Kategori: Berita

  • Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Banyuwangi berlangsung meriah di Aula SMKN 1 Glagah, Sabtu (6/12/2025).

    Acara yang dihadiri seluruh anggota DWP dari SMAN, SMKN, hingga SLBN di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi ini tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bekerjasama dengan media literasi sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang, tahun ini DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi mengangkat tema besar tentang penguatan literasi dengan menggelar lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi.

    Program tersebut diinisiasi langsung oleh Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, sebagai upaya menghadirkan ruang kreatif bagi para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga pendidikan turut ambil bagian, menghadirkan antusiasme yang memenuhi aula sejak pagi.

    Dua pegiat literasi Banyuwangi, yakni Maulana Affandi, S.S., dan Andi Budi Setiawan, S.Pd diundang sebagai juri untuk menilai karya-karya para peserta.

    Untuk kategori cerpen, peserta menulis karya dari rumah lalu mengumpulkannya kepada panitia.

    Sementara lomba cipta baca puisi digelar langsung di ruang perpustakaan SMKN 1 Glagah.

    Peserta Lomba Puisi HUT DWP Banyuwangi

    Sorak bahagia dan semangat para peserta menghiasi jalannya perlombaan. Suasana hangat dan penuh energi membuat peringatan HUT DWP ke-26 terasa lebih hidup dan bermakna.

    Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E mengatakan bahwa penguatan literasi adalah cara untuk mendorong perempuan-perempuan di lingkungan DWP agar lebih percaya diri menyuarakan gagasannya.

    “Tahun ini kami ingin HUT DWP punya makna yang lebih dalam. Melalui lomba literasi ini, kami menyediakan ruang berkreasi bagi para wanita hebat yang selama ini mungkin belum sempat menunjukkan bakatnya. Kami ingin mereka berani menulis, berani membaca karya sendiri, dan bangga dengan kemampuan mereka,” ujarnya.

    Tak berhenti sampai di situ, ia menambahkan bahwa seluruh karya yang dikumpulkan peserta tidak akan berakhir sebagai dokumen lomba semata.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berencana menyatukannya menjadi sebuah buku antologi yang akan dikenang dan menjadi dokumentasi kreativitas para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Lebih dari sekadar kumpulan karya, antologi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi anggota DWP di tahun-tahun mendatang, sekaligus penanda bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

    “Setiap karya punya nilai. Sayang sekali kalau hanya selesai di meja panitia. Karena itu, semua tulisan dan puisi akan kami abadikan dalam bentuk buku antologi agar dapat menjadi jejak karya bersama,” tambah Siti Nurjanah.

     

    Ia percaya bahwa penerbitan antologi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses dan usaha para peserta.

    Dengan adanya buku tersebut, setiap karya tidak hanya berhenti sebagai hasil lomba, tetapi berubah menjadi jejak kontribusi nyata bagi pengembangan budaya literasi di Banyuwangi.

    Pada sesi penutupan dan penyerahan hadiah, Siti Nurjanah bersama suaminya, Slamet Riyadi, M.Pd yang hadir mewakili Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta.

    Ia menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat menjadi pemantik semangat literasi di Banyuwangi.

    HUT DWP ke 26 Kabupaten Banyuwangi

     

    “Teruslah berkarya, jangan berhenti pada lomba ini saja. Banyuwangi membutuhkan perempuan-perempuan yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi. Semoga dari kegiatan ini lahir lebih banyak penulis, pembaca yang kritis, dan karya-karya yang membanggakan,” tuturnya.

    Peringatan HUT DWP ke-26 tahun ini menjadi bukti bahwa literasi dapat tumbuh di mana saja, termasuk di ruang-ruang organisasi perempuan.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berharap agar kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebagai ruang untuk pengembangan kreativitas serta memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.

  • PKBM Merdeka Gelar Pelatihan Kuliner Empat Hari, Pemdes Grogol Dukung Warga Kembangkan Usaha Rumahan

    PKBM Merdeka Gelar Pelatihan Kuliner Empat Hari, Pemdes Grogol Dukung Warga Kembangkan Usaha Rumahan

    Belum terdapat data resmi mengenai jumlah pasti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Banyuwangi.

    Meski demikian, data Perpustakaan Digital Nasional pada tahun 2019 mencatat terdapat 36 PKBM yang terdaftar.

    Angka tersebut berpotensi berubah mengikuti pembaruan laporan dari Kemendikdasmen.

    PKBM atau Community Learning Activity Center sendiri merupakan lembaga pendidikan nonformal yang dibentuk dan dikelola masyarakat untuk memperluas akses pendidikan, meningkatkan keterampilan, serta memberdayakan warga.

    Di Desa Grogol, Kecamatan Giri, terdapat dua PKBM aktif. PKBM Anggrek Bulan, yang telah berdiri lebih dari 14 tahun, beralamat di Dusun Guwo RT 02/02.

    Sementara PKBM Merdeka, berdiri sekitar empat tahun lalu dan berlokasi di Dusun Sumbermulyo RT 54/08, Kelurahan Tegaldlimo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.

    Selain menjalankan program kesetaraan paket A, B, dan C, kedua lembaga tersebut juga menyediakan ragam pelatihan keterampilan seperti menjahit, membatik, serta kursus kuliner.

    Salah satu kegiatan terbaru adalah pelatihan dasar pembuatan kue kering, cake, dan roti yang diselenggarakan oleh PKBM Merdeka Pokjar Guwo, Desa Grogol, bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kecamatan Muncar atau Balai Latihan Kerja (BLK) Banyuwangi.

    Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Muncar

    Pelatihan berlangsung selama empat hari, mulai Senin (1/12/2025) hingga Kamis (4/12/2025), dengan total 16 resep berbeda yang dipraktikkan peserta setiap harinya.

    Koordinator Pokjar Merdeka Giri, Nurul Ainiyah yang akrab disapa Aini menjelaskan bahwa ini merupakan pelatihan kuliner pertama yang diselenggarakan PKBM Merdeka.

    Sebelumnya, lembaga tersebut bekerja sama dengan BLK Situbondo dalam program membatik, menjahit, serta Hair & Beauty Treatment.

    Aini menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan menambah pengalaman dan memperkaya wawasan ibu-ibu anggota PKBM Merdeka dalam bidang pembuatan kue dan roti.

    Ia juga mengungkapkan harapannya untuk dapat mengembangkan keterampilan ini menjadi peluang usaha di masa depan.

    “Kami ingin ibu-ibu punya pengalaman baru dan semakin percaya diri membuat aneka kue dan roti. Saya sendiri ikut pelatihannya karena ingin terus mengasah skill, bahkan kalau bisa membuka usaha ke depannya,” ujarnya.

    Pelatihan Kuliner PKBM Merdeka

    Selama berlangsungnya kegiatan, pelatihan dipusatkan di kediaman Aini di Dusun Guwoh, Desa Grogol.

    Pada hari pembukaan, Kepala Desa Grogol, Samsul Arifin akrab disapa Pupung tampak hadir dan memberikan sambutan.

    Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan ini, terutama menjelang bulan suci Ramadan yang akan datang dua bulan lagi.

    Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat, mengingat kebutuhan akan kue kering meningkat menjelang perayaan Idulfitri.

    “Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan keterampilan, tetapi peluang nyata bagi warga untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” terangnya.

    Ia juga berharap pelatihan serupa dapat dijadwalkan rutin setiap tiga hingga lima bulan dengan materi yang bervariasi.

    Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk kelas praktik (baking class) dengan sistem kelompok.

    Terdapat empat kelompok, masing-masing beranggotakan empat orang. Pada hari pertama, peserta mempraktikkan pembuatan palm cheese, thumbprint, dan kastengel.

    Mereka mengikuti arahan tutor mulai dari proses pencampuran bahan, pengadonan, pencetakan, hingga pemanggangan menggunakan oven merek Signora.

    Antusiasme peserta yang sebagian besar ibu rumah tangga terlihat sejak hari pertama.

    Ulfiatuz Zuhro

    Pelatih dalam kegiatan ini adalah Ulfiatuz Zuhro, home baker asal Puger, Jember sekaligus pemilik Alfina Bakery Cake & Cookies (dapat dihubungi melalui WhatsApp 081249962400).

    Ia juga dikenal sebagai pendamping tetap kegiatan Baking Class bulanan bertajuk “Latbar” di Kedai Makmoer Banyuwangi, usaha milik suaminya Leo Al Ghifari di Jalan Mayor Supono 10 Banyuwangi.

    Pada hari kedua, terdapat lima resep yang dipelajari, yaitu kue kacang, choco chip, bolu pandan jadul, lidah kucing, dan banana cake.

    Salah satu peserta, Yuliatin, mengaku sangat senang karena materi pelatihan sesuai minatnya.

    Ia menilai ilmu yang diperoleh sangat bermanfaat, terutama beragam tips praktis yang sulit ditemukan ketika belajar secara mandiri.

    Rekannya, Fita Wulandari, menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan bahwa pembuatan aneka kue, roti, hingga pizza merupakan pengalaman baru baginya dan menjadi tambahan pengetahuan yang signifikan.

    Pada hari ketiga, peserta mempelajari pembuatan soft cookies, bolu gulung, soes (choux), dan brownies kukus.

    Koordinasi antaranggota kelompok terlihat semakin solid. Tugas dibagi menjadi beberapa bagian seperti pengadonan, pembentukan adonan, hingga proses pemanggangan.

    Suasana pelatihan berlangsung nyaman dan penuh tawa, namun tetap memperhatikan ketelitian dalam menjaga tingkat kematangan produk yang dipanggang menggunakan oven listrik.

    Pelatihan mencapai puncaknya pada hari keempat, Kamis (4/12/2025), dengan empat resep favorit peserta, yaitu pizza, brownies panggang, donat, dan castella cake.

    Hidangan pizza menjadi perhatian khusus karena jarang ditemui dalam kegiatan pelatihan di wilayah desa.

    Antusiasme peserta meningkat, bahkan beberapa di antaranya meminta dibuatkan ulang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.

    Pada penutupan kegiatan, Kepala Desa Grogol kembali hadir memberikan apresiasi kepada seluruh peserta serta pihak penyelenggara.

    Ucapan terima kasih disampaikan kepada BLK Muncar, Kepala Sekolah PKBM Merdeka, pihak Signora, Koordinator PKBM Merdeka Nurul Ainiyah selaku tuan rumah, serta tutor Ulfiatuz Zuhro atas kontribusi dan ilmu yang dibagikan.

    Penyelenggara berharap pelatihan ini dapat memberi dampak positif dan membuka peluang keterampilan baru bagi warga di masa mendatang. (Leo)

  • Deklarasi Forum RBM Wujudkan Disabilitas Banyuwangi yang Ada, Kuat, dan Berdaya

    Deklarasi Forum RBM Wujudkan Disabilitas Banyuwangi yang Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 dengan tema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari organisasi penyandang disabilitas dan OMS Peduli Disabilitas sebagai bagian dari penguatan Building Effective Network yang baru dideklarasikan.

