Kategori: Berita

  • UIN KHAS Jember Mantapkan Langkah Sebagai Penyelenggara Sertifikasi Dosen

    UIN KHAS Jember Mantapkan Langkah Sebagai Penyelenggara Sertifikasi Dosen

    Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember memulai langkah strategis menuju peran barunya sebagai Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP) Sertifikasi Dosen (Serdos).

    Pada Jumat (22/11/2024), LPM menggelar kegiatan Penyamaan Persepsi Asesor Serdos untuk memberikan pemahaman mendalam tentang mekanisme dan teknis penilaian sertifikasi dosen.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan UIN KHAS Jember menghadapi tantangan baru sebagai institusi penyelenggara serdos.

    Sebagai salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang meraih akreditasi unggul pada 2024, UIN KHAS mendapat kepercayaan dari Kementerian Agama untuk menilai profesionalisme dosen di lingkungan PTKIN secara nasional.

    Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni menegaskan bahwa akreditasi unggul bukan hanya capaian, tetapi juga amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

    “Kegiatan penyamaan persepsi ini menjadi salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut. Kami berharap, seluruh civitas akademika terus bersinergi untuk menjaga mutu pendidikan dan membangun reputasi kampus sebagai teladan dalam dunia pendidikan tinggi,” ujarnya.

    Kegiatan ini menghadirkan Kasubdit Ketenagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama RI, Muhammad Aziz Hakim, sebagai narasumber utama.

    Ia menekankan pentingnya peran strategis asesor dalam menjaga kualitas dan integritas proses sertifikasi dosen.

    “Peran asesor sangatlah strategis dalam menjaga kualitas dan integritas proses sertifikasi dosen. Melalui kegiatan ini, kami berharap para asesor UIN KHAS Jember dapat menjalankan tugasnya dengan profesionalisme tinggi, memastikan penilaian sertifikasi berjalan secara objektif dan transparan,” jelasnya.

    Wakil Rektor II, Ainur Rafik yang juga bertindak sebagai Plh. Wakil Rektor I, membuka acara secara resmi.

    Ia mengapresiasi inisiatif LPM serta menyoroti capaian UIN KHAS Jember, termasuk 207 dosen yang telah tersertifikasi.

    “Saya berharap para dosen yang hadir dapat menyerap dan mengimplementasikan ilmu dari narasumber untuk terus meningkatkan mutu akademik dan profesionalisme di UIN KHAS Jember,” ujarnya. ujarnya.

    Kegiatan yang diikuti oleh 54 asesor ini berlangsung di Ruang Rapat Rektorat Lantai 1.

    Selain menjadi ajang pembekalan, acara ini juga memperkuat komitmen UIN KHAS Jember sebagai perguruan tinggi unggul dan terpercaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.

    Dengan langkah strategis ini, UIN KHAS Jember semakin mantap memantapkan posisinya sebagai pelopor pendidikan tinggi berkualitas yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan nasional.

  • Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda: Madrasah Berprestasi dengan Kualitas Unggul

    Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda: Madrasah Berprestasi dengan Kualitas Unggul

    Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda Badean terus menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu lembaga pendidikan unggulan di Banyuwangi.

    Dengan sederet prestasi di bidang akademik dan non-akademik, madrasah ini semakin mengukuhkan diri sebagai institusi yang layak diperhitungkan.

    Kepala MTs Nurul Huda, Halili, M.HI, menegaskan bahwa madrasah berbasis pondok pesantren ini tidak hanya unggul dalam pencapaian akademik tetapi juga fokus pada pembentukan karakter dan integritas peserta didik.

    MTs Nurul Huda memiliki sejumlah program yang mendukung pengembangan siswa, baik akademik maupun non-akademik.

    • Kreasi Baris-Berbaris (LKBB): Program ini menjadi andalan di bidang non-akademik.
    • Kelas Khusus Akademik: Termasuk kelas Sains, IPA, IPS, dan Bahasa Inggris yang bertujuan mempersiapkan siswa untuk berbagai kompetisi akademik tingkat daerah hingga nasional.

    Dengan latihan terstruktur, siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan terbaiknya sehingga dapat tampil maksimal dalam setiap lomba atau kompetisi.

    Sepanjang tahun 2024, MTs Nurul Huda aktif mengikuti berbagai event di bidang akademik dan non-akademik.

    Bidang Non-Akademik

    • LKBB se-Jawa Bali di MAN 3 Banyuwangi, Februari 2024, dengan satu peleton beranggotakan 16 siswa.
    • LKBB Tingkat Kabupaten Banyuwangi, September 2024, di GOR Banyuwangi, diselenggarakan oleh Dispora Banyuwangi.
    • LKBB Tingkat Jawa Timur, September 2024.

    Program ini dibimbing oleh Khoironi sebagai pembina, bersama dua pelatih, M. Rozin Fuadi dan Sirojunnur.

