Tag: sekolah

  • Dies Natalis Ke-32 SMP Negeri 3 Rogojampi Berlangsung Meriah, Jadi Ajang Kreativitas dan Kebersamaan Siswa

    Dies Natalis Ke-32 SMP Negeri 3 Rogojampi Berlangsung Meriah, Jadi Ajang Kreativitas dan Kebersamaan Siswa

    Suasana meriah menyelimuti halaman SMP Negeri 3 Rogojampi pada Senin (11/5) dalam peringatan Dies Natalis ke-32 sekolah yang digelar penuh semangat dan antusiasme.

    Kegiatan yang diikuti seluruh warga sekolah tersebut menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menampilkan kreativitas siswa di berbagai bidang.

    Acara dibuka bersama oleh Ketua Komite dan Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Rogojampi.

    Dalam sambutannya, Plt Kepala Sekolah Dra. Hj. Sri Utami menyampaikan bahwa Dies Natalis bukan sekadar perayaan hari lahir sekolah, melainkan juga refleksi perjalanan pendidikan serta upaya bersama dalam membangun generasi yang berprestasi dan berkarakter.

    Ia juga mengapresiasi para pendahulu yang telah purna tugas dan berjasa menjaga kejayaan “Sempega” hingga saat ini.

    “Momentum Dies Natalis ini harus menjadi penyemangat bagi seluruh siswa untuk terus berkarya, berinovasi, dan menjaga nama baik sekolah. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang untuk tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, disiplin, dan bertanggung jawab,” ujar alumnus IKIP PGRI Banyuwangi yang akan memasuki masa pensiun tiga bulan lagi itu di hadapan siswa, guru, dan tamu undangan.

    Menurutnya, semangat gotong royong antara guru, siswa, komite sekolah, dan orang tua menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang positif dan perlu terus digalakkan.

    “Terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini. Saya berharap semangat kebersamaan seperti ini terus terjaga demi kemajuan SMP Negeri 3 Rogojampi dan menjaga nama baik almamater kita,” tambahnya.

    Setelah sambutan kepala sekolah, acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Komite Sekolah, Ir. Isnain.

    Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung perkembangan siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

    “Anak-anak membutuhkan dukungan bersama. Ketika sekolah dan orang tua berjalan seiring, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian sosial yang baik,” kata Ir. Isnain sembari menitipkan pesan kepada peserta didik untuk menyampaikan salam kepada orang tua terkait komitmen sekolah dalam mendukung aktivitas dan prestasi siswa, mulai tingkat lokal hingga nasional.

    Mantan Kepala SMK 6 Muhammadiyah sekaligus pensiunan guru MTsN 10 itu juga menjelaskan bahwa 32 tahun lalu, tepatnya 4 Mei, sekolah tersebut resmi beralih status dari Sekolah Kejuruan Keterampilan Putri (SKKP) menjadi SMP Negeri 3 Rogojampi.

    Ia menambahkan, tahun ini hingga tahun depan para guru yang pernah mengajar di era SKKP mulai memasuki masa pensiun.

    Sementara itu, Ketua Panitia Jumadi, S.Pd mengatakan kegiatan semacam ini mampu menjadi wadah bagi siswa untuk belajar berorganisasi, bekerja sama, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus belajar berwirausaha.

    “Kegiatan seperti ini sangat positif karena siswa belajar langsung tentang tanggung jawab, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan melalui bazar per kelas. Ini pengalaman berharga yang tidak selalu didapat di dalam kelas,” tutur guru olahraga yang juga pembina OSIS tersebut.

    Puncak pembukaan acara ditandai dengan pelepasan balon ke udara sebagai simbol harapan dan cita-cita yang terus menjulang tinggi.

    Momen tersebut disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang hadir.

    Setelah itu, penampilan tari kreatif dari para siswa sukses memukau penonton dengan gerakan energik dan kostum berwarna-warni yang menambah semarak suasana.

    Tidak hanya pertunjukan seni, Dies Natalis juga diramaikan dengan berbagai stan bazar yang dikelola siswa dari masing-masing kelas, termasuk pameran prakarya, aktivitas laboratorium IPA, serta literasi perpustakaan.

    Beragam makanan dan minuman dijajakan, mulai dari kuliner tradisional seperti cenil, klepon, dan tahu walik hingga makanan kekinian seperti dimsum, corndog, dan aneka minuman boba.

    Stan-stan tersebut dipadati pengunjung sejak pagi hari.

    Para siswa tampak antusias menawarkan dagangan mereka sambil menghias stan sekreatif mungkin agar menarik perhatian pembeli.

