Tag: sastra

  • Kementerian PPPA Dorong Kemandirian Anak Melalui Buku Cerita ‘Bisa atau Tidak, Ya?

    Kementerian PPPA Dorong Kemandirian Anak Melalui Buku Cerita ‘Bisa atau Tidak, Ya?

    Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menekankan pentingnya mengajarkan kemandirian kepada anak dan memberikan keteladanan dalam membentuk karakter mereka sejak dini.

    “Buku ini memberikan kita gambaran tentang cara anak untuk berperilaku mandiri. Namun tetap, anak memerlukan pendampingan orang tua. Contoh keteladanan menjadi penting bagi anak untuk pembentukan karakter sejak dini dan buku ini menyajikan hal itu,” ujar Amurwani Dwi Lestariningsih, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Pendidikan Kementerian PPPA, di Jakarta pada hari Kamis.

    Buku yang dimaksud adalah “Bisa atau Tidak, Ya?”, yang diterbitkan oleh Tanoto Foundation bekerja sama dengan Kementerian PPPA.

    Amurwani juga menekankan peran orang tua atau pengasuh dalam memenuhi segala kebutuhan anak sebagai fondasi utama bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Anak-anak cenderung belajar meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya.

    “Kami menyambut baik terbitnya buku ini yang mendukung Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, memberi penegasan bahwa setiap anak wajib dijamin, dipenuhi, dan dilindungi hak-haknya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan,” tambah Amurwani.

    Sementara itu, Margaretha Ari Widowati, Head of Learning Environment Tanoto Foundation, berharap buku ini dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan kemandirian dan meningkatkan literasi sejak dini.

    “Kami berharap selain dapat membantu anak menjadi mandiri, juga dapat meningkatkan literasi anak sejak dini dengan buku bacaan berkualitas,” ujarnya.

    Pada hari Kamis, Kementerian PPPA, bersama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), serta Tanoto Foundation, mengajak masyarakat untuk meningkatkan kemandirian anak-anak melalui pembacaan buku “Bisa atau Tidak, Ya?”.

    Buku ini bercerita tentang dua kakak beradik. Tora, yang sudah duduk di bangku sekolah dasar, menunjukkan kemandirian dalam aktivitas sehari-harinya.

    Kemandirian Tora kemudian menginspirasi Tania, adiknya yang masih di taman kanak-kanak, untuk belajar mandiri dalam menjalani kehidupannya.

  • 11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    Sastra dunia adalah harta karun yang penuh dengan kisah, emosi, dan kebijaksanaan dari berbagai budaya.

    Dari zaman klasik hingga modern, tokoh-tokoh sastra memberi pengaruh besar yang melampaui batas waktu dan geografis.

    Mereka tidak hanya menciptakan karya-karya terkenal, tetapi juga memberikan inspirasi dan wawasan yang relevan hingga hari ini.

    Dari puisi yang penuh makna hingga novel yang menggugah pemikiran, para penulis ini meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi pembaca di seluruh dunia.

    Nah, buat kamu yang ingin belajar sastra, berikut ini adalah nama dari para tokoh sastra dunia yang menjadi inspirasi bagi sastrawan generasi selanjutnya.

    Tokoh Sastra Dunia Abad Pertengahan – Abad Pencerahan

    Pada periode Abad Pertengahan hingga Abad Pencerahan, dunia sastra mengalami perkembangan yang signifikan.

    Masa ini menyaksikan lahirnya karya-karya yang tidak hanya mempengaruhi pemikiran zaman itu, tetapi juga membentuk fondasi bagi literatur modern.

    Para tokoh sastra dari periode ini dikenal dengan karya-karya mereka yang menggugah imajinasi, menantang norma-norma sosial, dan mendorong batasan intelektual.

    1. Geoffrey Chaucer (1343-1400)

    Geoffrey Chaucer dikenal sebagai “Bapak Sastra Inggris” karena peran pentingnya dalam mengembangkan bahasa Inggris sebagai medium sastra.

    The Canterbury Tales, karya monumentalnya, yakni kumpulan cerita yang disampaikan oleh sekelompok peziarah.

    Setiap cerita dalam karya ini membawa satir sosial yang tajam, mencerminkan kondisi masyarakat Inggris pada masa itu.

    2. William Shakespeare (1564-1616)

    William Shakespeare
    William Shakespeare (engoo)

    William Shakespeare adalah salah satu tokoh sastra yang paling terkenal di dunia. Karyanya mencakup berbagai genre, termasuk drama, puisi, dan tragedi.

    Shakespeare dikenal dengan kemampuannya menggambarkan karakter dan emosi manusia dengan mendalam. Tema cinta, ambisi, dan moralitas dalam karyanya tetap relevan hingga saat ini, menjadikannya ikon dalam dunia sastra.

    Karya William Shakespeare yang cukup terkenal diantaranya Hamlet, Romeo and Juliet, Macbeth

    3. Miguel de Cervantes (1547-1616)

    Miguel de Cervantes
    Miguel de Cervantes (theneweuropean)

    Miguel de Cervantes adalah penulis Spanyol yang terkenal dengan karyanya Don Quixote, yang dianggap sebagai novel modern pertama.

    Karya ini adalah satire yang menggambarkan petualangan seorang pria yang terobsesi dengan ide-ide kesatria.

    Don Quixote mengeksplorasi tema ilusi versus realitas dan kritik sosial terhadap masyarakat Spanyol pada zamannya.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 19

    Abad ke-19 merupakan era emas bagi dunia sastra, di mana sejumlah penulis besar muncul dengan karya-karya yang revolusioner dan mendalam.

    Pada masa ini, sastra menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan perubahan sosial, menggali kompleksitas manusia, dan mengekspresikan keindahan serta tragedi kehidupan.

    Berikut adalah beberapa tokoh sastra dunia dari abad ke-19 yang karyanya terus menginspirasi hingga saat ini.

    4. Leo Tolstoy (1828-1910)

    Leo Tolstoy
    Leo Tolstoy (piramida)

    Leo Tolstoy adalah penulis Rusia yang karyanya dianggap sebagai puncak sastra realisme. War and Peace adalah epik sejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Rusia selama invasi Napoleon.

    Anna Karenina mengeksplorasi tema cinta, keluarga, dan moralitas. Tolstoy memiliki kemampuan luar biasa dalam menggambarkan kompleksitas karakter manusia dan kehidupan sosial.

    5. Charles Dickens (1812-1870)

    Charles Dickens
    Charles Dickens (oboolo)

    Charles Dickens adalah salah satu penulis Inggris yang paling produktif dan berpengaruh. Karyanya sering mengangkat isu sosial, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan eksploitasi anak.

    Dickens dikenal dengan karakter-karakter yang kuat dan alur cerita yang penuh dengan emosi dan kritik sosial.

    Beberapa karya Charles Dickens yang terkenal diantaranya A Tale of Two Cities, Great Expectations, Oliver Twist

    6. Emily Brontë (1818-1848)

    Emily Brontë
    Emily Brontë (thefamouspeople)

    Emily Brontë adalah penulis Inggris yang dikenal dengan satu-satunya novelnya, Wuthering Heights.

    Karya ini merupakan eksplorasi intens tentang cinta, pembalasan, dan kehancuran diri dalam lingkungan yang keras.

