Kategori: Berita

  • Polresta Banyuwangi Gelar Sarasehan Bersama Media untuk Wujudkan Kondusifitas Jelang Pilkada 2024

    Polresta Banyuwangi Gelar Sarasehan Bersama Media untuk Wujudkan Kondusifitas Jelang Pilkada 2024

    Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., menyelenggarakan sarasehan yang melibatkan ratusan jurnalis dari berbagai media di Warung Seblang, Kecamatan Singojuruh, Senin (28/10/2024).

    Tujuan utama acara ini adalah mempererat kolaborasi antara Polresta Banyuwangi dengan media demi menciptakan situasi keamanan yang kondusif di wilayah Banyuwangi, terutama menjelang pelaksanaan Pilkada 2024.

    Dalam sambutannya, Kombes Pol Rama menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian dan media sebagai salah satu upaya menjaga keamanan wilayah Banyuwangi. Ia memulai dengan apresiasi bagi rekan-rekan media yang bersedia hadir.

    “Saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan media yang sudah meluangkan waktu hadir di sini. Kegiatan ini menunjukkan komitmen kita untuk membangun komunikasi yang baik dan efektif dalam menjalankan tugas kita masing-masing,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Kombes Pol Rama menyampaikan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri oleh kepolisian. Dukungan dan sinergi dengan media adalah kunci utama keberhasilan tugas ini.

    “Kami dari Polresta Banyuwangi sebagai penanggung jawab keamanan tentu tidak dapat bekerja sendiri. Kami butuh bantuan dan dukungan dari teman-teman awak media,” katanya tegas.

    Dalam kesempatan tersebut, Kombes Pol Rama mengingatkan pentingnya media untuk menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan menyejukkan.

    Ia berharap pemberitaan yang disampaikan tidak memancing konflik atau provokasi yang dapat memicu situasi tidak kondusif di masyarakat.

    “Saya berharap media di Banyuwangi bukan hanya menyajikan berita yang akurat dan faktual, tetapi juga memberikan kesejukan, tidak justru memprovokasi yang membuat kondisi tidak kondusif,” jelasnya.

    Ia mengajak seluruh awak media untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif di Banyuwangi, terutama menjelang Pilkada 2024. Kolaborasi ini diharapkan bisa menjamin pelaksanaan Pilkada yang aman dan damai.

    “Saya sangat berharap sinergitas antara Polresta Banyuwangi dengan teman awak media, mari kita bergandengan tangan. Saya kira kita semua sepakat, kita semua berkomitmen bagaimana Pilkada 2024 ini dapat berjalan aman, kondusif, dan lancar,” tutup Kombes Pol Rama.

    Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa Polresta Banyuwangi berkomitmen merangkul seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri dan menjaga keamanan serta ketertiban di Banyuwangi.

    Warung Seblang di Kecamatan Singojuruh dipilih sebagai lokasi acara karena memiliki suasana nyaman yang mendukung terciptanya komunikasi yang santai namun mendalam antara kepolisian dan media.

    Sarasehan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara Polresta Banyuwangi dan awak media, sehingga kolaborasi yang lebih solid dan efektif dapat terjalin dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Banyuwangi menjelang Pilkada 2024.

  • Semarak Sumpah Pemuda ke-96, MI Darun Najah II Gelar Pagelaran Seni dan Pakaian Adat

    Semarak Sumpah Pemuda ke-96, MI Darun Najah II Gelar Pagelaran Seni dan Pakaian Adat

    MI Darun Najah II Banyuwangi menggelar peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96 pada Senin (28/10/24), melibatkan guru, komite, dan seluruh siswi di halaman madrasah.

    Acara ini dihadiri ratusan peserta yang kompak mengenakan pakaian adat Nusantara.

    Peringatan ini diisi dengan pagelaran seni oleh tiap kelas, mengedepankan pendidikan karakter dan literasi tingkat sekolah dasar, sekaligus memperkenalkan keragaman budaya Indonesia.

    Para siswa belajar tentang suku-suku bangsa melalui pakaian adat, bahasa, dan makanan khas daerah.

