Kategori: Inspirasi

  • Memukau, Aksi Siswa dalam Pentas Operet Al Qomah Sukses Guncang Emosi Penonton di Wisuda Hafidz DaQu School

    Memukau, Aksi Siswa dalam Pentas Operet Al Qomah Sukses Guncang Emosi Penonton di Wisuda Hafidz DaQu School

    Kisah menyentuh tentang seorang anak yang kesulitan mengucapkan syahadat karena belum memperoleh rida ibunya menjadi penutup yang mengharukan dalam rangkaian Wisuda Hafidz dan Pentas Seni SD Darul Qur’an School, Sabtu, 21 Juni 2025.

    Drama operet berjudul Al Qomah yang dibawakan oleh siswa kelas 4 A Al Quddus di Auditorium Untag Banyuwangi sukses mencuri perhatian dan menggugah hati para hadirin.

    Mengangkat kisah klasik dalam khazanah Islam, operet ini mengisahkan Al Qomah, seorang pria saleh dan rajin beribadah, namun lalai terhadap ibunya lantaran lebih menuruti istrinya.

    Ketika menghadapi sakaratul maut, Al Qomah tak mampu mengucapkan syahadat hingga Rasulullah menyarankan agar sang ibu membakar jasad putranya sebagai pelajaran.

    Di momen puncak, sang ibu akhirnya memaafkan, dan barulah Al Qomah dapat wafat dalam keadaan husnul khatimah.

    Di balik panggung, ada perjuangan luar biasa. Para orang tua, khususnya para bunda dari paguyuban wali murid, terlibat penuh dalam proses produksi, mulai dari mendampingi proses casting, menyiapkan kostum bergaya era Rasulullah, hingga mengatur tata rias dan properti.

    Dari serangkaian proses tersebut, nuansa gotong royong benar-benar terasa kuat dalam setiap tahap persiapan.

    Pentas Operet Al Qomah
    Pentas Operet Al Qomah (Dok. sastrawacana.id/)

    Awalnya, wali kelas dari yayasan kemitraan Ustadz KH Yusuf Mansur hanya berbekal naskah sarat hikmah dan semangat pendidikan praktik baik. Dengan pengalaman yang masih terbatas, berbagai tantangan pun muncul.

    Titik terang hadir ketika Ketua Umum BKPRMI, Ahmad Sururudin, berkunjung ke rumah HM Basir Nadim, wali dari salah satu pemeran, Queen.

    Dari pertemuan itulah terjalin komunikasi dengan Divisi Media BKPRMI, yang sebelumnya telah menggelar pelatihan BCM (Bermain, Cerita, dan Menyanyi) untuk para ustaz LPPTKA.

    Tawaran bantuan langsung disambut oleh Bung Aguk Darsono, fasilitator BCM, yang turun tangan secara langsung.

    Dalam waktu terbatas, ia membimbing siswa melalui bedah naskah, latihan vokal, dan teknik dasar pernapasan.

    Ia tidak sendiri. Ia dibantu oleh tim dari Sanggar Merah Putih 45, yaitu Abdul Mun’im serta Nuhbatul Fakhiroh, pembina teater MTsN 1 Banyuwangi sekaligus juara baca puisi Radar Banyuwangi.

    Hanya dalam tiga hari, para siswa digembleng intensif dalam olah vokal dan penokohan.

    Rekaman suara yang semula diperkirakan selesai dalam dua jam ternyata memakan waktu hingga lima jam.

    Proses tersebut dipandu oleh tim Radio Bung Tomo JRKI dan Studio Aura Lentera yang digawangi oleh pasangan tunanetra nasionalis, Indah CC dan Nurhadi Windoyo. Keduanya dikenal sebagai juara nasional drama dan Iklan Layanan Masyarakat.

