Tag: sastra

  • Ingin Menulis Novel Remaja? Perhatikan Hal Penting ini!

    Dunia literasi memang tidak akan ada habisnya. Pada setiap masa pasti bermunculan penulis-penulis berbakat yang siap menciptakan sebuah karya Sastra.

    Karya-karya Sastra tersebut tentunya memiliki kategori yang berbeda. Namun, secara umum karya Sastra dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu fiksi dan nonfiksi.

    Contoh karya nonfiksi adalah pengembangan diri, how to, motivasi, dan sejenisnya. Sedangkan contoh karya fiksi adalah puisi, cerpen, novel, roman. Walau berbeda tapi kedua jenis karya Sastra tersebut haruslah memiliki konsep yang tidak menyesatkan pembaca.

    Oleh karena itu, perlu adanya sebuah penelitian saat hendak menulis karya Sastra yang nantinya akan mengedukasi orang banyak.

    Belakangan ini, buku bacaan yang sedang laris di Indonesia adalah novel. Novel sendiri memiliki arti sebuah karangan prosa yang menceritakan kehidupan seseorang lengkap dengan watak, alur, konflik, dan penyelesaian.

    Novel adalah sebuah karangan kompleks yang teridiri dari ratusan halaman. Walau terkesan membosankan karena harus membaca ratusan halaman, nyatanya kedudukan Novel tidak bisa dijatuhkan. Tetap laris dan tetap dinikmati oleh kaula muda maupun dewasa.

    Dikutip dari beberapa sumber, bahwasanya penikmat novel di Indonesia mayoritas adalah perempuan. Maka dari itu, sebagai penulis Novel haruslah jeli melihat fenomena tersebut.

    Jika mayoritas pembaca Novel adalah perempuan, maka penulis hendaknya mengarang sebuah tokoh laki-laki dengan karakter yang kuat. Karena tokoh laki-laki dalam Novel adalah tokoh yang paling diperhatikan oleh setiap pembaca perempuan.

    Semakin mampu menguatkan tokoh dan karakter laki-laki dalam karangannya, semakin pula membuat para pembaca terhipnotis dengan isi karangan tersebut.

    Tentunya, mereka (perempuan) akan merekomendasikan Novel tersebut ke rekan sehobinya. Semakin sering direkomendasikan, semakin banyak pula Novel tersebut terjual. Sehingga memberikan benefit bagi penulis (materi maupun nama).

    Jadi, saat menulis sebuah Novel hendaknya memperhatikan tokoh laki-laki dan menguatkan karakternya hingga para pembaca merasa terpuaskan dengan adanya tokoh tersebut. Tidak sampai disitu saja, unsur-unsur lainnya juga harus diperhatikan seperti alur, latar, konflik, dan penyelesaian.

    Penulis : Maulana Affandi

  • Biografi Sutan Takdir Alisjahbana, Tokoh Sastra Rasionalis di Era Pergerakan

    Biografi Sutan Takdir Alisjahbana, Tokoh Sastra Rasionalis di Era Pergerakan

    Biografi Sutan Takdir Alisyahbana

    Ibunya seorang Minangkabau yang telah turun temurun menetap di Natal, Sumatera Utara. Ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru.

    Selain itu, dia juga menjalani pekerjaan sebagai penjahit, pengacara tradisional (pokrol bambu), dan ahli reparasi jam.

    Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemain sepak bola yang handal.

    Kakek Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dari garis ayah, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas.

    Di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA) ketika dia masih kecil.

    Kabarnya, ketika kecil Sutan Takdir Alisjahbana (STA) bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar.

    Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) pergi ke Bandung.

    Dan seringkali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera setiap kali dia mendapat liburan.

    Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal: Layar Terkembang.

    Keterlibatan dengan Balai Pustaka

    Setelah lulus dari Hogere Kweekschool di Bandung, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melanjutkan ke Hoofdacte Cursus di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu.

    Di Jakarta, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda.

    Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah Sutan Takdir Alisjahbana (STA) bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda.

    Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, Armijn Pane.

    Sutan Takdir Alisjahbana dan Perkembangan Bahasa Indonesia

    Dalam kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian ketua Komisi Bahasa selama pendudukan Jepang, Takdir melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa.