    Kegiatan bazar ini menjadi salah satu daya tarik utama dalam perayaan Dies Natalis tahun ini.

    Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman belajar kewirausahaan bagi siswa.

    Mereka belajar mengatur keuangan, bekerja sama dalam tim, hingga melayani pembeli secara langsung.

    Perayaan Dies Natalis SMP Negeri 3 Rogojampi berlangsung penuh keceriaan dan kebersamaan selama tiga hari.

    Pada hari pertama, bazar diikuti siswa kelas 7, dilanjutkan kelas 8 pada hari kedua.

    Sementara hari ketiga akan ditandai dengan kegiatan jalan sehat yang menyediakan berbagai doorprize alat rumah tangga persembahan dunia usaha dan SMK swasta di sekitar sekolah.

    Melalui kegiatan ini, sekolah berharap semangat kreativitas, solidaritas, dan cinta terhadap almamater dapat terus tumbuh di kalangan siswa maupun seluruh warga sekolah.

    “Insya Allah saat tanggal merah Kamis, 14 Mei, kami para guru, tenaga kependidikan, ustaz madin, serta komite akan melakukan refreshing ke Pulau Merah. Sedangkan tasyakuran purna wiyata kelas 9 akan digelar Kamis, 21 Mei, di halaman sekolah,” tutur KTU Drs. Imam Anshori. (Bung Aguk/Affandi)

  • Ratusan Kepala Sekolah Dilantik, Sekda Aceh Tekankan Pemulihan dan Peningkatan Mutu Pendidikan

    Ratusan Kepala Sekolah Dilantik, Sekda Aceh Tekankan Pemulihan dan Peningkatan Mutu Pendidikan

    Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir, resmi melantik sebanyak 201 kepala sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB di bawah naungan Pemerintah Aceh.

    Prosesi pelantikan berlangsung pada Senin (26/1/2026) di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh.

    Dalam kesempatan itu, M Nasir menekankan pentingnya peran kepala sekolah sebagai ujung tombak dalam menjaga dan membangun masa depan pendidikan di Aceh.

    Ia menyampaikan apresiasi atas prestasi Aceh yang berhasil menembus lima besar nasional dalam tingkat kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2025.

    Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kontribusi besar para pendidik di berbagai daerah.

    “Terima kasih atas dedikasi dan kerja keras yang telah mendorong peringkat Aceh di tingkat nasional,” ujarnya.

    Meski demikian, Sekda Aceh mengingatkan masih adanya tantangan serius yang perlu segera ditangani.

    Ia menyebutkan bahwa meskipun pada 2025 Pemerintah Aceh telah menyalurkan beasiswa kepada 93.579 anak yatim di seluruh kabupaten/kota dan berbagai jenjang pendidikan, masih terdapat sekitar 56 ribu remaja berusia 16 hingga 18 tahun yang belum mengenyam pendidikan.

    “Kalau ini tidak cepat kita tangani, maka akan menjadi bom waktu bagi proses pembangunan Aceh,” tegas M Nasir.

    Ia pun berharap para kepala sekolah yang baru saja dilantik dapat berkontribusi nyata dalam menekan angka putus sekolah tersebut secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

    Lebih lanjut, M Nasir menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar pergantian posisi, melainkan amanah dan kepercayaan dari negara.

    Menurutnya, kualitas kepemimpinan kepala sekolah sangat menentukan suasana belajar serta arah kemajuan lembaga pendidikan.

    “Sekolah tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga kepemimpinan yang mumpuni dan berkualitas,” katanya.

    Sekda juga menyinggung kondisi sejumlah sekolah yang masih dalam tahap pemulihan pascabencana.

    Ia mendorong para kepala sekolah untuk berperan aktif dalam memulihkan kondisi pendidikan sekaligus meningkatkan prestasi peserta didik.

    “Ciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi anak,” pesan Sekda.

    Selain itu, M Nasir mengajak seluruh kepala sekolah untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis pemerintah dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan terbebas dari stunting.

    Acara pelantikan ini turut dihadiri oleh Anggota DPRA Yahdi Hasan, Kepala Badan Kepegawaian Aceh Abdul Qohar, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh, Akkar Arafat.

    Sumber: acehprov

  • DPR RI Tekankan Penguatan Pendidikan Karakter untuk Cegah Kekerasan di Sekolah

    DPR RI Tekankan Penguatan Pendidikan Karakter untuk Cegah Kekerasan di Sekolah

    Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengingatkan pemerintah serta seluruh satuan pendidikan agar memperkuat pendidikan karakter sebagai upaya mencegah maraknya tindak kekerasan di lingkungan pendidikan.