    Sekitar 250 siswa dan anggota paguyuban terlibat aktif dalam mengenang perjuangan para pemuda dari Jong Jawa, Aceh, Batak, Celebes, Bali, dan suku-suku lain dalam merintis kemerdekaan.

    Kegiatan ini ditandai dengan pembacaan deklarasi Sumpah Pemuda dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

    Seluruh peserta mengenakan pakaian adat dari Sabang hingga Merauke, menciptakan suasana seperti karnaval kebangsaan.

    Kepala MI Darun Najah II Banyuwangi, Majidatul Himmah, S.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah yang membangkitkan semangat kebangsaan untuk melawan penjajahan.

    Ia menekankan bahwa karakter tidak bisa dibentuk secara instan, namun membutuhkan media yang mendukung, salah satunya melalui kegiatan yang menyenangkan seperti ini.

    “Pembentukan karakter tidak bisa dipaksa, namun perlu media yang membantu dalam pemantauan karakter berupa media yang menyenangkan. Kegiatan ini merupakan wujud dari semangat generasi emas dalam kebhineka tunggal ika,” ujarnya.

    Ia juga menunjukkan sikap cinta lingkungan adi wiyata, cinta iqro’ manual dan literasi digital, serta cinta sesama sebagai warga wilayah yang harmoni dan welas asih.

    Acara pentas seni berlangsung meriah, dipandu oleh Azzam Muslich, menampilkan tari tradisional, peragaan pakaian adat, kuliner khas daerah, dan puisi berbahasa Using.

    Ada pula drama musikal bertema “Banyuwangi: Indonesia Mini” yang disutradarai Bung Aguk Darsono dari Sanggar Merah Putih’45 serta pantomim arahan Kang Mun’im, pelatih ekstra kurikuler puisi, drama, menyanyi, bercerita, dan pantomim.

    Program lainnya termasuk MTQ, mewarnai, kaligrafi, olimpiade, dan unggulan Hafidz.

    Setiap peringatan Maulid Nabi dan Hari Pahlawan, madrasah ini juga mengadakan lomba seperti qishah Rasulullah, pildacil, nasyid, dan baca puisi.

    Sebagai penutup, para ibu dari paguyuban, didukung komite dan guru, mempersembahkan tari “Ampar-Ampar Pisang” untuk memeriahkan peringatan Hari Sumpah Pemuda. (Q’Nin/Aguk)

  • Podcast Dzarra Ungkap Rahasia Menjadi Penulis Bersama Andi Budi Setiawan

    Podcast Dzarra Ungkap Rahasia Menjadi Penulis Bersama Andi Budi Setiawan

    Podcast Dzarra yang semakin dikenal publik kembali hadir dengan episode terbarunya yang mengangkat tema menarik, “Bongkar Rahasia untuk Jadi Penulis.”

    Episode spesial ini mengundang penulis asli Banyuwangi, Andi Budi Setiawan, S.Pd., yang dikenal dengan nama pena Penapanuluh, untuk berbagi pengalaman dan rahasia sukses di dunia kepenulisan.

    Disiarkan pada Jumat, 25 Oktober 2024, acara ini dipandu oleh pembawa acara kondang, Heri Iskandar alias Kang Dzaka yang membawa suasana podcast menjadi penuh inspirasi dan kehangatan.

    Kang Dzaka membuka acara dengan antusiasme tinggi, memperkenalkan sosok Andi yang telah lama berkecimpung di dunia literasi.

    Ia melontarkan beragam pertanyaan untuk menggali lebih dalam perjalanan Andi hingga menjadi seorang penulis yang produktif.

    Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah bagaimana cara seseorang dapat menjadi penulis serta memiliki karya yang orisinal.

    Menanggapi pertanyaan ini, Andi menyampaikan bahwa menulis bukanlah aktivitas yang bisa dipaksakan.

    “Menulis adalah bagian dari intuisi dan naluri kreatif yang muncul melalui intuisi. Ketika hati dan pikiran selaras, inspirasi datang begitu saja,” ujar Andi.