    Meski tak lepas dari dinamika, mulai dari suara bising di luar naskah, intonasi karakter yang belum konsisten, hingga kejadian unik saat rekaman dilakukan pada hari tasyrik, termasuk momen berbagi daging kurban dan kejutan ulang tahun salah satu bunda, proses terus berlanjut.

    Latihan lanjutan dilakukan di Aula Panti Khadijah dengan fokus pada blocking dan dubbing. Gladi kotor dilangsungkan pada Senin, 16 Mei 2025, di Lantai Dua Ocha Aksesoris dan Oleh-Oleh Banyuwangi, Jalan Dr. Soetomo.

    Gladi Kotor Al Qomah
    Gladi Kotor Al Qomah (sastrawacana.id/)

    Kehadiran pelatih teater dan pegiat literasi, Affandi Maulana, S.S., yang kerap menjadi juri baca puisi dan lomba bercerita, memberikan suntikan semangat dan motivasi tambahan bagi para siswa.

    “Alhamdulillah, penampilan anak-anak luar biasa. Tari kreasi merah putih dan operetnya ekspresif, penuh penghayatan, dan mendapat aplaus dari para hadirin. Semoga ke depan anak-anak bisa terus didampingi belajar public speaking, entah itu pidato, storytelling, MC, atau puisi,” ungkap salah satu bunda yang turut berperan sebagai paman dan mertua Al Qomah, saat ramah tamah di Restoran Rehana, dekat kediaman Bupati Banyuwangi.

    Penampilan ini bukan sekadar hiburan penutup, melainkan juga ruang pembelajaran karakter, akhlak, serta kreativitas. Sebuah permulaan yang menjanjikan untuk pembinaan seni dan adab Islami sejak usia dini.

  • Universitas Jember Latih Guru TK Banyuwangi Kembangkan Media Budaya Osing dengan Memanfaatkan AI

    Universitas Jember Latih Guru TK Banyuwangi Kembangkan Media Budaya Osing dengan Memanfaatkan AI

    Dalam upaya mendorong pelestarian budaya lokal sejak dini, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Jember melaksanakan kegiatan pelatihan bertema “Pengembangan Media Pembelajaran Budaya Osing Berbasis Artificial Intelligence (AI) Sebagai Sarana Pelestarian Budaya Pada Anak Usia Dini”.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dosen Mengabdi di Desa Asal dan menyasar para pendidik anak usia dini di Kabupaten Banyuwangi.

    Pelatihan yang digelar pada Sabtu, (7/62025) di TK Sayuwiwit ini diikuti oleh guru-guru dari enam lembaga Taman Kanak-Kanak (TK) yang tergabung dalam Gugus 6 Gugus Barong Ider Bumi, Kecamatan Banyuwangi.

    Tujuan utama pelatihan ini adalah membekali para guru TK dengan pengetahuan serta keterampilan dalam menciptakan media pembelajaran digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mengangkat konten budaya lokal khas masyarakat Osing.

    Mengingat anak-anak zaman sekarang sangat akrab dengan teknologi, penggunaan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal dinilai sebagai pendekatan yang strategis agar anak-anak tetap terhubung dengan identitas budaya mereka di tengah kemajuan teknologi.

    Sepanjang kegiatan pelatihan, para guru dikenalkan dengan berbagai macam teknologi AI yang bisa dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, seperti AI untuk menghasilkan teks cerita, ilustrasi gambar, video, suara, musik, hingga animasi 3D.

    Para peserta tidak hanya menerima penjelasan teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan media pembelajaran yang menarik dan kontekstual dengan bantuan AI.

    Sebagian besar guru telah memiliki pengetahuan dasar tentang pemanfaatan AI, khususnya dalam membuat teks.

    Namun, antusiasme meningkat ketika pemateri dari Universitas Jember memperlihatkan contoh lagu anak bertema budaya lokal Banyuwangi yang dihasilkan dengan bantuan AI.