    Wuthering Heights dianggap sebagai salah satu karya sastra paling unik dan menantang dalam literatur Inggris, dengan narasi yang inovatif dan kompleks.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 20

    Abad ke-20 menandai periode penting dalam dunia sastra, di mana para penulis bereksperimen dengan gaya, tema, dan teknik baru untuk mencerminkan kompleksitas zaman yang penuh perubahan.

    Era ini dipenuhi dengan peristiwa besar seperti perang dunia, revolusi, dan transformasi sosial yang mempengaruhi karya sastra secara mendalam.

    Para tokoh sastra dari abad ke-20 tidak hanya menangkap esensi zaman mereka, tetapi juga mempengaruhi cara kita memahami dunia dan diri kita sendiri.

    Mari kita mengenal lebih jauh para tokoh sastra dunia dari abad ke-20 yang meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam sejarah literatur.

    7. Franz Kafka (1883-1924)

    Franz Kafka
    Franz Kafka (deutschland)

    Franz Kafka adalah penulis Ceko yang karya-karyanya terkenal dengan nuansa absurditas dan alienasi.

    Istilah “Kafkaesque” digunakan untuk menggambarkan situasi yang aneh dan tidak masuk akal seperti yang digambarkan dalam karya-karyanya.

    The Metamorphosis dan The Trial mengeksplorasi tema identitas, birokrasi, dan ketidakberdayaan individu dalam menghadapi kekuatan besar.

    8. James Joyce (1882-1941)

    James Joyce
    James Joyce (catholicregister)

    James Joyce adalah salah satu tokoh utama dalam gerakan modernisme sastra.

    Karyanya Ulysses dianggap sebagai salah satu novel terpenting dalam sastra Inggris abad ke-20. Joyce dikenal dengan eksperimen dalam struktur naratif dan penggunaan bahasa.

    Karyanya penuh dengan alusi budaya, menjadikannya tantangan sekaligus keindahan untuk dibaca.

    9. Gabriel García Márquez (1927-2014)

    Gabriel García Márquez
    Gabriel García Márquez (humanidades)

    Gabriel García Márquez adalah penulis Kolombia yang menjadi pelopor gerakan realisme magis.

    One Hundred Years of Solitude adalah novel epik yang menggambarkan kehidupan keluarga Buendía selama beberapa generasi, di mana realitas dan fantasi bercampur dengan harmonis.

    Karya-karyanya sering menggambarkan kehidupan di Amerika Latin dengan campuran mitos dan realitas, yang menciptakan narasi yang kaya dan penuh warna.

    Beberapa karya Gabriel García Márquez yang terkenal diantaranya One Hundred Years of Solitude, Love in the Time of Cholera.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 21

    Abad ke-21 membawa dunia sastra ke dalam era baru yang ditandai dengan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang cepat.

    Para penulis dari masa ini menghadapi tantangan dan peluang yang unik, menciptakan karya-karya yang mencerminkan kompleksitas dunia modern.

    Dengan gaya yang beragam dan tema yang mencakup berbagai aspek kehidupan kontemporer, para tokoh sastra abad ke-21 terus mendorong batasan kreativitas dan menghubungkan kita dengan berbagai realitas yang ada di seluruh dunia.

    10. Haruki Murakami

    Haruki Murakami adalah penulis Jepang yang karya-karyanya dipengaruhi oleh budaya pop Barat dan elemen surealisme.

    Tema-tema seperti kesepian, realitas alternatif, dan pencarian jati diri sering muncul dalam novelnya.

    Murakami dikenal dengan gaya naratif yang halus dan atmosfer yang melankolis, yang membuat karyanya menjadi favorit di kalangan pembaca global.

    Beberapa karyanya yang terkenal seperti Kafka on the Shore, Norwegian Wood.

    11. Chimamanda Ngozi Adichie

    Chimamanda Ngozi Adichie adalah penulis Nigeria yang karya-karyanya membahas isu-isu identitas, feminisme, dan postkolonialisme.

    Half of a Yellow Sun menggambarkan Perang Saudara Nigeria, sementara Americanah mengeksplorasi pengalaman imigran Afrika di Amerika.

    Adichie adalah suara penting dalam sastra kontemporer yang memberikan perspektif baru tentang Afrika dan peran wanita dalam masyarakat.

    Pengaruh Tokoh Sastra Dunia Terhadap Sastra Modern

    Pengaruh tokoh sastra dunia tidak hanya terasa pada masanya, tetapi juga membentuk landasan bagi perkembangan sastra modern.

    Melalui karya-karya mereka yang inovatif dan pemikiran yang mendalam, para penulis besar ini telah menginspirasi generasi penulis berikutnya untuk mengeksplorasi tema baru, bereksperimen dengan gaya penulisan, dan menantang konvensi yang ada.

    Dari narasi eksistensial hingga kritik sosial, warisan mereka terus mempengaruhi cara kita menulis dan memahami sastra hari ini.

    Peninggalan Sastra dan Inspirasi

    Tokoh-tokoh sastra ini tidak hanya menghasilkan karya-karya yang hebat, tetapi juga memberikan inspirasi yang mendalam bagi penulis-penulis generasi berikutnya.

    Mereka membentuk dasar-dasar sastra modern, menciptakan gaya dan tema yang masih diadopsi dan dikembangkan hingga hari ini.

    Pengaruh mereka terlihat jelas dalam berbagai bentuk sastra kontemporer, dari novel hingga drama dan puisi.

  • Legenda Batu Menangis: Kisah Pilu Anak Durhaka

    Legenda Batu Menangis adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Indonesia, tepatnya dari Kalimantan Barat.

    Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya, yang kemudian dikutuk menjadi batu.

    Legenda Batu Menangis mengajarkan kita tentang pentingnya menghormati dan berbakti kepada orang tua.

    Kisah ini mengingatkan kita bahwa kesombongan dan ketidakpatuhan kepada orang tua bisa membawa malapetaka.

    Legenda Batu Menangis

    Dahulu kala, di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang gadis cantik bernama Darmi. Kecantikannya begitu memukau sehingga membuat semua orang terpana.

    Namun, di balik kecantikan itu tersimpan sifat yang buruk. Darmi sangat sombong dan selalu meremehkan ibunya yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang.

    Setiap hari, Darmi lebih senang bersolek dan berhias daripada membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

    Ia selalu merasa dirinya lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Ibunya yang sabar hanya bisa menasihati Darmi, namun nasihat itu selalu jatuh ke telinga yang tuli.

    Suatu hari, Darmi sedang asyik bersolek di depan cermin. Tiba-tiba, ibunya datang dan memintanya untuk membantu membuatkan makanan.

    Dengan kesal, Darmi menolak permintaan ibunya. Ia bahkan berkata dengan kasar bahwa ibunya tidak tahu apa-apa.

    Mendengar perkataan anaknya yang menyakitkan, hati ibu Darmi hancur berkeping-keping.

    Seiring bertambahnya usia, Darmi itu semakin tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

    Banyak pemuda yang tertarik padanya, tetapi dia selalu menolak dengan alasan mereka tidak cukup kaya.

    Suatu hari, Darmi merasa malu dengan penampilan ibunya yang tua dan miskin, terutama ketika mereka harus pergi ke pasar bersama.

    “Bu, aku tidak mau lagi pergi ke pasar denganmu. Aku malu melihat penampilanmu yang lusuh dan tua. Orang-orang akan menertawakanku,” kata gadis itu dengan kasar.