    Selain Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia, belasan lembaga turut terlibat, di antaranya PPDI, Gerkatin, Pertuni, DMI, HWDI, Taliwangi, Difawangi, NPCI, Persawangi, SLBN Banyuwangi, SLB Matahati, SLB PGRI Cluring, SDN Kepatihan, Stepping Stones, Perkins, NLR Indonesia, serta Liliane Fonds.

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut menjadi pembonceng.

    Konvoi dipandu MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik keberangkatan dari Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, sebelum mengibarkan bendera start, menyampaikan harapannya agar komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi dan wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, serta produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan Kasat Binmas yang mewakili Kapolresta yang beberapa bulan lalu memfasilitasi SIM D, Bramudya melepas konvoi.

    Di barisan depan, Kendaraan Tanggap Dinsos membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang berprestasi tingkat provinsi dan nasional, mantan Ketua Pertuni, dan kini Ketua YALI.

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Rombongan disambut Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini tidak sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” tutur Bupati yang dikenal sangat peduli pada isu disabilitas dan telah menggagas program Rembug Disabilitas selama tiga tahun terakhir.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Fonds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Deklarasi Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) menjadi inti dari proses menuju visi dan mimpi bersama.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi dengan tujuh pemain digelar di barat Stadion Diponegoro.

    Laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas berlangsung 2×15 menit di bawah kepemimpinan wasit Askab PSSI, Nanang, dan berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 berlangsung di SLB Negeri wilayah Giri dengan penampilan The Filling Band serta Gamelan Gerayangan yang mengiringi tari jejer gandrung tunarungu.

    Acara dilanjutkan dengan sholawatan dan penyerahan santunan untuk anak yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi Kadinsos, Kadis Kesehatan, Kadis Pendidikan, dan Camat Giri.

    HDI Banyuwangi 2025

    “Insan tidak dilihat dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemerintah daerah pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang berkarier dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara HDI 2025 juga diwarnai pelantikan Pengurus Gerkatin Banyuwangi oleh Ketua Gerkatin Jawa Timur, ditandai penyematan pin oleh Wakil Bupati.

    Sebagai bagian dari kampanye Bisindo, disajikan pembacaan Surat Al-Fatihah oleh kolaborasi qori’ tunanetra dan tunarungu menggunakan bahasa isyarat.

    Antusiasme memuncak ketika hadirin diajak menyanyikan lagu “Manusia Kuat” (Tulus) oleh penyanyi tunanetra bersama 11 anak tunarungu, diselingi puisi dari anak cerebral palsy.

    Stepping Stones turut memberikan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Acara ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh para pejabat yang hadir.

    Menurut Juru Bahasa Isyarat (JBI) Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi supertim B-Fest, pada 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember, tepat di Hari Disabilitas Internasional, diadakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember kepala sekolah kami, Bu Masfufah, sudah hadir sepulang menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar sie acara, Suyitno Baskoro.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi dan akurasi data penyandang disabilitas, serta mengurangi hambatan bagi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan.

    Umar menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar mengizinkan difabel untuk ikut serta, tetapi mengakui difabel sebagai bagian utuh dalam kehidupan inklusif.

  • Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 bertema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai organisasi penyandang disabilitas dan lembaga peduli difabel, seperti Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut berpartisipasi sebagai pembonceng.

    Konvoi dipandu oleh MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik start di Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, yang melepas keberangkatan konvoi, berharap komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi maupun wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, dan produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan perwakilan Polresta yang sebelumnya memfasilitasi pembuatan SIM D, Bramudya mengibarkan bendera start.

    Iring-iringan dipimpin oleh Kendaraan Tanggap Dinsos yang membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang pernah menjadi Ketua Pertuni dan kini memimpin YALI.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria. Di lokasi tersebut, rombongan disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini bukan sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” ujar Bupati yang selama tiga tahun terakhir menginisiasi program Rembug Disabilitas.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Founds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi turut meramaikan peringatan HDI.

    Bertempat di sisi barat Stadion Diponegoro, digelar laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas.

    Pertandingan 2×15 menit yang dipimpin wasit Askab PSSI, Nanang, berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 digelar di SLB Negeri wilayah Giri. Acara menampilkan The Filling Band dan Gamelan Gerayangan yang mengiringi penampilan tari jejer gandrung tunarungu.

    Kegiatan berlanjut dengan sholawatan dan penyerahan santunan yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi para kepala dinas dan Camat Giri.

    “Manusia tidak dinilai dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemda pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang memulai karier birokrasi dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara juga mencakup pelantikan Pengurus Gerkatin serta praktik bahasa isyarat berupa pembacaan Surat Al-Fatihah dan menyanyikan lagu Manusia Kuat (feat. Tulus).

    Selain itu, Perkins menyalurkan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Kegiatan ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh pejabat yang hadir.

    Menurut JBI Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi Dinas Sosial ini, pada tanggal 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember dilaksanakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember sudah hadir kepala sekolah kami, Bu Masfufah, yang saat ini menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar Suyatno Baskoro selaku sie acara.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi, memperbaiki data penyandang disabilitas, serta mengurangi berbagai hambatan yang selama ini dihadapi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan ini.

  • Semangat Baru Para Pendidik Menggema di Seminar Motivasi MTS Maulana Ishaq Benelan Lor Banyuwangi

    Semangat Baru Para Pendidik Menggema di Seminar Motivasi MTS Maulana Ishaq Benelan Lor Banyuwangi

    Sebagai upaya memperkuat semangat para pendidik dalam menjalankan tugas mulia mereka, MTS Maulana Ishaq Benelan Lor menggelar Seminar Motivasi pada Sabtu (29/11) dengan tema “Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Inspirasi.”