    Dalam podcast tersebut, Andi juga berbagi kisah bahwa ketertarikannya pada dunia literasi sudah tumbuh sejak kecil

    Menceritakan pengalamannya, Andi mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap buku dan tulisan semakin tumbuh seiring berjalannya waktu.

    “Sejak kecil, saya sudah tertarik pada dunia kata-kata. Dari membaca buku hingga menulis puisi, saya merasa menemukan diri saya di dalamnya,” ungkapnya.

    Kang Dzaka tidak berhenti hanya pada tanya jawab seputar kepenulisan. Di tengah acara, ia memberikan tantangan kepada Andi untuk membacakan salah satu puisi dalam buku terbarunya yang berjudul Eunoia Sangkakala.

    Dengan penuh penghayatan, Andi menerima tantangan tersebut dan membacakan sebuah puisi yang menggambarkan makna mendalam tentang kehidupan.

    Suara Andi yang lantang dan berirama mampu membuat suasana podcast semakin hidup, membangkitkan semangat para pendengar untuk lebih mendalami karya-karya lokal yang penuh nilai.

    Namun, tidak berhenti sampai di situ, giliran Andi yang balik menantang sang pembawa acara.

    Mengetahui bahwa Kang Dzaka adalah seorang pencipta lagu sekaligus penyanyi, Andi meminta Kang Dzaka untuk menyanyikan sebuah lagu secara langsung di hadapan para pendengar.

    Tanpa ragu, Kang Dzaka menyambut tantangan tersebut dan membawakan sebuah lagu ciptaannya, menambah keseruan dan variasi dalam episode ini.

    Podcast Dzarra kali ini tidak hanya memberikan wawasan bagi para penulis pemula tetapi juga menyuguhkan hiburan yang menarik bagi semua kalangan.

    Kesuksesan episode ini membuktikan bahwa dengan pembawaan yang hangat serta interaksi yang inspiratif, podcast dapat menjadi medium yang efektif untuk membangkitkan semangat literasi di kalangan masyarakat.

  • Sudah 10 Tahun Berlangsung, Lebih dari 3 Ribu Warga Banyuwangi Terima Fasilitas Operasi Katarak Gratis

    Sudah 10 Tahun Berlangsung, Lebih dari 3 Ribu Warga Banyuwangi Terima Fasilitas Operasi Katarak Gratis

    Kabupaten Banyuwangi kembali melaksanakan program operasi katarak gratis yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai hari Selasa, 22 Oktober 2024.

    Program ini merupakan pelaksanaan kedua untuk tahun ini sekaligus menandai genap satu dekade program ini berlangsung.

    Operasi katarak gratis diadakan di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Banyuwangi yang berlokasi di Jalan Kartini.

    Kegiatan ini diselenggarakan berkat kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, PMI Banyuwangi, John Fawcett Foundation, serta berbagai lembaga donor lainnya.

    Plt. Bupati Banyuwangi, Sugirah, mengungkapkan bahwa target pada pelaksanaan kali ini adalah sebanyak 300 orang yang akan menjalani operasi katarak gratis.

    Selain operasi katarak, program ini juga mencakup pemberian kacamata gratis untuk sekitar 800 orang, layanan pengobatan mata gratis bagi 500 orang, pemeriksaan mata gratis di sekolah untuk 300 siswa, serta pemasangan bola mata gratis untuk sejumlah orang.

    “Ini merupakan tahun kesepuluh pelaksanaan operasi katarak gratis di Banyuwangi. Alhamdulillah setiap pelaksanaan, pesertanya selalu membeludak,” ujar Sugirah.

    Program operasi katarak gratis pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014, dan saat itu kegiatan ini diadakan setahun sekali.

    Namun, karena tingginya minat, frekuensi pelaksanaannya ditingkatkan menjadi dua kali dalam setahun.

    “Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya sekali tidak digelar, yaitu ketika Covid-19,” jelas Plt. Ketua PMI Banyuwangi, Nurhadi.

    Nurhadi menambahkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari 3.840 orang telah menerima operasi katarak gratis.

    Sementara itu, jumlah warga yang mendapatkan pemasangan bola mata palsu secara gratis mencapai lebih dari 150 orang.