    Mendengar perkataan anaknya, sang ibu merasa sangat sedih. Namun, karena cinta yang besar kepada anaknya, sang ibu hanya bisa menahan air mata dan berharap Darmi akan berubah suatu hari nanti.

    Suatu hari, Darmi itu meminta ibunya untuk membelikannya pakaian baru yang indah.

    Sang ibu dengan segenap kemampuannya menuruti permintaannya, meskipun ia harus menjual harta terakhir yang dimilikinya.

    Setelah mendapatkan pakaian baru, Darmi meminta ibunya untuk mengantarnya ke pasar agar semua orang bisa melihat betapa cantiknya dia.

    Saat mereka berjalan ke pasar, Darmi itu dengan sengaja berjalan di depan ibunya, menjaga jarak agar tidak terlihat berjalan bersama.

    Setiap kali bertemu dengan orang, jika ada yang bertanya tentang siapa yang bersamanya, Darmi dengan sombong menjawab bahwa wanita tua di belakangnya adalah pembantunya.

    Sang ibu yang mendengar semua itu merasa sangat sedih dan terluka. Namun, ia tetap berjalan di belakang anaknya.

    Hingga akhirnya, setelah beberapa kali mendengar anaknya menghina dan mengakuinya sebagai pembantu, sang ibu tidak bisa lagi menahan kesedihannya.

    Dengan air mata berlinang, sang ibu berhenti, menengadahkan tangannya ke langit, dan berdoa.

    Tak lama setelah doa itu terucap, tiba-tiba langit mendung dan angin bertiup kencang. Tiba-tiba tubuh Darmi mengeras, berubah menjadi batu.

    Darmi menangis meminta ampun kepada ibunya, tetapi semuanya sudah terlambat. Tubuhnya semakin mengeras, dan akhirnya seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.

    Meskipun telah berubah menjadi batu, air mata Darmi terus mengalir, membasahi batu sehingga dikenal sebagai “Batu Menangis”.

    Batu itu masih ada hingga sekarang dan menjadi simbol dari kisah tragis tentang anak durhaka yang tidak menghormati ibunya.

  • Belajar Memaknai Cinta dan Kehidupan dengan Veteran IGB. Sudharma

    Sekira pukul 16.17 WIB tanggal 15 Agustus 2024, aku dan Bung Aguk Darsono (budayawan Banyuwangi) sowan ke rumah IGB. Sudharma, seorang veteran yang pengabdian dan jasanya besar bagi tanah air.

    Setibanya, kami menunggu beberapa waktu di teras, barulah beliau keluar menyambut dengan hangat dengan busana Muslim lengkap.

    Kesan pertama tidak ada yang spesial, aku menganggap beliau layaknya orang sepuh pada umumnya.

    Sebab, dari sekian banyak yang kutemui, nampaknya busana Muslim mungkin jadi kostum favorit bagi setiap lansia.

    Ketika dipersilakan masuk ke ruang tamu, aku mulai melihat beberapa pigura yang tertata rapi di dinding.

    Gus Dharma muda tampak gagah, tangguh, dengan kepalan tangan yang gempal. Terkesan sosok pemberani.

    Benar adanya, beliau adalah seorang atlet bela diri. Bahkan, pernah menjadi pelatih jiutinsido ketika masih aktif berseragam.

    Namun, meski tampak gagah, beliau tetaplah manusia yang memiliki nurani, begitu gumamku.

    Layaknya mendapat intuisi, Bung Aguk langsung membuka obrolan yang menjawab gumamku tadi.

    “Jadi, beliau ini suka literasi, banyak menulis cerpen dan puisi,” katanya, sembari memegang tangan Gus Dharma.

    Aku mulai terkesima. Gus Dharma mengaku sudah menulis banyak puisi sejak usia remaja.

    Tambah takjub saat beliau mengatakan semua puisinya yang ditulis tangan itu masih tersimpan rapi.

    Di tengah obrolan hangat itu, tiba-tiba pandanganku kembali tertuju ke dinding tempat pigura terpampang.

    Semuanya foto hitam putih, tapi cuma satu itu yang berupa lukisan, letaknya pun di atas fotonya sendiri.

    Aku pun mulai penasaran. Seketika aku bertanya, “Itu siapa, Pak?”

    Beliau diam sejenak beberapa detik, lalu menjawab “Almarhum istri saya”.

    Setelah beliau menjawab, justru aku yang terdiam.

    Beliau kemudian berceritera tentang perjuangannya bersama istri yang membuatku hanyut.

    Aku sedang duduk di ruang tamu, Rabu (15/8/2024), tapi seolah terseret ke dimensi Gus Dharma pada era 70-an.

    Seakan di nanarku, ada proyektor besar yang mengisahkan bagaimana manisnya kehidupan mereka kala itu.

    Aku “tersesat” dalam dimensi waktu, untungnya ada ucapan Gus Dharma yang bisa membuatku kembali pada dimensi ini.

    “Saya pengin mati,” katanya.

    “Hah?, ucapku refleks terbelalak.

    Diulang lagi, “Kalau dikehendaki, sebetulnya saya sudah pengin mati saja,”.

    Tentu sebagai orang yang “takut mati” sepertiku, ada pertanyaan besar yang terlintas di benak.

    “Maaf, kenapa, Pak?”

    Tak terucap sepatah katapun, beliau hanya menjawab dengan senyuman.

    Waktu menunjukkan pukul 16.45 WIB, langit tampak memerah, beberapa saat lagi TOA masjid berkumandang.

    Tentu ini waktu krusial bagi tamu yang biasanya menjadi kesimpulan dari proses kunjung–berkunjung.

    Benar, beliau sempat melihat jam di ponsel genggamnya, kemudian kembali berujar singkat.

    “Setiap manusia itu dipenuhi dosa, termasuk saya. Jadi, apa yang kita cari kalau bukan ampunan-Nya,” ucap Gus Dharma.

    Buk!
    Gus Dharma berhasil meninju jiwa saya tanpa perlu mengepalkan tangannya.

    Saya sedikit tergoncang mendengar ucapan tersebut.

    TOA Masjid pun terdengar, beliau tampak tak nyaman, seperti gelisah.

    Bung Aguk kemudian mengakhiri pertemuan ini, kami pamit pulang.

    Di perjalanan, Bung Aguk bercerita jika Gus Dharma adalah orang yang tekun beribadah.

    “Kalau mendengar azan, beliau langsung bergegas untuk salat,” katanya.

    “Bung, kenal Pak Dharma sejak kapan?” tanyaku.

    “Lama dan sangat dekat. Beliau dan Almarhum istri menganggapku sebagai anak. Akupun menganggap mereka sebagai orang tuaku sendiri,” jawabnya.

    “Bertamu ke Pak Dharma sebaiknya tidak di waktu magrib–isya,” imbuhnya.

    Tanpa perlu menjelaskan, akupun langsung mengerti.

    Dan yang semula kuanggap biasa-biasa saja mengenai kostumnya, ternyata salah besar.

    Gus Dharma mengenakan busana Muslim bukan hanya soal kenyamanan, tapi sebagai persiapan menanti waktu untuk menghadap Sang Pencipta.

    Maulana Affandi, 16/8/2024.

  • Memoar Veteran IGB. Sudharma Tertata Rapi dalam Rajutan Diksi

    Pengantar

    Ketika Senja Tak Menutup Fatamorgana
    Maulana Affandi

    Seutas kata terlahir dari kisah nyata, semua yang telah dipersembahkan untuk negeri tercinta bukan cuma omong belaka.

