Kategori: Berita

  • Gairah Seni Nusantara Mengalir di Bayu Songgon lewat Pementasan Topeng Madura dan Kolaborasi Lintas Budaya

    Gairah Seni Nusantara Mengalir di Bayu Songgon lewat Pementasan Topeng Madura dan Kolaborasi Lintas Budaya

    Momentum tasyakuran Padepokan Suryo Mustiko dan seni topeng Laras Mustoko Jalmo menjadi ajang yang kembali menghidupkan jejak leluhur mereka di Dusun Pelantaran, Desa Bayu, Songgon, Selasa (25/11/25).

    Acara ini merayakan pelestarian Kesenian Tari Topeng asal Sumenep yang sudah dibawa oleh tiga bersaudara sebelum 1945, kemudian diwujudkan dalam bentuk Sanggar Kesenian oleh anak sepupuan pada tahun 1961.

    Kini, memasuki tahun pertama berdirinya Sanggar Suryo Mustiko, mereka menghadirkan kolaborasi Topeng Madura, Mamaca, saronen, kerawitan campursari, literasi, video kreatif, serta kesenian Banyuwangi.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan selamatan dan tahlilan bakda Maghrib, dilanjutkan ramah tamah dengan jajanan pasar, polo pendem, hingga tumpeng.

    tasyakuran Padepokan Suryo Mustiko dan seni topeng Laras Mustoko Jalmo di Songgon

    Dalam sambutannya, pengurus Suryo Mustiko, Danang, memaparkan sejumlah prestasi yang diraih, termasuk capaian Qurrotul Angraini sebagai duta seni Jatim dan kiprah sanggar di berbagai event kecamatan maupun hajatan masyarakat.

    “Hingga kami bisa tampil dua tahun berturut-turut di Festival Kebangsaan Bakesbangpol melalui Forum Pembauran Kebangsaan dari suku Madura,” ungkap Wiyogo, penari sekaligus pranatacara, sambil menyampaikan terima kasih kepada Kepala Desa Bayu yang telah memberikan seperangkat gamelan daerah Blambangan.

    Kepala Desa Bayu, Ir. Yulia Herlina, tampak terharu. Acara ini mengingatkan dirinya pada kisah orang tua dan para leluhur, terlebih karena ia memiliki garis keturunan Madura dari kedua orang tuanya.

    Ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang peduli pada pelestarian seni budaya serta yang telah mengundang sanggar tampil dalam Festival Kebangsaan.

    “Maka Tari Topeng Laras Mustoko Jalmo kami jadikan maskot dan tema kesenian Desa Bayu. Setiap acara formal di wilayah kami akan diimbau menghadirkan kreasi Tari Topeng,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah.

    Hadir pula Suwito, anggota DPRD yang mengaku bersyukur dapat membantu menghadirkan Dapur MBG di Songgon.

    Ia juga telah berkomunikasi dengan pihak eksekutif mengenai pembangunan paving berkualitas yang kuat dilalui truk dan tahan air hujan.

    Riuh tepuk tangan menggema ketika ia spontan memberikan bantuan untuk pengadaan lampu panggung.

    “Seni daerah patut dilestarikan. Kami bermimpi bisa menampilkan ragam sanggar di bumi Blambangan, khususnya di Songgon,” tutur mantan Kopassus itu, menegaskan tekadnya bekerja dengan ikhlas menjalankan amanat rakyat, bukan sekadar janji kosong.

    Pada momen penutupan, setelah lagu kebangsaan bergema dilanjutkan “Umbul-umbul Blambangan”, ia tak kuasa menahan haru saat teringat sahabatnya, almarhum mantan Bupati Ir. H. Samsul Hadi, dan meminta hadirin mengirim Al-Fatihah.

    Tari Topeng Songgon

    Kesempatan sambutan juga diberikan kepada Bung Aguk Darsono, yang menyinggung Hari Jadi Banyuwangi 18 Desember yang berakar pada peristiwa Perang Puputan Bayu.

    Ia menegaskan bahwa infrastruktur Desa Bayu semestinya lebih baik daripada akses menuju Tumpang Pitu.

    Dalam semangat perjuangan tersebut, ia berharap Desa Bayu dapat menyusun buku sejarah dan filosofi Kesenian Tari Topeng yang menjadi maskot desa bahkan mewakili identitas suku Madura di Banyuwangi.

    Bung Aguk merupakan pengurus Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), sekaligus inisiator pembangunan Monumen Perang Puputan Bayu saat menjabat Sekretaris DHC ’45 pada masa kepemimpinan Kades Sukarno dan Bupati Ir. H. Samsul Hadi.

    Setelah doa yang dipimpin Ketua MWC NU, Ust. Hasan Irama, rangkaian seni ditampilkan berurutan mulai Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Marsan, Jaran Goyang, Jebing Kacong, hingga puncaknya Tari Topeng dengan improvisasi yang menegaskan aktualisasi hajat para cucu cicit untuk mengenang serta mendoakan leluhur mereka.

  • Jejak Harmoni Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi, Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

    Jejak Harmoni Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi, Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

    BANYUWANGI – Festival Kebangsaan 2025 yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi di Arena Gesibu Blambangan pada Sabtu lalu (22/11/2025) berlangsung meriah dan sarat dengan makna nasionalisme.

    Mengusung semangat harmoni dalam keberagaman, kegiatan ini meninggalkan catatan bukan hanya memamerkan kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga mendapat apresiasi khusus dari mahasiswa luar daerah, termasuk dari Aceh dan Papua.

    Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa festival tahun ini disusun dalam trilogi utama kegiatan.

    “Pertama, Lomba Band Kebangsaan untuk anak SD hingga SMP sebagai wadah bakat dan pembinaan kegiatan positif. Kedua, Lomba Video Kreatif bertema kebangsaan untuk siswa SMA, yang sebelumnya telah mendapat pelatihan langsung dari praktisi seperti Sulaiman Ali dari Porto Production serta influencer Winona. Ketiga, Pagelaran Seni Budaya hasil kolaborasi dengan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), menampilkan kekayaan seni dari berbagai suku,” ungkapnya.

