Tag: sastra

  • 5 Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli

    5 Pengertian Fonologi Menurut Para Ahli

    Pengertian Fonologi

    sastrawacana.id/ – Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa. Fonologi secara Etimologi berasal dari kata fon, yang artinya bunyi dan logos yang berarti ilmu.

    Fonologi merupakan bidang lingustik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa.

    Dalam khazanah bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan turunan kata dari bahasa Belanda, yaitu fonologie.

    Fonologi terdiri dari 2 dua bagian, yaitu Fonetik dan Fonemik.

    Fonologi berbeda dengan fonetik. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan.

    Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa.

    Pengertian fonologi Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian fonologi menurut para ahli.

    1. Keraf

    Fonologi ialah bagian dari tata bahasa yang memperlajari bunyi-bunyi bahasa (Keraf, 1984: 30).

    2. Kridalaksana

    Fonologi ialah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya (Kridalaksana, 1995: 57).

    3. Chaer

    Fonologi ialah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu (Chaer, 1994: 102).

    4. Verhaar (1984:36)

    Fonologi memiliki pengertian yang cukup signifikan yang mana sebuah Ilmu yang memperlajari bidang khusus pada linguistik yang meneliti bunyi suatu bahasa tertentu yang sesuai dengan fungsinya bertujuan menjadi pembeda antara makna leksikal dalam suatu bahasa.

    5. Fromkin & Rodman

    Definisi Fonologi yang mana fonologi merupakan suatu bidang linguistik yang mengamati, mempelajari, mengalisa dan membecirakan terkait dengan tata bunyi bahasa.

    Fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik

    Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

    Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

  • 5 Kesalahan Umum dalam Menulis Novel

    Dalam menulis novel memang tidak ada aturan baku yang mengikat. Setiap penulis bebas menulis sesuai dengan karakter serta gaya bahasa sendiri.

    Namun, tidak sedikit penulis yang kadang mengabaikan hal-hal kecil yang menurutnya tidak penting.

    Padahal kalau dipahami lebih dalam, sekelumit hal kecil tersebut akan sangat berpengaruh dalam kualitas karya.

    Tidak hanya itu, proses menulis bukanlah sebuah perjalanan pendek yang bisa dilakukan tanpa hambatan. Menulis novel adalah sebuah proses panjang dengan seribu hambatan.

    Demikian susahnya kah?

    Ya, penulis profesional saja kerap mengalami kesulitan dalam penggarapan karya mereka, apalagi penulis pemula yang masih meraba-raba dalam penciptaan sebuah karya.

    Kesalahan Dalam Menulis Novel

    Nah, setelah mengetahui betapa sulitnya menulis novel, ada baiknya kita mengetahui 5 kesalahan umum yang seharusnya tidak dilakukan oleh penulis.

    1. Salah Memilih Tokoh Utama

    Dalam sebuah novel, peran tokoh utama sangatlah penting. Sebab, tokoh utama adalah sosok seseorang yang diceritakan pada awal hingga akhir cerita.

    Secara garis besar bisa dikatakan jika tokoh utama adalah inti cerita dari jumlah ratusan halaman yang dibukukan. Maka dari itu, sebelum menulis, ada baiknya menentukan tokoh utama yang tepat.

    Tentukan pula bagaimana watak, karakter, serta latar belakang si tokoh utama tersebut agar memiliki kekuatan dan mampu memikat hati setiap pembaca nantinya.

    2. Salah Memilih Jalan Cerita

    Pada dasarnya, cerita yang baik adalah cerita yang tidak mudah ditebak. Kebanyakan orang sering merasa bosan saat membaca novel karena jalan ceritanya sangat mudah ditebak.

    Cerita dalam sebuah novel sangatlah liar dan bebas, maka jangan terjebak hanya dalam sebuah sudut pandang yang klise.

    Cobalah untuk berimajinasi lebih liar lagi agar cerita yang diciptakan tidak mudah ditebak.

    Sebab, pembaca akan merasakan sensasi berbeda saat membaca naskah yang isi tulisannya mengalir serta memberikan efek penasaran akan cerita selanjutnya.