    Kendati senja menanti, gejolak fatamorgana jiwa terus berevolusi yang akhirnya berubah jadi inspirasi.

    Itulah I.G.B. Sudharma. Bolehkah kusebut ia pahlawan? Jasa dan pengabdiannya melekat dalam cerita semesta.

    Realitanya, usia ibarat bom yang akan meledak pada waktunya. Namun, bagi Sudharma, usia tak ubahnya hanya sebuah angka.

    Dalam perjalanan waktu menuju angka baru, selalu ada hal baru yang Sudharma lakukan untuk menyelami betapa pentingnya memaknai kehidupan.

    Semua kenangan indahnya tertata rapi dalam rajutan diksi. Memoar yang bisa memberi inspirasi untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi.

    Perjalanan asmara yang dicipta pun turut membakar naluri setiap insan yang memiliki hati nurani.

    Teringat ucapan Benjamin Franklin, seorang negarawan Amerika (1706 – 1790):

    “Orang-orang yang bisa mencintai secara mendalam, tidak akan pernah tua. Mungkin mereka meninggal dalam usia tua, tapi jiwa mereka tetap muda.”

    Bisa dibilang, kecintaan Sudharma kepada negara dan keluarga membuat jiwanya selalu muda.

    Tersadar, kisah yang dibagikan oleh Sudharma mampu menusuk relung, membangkitkan semangat dan kekuatan cinta yang nyaris pudar.

    Pada akhirnya, Sudharma melalui karyanya mengingatkan bahwa bukan apa hasil yang telah kita torehkan, tapi bagaimana kita mendapatkan hasil tersebut.

    Dari sini kisah itu dimulai…

    Maulana Affandi, 27/7/2024.

    Biodata IGB. Sudharma

    • Nama Lengkap: I.G.B. Sudharma
    • Awal Karier: Tahun 69/70, Pusdik BRIMOB WATUKOSEK JATIM
    • Istri: Siti Nuroniyah (Alm)
    • Masuk Timtim: Tahun 1975
    • Hobi: Jiutinsido
    • Saat ini: Dewan Pertimbangan Veteran Banyuwangi

    Merajut Asa Menggapai Cita

    Setelah setahun aku menikah dan bertugas di Kesatuan Brimob Kompi 34/BS Timor Kupang, aku mengajukan pindah ke Denpasar Bali bersama Rofik Jaelani.

    Kendati demikian, aku tetap melatih anggota keprajuritan dalam taktik dan teknik pertempuran (Pertahanan dan Penyerangan) Perang Kota sesuai dengan perintah Dan Kompi, sambil menunggu SK Pindah keluar.

    Hal ini dilakukan setiap hari Rabu dan Kamis untuk menjaga dan mengasah naluri tempur mereka agar tetap terampil serta bertanggung jawab sebagai prajurit petarung. Dalam hal ini aku dibantu oleh Kopda Rianto.

    Sore harinya, aku menghilangkan penat dengan meluangkan waktuku dengan mengajak Istriku dan adik angkatku ke pantai Gembira Loka yang berada di depan asrama.

    Kami menggelar karpet di bawah pohon ketapang yang cukup rindang sambil memandang ke laut lepas. Kadek Urip membuat perapian dari ranting kayu kering untuk mengusir nyamuk dan penghangat badan.

    Senja mulai naik, sang surya mulai masuk ke peraduannya meninggalkan cahaya merah kemilau, membias pada air laut, bagai mutu manikam yang terhampar di permadani biru.

    Gemercik air laut yang terempas di pantai, diiringi nyanyian serangga malam bagaikan nyanyian surgawi yang dilantunkan oleh para dewa dewi.

    Anganku melayang jauh menembus batas imajinasi, betapa indah lukisan alam, ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Aku mendesah dalam hati.

    “Ternyata pantai Gembira Loka mempunyai keindahan tersendiri yang tak banyak orang tahu dan pantai ini akan aku tinggalkan bila SK keluar.”

    Saat aku tenggelam dalam lamunan, aku dikejutkan dengan pertanyaan istriku tercinta “Mas, sampean apa tidak capek dan jenuh dengan rutinitas seperti itu?” tanyanya.

    “Ya pasti capek lah, Sayang,” jawabku, sambil mencium pipinya yang merah merona.

    “Semua itu sudah tanggung jawabku untuk mendidik mereka menjadi prajurit yang aandal di setiap medan, maupun bergerak cepat dan senyap, bernyali besar dan tak gampang menyerah di situasi sesulit apapun. Karena menyerah merupakan keputusan terburuk bagi seorang prajurit. Untuk itulah aku melatih, memotivasi dan mendoktrin mereka untuk menjadi prajurit petarung yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi,” jawabku.

    “Waduh! Berat juga jadi prajurit ya, Mas,” sahut istriku menanggapi.

    “Kenapa? Sampean menyesal menjadi istri seorang Prajurit Brimob?” kataku meledeknya.

    Dia pun menjawab dengan bersungut, “Siapa yang menyesal, Mas?

    Hanya orang bodoh yang menyesal menikahi suami yang gagah, tampan, bertanggung jawab dan sangat menyayangi Istrinya,” ucapnya sambil mencubit pinggangku.

    Setelah suasana mulai tenang, istriku berkata “Mas, aku ada ide.”

    “Ide apa?” tanyaku padanya

    “Gini, Mas, gimana kalau hari Minggu kita buat rekreasi untuk anggota remaja dan bujangan di pantai ini?”

    “Caranya gimana?” tanyaku

    “Gampang, Mas,” jawab istriku.

    Lalu dia melanjutkan, “Kita buat yang murah meriah saja. Besok aku beli tahu dan tempe di Pak Topo, Mas beli tulangan sapi dan dua ikat daging se’e, tomat, lombok dan terasi. Akan aku buat sambal goreng tahu tempe dan sayur sop, serta sambal tomat dan jangan lupa beberapa ikat serai dan jahe untuk membuat minuman sehat.”

    “Wah.. Cerdas juga istriku ini,” ucapku memujinya, namun aku bertanya setelahnya, “Lah, terus nasinya gimana?”

    “Suruh bawa sendiri saja, Mas, jadi kita tidak terlalu capek untuk menyiapkannya,” jawabnya dengan mata berbinar.

    Keesokan harinya, aku membicarakan ide istriku pada Rianto dan Nahrawi. Mereka sangat mendukung dan berjanji akan membantu sepenuhnya.

    Hal ini juga mereka umumkan pada anak remaja, khususnya yang lepas jaga atau on call.

    Minggu pagi Rianto dan Nahrawi beserta istri masing-masing datang ke rumah untuk mengambil sambal goreng yang telah matang serta membawa dandang besar untuk membuat minuman sehat.

    Sedangkan Kadek Urip telah lebih dulu membawa karpet dan air bersih ke lokasi tempat rekreasi.

    Jam 08.15 WITA semua masakan telah siap termasuk minuman sehat racikan Istriku yang terdiri dari sereh, jahe dan daun salam serta gula merah.

    Anggota Brimob lainnya pun beramai-ramai datang ke lokasi dengan membawa serantang nasi dan mug komando tempat air minum.

    Setelah itu mereka membuka dan menyusun rantang dan barang masing-masing.

    Mereka pun mulai bermain sesuai hobi, ada yang bermain voli dengan bola plastik, ada juga yang mandi di pantai.