    Ia menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak boleh diabaikan karena berperan penting dalam membentuk kepribadian dan akhlak peserta didik.

    Menurutnya, penguatan nilai-nilai tersebut perlu diluruskan dan diperbaiki agar sejalan dengan tujuan utama pendidikan nasional.

    “Pendidikan karakter tidak bisa dikesampingkan. Ini penting untuk membentuk karakter dan akhlak siswa. Itu yang harus kita luruskan dan perbaiki agar sesuai dengan tujuan dan fungsi utama pendidikan,” ujar Lalu Hadrian Irfani di Jakarta, Kamis, (22/12) menanggapi meningkatnya kasus kekerasan di dunia pendidikan sepanjang 2025.

    Ia menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi sistem pendidikan nasional.

    Sepanjang tahun 2025, pihaknya mencatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan di sekolah dan perguruan tinggi, dengan berbagai bentuk mulai dari kekerasan verbal hingga fisik.

    Hadrian juga menyinggung kasus kekerasan antara guru dan siswa di sebuah SMK di Jambi. Dalam peristiwa tersebut, tindakan kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa berujung pada pengeroyokan guru oleh sejumlah siswa.

    Politisi dari Daerah Pemilihan NTB II itu turut menyoroti kasus guru yang membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah.

    Menurutnya, tindakan tersebut sudah melampaui batas dan mencerminkan buruknya relasi edukatif antara guru dan siswa.

    “Saya melihat relasi edukasi antara guru dan siswa tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru tidak memahami sepenuhnya tugas dan kewajibannya, begitu juga siswa,” tegasnya.

    Ia menegaskan bahwa guru seharusnya menjadi teladan dan panutan bagi peserta didik.

    “Guru harus menjadi profil yang diidolakan” tutupnya.

    Sumber: Antara

  • Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Di banyak ruang kelas, cahaya pengetahuan kerap hadir dalam bentuk yang sederhana. Dari sana pula, perubahan sering kali bermula.

    Di Banyuwangi, cahaya itu tumbuh pelan namun konsisten melalui langkah seorang pendidik bernama Betty Lutviyanti, yang memilih menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian—bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang-ruang budaya dan sosial.

    Berangkat dari kesehariannya sebagai guru sekolah dasar, Betty menjadikan dunia anak, lingkungan sekolah, dan pendidikan sebagai sumber inspirasi utama karya-karyanya.

    Ia percaya bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan upaya menumbuhkan rasa, nalar, dan imajinasi sejak dini.

    Betty Lutviyanti merupakan pendidik dengan pengalaman mengajar selama 18 tahun. Ia mengabdi sebagai kepala SD Negeri 4 Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

    Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta Magister Pendidikan yang diraihnya pada tahun 2025, Betty aktif merancang dan menjalankan berbagai inovasi literasi di sekolah.

    Program seperti GESSAH (Gerakan Sedekah Satu Buku untuk Anak Sekolah), SAPA (Sehari Satu Pantun), dan Rame Riang (Gerakan Membaca Sehari Satu Dongeng) menjadi ikhtiar nyata untuk menumbuhkan budaya baca di kalangan siswa.

    “Literasi harus dihadirkan dengan cara yang dekat dan menyenangkan. Anak-anak perlu merasakan bahwa membaca dan menulis adalah bagian dari keseharian, bukan beban,” ujar Betty dalam salah satu kesempatan.

    Selain mengajar, Betty juga dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya telah diterbitkan, di antaranya Harmoni Putih Abu-abu dan Hujan Diksi Bulan Desember (2021), Praktik Baik Merdeka Mengajar dan Mengeja Rindu (2023), Pinasthika Laksamana (2024), serta Antologi Gotong Royong dan Toponimi Wilayah di Banyuwangi (2025).

    Ia juga terlibat sebagai kontributor dalam berbagai karya kolaboratif, termasuk e-book Anjasmara Kasmaran: Hikayat Damarwulan terbitan DISPUSIP Banyuwangi, antologi cerita cendhek Using Aroma Ring Pawon Using dalam buku Leroban, serta antologi cerita anak nusantara Lentera dari Timur ke Barat Jilid 2.

    Dedikasi tersebut turut membuahkan prestasi. Betty meraih Juara 2 Lomba Dongeng Video AI (2024), Juara 3 Lomba Cipta Puisi kategori umum KOPIWANGI (2024), serta terpilihnya 59 puisi karyanya dalam ajang cipta puisi bertema ibu dan guru pada tahun 2023.