    Lebih jauh lagi, pemberian kacamata gratis telah menjangkau lebih dari 13.700 orang dengan pengobatan mata gratis mencakup lebih dari 7.000 orang dan pemeriksaan mata bagi anak sekolah mencapai lebih dari 6.800 siswa.

    Untuk pelaksanaan kali ini, sebanyak delapan dokter mata dan puluhan tenaga kesehatan lainnya ditugaskan untuk memberikan layanan.

    “Saya sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan kali ini,” lanjut Nurhadi.

    Salah satu pasien operasi katarak gratis, Kiran, yang berusia 70 tahun, mengungkapkan rasa senangnya bisa berpartisipasi dalam program ini.

    Sebelumnya, untuk menjalani operasi katarak secara mandiri, ia harus mengeluarkan biaya mencapai beberapa juta rupiah.

    “Senang di sini bisa gratis,” kata Kiran.

    Kiran mengalami katarak di mata sebelah kiri dan berharap setelah dioperasi, penglihatannya dapat membaik sehingga ia bisa kembali beraktivitas secara normal.

  • Halaqoh di Banyuwangi Memperkuat Nilai Pancasila Melalui Organisasi Keagamaan

    Halaqoh di Banyuwangi Memperkuat Nilai Pancasila Melalui Organisasi Keagamaan

    Dalam upaya memperkuat peran serta organisasi keagamaan dalam membangun karakter bernegara yang berlandaskan ideologi Pancasila, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi mengadakan halaqoh dengan tema “Peran Organisasi Keagamaan dalam Membangun Karakter Bernegara dengan Ideologi Pancasila” di Hallroom El-Hotel pada Selasa (22/10/2024).

    Halaqoh ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya, di antaranya Drs. Nur Chozin, S.H., M.H.I. dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyuwangi, serta K.H. Sholehuddin dari Pondok Pesantren Al Qibtiyah Tugung, Kecamatan Sempu.

    Acara dibuka oleh Plt. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, M.Si., yang turut memberikan pandangannya terkait peran strategis organisasi keagamaan dalam menjaga ideologi Pancasila di tengah keberagaman.

    Drs. R. Agus Mulyono, M.Si. menambahkan pentingnya sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan dalam memupuk kesadaran kebangsaan.

    “Kesatuan dan persatuan bangsa ini harus terus dijaga. Organisasi keagamaan bisa menjadi mitra pemerintah dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat luas,” tegasnya.

    Abdul Aziz selaku moderator, yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyuwangi, menegaskan pentingnya peran organisasi keagamaan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila sebagai falsafah hidup bernegara.

    “Peran organisasi keagamaan sangat strategis dalam membentuk karakter bangsa yang cinta tanah air dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila,” ungkapnya.

    Drs. Nur Chozin dalam pemaparannya menekankan bahwa Pancasila merupakan dasar yang mengakomodasi seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan.

    “Pancasila menjadi jembatan penghubung yang mampu merangkul semua kalangan, baik itu agama, budaya, maupun suku bangsa. Melalui organisasi keagamaan, kita bisa memperkuat peran Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Nur Chozin menyampaikan tentang pentingnya moderasi beragama dalam berbangsa dan bernegara.

    “Empat indikator moderasi beragama adalah komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi,” katanya.

    Ia juga menekankan pentingnya mentaati kesepakatan bersama yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa yang dituangkan dalam konstitusi.

    Sementara itu, K.H. Sholehuddin dari Pondok Pesantren Al Qibtiyah Tugung mengajak peserta halaqoh untuk meneladani nilai-nilai kebhinekaan dalam Islam yang sejalan dengan Pancasila.

    “Dalam organisasi, ditekankan pemahaman persamaan hak dalam berdemokrasi,” paparnya.

    Lebih lanjut, Sholehuddin menyampaikan bahwa jiwa organisasi harus memiliki sikap kemandirian dan bukan mencari keuntungan pribadi dari organisasi keagamaan.