    Semua ini berlangsung hingga jam 11.00 siang, lalu ibu Nahrawi dan ibu Rianto sibuk membagi lauk dan sayur kepada anggota masing-masing.

    Jam 11.30 semuanya berakhir dengan penuh suka cita, mereka semua berharap agar hal ini bisa terulang setiap minggu atau dua minggu sekali.

    Pada hari Senin setelah apel pagi, aku diperintahkan piket untuk menghadap Dan Kii ke rumahnya bersama istri pada jam 18.00 WITA, aku mengatakan “Siap”.

    Pada pada jam 18.00 WITA aku dan Istriku menuju rumah Dan Kii untuk memenuhi perintahnya.

    Setiba di rumahnya, kami telah ditunggu dan disambut oleh Dan Kii dan Istrinya. Kami pun dipersilakan duduk di ruang tamu dan disuguhi teh panas dan ubi rebus.

    Dan Kii pun menanyakan perihal rekreasi pada hari Minggu kemarin.

    Aku pun mengatakan bahwa “Itu adalah ide Istri saya, selebihnya biarlah istri saya yang menjelaskan”.

    Lalu, istriku pun menjelaskan dengan rinci, bahwa dengan biaya yang minim cukup untuk menghilangkan penat setelah seharian berlatih. Kegiatan ini dibantu oleh Bapak Rianto dan Bapak Nahrawi dengan Ibu.

    Dan Kii sangat mengapresiasi kegiatan ini, setelah cukup lama berbincang kami pun pamit pulang.

    Setiba kami di barak, Tamtama Remaja pun sedang menunggu kedatangan kami untuk menanyakan perihal panggilan Dan Kii yang kami jawab bahwa Dan Kii merespon baik kegiatan kita, disambut dengan suka cita oleh mereka.

    Setelah mereka puas dengan keterangan kami, mereka pun kembali ke Barak Bujang.

    Keesokan harinya setelah apel pagi sebelum latihan DAKHURA aku menceritakan respons positif Dan Kii dan kami pun merancang kegiatan Minggu depan dengan sayur asem dan ikan kucing (lemuru),

    Namun, rencana tersebut tidak terwujud karena bersamaan dengan SK kami yang keluar.

    Rofiq dan Jailani berangkat terlebih dahulu dengan kapal Belaberto. Sedangkan aku sendiri masih menunggu kelulusan adik angkatku dari SMA Pensia Kupang.

    Kesempatan tersebut aku gunakan untuk membeli kayu cendana untuk aku jual di Bali, sedang minyak cendana asli aku diberi oleh Tamtama yang suku Batak asli.

    Setelah lima hari aku menunggu Surat Tanda Kelulusan atau Ijazah, Kadek Urip keluar dan kami pun melaksanakan persiapan untuk berangkat ke Bali.

    Sehari sebelum berangkat ke Bali, diadakan acara perpisahan di aula Kesatuan Brimob 34/BS.

    Pada kesempatan itu, Komandan Kompi mengucapkan terima kasih atas kerja kerasku dalam memajukan Kompi 34/BS Kupang.

    Saya sendiri mengucapkan terima kasih kepada Dan-ku dan seluruh anggota Kompi 34/BS terutama Densus Alap-Alap yang telah bahu-membahu melaksanakan tugas di Timor-timur tahun 1975.

    Keesokan harinya, Kami berangkat ke pelabuhan Tenau dengan diantarkan oleh rekan satu angkatan dan Tamtama Remaja.

    Setiba di Tenau barang-barangku diangkat oleh Tamtama Remaja termasuk kayu cendana 2 potong yang kumasukkan ke dalam blesak panjang masing-masing 50kg.

    Setelah itu kami masuk ke atas kapal diiringi isak tangis dari rekan-rekan yang kusayang, membuat suasana menjadi haru biru.

    Jam 11.00 siang Kapal berangkat meninggalkan pelabuhan Tenau Kupang. Aku Tak kuasa meneteskan air mata mengingat kota ini telah membesarkan aku dalam setiap tugas suka dan duka.

    Melihat aku menangis, istriku mengusap air mataku dengan sapu tangannya, sambil berkata “Sampean sedih ya, Mas?”

    “Iya sayang,” jawabku, lalu melanjutkan, “Betapa tidak, 10 tahun aku bertugas di sini dengan segala keterbatasan, namun aku bisa melewatinya dengan baik.”

    Istriku mengusap-usap pundakku berusaha menenangkan perasaanku.

    Sehari semalam kapal berlayar, hingga singgah di Flores, kami pun turun untuk membeli pisang Belangga yang sudah terkenal di Ende.

    Keesokan harinya kapal pun berangkat Kembali menuju Surabaya.

    Lima hari kami terapung di tengah laut, namun semua berjalan lancar-lancar saja kendati istriku sempat pusing karena masuk angin.

    Aku sempat berkata “Nah, apa kataku kemarin? Aku suruh sampean naik pesawat Merpati biar dijemput di Denpasar oleh Mas Putu atau Mas Tejo, tapi Sampean tidak mau.”

    Istriku menjawab dengan tegas “Mas aku sudah katakan ke sampean, Mas pergi kemanapun aku akan selalu ada di sampingmu. Aku sangat percaya padamu, Mas akan dapat melindungiku dengan baik.”

    Jawaban istriku membuatku tersenyum, begitulah dia. Tidak mau sedetikpun jauh denganku. Bagaimana bisa dia begitu tangguh untuk ikut denganku bertugas di Timor Timur.

    Kapal akhirnya merapat di pelabuhan Gudang Garam, aku bergegas turun bersama istriku dan Kadek sambil membawa koper, sedang kayu cendana memakai jasa buruh angkut.

    Setelah mencarter kendaraan pick up untuk mengangkat kayu cendana kami menuju kantor ekspedisi untuk mengekspedisi kayu cendana.

    Malam harinya kami naik bis malam Cakrawala menuju Denpasar, Bali. Tiba di Denpasar kami menginap di losmen Blantara belakang Terminal Suci.

    Keesokan harinya slepas sarapan kami menuju kantor ekspedisi di Jalan Gajah Mada. Ternyata di sana banyak orang-orang calon pembeli kayu cendana.

    Setelah tawar-menawar,  kayu cendanaku terjual Rp125.000 perkilo. Kami pun kembali ke losmen untuk beristirahat.

    Keesokan harinya Kadek Urip pulang ke Bukit Jangkruk untuk menemui orang tuanya dan aku sendiri menghadap Dan Sat Brimob di Kremeng, dan ditempatkan di Bintara Operasi Satbrimob Denpasar dan mendapat cuti selama tiga hari.

    Kesempatan ini aku gunakan untuk pulang ke Banyuwangi mengunjungi mertua dan kakak serta adik-adikku. Aku juga tidak lupa sowan ke makam kedua orang tuaku.

    Dua hari aku di Banyuwangi akhirnya kembali ke kesatuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari.

    Setelah hampir tiga bulan aku bertugas, aku coba peruntungan untuk melamar pekerjaan di Diskotik.

    Dengan kemampuan bela diri dan sedikit bahasa Inggris yang kumiliki, beberapa kali aku diuji coba.

    Namun, semua dapat kuatasi dan akhirnya aku diterima dengan gaji Rp250.000 per bulan, di Diskotik Number One wilayah Sanur.

    Hari pertama aku bekerja lancar-lancar saja, namun setelah seminggu tragedi pun terjadi ketika gerombolan berjumlah kurang lebih 7 orang dan memaksa masuk secara gratis.