    Seluruh guru dan tenaga kependidikan hadir sebagai bentuk komitmen bersama untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran.

    Seminar ini mengajak para guru untuk meneguhkan kembali peran mereka, bukan hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pembimbing yang memberi perhatian, keteladanan, dan dorongan positif bagi perkembangan siswa.

    Mengajar dengan hati menuntut empati dalam proses pembelajaran, sementara mendidik dengan inspirasi mendorong guru untuk terus berinovasi dan menjadi teladan bagi peserta didik.

    Kegiatan diawali oleh sambutan Kepala Sekolah, Rustam Effendi, S.Pd.I, yang menegaskan bahwa momentum ini penting sebagai penyegaran kembali energi dan niat para pendidik.

    “Seminar ini kami selenggarakan untuk menguatkan kembali komitmen kita sebagai guru. Mengajar bukan hanya soal menyampaikan pelajaran, tetapi bagaimana kita memberikan pengaruh positif bagi pembentukan karakter siswa. Saya berharap kegiatan ini menjadi penyemangat baru bagi seluruh guru untuk terus menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inspiratif, dan tulus,” ujarnya.

    Rustam juga menekankan bahwa perkembangan zaman menuntut guru untuk senantiasa belajar dan beradaptasi.

    “Saat ini dunia pendidikan berubah sangat cepat, baik dari sisi teknologi maupun karakter siswa. Kita harus siap mengikuti perubahan tersebut. Dengan ketulusan mengajar dan semangat memberikan inspirasi, saya yakin sekolah kita mampu mencetak generasi yang cerdas sekaligus berakhlak baik,” tambahnya.

    Seminar Motivasi MTS Maulana Ishaq Banyuwangi

    Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber, Agung Surya Wirawan, entrepreneur sekaligus pendidik yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan profesi sebagai guru.

    Dalam penyampaian materinya, Agung menekankan bahwa profesi guru menuntut keikhlasan dan pengabdian yang tulus.

    Ia menyampaikan bahwa menjadi guru mungkin bukan pekerjaan dengan gaji terbesar, namun setiap kebaikan yang diberikan akan selalu mendapat balasan, begitu pula kelalaian yang pasti memiliki konsekuensinya.

    “Dalam bidang apa pun, termasuk dunia pendidikan, kita dituntut untuk benar-benar ikhlas dalam menjalankan pengabdian. Menjadi guru mungkin bukan profesi dengan gaji terbesar, tetapi percayalah, setiap kebaikan selalu memiliki balasan, dan setiap kelalaian pun memiliki konsekuensinya. Tuhan tidak pernah salah memberi reward maupun punishment,” terangnya.

    Lebih lanjut, Agung juga menegaskan bahwa guru harus bekerja dengan hati, totalitas dalam mengajar, tulus dalam membimbing, dan sungguh-sungguh menghadirkan layanan terbaik bagi siswa.

    “Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menghadirkan keteladanan, menyalakan inspirasi, dan menjadi cahaya yang membentuk masa depan. Ketika kita mengajar dengan hati, setiap langkah kecil kita akan menjadi amal besar bagi generasi yang kita bimbing,” ujarnya.

    Setelah pemaparan materi yang bermakna oleh narasumber, seminar kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan diskusi antarguru.

    Pada sesi ini, para pendidik berbagi pengalaman, tantangan, serta strategi pembelajaran yang lebih efektif.

    Diharapkan kegiatan ini mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas, menyenangkan, dan bermakna bagi seluruh siswa.

  • Generasi Muda Unjuk Geliat Kreativitas dalam Ajang SCOTH 2025 Poliwangi

    Generasi Muda Unjuk Geliat Kreativitas dalam Ajang SCOTH 2025 Poliwangi

    Di tengah derasnya perubahan zaman, ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan menjadi semakin berharga.

    Hal itu tampak jelas pada Kamis (20/11), ketika puluhan siswa dari berbagai sekolah di Banyuwangi berkumpul dalam ajang SCOTH 2025, kompetisi tahunan yang digelar Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi).

    Ajang yang telah menjadi agenda tahunan ini menghadirkan tiga sub lomba: Cooking Competition, Table Set Up, dan Videography.

    Bertempat di lingkungan kampus Poliwangi, event ini sepenuhnya dilaksanakan oleh mahasiswa Jurusan Pariwisata.

    Sebanyak kurang lebih 44 peserta dari SMK, SMA, dan MA se-Banyuwangi ikut bersaing menunjukkan kemampuan terbaik di bidangnya masing-masing.

    Acara dibuka pukul 08.00 WIB oleh mahasiswa Poliwangi selaku MC, dilanjutkan sambutan Rektor Poliwangi, Ir. Shofi’ul Amin, S.T., M.T., dan pembukaan resmi oleh Ketua Jurusan Pariwisata, Adetiya Prananda Putra, S.T., M.T.

    Usai pembukaan, perlombaan dimulai di tiga lokasi berbeda: Cooking Competition di Aula Abdullah Azwar Anas, Table Set Up di Resto Hotel Poliwangi Jinggo, dan Videography yang memanfaatkan berbagai sudut kampus sebagai objek pengambilan gambar.

    SMK PGRI Rogojampi di SCOTH 2025 Poliwangi

    Dari SMK PGRI Rogojampi (SMKPRO), tiga kelompok turut ambil bagian. Sub lomba Videography diwakili Muhammad Farhan Fauzi, Muhammad Rifan, dan Alex Siew Afrizal (XI DKV).