    Acara halaqoh ini dihadiri oleh berbagai organisasi keagamaan Islam di Kabupaten Banyuwangi yang aktif berpartisipasi dalam diskusi yang hangat dan produktif.

    Diharapkan melalui kegiatan ini, organisasi keagamaan semakin aktif dalam memperkokoh nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. (ISNU)

  • Resmi, Motif Batik Gajah Oling Jadi Kekayaan Intelektual Banyuwangi

    Resmi, Motif Batik Gajah Oling Jadi Kekayaan Intelektual Banyuwangi

    Motif batik Gajah Oling yang merupakan ciri khas Banyuwangi kini resmi terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal (KIK) setelah menerima surat pencatatan dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

    Motif Gajah Oling diakui sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asli dari Banyuwangi.

    “Kita semua sangat bersyukur. Motif batik Gajah Oling sudah sah secara hukum diakui berasal dari Banyuwangi. Kita akan terus dorong motif-motif batik lain untuk segera dicatatkan pula,” ujar Plt. Bupati Banyuwangi, Sugirah, pada Minggu (20/10/2024).

    Gajah Oling merupakan salah satu dari sekian banyak motif batik yang ada di Banyuwangi, dan motif ini dianggap paling terkenal di antara yang lainnya.

    Gajah Oling menggambarkan kombinasi antara elemen gajah dan uling yang merupakan sejenis belut.

    Terdapat beberapa interpretasi mengenai makna dari motif ini, namun yang paling dikenal adalah sebagai simbol pengingat akan Tuhan.

    Kata “Oling” berasal dari istilah “iling,” yang berarti ingat, sementara gajah melambangkan kekuatan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

    Sugirah menambahkan bahwa pengakuan terhadap motif Gajah Oling ini menunjukkan bahwa batik telah lama menjadi bagian integral dari seni dan budaya Banyuwangi.

    Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan lainnya memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melestarikan batik di wilayah mereka.

    Salah satu inisiatif pemerintah daerah dalam melestarikan batik adalah melalui Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang merupakan contoh nyata komitmen pemkab untuk mengembangkan industri batik di Banyuwangi.

    Pada tahun 2024, BBF akan menampilkan salah satu motif batik tradisional, yakni Jenon.

    Sebelumnya, festival ini telah mengangkat beberapa motif lainnya, termasuk Gajah Oling, Galaran, Sembruk Cacing, Gedekan, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Jajang Sebarong, hingga Sekar Jagad Blambangan.

    “Satu persatu setiap tahunnya motif-motif khas Banyuwangi kita angkat dalam BBF mulai tahun 2013. Diawali dari Gajah Oling, lalu Kangkung Setingkes, Paras Gempol, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, hingga tahun ini Jenon. Ini adalah kekayaan warisan leluhur yang harus kita jaga, lestarikan, dan kembangkan,” tambah Sugirah.

    Keberagaman motif batik yang dimiliki akan terus didorong dan difasilitasi oleh pemerintah daerah untuk mendapatkan pengakuan sebagai kekayaan intelektual komunal dari Kemenkumham.

    “Ke depan pemkab akan terus mengupayakan pengakuan hukum atas keanekaragaman budaya Banyuwangi, termasuk motif batik khas-nya,” tegasnya.

  • FKKS Srono Perkuat Relawan Sehat dan Ajak Generasi Muda Berperan Aktif

    FKKS Srono Perkuat Relawan Sehat dan Ajak Generasi Muda Berperan Aktif

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Srono memperkuat kelembagaan dengan melakukan penyegaran pengurus dan merekrut kader generasi muda sebagai relawan di Pokja Desa Sehat.

    Langkah ini diputuskan dalam pertemuan dengan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang digelar di Balai Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, pada Jumat (18/10).

    Dewi Anggorowati, perwakilan dari Forum Banyuwangi Sehat menyampaikan pentingnya mendokumentasikan serta memberi narasi kegiatan sesuai tupoksi yang ada.

    Dalam paparannya, ia menjelaskan 9 tatanan kabupaten sehat, yang menjadi pedoman FKKS dan Pokja Sehat dalam menjalankan program.