    Aku menghadang mereka dan menyuruh mereka untuk membeli karcis masuk sesuai jumlah mereka namun mereka tidak menurut dan malah memegang kerah bajuku.

    Aku tetap tenang sembari tetap menyuruh mereka mengikuti aturan yang ada, namun aku melihat ada tangan yang ingin memukulku.

    Secara refleks tangan kananku melayang ke jidatnya sehingga ia terjatuh pingsan, rekan-rekannya yang lain berhamburan kabur.

    Setelah polisi Polsek Sanur datang, yang bersangkutan kuserahkan pada mereka. Setelah mengambil keterangan dariku, mereka mengijinkanku pulang.

    Beberapa hari kemudian pemilik Diskotik kawasan Sanur, Bali Queen, Trappozone, Hotel Palm Beach, Kuta Beach datang melamarku untuk bekerja di perusahaan masing-masing namun pada saat itu aku sudah bekerja di Number One.

    Aku dipanggil ke kantor Pak Singgih. Di sana langsung menaikkan gaji menjadi Rp500.000 dan merangkap jabatan sebagai penasehat umum.

    Aku juga bekerja di Trappozone dan Hotel Palm Beach dengan syarat tidak terikat waktu untuk masuk kerja.

    Dari situlah kehidupanku mulai meningkat, bisa membeli sepeda motor untukku dan membeli Mobil Daihatsu 1000 untuk bekerja malam.

    Setelah delapan bulan aku bekerja di hotel dan diskotik, aku diminta kerja di Lamtoro Gung Milik Mbak Tutut di bawah pimpinan Pak Joyo dan Pak Riki yang masing-masing berkantor di Renon, Jalan Durian, Denpasar.

    Aku mulai hidup berkecukupan sehingga lupa daratan dan mulai main judi sabung ayam (Ayam Tajen) atau adu bangkok.

    Di lingkungan adu Bangkok, aku di daulat menjadi pelindung suku Jawa-Madura di Denpasar dan Tabanan.

    Saat itu aku tak pernah ingat dan mensyukuri nikmat Allah Sekalipun. Aku hanya hidup berfoya-foya dengan kelompok penjudi saja.

    Saat aku mengikuti ujian masuk Secapa aku malah lulus nomor 2 dari peserta seluruh Bali.

    Namun ketika 10 hari sebelum keberangkatan, aku diajak Letda Suware Intel dan Serse Polda Bali untuk menangkap seorang dukun palsu di daerah Karangasem.

    Istriku sudah melarang aku untuk ikut, tapi rasa setia kawan mengalahkan itu semua.

    Aku ikut bersama mereka saat penangkapan berlangsung. Di TKP, pihak bersangkutan mengadakan perlawanan sehingga secara refleks kepalan tangan kananku melayang ke mukanya dia pun terpental ke tembok.

    Bali pun Geger saat itu, aku diproses tingkat Polda Bali. Namun mengingat jasa-jasaku sangat besar pada Polri, aku diperintah keluar Bali, batal ikut sekolah Secapa, sehingga terdampar di Banyuwangi dan dibantu pengurusan pensiunan dini ku oleh Ibu Hajah Kertono.

    Demikianlah kisah hidupku ini kubuat agar menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia, kemudian jangan lupa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla saat kita kelimpahan Rizki dan bersedekah kepada Dhuafa.

    IGB. Sudharma, Banyuwangi, 10 Mei 2024.

    Puisi IGB. Sudharma

    DALAM LINDUNGAN ILAHI

    Bersama Allah di Masjid Suci
    Senja membias langit kemerahan
    Saat jama’ah sholat dan mengaji
    Tenang damai di dalam iman

    Bersama Allah menembus lubuk malam
    Melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an
    Khusyuk larut di dalam kalam
    Hilang sirna semua kegalauan

    Bersama Allah melawan cahaya kegelapan
    Melangkah pasti dalam lindungan
    Tiada sedikitpun hati dalam keraguan
    Di jalan Allah Yang Maha Suci dan penuh kenikmatan

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    MELATI KENANGAN

    Saat beta remaja belia
    Hati selalu berbunga-bunga
    Indah ceria penuh aroma cinta
    Semerbak merasuk dada sukma

    Oh Tuhan pencipta alam semesta
    Biar masa remaja beta bergejolak di dada
    Membahana menembus angkasa
    Menggapai cinta merenggut asmara

    Kini masa remaja beta telah sirna
    Ditelan waktu, dimakan usia
    Tinggal kenangan yang tersisa
    Tersimpan erat di relung dada

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    HARAPAN

    Lama ku idamkan
    Kedamaian dan kesejukan
    Dalam Berbangsa dan Bernegara
    Di Persada Nusantara Indonesia

    Namun apa yang terjadi?
    Semua hanya impian
    Sesama Islam pecah pertikaian
    Rakyat jadi bingung dan tertekan
    Agama dijadikan mainan dan tendensi

    Cukup di sini semua jalan
    Berhenti jangan diteruskan
    Agar rakyat pulih
    Bangsa dan Negara kembali aman

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    NYANYIAN MALAM

    Di malam sunyi
    Semilir angin dingin
    Menerpa daun liuk menari
    Gemulai berayun-ayun

    Nyanyian serangga malam
    Menghentak merdu memecah sepi
    Malam semakin kelam
    Tenggelam dalam hening sunyi

    Aku termenung sendiri
    Menerawang jauh kegelapan malam
    Terperangkap nyanyian sunyi
    Merasuk kalbu yang paling dalam

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    HUKUM ALAM

    Ada dari tiada
    Tiada pun karena ada
    Hukum alam semesta
    Dikendalikan oleh Sang Pencipta

    Karenanya wahai manusia
    Harta, tahta dan wanita
    semua bersifat fana
    Amal Ibadah bersifat baka
    Yang mana anda suka?

    Syurga Neraka nyata adanya
    Tersirat dalam ajaran agama
    Karena baginya yang percaya
    Syukur pada yang Esa

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

  • Siapakah HB Jassin dan bagaimana kedudukannya di dalam kesusastraan Indonesia?

    Hans Bague Jassin, yang dikenal dengan HB Jassin, adalah seorang pengarang, penyunting, cendekiawan muslim, dan kritikus sastra ternama dari Gorontalo.

    Lahir pada 31 Juli 1917, Jassin mendedikasikan hidupnya untuk memajukan kesusastraan Indonesia.

    Kontribusinya sangat besar dalam pengembangan dan pembentukan arah kesusastraan Indonesia modern.

    Profil H.B. Jassin

    H.B. Jassin menyelesaikan pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk di bidang ilmu sastra dan bahasa.

    Selain sebagai kritikus sastra, H.B. Jassin juga dikenal sebagai editor, penerjemah, dan penulis. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan sastra dan kebudayaan Indonesia.

    H.B. Jassin dikenal luas sebagai kritikus sastra terkemuka di Indonesia.

    Tulisan-tulisannya sering membahas dan mengevaluasi karya-karya sastra, serta memberikan pandangan mendalam tentang perkembangan sastra Indonesia.

    Ia menerjemahkan berbagai karya sastra dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, yang membantu memperkenalkan literatur internasional kepada pembaca Indonesia.

    Kedudukan H.B. Jassin dalam Kesusastraan Indonesia

    H.B. Jassin memainkan peran penting dalam pengembangan sastra modern Indonesia.