    Praktik Dosen Mengabdi di Desa Asal
    Praktik Dosen Mengabdi di Banyuwangi (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam sesi praktik, para guru diajak menggali tema-tema khas budaya Banyuwangi, seperti tarian tradisional, makanan khas, bahasa Osing, serta kekayaan alam daerah, untuk kemudian disusun menjadi lagu edukatif yang ramah bagi anak-anak.

    Kemudian, dengan memanfaatkan teknlogi AI generatif juga tercipta melodi lagu indah dengan nuansa ceria.

    Tidak hanya membuat lagu, para guru juga berlatih membuat animasi 3D sederhana yang menampilkan kekayaan flora dan fauna khas Blambangan.

    Animasi flora meliputi berbagai jenis bunga, buah, dan pohon, sedangkan animasi fauna menampilkan keanekaragaman hewan laut Banyuwangi serta satwa liar dari hutan Alas Purwo.

    Media visual interaktif ini dirancang agar dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas, membantu anak mengenali objek-objek budaya dan alam tanpa harus melihatnya secara langsung.

    “Saya sangat terkesan karena ternyata membuat lagu dan animasi bisa dilakukan dengan bantuan AI. Kami jadi lebih dimudahkan dan berikutnya dapat menjadi inspirasi dalam mengajarkan budaya lokal kepada anak menjadi semakin menarik,” ujar Ibu Nanik, salah satu guru TK dari Kecamatan Kebalenan.

    Reski Yulina Widiastuti, selaku ketua tim pengabdian, menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini bukan sekadar mengenalkan teknologi AI kepada guru, melainkan memperkenalkannya sebagai alat bantu strategis untuk menggali dan mengembangkan ide-ide kreatif dalam proses pembelajaran berbasis budaya.

    “Dengan AI, guru bisa menciptakan lagu, animasi, cerita interaktif, dan banyak hal lainnya tanpa harus menjadi ahli teknologi,” jelasnya.

    Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi dan kolaborasi antarguru, sehingga tercipta komunitas kreatif yang aktif dalam menciptakan konten pembelajaran yang berakar pada budaya lokal.

    Melalui pelatihan ini, diharapkan para pendidik usia dini di Banyuwangi, khususnya di jenjang TK, dapat meningkatkan kompetensi digital mereka dan menghasilkan media pembelajaran yang edukatif sekaligus memikat.

    Harapannya, guru-guru dapat menjadi pionir dalam upaya pelestarian budaya Osing melalui pendidikan yang inovatif, menyenangkan, dan sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Boyong Tiga Piala, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi Tampil Gemilang di HAN 2025

    Boyong Tiga Piala, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi Tampil Gemilang di HAN 2025

    Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam perhelatan akbar peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2025.

    Kegiatan ini berlangsung meriah di halaman TK Negeri Model Banyuwangi pada Sabtu (31/05) dan diikuti oleh puluhan lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.

    Diselenggarakan oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Banyuwangi, ajang ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan bakat, kreativitas, serta semangat berkompetisi secara positif dalam suasana yang menyenangkan.

    Tidak hanya menjadi tempat menampilkan talenta, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter anak sejak dini melalui pengalaman langsung di atas panggung.

    Pada kesempatan kali ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi tampil mencuri perhatian dengan berhasil membawa pulang tiga piala kemenangan dari berbagai cabang lomba, yakni:

    • Juara 1 lomba mewarnai tingkat TK se-Kabupaten Banyuwangi
    • Juara 1 lomba lari rintangan
    • Juara 2 lomba menari bertema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”

    Capaian ini tentu bukan hasil instan, melainkan buah dari kerja keras para guru dalam membina anak-anak secara konsisten, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua murid yang terus terjalin harmonis.

    Kelompok Tari TK Kemala Bhayangkari
    Kelompok Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Salah satu momen paling mengesankan dalam kegiatan ini adalah penampilan tim tari TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam lomba menari yang mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.