    Ia juga aktif membina siswa dalam Festival Literasi Using dan PORSENI SD, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

    Lebih dari sekadar deretan karya dan penghargaan, kiprah Betty Lutviyanti menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang kelas yang sederhana, lalu menjalar ke panggung yang lebih luas.

    Ia menghadirkan literasi sebagai praktik kemanusiaan—menghubungkan pendidikan, budaya, dan harapan masa depan.

    Di tengah arus zaman yang serba cepat, langkah Betty menjadi pengingat bahwa perubahan besar kerap berawal dari ketekunan yang sunyi.

    Dari sekolah, cahaya itu dinyalakan—dan dari sana, ia terus menyala, menerangi generasi demi generasi.

  • Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Upaya menghidupkan budaya literasi di kalangan pelajar terus dilakukan oleh Penerbit Lintang bersama media literasi sastrawacana.id/ dengan melakukan kunjungan serta donasi buku.

    Kegiatan ini menyasar lembaga-lembaga pendidikan di berbagai wilayah Banyuwangi sebagai bagian dari gerakan penguatan minat baca sejak dini.

    Kunjungan kali ini terasa lebih istimewa karena dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., yang berlangsung di MI Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, pada Rabu (17/12/2025).

    Di sela-sela kesibukannya, Yusdi Irawan menyempatkan diri untuk turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi dalam mendukung penguatan budaya baca di lingkungan sekolah.

    Kehadirannya sekaligus menjadi wujud perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sarana edukatif yang strategis bagi pembentukan karakter dan peningkatan kualitas literasi peserta didik sejak usia dini.

    Kunjungan Perpusda di MI Kedaleman

    Dalam kesempatan tersebut, Yusdi Irawan memantau langsung kondisi perpustakaan MI Kedaleman sekaligus berdialog dengan pihak sekolah terkait literasi.

    Selain menyerahkan sejumlah buku, ia juga memberikan masukan yang berhubungan dengan pengelolaan perpustakaan dan strategi menumbuhkan minat baca siswa sejak usia dini.

    Menurutnya, keberadaan perpustakaan sekolah harus dimaknai lebih dari sekadar fasilitas pelengkap, melainkan sebagai ruang pembelajaran yang aktif dan berkelanjutan.

    “Perpustakaan sekolah bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang yang hidup dan mampu menumbuhkan minat baca anak-anak. Jadi, perlu ada rutinitas membaca karena kebiasaan akan berubah menjadi budaya membaca,” ujar Yusdi Irawan.

    Ia menambahkan, penguatan literasi sejak sekolah dasar menjadi fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

    Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, S.Pd., yang dalam kesempatan itu menyerahkan sejumlah buku, termasuk karya tulisnya sendiri.

    Seperti diketahui, Andi Budi Setiawan merupakan penulis asal Banyuwangi yang telah melahirkan berbagai karya sastra serta aktif mendorong gerakan literasi di daerah.

    Kepala Sekolah MI Kedaleman, Nur Lailiyah, S.Ag, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan perhatian yang diberikan.

    Ia menilai kehadiran Kepala Dinas Perpustakaan bersama Penerbit Lintang dan sastrawacana.id/ menjadi semangat baru bagi sekolah.

    “Kunjungan ini menjadi energi positif bagi kami. Kami merasa mendapat dukungan moral untuk terus mengembangkan perpustakaan serta budaya membaca di sekolah,” ungkap Nur Lailiyah.

    Ia berharap ke depan dapat terjalin kolaborasi berkelanjutan dengan Perpustakaan Daerah Banyuwangi.

    Sebagai informasi, MI Kedaleman Rogojampi dikenal sebagai salah satu sekolah yang memiliki keunggulan dalam bidang keagamaan.

    Para siswa dibekali pendidikan akhlakul karimah sejak dini sebagai fondasi pembentukan karakter.

    Melalui penguatan literasi yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan, sekolah ini berupaya mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

    Sementara itu, Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang, Maulana Affandi, S.S., menegaskan bahwa kegiatan donasi buku dan kunjungan sekolah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Penerbit Lintang dalam mendukung gerakan literasi di Banyuwangi.

    “Kami percaya bahwa literasi tidak bisa dibangun secara instan. Butuh kehadiran, ketelatenan, dan kerja bersama berbagai pihak. Kunjungan seperti ini adalah upaya sederhana kami untuk menghadirkan buku lebih dekat dengan anak-anak, sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka pada membaca,” ujar Maulana Affandi.

    Menurutnya, sinergi antara komunitas literasi, media, sekolah, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan dan menjangkau lebih banyak sekolah, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses bacaan.