    Bidang Akademik

    • Kompetisi Sains Nasional di SMPN 2 Puger, Jember, pada November 2024. Kompetisi ini diikuti oleh 14 siswa yang berkompetisi di tiga mata pelajaran, yaitu IPA, IPS, dan Bahasa Inggris.
    • Bimbingan diberikan oleh tim guru yang kompeten, yakni Vivin Kusumaningrum, S.Pd., M.Pd., Nikmatul Mardiyah, S.Pd., dan A. Nurbudiono, S.Pd.

    Prestasi Gemilang

    MTs Nurul Huda berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, antara lain:

    • Juara 2 LKBB se-Jawa Bali 2024.
    • Juara 2 LKBB Kabupaten Banyuwangi 2024.
    • Juara 1 Kategori Mula LKBB Jawa Timur 2024.
    • Juara 3 Make Up Terbaik LKBB Jawa Timur 2024.
    • Lima medali perunggu Olimpiade Sains Nasional (IPA, IPS, dan Bahasa Inggris) yang diselenggarakan oleh Digniti Jakarta.

    Halili berharap MTs Nurul Huda terus mencetak generasi berilmu, berakhlak mulia, dan multi-talenta yang relevan dengan tantangan zaman.

    Komitmen MTs Nurul Huda terhadap pengembangan literasi, karakter, dan bakat siswa menjadi salah satu alasan mengapa madrasah ini selalu terdepan.

    Dengan dukungan penuh dari para guru, pelatih, dan kepala madrasah, madrasah ini terus membuktikan bahwa pendidikan berbasis pesantren mampu bersaing dan berprestasi di berbagai bidang.

    Penulis: Andi BS

    Editor: Maulana Affandi

  • Rumah Literasi Indonesia, Pusat Inspirasi dan Edukasi untuk Masyarakat Banyuwangi

    Rumah Literasi Indonesia, Pusat Inspirasi dan Edukasi untuk Masyarakat Banyuwangi

    Rumah Literasi Indonesia yang terletak di Ketapang, Banyuwangi adalah pusat edukasi dan literasi bagi anak-anak dan remaja.

    Tidak hanya menyediakan berbagai koleksi buku bacaan, tetapi juga menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif.

    Konsep yang diusung oleh sang penggagas, Tunggul Harwanto berhasil menarik perhatian berbagai pihak untuk berkolaborasi, termasuk lembaga internasional seperti UNICEF dan USAID hingga sejumlah perusahaan dalam negeri.

    Sebagai informasi, Tunggul Harwanto yang merupakan sosok di balik Rumah Literasi Indonesia memiliki latar belakang pendidikan yang menarik.

    Alumni SMAN 1 Jembrana, Bali ini melanjutkan pendidikannya di bidang keperawatan di STIKES Banyuwangi, lalu meraih gelar S2 di bidang Kedokteran Keluarga di sebuah perguruan tinggi negeri di Solo.

    Tunggul pernah menjadi dosen di Universitas Bhakti Indonesia Banyuwangi jurusan Keperawatan, namun ia memutuskan berhenti mengajar untuk fokus mengembangkan dunia literasi.

    Baginya, dunia literasi lebih dari sekadar menyediakan akses buku, tapi bentuk perjuangan untuk membuka wawasan dan masa depan generasi muda.

    “Rumah Literasi Indonesia ini adalah upaya kami untuk memberikan kesempatan bagi setiap anak dan remaja di pelosok daerah agar memiliki akses terhadap buku dan ilmu pengetahuan,” jelas Tunggul.

    Ia berharap Rumah Literasi Indonesia dapat membantu mengatasi kesenjangan dalam akses literasi, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

    Program Kegiatan di Rumah Literasi Indonesia

    Rumah Literasi Indonesia menjalankan beberapa program inovatif yang dirancang untuk menjangkau masyarakat luas.

    Program unggulannya adalah Gerakan 1000 Rumah Baca, sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat mendirikan rumah baca berbasis komunitas di berbagai daerah.

    Gerakan ini dilandasi oleh visi bahwa keluarga memainkan peran penting dalam mendidik generasi muda.

    Dengan adanya 1000 rumah baca di seluruh pelosok negeri, anak-anak di daerah terpencil akan memiliki akses buku dan kegiatan literasi yang dapat membantu mengembangkan kemampuan mereka.

    Selain itu, Tunggul dan timnya juga aktif melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah di daerah terpencil.

    Melalui kegiatan ini, mereka mengajak siswa untuk bermimpi besar dan menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di kota.

    Cara ini dianggap lebih proaktif dan berfokus pada “menjemput bola” sehingga para siswa merasa lebih dekat dengan dunia literasi.

    Tunggul dan relawan juga mengemas kunjungan ini dengan aktivitas kreatif dan inspiratif untuk membangun cita-cita dan imajinasi anak-anak.

    Kemudian, Rumah Literasi Indonesia juga menjalankan program Wisata Literasi yang unik.

    Program ini menggabungkan unsur pendidikan dengan kegiatan wisata yang menarik, sehingga cocok untuk semua usia, mulai dari pelajar hingga profesional.

    Para pengunjung dapat ikut serta dalam berbagai kegiatan, seperti pengumpulan sampah organik yang kemudian dapat ditukar dengan uang, hingga belajar tentang budidaya lobster dan maggot.