    3. Konflik Kurang Kompleks

    Yang dimaksud kurang kompleks di sini adalah tidak terjadi konflik lengkap, mulai dari konflik batin hingga fisik.

    Sebab, novel adalah sebuah karya sastra yang memiliki jumlah halaman hingga ratusan.

    Jadi, alangkah membosankan jika konfliknya rata tanpa penekanan maupun tanpa kompleksitas yang membuat situasi cerita semakin hidup.

    Sebab, sesuai dengan rentenannya, dalam karya sastra terdapat yang namanya urutan cerita, mulai dari pengenalan, ide cerita, konflik, penyelesaian.

    Nah, dengan konflik yang tidak memuncak, maka emosional pembaca juga tidak mencapai klimaksnya.

    4. Editing Saat Menulis

    Ini adalah kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis, baik pemula maupun profesional. Hampir semua penulis pasti pernah melakukan hal ini, yaitu mengedit saat sedang asik-asiknya menulis.

    Menurut riset yang telah terbukti kebenarannya, menulis sambil mengedit adalah sebuah aktivitas yang sangat tidak efisien. Alangkah lebih baik, jika fokus menulis saja dan jangan melakukan editing.

    Sebab, saat imajinasi sedang mengalir deras di otak, maka fokus harus tetap terjaga, jangan diganggu dengan aktivitas editing yang akan merubah jalan cerita.

    Kebanyakan penulis yang pernah melakukan kesalahan ini mengaku jika lebih baik menyelesaikan naskah terlebih dahulu.

    5. Menuruti Rasa Bosan

    Kendala yang paling sering muncul saat menulis novel adalah rasa bosan. Ya, terlebih rasa bosan itu sangat besar hantamannya sehingga mengakibatkan rasa malas dan kebuntuan.

    Sebetulnya, hal tersebut wajar saja. Ada baiknya untuk beristirahat sejenak, gunakan waktu istirahat tersebut dengan hal yang baik, misalnya membaca maupun menonton film agar inspirasi datang kembali.

    Jangan menuruti bosan hingga akhirnya kebablasan. Sebab, saat rasa bosan telah menguasai, maka naskah hanya akan menjadi konsep dalam folder usang tanpa pembaruan.

    Usahakan lawan rasa bosan tersebut dan percaya bahwa otak manusia adalah anugerah yang tidak mudah dikalahkan.

    Author : Maulana Affandi

  • 10 Pengertian Pragmatik Menurut Para Ahli

    Pengertian Pragmatik

    Pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan antara konteks luar bahasa dan maksud tuturan.

    Konteks luar bahasa ialah unsur di luar tuturan yang mempengaruhi maksud tuturan.

    Maksud tidak bisa dilihat dari bentuk dan makna saja, tetapi juga dari tempat dan waktu berbicara, siapa saja yang terlibat, tujuan, bentuk ujaran, cara penyampaian, alat berbicara, norma-norma, dan genre.

    Yang dipelajari dalam kajian pragmatik meliputi tindak tutur, implikatur tuturan, interaksi percakapan, dan faktor-faktor eksternal percakapan, misalnya deiksis.

    Definisi Pragmatik Menurut Para Ahli

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga tahun 2005 disebutkan bahwa pragmatik adalah yang berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi.

    Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177).

    Sedangkan menurut International Pragmatics Association (IPRA) yang dimaksud dengan pragmatik ialah penyelidikan bahasa yang menyangkut seluk belum penggunaan bahasa dan fungsinya (dalam Soemarmo, 1987 : 3).

    Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah pragmatik ini secara berbeda-beda.

    1. Yule (1996:3)

    Menyebutkan 4 definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara, dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.

    2. Levinson (1983:9)

    Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa. Disini, pengertian/pemahaman bahasa menunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya.

    3. Kridalaksana (1993:177)

    Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran.

    4. Verhaar (1996: 14)

    Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ekstralingual yang dibicarakan.

    5. Purwo (1990: 16)

    Mendefinisikan pragmatik sebagai telah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks.

    Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi.

    6. Morris (1960)

    Mengatakan bahwa pragmatik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan.

    Yang dimaksud orang menurut definisi tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur.

    7. Leech (1993:8)

    Pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat.