    Kegiatan donasi buku dan kunjungan ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berkelanjutan dalam menumbuhkan semangat membaca serta memperkuat ekosistem literasi di Banyuwangi.

  • Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar
    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita sering kali terjebak dalam pandangan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari angka, ranking, atau nilai rapor semata.

    Padahal, di balik semua itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah pendidikan kita benar-benar sudah memanusiakan manusia?

    Hakikat pendidikan sejati sejatinya bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya—yang berpikir, berperasaan, dan berperilaku bijak.

    Pendidikan seharusnya menuntun setiap individu menemukan jati diri, menggali potensi, dan menumbuhkan kesadaran untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.

    Pendidikan harusnya bisa memberikan kesadaran baru tentang nilai-nilai positif serta pemikiran yang mendalam tentang logika etika dan estetika dalam kehidupan.

    Paradigma baru pendidikan menegaskan bahwa peserta didik bukan sekadar alat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan manusia yang memiliki potensi, minat, dan keunikan masing-masing.

    Mereka bukan mesin penghafal teori, tetapi pribadi yang perlu diarahkan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter. Inilah makna pendidikan yang sejati—pendidikan yang membebaskan, bukan membelenggu.

    Ki Hajar Dewantara telah lama menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

    Pandangan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

    Kurikulum ini menuntut pendidikan yang lebih manusiawi, yang memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

    Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 pada dasarnya hadir untuk memperkuat kerangka kurikulum, menambahkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), menyesuaikan struktur dan muatan pembelajaran untuk semua jenjang serta memperkenalkan mata pelajaran pilihan baru seperti “Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI)” secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026.

    Terlalu lama proses belajar terjebak pada rutinitas hafalan, sehingga lupa membuat siswa benar-benar memahami, bertanya, dan tumbuh sebagai manusia. Kerangka 8-3-3-4¹ mendorong sekolah membentuk profil lulusan yang utuh—cerdas, berkarakter, sehat, komunikatif, mandiri, dan kritis.

    Prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan mengajak kita membangun suasana belajar yang hidup, yang tidak berhenti di kelas, tetapi menyentuh hati, pengalaman, dan pola pikir siswa.

    Perubahan ini sesungguhnya bukan beban, tetapi kesempatan bagi sekolah dan guru untuk berkembang bersama.

    Deep learning membuka ruang bagi pendidik untuk mencoba pendekatan baru yang lebih kreatif, memperkuat kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai jembatan untuk memperkaya pengalaman belajar.

    Lingkungan belajar—baik fisik maupun digital—dapat dibentuk menjadi ruang yang aman dan memerdekakan.

    Saat praktik pedagogis diperbarui, kemitraan diperkuat, dan refleksi menjadi budaya, kebijakan ini berubah dari sekadar aturan menjadi momentum penting menuju transformasi pendidikan yang lebih manusiawi.

    Pendekatan ini juga menuntun siswa untuk tidak hanya menghafal, tetapi sungguh memahami konsep, merenungkan maknanya, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Guru pun berperan sebagai pendamping yang menuntun siswa menemukan jawabannya sendiri.

    Di era digital, kemampuan ini menjadi semakin penting, terutama ketika siswa berhadapan dengan pembelajaran koding, teknologi, dan kecerdasan buatan yang menuntut ketelitian, kreativitas, dan adaptasi cepat terhadap perubahan.

    Namun, transformasi pendidikan tidak akan menyentuh maknanya yang paling dasar tanpa nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam keseharian sekolah.

    Menghargai keberagaman siswa, mengakui potensi setiap individu, memberi ruang kebebasan berpikir dan berkarya, serta menilai proses sama pentingnya dengan hasil adalah fondasi yang harus diperkuat.

    Relasi empatik antara guru dan siswa, serta penanaman nilai seperti empati, tanggung jawab, dan kejujuran, menjadi roh dari pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Di sinilah inti perubahan: mengembalikan sekolah sebagai ruang tumbuh, ruang aman, dan ruang yang memberi harapan bagi masa depan setiap anak.

    Pendidikan sejati bukanlah yang membuat anak takut salah, tetapi yang memberi mereka keberanian untuk mencoba, berpikir, dan berbuat baik. Kita tidak sedang mencetak robot yang patuh, tetapi manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak dengan hati nurani.

    Kini saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Tujuan utama pendidikan bukan sekadar melahirkan generasi berprestasi akademik, melainkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berintegritas.

    Pendidikan yang memerdekakan akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

    Karena sejatinya, pendidikan yang baik bukan tentang berapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar pengetahuan itu mampu mengubah dirinya dan memberi manfaat bagi orang lain. Dari sinilah, manusia belajar menjadi manusia seutuhnya.

