kedudukan yang khusus dalam masyarakat, dapat menumbuhkan makna negatif.

    c. Makna Kognitif

    Makna kognitif adalah makna yang ditunjukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponenya (Mansoer Pateda, 2001:109).

    Kata pohon bermakna tumbuhan yang memiliki batang dan daun denga bentuk yang tinggi besar dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan makna kognitif karena lebih banyak dengan maksud pikiran.

    d. Makna Referensial

    Referen menurut Palmer ( dalam Mansoer Pateda, 2001:125) adalah hubungan antara unsur-unsur linguistik berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan dunia pengalaman nonlinguistik.

    Referen atau acuan dapat diartikan berupa benda, peristiwa, proses atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yangditunjuk oleh suatu lambang.

    Makna referensial mengisyaratkan tentang makna yamg langsung menunjuk pada sesuatu, baik benda, gejala, kenyataan, peristiwa maupun proses.

    Makna referensial menurut uraian di atas dapat diartikan sebagai makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran.

    Dapat juga dikatakan bahwa makna referensial merupakan makna unsur bahasa yanga dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, baik berupa objek konkret atau gagasan yang dapat dijelaskan melalui analisis komponen.

    e. Makna Piktorikal

    Makna piktorikal menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001:122) adalah makna yamg muncul akibat bayangan pendengar ataupembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca.

    Makna piktorikal menghadapkan manusia dengan kenyataan terhadap perasaan yang timbul karena pemahaman tentang makna kata yang diujarkan atau ditulis.

    Misalnya kata kakus, pendengar atau pembaca akan terbayang hal yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kakus, seperti kondisi yang berbau, kotoran, rasa jijik, bahkan timbul rasa mual karenanya.

    Selain dari yang telah dikemukan di atas, berikut juga dipaparkan tentang kajian makna dalam semantik; Lehrer (1974:1) menyatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna (lihat juga Lyons 1, 1977:1).

    Bagi Lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.

    Pendapat yang berbunyi “semantic adalah studi tentang makna” dikemukakan pula oleh Kambartel (dalam Bauerle, 1979:195).

    Menurutnya semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang menampakkan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia.

    Sedangkan Verhaar (1983:124) mengatakan bahwa semantik berarti teori makna atau teori arti.

    Batasan yang hampir sama ditemukan pula dalam Ensiklopedia Britanika (Encyclopaedia Britanica, Vol. 20, 1965:313) yang terjemahannya “Semantik adalah studi tentang hubungan antara suatu pembeda linguistic dengan hubungan proses mental atau simbol dalam aktifitas bicara.”

    Soal makna menjadi urusan semantik. Berdasarkan penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan makna. Dengan kata lain semantik berobjekkan makna.

    Kempson (dalam Aarts dan Calbert, 1979:1) berpendapat, ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik.

    Keempat syarat itu adalah:

    1. Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap satuan yang muncul yang didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat.
    2. Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah.
    3. Teori itu harus membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yangt tidak dilihat dari segi semantik.
    4. Teori tersebut dapat meramalkan makna yang berhubungan dengan antonym, kontradiksi, sinonim.
    Kesimpulan

    Makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya.

    Makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti.

    Batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.

    Aspek-aspek makna dalam semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu :

    • Pengertian (sense)
    • Nilai rasa (feeling)
    • Nada (tone)
    • Maksud (intention)

    B. Makna Dalam Kajian Pragmatik

    Pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara konteks dan makna.

    Ilmu ini mempelajari bagaimana penyampaian makna tidak hanya bergantung pada pengetahuan linguistik (tata bahasa, leksikon, dll) dari pembicara dan pendengar, tapi juga dari konteks penuturan, pengetahuan tentang status para pihak yang terlibat dalam pembicaraan, maksud tersirat dari pembicara.

    Makna dalam kajian pragmatik merupakan suatu hubungan yang melibatkan tiga sisi (triadic relation) atau hubungan tiga arah, yaitu bentuk, makna, dan konteks.

    Makna dalam pragmatik diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa.

    Hubungan antara bentuk dan makna dalam pragmatik juga dikaji oleh Yule (2001:5).

    Ia mendefinisikan pragmatik sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan manusia si pemakai bahasa bentuk-bentuk itu.

    Definisi ini dipertentangkan dengan definisi semantik, yaitu sebagai studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dengan entitas di dunia bagaimana hubungan kata dengan sesuatu secara harfiah.

