Kategori: Berita

  • Menjalin Silaturahmi Spiritualitas, Romo Tjahja Kunjungi Sanggar Perwathin Surabaya

    Menjalin Silaturahmi Spiritualitas, Romo Tjahja Kunjungi Sanggar Perwathin Surabaya

    Pendiri yang juga sesepuh Komunitas Spiritual Kawruh Budi Wijayanti, Romo Tjahja Tribinuka, Minggu (09/11/2025), berkunjung ke Sanggar Penerangan di Jalan Serayu Surabaya.

    Sanggar Penerangan adalah salah satu tempat berkumpul dan beraktivitas anggota
    Persatuan Warga Theosofi Indonesia (Perwathin).

    Ada 16 Sanggar Perwathin di Pulau Jawa, antara lain: Sanggar Penerangan Surabaya, Sanggar Penataran Blitar, Sanggar Wishnu Malang, Sanggar Shanti Malang, Sanggar Sala Surakarta, Sanggar Wjaya Kusuma Semarang, Sanggar Dharma Yogyakarta, Sanggar Adiwerna Tegal, Sanggar Mangir Bantul, Sanggar Dewaruci Kudus, Sanggar Sophia Bandung, Sanggar Bogor di Bogor, Sanggar Saraswati Jakarta, Sanggar Blavatsky Jakarta, Sanggar Luxor Jakarta dan Sanggar Cetho Karanganyar.

    Keberadaan warga Theosofi di suatu kota memang ditandai dengan adanya sanggar, tempat berkumpul bersama secara periodik.

    Perwathin AHU 2023, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025) menggelar Kongres ke-62 di Hotel Cakra, Pasar Kliwon, Kauman, Solo. Kongres diikuti 13 dari 16 pengurus Sanggar Theosofi.

    Dalam Kongres ke-62 di Solo, dari 15 sanggar, 9 pengurus hadir langsung, sedangkan yang mengirimkan wakil dengan surat mandat pengurus sanggar ada 4 orang. Total ada 13 sanggar yang hadir.

    Ketua Perwathin AHU 2023, dr. Dany Syumanjaya menjelaskan, berdasarkan jumlah kehadiran pengurus sanggar, Kongres ke-62 diikuti 86 persen pemilik hak suara.

    “Dengan demikian semua keputusan yang diambil dalam kongres ini sah. Karena peserta kongres memenuhi kourum,” katanya.

    Meskipun keberadaan warga Theosofi di suatu kota ditandai dengan adanya sanggar, banyak anggota Theosofi yang tinggal di kota yang tidak ada sanggarnya.

    “Warga Theosofi itu ada di mana-mana, hampir di seluruh kota besar di Indonesia ada anggotanya. Ada juga organisasi Theosofi tingkat internasional di beberapa negara di dunia,” tutur Hernowo Adiwarna, warga Theosofi asal Bogor, yang menerima kunjungan Romo Tjahja Tribinuka di Sanggar Penerangan.

    Romo Tjahja datang ke markas Theosofi Surabaya bersama Ibu Ragil, Ketua Ajaran Kawruh Budi Wijayanti, Kakung Yatmin, Kakung Tris dan Kangmas Ari.

    Hernowo juga mengungkapkan hasil Kongres Perwathin di Solo tahun 2025.

    Kongres ke-62 Perwathin di Solo antara lain menyepakati perubahan Anggaran Dasar Perwathin, perubahan status kepengurusan beberapa sanggar di tahun 2025, pelantikan pengurus Sanggar Cetho Karanganyar dan pemberian mandat kepada pengurus Perwathin AHU 2023 untuk mengatasi masalah hukum di pengadilan mana pun di Indonesia.

    Organisasi tua

    Organisasi Theosofi didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky bersama Henry Steel Olcott pada tahun 1875 di New York, Amerika Serikat. Nama organisasi awalnya Theosopichal Society atau Perkumpulan Theosofi.

    Tujuan berdirinya Perkumpulan Theosofi adalah mempelajari ajaran spiritual dari berbagai agama dan budaya serta memahami hukum-hukum alam semesta.

    “Jadi tidak usah kaget kalau anggota Theosofi berasal dari penganut agama apapun. Di Theosofi kita tidak bicara agama, melainkan bicara soal manusia dan kemanusiaan,” tambah Hernowo.

    Pendiri Theosofi Madame Blavatsky dikenal sebagai seorang spiritualis dan penganut okultisme.

    Sedangkan Olcott yang seorang pengacara dan jurnalis membantu Blavatsky menyebarkan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia. Theosofi kemudian berkembang di Amerika Serikat, Eropa serta Asia.

    Blavatsky sendiri punya perhatian khusus terhadap aktivitas spiritual dan budaya di Indonesia. Itu sebabnya ia sempat datang langsung ke Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia sebanyak dua kali.

    Itu pula sebabnya banyak berdiri Sanggar Theosofi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

    Sanggar Penerangan Surabaya misalnya, didirikan pada tahun 1903 di Jalan Serayu. Hingga kini gedung berusia 122 tahun itu masih dalam kondisi baik.

    Menurut Rudyanto Philips, pengelola Sanggar Penerangan Surabaya, saat Bung Karno masih berguru pada Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Surabaya, sering datang ke Sanggar Penerangan.

    “Karena ayah Bung Karno (R. Soekemi Sosrodihardjo) adalah Ketua Theosofi di Blitar,” demikian Rudyanto.