    Tak hanya menghadirkan pertunjukan, Festival Kebangsaan 2025 juga menjadi ajang pelayanan publik.

    Kegiatan ini melibatkan UMKM lokal, menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, serta membuka layanan administrasi kependudukan gratis dari Dispendukcapil, seperti pengurusan akta kelahiran hingga KTP.

    “Ini adalah bentuk sinergi untuk mewujudkan Banyuwangi yang lebih baik,” tegas Agus Mulyono.

    Ketua Umum Forum Pembauran Kebangsaan Banyuwangi, Miskawi, M.Pd., menambahkan bahwa festival ini merupakan cerminan nyata kehidupan multikultural Banyuwangi.

    “Festival Kebangsaan ini adalah merajut harmoni. Tidak lagi membeda-bedakan suku dan etnis, karena kita hidup rukun dan guyub di Banyuwangi,” ujarnya.

    Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

    Peserta Festival Kebangsaan Banyuwangi 2025

    Keberhasilan festival dalam membangun suasana kebersamaan menuai pujian dari para pengunjung.

    Tiga mahasiswa asal Aceh, yakni Astri, Naiya, dan Ulfa mengaku terkesan dengan kekompakan dan kehangatan acara.

    Ulfa menyampaikan bahwa festival ini menjadi bukti nyata kerukunan antar suku di Banyuwangi yang tetap terjaga.

    Apresiasi juga datang dari mahasiswa asal Papua. Marni Majau, mahasiswi dari Papua Tengah, mengaku bangga dapat menyaksikan dan ikut merayakan kekayaan budaya di tengah keberagaman Banyuwangi.

    “Dengan acara seperti ini, kami dapat melestarikan budaya kami di mana pun berada,” ujarnya.

    Senada, Sonia dari Papua Selatan mengaku baru pertama kali melihat festival kebangsaan seperti ini dan merasa sangat mudah berbaur dengan masyarakat Banyuwangi. Keduanya bahkan menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam kegiatan serupa di masa depan.

    Rangkaian Acara

    Festival diawali dengan penampilan band-band pelajar terbaik hasil seleksi lomba sebelumnya, yaitu SPENSABAND dari SMP 1 Banyuwangi, SPENSA GLORY dari SMP 1 Genteng, dan ALETHEIART dari SMPK Aletheia Genteng.

    Dilanjutkan dengan atraksi barongsai dari etnis Tionghoa serta tari Tanduk Majeng oleh Sanggar Lang-Lang Buana pimpinan maestro tari Banyuwangi, Sabar.

    Acara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. H. Mujiono, M.Si., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini adalah ruang penguatan jati diri bangsa melalui kebersamaan dalam keberagaman.

    Pada puncak acara, FPK Banyuwangi mempersembahkan pagelaran seni kolaboratif yang menampilkan tarian dari berbagai suku, seperti Mandar, Jawa, dan Madura.

    Tak hanya itu, narasi ditampilkan menggunakan bahasa daerah masing-masing dan Bahasa Inggris, mempertegas pesan tentang kuatnya persatuan dalam perbedaan.

    Pengumuman Pemenang Lomba

    Pada penghujung acara, panitia mengumumkan deretan pemenang lomba sebagai berikut:

    Lomba Video Kreatif:

    • Juara 1: SMAN 1 Genteng
    • Juara 2: SMKS Mambaul Ulum Muncar
    • Juara 3: SMAN 1 Glagah
    • Harapan 1: SMAN 1 Giri
    • Harapan 2: SMK Cordova

    Lomba Band Pelajar:

    • Juara 1: SDN 4 Penganjuran
    • Juara 2: SMPK Alethia Genteng
    • Juara 3: SMPN 1 Banyuwangi
    • Harapan 1: SMPN 1 Genteng
    • Harapan 2: SMPN 2 Banyuwangi

    Piala dan hadiah pembinaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Ir. Mujiono.

    Festival ditutup dengan sendratari “Kembang Seronce” karya Pak Sabar, sebuah pertunjukan artistik dari Sanggar Langlang Buana yang menggambarkan nilai Bhinneka Tunggal Ika, menjadi penutup sempurna dari seluruh rangkaian kegiatan.

    Festival Kebangsaan 2025 bukan sekadar agenda tahunan, tetapi bukti nyata komitmen Banyuwangi dalam merawat keberagaman.

    Melalui seni, pelayanan publik, dan ruang ekspresi bagi generasi muda, kegiatan ini menunjukkan bahwa persatuan adalah fondasi kokoh menuju masyarakat yang rukun dan sejahtera.

  • Peringatan HGN 2025 di SMPN 3 Rogojampi Jadi Ajang Apresiasi Guru dan Kreativitas Siswa

    Peringatan HGN 2025 di SMPN 3 Rogojampi Jadi Ajang Apresiasi Guru dan Kreativitas Siswa

    Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 dan HUT PGRI ke-80 di halaman SMPN 3 Rogojampi berlangsung khidmat pada Selasa (25/11/2025).

    Menariknya, seluruh petugas upacara berasal dari para guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang beralamat di Jl. Ki Hajar Diponegoro 18-A, Desa Gitik.

    Selain itu, perwakilan siswa kelas 7, 8, dan 9 juga tampil mempersembahkan puisi, pantun, serta lagu Himne Guru.

    Peringatan HGN 2025 di SMPN 3 Rogojampi

    “Kami berterima kasih atas jasa mulia para guru yang mendidik kami melampaui kurikulum, membentuk karakter kami, dan memberi kesempatan untuk berkreasi serta berprestasi!” ungkap Andre, siswa berprestasi dalam bidang puisi Indonesia dan Osing.