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Jurnalis Sastrawacana.

    Catatan Kaki
    ¹ Kerangka 8-3-3-4 terdiri dari:
    8 Dimensi Profil Lulusan:
    Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan YME; Kewargaan; Kreativitas; Penalaran Kritis; Kolaboratif; Kemandirian; Kesehatan; Komunikasi.
    3 Prinsip Pembelajaran:
    Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga.
    3 Pengalaman Belajar:
    Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi.
    4 Kerangka Pembelajaran:
    Praktik Pedagogis; Kemitraan Pembelajaran (guru, orang tua, komunitas); Lingkungan Belajar (fisik dan digital); Pemanfaatan teknologi digital (Zoom Meeting, Cloud, Gmeet, dll).

  • Fantastis, Sekolah Baru Senilai 85 Juta Dolar Mulai Dibangun di Kota Ini

    Fantastis, Sekolah Baru Senilai 85 Juta Dolar Mulai Dibangun di Kota Ini

    Aurora Public Schools resmi memulai pembangunan sebuah sekolah baru dengan anggaran sekitar 85 juta dolar.

    Sekolah yang berlokasi di Colorado, Amerika Serikat ini nantinya akan menampung siswa dari tingkat pra-sekolah hingga kelas delapan dan ditargetkan mulai beroperasi pada musim gugur tahun 2026.

    Pembangunan sekolah tersebut menjadi salah satu proyek besar yang diharapkan mampu memberikan fasilitas pendidikan lebih baik bagi masyarakat.

    Rencana desain gedung difokuskan untuk mendukung kegiatan olahraga dan seni. Kedua bidang ini dianggap penting karena tidak hanya menunjang perkembangan akademik, tetapi juga membantu membentuk kreativitas serta kesehatan fisik siswa.

    Meskipun detail lengkap mengenai fasilitas yang akan dibangun belum diumumkan, pihak sekolah menegaskan bahwa perhatian khusus akan diberikan pada ruang yang bisa digunakan siswa untuk berkreasi dan berolahraga.

    Dengan adanya sekolah baru ini, Aurora Public Schools berharap mampu menghadirkan lingkungan belajar yang lebih modern, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda.

    Proyek pembangunan ini juga menjadi simbol investasi besar dalam dunia pendidikan.

    Kehadiran sekolah baru dengan fasilitas yang lebih lengkap dipandang sebagai langkah nyata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta memberikan peluang lebih luas bagi siswa dalam mengembangkan minat dan bakat mereka.

    Sumber: 9news

  • 6 Negara dengan Jam Sekolah Terpendek Tapi Kualitasnya Nggak Kaleng-Kaleng

    6 Negara dengan Jam Sekolah Terpendek Tapi Kualitasnya Nggak Kaleng-Kaleng

    Setiap negara menerapkan aturan berbeda terkait sistem pendidikan, termasuk jam mulai dan lamanya kegiatan belajar.

    Penentuan durasi sekolah biasanya mempertimbangkan tujuan pendidikan nasional, kondisi budaya, kurikulum yang berlaku, serta ketersediaan tenaga pendidik.

    Secara umum, negara-negara Asia dikenal memiliki jadwal belajar lebih panjang dibandingkan negara-negara di Eropa.

    Di Indonesia, waktu belajar di sekolah umumnya dimulai sekitar pukul 06.30 pagi dan selesai antara pukul 13.00 hingga 15.00 sore.

    Itu pun belum termasuk kegiatan ekstrakurikuler atau tambahan belajar di luar jam utama.

    Menariknya, ada beberapa negara yang menetapkan durasi sekolah relatif singkat, tetapi justru memiliki kualitas pendidikan yang diakui dunia. Berikut daftarnya.

    1. Jerman – 3 jam 45 menit hingga 5 jam

    Sekolah di Jerman rata-rata berlangsung antara 3 jam 45 menit hingga 5 jam per hari.

    Pelajaran biasanya dimulai pukul 07.30-08.15 pagi dan selesai sekitar pukul 12.00-13.00 siang.

    Meskipun waktu belajar tergolong singkat, sistem pendidikan mereka fokus pada efektivitas pembelajaran dan mendorong siswa untuk mengembangkan diri di luar jam sekolah.

    Sore harinya, siswa memiliki kesempatan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau belajar mandiri.

    Sebagian besar sekolah di Jerman merupakan sekolah negeri yang bebas biaya.

    Bahkan, banyak universitas di negara ini yang memberikan pendidikan gratis bagi warga negara Jerman maupun mahasiswa internasional.