    Ia memberikan kontribusi besar dalam mempromosikan dan memperkenalkan aliran sastra baru serta penulis-penulis baru kepada publik.

    Sebagai kritikus, H.B. Jassin memberikan penilaian yang tajam dan mendalam terhadap karya-karya sastra.

    Karyanya dalam kritik sastra membantu pembaca dan penulis memahami nilai-nilai estetika dan teknik-teknik sastra yang berkembang pada masa itu.

    Salah satu karya terkenalnya adalah kumpulan esai yang membahas berbagai aspek sastra, baik sastra klasik maupun modern.

    Esai-esai ini sering kali memuat analisis mendalam tentang karya sastra dan perkembangan sastra Indonesia.

    H.B. Jassin juga menulis buku-buku tentang sejarah sastra Indonesia yang memberikan wawasan berharga mengenai evolusi sastra di Indonesia dari masa ke masa.

    Sebagai pengarang, Jassin menulis beberapa karya sastra, seperti “Gema Suasana”, “Kesusastraan Indonesia di Masa Penjajahan Jepang”, dan “Kesusastraan Indonesia di Masa Kemerdekaan”.

    H.B. Jassin menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya terhadap sastra dan kebudayaan Indonesia.

    Penghargaan ini mencerminkan pengakuan atas dedikasinya dalam memajukan kesusastraan di Indonesia.

    Jassin dikenang sebagai salah satu pelopor dalam kritik sastra dan sejarah sastra Indonesia.

    Karya-karyanya terus dihargai dan menjadi referensi penting bagi akademisi dan penggemar sastra.

    Kesimpulan

    H.B. Jassin adalah tokoh sentral dalam kesusastraan Indonesia yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam bidang kritik sastra dan sejarah sastra.

    Melalui karya-karyanya, H.B. Jassin membantu membentuk pemahaman dan apresiasi terhadap sastra Indonesia, serta memperkenalkan karya-karya penting dari dalam dan luar negeri kepada pembaca Indonesia.

    Kedudukannya sebagai kritikus sastra dan sejarawan sastra menjadikannya sebagai figur yang sangat berpengaruh dalam pengembangan dan pengayaan kesusastraan Indonesia.

  • Festival Sastra Banyuwangi 2024 Digelar, Simak Perlombaan dan Rentetan Acaranya

    Festival Sastra Banyuwangi 2024 yang mengusung tema “Banyuwangi Bersastra Menggali Potensi Merajut Harmoni” diisi dengan berbagai macam perlombaan literasi bagi siswa SMP/sederajat se-Kabuptan Banyuwangi.

    Adapun beberapa lomba yang diadakan seperti lomba Cipta Puisi Bahasa Indonesia, Cipta Puisi Bahasa Using (khusus guru), Baca Puisi (Bahasa Indonesia dan Using), Cipta Pentigraf, Cipta Geguritan, Cipta Cerpen, hingga Story Telling (Bahasa Inggris).

    Dalam rangka menyukseskan Festival Sastra 2024, Dinas Pendidikan dan segenap panitia melakukan technical meeting via Zoom, Rabu (17/7/2023) untuk membagikan informasi dan teknis perlombaan kepada para peserta.

    Dinas Pendidikan yang diwakili oleh Kabid Pendidikan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Didik Eko Wahyudi menyampaikan beberapa pesan kepada panitia penyelenggara, terutama soal netralitas juri.

    Dalam techninal meeting yang dipandu oleh Yeti Chotimah, Didik memberi pesan agar juri yang dipilih dalam perlombaan ini memiliki kompetensi serta tidak ada kepentingan apapun hingga dapat memberi nilai secara objektif.

    “Juri harus benar-benar kompeten dan tidak berpihak,” ucapnya.

    Selain membahas juri, panitia juga membagikan informasi terkait rentetan acara dan disiplin yang harus dipatuhi oleh setiap peserta.

    Salah satu hal penting yang patut diingat peserta adalah karya harus original, tidak mengandung unsur pornografi dan menyinggung SARA.

    Peserta yang sudah mengirim karyanya via Google Meet dan Youtube akan dikurasi dan dijuri pada tanggal 20-21 Juli 2024.

    Nantinya, akan ada 50 finalis yang dinyatakan lolos oleh panitia melalui grup WhatsApp Festival Sastra 2024, sehingga setiap perwakilan sekolah diimbau menyimak informasi yang disebar melalui grup.

    Kemudian, 50 finalis tersebut akan tampil di babak final pada tanggal 23 Juli 2024 di di SMPN 2 Gambiran.

    Sehari setelahnya, pada tanggal 25 Juli 2024 para pemenang akan diumumkan oleh panitia pada acara Awarding Festival Sastra 2024 yang akan digelar di RTH Maron Genteng.

    Kejuaraan akan diambil juara 1, 2, 3, harapan 1, dan harapan 2. Setiap pemenang (kecuali Cipta Puisi Bahasa Using bagi guru) akan mendapat tropi, piagam penghargaan, dan uang pembinaan panitia penyelenggara Festival Sastra 2024. **

  • Cara Baca Novel Stensil Enny Arrow Lengkap, Cek di Sini!

    Cara Baca Novel Stensil Enny Arrow Lengkap, Cek di Sini!

    Di tahun 1980 hingga 1990-an, zaman belum seheboh sekarang dengan internet, video, atau VCD.

    Nah, di masa itu, buat para remaja, membaca novel stensilan jadi salah satu kegiatan favorit.

    Novel stensilan itu yang isinya agak ‘panas’ dan bikin penasaran, biasanya dicari-cari sama yang lagi naik usia puber.

    Salah satu nama yang jadi legendaris di kalangan remaja waktu itu adalah Enny Arrow. Dia dikenal sebagai penulis novel-novel yang isinya dewasa.

    Tapi, dia bukan satu-satunya. Ada juga yang namanya Freddy S., yang juga bikin novel stensilan yang laris di pasaran.

    Ceritanya, meski sampulnya cuma gambar yang digambar tangan dengan judul yang bikin penasaran, novel-novel itu cepat laku dijual.

    Apalagi, isinya seringkali bikin orang terkejut, karena pada zamannya, isinya dianggap cukup ‘berani’.

    Ada judul-judul kaya “Puncak Bukit Kemesraan”, “Rayuan Gombal”, “Dunia Cinta”, dan lain-lain. Jadi, nggak heran kalau novel-novel kayak gitu laku banget di pasaran waktu itu.

    Dulu, novel stensilan itu ukurannya kecil banget, sampai-sampai bisa diselipkan di antara lembaran buku tulis. Tapi sekarang, kamu bisa baca novel stensilan dengan mudah lewat smartphone saja.

    Baca Novel Stensilan Online

    Jadi, tadi kita udah cerita kan bahwa novel stensilan dulu banget larisnya di pasaran. Nah, kalo kamu penasaran sama novel-novel kayak gitu, sekarang kamu bisa baca online lewat ponsel pintar kamu.

    Jadi, novel stensilan online itu bisa kamu temuin di Google Play Book. Kamu bisa akses Google Play Book baik lewat aplikasi di hp kamu atau langsung lewat situs webnya.