    Sementara Sanggar Wijaya Kusuma Semarang berdiri tahun 1908. Bersamaan dengan tahun berdirinya Boedi Oetomo yang didirikan Dr. Wahidin Soedirohoesodo.

    Beberapa tokoh penting Theosofi di dunia antara lain Annie Besant, Presiden Theosophical Society setelah meninggalnya Blavatsky dan Olcott.

    Nama lain yang dikenal sebagai pegiat Theosofi internasional adalah Charles Webster Leadbeater dan Jiddu Krishnamurti.

    Webster bahkan dikenal di dunia gara-gara tulisannya tentang okultisme dan spiritualitas, sementara Jiddu Krishnamurti dikenal sebagai filsuf spiritual yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan spiritualitas modern. (Yami Wahyono)

  • MTs Maulana Ishaq Buktikan Komitmen Pendidikan Bermutu Lewat PKKM 2025

    MTs Maulana Ishaq Buktikan Komitmen Pendidikan Bermutu Lewat PKKM 2025

    Kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) di MTs Maulana Ishaq berjalan dengan lancar dan penuh semangat, pada Selasa (11/11).

    Kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang memiliki peran penting sebagai sarana evaluasi kinerja kepala madrasah.

    Melalui kegiatan ini, dilakukan penilaian atas pelaksanaan tugas, tanggung jawab, serta upaya kepala madrasah sebagai manajer guna meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan madrasah.

    Evaluasi ini juga menjadi tolok ukur bagi keberhasilan program kerja dan arah pengembangan madrasah menuju lembaga pendidikan yang semakin berkualitas.

    PKKM dilaksanakan dengan tujuan untuk menilai sejauh mana kepala madrasah menjalankan fungsi manajerial, supervisi, dan pengembangan lembaga sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Selain sebagai bentuk penilaian, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan agar kepala madrasah terus meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya dalam menjalankan tugas.

    Dalam kegiatan tersebut, hadir dua pengawas dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, yaitu Faiz Abadi, M.Si. dan Drs. Edy Suharto, M.Pd.

    Keduanya melaksanakan penilaian dari berbagai aspek, seperti pemeriksaan dokumen, wawancara, serta observasi terhadap pelaksanaan program dan aktivitas madrasah selama satu tahun terakhir.

    Seluruh guru dan tenaga kependidikan turut mendukung kegiatan ini dengan menyiapkan data dan informasi yang diperlukan agar proses penilaian berjalan lancar dan objektif.

    PKKM 2025 MTs Maulana Ishaq

    Kepala MTs Maulana Ishaq, Rustam Effendi, S.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan PKKM menjadi kesempatan penting bagi dirinya dan seluruh warga madrasah untuk menilai sejauh mana kinerja yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

    Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar penilaian, tetapi juga ajang refleksi dan motivasi untuk terus berbenah.

    “Dari hasil PKKM ini, kami bisa belajar banyak hal, memperbaiki yang kurang, dan merancang langkah ke depan agar mutu pendidikan di MTs Maulana Ishaq semakin baik,” ujarnya dengan penuh semangat.

    Ia juga menegaskan bahwa hasil penilaian ini akan menjadi acuan untuk pengembangan madrasah, baik dalam bidang akademik maupun kegiatan nonakademik, agar MTs Maulana Ishaq terus tumbuh menjadi madrasah yang unggul dan berprestasi.

    Suasana di MTs Maulana Ishaq tampak begitu hidup saat kegiatan PKKM tahun 2025 berlangsung. Kolaborasi yang baik serta kebersamaan yang tinggi menjadi kunci suksesnya acara ini.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang penilaian, tetapi juga momentum untuk refleksi dan perbaikan menuju arah yang lebih baik.

    Harapannya, MTs Maulana Ishaq terus berkembang menjadi madrasah unggul yang melahirkan generasi berprestasi dan berkarakter Islami.

  • Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Momen peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi tonggak penting bagi upaya pelestarian sejarah dan budaya Banyuwangi.

    Bertempat di Dusun Pondokasem, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, digelar kegiatan persiapan Rumah Peradaban sekaligus rintisan Museum Candi Purwo Gumuk Gadung, Senin (10/11).

    Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, serta Arkeolog Museum Blambangan, Bayu Ari Wibowo, yang hadir mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi.

    Acara ini merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Rumah Peradaban yang sebelumnya digelar di Pelinggihan Prabu Tawang Alun, Kantor Disbudpar Banyuwangi, pada 11 Oktober 2025 lalu.

    Suasana ramah tamah berlangsung sederhana namun penuh makna, dihadiri oleh tokoh masyarakat Dusun Pondokasem serta para penggiat sejarah dan budaya Nusantara.

    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si,
    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, (Dok. Sastrawacana)

    Dalam sambutannya, Yusdi Irawan mengapresiasi langkah masyarakat dan para penggiat literasi yang telah memprakarsai rintisan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung dan Rumah Peradaban.

    Menurutnya, kegiatan ini akan menjadi pusat edukasi penting bagi masyarakat, khususnya di wilayah Tegaldlimo dan sekitarnya.

    “Semoga ke depan terus berkembang menjadi embrio yang bermanfaat bagi regenerasi anak bangsa,” ujar Yusdi.

    Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah terus memberikan dukungan terhadap kemajuan literasi di Banyuwangi.

    Salah satunya melalui kegiatan Festival Literasi Using yang digelar pada awal November 2025, dengan tujuan melestarikan budaya Using sekaligus memperkenalkan dunia literasi kepada para pelajar.