    Untuk Cooking Competition, peserta adalah Dian Prakoso (XI KLN 1) dan Zahra Ferdila Sandy (X KLN 2).

    Sementara Table Set Up diikuti Parila Mutiara Surga (XI KLN 2) dan Ratu Suci Hariyati (XI PHT 2).

    Selama kompetisi, mahasiswa Poliwangi mendampingi para peserta untuk memastikan jalannya perlombaan berlangsung tertib dan profesional.

    Durasi perlombaan diatur ketat: cooking memberi waktu 10 menit untuk persiapan bahan dan 1 jam untuk memasak; table set up diberi alokasi waktu 10 menit; sementara videography memiliki waktu editing 1 jam 10 menit.

    Ketentuan ini menghadirkan atmosfer kompetitif yang menuntut ketelitian sekaligus kreativitas peserta.

    “Anak-anak ini datang bukan hanya untuk bertanding, tapi untuk belajar bahwa kerja keras selalu berbuah hasil,” ujar salah satu pendamping lomba yang turut mengawal jalannya kegiatan.

    Menjelang sore, tepat pukul 15.30 WIB, seluruh rangkaian lomba ditutup melalui acara closing yang dimeriahkan penampilan musik akustik mahasiswa Poliwangi.

    Momen yang paling ditunggu pun tiba: pengumuman pemenang. Kabar membanggakan datang untuk SMKPRO, yang sukses membawa pulang sejumlah prestasi.

    Muhammad Farhan Fauzi keluar sebagai Juara 1 Videography, sementara dari cabang Cooking, Dian Prakoso dan Zahra Ferdila Sandy meraih Juara 3.

    Di sisi lain, Ratu Suci Hariyati berhasil memperoleh Juara 3 Table Set Up.

    Para pemenang kemudian menerima medali sesuai pencapaiannya, mulai dari emas untuk juara pertama dan perunggu untuk juara ketiga serta dilengkapi dengan uang pembinaan dan sertifikat penghargaan

    Lebih dari sekadar kompetisi, SCOTH 2025 menghadirkan ruang perjumpaan bagi para pelajar untuk belajar menghargai proses, menjunjung sportivitas, dan menumbuhkan keberanian berkarya.

    Dari kompetisi ini, terlihat dengan jelas bahwa generasi muda Banyuwangi memiliki potensi besar yang siap berkembang ketika diberi ruang dan kesempatan.

    Pada akhirnya, SCOTH 2025 bukan hanya peristiwa tentang siapa yang menang, tetapi tentang siapa yang berani mencoba.

    Para peserta pulang dengan kepala tegak, bukan hanya karena medali yang mereka bawa, tetapi karena pengalaman berharga yang akan terus menuntun mereka dalam perjalanan panjang menuju masa depan.

    Dan dari Poliwangi hari itu, sebuah pesan sederhana kembali menggaung: mimpi selalu menemukan jalannya, selama kita terus melangkah.

  • Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Kolaborasi multipihak untuk menyelesaikan berbagai persoalan inklusi di Banyuwangi mendapatkan struktur baru.

    Pada hari kedua Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN), Rabu (26/11/2025) yang disponsori oleh Liliane Foundation dan NLR Indonesia, berhasil dibentuk kepengurusan Sub Cluster Network (SCN) yang akan bekerja untuk tiga tahun ke depan.

    Rapat yang berlangsung dinamis dan akrab di Ruang Rapat Pangripta BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi ini menghimpun berbagai unsur organisasi non-pemerintah (NGO) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) terkait.

    Acara yang dipandu oleh Tunggul Harwanto (Rumah Literasi) dan Indah Cahyaning Tyas (Aura Lentera) ini bertujuan mewujudkan gotong royong dalam menjalankan program, baik dari pemerintah maupun NGO.

    “Intinya, setiap UPTD dan NGO harus saling membantu dan bergotong royong. Program-program yang ada harus dipromosikan hingga ke akar rumput agar semakin banyak yang tahu, terlibat, dan memberikan umpan balik untuk perbaikan,” ujar Indah Cahyaning Tyas saat mereview hasil rapat hari pertama.

    Kegiatan diawali dengan pengisian kuesioner dari NLR untuk pemetaan program BEN, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan struktur kepengurusan SCN.

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN)

    Struktur Kepengurusan SCN Banyuwangi

    Kepengurusan SCN melibatkan perwakilan dari berbagai latar belakang. Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi didapuk sebagai Penasehat, sementara Kepala BAPPEDA menjadi Pembina.

    Ketua umum dijabat oleh Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia, dengan dua wakil ketua dari HWDI dan PPDI.

    Secara teknis, SCN akan dikelola oleh Sekretaris Robin Febriyanto (Aura Lentera) dan Bendahara yang dijabat Mbak Mega.

    Lima bidang utama SCN

    1. Bidang Pengembangan Organisasi: Dikoordinir Leni Tiara (BAKESBANGPOL) dengan anggota Farid Lubiyantoro (FKLPID).

    2. Bidang Pengembangan Sistem Layanan Terpadu: Dikoordinir Sri Indrastuti (DISDUKCAPIL) dengan anggota dari DISNAKER, DINSOS, dan DINKES.

    3. Bidang Pemberdayaan Anak, Remaja dan Keluarga: Dikoordinir Lintang Katon (DISKOPUMDAG) dengan anggota dari DISPORA, Paguyuban Orang Tua, PERTUNI, dan BPVP.