    Ia yang pertama kali menulis Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia serta Kamus Istilah yang berisi istilah- istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang.

    Setelah Kantor Bahasa tutup pada akhir Perang Dunia kedua, ia tetap memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia melalui majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan dan dipimpinnya.

    Sebelum kemerdekaan, Takdir adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo.

    Pada tahun 1970 Takdir menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator Konferensi Pertama Bahasa- Bahasa Asia tentang “The Modernization of The Languages in Asia (29 September-1 Oktober 1967).

    Direktur Cenfer for Malay Studies Universitas Malaya tahun 1060-1968.

    Karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana

    Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
    Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
    Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
    Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
    Layar Terkembang (novel, 1936)
    Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
    Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
    Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
    Pelangi (bunga rampai, 1946)
    Pembimbing ke Filsafat (1946)
    Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
    The Indonesian language and literature (1962)
    Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
    Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
    Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
    Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
    The failure of modern linguistics (1976)
    Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
    Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
    Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
    Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
    Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
    Kalah dan Menang (novel, 1978)
    Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)
    Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam SemeSutan Takdir Alisjahbana (STA) (1982)
    Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
    Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
    Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
    Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
    Sajak-Sajak dan Renungan (1987).

  • Lulusan Sastra, Mau Kerja Apa?

    Patut diakui, tidak semua jurusan di bangku perkuliahan selalu mendapat pandangan baik bagi sebagian orang dalam mengejar karirnya nanti.

    Seolah dukun, mereka yang tidak mengerti apa-apa kerap mempertanyakan hal yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan.

    Terlebih pada Mahasiswa yang berada pada jurusan yang tidak umum dan jarang diminati, seperti Sastra.

    Banyak orang sering bertanya “Kamu kuliah jurusan Sastra, mau jadi apa?”

    Begitulah kira-kira pertanyaan menyesatkan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak paham esensi Sastra.

    Setiap orang memiliki hak dan tanggungjawab atas mimpinya sendiri. Begitu pula Mahasiswa.

    Setiap Mahasiswa selalu memiliki angan dan cita-cita saat yang sangat tinggi.

    Jadi, jika pertanyaan aneh tersebut sering dilontarkan, secara tidak langsung akan melumpuhkan angan yang telah dirajut setinggi mungkin.

    Mungkin menurut sebagian orang, prospek dari Sastra hanyalah berkutat pada penulisan. Memang benar, itu dasarnya.

    Akan tetapi, ada hal di dalam Sastra yang jarang diketahui oleh orang di luar sana.

    Anak Sastra cenderung memiliki kemampuan tata bahasa dan verbal yang baik.

    Selain itu, anak Sastra juga memiliki tingkat sensitivitas tinggi pada bunyi atau tatanan bahasa.

    Cakap berbahasa dan memiliki kemampuan jitu dalam menangkap maksud omongan orang lain. Ingat, kecerdasan orang bisa dinilai dari cara bicaranya.

    Kalau anak Sastra mampu mengatur pola kalimat yang diucapkannya, itu sudah menandakan tingkat kecerdasan anak Sastra yang tidak perlu diragukan lagi.

    “Ujung-ujungnya jadi penulis, mau makan apa?”

    Kadang juga celetukkan tersebut keluar dari bibir orang yang merasa dia lebih hebat dibandingkan anak Sastra.

    Perlu diketahui, J.K Rowling sempat dinobatkan menjadi wanita terkaya karena tulisannya.

    Tidak hanya dia, banyak penulis dalam maupun luar negeri yang bisa mensejahterakan hidupnya dalam urusan financial.

    Dan, satu hal lagi yang paling penting dan jarang disadari oleh banyak orang.

    Penulis adalah pekerjaan mulia, sebab dengan menulis berarti orang tersebut sudah ikut berkontribusi dalam peradaban untuk merubah pola pikir manusia.

    Pada dasarnya, karya tulis merupakan sebuah senjata termahal dalam dunia pendidikan.

    Sehingga banyak orang yang mengatakan jika buku adalah jendela dunia. Lantas siapa yang menciptakan buku jika bukan penulis?

    Bayangkan saja, jika penulis mampu merubah pola pikir jutaan orang dengan karyanya, apakah hal tersebut sia-sia?Tentu saja tidak!