    Lebih lanjut, Yusdi menilai bahwa Pojok Literasi yang mengangkat tema peradaban, sejarah, adat istiadat, budaya, dan seni merupakan inisiatif yang patut diapresiasi.

    Sementara itu, Bayu Ari Wibowo, selaku perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan dukungan terhadap setiap upaya yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya.

    Bayu Ari Wibowo
    Bayu Ari Wibowo, Arkeolog Museum Blambangan (Dok. Sastrawacana)

    Tak hanya menghadiri kegiatan simbolis di Rumah Peradaban, Bayu juga terjun langsung meninjau kawasan Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar sebagai bagian dari survei awal pelestarian.

    “Kami mendukung dan langsung meninjau lokasi Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar untuk memastikan kondisi lapangan, meninjau potensi temuan, dan mengkaji kemungkinan situs ini apakah dapat dikategorikan sebagai situs bersejarah,” jelas Bayu.

    Menurutnya, langkah seperti ini bisa menjadi model pengembangan literasi berbasis budaya, yang ke depan berpotensi dikembangkan menuju digitalisasi buku sejarah dan peningkatan minat baca masyarakat dalam memahami warisan leluhur.

    Sebagai penutup, Bayu juga menyampaikan dukungan terhadap pembentukan Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung, yang akan menampilkan sejumlah artefak, koin kuno, dan benda peninggalan lainnya sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

    Sementara itu, I Wayan Sucita, selaku penggagas Rumah Peradaban dan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah dan para pihak yang terlibat.

    “Kami berharap sinergi ini dapat terus menumbuhkan semangat pelestarian budaya dari generasi ke generasi,” ungkapnya.

    Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cinderamata sebagai simbol komitmen bersama dalam melestarikan sejarah dan peradaban Banyuwangi di masa lalu. (Tyo/Affandi)

  • Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Kickoff Program Building Effective Network (BEN) & Meaningful Youth Participation (MYP) digelar di Hotel Aston Banyuwangi, Senin (10/11/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Kegiatan ini menegaskan semangat “superteam” dalam melayani disabilitas dan penyintas kusta.

    Acara yang dimoderatori oleh Indah Cahyaning Tyas, aktivis Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI), diawali oleh NS. Tunggul Harwanto, M.Kes., Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi, yang memaparkan edukasi tentang program BEN dan MYP.

    Program yang disuport oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia ini digagas untuk memperkuat kapasitas organisasi lokal, komunitas, serta para pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem dukungan yang berkelanjutan.

    Fokus utamanya adalah membangun jejaring efektif antar lembaga, sekolah, tenaga kesehatan, organisasi penyandang disabilitas, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok masyarakat agar anak serta remaja dengan disabilitas maupun yang terdampak kusta memperoleh akses setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan sosial.

    NLR Indonesia sebagai Grant Manager dari Program BEN dan MYP mendapat mandat untuk mengoordinasikan fase transisi, memastikan mekanisme koordinasi terbentuk, serta mempersiapkan peta jalan program Fase I (2026–2028).

    Program BEN saat ini telah dijalankan di tiga negara, yaitu Bangladesh, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, program ini dijalankan di tiga provinsi: Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

    Kegiatan soft launching kickoff di Hotel Aston Banyuwangi dihadiri oleh pimpinan SKPD pemerintah daerah seperti Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Kemenag, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, serta Direktur RSUD Blambangan, juga organisasi penyandang disabilitas, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan remaja dengan disabilitas.

    Acara berlangsung hangat dengan sesi dialog interaktif, deklarasi komitmen bersama, serta pembentukan forum jejaring lokal.

    Tujuan kegiatan BEN dan MYP di Banyuwangi:

    1. Memperkenalkan kerangka program Building Effective Networks (BEN) kepada organisasi lokal dan pemangku kepentingan utama.

    2. Memfasilitasi pertukaran informasi dan pemahaman bersama terkait konteks, tantangan, dan peluang dalam memperkuat inklusi anak dan remaja dengan disabilitas.

    3. Membangun komitmen bersama untuk menjalankan fase transisi menuju tata kelola jaringan yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan.

    Diharapkan setelah kegiatan ini:

    • Peserta memiliki pemahaman yang jelas mengenai kerangka BEN, roadmap, dan struktur tata kelola yang akan dibangun.
    • Terbentuk kesepahaman awal terkait mekanisme koordinasi, peran, dan tanggung jawab organisasi lokal serta pemangku kepentingan.
    • Tersusunnya rencana tindak lanjut jangka pendek sebagai dasar pelaksanaan fase transisi.
    • Meningkatnya komitmen dan rasa kepemilikan (sense of ownership) dari organisasi lokal dan pemangku kepentingan terhadap tujuan BEN dan MYP di Banyuwangi.

    Bupati Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M., menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, Suratno menjelaskan bahwa Banyuwangi telah menjadi Kabupaten Inklusif sejak 2014 dan kini telah memiliki Perda serta Perbup Unit Layanan Difabel Terintegrasi.

    “Harapan kami, program ini menjadi energi positif berkelanjutan untuk pelayanan kesetaraan bagi saudara-saudara kita yang istimewa,” tuturnya.

    Sementara itu, Sekretaris Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Budi Wahono, S.T., memberikan edukasi tentang berbagai program inklusif yang telah dilakukan Pemerintah Daerah, termasuk membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara).

    Sebagai narasumber, Masfufah, S.Pd., Kepala SLB Negeri Banyuwangi yang juga mewakili PERKINS International, menyampaikan materi tentang manajemen ekosistem inklusif dengan pendekatan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Stakeholders Analysis.