    4. Bidang Inovasi & Teknologi: Dikoordinir Lina Kamalin (DISPENDIK) dengan anggota dari GERKATIN dan PPDI.

    5. Bidang Media dan Informasi: Diisi oleh perwakilan dari LINDUNGIN, DMI, dan AISIYAH.

    Membedah Tantangan di Lapangan: Data, Disabilitas, dan Kusta

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN) Banyuwangi

    Dalam sesi diskusi, beberapa tantangan krusial mengemuka. Lina Kamalin dari DISPENDIK menyoroti persoalan mendasar: yaitu DATA.

    “Keberhasilan program bergantung pada validnya data. Saat ini belum ada data terintegrasi, yang ada hanya data lokal instansi yang dinamis, penuh kekosongan, duplikasi, dan beririsan. Harus ada pengendali akses data, dan program BEN ini bisa menjadi awal yang baik,” paparnya.

    Isu disabilitas juga mendapat perhatian serius. Achmad Amrullah (BPVP) menekankan pentingnya pelatihan bahasa isyarat bagi pelayan publik untuk memudahkan komunikasi dengan penyandang tunarungu.

    Rendy Anugrah (PERTUNI) menambahkan bahwa lingkungan dan keluarga seringkali belum ramah.

    “Masih ada stigma bahwa penyandang disabilitas tidak mampu, bahkan ada keluarga yang menyembunyikannya. Perlu edukasi hingga pelosok desa tentang hak-hak mereka dan motivasi bagi keluarga,” tegas Rendy.

    Persoalan lain yang mengemuka adalah penanganan penyakit kusta. Raras dari Dinas Kesehatan mengungkapkan bahwa kusta seolah menjadi penyakit yang ‘ditinggalkan’.

    “Tidak ada lagi dana dan pelatihan khusus dari pemerintah untuk menangani kusta ditambah banyak keluarga yang menyembunyikan penderitanya,” jelas Raras.

    Terkait dengan hal tersebut Indah menambahkan, “Data tahun 2024 menunjukkan 7 penderita se Kabupaten Banyuwangi, namun dari terakhir kami memperoleh data menjadi 25 orang hanya di Muncar saja. Stigma masyarakat dan tidak adanya anggaran memperparah situasi.”, ujar Indah yang menyoroti rendahnya awareness pemerintah dan masyarakat terhadap penyakit kusta.

    Kolaborasi dan Pilot Project sebagai Solusi

    Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Windoyo, Ketua Aura Lentera, mengkritik pola kerja yang hanya mementingkan kuantitas.

    “Jika hanya mengejar kuantitas, masalah data tidak akan selesai. BEN perlu membuat pilot project terkait database. Jika berhasil, bisa diduplikasi oleh instansi dan NGO lain. Kita harus berkolaborasi, mengesampingkan ego sektoral untuk tujuan yang lebih besar,” ajaknya.

    Pernyataan Windoyo diamini oleh Robin Febriyanto yang kerap menjadi enumerator di lapangan. Ia menceritakan pengalamannya menemui pelayan publik yang masih kaku dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).

    “Contohnya, saat ada program BPJS gratis dari Dinas Ketenagakerjaan, petugas di Dinas Kesehatan tidak bisa membantu dengan alasan ‘bukan tupoksinya’. Akibatnya, program dan anggaran tidak terserap optimal oleh masyarakat,” tutur Robin.

    Dengan terbentuknya SCN, diharapkan kolaborasi yang lebih solid antara pemerintah dan NGO dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut.

    Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem layanan yang terpadu, inklusif, dan tepat sasaran bagi masyarakat Banyuwangi. (Andre Waluyo)

  • Refleksi Satu Dekade Banyuwangi Osoji Club: Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah & Luncurkan Buku Perdana dr. Bintari

    Refleksi Satu Dekade Banyuwangi Osoji Club: Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah & Luncurkan Buku Perdana dr. Bintari

    Komunitas Banyuwangi Osoji Club (BOC) memperingati 10 tahun kiprahnya sebagai pegiat lingkungan dengan penuh makna, Selasa (25/11/2025).

    Perayaan yang berlangsung sederhana namun khidmat digelar di Ruang Seblang Graha Pena Radar Banyuwangi, dipandu Eko Setyowati alias Atik yang akrab disapa Jeng Roro, aktivis lingkungan sekaligus penyanyi keroncong asal Gambiran.

    Acara dibuka dengan pemutaran foto perjalanan satu dekade BOC, dilanjutkan talk show mengenai gerakan lingkungan dan strategi pengelolaan sampah di Banyuwangi.

    Kehadiran tamu istimewa, Retno dari Jakarta Osoji Club, menjadi kejutan bagi peserta.

    Dalam sambutannya, Retno menyampaikan apresiasi atas konsistensi BOC yang terus mengembangkan gerakan bersih-bersih atau osojI serta telah menerbitkan buku lingkungan.

    Ia menjelaskan, Osoji Club di Indonesia kini berjumlah tujuh komunitas, dan cabang Banyuwangi merupakan yang ketiga.

    Gerakan ini diprakarsai oleh relawan lingkungan asal Jepang, Tsuyosi Ashida-san, setelah melihat kondisi memprihatinkan Kali Ciliwung.

    Gerakan Osoji dibangun secara mandiri tanpa dukungan dana, mengandalkan kerelawanan dan kesadaran publik.

    “Teruskan edukasi tanpa henti untuk bersih-bersih lingkungan,” pesan Retno sebelum kembali ke Jakarta.