    8. Thomas (1995:2)

    Mendefinisikan pragmatik dengan menggunakan sudut pandang sosial dan sudut pandang kognitif.

    Dengan sudut pandang sosial, Thomas menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, pragmatik dihubungkan dengan interpretasi tuturan (utterance interpretation).

    Thomas (1995;2) menyebut adanya kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian yaitu, pertama dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara.

    Kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran.

    Selanjutnya Thomas (1995:22) dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makan dalam interaksi.

    9. Nababan (1987:2)

    Pragmatik ialah aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaannya.

    Pragmatik sebagai ilmu bersumber pada beberapa ilmu lain yang juga mengkaji bahasa dan faktor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan bahasa ilmu-ilmu itu ialah filsafat bahasa, sosiolinguistik antropologi, dan linguistik – terutama analisa wacana (discourse analysis) dan teori deiksis (Nababan, 1987).

    10. Crystal (1987: 120)

    Crystal menyatakan pragmatics studies the factors that govern our choice of language in social interaction and the effect of our choice on others. In theory, we can say anything we like. In practice, we follow a large number of social rules (most of them unconsciously) that constrain the way we speak.

    Pragmatik mengkaji faktor-faktor yang mendorong pilihan bahasa dalam interaksi sosial dan pengaruh pilihan tersebut pada mitra tutur. Di dalam teori, kita dapat mengatakan sesuatu sesuka kita. Di dalam praktik, kita harus mengikuti sejumlah aturan sosial (sebagian besarnya tidak disadari) yang harus kita ikuti.

  • 6 Perubahan Fonem Dalam Bahasa Indonesia

    6 Perubahan Fonem Dalam Bahasa Indonesia

    Pengertian Fonem

    Fonem adalah satuan bunyi terkecil dalam bahasa yang memiliki fungsi membedakan makna kata.

    Fonem bukan sekadar bunyi, tetapi bunyi yang secara sistematis dianggap berbeda oleh penutur bahasa untuk menandai perbedaan arti.

    Misalnya, dalam bahasa Indonesia bunyi /p/ dan /b/ membedakan kata padi dan badi. Meskipun secara fisik bunyi tersebut mungkin mirip, perbedaan fonemik ini penting karena mengubah makna kata.

    Fonem menjadi dasar dalam analisis fonologi karena menentukan bagaimana bunyi disusun dan berinteraksi dalam suatu bahasa.

    Perubahan Fonem

    Dalam proses penggunaan bahasa sehari-hari, fonem tidak selalu tetap dan dapat mengalami perubahan akibat berbagai faktor, baik karena pengaruh lingkungan fonetik, kemudahan pengucapan, maupun adaptasi bahasa dari kata pinjaman.

    Perubahan-perubahan ini tidak hanya memengaruhi bunyi, tetapi juga fungsi fonem dalam membedakan makna, sehingga muncul fenomena-fenomena linguistik tertentu yang menarik untuk dipelajari. Berikut ini beberapa jenis perubahan fonem beserta penjelasannya.

    1. Asimilasi

    Yang dimaksud dengan asimilasi yaitu pristiwa perubahan bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinnya.

    Contoh asimilasi:

    Sabtu dalam bahasa Indonesia lazim disebutkan [saptu], di mana terlihat [b] berubah menjadi [p] karena pengaruh [t].

    2. Disimilasi

    Yang dimaksuk disimilasi yaitu peristiwa perubahan bunyi yang menyababkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

    Contoh disimilasi:

    Citra yang berubah menjadi kata cipta dan cinta, kita lihat bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi bunyi [pt] pada kata cipta dan berubah menjadi bunyi [nt] pada kata cinta

    3. Netralisasi

    Yang dimaksud dengan netralisasi yaitu pristiwa perubahan bunyi yang menyebabkan batalnya fungsi fonemik sebagai pembeda makna.

    Contoh netralisasi :

    Bunyi [lembab] dan [lembap], pada hakekatnya bunyi ini memiliki makna yang sama. Kita lihat /b/ dan /p/ di sini kehilangan fungsinya sebagai pembeda makna.