    Pengalaman wisata ini mengajarkan nilai keberlanjutan dan memberikan kesadaran lingkungan bagi para pengunjung.

    SocioPreneur dan Ekonomi Mandiri

    Untuk mendukung keberlangsungan Rumah Literasi, Tunggul menerapkan konsep socio-preneur di mana Rumah Literasi yang berfungsi sebagai ruang belajar dan juga sirkulasi ekonomi mandiri.

    Konsep ini memberi kesempatan kepada para relawan muda untuk mengembangkan bisnis yang berfokus pada penyelesaian masalah sosial, seperti kesehatan masyarakat, pendidikan, dan lingkungan.

    Program ini diharapkan tidak hanya membantu perekonomian komunitas sekitar, tetapi juga melatih para relawan muda dalam mengelola bisnis berkelanjutan dengan tujuan sosial.

    Berkat konsep socio-preneur yang diterapkan, Rumah Literasi Indonesia kini menarik berbagai pihak untuk berkolaborasi.

    Sejumlah lembaga, seperti UNICEF, Alibaba, Gramedia, ASDP, BUMN, dan Rotary International telah bekerja sama dengan Rumah Literasi Indonesia dalam mendukung program-program edukasi.

    Dukungan dari Para Relawan dan Apresiasi Masyarakat

    Setiap harinya, Rumah Literasi Indonesia dikunjungi oleh berbagai tamu, mulai dari perorangan, lembaga, hingga perusahaan yang tertarik untuk berkontribusi.

    Saat ini, lebih dari 500 relawan terlibat aktif dalam mendukung kegiatan di Rumah Literasi.

    Kehadiran para relawan ini menjadi bukti bahwa semangat literasi telah menyebar dan mengakar kuat di masyarakat.

    Bung Aguk, seorang aktivis sosial dan pegiat literasi yang pernah mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara mengapresiasi Rumah Literasi Indonesia.

    “Apa yang dilakukan Rumah Literasi Indonesia ini adalah contoh nyata bagaimana literasi bisa menyentuh dan memberdayakan masyarakat, bukan hanya sebagai sarana membaca, tetapi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masa depan generasi muda,” ungkapnya.

    Bagi Bung Aguk, program ini bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan gerakan besar yang sangat berarti dalam pembangunan masyarakat.

    Harapan di Masa Depan

    Tunggul berharap Rumah Literasi Indonesia bisa terus mengembangkan sayap dan menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.

    Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak, ia optimis Rumah Literasi bisa menjadi contoh model literasi yang berkelanjutan.

    Baginya, Rumah Literasi Indonesia adalah upaya untuk memberikan setiap anak kesempatan yang sama untuk meraih ilmu pengetahuan.

    “Rumah Literasi Indonesia hadir bukan hanya untuk memberikan buku, tetapi untuk menginspirasi dan membentuk generasi yang berdaya,” tegas Tunggul.

    Ia berharap, apa yang mereka lakukan di Rumah Literasi Indonesia bisa memicu munculnya lebih banyak gerakan literasi di berbagai daerah, terutama di pelosok negeri. (MA)

  • Polije Ciptakan Aplikasi AnemiaGo untuk Bantu Cegah Stunting di Masyarakat

    Polije Ciptakan Aplikasi AnemiaGo untuk Bantu Cegah Stunting di Masyarakat

    Tim pengabdian masyarakat dari Jurusan Kesehatan Politeknik Negeri Jember (Polije) baru-baru ini meluncurkan aplikasi berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) bernama AnemiaGo.

    Aplikasi ini dirancang untuk membantu masyarakat Desa Yosowilangun Kidul, Lumajang, Jawa Timur dalam mendeteksi dan mencegah anemia, salah satu faktor yang berperan dalam masalah stunting.

    Program ini juga menjadi bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) dari Polije.

    Tujuan utama dari aplikasi AnemiaGo adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya anemia dan pentingnya pencegahannya untuk mencegah stunting di masa depan.

    Dengan berbagai fitur yang mudah diakses dan dipahami, aplikasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat lebih memahami masalah anemia dan mengambil langkah-langkah preventif yang tepat.

    Sabran, ketua tim pengabdian masyarakat Polije menjelaskan bahwa aplikasi ini menyediakan informasi lengkap yang dapat diakses oleh siapa saja yang menggunakannya.

    “Dengan demikian, masyarakat diharapkan bisa lebih sadar akan pentingnya pencegahan anemia dan potensi dampaknya terhadap stunting,” kata Sabran.

    Aplikasi AnemiaGo ini didanai oleh program hibah dari Direktorat Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi tahun anggaran 2024.

    Dilengkapi dengan antarmuka pengguna yang sederhana dan ramah, aplikasi ini sangat mudah digunakan oleh masyarakat, bahkan bagi mereka yang tidak terlalu familiar dengan teknologi.

    “AnemiaGo juga memiliki beberapa fitur unggulan, di antaranya fitur edukasi yang memberikan informasi mengenai anemia dan cara pencegahannya, fitur deteksi dini untuk mengetahui risiko anemia, jurnal kesehatan yang memungkinkan pengguna mencatat perkembangan kondisi mereka, serta fitur komunitas yang menghubungkan pengguna dalam satu platform untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait kesehatan,” jelas Sabran.