    “ Kami akan menjaga nama baik almamater dan melaksanakan amanah orang tua. Semoga para guru selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan berada dalam ridho Tuhan Yang Maha Esa,” sambung Sasmita.

    Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi, Dra. Hj. Sri Utami, turut membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ ti, yang mengusung tema Guru Hebat Indonesia Kuat.

    Pada kesempatan yang sama, Yeti Chotimah, M.Pd yang sebelumnya tampil membacakan puisi di Festival Kebangsaan FPK-Bakesbangpol di Gesibu Blambangan, memimpin pembacaan ikrar guru.

    Usai upacara, mobil MBG tiba di halaman sekolah yang memiliki 18 rombel tersebut. Sejak awal November, program Makan Bergizi Gratis ini hadir setiap Senin–Jumat sekitar pukul 08.17–08.45.

    Hari Guru Nasional SMPN 3 Rogojampi

    Pada momentum bersejarah ini, para guru juga membagikan sembako kepada siswa yatim dan dhuafa, dilanjutkan penyerahan hadiah berbagai lomba yang telah digelar sebelumnya.

    Momen keakraban semakin terasa ketika para siswa bersalaman dengan guru layaknya halal bihalal.

    Sesekali muncul doorprize dari siswa untuk wali kelas, pembina OSIS, maupun guru yang berkesan selama proses pembinaan di Sempega.

    Suasana semakin meriah saat para guru mengikuti lomba bola voli dengan bola plastik berukuran raksasa, disambut sorak meriah para siswa.

    Di tengah dekorasi balon dan suasana ceria, pramuka semapore dan ekstrakurikuler band sekolah turut menampilkan kemampuan mereka.

    Pengelolaan sampah pada acara ini kembali bekerja sama dengan NGO Sungai Watch.

    “Kegiatan PMR dan UKS juga bisa bersinergi untuk mendukung sekolah sehat dan tangguh!” tegas pembina M. Fahris, S.Pd.

    Ketika para siswa menikmati MBG, para guru, tenaga kependidikan, serta pengurus komite melaksanakan tasyakuran tumpeng.

    “Dengan momentum Hari Guru, mari semakin rajin belajar, jauhi malas, merokok, dan bullying. Semoga ilmu dan adab kita menjadi berkah dalam ridho-Nya,” tutup Muslih, S.Ag., waka urusan kesiswaan yang juga Direktur Madin pada jam ke-0 setiap Selasa, Rabu, dan Kamis.

  • RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Pelatihan Hospitality untuk Tingkatkan Standar Layanan

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Pelatihan Hospitality untuk Tingkatkan Standar Layanan

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi menggelar In House Training bertema Hospitality, Komunikasi Efektif, dan Etika Pelayanan sebagai bagian dari upaya peningkatan performa layanan rumah sakit.

    Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 20 November 2025 dan diikuti oleh seluruh staf karyawan, baik medis maupun nonmedis.

    Dokter Gita Putri Santoso, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah rumah sakit untuk meningkatkan standar pelayanan kepada pasien.

    “Ini adalah komitmen kami untuk menghadirkan pelayanan yang excellence kepada pasien. Semua unit pelayanan menjadi simbol dari peningkatan standar pelayanan tersebut. Harapannya melalui IHT hari ini, standar pelayanan semakin meningkat dan kepuasan pasien juga bertambah, sehingga rumah sakit dapat memberikan pengalaman pelayanan yang menyenangkan bagi masyarakat,” ujarnya.

    Pelatihan Hospitality RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi (2)

    Sejalan dengan hal tersebut, Imron Rosyadi, S.E., M.M., Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan, memaparkan bahwa IHT kali ini memiliki beberapa tujuan penting.

    Pertama, mengubah mindset karyawan terkait budaya kerja agar semakin positif melalui pemberdayaan (empowering).

    Kedua, memastikan seluruh unit pelayanan dapat menerapkan materi yang disampaikan trainer dalam budaya kerja mereka.

    Ia menambahkan bahwa manajemen akan menindaklanjuti pelatihan ini melalui monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

    Supervisi akan dilakukan oleh tim pengawas yang ditunjuk oleh trainer untuk mem-follow up penerapan budaya kerja pascapelatihan.

    Terakhir, Imron menegaskan bahwa ke depan akan diterapkan sistem reward and punishment, karena tanpa hal tersebut program ini dikhawatirkan tidak berjalan optimal.

    Dari sisi peserta, Hartatik, salah satu karyawan bagian kasir, mengaku senang dengan adanya pelatihan ini.

    Baginya, materi yang diberikan sangat berharga dan wajib diterapkan oleh semua karyawan agar pasien dan keluarga merasa nyaman saat menerima pelayanan.

    Sementara itu, Ahmad Rivaldi, S.Sos., Kasubag Kepegawaian, menilai bahwa training kali ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan pasien saat berinteraksi dengan pemberi layanan.

    Pelatihan ini menghadirkan Oktavian Rifqi N-A, S.Pd., seorang pemateri dengan berbagai prestasi seperti Juara 3 Top Model, Juara Harapan 1 Putra Batik Nusantara se-Jawa Bali, Duta Batik Banyuwangi, dan semifinalis Jebeng Thulik Banyuwangi.

    Ia menyampaikan materi tentang grooming, greetings, dan gesture, dengan harapan dapat memberikan warna positif dalam komunikasi karyawan dengan pasien maupun keluarga.

    Peserta pelatihan berasal dari seluruh unit pelayanan, termasuk medis, keperawatan, farmasi, laboratorium, radiologi, hingga security.

    Menurut Heri Iskandar, S.Kep., Ners., Kasubag Marketing, seluruh upaya yang dilakukan oleh bagian SDM ini merupakan bentuk komitmen RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi untuk terus meningkatkan pelayanan yang humanis dan paripurna.