    “Setelah ini, silakan laporkan hasil rembuk ini kepada kepala desa agar segera ditindaklanjuti,” ujar Dewi, yang juga merupakan pengurus TP PKK Banyuwangi.

    Menindaklanjuti paparan tersebut, Sekretaris Camat Srono, Suryatik S, SE, serta Kasie PMD Imam Basori, S.Sos, mengimbau kepada sekretaris desa dan kesra di masing-masing desa untuk segera membuat SK pengurus Pokja Sehat yang baru, mengingat masa bakti pengurus saat ini segera berakhir.

    Menurut mereka, pengurus baru harus mencakup perwakilan ASN atau perangkat desa, serta melibatkan tokoh masyarakat, LSM peduli lingkungan dan kesehatan, aktivis pemuda, serta mahasiswa.

    Ketua FKKS Srono, Drs. Heri Suprianto yang juga memiliki galeri batik di Wagud Kebaman, menyampaikan pentingnya peran desa dalam melaporkan kegiatan ke kecamatan.

    “Tanpa gerakan desa, kecamatan tidak punya data untuk dilaporkan ke FBS,” ujarnya.

    Heri menambahkan bahwa calon pengurus baru yang terpilih merupakan orang-orang yang cerdas di bidang teknologi informasi, pelaku UMKM online, serta aktif dalam kegiatan kepemudaan dan keagamaan.

    Heri juga menyampaikan kebanggaannya terhadap aspirasi Ketua Pokja Desa Sehat dari beberapa desa, seperti Siti Romlah dari Kepundungan, Nur Azizah dari Parijatah Wetan, dan Fitroh dari Sukamaju, yang mendapat apresiasi dari FBS sebelum pandemi.

    Camat Srono, Ir. Tri Wahyu Angembani, yang membuka acara, menegaskan bahwa sekretariat FKKS sudah siap beroperasi di rumah joglo yang berdampingan dengan Panti PKK.

    Ia berharap FKKS dan Pokja Desa Sehat dapat berperan aktif dalam menangani masalah lingkungan, seperti darurat sampah, serta mempromosikan budaya hidup sehat.

    “Kami berterima kasih kepada semua kader posyandu, KB, PKK, KPM, dan semua pihak yang mendukung berbagai program daerah maupun kementerian,” ujar Tri Wahyu.

    Ia juga berharap FBS dapat menjadi mediator untuk berkolaborasi dengan SKPD dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan 9 tatanan kabupaten sehat.

    Di akhir acara, Tri Wahyu turut pamitan sebagai Plt Camat Cluring, mengingat ia akan terlibat dalam kerja bakti kebersihan sungai dan pasar sebagai persiapan Festival Batik yang akan digelar di Destinasi Wisata Djawatan pada 18-19 Oktober 2024.

  • UNESCO Nobatkan Rabat Maroko sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026

    UNESCO Nobatkan Rabat Maroko sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026

    Ibu kota Maroko, Rabat, telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai Ibu Kota Buku Dunia untuk tahun 2026.

    Penghargaan ini tidak hanya menjadi prestasi bagi kota tersebut, tetapi juga mencerminkan pertumbuhan pesat industri buku lokal.

    Perlu diketahui, Rabat memiliki 54 penerbit yang aktif beroperasi dan dikenal sebagai tuan rumah pameran buku internasional terbesar ketiga di seluruh Afrika.

    Dengan pengakuan ini, diharapkan perekonomian kota akan semakin berkembang dan akses terhadap pengetahuan menjadi lebih merata di kalangan masyarakat.

    Sebelum Rabat terpilih, gelar Ibu Kota Buku Dunia telah diberikan kepada Rio de Janeiro di Brasil untuk tahun 2025 dan Strasbourg di Prancis untuk tahun 2024.

    Kota-kota ini bertugas untuk mempromosikan literasi dan buku kepada masyarakat di semua kalangan dan usia, baik di tingkat lokal maupun internasional.

    Rabat: Pusat Pengembangan Sastra dan Literasi

    Keputusan UNESCO untuk menobatkan Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia didasarkan pada komitmen kota ini terhadap pengembangan industri buku.