    Lebih lanjut Yule menegaskan bahwa analisis semantik berusaha membangun hubungan antara deskripsi verbal dan pernyataan-pernyataan hubungan di dunia secara akurat atau tidak, tanpa menghiraukan siapa yang menghasilkan deskripsi tersebut.

    Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Seperti yang dikatakan Yule (1996:3) bahwa ada empat definisi pragmatik, yaitu

    1) bidang yang mengkaji makna pembicara;

    2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya;

    3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan

    4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.

    C. Makna Dalam Kajian Semiotika

    Semiotika (juga disebut studi semiotik dan dalam tradisi Saussurean disebut semiologi) adalah studi tentang makna keputusan.

    Ini termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses tanda (semiosis), indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dan komunikasi.

    Semiotik bertujuan untuk mengetahui makna-makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau menafsirkan makna tersebut sehingga diketahui bagaimana komunikator mengkonstruksi pesan.

    Konsep pemaknaan ini tidak terlepas dari perspektif atau nilai-nilai ideologis tertentu serta konsep kultural yang menjadi ranah pemikiran masyarakat di mana simbol tersebut diciptakan.

    Kode kultural yang menjadi salah satu faktor konstruksi makna dalam sebuah simbol menjadi aspek yang penting untuk mengetahui konstruksi pesan dalam tanda tersebut.

    Konstruksi makna yang terbentuk inilah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya ideologi dalam sebuah tanda.

    Sebagai salah satu kajian pemikiran dalam cultural studies, semiotik tentunya melihat bagaimana budaya menjadi landasan pemikiran dari pembentukan makna dalam suatu tanda.

    Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Kriyantono, 2007:261).

  • Cara Menulis Kata Asing yang Belum di Indonesiakan

    Cara Menulis Kata Asing yang Belum di Indonesiakan

    Dalam Penulisan kata asing yang belum di Indonesiakan kita harus mengikuti kaidah – kaidah Ejaan yang berlaku di Indonesia.

    Kata – kata asing yang ejaanya belum di sesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia, maka kata – kata asing tersebut harus ditulis dengan huruf miring.

    Contohnya seperti:

    1. Kata asing sophisticated berbeda dengan kata Indonesia canggih.

    2. Dewasa ini banyak perusahaan yang go public.

    3. Politik devide et impera merupakan politik penjajah yang pernah digunakan untuk memecah belah persatuan bangsa Indonesia.

    Akan tetapi, kata – kata serapan seperti sistem, efektif, struktur, konglomerat dan efisien tidak dituliskan dengan huruf miring.

    Hal ini disebabkan karena di samping sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, ejaannya pun telah di sesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia.

    Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa kata – kata serapan tersebut sudah di perlakukan seperti halnya kata –kata asli Bahasa Indonesia.

    Kata serapan (kata asing) yang masuk ke dalam Bahasa Indonesia melalui empat cara antara lain adalah sebagai berikut:

    Adaptasi

    Cara adaptasi yaitu dengan cara mengambil makna yang terkandung di dalam kata asing tersebut, sedangkan dalam penulisanya di sesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Sebagai Contoh pada kata “Pluralization” menjadi “pluralisasi”.

    Adopsi

    Cara Adopsi yaitu dengan cara mengambil keseluruhan kata asing tersebut tanpa diganti sedikitpun. Contoh seperti : plaza, supermarket, mall dan lain – lain.

    Kreasi

    Cara Kreasi yaitu dengan cara mengambil konsep dasar yang terdapat di dalam kata asing tersebut.

    Misalnya, kata yang dalam bahasa asingnya ditulis dalam dua atau tiga kata, sedangkan di dalam bahasa Indonesia hanya dituliskan dengan satu kata. Contoh seperti: “Spare parts” berubah menjadi “suku cadang”.

    Penerjemahan

    Penerjemah yaitu dengan cara mengambil konsep yang terkandung di dalam bahasa asing tersebut, setelah itu kata tersebut dicari padanannya di dalam bahasa Indonesia. Contohnya seperti : “Try out” berubah menjadi “uji coba”.

  • 15 Pengertian Filologi Menurut Para Ahli

    15 Pengertian Filologi Menurut Para Ahli

    Filologi berasal dari bahasa Yunani yaitu philologia gabungan dari philos ‘teman’ dan logos ‘pembicaraan/ilmu’ yang artinya senang berbicara.