    Ketua panitia, Tato Oktavianto yang juga memimpin Osoji Milenial di sejumlah SMA di Banyuwangi Selatan menjelaskan bahwa Osoji merupakan budaya Jepang yang menekankan kedisiplinan, kemandirian, dan komitmen menjaga lingkungan.

    Slogan Osoji Indonesia yang diciptakan Tsuyosi Ashida-san, “Malu Buang Sampah Sembarangan”, kembali ditegaskan oleh perwakilan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), Bung Aguk, dengan gaya khas Osing: “Isun isin kadhung mbuwang romot sembyarangan.” Ungkapan tersebut membuat suasana semakin hidup.

    Buku dokter Bintari

    Puncak acara ditandai dengan peluncuran buku karya pendiri sekaligus Ketua BOC, dr. Bintari Wuryaningsih, SE, berjudul “Cerita Seorang Pegiat Lingkungan (Saatnya Sampah Berakhir di Rumah Kita)”.

    Buku ini merangkum perjalanan, pemikiran, dan pengalaman selama satu dekade berkecimpung dalam gerakan lingkungan.

    “Cerita-cerita yang selama ini saya unggah di Facebook, ketika dirangkai dan ditambah pengalaman lain, akhirnya menjadi buku ini,” ujar dr. Bintari.

    Buku tersebut diharapkan menginspirasi masyarakat untuk memulai perubahan positif dari rumah, termasuk kedisiplinan pengelolaan sampah.

    Ia juga membagikan pengalamannya belajar budaya bersih di Jepang dan momen ketika Tsuyosi Ashida-san menunjukkan kemarahan saat melihat kedisiplinan mulai menurun.

    Rangkaian acara berlanjut dengan talk show bersama dua narasumber: Ki Sawunggaling, sejawat penulis dan penerbit dari Yogyakarta, serta Kepala SMAN 1 Giri, I Ketut Ranen, S.Pd., M.Si. Keduanya berbagi praktik nyata pengelolaan sampah di lingkup sekolah dan komunitas.

    Pemantik diskusi dari Dinas Lingkungan Hidup, Tiara, turut mengangkat isu bank sampah dan budaya masyarakat dalam memandang sampah.

    Apresiasi juga datang dari anggota Forum Banyuwangi Sehat, H. Waluyo, yang sudah menuntaskan membaca buku dr. Bintari.

    Ia menilai bahasa buku tersebut lugas, sederhana, mudah dipahami, dan mudah dipraktikkan sebagai karakter.

    Ada pula pesan menarik dari H. Mujiono, SH, pendiri Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi (Koppiwangi), yang lahir hampir bersamaan dengan BOC:

    “Dari dunia maya lalu sinergi di dunia nyata, menjadi relawan dengan objek berbeda, tetapi mimpi sama: Banyuwangi yang tersenyum, wangi, indah, dan bersih, serta saling menguatkan dengan hati.”

    Perayaan satu dekade BOC ditutup dengan prosesi potong tumpeng oleh dr. Bintari sebagai ungkapan syukur dan semangat baru untuk terus mendorong gerakan bersih-bersih lingkungan di Banyuwangi. (ZHIEM/Aguk)

  • FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    SDN 2 Sarimulyo menjadi pilihan Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Cluring untuk kegiatan sosialisasi Kelembagaan UKS, Rabu (26/11/25).

    Sekolah berpagar merah putih ini tampil asri dengan halaman rindang dan fasilitas bersih, termasuk toilet.

    Dua ruang kelas yang disatukan menjadi aula mampu menampung 45 peserta.

    Meja bertaplak batik dilengkapi nama peserta, hiasan tanaman, serta suguhan polo pendem dan minuman segar secang dan markisa yang dipetik dari halaman sekolah.

    Sekolah ini memiliki 64 siswa dari kelas 1–6, dengan 61 di antaranya penerima KIIP/PIP.

    Di bawah kepemimpinan Eny Ismawati, S.Pd., dan didukung delapan guru serta tenaga kependidikan dan komite, SDN 2 Sarimulyo mencatat sejumlah prestasi.

    FKKS Cluring di SDN 2 Sarimulyo Banyuwangi

    “Alhamdulillah, tahun ini kami meraih juara Gerakan Sekolah Sehat dan Adiwiyata Jatim,” ujar Eny, perempuan asal Tampo. Ia menyebut pencapaian lain di bidang drumband, tari, puisi, pantomim, dan akademik.

    Sekolah ini mengusung visi Terwujudnya Peserta Didik yang Unggul dalam Prestasi Akademik dan Nonakademik, Sehat, Disiplin, Berakhlak Mulia, dan Berbudaya Lingkungan.

    Kantin sekolah juga dinyatakan bebas plastik dan bebas 5P (perasa, pemanis, pengawet, pengenyal, pewarna). Masa tugas Eny pada periode pertama akan berakhir pada 22 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Ibu.

    Kegiatan sosialisasi UKS menghadirkan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), K3S, Pembina UKS/M, serta Pokja Desa Sehat se-Kecamatan Cluring.

    Koordinator Satkordikcam Cluring, Wiwit Sukesi, S.Pd., menyebut jumlah siswa SD di wilayahnya rata-rata 50–80 per sekolah.

    Kepala Puskesmas Benculuk yang juga Plt Puskesmas Tampo, Tatiek Setya Ningsih, Bd. SST, M.M.Kes., mengingatkan pentingnya menjaga ODF, budaya hidup bersih dan sehat, pengelolaan sampah, kantin sehat, serta konsumsi buah dan sayur.

    “Tiap sekolah perlu memiliki guru UKS dan kader UKS, serta bersinergi melalui musrenbang desa untuk penguatan sarpras UKS,” ujarnya.