    Dian Kartika, anggota tim lainnya yang turut mengembangkan AnemiaGo menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya menawarkan teknologi canggih, tetapi juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam hal kesehatan, terutama dalam mencegah anemia dan stunting.

    “Kami berharap, dengan adanya aplikasi AnemiaGo, masyarakat di Desa Yosowilangun Kidul dapat lebih aktif dalam menjaga kesehatannya dan mencegah masalah kesehatan yang bisa berdampak jangka panjang,” ujar Dian.

    Kegiatan pelatihan dan sosialisasi aplikasi AnemiaGo berlangsung di Kantor Desa Yosowilangun Kidul dan mendapat sambutan positif dari warga.

    Warga sangat antusias mengikuti pelatihan mengenai cara penggunaan aplikasi dan manfaatnya untuk kesehatan.

    Harapannya, aplikasi ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat di Desa Yosowilangun Kidul, tetapi juga bisa diterapkan di wilayah lainnya.

    Selain Sabran dan Dian, pengembangan aplikasi AnemiaGo melibatkan dosen Polije lainnya, yakni Malinda Capril Nurul Satya.

    Program ini juga mengajak tiga mahasiswa Polije untuk terlibat langsung dalam pengembangan dan implementasi aplikasi ini.

  • Langkah Baru Menuju Pendidikan Berkualitas, Mendikdasmen Ajak Guru Jadi Mentor dan Penggerak

    Langkah Baru Menuju Pendidikan Berkualitas, Mendikdasmen Ajak Guru Jadi Mentor dan Penggerak

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan kerja ke SMA Negeri 2 Wates, Yogyakarta.

    Dalam acara bertajuk “Sambung Rasa Guru,” Abdul Mu’ti berdialog langsung dengan para guru dan tenaga pengajar untuk mendengarkan masukan serta berbagi visi mengenai pendidikan di Indonesia.

    “Saya merasa bahagia dapat bertemu dengan para ujung tombak pendidikan Indonesia. Melalui forum ini saya mengajak kepada semua guru untuk bersama sama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” kata Abdul Mu’ti, Rabu (13/11).

    Menurutnya, untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan bermutu, pemerintah akan berfokus pada peningkatan sarana dan prasarana sekolah serta peningkatan kualifikasi guru.

    Menteri Mu’ti menegaskan bahwa para guru sebaiknya memiliki standar pendidikan minimal D4 atau S1.

    Dengan kualifikasi ini, harapannya guru bisa menjalankan peran lebih dari sekadar penyampai ilmu, tetapi juga menjadi mentor dan konselor yang membentuk karakter anak didik.

    “Upaya pemenuhan kualifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, di mana ke depannya guru tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan, namun juga sebagai mentor dan konselor pembangun karakter bangsa peserta didik,” ungkapnya.

    Di hadapan para guru, Abdul Mu’ti juga membahas pentingnya pembelajaran yang menyenangkan. Ia yakin suasana belajar yang bahagia akan meningkatkan mutu pendidikan.

    “Pendidikan yang gembira akan membuat para pelaku pendidikan akan menikmati proses pembelajaran. Dari proses yang gembira itu akan membuat pendidikan kita akan bermutu bagi semua warga satuan pendidikan,” tambahnya.

    Acara ini juga menjadi kesempatan bagi para guru untuk menyampaikan aspirasi.

    Henri Saputro, seorang guru dari SMP Negeri 2 Kalibawang, Kulon Progo, menyoroti kesejahteraan guru sebagai aspek penting untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas dan menyenangkan.

    Henri juga berharap pemerintah memberikan perlindungan hukum bagi para guru agar mereka merasa aman dalam menjalankan tugas.

    “Selain aspek kesejahteraan, melalui forum ini kami meminta kepada Mendikdasmen untuk membuat regulasi atau perlindungan hukum bagi para guru. Jika regulasi itu terwujud akan menjadi hal yang baik dan menjadi bagian penting dari proses peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Henri.

    Sementara itu, Titi Nurhayati, Kepala SLB Negeri 1 Kulon Progo, juga menyampaikan aspirasinya.

    Ia menyoroti pentingnya perhatian khusus untuk SLB dari sisi fasilitas, tenaga pengajar, dan tenaga kependidikan.

    “Dengan semangat pendidikan bermutu untuk semua, SLB juga harus menjadi bagian penting dan mendapatkan perhatian khusus dalam proses pembelajaran. Alokasi dana harus ditingkatkan untuk keberlangsungan SLB mengarungi proses pembelajaran untuk peserta didik,” katanya.

    Selain itu, Wulan, seorang guru dari Kelompok Bermain di Kulon Progo, menyinggung soal pengakuan bagi Kelompok Bermain yang saat ini masih dianggap sebagai pendidikan nonformal.

    Wulan menginginkan Kelompok Bermain mendapat status sebagai lembaga pendidikan formal, karena hal ini penting agar para guru PAUD memperoleh hak yang sama dengan tenaga pendidik di lembaga formal lainnya.