    4. Akrifonem

    Yang dimaksud dengan akrifonem yaitu satuan terkecil dalam kosakata yeng menetralisasikan oposisi antara ciri-ciri makna beberapa leksem.

    Contoh akrifonem :

    Kata  Jawab yang diucapkan /jawap/ atau diucapkan /jawab/, tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya menjadi jawaban. Jadi, di sini ada /B/ yang realisasinya bisa menjadi /p/ atau /b/.

    5. Metatesis

    Yang dimaksud dengan metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang berada dalam satu kata dalam bentuk lain dari fonem yang sama.

    Contoh  metatesis :

    Pada  kata batu, fonem /b/, /a/, /t/, dan /u/ dapat berubah menjadi bentuk kata lain, seperti : buta, tuba, dan tabu.

    6. Epentesis

    Yang dimaksud dengan epentesis yaitu penambahan huruf dalam satu kata terutama kata pinjaman tanpa mengubah arti untuk menyesuaikan pola fonologis bahasa peminjam.

    Contoh epentesis :

    Kata kampak, kita lihat bunyi [m] disisipkan ditengah kata kapak. Contoh lainnya pada jumblah, bunyi [b] disisipkan di tengah kata jumlah.

  • Cara Menulis Novel dengan Mudah, Perhatikan Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik

    Karya Sastra adalah penciptaan ide yang disampaikan secara komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika.

    Karya-karya sastra sering memberi pesan dalam setiap kalimatnya.

    Sastra sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman.

    Sas berarti instruksi atau berupa ajaran dan Tra berarti alat atau sarana.

    Jika disederhanakan, maka karya sastra bisa dikatakan sebagai hasil pemikiran manusia yang dirangkai dengan kalimat-kalimat indah yang mengandung suatu maksud di dalamnya.

    Sebuah karya sastra itu terbentuk karena ada dua unsur di dalamnya.

    Pertama adalah unsur intrinsik atau yang lebih akrab disapa struktural.

    Kedua, adalah unsur ektrinsik yang menyelimuti karya tersebut dari luar.

    Nah, yang perlu kita pahami saat ini adalah bagaimana bisa seorang penulis menciptakan cerita yang tebalnya ratusan halaman dengan cerita yang apik dan berurutan?

    Jawaban yang paling bijak adalah karena adanya dua unsur tersebut, yakni intrinsik dan ektrinsik.

    Menjadi penulis bukanlah hal yang mudah. Ingat, menulis bukanlah hal yang mudah.

    Tapi, dengan memiliki teori dalam kesusastraan, kesulitan tersebut akan berkurang hingga akhirnya cukup mudah untuk dilakukan.

    Dalam menulis sebuah karya sastra, seorang penulis harus membuat kerangka tulisannya terlebih dahulu.

    Sebab dengan kerangka tersebut, maka cerita akan mudah dibangun dengan indahnya.

    Ya, kerangka tulisan itulah yang dinamakan intrinsik.

    Adapun beberapa sub yang berada dalam naungan unsur intrinsik antara lain: Judul, Tema, Tokoh, Alur, Latar, Sudut Pandang, Konflik, serta Titik Terang atau Klimaks.

    Nah, dengan memahami kerangka tersebut maka penulis bisa membatasi ide dan imajinasinya agar tidak melebar ke sub bahasan yang lain.

    Dengan demikian, maka karya yang ditulis akan lebih terfokus dan tidak terpecah bagiannya.

    Percayalah, teori yang dianggap simple ini sangat berpengaruh pada penggarapan sebuah karya.

    Tanpa adanya teori, maka semuanya akan terasa susah sebab kita tidak tahu tahapan-tahapan yang harus dilalui dan ditata dalam menciptakan karya sastra itu sendiri.

    Lalu, unsur kedua adalah Ekstrinsik atau unsur yang membangun karya dari luar.

    Biasanya unsur ini berupa latar atau kondisi yang diceritakan dalam karya tersebut.

    Misalnya kondisi sosial dan budaya, kondisi tahun penciptaan, kondisi psikologis, serta kondisi tempat yang sedang diceritakan.

    Kalau karya sastra pada zaman dahulu, unsur ektrinsik yang diangkat berupa kepahlawanan, sesuai dengan kondisi di mana Negara sedang dalam ancaman penjajah.