    Dan diperluas dengan arti senang belajar, senang kepada ilmu, senang pada tulisan-tulisan dan senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi, seperti karya-karya sastra (Baried, 1942 : 2).

    Pengertian filologi masih banyak lagi menurut para ahli filologi yang memberikan pendapatnya mengenai filologi.

    Pengertian Filologi Menurut Para Ahli

    Di bawah ini beberapa definisi filologi menurut para ahli.

    1. Soeratno (1973 : 3)

    Filologi merupakan studi teks yang diperlukan karena muncul-muncul varian-varian teks yang tersimpan dalam naskah.

    2. Baried (1942 : 2)

    Filologi berasal dari bahasa Yunani yaitu philologia gabungan dari philos ‘teman’ dan logos ‘pembicaraan/ ilmu’ yang artinya senang berbicara.

    Dan diperluas dengan arti senang belajar, senang kepada ilmu, senang pada tulisan-tulisan dan senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi, seperti karya-karya sastra.

    3. KBBI

    Filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat bahan-bahan tertulis (KBBI, 1997 : 227).

    4. Djamaris (1977 : 20)

    Filologi adalah suatu ilmu yang objek penelitiannya naskah-naskah lama.

    5. Sutrisno (1981 : 7)

    Dalam kamus istilah filologi, filologi adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusastraannya.

    Dalam Groot Wordenboek der lands Taaf dinyatakan bahwa filologi adalah ilmu mengenai bahasa dan sastra suatu bangsa, mula-mula berhubungan dengan bahasa dan sastra bangsa Yunani dan Romawi.

    Tetapi kemudian meluas kepada bahasa dan sastra bangsa lain seperti bangsa Prancis, Spanyol, Portugis, Jerman, Belanda, Inggris, dan Slavia (singkatnya adalah ilmu bahasa dan studi tentang kebudayaan – kebudayaan bangsa-bangsa yang beradab dalam bahasa, sastra dan agama mereka) (Sutrisno, 1981 : 8).

    6. Warsidi

    Filologi merupakan suatu disiplin yang ditunjukkan pada studi tentang teks yang tersimpan dalam peninggalan tulisan masa lampau.

    7. Sitrisni (1977 : 20)

    Filologi adalah sebagai suatu ilmu yang objek penelitiannya adalah manuskrip-manuskrip kuno.

    8. Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994 : 2-3)

    Filologi berasal dari kata dalam bahas yunani philos yang berarti “cinta” dan logos yang berarti “kata”.

    Arti ini kemudian berkembang menjadi “senang belajar” atau “senang kebudayaan”.

    Pengkajian filologi pun selanjutnya membatasi dari pada penelitian hasil kebudayaan masyarakat lama yang berupa tulisan dalam naskah (lazim disebut teks).

    9. Baroroh-Baried (1985 : 1)

    Filologi adalah suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan dan kebudayaan.

    10. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa : 1988

    Menurut kamus istilah filologi (Baroroh Baried, R. Amin Soedoro, R. Suhardi, Sawu, m. syakir, Siti Chamanah suratno ; 1977), filologi merupakan ilmu yang menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusastraannya. Hal serupa diungkapkan dalam KBBI.

    11. Suhendra Yusuf (1995)

    Filologi merupakan telaah naskah kuno untuk menentukan keaslian, bentuk autentik, dan makna yang terkandung di dalam naskah itu.

    12. J.S. Badudu dan Sutan mohammad Zain (1994).

    Filologi meneliti dan membahas naskah-naskah lama sebagai hasil karya sastra untuk mengetahui bahasa, sastra dan budaya bangsa melalui tulisan dalam naskah itu.

    13. Djamaris (1997 : 21

    Filologi secara harfiah adalah tulisan, cinta kata-kata.

    14. Duck Handoko dan B. Rahmanto (1986)

    Dalam pemandu di dunia sastra mengungkapkan asal kata filologi, yaitu “philos” dan “logos” yang berarti cinta terhadap kata.

    15. Webster’s Collegiate Dictionary (1953)

    Mendefinisikan filologi ke dalam tiga hal, yaitu: Cinta pengetahuan atau cinta sastra, yaitu studi sastra, dalam arti luas termasuk etimologi, tata bahasa, kritik, sejarah sastra, dan linguistik; Ilmu lingusitik; Studi tentang budaya orang-orang beradab sebagaimana dinyatakan dalam bahasa, sastra, dan religi mereka, termasuk studi bahasa dan perbangannya dengan bahasa serumpun, studi tata bahasa, etimologi, fonologi, morfologi, semantik, kritik teks.