    Nah, ini nih cara baca novel stensilan online lewat aplikasi Google Play Book:

    • Pertama, kamu harus download dulu aplikasi Google Play Book dari Play Store.
    • Terus, begitu udah terinstal di hp kamu, buka aja langsung aplikasinya.
    • Nah, di situ ada kotak pencarian, tinggal kamu ketik judul novel stensilan yang kamu mau. Misalnya kayak “Salsa, Perawan Yang Tergoda Full Episode Karya Enny Arrow”.
    • Begitu ketemu, langsung deh kamu bisa mulai baca novelnya.
    • Selesai!
  • Mengungkap Sosok Enny Arrow, Penulis Novel Dewasa yang Misterius

    Mengungkap Sosok Enny Arrow, Penulis Novel Dewasa yang Misterius

    Pada tahun 1980-an, di Indonesia belum ada internet atau telepon genggam.

    Film-film pendek yang agak cabul juga belum banyak. Jadi, bagaimana remaja zaman itu tahu soal seks?

    Mereka belajar dari novel-novel yang agak nakal, seperti yang ditulis oleh Enny Arrow.

    Biasanya, novel-novel ini dijual secara sembunyi-sembunyi di antara koran, kios buku bekas, atau penjual buku pinggir jalan.

    Enny Arrow adalah nama samaran, dan banyak penulis lain ikut-ikutan menggunakan nama itu karena popularitasnya.

    Novel-novel Enny Arrow berisi cerita-cerita yang vulgar tentang seks, tidak punya alur cerita yang jelas karena tujuannya hanya untuk membangkitkan hasrat seks pembacanya.

    Seringnya menggunakan kata-kata kasar dan menjelaskan detail tentang organ tubuh manusia.

    Tujuannya jelas: untuk membuat pembaca terangsang. Ironisnya, ada yang mengatakan bahwa mungkin penulisnya sendiri belum pernah melakukan hubungan seks.

    Pembaca novel Enny Arrow tidak hanya anak-anak atau remaja, tapi juga orang dewasa. Mereka penasaran tentang seks.

    Meskipun novel-novel Enny Arrow dijual secara sembunyi-sembunyi, tapi kepopulerannya patut diakui.

    Bahkan, survei pada tahun 2003 menemukan bahwa 17,2% responden mengaku belajar tentang seks pertama kali dari karya Enny Arrow.

    Tapi, seiring dengan makin majunya teknologi dan internet, karya-karya Enny Arrow mulai ditinggalkan. Sampai sekarang, misteri tentang siapa Enny Arrow sebenarnya masih belum terpecahkan.

    Konon, Enny Arrow dulu bekerja di toko jahit yang namanya “Arrow” di Jakarta Timur.

    Mungkin karena bosan bekerja, dia mulai menulis novel pada tahun 1965. Novel pertamanya judulnya agak seram, “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta”.

    Ada yang menuduh judul itu bermuatan politik. Nama “Arrow” dari tempat kerjanya itu dicantumkan di belakang nama aslinya, Enny (Sukaesih Probowidagdo).

    Entah apa hubungannya, tapi pada akhir tahun yang sama, Enny Arrow kabur ke Filipina, lalu ke Hong Kong, dan akhirnya ke Seattle, Amerika Serikat, pada April 1967.

    Menurut informasi yang beredar, dia lahir di Hambalang, Bogor, tahun 1924, dan sebelumnya dia adalah wartawan.

    Saat revolusi kemerdekaan, dia jadi wartawan Republikein yang melaporkan pertempuran di sekitar Bekasi.

    Tentang Enny Arro, masih banyak cerita yang beredar.

    Ada yang bilang, Abdullah Harahap tahu bahwa Enny Arrow sebenarnya adalah nama samaran penulis pria, tapi Abdullah Harahap sudah meninggal, jadi kebenaran tersebut tidak bisa dikonfimasi.

    Di Amerika Serikat, Enny Arrow belajar menulis cerita kreatif ala Steinbeck. Dia menemukan cara menulis ala Steinbeck dan mencoba untuk dimuat di beberapa koran terkenal di sana.

    Salah satu yang dimuat adalah novel berjudul “Mirror Mirror”.

    Pada tahun 1974, Enny Arrow kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai penulis iklan di sebuah perusahaan asing.

    Tapi godaan menulis terus menghantuinya. Pada pertengahan tahun 1970-an, nama Enny Arrow melejit dan populer di Indonesia, bersaing dengan popularitas Teguh Esha dan Ali Topan.

    Selama satu dekade berikutnya, sampai pertengahan tahun 1980-an, Enny Arrow menjadi salah satu penulis terkenal di kalangan remaja Indonesia, bersama dengan komik-komik seperti Zaldy, Sim, Jan, dan sebagainya.

  • Apa yang Dimaksud Jalan Cerita dalam Karangan Fiksi?

    Apa yang Dimaksud Jalan Cerita dalam Karangan Fiksi?

    Jalan cerita dalam karangan fiksi yang juga dikenal sebagai alur atau plot adalah urutan peristiwa yang terhubung dan terjalin dengan rapi dalam sebuah cerita.

    Alur merupakan elemen penting dalam karangan fiksi karena berfungsi untuk:

    • Menarik minat pembaca: Alur yang menarik akan membuat pembaca penasaran dan ingin terus mengikuti cerita.
    • Membangun ketegangan: Alur yang penuh dengan konflik dan ketegangan akan membuat pembaca merasa tegang dan ingin tahu bagaimana ceritanya akan berakhir.
    • Menyampaikan pesan: Alur dapat digunakan untuk menyampaikan pesan moral, sosial, atau politik kepada pembaca.
    • Menciptakan pengalaman emosional: Alur yang menyentuh hati dapat membuat pembaca merasa senang, sedih, marah, atau takut.

    Struktur Alur Cerita

    Secara umum, alur cerita dalam karangan fiksi memiliki struktur sebagai berikut:

    • Eksposisi: Bagian ini memperkenalkan latar belakang cerita, tokoh-tokoh, dan konflik utama.
    • Pengembangan: Bagian ini berisi serangkaian peristiwa yang mengantarkan tokoh-tokoh ke arah klimaks.
    • Klimaks: Bagian ini merupakan puncak dari cerita, di mana konflik utama mencapai titik tertingginya.
    • Resolusi: Bagian ini berisi penyelesaian konflik dan akhir dari cerita.

    Jenis-jenis Alur Cerita

    Ada beberapa jenis alur cerita yang umum digunakan dalam karangan fiksi, antara lain:

    • Alur maju: Alur ini menceritakan peristiwa secara berurutan dari awal hingga akhir.
    • Alur mundur: Alur ini menceritakan peristiwa dari masa lalu ke masa kini.
    • Alur campuran: Alur ini menggabungkan alur maju dan alur mundur.
    • Alur kompleks: Alur ini memiliki banyak cabang dan subplot.

    Tips Membuat Alur Cerita yang Menarik

    • Mulailah dengan ide yang kuat: Pilihlah ide cerita yang menarik dan orisinal.
    • Kembangkan karakter yang kompleks: Ciptakan karakter yang memiliki kepribadian, motivasi, dan tujuan yang jelas.
    • Buatlah konflik yang menarik: Ciptakan konflik yang membuat pembaca penasaran dan ingin tahu bagaimana ceritanya akan berakhir.
    • Jaga agar alur tetap bergerak: Hindari adegan yang terlalu panjang atau membosankan.
    • Berikan kejutan kepada pembaca: Masukkan beberapa kejutan dalam cerita untuk membuat pembaca tetap tertarik.
    • Akhiri cerita dengan memuaskan: Pastikan bahwa akhir cerita memuaskan dan sesuai dengan ekspektasi pembaca.