    2. Brasil – 5 jam

    Brasil menetapkan jam belajar sekitar 5 jam per hari. Umumnya dimulai pukul 07.00 pagi dan selesai pukul 12.00-13.00 siang.

    Siswa diwajibkan masuk sekolah selama 200 hari dalam setahun, terbagi dalam dua semester, yaitu Februari-Juni dan Agustus-September.

    3. Finlandia – 5 jam

    Finlandia dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, walau jam sekolahnya hanya sekitar 5 jam per hari atau total 20 jam per minggu.

    Sekolah biasanya dimulai pukul 08.00-09.00 pagi dan berakhir pukul 13.00-14.00 siang.

    Di dalamnya sudah termasuk waktu istirahat makan siang dan jeda 15 menit antar kelas. Menariknya, pekerjaan rumah jarang diberikan.

    Keberhasilan pendidikan di Finlandia terletak pada fokus pengembangan potensi siswa, baik akademik maupun non-akademik, sehingga mereka mampu berprestasi di bidang matematika, literasi, dan sains.

    4. Italia – 5 jam

    Durasi belajar di Italia umumnya 5 jam per hari, dimulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 13.00-14.00 siang, sudah termasuk waktu makan dan istirahat.

    Beberapa sekolah di Italia tetap beroperasi hingga enam hari dalam seminggu, dari Senin hingga Sabtu.

    5. Rusia – 5 jam

    Rusia yang merupakan negara terluas di dunia, memiliki rata-rata jam belajar hanya sekitar 470 jam per tahun ajaran.

    Sekolah berlangsung lima hari seminggu, dimulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 13.00-14.00 siang.

    Siswa di Rusia juga menikmati libur panjang hingga empat bulan per tahun.

    Pendidikan dibagi menjadi dua jalur besar: pendidikan umum (SD, SMP, SMA) dan pendidikan profesional (kejuruan serta perguruan tinggi).

    6. Denmark – 5 jam 30 menit

    Negara Skandinavia ini memiliki waktu sekolah sekitar 30-35 jam per minggu atau rata-rata 5,5 jam per hari.

    Jadwal dimulai pukul 08.00 pagi dan selesai pukul 13.00-15.00 sore, tergantung tingkat sekolah.

    Pendidikan wajib di Denmark berlangsung selama 10 tahun, dimulai ketika anak berusia enam tahun.

    Pemerintah sangat menekankan kesejahteraan siswa dan kualitas hidup, sehingga sistem pendidikannya dirancang agar seimbang antara belajar dan waktu istirahat.

  • Gubernur Jatim Apresiasi Kesiapan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Ponorogo

    Gubernur Jatim Apresiasi Kesiapan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Ponorogo

    Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi terhadap kesiapan Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 di Ponorogo yang akan memulai proses belajar mengajar pada tanggal 1 Agustus 2025.

    Dalam kunjungan ke lokasi di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Tambakbayan pada Sabtu, 26 Juli lalu, Khofifah menyampaikan bahwa sekolah ini sangat representatif, berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektare dan sudah dilengkapi fasilitas seperti ruang kelas, asrama, laboratorium, dan lapangan olahraga.

    “Sekolah Rakyat di Ponorogo ini sangat lengkap, luas, dan siap mencetak anak-anak hebat. Mulai dari kelas, asrama, lapangan olahraga, hingga laboratorium sudah disiapkan dengan baik,” kata Khofifah dalam keterangan di Ponorogo, Minggu.

    Khofifah menyebut Ponorogo sebagai salah satu dari dua daerah di Jawa Timur, selain Banyuwangi, yang telah menerapkan sistem Sekolah Rakyat terintegrasi dari tingkat SD hingga SMA.

    SR Terintegrasi 5 ini direncanakan menampung sebanyak 125 siswa dari keluarga kurang mampu yang masuk dalam Desil 1 dan 2 berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), terbagi atas 25 siswa SD, 50 siswa SMP, dan 50 siswa SMA.

    Khofifah juga menyoroti sistem boarding school yang diterapkan sebagai kekuatan dalam membentuk karakter dan disiplin siswa.

    Ia meminta pengelola untuk menyusun jadwal harian yang mencakup jam tidur, belajar malam, hingga olahraga pagi, misalnya senam pagi selama 30 menit serta pembinaan karakter lewat kerja sama dengan TNI dan Polri.

    “Senam pagi 30 menit misalnya, akan melatih kedisiplinan dan pembinaan fisik sejak dini. Pembinaan karakter juga bisa diperkuat dengan pendampingan dari TNI dan Polri,” ujarnya.