    Plt Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani, menegaskan perlunya kolaborasi dalam pelayanan dan inovasi, terutama di tengah efisiensi anggaran.

    FKKS Cluring

    Ninil, sapaan akrabnya, alumni SMPP/Smada 86 yang dua hari lagi memasuki masa purnabakti sebagai ASN berpamitan dan permohonan maaf, sembari berharap silaturahmi tetap terjaga.

    “kami pamit dan mohon maaf sambung dungo tetap jaga silaturahmi dan sehat senantiasa!”

    Paparan UKS disampaikan Desika Ulfatunissa, S.Kep., setelah Bung Aguk menyinggung kelembagaan dan kondisi Swasti Sabha Padapa yang diterima Banyuwangi.

    Melalui prestasi dan materi UKS–Adiwiyata yang ditampilkan, SDN 2 Sarimulyo menjadi rujukan studi tiru bagi SD, MTs, dan SMK yang hadir. Sinergi sekolah dengan Puskesmas, Kepala Desa, serta unsur kedinasan juga dinilai kuat.

    “Harapannya, segera diterbitkan SK Tim Pelaksana UKS dengan tembusan ke Kades dan Camat. Semester depan, FKKS akan memfasilitasi pelatihan untuk guru UKS,” demikian penutup kegiatan. (Aguk)

  • Panji Blambangan Gelar Peringatan 20 Tahun Pengakuan Keris sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

    Panji Blambangan Gelar Peringatan 20 Tahun Pengakuan Keris sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

    Keris adalah senjata tajam golongan belati dari suku Jawa yang dikenal luas di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah.

    Senjata ini memiliki bentuk yang sangat khas dan mudah dikenali, terutama pada bagian pangkal yang tidak simetris dan melebar, serta bilah yang sering kali berkelok-kelok.

    Banyak keris juga memiliki pamor, yaitu serat-serat logam yang tampak pada permukaan bilah hasil lapisan logam yang disatukan.

    Bagi masyarakat Jawa, keris menjadi senjata pamungkas setelah pedang, tombak, dan panah.

    Meskipun bukan senjata utama dalam peperangan, keris merupakan senjata yang digemari dan kerap dibawa pemiliknya ke mana pun.

    Pada masa lalu, keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau pertarungan, sekaligus menjadi pelengkap sesajian dalam upacara adat.

    Dalam perkembangannya hingga masa kini, keris mengalami pergeseran nilai.

    Orang Jawa memaknai keris sebagai benda yang sarat filosofi dan pengajaran hidup, menjadi identitas diri, pesan moral, cermin karakter, sumber ketenteraman, simbol kesabaran, harapan, serta pengingat agar pemiliknya senantiasa menjaga hati, menahan emosi, dan bersikap bersahaja.

    syukuran memperingati 20 tahun pengakuan keris oleh UNESCO

     

    Nilai-nilai tersebut dituangkan dalam bentuk bilah, ricikan, serta ragam pamor keris. Selain itu, keris juga berfungsi sebagai aksesori busana (ageman), simbol budaya, serta koleksi bernilai estetika tinggi.

    UNESCO resmi mengakui keris sebagai Warisan Budaya Dunia Nonbendawi asal Indonesia sejak 25 November 2005.

    Sejak itu, setiap tanggal 25 November diperingati oleh berbagai komunitas pecinta keris sebagai hari pengakuan keris Indonesia di dunia internasional.

    Di Banyuwangi, tasyakuran memperingati 20 tahun pengakuan keris oleh UNESCO digelar oleh Paguyuban Tosan Aji (Panji) Blambangan di Lesehan Kremes TMP, Jalan Ahmad Yani No. 67 Banyuwangi, pada saat samarwulu.

    Acara ini dihadiri para tokoh budaya senior seperti Ki Aekanu, Ki Aguk Darsono, Momo Kepus, penyair Fatah Yassin Noor, H. Syafaat Lentera Sastra, serta perupa seperti Harianto Koi dan Mbah Eko, dan masih banyak lainnya.

    Hadir pula sekitar 17 siswa-siswi SMPN 2 Rogojampi yang mulai peduli pada dunia perkerisan setelah melakukan kunjungan ke Museum Blambangan Disbudpar.

    Dalam sambutannya, KRT H. Ilham Riyadi, M.Pd, mengajak generasi muda untuk terus nguri-uri dan melestarikan keris sebagai warisan budaya bangsa.

    Ia menegaskan bahwa pengakuan dunia terhadap nilai adiluhung leluhur harus dijaga agar tetap berkelanjutan sebagai jati diri Indonesia.

    tasyakuran keris diakui UNESCO

    “Ayo bangga dan pelajari nilai ekonomi, sejarah, dan filosofi keris. Jangan dianggap klenik atau syirik, karena besi bertuah pun disebutkan dalam kitab suci,” ujarnya, yang juga dikenal sebagai sahabat Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan kerap diminta bantuan sebagai pawang hujan.

    Acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin H. Syafaat dari Lentera Sastra Kemenag, mendoakan para Mpu yang telah berjasa membangun peradaban Nusantara.

    Ungkapan syukur kemudian ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol kesejahteraan dan kebersamaan bagi seluruh hadirin.

    Keistimewaan malam itu semakin lengkap dengan sajian khas berupa ketan durian dan ayam kremes persembahan Warung Lalapan Kremes TMP yang dikelola aktivis UMKM Banyuwangi, Robin Hore.

    Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama di depan backdrop kegiatan dan koleksi keris milik para anggota Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) yang ada di Banyuwangi. (Andre/Aguk)