    Ia menegaskan bahwa rumah sakit berupaya menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan melalui pelayanan yang islami serta menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya.

    “Seluruh upaya yang dilakukan oleh bagian SDM merupakan bentuk komitmen RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi untuk terus meningkatkan pelayanan kepada pasien dan keluarga. Kami ingin memberikan layanan yang humanis, paripurna, dan islami, sehingga rumah sakit ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat serta menjadi pilihan utama dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya,” tutup Heri.

  • Rembuk Lansia 2025, Menuju Banyuwangi Ramah Lansia dan Harapan Hidup Lebih Baik

    Rembuk Lansia 2025, Menuju Banyuwangi Ramah Lansia dan Harapan Hidup Lebih Baik

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Rembuk Lansia 2025 pada Rabu, 19 November 2025 di Cafe Bu Har, kawasan Gapangan Mojo Panggung–Giri, Banyuwangi.

    Kegiatan ini dihadiri OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait serta berbagai organisasi pemerhati lansia yang aktif mendorong layanan ramah usia lanjut di daerah.

    Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mencapai target pembangunan harus dilakukan perencanaan, monitoring, dan evaluasi yang baik.

    “Jangan pernah bergantung dengan keberuntungan, rencanakan dengan baik untuk mendapatkan hasil yang terbaik!” terangnya.

    Suyanto juga menyoroti perlunya sinergi lintas dinas dalam mendukung program lansia.

    Ia menegaskan bahwa kolaborasi anggaran dapat dilakukan selama sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah.

    “Kerjasama anggaran antar dinas selama sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah bisa dilakukan, semua pasti ada solusinya,” tambahnya.

    Karena itu, ia meminta agar seluruh layanan terkait lansia direncanakan secara matang untuk rembug tahun depan, sebagaimana rembug perempuan, anak, dan disabilitas yang sudah terprogram dengan baik.

    Acara dipandu oleh Jeng Indah CC dari Yayasan Aura Lentera Indonesia dan Bung Aguk Wahyu Nurhadi dari Perkumpulan Komunitas Gotongroyong ’45.

    Kegiatan ini menghadirkan narasumber Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Dra. Henik Setyorini, A.P., M.Si, yang memaparkan berbagai program Pemkab Banyuwangi untuk lansia, seperti program Rantang Kasih, Sekolah Lansia Tangguh (Selantang), Graha Lansia Licin, SPM opname RSUD, serta sinergi bersama Baznas dan CSR.

    Dalam penyampaiannya, Henik menekankan bahwa keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan layanan.

    “Karena SDM kami terbatas, monggo masyarakat interaksi bila ada temuan atau usulan mendukung kabupaten ramah lansia dan meningkatkan kualitas hidup panjang usia dengan sehat mandiri tanpa bebani anak dan jadi kembang kasur,” ungkap wnaita tangguh yang baru saja memasuki usia ke-50.

    Rangkaian acara diawali doa kebangsaan oleh Man Usik, pelaku adat tradisi Using.

    Rembuk Lansia Banyuwangi

    Peserta dari 17 lembaga kemudian dibagi menjadi dua kelompok diskusi: bidang sosial dan layanan publik, serta bidang kesehatan.

    Pada bidang sosial, pembahasan berfokus pada pelibatan kelompok masyarakat agar lebih peduli terhadap lansia, terutama lansia dhuafa.

    Peserta juga mendorong lansia agar aktif di organisasi sosial masyarakat demi menjaga kehidupan sosialnya, serta mengurai temuan masalah dengan contoh praktik baik yang dapat menjadi solusi.

    Sementara itu, kelompok yang membahas bidang kesehatan mengurai berbagai aspek penting, mulai dari kesehatan fisik, mental, sosial, spiritual, hingga ekonomi dan advokasi.

    • Kesehatan fisik: cek kesehatan dan penyuluhan lansia secara berkala melalui posyandu/posbindu, day care, atau puskesmas; penyusunan jadwal aktivitas fisik seperti senam dan jalan sehat; serta edukasi pentingnya kesehatan fisik.
    • Kesehatan mental: pelatihan pengelolaan stres bagi lansia.
    • Spiritual: dorongan agar lansia aktif dalam kegiatan spiritual sesuai keyakinan sebagai bekal kembali keharibaan-Nya.
    • Kesehatan ekonomi: pelatihan dan pendampingan usaha, serta pencarian sumber penghasilan bagi lansia yang masih bekerja fisik.
    • Advokasi: dukungan terhadap keberadaan Graha Lansia Licin, Panti Jompo Sahabat Lansia Muncar, serta penyusunan regulasi yang lebih berpihak kepada lansia.

    Menutup kegiatan, Kabid Kesra dan Pemerintahan Bappeda, Lusi Herawati, SE., M.Sc, menyampaikan kebahagiaannya atas munculnya gagasan dan usulan yang tidak terduga namun realistis serta mudah diwujudkan melalui kolaborasi supertim.

    Ia menjelaskan bahwa hasil rembug akan dikaji lebih lanjut oleh tim formatur Komda Lansia, yang perlu segera dibuatkan SK baru sekaligus pengukuhan pengurus Komda Lansia Kabupaten Banyuwangi.

    Diharapkan, saat rembug lansia tahun depan yang mungkin dirangkai dengan Hari Lansia Nasional (HALUN), kegiatan ini dapat memberikan makna yang lebih besar. (Aguk/Andre)

  • LSF RI Gelar Bimtek e-SiAS di Banyuwangi, Dorong Literasi Sensor dan Produksi Film Berkualitas

    LSF RI Gelar Bimtek e-SiAS di Banyuwangi, Dorong Literasi Sensor dan Produksi Film Berkualitas

    BANYUWANGI — Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) menggelar kegiatan Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film: Bimbingan Teknis Pembuatan Akun e-SiAS bersama para pemangku kepentingan perfilman se-Jawa Timur, Rabu (19/11), di Blambangan Ballroom Lantai 1 Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center.

    Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat paham mengenai penggolongan usia penonton dan kriteria sensor, membantu masyarakat memilih tontonan yang bermutu, serta mendorong para pembuat film memahami pedoman sensor agar menghasilkan karya yang layak dan berkualitas.

    Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si., membuka acara dengan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini di Banyuwangi.

    Menurutnya, hal ini menegaskan bahwa perkembangan perfilman di Banyuwangi cukup pesat.

    Ia menyampaikan bahwa proses produksi film kini lebih mudah berkat teknologi, namun isi film tetap harus memperhatikan aspek hukum dan regulasi.

    “Harapannya dari Banyuwangi muncul film-film yang berkualitas. Apalagi Banyuwangi sudah menjadi lokasi syuting beberapa film nasional karena keindahan alamnya,” ucapnya.

    Sambutan kedua disampaikan oleh Hairus Salim, Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas LSF RI, mewakili Kepala LSF RI.

    Mengawali dengan pantun, ia menekankan pentingnya para pembuat film mendaftarkan karya ke LSF untuk peninjauan resmi.

    Ia mengingatkan bahwa sensor terbaik dimulai dari lingkungan terdekat, mulai keluarga, sekolah, dan komunitas.

    “Dulu, anak yang diam di rumah dianggap anak baik. Sekarang justru perlu diawasi, karena internet menyajikan film dan konten yang tidak semuanya layak,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa bioskop tidak akan menayangkan film tanpa Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).

    Acara kemudian dipandu oleh Drs. Aekanu Haryono, budayawan dan seniman Banyuwangi.

    Materi Pertama: Film untuk Menggerakkan Pariwisata

    Materi pertama disampaikan oleh Ainur Rofiq, S.Sos., M.M., Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

    Dalam paparannya, ia mengatakan secara langsung bahwa Banyuwangi punya potensi yang luar biasa dalam industri perfilman karena keindahan alamnya.

    “Banyuwangi memiliki potensi besar di bidang perfilman. Banyak film yang sudah dan akan diproduksi dengan memanfaatkan keindahan dan kekhasan daerah ini. Film-film itu bukan hanya karya seni, tetapi sekaligus alat promosi yang mampu menggerakkan pariwisata dan pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.”

    Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara sineas dan pemerintah daerah dapat membuka peluang besar bagi pertumbuhan industri kreatif.

    Materi Kedua: Praktik Membuat Akun e-SiAS dan Pemahaman Regulasi

    Memasuki sesi berikutnya, Ketua Subkomisi Penyensoran LSF RI sekaligus praktisi film senior, Hadi Artomo, memberikan materi mengenai regulasi penyensoran, prinsip film yang baik, serta prosedur administratif pendaftaran film.

    Ia memberikan ilmu kepada para peserta bagaimana produksi film yang baik, termasuk dari pemilihan judul, dan bagaimana menulis skenario cerita yang menarik.

    Di tengah pemaparan, ia secara langsung juga mengajarkan peserta cara membuat akun e-SiAS, mulai dari tahap registrasi, pengisian data, hingga cara mengunggah berkas film untuk proses sensor.

    Hadi juga menegaskan bahwa pendaftaran film kini dapat dilakukan melalui direktorat lembaga seni di masing-masing kota untuk memperoleh Tanda Penerimaan Pendaftaran Film (TPPF).

    “Jika ingin syuting di lokasi tertentu, TPPF ini penting sebagai surat pengantar perizinan,” jelasnya.

    Ia mengingatkan bahwa izin lokasi dari masyarakat sekitar wajib dilakukan untuk mencegah sengketa di kemudian hari.

    Diskusi: Aksesibilitas Film bagi Disabilitas

    Dalam sesi diskusi, Safarudin dari Yayasan Aura Lentera menanyakan tentang regulasi agar film dapat diakses oleh penyandang disabilitas, terutama yang memiliki hambatan pendengaran.

    Pertanyaan tersebut disambut baik oleh pihak LSF, yang menyatakan bahwa mereka akan mendorong pengembangan pedoman teknis agar film semakin ramah disabilitas, agar sesuai dengan standar aksesibilitas sehigga memungkinkan semua kalangan menikmati film secara setara.

    Kegiatan ditutup dengan harapan agar insan perfilman di Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, semakin memahami pentingnya sensor, regulasi, dan etika produksi demi lahirnya karya yang aman, bermutu, dan bermanfaat bagi publik.

  • SMK PGRI Rogojampi Resmi Bentuk PC Khusus PGRI, Langkah Baru Penguatan Organisasi Guru

    SMK PGRI Rogojampi Resmi Bentuk PC Khusus PGRI, Langkah Baru Penguatan Organisasi Guru

    SMK PGRI Rogojampi resmi menggelar Konferensi Pengurus Cabang Khusus (PC Khusus) PGRI di aula baru Sasana Pro, pada Sabtu (15/11).

    Acara ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar SMK PGRI Rogojampi, karena untuk pertama kalinya lembaga ini membentuk PC Khusus PGRI secara mandiri.

    Konferensi berlangsung dalam suasana hangat, tertib, serta mencerminkan komitmen kuat untuk memperkuat organisasi profesi guru di tingkat sekolah.

    Konferensi PC Khusus PGRI Rogojampi turut dihadiri oleh Ketua PGRI Banyuwangi, Sudarman, S.Pd., M.Si., beserta perwakilan dari PC PGRI Rogojampi.

    Kehadiran para tokoh tersebut memberikan dukungan moral sekaligus penguatan regulasi terhadap rencana pembentukan PC Khusus di SMK PGRI Rogojampi.

    Dalam sambutannya, Sudarman menjelaskan bahwa salah satu syarat pembentukan PC Khusus PGRI adalah adanya minimal 20 anggota aktif di satu instansi atau lembaga pendidikan.