    Selain itu, Rabat menunjukkan perhatian yang besar terhadap pemberdayaan perempuan dan pemuda melalui membaca serta upaya untuk mengurangi angka buta huruf.

    Semua ini sejalan dengan inisiatif nasional dan pertumbuhan industri penerbitan yang semakin berkembang.

    Sejak inisiatif ini diluncurkan pada tahun 2001, Rabat menjadi kota ke-26 yang mendapatkan penghargaan.

    Kota ini memiliki rencana ambisius untuk meluncurkan berbagai program yang bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta memperkuat sektor penerbitan lokal.

    Selain itu, peningkatan literasi bagi seluruh warga negara juga akan menjadi fokus utama.

    Rabat dijadwalkan untuk secara resmi memulai perannya sebagai Ibu Kota Buku Dunia pada 23 April 2026, bersamaan dengan peringatan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia.

    Industri buku di Rabat tidak hanya berfungsi sebagai bagian penting dari ekonomi kreatif kota, tetapi juga berperan dalam mendemokratisasi pengetahuan.

    Dengan kehadiran 54 penerbit, pameran buku internasional terbesar ketiga di Afrika, serta meningkatnya jumlah toko buku, Rabat berada di jalur yang tepat untuk menjadi pusat literasi yang lebih inklusif.

    Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, menekankan bahwa Rabat telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap kemajuan literasi.

    Dia mencatat pentingnya pemberdayaan perempuan dan pemuda melalui membaca serta usaha melawan buta huruf di komunitas yang kurang terlayani.

    Dengan pengakuan ini, Rabat diharapkan dapat memfasilitasi pertumbuhan komunitas sastra yang lebih dinamis dan inklusif, memberikan kontribusi signifikan terhadap dunia literasi di tingkat global.

  • Gus Makki Ikut Lomba Mancing, Serap Aspirasi Rakyat di Kolam Pemancingan

    Gus Makki Ikut Lomba Mancing, Serap Aspirasi Rakyat di Kolam Pemancingan

    Calon Bupati Banyuwangi nomor urut 2, Ali Makki atau yang akrab disapa Gus Makki mengikuti lomba memancing ikan lele di kolam pemancingan Lingkungan Payaman, Kecamatan Giri, pada Minggu (13/10/2024).

    Dalam acara yang dihadiri ratusan warga ini, Gus Makki terlihat akrab berbaur dengan para peserta, mulai dari komunitas pemancing lokal hingga warga dari berbagai daerah di Banyuwangi.

    Sebagai bagian dari agenda kampanyenya, Gus Makki memilih pendekatan yang santai dan unik untuk lebih dekat dengan masyarakat.

    Ia tidak hanya berkompetisi dalam lomba memancing tetapi juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mendengarkan langsung berbagai aspirasi warga terkait isu-isu yang tengah dihadapi.

    Dalam momen lomba tersebut, Gus Makki berhasil menangkap ikan lele berukuran besar yang langsung disambut sorak-sorai warga.

    “Ini bukan hanya soal mancing, tapi juga cara kita bersilaturahmi, berbagi cerita, dan mendengarkan apa yang masyarakat rasakan. Insya Allah, jika nanti diberi amanah, kita akan bersama-sama membangun Banyuwangi Hebat dan Rakyat Bahagia” tutur Gus Makki.

    Gus Makki yang maju sebagai calon bupati nomor urut 2, dikenal dengan pendekatan kampanye yang kreatif dan penuh kehangatan.

    Keikutsertaannya dalam lomba mancing ini juga memperlihatkan kesederhanaannya dan menambah daya tarik bagi pemilih.

    Menurut pengelola kolam, Jam’i, lomba memancing yang diadakan rutin setiap minggu ini selalu diikuti oleh warga dari berbagai pelosok Banyuwangi.

    Ia menyatakan bahwa komunitas pemancing sangat berharap pada perubahan kepemimpinan.

    “Kalau komunitas mancing menginginkan perubahan pengganti dinasti. Pokoknya Gus Makki menang,” ungkap Jam’i.

