Ketika kebanyakan perangkat desa sibuk mengurusi administrasi dan pelayanan masyarakat, Andi Sep Kurniawan, S.Sos, justru melangkah lebih jauh.
Di sela-sela kesibukannya sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat di Pemerintah Desa Pondoknongko, ia merangkai kata, merangkai makna, dan memupuk harapan lewat tulisan.
Lahir di Banyuwangi pada 17 September 1997, Andi bukan hanya seorang abdi negara, tapi juga seorang penulis aktif, pegiat literasi, sekaligus penggerak komunitas.
Ia dikenal luas di kalangan pecinta literasi sebagai Koordinator Karya Fiksi KOPIWANGI, komunitas literasi Banyuwangi yang terus tumbuh dengan visi Bergerak Bersama Majukan Literasi Banyuwangi.

Dari Desa, Untuk Dunia Literasi
Berangkat dari hobi menulis dan memotret, Andi membuktikan bahwa inspirasi tak harus lahir di kota besar.
Desa yang tenang justru menjadi ladang cerita yang kaya. Ia produktif menulis cerita anak, cerpen, esai, jurnal, hingga puisi yang banyak di antaranya ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Using, ciri khas Banyuwangi yang ia banggakan.
Beberapa karyanya yang telah diterbitkan antara lain:
- Puisi Terbangun (2019)
- Melangkah Menuju Terang (2020)
- Di Mana Ibuku? (2022)
- Tanaman Nuri Layu (2023)
- Siapa Pemenangnya? (2024)
- Dimuat pula di Radar Banyuwangi, Belambangan.com, Jurnal Madaniya, dan At-Tamkin.
Prestasi yang Membakar Semangat
Tak hanya berkarya, Andi juga aktif mengikuti berbagai ajang literasi. Di antaranya:
- Lolos Sayembara Cerita Anak Tahap 1 dan 2 (Balai Bahasa Jatim, 2025)
- Lolos Seleksi Penerjemah (Balai Bahasa Jatim, 2025)
- Workshop Cerita Anak Nasional (Pusbuk SIBI, 2025)
- Lomba Esai Bank Indonesia Wilayah Sekarkijang, 2025
Menyalakan Obor untuk Generasi Literasi
Baginya, literasi bukan sekadar aktivitas menulis atau membaca, melainkan nyala hidup. Filosofinya sederhana, namun mendalam:
“Urip iku urub. Membacalah untuk mengenal dunia, dan menulislah agar dikenal dunia. Maka namamu akan abadi.”
Kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak malu memulai dari kecil dan tidak ragu bermimpi besar:
“Jika profesi dan hobi tak selaras, tak apa. Lanjutkan saja. Perbedaan itu melengkapi.”
Cahaya dari Pinggir Kota
Andi Sep Kurniawan membuktikan bahwa dari desa pun, kita bisa bersinar. Ia adalah pengingat bahwa literasi bukan milik akademisi saja, tapi milik siapa pun yang ingin menyalakan terang, termasuk kamu, yang sedang membaca ini.
Karena sejatinya, cahaya yang paling dibutuhkan dunia kadang menyala dari tempat yang tak disangka.