    “Saat ini kami memiliki 17 guru yang memiliki pendidikan S-1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kami menginginkan bahwa Kelompok Bermain harus mendapatkan pengakuan sebagai lembaga pendidikan formal. Sehingga para pengajar juga mendapatkan hak yang sama dengan pengajar pendidikan formal guna meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Wulan.

    Acara ini dihadiri oleh sekitar 150 guru dari Kulon Progo. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani, Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen Iwan Syahril, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kulon Progo Arif Prastowo, serta perwakilan dari Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Yogyakarta dan Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Yogyakarta.

    Melalui pertemuan ini, Abdul Mu’ti berharap komunikasi yang baik dengan para guru terus berlanjut. Pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan dan memastikan bahwa pendidikan yang bermutu dapat dirasakan oleh semua anak di Indonesia, tanpa terkecuali.

  • Evaluasi Kebijakan Zonasi dan Ketersediaan Guru Jadi Fokus Pemerintah di Kabinet Merah Putih

    Evaluasi Kebijakan Zonasi dan Ketersediaan Guru Jadi Fokus Pemerintah di Kabinet Merah Putih

    Pemerintah melalui Kabinet Merah Putih periode 2024-2029 memberikan perhatian besar pada dua isu utama di bidang pendidikan, yaitu kebijakan zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dan distribusi guru di seluruh wilayah Indonesia.

    Kedua isu ini menjadi sorotan dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Kebijakan Pendidikan yang diadakan bersama para Kepala Dinas Pendidikan dari seluruh Indonesia di Jakarta, Senin (11/11).

    Wakil Presiden Gibran Rakabuming menegaskan perlunya evaluasi yang mendalam untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas kebijakan zonasi.

    Gibran mengakui bahwa kebijakan zonasi meskipun bermanfaat dalam mendekatkan siswa dengan sekolah di sekitar mereka, masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya.

    Tantangan utamanya adalah ketidakmerataan fasilitas pendidikan dan distribusi guru yang belum optimal di beberapa wilayah.

    “Zonasi, sekali lagi, ini program yang baik, tapi mungkin belum bisa diterapkan di semua wilayah,” ujarnya.

    Di rakor tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas dan akses pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Melalui kebijakan PPDB dan rekrutmen Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), ia berharap dapat mendukung pembangunan sumber daya manusia, teknologi, dan pendidikan yang menjadi visi utama dari Asta Cita ke-4, program prioritas Presiden dan Wakil Presiden.

    “Satu hal yang ingin kami tekankan pada kesempatan ini, sesuai dengan visi Kemendikdasmen yang mengacu kepada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Program Asta Cita, kami berusaha untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu untuk semua,” paparnya.

    Penyempurnaan PPDB dan Zonasi untuk Pemerataan Akses Pendidikan

    Abdul Mu’ti mengakui bahwa kebijakan PPDB berbasis zonasi masih perlu diperbaiki agar dapat memberikan akses pendidikan yang setara, adil, dan berkualitas untuk semua anak Indonesia.

    Tujuan dari kebijakan zonasi adalah untuk memastikan bahwa setiap anak bisa belajar di sekolah yang dekat dengan tempat tinggal mereka, sekaligus mengintegrasikan siswa dari berbagai latar belakang sosial dalam satu kelas.

    Diharapkan bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mendukung integrasi sosial di kalangan siswa.

    “Zonasi menjadi kebijakan strategis untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan bermutu, yang tidak jauh dari tempat tinggal. Selain itu, dengan zonasi, satu kelas terdiri atas murid-murid dari berbagai kelas sosial juga dimaksudkan agar terjadi proses integrasi sosial di antara para murid di lingkungan atau wilayah tertentu,” ujar Abdul Mu’ti.

    Namun, ia juga menegaskan bahwa tantangan yang ada, seperti distribusi guru dan fasilitas, harus ditangani agar zonasi bisa berjalan maksimal.

    Rekrutmen Guru PPPK untuk Menjamin Kualitas dan Kesejahteraan Guru

    Di sisi lain, Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya rekrutmen guru PPPK sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan guru di seluruh Indonesia.

    Melalui program ini, pemerintah berupaya menambah jumlah guru agar layanan pendidikan dapat berjalan sesuai standar kualitas yang diharapkan.

    Kemendikdasmen juga menilai bahwa rekrutmen guru PPPK dapat membantu meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya bagi mereka yang selama ini berstatus non-ASN atau honorer.

    Saat ini, proses rekrutmen guru PPPK untuk tahun 2024 sedang berlangsung.

    Meski ada target untuk mengangkat hampir 300 ribu guru menjadi ASN PPPK, pemerintah masih menghadapi kekurangan tenaga pengajar, yaitu sekitar 200 ribu dari total kebutuhan formasi guru yang mencapai 419.146.

    Untuk menutupi kekurangan ini, Kemendikdasmen akan terus melanjutkan rekrutmen guru hingga tahun 2025.

    Tantangan dalam Distribusi Guru PPPK

    Namun, Abdul Mu’ti mengungkapkan beberapa masalah yang ditemukan selama melakukan audiensi dengan organisasi penyelenggara pendidikan.