  • Apa yang Dimaksud dengan Semiotik Sastra?

    Apa yang Dimaksud dengan Semiotik Sastra?

    Pengertian Teori Semiotika

    Teori semiotika adalah teori tentang tanda, ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah teori tentang gaya bahasa.

    A. Teew (1984 : 6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindakan komunikasi dan kemudian disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki, untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas dalam masyarakat.

    Konsep Semiotik Sastra

    Semiotik merupakan bahasa yang mencerminkan bahasa sastra yang estetis, sistematis dan memiliki pluralitas makna ketika dibaca oleh pembaca dalam memberi pemahaman terhadap teks karya sastra.

    Semiotik terbagi atas tiga konsep, yaitu:

    1. Semiotik Pragmatik

    Semiotik pragmatik berkaitan dengan asal-usul tanda, kegunaan tanda dalam penerapan, dan efek tanda bagi yang menginterpretasikannya. Semiotik pragmatik ini dalam batas perilaku objek.

    2. Semiotik Sintaktis

    Semiotik sintaksis adalah kombinasi tanda tanpa memperhatikan maknanya ataupun hubungannya terhadap perilaku subjek.

    3. Semiotik Semantik

    Semiotik semantik adalah tanda dalam “arti” yang disampaikan.

    Wawasan Semiotik dalam Studi Sastra

    • Karya sastra merupakan gejala konsumsi yang berkaitan dengan pengarang, wujud sastra sebagai sistem tanda, dan pembaca.
    • Karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda yang memiliki struktur dalam tata tingkat tertentu.
    • Karya sastra merupakan fakta yang harus direkrontruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

    Semiotik Menurut Para Ahli

    Adapun definisi semiotik menurut para ahli adalah sebagai berikut:

    1. Charles Sander Pierce (1839 – 1913)

    Mengemukakan tentang teori segitiga makna, yaitu:

    A. Tanda (sign)

    Adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan meripakan sesuatu yang merujuk (merepresentasi) hal lain di luar tanda itu sendiri.

    Tanda terbagi menjadi tiga yaitu simbol, ikon, dan indeks. Simbol adalah tanda yang muncul dari kesepakatan atau konvensi-konvensi bahasa.

    Ikon adalah tanda-tanda yang muncul dari perwakilan fisik. Indeks adalah tanda yang muncul dari hubungan sebab akibat.

    Dalam penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan semiotik, tanda berupa indeks yang paling banyak dicari, yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukan hubungan sebab-akibat.

    B. Interpretant atau Penggunaan Tanda

    Adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.

    C. Objek

    Adalah konteks sosial yang menjdi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.

    2. Ferdinad De Sausure

    Mengemukakan pembagian tanda menjadi 2, yaitu:

    • Penanda (Signifer) adalah tanda yang dapat dilihat dari bentuk fisik.
    • Pertanda (Signifed) adalah makna yang terungkap melalui konsep fungsi atau nilai-nilai yang terkandung.

    3. Rolan Barthes

    Membagi tanda menjadi dua yaitu:

    • Denotasi, yaitu tingkat pertanda yang menjelaskan hubungan penanda dan pertanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti.
    • Konotasi, yaitu tingkat pertanda menjelaskan hubungan penanda dan pertanda yang didalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti.

    Kelebihan Semiotik dalam Menelaah Karya Sastra

    • Memperindah karya sastra.
    • Mengetahui keindahan karya sastra.
    • Dalam penelitian analisisnya lebih spesifik dan komperhensif.
    • Memberikan pemahaman makna dari simbolik baru dalam membaca karya sastra
    • Pembaca mengetahui dua makna yaitu makna bahasa secara literlag dan makna simbolik.
    • Kelemahan Semiotik dalam Menelaah Karya Sastra
    • Kurang memperhatikan struktur, mengabaikan unsur intrinsik.
    • Memerlukan banyak dukungan ilmu bantu lain seperti linguistik, sosiologi, psikologi.
    • Perlu kematangan konsep luas tentang sastra wawasan luas, dan teorinya.
    • Cenderung menggunakan subjektifitasnya yang menampilkan itu semua dan itu sangat risjan untuk meneliti dengan teori ini.
  • Perbedaan Antara Cerpen, Novel, dan Roman

    Perbedaan Antara Cerpen, Novel, dan Roman

    Karya sastra merupakan hasil ide, buah pikir, pengalaman, dan olah ciptaan manusia yang disampaikan secara komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Ruang lingkup karya sastra sangatlah luas, ragamnya pun bervarian.