    Namun, di era modern ini, kita bisa mengangkat unsur ekstrinsik yang lebih fresh, misalnya mengenai kehidupan masyarakat yang lebih memilih dunia digital.

    Yang terpenting, unsur ekstrinsik tetap tidak luput dari pengalaman pribadi dari seorang penulis.

    Sebab, penulis merasakan sendiri bagaimana kondisi yang dialaminya saat itu.

    Dengan mengalaminya sendiri, maka karya yang diciptakan akan sangat kuat dan mampu dipertanggungjawabkan.

    Nah, begitulah penjelasan singkat mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik yang membangun karya sastra.

    Semoga bermanfaat dan member semangat menulis untuk teman-teman semua.

    Author : Maulana Affandi

  • Apa yang Dimaksud dengan Hegemoni? Simak Pengertiannya Berikut Ini

    Secara harfiah, Hegemoni berasal dari bahasa Yunani yaitu Hegeisthai yang berarti memimpin, memerintah, serta kekuasaan.

    Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa.

    Penguasa disini memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah) saja, melainkan penguasa dalam ekonomi maupun sosial.

    Menurut filosofi, konsep Hegemoni pertama kali dipopulerkan oleh ahli filsafat politik terkemuka asal Italia, Antonio Gramsci.

    Dia membangun suatu teori yang menekankan bagaimana penerimaan kelompok dominan berlangsung dalam suatu proses yang damai, tanpa tindak kekerasan.

    Media dapat menjadi sarana di mana satu kelompok mengukuhkan posisinya dan merendahkan kelompok lain.

    Proses marjinalisasi wacana ini berlangsung secara wajar, khalayak tidak merasa dimanipulasi oleh media.

    Hegemoni dapat didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, tanpa ancaman kekerasan.

    Sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).

    Dengan begitu, dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa Hegemoni berarti kepemimpinan.

    Namun, adapula yang mengatakan pengertian hegemoni adalah bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu dengan menggunakan kepemimpinan intelektual dan moral secara konsensus.

    Artinya, kelompok-kelompok yang terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologis penguasa.

    Teori hegemoni dibangun atas premis yang menyatakan pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik dalam kontrol sosial politik (Sugiono, 1999:31-34).

    Pentingnya ide dalam kontrol sosial politik memiliki arti agar yang dikusai mematuhi penguasa, sedangkan yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa.

    Lebih dari itu, mereka harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka.

    Inilah yang dimaksudkan Gramsci dengan “hegemoni” atau dengan kata lain, hegemoni dapat diartikan menguasai dengan “kepemimpinan moral dan intelektual”.

  • Pengertian Kritik Sastra Beserta Penerapannya

    Pengertian Kritik Sastra Beserta Penerapannya

    Kritik Sastra

    Kritik sastra adalah salah satu cabang ilmu sastra yang digunakan untuk mengamati serta menghakimi suatu karya sastra. Menghakimi tersebut bukan dalam artian memvonis, tapi sebagai cakupan nilai yang dilakukan secara objektif.

    Dalam penerapannya, kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya sastra.

    Kegiatan kritik sastra pertama kali di dunia dilakukan dua orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM.

    Xenophanes dan Heraclitus mengecam keras seorang pujangga besar bernama Homerus yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi. Namun, seiring berkembangnya peradaban keilmuan sastra, kritik sastra pun hadir di Indonesia.

    Istilah dan pengertian kritik sastra baru muncul ketika para sastrawan Indonesia mendapat pendidikan dengan sistem Eropa pada awal abad ke-20.

    Adapun beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam kritik sastra adalah pendekatan strukturalis, pendekatan poststrukturalis, serta pendekatan feminis. Lantas jika dilihat dari jenis-jenisnya, kritik sastra bisa dibedakan menjadi 4 macam, diantaranya:

    1. Kritik Mimetik

    Kritik ini bertolak pada pandangan bahwa suatu karya sastra adalah gambaran atau rekaan dari dunia dan kehidupan manusia.