    Salah satu masalah yang muncul adalah penempatan guru PPPK yang sejauh ini hanya terbatas di sekolah negeri.

    Akibatnya, ada wilayah yang kelebihan formasi guru PPPK di sekolah negeri, sementara sekolah swasta di wilayah yang sama justru kekurangan guru.

    “Penempatan guru PPPK yang hanya di sekolah negeri  ternyata memicu masalah, yakni ada sejumlah sekolah di satu wilayah yang kelebihan formasi guru PPPK, sementara ada sekolah swasta di wilayah yang sama malah kekurangan formasi guru PPPK,” kata Abdul Mu’ti.

    Melihat kondisi ini, Kemendikdasmen mendorong pemerintah daerah untuk melakukan redistribusi guru di wilayah mereka agar pemerataan guru bisa tercapai.

    Dengan langkah ini, diharapkan bahwa tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta bisa mendapatkan dukungan tenaga pengajar yang memadai.

    Melalui kebijakan zonasi PPDB dan program rekrutmen guru PPPK, pemerintah berkomitmen untuk memberikan pelayanan pendidikan berkualitas yang merata di seluruh Indonesia.

    Abdul Mu’ti berharap bahwa langkah-langkah ini dapat menjadi solusi untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, di mana setiap anak Indonesia, tanpa memandang status sosial atau tempat tinggal, bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

  • Perkuat Posisi, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi Segera Urus Legalitas

    Perkuat Posisi, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi Segera Urus Legalitas

    Banyuwangi, sastrawacana.id/ – Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi menggelar rapat anggota pada Selasa, 12 November 2024, di Kedai Makmoer, Banyuwangi.

    Acara yang berlangsung dalam suasana santai ini dibuka oleh Sekretaris Komunitas, Qurrota A’yunin dan dipimpin oleh Ketua Komunitas, Budy Amboyna.

    Ada banyak ide serta masukan dari para anggota dalam kopi darat tersebut, salah satunya adalah memutuskan untuk segera mengurus legalitas ke Kementerian Hukum dan HAM (Menkumham).

    Keputusan itu diambil sebagai upaya untuk memperkuat posisi tawar para peternak lebah madu di wilayah Banyuwangi.

    Dari diskusi tersebut, anggota komunitas sepakat untuk melegalkan komunitas agar dapat menghadapi tekanan para cukong madu yang cenderung membeli hasil panen dengan harga sangat rendah.

    Dengan disahkannya Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), diharapkan dapat meningkatkan bargaining power (daya tawar) para peternak, sekaligus mempertahankan praktik peternakan yang sehat.

    Selain itu, komunitas juga menargetkan untuk tetap memproduksi madu murni berkualitas tinggi khas dari Banyuwangi, menjaga ekosistem, serta melindungi vegetasi bunga nektar yang berguna bagi kelangsungan lebah madu.

    Banyuwangi Memiliki Potensi

    Banyuwangi memiliki kawasan hutan terluas di Jawa Timur dengan beragam vegetasi bunga yang menjadi sumber nektar utama bagi lebah madu.

    Kondisi ini sebenarnya menjadi ‘surga’ bagi peternak lebah madu, tapi ada beberapa kendala yang dihadapi para peternak, salah satunya keterbatasan wawasan bisnis dan lingkungan sehingga membuat posisi mereka lemah.

    Selain itu, juga ada tekanan dari para cukong untuk membeli madu dengan harga murah serta persaingan dengan madu berkualitas rendah.

    Alhasil, beberapa peternak tergoda menjual madu dengan harga rendah atau mencampur madu murni dengan bahan lain sehingga dapat menurunkan citra madu Banyuwangi.

    Sebagai informasi tambahan, produksi madu murni Banyuwangi terbesar saat ini berasal dari Wongsorejo, Licin, dan Kalipuro.

    Kecamatan Wongsorejo dikenal sebagai penghasil madu bunga randu dengan aroma harum, madu vernonia, madu mangga, dan madu karet.

    Kemudian kawasan Alas Baluran juga menghasilkan madu bunga kosambi dan bidara.

    Sementara di wilayah Licin dan Kalipuro, peternak memanfaatkan vegetasi bunga kopi, mangga, dan pohon karet yang menjadi bahan baku madu.

    Harapan Dukungan dari Pemerintah Daerah

    Melihat potensi besar tersebut, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi berharap Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dapat ikut serta dalam mendukung kesejahteraan peternak lebah.

    Selain itu, komunitas juga berharap agar Pemda dapat berkolaborasi dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan yang ramah bagi lebah madu.

    Adapun dukungan tersebut bisa berupa pelestarian vegetasi, edukasi kepada para peternak, hingga pengembangan kawasan wisata bertema “Lebah dan Madu” yang tidak hanya mendukung peternak lebah, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Dengan langkah legalitas yang diambil dan harapan akan dukungan Pemda, Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi optimis untuk melangkah maju, memperkuat eksistensi dan menjaga kelestarian madu berkualitas Banyuwangi untuk masa depan yang lebih baik. (AW)

  • Mengagumkan, UNEJ Berhasil Raih Akreditasi Unggul hingga 2030

    Mengagumkan, UNEJ Berhasil Raih Akreditasi Unggul hingga 2030

    Universitas Jember (UNEJ) mendapat kado spesial di usia ke-60, dengan prestasi berhasil mempertahankan akreditasi Unggul hingga tahun 2030.