    Sementara itu, SMK PGRI Rogojampi menunjukkan kesiapan yang sangat baik dengan jumlah anggota lebih dari 70 orang.

    Konferensi Pengurus Cabang Khusus PGRI di SMK PGRI Rogojampi

    Jumlah tersebut tidak hanya memenuhi aturan, tetapi juga menunjukkan antusiasme besar para guru dan karyawan untuk terlibat aktif dalam organisasi.

    Lebih lanjut, Sudarman menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan para pendidik di SMK PGRI Rogojampi.

    “Keberhasilan penyelenggaraan konferensi ini merupakan buah dari komunikasi dan koordinasi yang intens antara Ketua PC PGRI Rogojampi dengan perwakilan calon pengurus PC Khusus di sekolah,” terangnya.

    Sinergi yang terbangun ini diharapkan dapat menjadi landasan kuat dalam memperkokoh peran PGRI sebagai wadah profesionalitas dan kesejahteraan guru di wilayah Rogojampi.

    Dalam proses konferensi, seluruh peserta melalui rangkaian sidang pemilihan sesuai tata tertib yang berlaku.

    Pada akhir sidang, forum secara mufakat menetapkan H. Danang Bagiono, S.Si. sebagai Ketua PC Khusus PGRI Rogojampi periode 2025–2030.

    Selain itu, konferensi juga menetapkan empat pengurus harian serta menunjuk 14 koordinator bidang yang akan mengelola berbagai program, mulai dari peningkatan mutu profesi, advokasi, organisasi, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

    Sebagai ketua terpilih sekaligus Kepala SMK PGRI Rogojampi, H. Danang Bagiono, S.Si dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas amanah yang diberikan.

    Ia menekankan bahwa keberadaan PC Khusus PGRI di sekolah bukan hanya sebagai pelengkap struktur organisasi, tetapi sebagai wadah bagi guru untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan menguatkan kompetensi dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

    “PC Khusus ini adalah ruang bagi guru untuk tumbuh bersama. Kita tidak hanya bekerja, tetapi saling menguatkan agar mampu menjawab tuntutan pendidikan yang semakin kompleks,” ujarnya.

    Ia berharap seluruh pengurus yang berjumlah 19 orang dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, loyalitas, dan komitmen tinggi demi kemajuan PGRI di wilayah Rogojampi.

    Lebih jauh, Danang menekankan pentingnya kolaborasi antarpengurus. Menurutnya, organisasi yang besar membutuhkan kerja sama yang solid dan komunikasi yang baik.

    “Tidak ada program besar yang bisa berhasil tanpa kolaborasi. Kita harus solid, transparan, dan saling mendukung, karena itulah kunci kekuatan sebuah organisasi guru,” tandasnya.

    Lima tahun masa bakti ke depan akan menjadi periode yang penuh tantangan, di mana PGRI dituntut mampu menjawab berbagai isu profesionalitas guru, kurikulum, hingga peningkatan kualitas pembelajaran.

    Dengan semangat solidaritas yang tinggi, para pengurus PC Khusus PGRI Rogojampi menyatakan komitmennya untuk menjalankan tugas seoptimal mungkin.

    Mereka siap bersinergi, berinovasi, serta menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi guru dan sekolah.

    Konferensi ini tidak hanya menjadi awal perjalanan organisasi baru, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan baru bagi para pendidik di SMK PGRI Rogojampi.

  • Film Horor Darma Malam Kelahiranku Wujudkan Geliat Sineas Muda Banyuwangi

    Film Horor Darma Malam Kelahiranku Wujudkan Geliat Sineas Muda Banyuwangi

    Industri film Banyuwangi kembali bergeliat dengan hadirnya karya baru dari komunitas anak muda Kresek Entertainment asal Kecamatan Srono, yang merilis sebuah film horor berjudul “Darma Malam Kelahiranku”.

    Film karya Muftiurrahman ini diangkat dari kepercayaan lokal masyarakat Jawa dengan premis cerita akan terjadi tragedi saat tradisi keluarga dilanggar.

    Screening perdana film tersebut digelar di Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pada Jumat (14/11).

    Acara tersebut dibuka oleh Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofiq, yang juga bertindak sebagai moderator diskusi.

    Pemutaran ini dihadiri oleh sineas senior Banyuwangi, Bambang Harjito, serta berbagai perwakilan kelompok pemerhati film di Banyuwangi.

    Angkat Kultur ‘Pamali’ Weton

    Film Horor Darma Malam Kelahiranku

    Film “Darma Malam Kelahiranku” berangkat dari kultur masyarakat yang meyakini bahwa bepergian pada hari kelahiran atau weton adalah pamali (tabu) dan dapat mendatangkan malapetaka.

    Disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Jawa, film ini mengisahkan petualangan empat remaja, yaitu Darma dan ketiga kawannya.

    Mereka memutuskan untuk mendaki gunung. Di tengah hutan, mereka bertemu dengan kuncen yang memperingatkan agar mereka pulang.

    Namun, Darma dan kawannya mengabaikan nasihat tersebut dan memilih melanjutkan perjalanan.

    Keputusan itulah yang membawa mereka pada serangkaian peristiwa mistis yang memakan korban jiwa, termasuk Darma sendiri, yang tewas tepat pada hari dan weton kelahirannya.

    Tanggapan dan Evaluasi Membangun

    Film yang diproduksi oleh anak muda ini menuai apresiasi dan kritik yang membangun.

    Secara umum, para pemerhati film yang hadir menilai film ini memiliki kualitas yang sangat baik untuk sebuah karya anak muda, khususnya dalam hal sinematografi dan manajemen adegan.

    “Untuk ukuran karya anak muda, hasilnya sudah luar biasa. Aspek visual dan pengaturan scene di beberapa adegan sudah tertata dengan baik,” ujar Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45 dalam diskusi tersebut.