    2. Kritik Pragmatik

    Kritik ini melihat kegunaan suatu karya sastra. Kegunaan ini dilihat dari segi hiburan, estetika, pendidikan, dan hal lainnya.

    3. Kritik Ekspresif

    Kritik yang menekankan analisis pada kemampuan pengarang dalam mengekspresikan atau menuangkan idenya dalam wujud sastra.

    4. Kritik Objektif

    Pendekatan ini melihat karya sastra sebagai karya yang berdiri sendiri. Karya sastra adalah objek yang mandiri dan memiliki dunianya sendiri.

    Bila ditarik kesimpulan lebih sederhana, maka dapat dikatakan bahwa gfungsi kritik sastra memiliki perbedaan satu sama lain, namun wajib melewati tiga tahapan seperti interpretasi (penafisran), analisis (penguraian), dan evaluasi (penilaian).

    Secara garis besar, bisa disimpulkan bahwa fungsi kritik sastra yaitu sebagai media yang menghubungkan antara sastrawan dan penikmat sastra untuk memahami lebih dalam tentang karya sastra itu sendiri.

  • Pengertian Sastra Secara Umum Dan Perkembangannya

    Pengertian Sastra

    Sastra, sebuah kata yang sangat tak asing bagi telinga kita. Seiring perjalanan sejarah dan peradaban manusia, sastra adalah salah satu di dalamnya.

    Sastra turut berperan dalam pola pikir peradaban masyarakat yang terus diturunkan ke generasi-generasi berikutnya.

    Tapi apakah kita tahu, apa esensi dari sastra?

    Banyak yang mengartikan sastra sebagai sebuah karya tulis yang indah dan mengandung makna dalam.

    Definisi tersebut didapatkan karena pada umumnya karya sastra berupa tulisan-tulisan yang diwariskan.

    Menurut bahasa Sansekerta, Sastra dapat diartikan sebagai teks yang mengandung instruksi atau pedoman.

    Suku katanya adalah Sas yang berarti instruksi, lalu Tra yang mengandung arti alat atau sarana.

    Lantas, pada bahasa Indonesia, kata tersebut bisa diterapkan sebagai suatu makna kesusastraan yang berarti tulisan indah beserta makna di dalamnya.

    Nah, kembali lagi pada konteks tulisan. Diserap dari bahasa Sansekerta pun, sastra akan dianggap sebagai sebuah tulisan. Benarkah begitu?

    Memang benar demikian, tapi sejatinya sastra adalah tulisan di dalam tulisan yang mengandung makna terselubung di dalamnya.

    Perlu kita pahami betul bahwasanya segmentasi sastra memang menggunakan teks sebagai tubuhnya.

    Tapi, dalam tubuh tersebut terdapat tulang, darah, daging, serta organ-organ yang didapat dari perjalanan hidup manusia.

    Mulai dari tak ada menjadi ada (lahir), hingga kosong (kembali). Yang mendasari sastra lahir adalah buah budi, akal, serta pemikiran manusia yang mau berpikir tentang sudut pandang liar dalam kehidupannya.

    Sastra seringkali digunakan dalam sebuah pengungkapan rasa yang paling qolbu mengenai sekelumit ganjalan di salah satu ruang pada hati.

    Pahamilah, dalam hati serta pikiran manusia terdapat beberapa ruang yang berbeda. Kenali satu persatu dari ruangan tersebut agar kita tidak salah memasuki ruang yang sesungguhnya.

    Begitu pula karya sastra dapat terbentuk dari huruf demi huruf yang dirajut rapi. Darimana darangnya huruf demi huruf tersebut?

    Mungkin datangnya dari salah satu ruang di hati yang berteriak saat melihat keadaan sekitar.

    Maka dari itu, kebanyakan karya sastra selalu menggunakan peristiwa atau tragedi pada kehidupan sebagai objeknya.

    Sampai saat ini perkembangan sastra terus mengalami kemajuan. Ribuan bahkan jutaan karya sastra akan terus menemani peradaban manusia pada setiap generasinya.

    Itu perlu dan tidak akan bisa lepas, ibaratnya langit dan bumi yang berjalan beriringan walau tak bisa bergandengan.