    Ia juga mengulas mekanisme Sistem Layanan ULD Terintegrasi yang menjadi fondasi penguatan inklusi di tingkat daerah.

    Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta memberikan masukan mewakili komunitasnya.
    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia), menyampaikan kesulitan komunitas Tuli dalam menyusun program kesejahteraan, terutama terkait keterlibatan dalam aktivitas UMKM Difabel.

    Umar Asmoro, tokoh senior forum OPDis, menambahkan sejumlah masukan terkait pengelolaan masalah difabel dan perlunya langkah nyata dalam penanganannya.

    Yang paling menarik, datang dari Nurhadi Windoyo, seorang tuna netra yang menjabat sebagai Ketua Aura Lentera.

    Menurut Windoyo, “Kita jangan terjebak dalam inovasi yang tidak berkelanjutan. Lebih baik membangun kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak. Hambatan terbesar dalam kolaborasi biasanya adalah ego sektoral.”

    Sementara itu, Mbak Hanum, aktivis pemberdayaan masyarakat, menambahkan, “Kolaborasi syaratnya mau terbuka, mau mendengar, dan siap bekerja sama. Norma yang harus dijaga adalah jangan mengorbankan kepentingan mayoritas demi minoritas, karena itu bukan inklusif, tapi eksklusif. Kita harus membangun sistem layanan terbaik tanpa terjebak pada prosedur yang kaku. Jangan hanya menciptakan inovasi yang indah di permukaan, tapi lupakan pondasi yang kuat,” tegasnya sambil tersenyum.

    Tunggul dan Indah menutup acara dengan menyampaikan ajakan untuk terus bersinergi dan bergandeng tangan.

    Mereka juga mengumumkan telah terpilihnya tujuh enumerator yang akan bekerja sama dengan camat, kepala desa, dan kepala puskesmas untuk melakukan input data pendampingan di wilayah terpilih.

    “Temuan lokal di desa bisa membuka ruang dialog hingga tingkat kabupaten, bahkan menjadi ajang aspirasi nasional yang berpotensi menjadi isu global untuk kedamaian dan kesejahteraan bersama,” tutup mereka. (Andre/Aguk)

  • MTs Maulana Ishaq Peringati Hari Pahlawan dengan Teater Puisi yang Menginspirasi

    MTs Maulana Ishaq Peringati Hari Pahlawan dengan Teater Puisi yang Menginspirasi

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional 2025 dengan tema “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan,” keluarga besar MTs Maulana Ishaq menggelar upacara bendera sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan, Senin (10/11).

    Sejak pagi, halaman madrasah telah dipenuhi siswa-siswi yang tampil rapi mengenakan pakaian adat, batik, dan busana daerah dari berbagai penjuru Nusantara.

    Upacara bendera berlangsung lancar dan penuh semangat sebagai wujud cinta tanah air.

    Petugas upacara melaksanakan tugas dengan tertib dan penuh tanggung jawab, sementara peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan khidmat.

    Suasana di lapangan terasa tenang dan khusyuk saat bendera Merah Putih dikibarkan.

    Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya disiplin, rasa hormat, dan kebersamaan dalam menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan siswa.

    Suasana upacara semakin semarak dengan penampilan istimewa dari OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah) MTs Maulana Ishaq yang membawakan teater puisi bertema “Pertempuran 10 November.”

    Melalui perpaduan drama, puisi, dan musik, para siswa berhasil menggambarkan semangat perjuangan para pahlawan yang rela berkorban demi kemerdekaan.

    Teater Puisi MTs Maulana Ishaq

    Pertunjukan tersebut mengingatkan seluruh peserta upacara bahwa kebebasan yang dirasakan saat ini lahir dari keberanian, persatuan, dan tekad kuat mempertahankan kehormatan bangsa.

    Karya kreatif dari OSIM itu mendapat tepuk tangan meriah dari guru dan siswa yang hadir.

    Banyak di antara mereka tampak terharu dan bangga menyaksikan semangat para siswa dalam menghayati nilai-nilai kepahlawanan melalui seni pertunjukan.

    Kepala MTs Maulana Ishaq, Bapak Rustam Efendi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut.

    “Kegiatan seperti ini menjadi cara yang menarik untuk menanamkan nilai perjuangan dan semangat cinta tanah air. Melalui teater puisi, siswa tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga belajar mengekspresikan semangat juang dengan cara yang kreatif,” ujarnya.

    Beliau menambahkan bahwa MTs Maulana Ishaq akan terus mendorong kegiatan positif yang membentuk karakter siswa agar menjadi generasi yang berakhlak, bersemangat, dan memiliki daya juang tinggi.

    Upacara Hari Pahlawan tahun ini menjadi momen berkesan bagi seluruh warga madrasah. Dengan semangat kepahlawanan dan kreativitas, siswa-siswi MTs Maulana Ishaq menunjukkan tekad untuk menjadi generasi penerus perjuangan bangsa.

    Nilai-nilai perjuangan seperti keberanian, keikhlasan, tanggung jawab, dan cinta tanah air tercermin dalam sikap peserta didik selama kegiatan berlangsung.

    Mereka belajar bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti berperang, melainkan berjuang melalui ilmu, kerja keras, dan kontribusi nyata bagi lingkungan.

    Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh, menjadikan para siswa pribadi tangguh yang siap menjaga dan meneruskan cita-cita para pahlawan Indonesia.

  • Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Senyum cerah terpancar dari wajah Luk Luul Maknun (19), penyandang daksa asal Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

    Gadis yang mengalami disabilitas fisik sejak lahir ini mendapat kunjungan dari Komunitas Gotong Royong 45, media online sastrawacana.id/, dan pegiat sosial yang peduli terhadap penyandang disabilitas di daerah, Minggu (9/11).

    Luk Luul tinggal bersama kedua orang tuanya, Mansur (57) dan Sumiyati (53). Ayahnya bekerja sebagai kernet bus Minto jurusan Banyuwangi–Situbondo, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga.

    Sejak kecil, Luk Luul tidak mengenyam pendidikan secara penuh, hanya sempat bersekolah di taman kanak-kanak selama dua tahun.

    Hal itu disebabkan keterbatasan orang tua, sang ayah sibuk bekerja, sementara sang ibu tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor untuk mengantar.

    Kunjungan Komunitas Gotong Royong 45 yang dipimpin oleh Bung Aguk Darsono, yang juga aktif di Forum Banyuwangi Sehat (FBS) dan Forum Pembauran Kebangsaan {FPK) menjadi awal harapan baru bagi keluarga ini.

    Luk Luul Maknun Disabilitas Kedaleman

    Dalam kesempatan itu, turut hadir Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ sekaligus Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi, Maulana Affandi, S.S., serta beberapa pegiat sosial Banyuwangi.

    “Luk Luul ini anak yang cerdas dan ceria. Walau ada sedikit kesulitan berbicara, tapi semangatnya luar biasa. Dia tidak malu, malah terlihat senang saat diajak ngobrol,” ujar Bung Aguk yang juga merupakan pemandu bakat talenta yatim piatu.

    Ditemani pamannya, Iwan (50), yang juga penyandang disabilitas akibat kram dingin saat musibah kapal nelayan di Pantai Puger, Jember, Luk Luul menyampaikan keinginannya yang sederhana, yakni ingin bisa keluar rumah karena ejak kecil hampir seluruh waktunya dihabiskan di dalam rumah.

    Pamannya menuturkan, jika Luk Luul memiliki kursi roda, ia akan lebih mudah beraktivitas di luar rumah.

    “Selama ini dia hanya bisa duduk atau berbaring di kasur, jarang sekali keluar,” ujar Pakdhe Iwan, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis elektronik dan dapat dihubungi melalui nomor ponsel 082341828320.

    Menanggapi hal tersebut, Bung Aguk langsung menghubungi Khoirul Hidayat, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Banyuwangi, untuk menyampaikan kondisi Luk Luul.

    Khoirul Hidayat menyampaikan, pihaknya siap memberikan bantuan dan berharap pemerintah desa turut aktif memantau kondisi warganya serta memperbarui data agar ia dapat menerima bantuan sosial yang selama ini belum pernah diterimanya.

    “Kami akan segera tindak lanjuti. Tapi ke depannya, pihak desa perlu lebih aktif melaporkan dan memperbarui data agar bantuan sosial bisa tepat sasaran,” ujarnya melalui pesan singkat.

    Sementara itu, Maulana Affandi menyampaikan apresiasi terhadap respons cepat Dinas Sosial Banyuwangi.

    “Langkah cepat Pak Khoirul dan tim Dinsos patut diapresiasi. Ini bukti bahwa kepedulian Dinsos Banyuwangi kepada warga yang membutuhkan sangat tinggi,” ujarnya.

    Menurut Affandi, pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pekerja sosial di Rogojampi untuk mendata Luk Luul, karena namanya belum tercatat dalam data penyandang disabilitas Kabupaten Banyuwangi

    Luk Lukul Maknun Kedaleman

    Ia juga menambahkan, Dinas Sosial Banyuwangi memang dikenal tanggap terhadap berbagai persoalan sosial.

    “Bukan hanya kali ini, sebelumnya Dinas Sosial juga sigap membantu warga lain, seperti Aripin yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kerja. Hal itu menunjukkan adanya kesinambungan kepedulian yang nyata, salah satunya melalui pemberian kursi roda 3 in 1,” ujarnya.

    Kehadiran komunitas sosial, rekan media, dan pegiat kemanusiaan di rumah Luk Luul membawa semangat baru bagi keluarganya.

    Mereka berharap Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga dapat melakukan survei dan memberikan bantuan bagi Luk Luul, yang kini tinggal di rumah warisan kakek-neneknya dari pihak ayah.

    Selain menantikan bantuan berupa kursi roda dan popok, Luk Luul yang memiliki hobi bernyanyi juga direncanakan akan tampil dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) mendatang. Ia akan didampingi oleh relawan dari Komunitas Gotong Royong 45 dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Koordinator Divisi Program YALI, Indah Catur Cahyaningtyas, mengatakan dirinya hanyalah relawan, bukan pahlawan.

    “Bersamaan dengan momentum Hari Pahlawan, Luk Luul kami catat sebagai anggota dampingan kami. Harapannya, keluarga bisa lebih responsif dan kami juga akan mengikutkan mereka dalam pelatihan bagi orang tua yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas,” tutur aktivis Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) ini.

    Melalui kegiatan itu, Luk Luul akan mendapat ruang untuk menyalurkan bakatnya dan tampil bersama para penyandang disabilitas lainnya. Lewat gawai milik ibunya, ia juga diharapkan bisa menjalin silaturahmi agar tidak merasa sendirian.