    Dan, apa yang bisa dikenang dari manusia saat sudah tiada? Satu-satunya jawaban adalah karya.

    Selain menjadi penulis buku, masih banyak progress baik bagi Mahasiswa Sastra dalam mencapai karirnya.

    Seperti CopyWriter, Jurnalis, Psikologi, Digital Marketing, Editor, Lembaga Pendidikan, Sutradara, Blogger, Aktor, Penyunting Naskah, Penulis Skenario, Dubes, dan masih banyak yang lainnya.

    Jadi, jangan sampai semangat yang telah membara redup begitu saja karena ucapan-ucapan tidak sehat dari orang-orang yang tidak mengerti esensi Sastra.

    Author : Maulana Affandi

  • 8 Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    8 Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    Morfologi adalah bagian ilmu bahasa yang mempelajari atau membicarakan tentang seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.

    Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik.

    Morfologi juga mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik, yang biasa disebut arti gramatikal atau makna.

    Satuan yang paling kecil dipelajari oleh morfologi adalah morfem, sedangkan yang paling besar berupa kata.

    Morfologi hanya mempelajari peristiwa-peristiwa yang umum, peristiwa yang berturut-turut terjadi, yang bisa dikatakan merupakan sistem dalam bahasa.

    Peristiwa perubahan bentuk misalnya pada perubahan kata dari jala menjadi jalan pada kata berjalan, dan perubahan dari kata aku menjadi saya, serta perubahan kata dari tahun menjadi tuhan boleh dikatakan hanya terjadi pada kata tersebut.

    Oleh karena itu, peristiwa tersebut tidak bisa disebut sebagai peristiwa umum, tentu saja bukan termasuk dalam bidang morfologi, melainkan termasuk dalam ilmu yang biasa disebut etimologi, yaitu ilmu yang mempelajari seluk-beluk asal sesuatu kata secara khusus.

    Di sini dikemukakan bahwa pembicaraan tentang satuan gramatik yang salah satu dari unsurnya berupa afiks dibahas dalam bidang morfologi, dan pembicaraan tentang kata majemuk juga dibicarakan dalam bidang morfologi mengingat bahwa kata majemuk masih termasuk golongan kata.

    1. Cristal (198:232–233)

    Morfologi adalah cabang tata bahasa yang menelaah struktur atau bentuk kata, utamanya melalui pengguanaan morfem.

    Morfologi pada umumnya dibagi ke dalam dua bidang: yakni telaah infleksi (inflectional morfhology). Dan telaah pembentukan kata (lexical or derivational morphology).

    Analisis morfemik bagian dari telaah linguistik sikronis; analisis morfologis diterapkan terhadap telaah historis. Analisis morfologis dilakukan dalam berbagai bentuk.

    Satu pendekatan membuat telaah distribusional morfem dan varian morfemis yang muncul dalam kata (analisis susunan morfotaktis).

    2. Bauer (1983:33)

    Morfologi membahas struktur internal bentuk kata. Dalam morfologi, analisis membagi bentuk kata ke dalam formatif komponennya, dan berusaha untuk menjelaskan kemunculan setiap formatif.

    Morfologi dapat dibagi ke dalam dua cabang utama, yaitu morfologi infleksional dan pembentukan kata yang disebut morfologis leksikal. Morfologi infleksional membahas leksem – leksem baru dari pemajemukan kata (komposisi).

    Deriviasi berurusan dengan pembentukan leksem baru dari dua atau lebih sistem potensial. Derivasi kadang – kadang juga dibagi ke dalam derivasi mempertahankan kelas (class-maintaining derivation) dan derivasi perubahan kelas (class-changing derivation).

    3. Rumandji (1993:2)

    Morfologi mencakup kata, bagiannya, dan prosesnya.

    4. O’Grady dan Dobrovolsky (1989:89-90)

    Morfologi adalah komponen tata bahasa generative tranformasional (TTG) yang membicarakan struktur internal kata.

    Teori morfologi umum yang berurusan dengan pembahasan secara tepat mengenai jenis – jenis kaidah morfologi yang dapat ditemukan dalam bahasa – bahasa alamiah.