    Pengumuman tersebut disampaikan oleh Rektor UNEJ, Iwan Taruna, saat memimpin upacara peringatan Dies Natalis ke-60 yang berlangsung di lapangan kampus Tegalboto pada 10 November 2024.

    Iwan Taruna menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras dan semangat gotong royong seluruh civitas akademika UNEJ.

    Keberhasilan ini membuktikan bahwa UNEJ tidak hanya mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain di Indonesia, tetapi juga menunjukkan kualitas yang diakui secara nasional.

    Bahkan, pada pemeringkatan Times Higher Education World University Ranking (THE WUR) 2025, UNEJ berhasil menempati posisi kesepuluh di antara seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia.

    “Alhamdulillah, menapaki usia ke enam puluh tahun, UNEJ berhasil meraih banyak prestasi. Salah satunya dengan keberhasilan mempertahankan akreditasi Unggul hingga tahun 2030. Terima kasih atas kerja sama dan gotong royong yang sudah ditunjukkan semua pihak di UNEJ. Mari pertahankan dan tingkatkan pencapaian ini mengingat tantangan ke depan makin kompleks,” ungkap Iwan Taruna dalam sambutannya.

    Rektor UNEJ ini juga mengajak seluruh keluarga besar universitas untuk menjadikan peringatan Dies Natalis ke-60 sebagai momen refleksi dan evaluasi diri.

    Ia menekankan pentingnya semangat berinovasi dan kreativitas di dunia pendidikan tinggi agar UNEJ dapat terus memberikan kontribusi positif bagi Indonesia, sesuai dengan tema peringatan kali ini, “UNEJ Unggul Menyongsong Indonesia Emas.”

    Iwan Taruna mengingatkan bahwa perjuangan UNEJ dimulai dari kerja keras para pendahulu, seperti Triumvirat dr. R. Achmad, R. Th. Soengedi, dan R. Mas Soerachman yang bersama Bupati Jember pada masa itu, R. Soedjarwo, berjuang keras untuk mendirikan perguruan tinggi di wilayah yang terbilang terpencil.

    Meskipun usaha mereka awalnya diremehkan, berkat semangat persatuan dan gotong royong, UNEJ akhirnya berdiri dan berkembang pesat.

    “Marilah kita terus bersyukur dan melanjutkan perjuangan mereka,” tutup Iwan Taruna.

    Setelah upacara, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Slamin, menjelaskan bahwa keputusan UNEJ mempertahankan akreditasi Unggul tertuang dalam Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor 2719/BAN-PT/PMT1/2024 yang diterbitkan pada 5 November 2024.

    Dalam surat tersebut, BAN-PT menyatakan bahwa UNEJ telah memenuhi sepuluh persyaratan yang ditetapkan, seperti jumlah mahasiswa baru, rasio dosen dengan mahasiswa, jumlah dosen bergelar doktor, dan tingkat kelulusan tepat waktu, sehingga berhak mendapatkan akreditasi Unggul hingga 5 Juli 2030.

  • Sinergi Posyandu Gelatik dan TBM Al Djawahir, Langkah Nyata Membangun Masyarakat Sehat dan Cerdas

    Sinergi Posyandu Gelatik dan TBM Al Djawahir, Langkah Nyata Membangun Masyarakat Sehat dan Cerdas

    Setiap bulan di hari Rabu pada pekan pertama, kegiatan posyandu Gelatik digelar di Taman Baca Masyarakat (TBM) Al Djawahir yang turut melibatkan petugas kesehatan dari Puskesmas Gambiran.

    Acara dipimpin oleh Hendri Kusniawati, bidan wilayah Dusun Krajan II Desa Gambiran yang didampingi oleh perawat wilayah, Sutikno, serta bidan Nur Handiyah dan bidan Rista.

    Rangkaian kegiatan posyandu mencakup pemeriksaan kesehatan bayi, balita, ibu hamil, remaja, dan lansia. Selain itu, terdapat pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita.

    Pada hari ini, Rabu (6/11), PMT disediakan dengan menu nugget ikan laut yang kaya gizi.

    Total terdapat 28 balita dari RT 01 dan RT 02 RW 06 Dusun Krajan II yang mendapatkan layanan kesehatan.

    Untuk pemeriksaan kesehatan lansia, diadakan pengecekan tekanan darah dan gula darah, dengan sekitar 15 orang yang hadir untuk menerima layanan tersebut.

    Acara ini juga turut dihadiri oleh Kepala Puskesmas Gambiran, dr. Yos.

    Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan tips sehat CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin berolahraga, Diet sehat gizi seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres).

    Menurut dr. Yos, tips CERDIK tidak hanya sebagai panduan kesehatan bagi lansia, namun juga langkah preventif untuk menghindari penyakit menular.