    Selain menghibur warga, acara ini juga diharapkan bisa mempererat hubungan antara calon pemimpin dengan masyarakat, sekaligus menjadi sarana komunikasi yang efektif di tengah memanasnya situasi politik menjelang pemilihan.

  • Membanggakan, Difabel Berkompetisi di Peparkab II Banyuwangi 2024 dengan Penuh Antusias

    Peparkab II kabupaten Banyuwangi sukses dihelat NPCI Banyuwangi hari ini (10/10/2024) bertempat di GOR Tawangalun.

    Tercatat ratusan peserta mulai Jenjang SDLB 145 peserta dan umum 185 peserta tersebar di cabang lomba Lompat jauh, Bulu tangkis, Lempar Lembing, Tolak Peluru, Catur, Tenis Meja, dan Lari.

    Peni Munawaroh, S.Pd., Ketua NPCI Banyuwangi berharap peningkatan pertumbuhan atlet di Banyuwangi.

    “Saya berharap semoga Peparkab II ini bisa menumbuhkan atlit-atlit paralimpian yang berbakat sehingga kami dapat membawa mereka ke ajang yang lebih tinggi lagi seperti di Peparprov (Pekan Paralimpik Provinsi) dan Peparda (Pekan Paralimpik Daerah) untuk Paralimpian usia sekolah,” ujar Peni.

    Peni mengapresiasi dukungan pemerintah kepada paralimpian di Banyuwangi.

    “Kami merasa dukungan pemerintah kabupaten Banyuwangi khususnya Dispora sudah amat sangat baik dan mendukung kegiatan NPCI Banyuwangi,” tambahnya.

    Peni juga menjelaskan bahwa peserta yang lolos Peparkab akan diikutsertakan dalam Peparprov Jawa Timur.

    Saat ini, di Peparnas telah dikirim Diang Gusti Pengayom, atlet dengan hambatan pendengaran di Cabor Bulutangkis.

    Alfin, panggilan akrab Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi hadir memberikan dukungan semangat kepada para atlet.

    “Pekan Paralimpik Kabupaten (Peparkab) dimaksudkan untuk memberikan wadah dan kesempatan bagi atlet disabilitas untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuan mereka,” kata Alfin.

    Lebih jauh Alfin menguraikan tujuan kegiatan olahraga disabilitas diantaranya meningkatkan Prestasi Olahraga Penyandang Disabilitas, dengan Mencari dan mengembangkan bakat atlet penyandang disabilitas.

    “Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung olahraga penyandang disabilitas,” tambah Alfin.

    Selain itu tujuan selanjutnya adalah meningkatkan Kesadaran dengan jalan mengedukasi masyarakat tentang kemampuan dan potensi penyandang disabilitas melalui olahraga.

    Tujuan keempat mempererat Persaudaraan, menjalin hubungan yang baik antar atlet, pelatih, dan masyarakat.

    Tujuan yang tak kalah penting sebagai Promosi Kesehatan yakni mendorong gaya hidup sehat di kalangan penyandang disabilitas.

    Sedangkan tujuan yang terakhir untuk mengukur persiapan kegiatan peparperda tgl 5 November yang akan digelar di Bangkalan.

    “Dan harapan kami, bersama dengan NPCI, diharapkan akan muncul ekosistem olahraga disabilitas dibanyuwangi,” pungkas Alfin.

    A’an Wahyu Madira, Ketua Panitia Peparkab II Kab Banyuwangi tak ketinggalan menyampaikan harapannya agar pelaksanaan kegiatan ini dapat berlangsung berkelanjutan.

    “Harapan kami acara PEPARKAB ini bisa diadakan setiap tahun mengingat penyandang difable di Banyuwangi lumayan banyak, PEPARKAB Ke-2 ini selain sebagai ajang mengasah kemampuan dalam bidang Olahraga juga sebagai ajang silaturahmi dan eksistensi teman2 difable khususnyadi Bwi,” ujar A’an.

    “Semoga kedepan acara PEPARKAB tetap eksis, makin maju, meriah dan lebih sukses daripada tahun-tahun sebelumnya,” imbuh A’an penuh semangat. (Indah)