    Dengan nada pasrah, sang ibu, Sumiyati, berharap ada pihak yang peduli terhadap putrinya, terutama dalam hal mobilitas agar bisa beraktivitas di luar rumah.

    “Bukan karena malu, tapi saya enggan merepotkan tetangga dan kerabat. Ternyata saya salah, dulu tidak menyekolahkan, tidak membuatkan KIA, dan baru mengurus KTP setelah usianya lebih dari 18 tahun,” ujarnya lirih.

    Semangat dan senyum Luk Luul menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Di balik segala keterbatasan, tersimpan keyakinan bahwa kuasa Tuhan selalu hadir bagi hamba-Nya, pada waktu dan cara yang paling tepat. (Affandi/Bung Aguk)

  • Kapolresta Rama Samtama Putra dan Para Penyair Lentera Sastra Banyuwangi Menyulam Doa untuk Pahlawan

    Kapolresta Rama Samtama Putra dan Para Penyair Lentera Sastra Banyuwangi Menyulam Doa untuk Pahlawan

    Pagi itu, Taman Blambangan seolah menjadi ruang suci tempat kata-kata pulang kepada akar sejarahnya.

    Angin yang melintas membawa aroma dedaunan basah dan gema langkah para penyair yang datang bukan sekadar untuk tampil, tetapi untuk menyapa arwah para pahlawan lewat bahasa yang mereka cintai: puisi.

    Di tengah ruang itu, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., berdiri memandang horizon. Ketika suaranya mulai membaca puisi “Pahlawan Itu Bernama Rakyat”, suasana seperti menghening.

    Kata-kata yang meluncur dari bibirnya tak lagi sekadar kalimat, tetapi semacam doa yang turun perlahan, menyentuh tanah, lalu menjalar ke hati setiap orang yang hadir.

    Acara bertajuk “Puisi Lentera Sastra untuk Pahlawan”—buah kolaborasi antara Lentera Sastra Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), dan Banyuwangi Creatif Market (BCM)—menjadi semacam ziarah batin.

    Para penyair datang membawa suara masing-masing, tetapi mereka menyisihkan ego dan berdiri dalam satu barisan: barisan penghormatan.

    Kapolresta Rama Samtama Putra

    Usai membacakan puisi, Kapolresta menerima sebuah buku antologi bertajuk “Hemat Bersama Umat”, karya para penulis Lentera Sastra.

    Serah terima dilakukan oleh Ketua Lentera Sastra, Syafaat, dalam keheningan yang sarat makna—seperti dua penjaga yang saling menyerahkan cahaya kepada penjaga lainnya.

    Ketua DKB Hasan Basri memecah keheningan berikutnya dengan puisi tentang pasukan ALRI 0032, yang gugur di Pantai Boom.

    Suaranya dalam, seperti mengantar kembali para syuhada ke tanah yang dulu mereka bela dengan darah.

    Puisi itu bukan lagi cerita; ia berubah menjadi gelombang laut yang menghantam bibir pantai, membawa nama-nama yang lama tertinggal di buku sejarah.

    Dari Lentera Sastra Banyuwangi tampil para penutur kata:

    • Syafaat, sang penjaga api sastra;
    • Uswatun Hasanah, kepala madrasah yang suaranya lembut seperti ayat lama;
    • Hermi Niilawati, membawa getar keteguhan seorang pendidik;
    • Mujikan, yang puisinya mengalir seperti sungai kecil di lereng desa;
      dan Nurul Ludfia Rahmah, penyair muda yang membawa cahaya HISKI dalam geraknya.
    • Hadir pula Fauz Abadi dan Dalilah, yang menambah warna senandung siang itu.

    Dari panggung DKB, Muttafakurrohmah, Fatah Yasin Nor, dan Nani Asiany tampil seperti tiga musim yang berbeda: satu menghadirkan teduh, satu lainnya angin perubahan, dan satu lagi hujan yang menurunkan rindu pada sejarah.

    Syafaat, dalam sepenggal jeda, mengatakan bahwa puisi bukan sekadar pertunjukan. “Ia adalah pelita di pekat malam bangsa,” ucapnya—sebuah kalimat yang jatuh tepat seperti hujan pertama di musim kemarau.

    Gelaran ini merupakan bagian dari Banyuwangi Creatif Market, namun sore itu acara seolah melepaskan identitas duniawinya.

    Ia menjadi semacam srawung spiritual, tempat sejarah, rakyat, dan sastra bertemu dalam satu titik yang sama: penghormatan.

    Para juara Liga Puisi 2025 turut menghidupkan ruang. Nuhbatul Fakhiroh dan Azkita Kiska dari MTsN 1 Banyuwangi tampil dalam duet yang lembut namun tegas—seperti guru dan murid yang berbicara kepada masa depan.

    Lalu Tirta Baiti Jannah dari jenjang SLTA membacakan puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan suaranya menjadi pedang yang menebas sunyi, mengingatkan bahwa perjuangan selalu menuntut keberanian.

    Ketika acara usai, angin kembali bergerak pelan, seolah membawa semua puisi itu terbang ke langit Banyuwangi.

    Di sana, kata-kata berubah menjadi lampu kecil yang berpendar—menjadi lentera yang menuntun bangsa untuk tidak melupakan siapa yang membuat mereka berdiri hari ini: para pahlawan, dan rakyat yang terus berjuang tanpa henti.