    Para ibu aktivis lingkungan juga turut berperan dalam kegiatan posyandu ini, diantaranya Sulastri, Reni Maulida, Umi Alifah, Siti Aminah, dan Triya Eli Farida.

    Siti Aminah yang juga menjabat sebagai Bu RT 02 mengungkapkan rasa syukurnya terhadap partisipasi masyarakat sekitar yang telah mendukung kegiatan Posyandu.

    “Alhamdulillah, partisipasi masyarakat di posyandu Gelatik ini sangat bagus, sehingga kesehatan masyarakat bisa di RT 01 dan RT 02 RW 06 Dusun Krajan ll Desa Gambiran ini bisa terpantau,” paparnya.

    Etik Dwi Sukmawati yang merupakan istri dari Sekdes Gambiran menyampaikan harapannya atas perpindahan lokasi posyandu dari rumahnya ke Taman Baca Masyarakat Al Djawahir.

    Menurutnya, kolaborasi ini berdampak positif karena para orang tua yang mengantarkan anaknya untuk pemeriksaan kesehatan juga dapat membaca buku di TBM Al Djawahir.

    “Dengan dipindahkannya tempat posyandu yang dulu di rumahnya ke Taman Baca Masyarakat Al Djawahir ini bisa menjadi kolaborasi positif, yang mana para orang tua yang mengantarkan anaknya untuk periksa kesehatan juga membaca buku di Taman Baca Masyarakat Al Djawahir. Jadi bisa dapat sehat juga dapat ilmu pengetahuan baru” ungkap Etik yang juga merupakan ibu dari tiga anak.

    Selain kegiatan posyandu, TBM Al Djawahir juga menyelenggarakan kegiatan belajar agama pada malam Rabu dan Jumat.

    Kegiatan ini diikuti oleh 16 guru ngaji yang tergabung dalam Korwil 1 yang saat ini mencakup wilayah Gambiran dan Genteng.

    Bapak Djawahir, selaku penasihat TBM Al Djawahir, menyatakan kegembiraannya atas kegiatan yang diadakan di taman baca tersebut.

    Beliau berharap agar kegiatan seperti ini terus berlanjut dan TBM Al Djawahir semakin sering mengadakan kegiatan yang bermanfaat bagi umat. (Dafiq)

  • Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pemilu Ramah Difabel Bareng Komunitas Aura Lentera

    Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pemilu Ramah Difabel Bareng Komunitas Aura Lentera

    Bawaslu Kabupaten Banyuwangi adakan sosialisasi partisipasi pemilu bagi penyandang disabilitas di Hotel El Royal Banyuwangi, pada Minggu (3/11/24).

    Gelaran ini bertujuan untuk memastikan kesetaraan hak politik bagi para difabel dalam pilkada 27 November mendatang.K

    Komisioner Bawaslu Kabupaten Banyuwangi, Khomisa Kurnia Indra membuka acara yang dihadiri oleh organisasi difabel diantaranya DMI, PPDI, Pertuni, Difawangi, HWDI, Gerkatin, INAF, Taliwangi, Aura Lentera, serta media komunitas pendukung difabel, yaitu JRKBB dan JRKI.Y

    Yel-yel “Setara untuk Indonesia Jaya” disampaikan juga dalam bahasa isyarat yang dipimpin oleh Divisi Program Komunitas Aura Lentera Indah Catur Cahyaningtyas dengan penerjemah bahasa isyarat Firdaus.

    Kehadiran Firdaus memastikan seluruh peserta difabel tuna rungu dapat mengikuti sosialisasi dengan baik.

    Materi utama disampaikan oleh Indah Catur Cahyaningtyas, aktivis difabel yang pernah jadi PPK Banyuwangi dah Caleg Dapil 1 yang mengajak peserta memahami hak politik mereka.

    Indah menegaskan pentingnya partisipasi difabel dalam pemilu untuk menentukan arah pembangunan daerah.

    Selain itu, ia menyoroti perlunya Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ramah difabel agar akses pemilih difabel lebih mudah.

    Dalam sesi diskusi interaktif, ia mengajak peserta berbagi pengalaman tentang kendala yang pernah dihadapi dalam pemilu sebelumnya sebagai bahan evaluasi bagi Bawaslu untuk perbaikan di masa depan.

    Di akhir sesi tanya jawab, Windoyo, Ketua Aula Lentera menyampaikan apresiasinya dan berharap agar Bawaslu memberikan dukungan penuh terhadap hak politik difabel.

    “Kami berharap Bawaslu bareng KPUD benar-benar memperhatikan kebutuhan difabel dalam pemilu kali ini,” paparnya.

    Sosialisasi ini menunjukkan komitmen Bawaslu Banyuwangi dalam menciptakan pemilu yang inklusif dan merata bagi seluruh warga, tanpa terkecuali.

    Kami ingin partisipasi pemilih meningkat dan berkualitas sesuai regulasi serta damai hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara saling sinergi dan peduli tanpa melihat perbedaan yang ada,” tutur pimpinan sekretariat Banwaslu Abdul Aziz,SH,MH. (AW/AWN)