    Selain itu, dia berharap penguatan kemampuan Bahasa Inggris melalui kolaborasi dengan lembaga di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

    Tak hanya itu, Khofifah mendorong siswa untuk bermimpi besar, apakah menjadi profesional seperti dokter, guru, polisi, atau bahkan bupati/gubernur, serta meminta wali murid tetap memberikan dukungan moral.

    “Kalian bisa jadi dokter, guru, polisi, tentara, bahkan bupati atau gubernur. Jangan takut bermimpi tinggi,” paparnya.

    Kepala SR Terintegrasi 5 Ponorogo, Devitri Candrawati, menyampaikan bahwa revitalisasi gedung hampir selesai dan berbagai bantuan seperti kasur serta peralatan belajar sudah mulai tiba.

    Pemerintah Kabupaten Ponorogo menargetkan pembangunan tahap akhir rampung sebelum 1 Agustus. Rencana serupa juga disiapkan untuk Kecamatan Jenangan pada tahun berikutnya, dengan luas lahan mencapai 8 hektare.

    Sumber: Antara

  • Dukung Pendidikan Agama, Pemkab Sidrap Dapat Apresiasi dari Menteri Agama RI

    Dukung Pendidikan Agama, Pemkab Sidrap Dapat Apresiasi dari Menteri Agama RI

    Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) atas keseriusannya dalam memperkuat pendidikan berbasis agama di wilayah tersebut.

    Hal ini disampaikan saat bersilaturahmi bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Sidrap di Villa An Nur yang berlokasi di Kelurahan Batu Lappa, Kecamatan Watang Pulu, pada Jumat, 25 Juli 2025.

    Dalam sambutan resminya, Prof. Nasaruddin menilai bahwa langkah konkret yang diambil Pemkab Sidrap, seperti pengembangan madrasah, pendirian pondok pesantren, dan rumah tahfidz, merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang memiliki akhlak terpuji serta berlandaskan nilai-nilai keagamaan yang kuat.

    “Kami menyambut baik komitmen Pemkab Sidrap dalam penguatan pendidikan agama. Ini adalah langkah penting untuk membangun generasi yang kuat iman dan akhlaknya,” ujar Menag.

    Ia juga menyoroti peran spiritualitas dalam mendukung kemajuan daerah. Menurutnya, keberkahan tidak semata berasal dari kemajuan teknologi, melainkan juga dari kekuatan doa dan keikhlasan masyarakatnya.

    “Buka semua pintu langit, karena rezeki dari langit itu seperti hujan yang menghidupkan bumi,” imbuhnya dengan penuh semangat.

    Di kesempatan yang sama, Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian dan dukungan dari Menteri Agama terhadap perkembangan pendidikan agama di Kabupaten Sidrap.

    “Kami berkomitmen memperkuat pendidikan agama sebagai fondasi membangun masyarakat Sidrap yang religius dan berdaya saing,” tegas Syaharuddin.

    Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini, terdapat 89 rumah tahfidz dan 19 pondok pesantren yang aktif di Sidrap.

    Pemerintah daerah pun terus berupaya untuk mendorong pemerataan serta peningkatan mutu pendidikan Islam di seluruh pelosok.

    Tidak hanya itu, Bupati juga menyampaikan berbagai pencapaian lainnya, termasuk di bidang pertanian.

    Dengan capaian produksi gabah sebanyak 350 ribu ton dalam satu kali panen, Sidrap menargetkan produksi satu juta ton per tahun melalui sistem tiga kali panen, yang berpotensi menciptakan nilai ekonomi sebesar Rp7,1 triliun.

    “Ini semua berkat doa para guru dan ulama. Sidrap siap menjadi lumbung beras, lumbung telur, energi terbarukan, dan pusat para penghafal Al-Qur’an serta ulama nasional,” pungkasnya.

    Dalam kegiatan tersebut, turut hadir istri Menteri Agama yang juga menjabat sebagai Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag RI, Hj. Helmi Halimatul Udhmah, beserta sejumlah staf ahli dan pejabat eselon I Kementerian Agama. Kedatangan rombongan disambut oleh Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, Kepala Kemenag Sidrap, H. Muhammad Idris Usman, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta tokoh-tokoh masyarakat.

    Setelah acara silaturahmi di Sidrap, Menag RI beserta rombongan melanjutkan kunjungan kerja ke Kabupaten Wajo untuk menghadiri wisuda santri di Pondok Pesantren As’Adiyah sekaligus meluncurkan Kurikulum Cinta.

    Sumber: Kemenag