    Di sisi lain, beberapa kritikan juga mengemuka, seperti adegan dinilai masih kurang natural, terutama dari intonasi dialog para pemain yang dianggap masih terdengar seperti membaca naskah teater.

    Aspek makeup dan kostum juga dinilai masih perlu banyak penyempurnaan. Selain itu, terdapat ketidaktepatan dalam pemilihan kandidat atau casting untuk beberapa peran.

    Menurut Bambang Harjito, produser perlu memahami arti Based on True Story dan Based on Culture, karena ketika mencantumkan kalimat Based on True Story, berarti film ini dibuat dari kisah yang betul-betul pernah tejadi peristiwanya.

    Sedangkan jika hanya berdasarkan dari sebuah kepercayaan yang ada pada kultur budaya masyarakat setempat sebaiknya jangan mencantumkan “Based on True Sory” dalam cover filmnya, tetapi yang tepat adalah “Based on Culture”.

    Kehadiran film “Darma Malam Kelahiranku” dinilai sebagai angin segar bagi industri kreatif lokal Banyuwangi.

    Karya ini tidak hanya menjadi media ekspresi bagi sineas muda, tetapi juga upaya pelestarian budaya lokal melalui bahasa dan kepercayaan yang diangkat ke dalam medium film.

  • Pelukan Cinta Keluarga dan Sambutan Hangat Guru serta Relawan Dukung Kesetaraan Disabilitas

    Pelukan Cinta Keluarga dan Sambutan Hangat Guru serta Relawan Dukung Kesetaraan Disabilitas

    Program Awareness Raising yang digagas oleh Building Effective Network (BEN) bekerja sama dengan Aura Lentera dan Rumah Literasi Indonesia, berlangsung hangat dan penuh makna pada Jumat (14/11) di aula SLB dekat GOR dan LPP Blambangan FM.

    Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara penyandang disabilitas, pendamping, orangtua, guru, aktivis literasi, serta para pemerhati inklusivitas di Banyuwangi.

    Acara diawali dengan pembukaan oleh NS Tunggul Harwanto, M.Kes., Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi.

    Dalam paparannya, Tunggul memperkenalkan tujuan utama program BEN, yakni membangun jaringan kolaborasi yang efektif antar komunitas dan lembaga yang bergerak dalam isu disabilitas.

    Tunggul menegaskan bahwa keberadaan ruang seperti ini sangat dibutuhkan bagi para penyandang disabilitas di Banyuwangi.

    “Kami berharap kegiatan ini bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah bagi teman-teman disabilitas untuk terus berkarya, menunjukkan kemampuan, dan menginspirasi masyarakat luas. Mereka punya potensi besar, dan kita, sebagai masyarakat, harus menjadi lingkaran dukungan yang kuat,” ujarnya.

    Indah Caturningtyas

    Sedang Indah Catur Cahyaningtyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI) sebagai moderator mengungkapkan jika kesadaran publik tentang hak-hak disabilitas masih perlu diperkuat.

    Sehingga edukasi dan jejaring kolaboratif menjadi kunci penting yang ingin ditegakkan melalui program BEN. Oleh karnanya, butuh intervensi pemerintah dan uluran hati untuk pemberdayaan lainnya.

    Materi pertama disampaikan oleh Masfufah M. Pd dari Perkins Internasional, yang memaparkan gambaran umum tentang isu disabilitas di Banyuwangi serta pentingnya pendekatan humanis dan inklusi dalam proses pendampingan maupun sarpras serta kebijakan publik.

    Kepala Sekolah ini juga menjelaskan bagaimana lembaga dan komunitas dapat berperan menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan ramah bagi disabilitas.

    “Kita perlu memastikan setiap penyandang disabilitas merasakan bahwa mereka diterima. Inklusivitas bukan hanya slogan, tetapi tindakan nyata dalam memperlakukan mereka sebagai individu yang setara,” tegasnya penuh kelembutan.

    Ia menekankan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

    “Setiap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama karena semua manusia itu setara. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana masyarakat mampu menyediakan ruang yang inklusif,” ujar Masfufah.

    Awareness Raising Building Effective Network dan Aura Lentera

    Ia menambahkan bahwa mewujudkan inklusi adalah tanggung jawab bersama, yang dimulai dari cinta keluarga, diteruskan dengan penerimaan di komunitas maupun di sekolah, demi Indonesia yang benar-benar setara.

    Masfufah yang lebih akrab disapa Ufa, melanjutkan materinya dengan menjelaskan konsep CBR (Community-Based Rehabilitation) atau rehabilitasi berbasis komunitas.

    Ia memaparkan bahwa CBR merupakan strategi pengembangan masyarakat yang menggabungkan rehabilitasi, pemberdayaan, dan pembangunan relasi sosial.

    Menurut Ufa, CBR berfungsi untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas, memberdayakan mereka untuk terlibat dalam kehidupan sosial maupun ekonomi, dan menciptakan hubungan harmonis antara disabilitas dan lingkungan sekitarnya.

    Menutup materinya, Ufa memberikan pesan menyentuh kepada orang tua dan pendamping.

    “Menjadi orang tua dari anak disabilitas itu bukan pilihan. Tetapi memutuskan untuk mendampingi dan menjadi guru bagi mereka adalah pilihan penuh cinta dan keteguhan. Di situlah kekuatan sejati sebuah keluarga,” tutupnya.

    Dari puluhan peserta yang hadir, ada satu yang menarik perhatian, yakni Arsy, penyandang daksa dari Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi. Arsy hadir bersama ibunya yang mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini.

    Arsy disabilitas kedaleman

    Ia menyampaikan rasa terima kasih karena memperoleh wawasan baru serta kesempatan berkonsultasi langsung dengan para pegiat disabilitas di Banyuwangi.