  • Pameran Petak Umpet, Ruang untuk Menemukan Kembali Sastra Anak Indonesia

    Pameran Petak Umpet, Ruang untuk Menemukan Kembali Sastra Anak Indonesia

    Kolaborasi antara Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Museum Anak Bajang, dan Bentara Budaya melahirkan Pameran Arsip dan Ilustrasi Petak Umpet Sastra Anak, sebuah upaya untuk membangkitkan kembali semangat sastra anak Indonesia.

    Pameran yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta pada 7–16 November 2025 ini menjadi ruang penghormatan untuk mengenang setahun wafatnya Dwianto Setyawan, penulis buku anak yang produktif di era 1970–1980an.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya Dwianto, tetapi juga ajakan untuk menengok masa ketika sastra anak lokal hidup dengan energi dan daya cipta yang kuat.

    Pada masa itu, karya-karya Djokolelono, Arswendo Atmowiloto, Bung Smas, hingga Kembangmanggis mengisi rak buku anak Indonesia dengan kisah-kisah sederhana namun sarat makna.

    Selama beberapa dekade terakhir, karya-karya tersebut kian jarang terdengar. Nama-nama yang dulu akrab kini nyaris tak disebut, dan sebagian bukunya pun sulit ditemukan.

    Menurut Christina M. Udiani, Manajer Redaksi dan Produksi KPG, pameran ini tidak bertujuan mengkotakkan mana yang tergolong sastra anak atau bukan.

    “Pameran ini tidak dimaksudkan sebagai penentu karya mana yang termasuk sastra anak atau bukan, melainkan sebagai ruang bersama untuk mengenang dan mendiskusikannya,” ujarnya.

    Awal 2025 menjadi titik penting bagi kebangkitan sastra anak. KPG bersama pengamat sastra Setyaningsih dan ilustrator Nai Rinaket meluncurkan Seri Klasik Semasa Kecil, yang memuat karya pilihan Dwianto Setyawan dan Djokolelono.

    Hingga kini, sudah ada 15 judul buku klasik anak yang diterbitkan kembali, di antaranya Si Rejeki dan Astrid di Palungloro, disertai buku esai Melangkah ke Sastra Anak.

    Pembukaan pameran dilakukan oleh Romo Sindhunata, pendiri Museum Anak Bajang sekaligus penggagas kegiatan ini. Ia didampingi para kurator, yakni Setyaningsih, Nai Rinaket, dan Hanputro Widyono.

    Suasana pembukaan berlangsung penuh warna. Tarian Warok Cilik dan musik Orkestra Keroncong Sakpenake menyambut pembacaan cerita Terlalu Muluk oleh Altaf Jaddan Adzaro, siswa SD Muhammadiyah Sapen, yang tampil percaya diri di hadapan pengunjung.

    Romo Sindhu menuturkan bahwa dunia anak adalah semesta yang tak pernah berhenti berimajinasi.

    “Anak-anak adalah insan yang merasa bisa mengatur dirinya. Orang dewasa tak dapat sungguh menyelami apa yang ada di dalam pikiran dan khayalan mereka. Itulah yang coba diselami pengarang seperti Dwianto dan kawan-kawan,” terangnya.

    Ruang pamer dirancang layaknya perjalanan waktu. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat transformasi sastra anak Indonesia sejak Si Jamin dan Si Johan (1921), masa proyek Inpres pada era Orde Baru, hingga gelombang buku terjemahan yang pernah mendominasi pasar bacaan anak.

    Beragam arsip, ilustrasi, dan sampul buku lawas ditampilkan untuk menunjukkan bagaimana sastra anak tumbuh seiring perubahan sosial dan budaya bangsa.

    Selama sepuluh hari, pameran ini diisi dengan berbagai kegiatan interaktif seperti permainan Melacak Sersan Grung-Grung, lokakarya bercerita, sesi book playdate, hingga diskusi bertajuk Melangkah ke Sastra Anak yang menghadirkan Sindhunata, Reda Gaudiamo, dan Herdiana Hakim.

    Sumber: Antara, koranbernas

  • Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Sebanyak 154 anak yatim dan dhuafa dari wilayah Tangerang dan Tangerang Selatan mendapat bantuan perlengkapan sekolah dalam kegiatan bertajuk Penyaluran Donasi Perlengkapan Sekolah yang digelar di Gramedia Summarecon Mall Serpong (SMS), Rabu (5/11).

    Acara yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Gramedia Serpong (Region D) tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap pendidikan dan literasi anak-anak Indonesia.

    Melalui pembagian school kit, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap dunia baca tulis sejak dini.

    Perwakilan Partnership Dompet Dhuafa, Diana Rahma, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan Gramedia yang terus konsisten berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

    “Kami berterima kasih kepada Gramedia yang telah menjadi mitra baik Dompet Dhuafa dalam menebar manfaat. Semoga bantuan perlengkapan sekolah ini menjadi penyemangat bagi adik-adik untuk terus belajar dan mengejar cita-cita,” ujarnya.

    Sementara itu, Sulton, perwakilan Manajemen Summarecon Mall Serpong, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud komitmen Gramedia dalam mendukung kemajuan pendidikan nasional.

    “Setiap anak memiliki hak untuk belajar dan berkembang. Kami berharap bantuan ini bisa memotivasi mereka agar terus berprestasi,” katanya.

    Selama kegiatan berlangsung, suasana di area Gramedia SMS dipenuhi tawa dan antusiasme anak-anak. Beragam permainan interaktif yang dipandu tim Dompet Dhuafa dan Gramedia membuat acara semakin hangat dan menyenangkan.