    Morfologi khusus merupakan seperangkat kaidah yang mempunyai fungsi ganda. Pertama, kaidah – kaidah ini berurusan dengan pembentukan kata baru.

    Kedua, kaidah – kaidah ini mewakili pengetahuan penutur asli yang tidak disadari tentang struktur internal kata yang sudah ada dalam bahasanya.

    5. Menurut Ramlan (1978:2)

    Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk struktur kata serta pengaruh perubahanperubahan struktur kata terhadap golongan dan arti kata.

    6. Menurut Nida (1974: 1)

    Menyatakan bahwa morfologi adalah suatu kajian tentang morfem-morfem dan penyusunan morfem dalam rangka pembentukan kata.

    7. Veerhar (1984 : 52)

    Morfologi atau tata bentuk ada pula yang menyebutnya morphemics adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal.

    Dengan perkataan lain, morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata.

    8. Zaenal Arifin dan Juaiyah

    Morfologi adalah bentuk, makna, dan fungsi. Morfologi adalah ilmu bahasa tentang seluk-beluk bentuk kata (struktur kata).

  • Pengertian Sosiologi Sastra Secara Umum dan Para Ahli

    Pengertian Sosiologi Sastra Secara Umum dan Para Ahli

    Pengertian Sosiologi Sastra

    Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi (logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan.

    Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana.

    Merujuk dari definisi tersebut, keduanya memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda bahkan bertentangan secara dianetral.

    Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sain) bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan imajinatif.

    Pengertian Sosiologi Sastra Menurut Para Ahli

    Sosiologi sastra adalah suatu tela’ah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakatdan tentang sosial dan proses sosial.

    Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah-masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain (Atar Semi: 52).

    Pandangan Atar Semi mendeskripsikan kajian sosiologi sastra tidak jauh beda dengan unsur-unsur ekstrinsik karya sastra. Sosiologi sastra ingin mengaitkan penciptaan karya sastra, keberadaan karya sastra, serta peranan karya sastra dengan realitas sosial (Ratna, 2009:164).

    Lebih jauh Wolf (Faruk dalam Endraswara, 2004:77) memberikan defiinisi bahwa sosiologi sastra merupakan disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari studi, studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang agak lebih general, yang masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan hubungan sastra dengan masyarakat.

    Generalisasi dari berbagai pendapat tentang sosiologi sastra di atas, sosiologi sastra merupakan tela’ah terhadap suatu karya sastra dalam kaitannya dengan pengaruh sosial-budaya yang ikut mempengaruhi cerita dalam karya sastra.

    Tela’ah sosiologis itu mempunyai tiga klasifikasi (Wellek dan Werren dalam Atar Semi: 53) yaitu:

    1. Sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, idiologi politik, dan lain-lain yang menyangkut status pengarang.

    2. Sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tenatang suatu karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya.

    3. Sosiologi sastra, yakni mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat pada prinsipnya, menurut Lauren dan Swingewood (Endraswara, 2004:79), terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra yaitu;

    1. Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan
    2. Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya,
    3. Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra merupakan suatu tela’ah ilmu yang mencoba mengungkap fenomena masyarakat yang terdapat dalam sebuah karya sastra guna memberikan pandangan yang objektif dalam penilaian karya sastra.

  • 6 Pengertian Stilistika Menurut Para Ahli

    6 Pengertian Stilistika Menurut Para Ahli

    Dalam kajian bahasa dan sastra, pembahasan mengenai gaya bahasa memiliki peran penting untuk memahami bagaimana seorang penulis mengekspresikan gagasan, perasaan, dan kepribadiannya melalui bahasa.

    Ilmu yang secara khusus mengkaji aspek gaya bahasa tersebut dikenal dengan istilah stilistika.

    Melalui stilistika, kita dapat menelusuri ciri khas penggunaan bahasa yang membedakan satu pengarang dengan pengarang lainnya, sekaligus memahami nilai estetik yang terkandung dalam karya sastra.

    Stilistika Menurut Para Ahli

    Untuk memahami lebih dalam mengenai hakikat stilistika, para ahli telah memberikan berbagai definisi dan sudut pandang yang memperkaya pemahaman kita terhadap disiplin ilmu ini.