    Mungkin sekian yang bisa saya jelaskan. Pahamilah esensi kehidupan, bukan hanya sekedar menjalankan.

    Sebab, perjalanan akan terasa menyenangkan jika disambi dengan pengetahuan yang mendalam.

    Auhor: Maulana Affandi

  • Pengertian Dialektologi Menurut Para Ahli

    Pengertian Dialektologi Menurut Para Ahli

    Dialektologi pada dasarnya merupakan ilmu tentang dialek atau salah satu cabang linguistik yang mengkaji perbedaan-perbedaan isolek (istilah netral untuk perbedaan dialek) dengan memperlakukan perbedaan tersebut secara utuh.

    Bidang ini meneliti variasi bahasa berdasarkan distribusi geografis dan mencakup topik seperti percabangan dari dua dialek lokal dari induk bahasa yang sama.

    Dialektologi memeriksa unsur tata bahasa, leksikon, dan fonologi yang terkait dengan daerah tertentu.

    Maka dari itu, bidang ini tidak hanya peduli dengan orang-orang yang telah tinggal di daerah untuk generasi, tetapi juga kelompok imigran yang membawa bahasa mereka di daerah baru (bahasa kontak).

    Ada pun berikut ini adalah pendapat para pakar mengenai penjelasan apa itu dialektologi.

    1. Kridaklasana (2001: 41)

    Mengemukakan dialektologi merupakan ilmu tentang dialek; atau cabang dari linguistik yang mempelajari variasi-variasi bahasa dengan memperlakukannya sebagai struktur yang utuh.

    2. Pateda (1988: 51)

    Berpendapat bahwa dialektologi disebut pula variasi bahasa berdasarkan geografi, serta ilmu yang membanding-bandingkan bahasa-bahasa yang masih serumpun untuk mencari titik persamaan dan titik perbedaanya.

    3. Chabers dan Trudgill (1980: 3)

    Mengatakan bahwa dialektologi adalah salah satua kajian tentang dialek atau dialek-dialek.

    4. Keraf (1996: 143)

    Mengatakan dengan menggunakan istilah geografi dialek adalah cabang ilmu bahasa berdasarkan lokal dari semua aspeknya.

    5. Lauder (2001:1)

    Dialektologi cenderung memaparkan antar ragam bahasa dengan bertumpu pada satuan ruang tempat terwujudnyaragam-ragam itu pada saat penelitian itu dilakukan sehingga kesimpulan yang dihasilka dapat diperiksa kebenarannya.

  • Biografi Chairil Anwar dan Karya-karyanya

    Biografi Chairil Anwar dan Karya-karyanya

    Nama Lengkap : Chairil Anwar
    Tempat Lahir : Medan, Indonesia
    Tanggal Lahir : 26 Juli 1922
    Meninggal : 28 April 1949
    Nama Julukan : Si Binatang Jalang
    Kebangsaan : Indonesia
    Nama Ayah : Toeloes
    Nama Ibu : Saleha

    Biografi Singkat Chairil Anwar

    Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal.

    Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat.

    Ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota.

    Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda.

    Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus.

    Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang dapat ditemukan.

    Memasuki usia dewasa, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra.

    Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil sangat mahir berbahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Jerman.

    Kesehariannya diisi dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama.

    Seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron.

    Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

    Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun.

    Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.

    Chairil pernah jatuh cinta kepada Sri Aryati, rekan kerja di radio Jepang di Jakarta.

    Tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

    Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

    Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku: Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

    Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan.

    Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: “Krawang-Bekasi”, yang disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948).

    Dia juga menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

    Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan.

    Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.

    Chairil Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan ’45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat.

    Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia.

    Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

    Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

    Puisi-Puisi Chairil Anwar:

    • Deru Campur Debu (1949)
    • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
    • Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
    • “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949”, disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
    • Derai-derai Cemara (1998)
    • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
    • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
    • Puisi-puisi Chairil Anwar yang Diterjemahkan dalam Bahasa Asing:
    • “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
    • “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
    • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
    • “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
    • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
    • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
    • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
    • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
    • Dalam Kumpulan “Poeti Indonezii” (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
    • Dalam Kumpulan “Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov” (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
    • Dalam kumpulan “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.
    • Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).