    Momen paling dinanti terjadi saat pembagian paket perlengkapan sekolah berupa tas, buku, dan alat tulis dilakukan. Senyum lebar menghiasi wajah anak-anak penerima manfaat.

    Tak hanya perlengkapan sekolah, tim Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa juga turut memberikan uang saku sebagai dukungan tambahan agar anak-anak semakin bersemangat menuntut ilmu.

    Melalui kegiatan ini, Dompet Dhuafa dan Gramedia berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus berlanjut, menjangkau lebih banyak penerima manfaat di seluruh Indonesia.

    “Kami berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan lebih banyak program pemberdayaan dan literasi bagi masyarakat,” tutup Diana.

    Sumber: kbknews

  • Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Sebanyak 14 pelajar asal Kabupaten Banyuwangi yang terdiri dari 7 siswa SD dan 7 siswa SMP diberangkatkan menuju Surabaya untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Timur, Jumat (7/11).

    Kegiatan pelepasan peserta berlangsung di pelataran Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M.

    Dalam arahannya, Suratno menyampaikan agar para peserta terus melestarikan bahasa Using dan tidak malu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

    “Ke-14 siswa tersebut merupakan duta Bahasa Using yang telah bertanding secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan kini provinsi. Mereka adalah hasil seleksi dari kegiatan Festival Literasi Using yang dilaksanakan pada 1 November 2025 dan dihadiri langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani,” paparnya.

    Juara Puisi Festival Literasi Using

    Sementara itu, Erpandi, S.Pd., M.Pd., salah satu pendamping delegasi, menyampaikan harapan besar kepada para peserta.

    “Bisa jadi nanti mereka yang masuk peringkat satu di ajang Tunas Bahasa Ibu kategori Bahasa Madura dan Bahasa Using akan terundang pada peringatan Hari Pendidikan Nasional bulan Mei 2026 di tingkat nasional,” tuturnya sambil mengajak seluruh kafilah menaiki bus pariwisata.

     

    Selain berkompetisi, duta Banyuwangi yang merupakan gabungan pelajar SD dan SMP bersama para guru juga akan menampilkan seni pertunjukan khas Banyuwangenan di Surabaya.

    Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Timur digelar pada 6–8 November 2025 di Hotel Santika Surabaya, dengan format awarding.

    Peserta berasal dari empat kabupaten di Madura, serta Situbondo dan Bondowoso.

    Adapun Banyuwangi menjadi satu-satunya peserta dengan bahasa Using yang sebelumnya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional pada ajang serupa.

    Daftar Delegasi Banyuwangi Peraih Juara 1

    Nulis Aksara

    • Ahmed Fahrizi Paythoni – SMPN 2 Banyuwangi
    • Tinnaka Aknini Magfiroh – SDN 2 Gintangan, Blimbingsari

    Ndongeng

    • Graceylla Alley Nadyne CP – SMPN 5 Banyuwangi
    • Novi Jasmin Al Marista – SDN 2 Sumberagung, Pesanggaran

    Ngewer

    • Achmad Fikry Setiawan – SMPN 3 Rogojampi
    • Ulan Pancar Sari – SDN 3 Rogojampi

    Pidato

    • Arayo Datan Pratama – SMPN 3 Rogojampi
    • Annora Hanifa Firmala – SDN 1 Licin

    Maca Geguritan

    • İstiqlal Syukri Ahmad – SMP Bustanul Makmur, Genteng
    • Nabila Umaira Bramanta – SDN 4 Penganjuran, Banyuwangi

    Nembang

    • Cinta Qieta Berliana Putry – SMP Muhammadiyah 7 Sempu
    • Putri Qoireen Khumaira Herlangga – SDN 1 Rogojampi

    Nulis Cerita Cendhek

    • Anggun Aulia Pratama Putri – SMPN 2 Cluring
    • Keyra Febrisal Wardani – SDN 1 Pakistaji, Kabat

    Selain itu, juara 2 kategori cerita cendhek, Sifa Zulliyati (SMPN 1 Singojuruh) dan Aisya Nada Nahdliyina (SDN 1 Tamansuruh, Glagah), juga diundang menghadiri awarding.

    Juara Festival Literasi Using

    Para peserta tersebut akan mengikuti program inkubasi pelatihan menulis cerpen dwibahasa (bahasa lokal dan bahasa Indonesia) yang dilaksanakan Balai Bahasa Jawa Timur bekerja sama dengan Sengker Kuwung Blambangan di Hotel Swiss-Belinn Manyar, Surabaya, pada 9–11 November 2025.

    Peserta dari kategori bahasa Madura juga dijadwalkan mengikuti pelatihan serupa dalam kegiatan bertajuk Kemah Cerpen.

    Salah satu pengurus MGMP Bahasa Using SMP, Widyaningsih, S.Pd. dari SMPN 1 Blimbingsari, berharap bahasa Using terus dilestarikan dan memiliki penerus di masa mendatang.

    “Bahasa Using harus terus bergenerasi sampai anak cucu nanti. Untuk jenjang SD sudah lama berjalan sebagai muatan lokal, tapi di tingkat SMP belum ada regulasi yang tegas. Harapannya, lewat ajang festival ini, Bupati bisa membuat gebrakan yang menjadi gerakan nyata,” ujarnya.

    Widyaningsih juga menegaskan, keberlanjutan bahasa daerah tak hanya bergantung pada peserta didik, tetapi juga dukungan kebijakan dan pelatihan guru melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) dan diseminasi.