    Adapun pengertian stilistika menurut para ahli adalah sebagai berikut:

    1. Pengertian Stilistika menurut Turner (dalam Pradopo, 1993: 264)

    Mengartikan stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa yang merupakan bagian linguistik yang memusatkan pada variasi-variasi penggunaan bahasa tetapi tidak secara eksklusif memberikan perhatian khusus kepada penggunaan bahasa yang kompleks pada kesusastraan.

    2. Definisi Stilistika menurut Ratna (2009: 167)

    Secara definisi stilistika adalah ilmu yang berkaitandengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya lebih mengacu pada gaya bahasa.

    Dalam bidang bahasa dan sastra stilistika berarti cara-cara penggunaan bahasa yang khas sehingga menimbulkan efek tertentu yang berkaitan dengan aspek-aspek keindahan.

    3. Definisi Stilistika menurut Teeuw (dalam Fananie, 2000: 25)

    Stilistika merupakan sarana yang dipakai pengarang untuk mencapai suatu tujuan, karena stilistika merupakan cara untuk mengungkapkan pikiran, jiwa, dan kepribadian pengarang dengan cara khasnya.

    4. Pengertian Stilistika menurut Sudjiman (1993: 13)

    Pengertian stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana.

    Dengan demikian style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa.

    5. Definisi Stilistika menurut Endaswara (2003:72)

    Menyebutkan stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa suatu karya sastra.

    Selanjutnya dikatakan ada dua pendekatan analisis stilistika: “(1) dimulai dengan analisis sistem tentang linguistik karya sastra, dan dilanjutkan ke interpretasi tentang ciri-ciri sastra, interpretasi diarahkan ke makna secara total; (2) mempelajari sejumlah ciri khas yang membedakan satu sistem dengan sistem lain”.

    6. Definisi Stilistika menurut Fananie (2000: 25)

    Mengemukakan stilistika atau gaya merupakan ciri khas pemakaian bahasa dalam karya sastra yang mempunyai spesifikasi tersendiri dibanding dengan pemakaian bahasa dalam jaringan komunikasi yang lain.

    Gaya tersebut dapat berupa gaya pemakaian bahasa secara universal maupun pemakaian bahasa yang merupakan kecirikhasan masing-masing pengarang.

    Berdasarkan pengertian stilistika di atas maka dapat disimpulkan bahwa stilistika adalah cabang linguistik yang mempelajari tentang gaya bahasa.

    Penggunaan gaya bahasa menimbulkan efek tertentu yang berkaitan dengan aspek-aspek keindahan yang merupakan ciri khas pengarang untuk mencapai suatu tujuan yaitu mengungkapkan pikiran, jiwa, dan kepribadiaannya.

  • Pengertian Leksikografi Menurut Para Ahli

    Pengertian Leksikografi Menurut Para Ahli

    Leksikografi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana memiliki kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui berbagai proses.

    Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus adalah Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843).

    Johnson, ahli bahasa dari Inggris, membuat Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume.

    Di Amerika, Webster pertama kali membuat kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.

    Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan adalah Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford?

    Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab karena kamus tersebut lengkap dan cukup mudah dimengerti.

    Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak ahli bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar.

    Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya dapat mudah dipahami oleh pelajar karena semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti.

    Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya ahli bahasa yang dapat menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar dapat langsung saja menikmati dan menggunakan berbagai kamus Oxford yang ada di pasaran.

    Ahli bahasa adalah guru dan/atau pelatih bagi para guru bahasa. Ahli bahasa dapat menentukan secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar.

    Para pelajar hanya langsung mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English.

    Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic adalah B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh ahli linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.

    Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diperlukan oleh pelajar untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh berbagai universitas ternama yang memiliki jurusan linguistik.

    Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menyelesaikan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.

    Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh ahli bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa dapat langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya.

    Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien dapat langsung menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.

  • Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Pengertian Komunikasi

    Komunikasi Adalah Proses penyampaian pesan antara komunikator terhadap komunikan melalui saluran-saluran tertentu baik secara verbal maupun non verbal dan menghasilkan efek tertentu.

    Dalam kehidupan sehari-hari, tak peduli dimanapun berada, akan selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tertentu yang berasal dari kelompok, ras, etnik, ataupun negara lain.

    Berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya menjadikan sebuah pengalaman baru yang selalu dihadapi.

    Berkomunikasi adalah kegiatan yang popular dan bahkan selalu dilakukan dalam pergaulan manusia.

    Aksioma Komunikasi:

    “Manusia selalu berkomunikasi, manusia tidak dapat menghindari komunikasi”

    “Manusia tidak bisa dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi dengan cara atau melalui pertukaran informasi, ide-ide, gagasan, maksud serta emosi yg dinyatakan dalam simbol-simbol dengan orang lain”.

    “55% dari komunikasi manusia dinyatakan dalam simbol non verbal, 38% melalui nada suara, dan 7% komunikasi yang efektif dinyatakan dengan kata-kata”, Menurut Mehrabian (1972)

    Sekelompok orang yang mengikuti arisan, atau kelompok organisasi, hanya bisa tumbuh dan berkembang sebagai sebuah komunitas bahkan masyarakat, kalau setiap anggotanya saling bertukar pengalaman, semakin hari semakin mendalam dan terjadi berulang-ulang, sebagaimana yang dikatakan para ahli komunikasi, bahwa komunikasi itu meliputi usaha untuk menciptakan pesan, mengalihkan pesan, memberikan diri kita sebagai sebuah tempat yakni dihati dan di otak orang lain untuk menerima pesan. Hasil dari komunikasi bersama itu adalah pemahaman atas hubungan antar pribadi.

    Jane Pauley (1999), tiga komponen yang harus ada dalam peristiwa komunikasi, sehingga kalau satu komponen kurang maka komunikasi tak akan terjadi. Yaitu :

    (1) Transmisi Informasi,
    (2)Transmisi Pengertian,
    (3) menggunakan simbol-simbol yang sama.

    Pengertian Komunikasi Antar Budaya

    Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan. Hammer (1989) mengutip perumpamaan Wilbur Schramm (1982) menggambarkan bahwa lapangan studi komunikasi itu ibarat sebuah oasis, dan studi komunikasi antarbudaya itu dibentuk oleh ilmu-ilmu tentang kemanusiaan yang seolah nomadik lalu bertemu di sebuah oase.

    Ilmu-ilmu sosial nomadik itu adalah antropologi, sosiologi, psikologi, dan hubungan internasional. Guo-Ming Chen dan William J.Starosta mengatakan bahwa komunikasi antar budaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing prilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.

    Komunikasi antarbudaya itu dilakukan :

    • Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang di pertentangkan.
    • Memalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan di buat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama
    • Sebagai pembimbing prilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap prilaku kita
    • Menunjukan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.

    Sedangkan terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya. Hambatan komunikasi semacam ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik. Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004, p. 11 – 12):

    1. Fisik (Physical)

    Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhandiri, dan juga media fisik.

    2. Budaya (Cultural)

    Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

    3. Persepsi (Perceptual)

    Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.

    4. Motivasi (Motivational)

    Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.

    5. Pengalaman (Experiantial)

    Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.

    6. Emosi (Emotional)

    Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

    7. Bahasa (Linguistic)

    Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata- kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.

    8. Nonverbal

    Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi.

    9. Kompetisi (Competition)

    Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan.

  • Pengertian Lontar Beserta Proses Pembuatannya

    Pengertian Lontar Beserta Proses Pembuatannya

    Pengertian Lontar dan Proses Membuatnya

    Lontar (dari Bahasa Jawa: ron tal, “daun tal”) adalah daun Siwalan atau tal (Borassus flabellifer atau palmyra) yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan.

    Lontar sendiri dipakai hingga di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, kita akan menjumpai banyak naskah dari lontar di berbagai daerah seperti Jawa, Bali, Madura. Lombok, dan Sulawesi Selatan.

    Proses pembuatan lontar pun cukup sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Pertama-tama dimulai dari pemetikan daun Siwalan yang dilakukan pada bulan Maret/April atau September/Oktober.

    Di bulan tersebut, daun siwalan sudah cukup tua dan siap untuk dipetik. Selanjutnya, daun siwalan di potong kasar lalu dikeringkan dengan menggunakan panas matahari.

    Proses pemanasan tersebut akan membuat warna daun yang semula berwarna hijau berubah menjadi kuning.