    “Kami bersyukur bisa hadir di sini. Banyak ilmu baru yang kami dapat, dan bisa bertanya langsung pada ahlinya tentang pendampingan anak kami,” ujarnya.

    Arsy, yang kini duduk di kelas 2 MI Kedaleman, dikenal berprestasi. Ia bahkan berhasil meraih peringkat satu di kelas, sehingga kisahnya menjadi inspirasi bagi peserta lain.

    Pada sesi akhir, peserta mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi bersama Isti, Tim konsultan Program BEN Indonesia.

    Sesi ini menjadi salah satu bagian paling interaktif karena menjawab kebutuhan-kebutuhan konkret yang sering dialami penyandang disabilitas dan orang tuanya.

    Dalam sesi konsultasi, Isti memberikan sejumlah arahan teknis maupun psikologis yang sangat membantu para peserta.

    Ia menjelaskan pentingnya strategi pendampingan emosional di rumah agar anak merasa aman dan dihargai.

    Selain itu, ia memaparkan cara menstimulasi kemampuan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya, sehingga orang tua dapat mendukung pertumbuhan mereka secara tepat.

    Isti juga menekankan perlunya membangun komunikasi yang efektif antara orang tua, guru, dan komunitas sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak disabilitas.

    Konsulting disabilitas

    Tidak hanya itu, ia turut membahas cara meningkatkan kepercayaan diri anak serta langkah-langkah memetakan minat dan bakat mereka agar dapat diarahkan menuju potensi terbaiknya.

    Dengan penjelasan menyeluruh tersebut, peserta merasa lebih memahami bagaimana memberikan pendampingan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

    Lebih istimewa lagi, kegiatan yang digelar pada hari Jumat dan turut disambut hujan yang menyejukkan ini juga dihadiri oleh pihak donor dari NLR Liliane Fonds serta konsultan, Maman Sutarman.

    Sebelum kegiatan Awareness Raising, Maman beserta tim juga telah melakukan FGD dengan PJ Kusta dari Puskesmas Sobo dan Kertosari untuk menggali sejauh apa kondisi OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) maupun pelayanan untuk penderita kusta yang masih menjalani pengobatan.

    Kegiatan Awareness Raising ini diharapkan dapat memperkuat gerakan inklusif di Banyuwangi dan mendorong masyarakat melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang mampu berkarya dan memberikan kontribusi nyata.

  • RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah ke-47, Wujud Kepedulian Nyata untuk Sesama

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah ke-47, Wujud Kepedulian Nyata untuk Sesama

    Dalam semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi kembali menggelar kegiatan donor darah ke-47, bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Banyuwangi, pada Kamis, (13/11).

    Kegiatan sosial yang telah menjadi agenda rutin setiap tiga bulan sekali ini berlangsung di aula RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.

    Suasana terlihat ramai dan penuh antusiasme, baik dari para pendonor tetap maupun masyarakat umum yang baru pertama kali ikut berdonor.

    Kegiatan Donor Darah di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi

    Ketua tim pelaksana dari UDD PMI Banyuwangi, Amirir Rosadi, A.Md.Kep, menjelaskan bahwa kegiatan donor kali ini melibatkan lima orang petugas medis dari tim mobile unit PMI.

    “Kami menyiapkan 70 kantong darah untuk kegiatan donor di Rogojampi kali ini. Alhamdulillah, hingga acara selesai, kami berhasil mengumpulkan 40 kantong darah, sementara ada 9 pendonor yang belum memenuhi syarat karena alasan medis,” ujarnya.

    Dari data tim medis, sembilan orang tersebut dinyatakan tidak lolos karena beberapa faktor: satu orang mengalami tekanan darah tinggi, tiga orang tekanan darah rendah, dua orang baru saja minum obat, dan tiga orang memiliki kadar hemoglobin rendah.

    Meski demikian, Amirir mengapresiasi semangat para pendonor yang datang dengan antusias, bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi pendonor rutin sejak kegiatan pertama kali digelar.

    “Antusiasme masyarakat sangat tinggi, dan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik. Saat ini stok darah, khususnya golongan O, mulai menipis. Kami berharap masyarakat lebih termotivasi untuk mendonorkan darahnya. Setetes darah sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” jelas Amirir.

    Selain tenaga medis dari PMI, kegiatan donor darah ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak rumah sakit.

    Heri Boani Endang Handayani, selaku koordinator pelaksana dari RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, menyebutkan bahwa kegiatan “Rogojampi Berdonor” selalu mendapat sambutan positif dari masyarakat.

    Donor Darah di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi

    “Peserta donor darah kali ini cukup variatif. Ada dari instansi pemerintah, para guru, karyawan swasta, pedagang, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Semua datang dengan semangat yang sama: ingin membantu sesama,” ujarnya.

    Menurut Handayani, kegiatan donor darah rutin di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi sudah menjadi agenda yang dinantikan oleh banyak pendonor.

    Selain karena lokasi yang strategis dan dekat dengan tempat kerja mereka, pelayanan petugas yang ramah dan profesional juga menjadi alasan utama tingginya partisipasi masyarakat.

    “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, mulai dari tenaga medis, pengurus PMI Banyuwangi, hingga masyarakat. Kegiatan sosial ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian bisa diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti mendonorkan darah,” tambahnya.

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi berkomitmen untuk terus menjaga keberlanjutan kegiatan donor darah ini.

    Melalui kerja sama yang baik dengan UDD PMI Banyuwangi, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan darah di Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berbagi dan menolong sesama.

    Dengan semangat “Satu Tetes Darah untuk Kehidupan”, kegiatan Rogojampi Berdonor ke-47 ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan kemanusiaan.

    “Semoga kegiatan donor darah ini terus istiqomah dan ke depannya mampu menghasilkan lebih banyak kantong darah setiap pelaksanaan. Setiap tetes darah yang disumbangkan adalah kehidupan baru bagi orang lain,” pungkas Handayani.