    Karya-karya sastra sering menceritakan sebuah kisah baik dan bertujuan mulia untuk peradaban terus berlanjut.

    Adapun hasil dari sastra tersebut adalah Cerpen, Novel, Roman, Pantun, Gurindam, dan sebagainya.

    Dari begitu banyaknya karya sastra tersebut, ternyata mereka memiliki perbedaan dan keunikan masing-masing dalam unsur intrinsik maupun ekstrinsik.

    Pembahasan kali ini mengenai perbedaan antara cerpen, novel, dan roman.

    Jika dikelompokkan dalam sebuah pengkategorian, ketiga karya sastra di atas berada dalam satu lingkaran, yaitu prosa.

    Prosa sendiri merupakan bentuk karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita secara bebas, tanpa memperhatikan panjang naskah dan tidak terikat oleh ritme atau irama.

    Lalu, apakah perbedaan dari ketiga karya sastra tersebut?

    Cerpen, Novel, dan Roman merupakan hasil karya sastra yang sejenis. Tidak ada aturan pasti untuk menulisnya.

    Ide cerita dan bahasa yang digunakan merupakan bahasa sehari-hari sesuai dengan budaya mana yang akan diangkat oleh penulisnya.

    Namun, ada beberapa hal yang membedakan dari ketiga karya sastra tersebut, diantaranya: Alur, Penokohan, Konflik, serta Cerita.

    Cerpen biasanya memberikan cerita yang sederhana, tidak seekstrim dan sekompleks Novel ataupun Roman.

    Dari namanya saja, Cerpen (Cerita Pendek) sudah bisa dinilai bahwa cerita yang diangkat hanyalah cerita yang sederhana yang hanya memusatkan pada satu tokoh dan satu situasi saja.

    Berbeda dengan Novel maupun Roman, di dalamnya ada beberapa tokoh yang diceritakan secara mendalam beserta konflik lengkapnya.

    Panjang cerita pun berbeda, jika Cerpen biasanya hanya menyajikan 3-5 lembar halaman, Novel dan Roman mampu memberikan 100-300 halaman!

    Lantas, Apakah Novel dan Roman bisa dikatakan sama?

    Tentu saja tidak. Novel dan Roman tetap memiliki perbedaan dari unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya.

    Secara umum, Roman merupakan prosa yang paling kompleks jika dibandingkan dengan prosa lainnya.

    Jika Novel hanya menceritakan sebagian besar perjalanan hidup tokoh, berbeda dengan Roman.

    Roman menceritakan tokoh secara mendalam bahkan mulai dari kelahiran sampai kematian.

    Untuk lebih jelasnya, silakan melihat tabel di bawah ini.

    Unsur
    Cerpen
    Novel
    Roman
    Alur
    Sederhana
    Kompleks
    Kompleks
    Penokohan
    Karakter tokoh diceritakan tidak secara mendetail
    Karakter tokoh diceritakan sampai mendetail, namun hanya sebagian besar saja
    Karakter tokoh diceritakan sampai mendetail, bahkan hingga meninggal dunia
    Konflik
    Konflik tidak lengkap, hanya batin atau fisik
    Konflik sangat lengkap (batin dan fisik)
    Konflik sangat lengkap (batin dan fisik) bahkan diceritakan secara tragis
    Cerita
    Sederhana, hanya sebagian hidup tokoh
    Kompleks, hampir seluruh perjalan hidup tokoh diceritakan
    Sangat kompleks, bahkan mulai lahir sampai kematian tokoh diceritakan
  • Puisi Larantuka Karya Rama

    Larantuka
    oleh
    Rama

    Dari pelipis mataku
    Menyeruak menuju langit-langit

    Di beberapa malam kutelanjangi

    Ku gumami
    Pagi selalu berhambur warna terang

    Tidur pun tak pernah lelap

    Semua asing dalam kesadaran

    Aku ingin pulang
    Dibawanya ke mana pun
    kemana pun

    Siang ku kira matahari
    Benderang yang kudapat itu hanya kepergian
    Pantaskah kumenatap ego
    Itu mengotak-atik keji pikirku

    Bila saja ada pilihan
    Lenyap saja hati ini
    Gantung di kemelaratan

    Bila ada pilihan
    Perahu erot ini akan membara
    Disetiap perpanjangan gelombang