    Daun-daun yang sudah dikeringkan tadi kemudian di rendam dengan air mengalir selama beberapa hari dan digosok menggunakan serbet atau serabut kelapa.

    Setelah itu daun-daun di keringkan kembali lalu direbus dengan campuran ramuan selama 8 jam agar kotoran yang menempel pada daun-daun tersebut luntur dan menjaga struktur daun supaya tetap bagus.

    Setelah direbus, daun-daun tersebut dijemur di atas tanah hingga kering dan pada sore hari daun-daun tersebut diangkat.

    Tanah yang digunakan sebagai alas pada saat penjemuran tadi, dibasahi dengan air kemudian daun-daun yang sudah kering diletakkan kembali di atas tanah agar menjadi lembab dan lurus. Selanjutnya, daun-daun tersebut dibersihkan dengan kain lap.

    Proses selanjutnya, daun-daun ditumpuk dan dipres menggunakan sebuah alat penjepit kayu berukuran cukup besar yang disebut dengan pamlagbagan selama kurang lebih enam bulan.

    Namun, daun-daun tersebut tidak dibiarkan begitu saja selama enam bulan melainkan diangkat dan dibersihkan setiap dua minggu sekali.

    Setelah itu daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan diberi tiga lubang: di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan.

    Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti. Tepi-tepi lontar juga dicat, biasanya dengan cat warna merah.

    Lontar sekarang siap ditulisi dan disebut dengan istilah pepesan dan sebuah lembar lontar disebut sebagai lempir.

    Penulisan naskah menggunakan lontar inipun tidak semudah saat kita menulis menggunakan kertas biasa dan pena.

    Sebelum menulis, etiap lempir lontar yang akan ditulisi, diberi garis terlebih dahulu agar saat menulis nanti hasil tulisannya terlihat rapi dan lurus. Hal ini dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang disebut panyipatan.

    Setelah lontar selesai diberi garis dan siap untuk ditulisi, ditulisi menggunakan pisau tulis yang disebut pengropak atau pengutik di setiap lempirnya.

    Kemudian tulisan pada lempir lempir tersebut di hitamkan atau diperjelas dengan menggunakan kemiri yang dibakar dan menghasilkan minyak.

    Lalu tumpukan lempir-lempir ini disatukan dengan sebuah tali melalui lubang tengah dan diapit dengan sepasang pengapit yang disebut sebagai cakepan.

    Namun, kadangkala lempir-lempir disimpan dalam sebuah peti kecil yang disebut dengan nama kropak yang artinya adalah naskah lontar.

    Cukup banyak naskah naskah yang ditulis menggunakan lontar diantarasnya naskah yang berisi tentang ajaran Hindu-Budha yang terdapat di Bali, Jawa dan Sulawesi.

    Namun kelemahan dari lontar ini adalah naskah yang ditulis tidak akan bertahan lama seperti naskah yang ditulis pada prasasti. Naskah lontar hanya mampu bertahan hingga 100-150 tahun saja.

    Beberapa Negara yang juga menyimpan koleksi lontar untuk dibaca oleh peneliti aiantaranya adalah Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, Britania Raya, German, dan Perancis.

  • Pengertian Ilmu Budaya Dasar Menurut Para Ahli

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar Menurut Para Ahli

    Pengertian Ilmu Budaya Dasar

    Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”.

    Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin Humanus yang artinya manusia, berbudaya dan halus.

    Dengan mempelajari humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.

    Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya.

    Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.

    Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan.

    Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu:

    a. Ilmu-ilmu Alamiah (natural scince)

    Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah.

    Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas.

    Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah.

    b. Ilmu-ilmu sosial (social scince)

    Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia.

    Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100% benar, hanya mendekati kebenaran.

    Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.

    c. Pengetahuan budaya (the humanities)

    Bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi.

    Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.

    Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disilpin) seni dan filsafat.

    Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.

    Tujuan Ilmu Budaya Dasar

    Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

    Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk di dalam pengetahuan budaya.

    Tapi IBD semata-mata sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.

    Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat:

    1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya

    Sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.

    Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.

    2. Mengusahakan agar mahasiswa sebagai calon pemimpin Bangsa dan Negara

    Serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat.

    Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancar dalam berkomunikasi.