    Dengan kostum nyentrik yang mencerminkan semangat anak-anak masa kini dan gerakan tari yang enerjik serta terkoordinasi dengan baik, tim ini sukses memukau dewan juri dan penonton.

    Tak heran jika mereka berhasil meraih posisi sebagai Juara 2 tingkat Kabupaten dan menuai banyak pujian.

    Ketua Komite Sekolah, Sugeng, memberikan apresiasi tinggi atas usaha dan kepercayaan diri para peserta didik.

    Ketua Komite TK Kemala Bhayangkari
    Ketua Komite TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam wawancaranya, beliau menyampaikan rasa bangga atas sinergi yang kuat antara guru, siswa, dan orang tua.

    “Anak-anak menunjukkan performa yang luar biasa. Mereka tampil percaya diri, antusias, dan sudah cukup matang untuk ukuran usia dini. Ini adalah hasil nyata dari semangat kebersamaan serta dukungan luar biasa dari para guru dan orang tua,” ujarnya penuh kebanggaan.

    Kebanggaan serupa juga dirasakan oleh para wali murid, salah satunya Eva, orang tua dari peserta lomba tari yang terharu ketika melihat anak-anak menari di atas panggung.

    “Rasanya haru sekali melihat anak-anak tampil sepenuh hati. Mereka begitu percaya diri, dan sebagai orang tua, itu adalah momen yang sangat menyentuh. Kami sangat bersyukur bisa menyaksikan sendiri proses mereka belajar, berlatih, hingga meraih juara,” tutur Eva dengan penuh haru.

    Yang membuat lomba menari tahun ini semakin spesial adalah kehadiran Subari Sofyan, seorang maestro tari tingkat nasional yang didapuk sebagai juri utama.

    Dengan pengalaman panjang di dunia seni pertunjukan, Subari memberikan penilaian yang mendalam dan menyeluruh terhadap setiap penampilan peserta.

    Ia tidak hanya menilai dari aspek gerakan tari, namun juga memperhatikan kostum, pemilihan musik, ekspresi wajah, penguasaan panggung, serta keselarasan gerak antar anggota tim.

    Subari Sofyan
    Juri dan Tim Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Tak berhenti di situ, Subari juga menyempatkan diri untuk memberikan edukasi seni kepada peserta dan para pendamping, menjadikan ajang ini tidak hanya kompetitif namun juga edukatif.

    Melalui torehan prestasi ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi menunjukkan bahwa pembinaan karakter dan bakat anak usia dini harus dilakukan secara menyeluruh dan terarah.

    Lingkungan belajar yang positif, guru-guru yang berdedikasi, serta dukungan penuh dari orang tua menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang unggul, percaya diri, dan berprestasi.

    Ajang Hari Anak Nasional tahun ini menjadi bukti bahwa anak-anak, meskipun masih sangat belia, namun mampu tampil mengesankan bila diberikan kesempatan, bimbingan, dan ruang untuk berkembang.

    Dan TK Kemala Bhayangkari Rogojampi telah membuktikannya dengan beberapa prestasi yang sangat gemilang.

  • Dari Buku ke Aksi, Ruang Baca Kita Bangun Budaya Baca di Ruang Publik

    Dari Buku ke Aksi, Ruang Baca Kita Bangun Budaya Baca di Ruang Publik

    Ruang Baca Kita, sebuah komunitas kecil dengan mimpi besar, hadir membawa semangat baru dalam upaya menumbuhkan kembali budaya membaca di tengah masyarakat.

    Diinisiasi oleh sekelompok individu dengan latar belakang beragam, mulai dari pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, hingga pegiat literasi, komunitas ini disatukan oleh kecintaan yang sama terhadap buku dan keinginan kuat untuk berbagi manfaatnya kepada lebih banyak orang.

    Komunitas ini tidak hanya menyediakan ruang untuk membaca buku secara gratis, tetapi juga menjadi wadah interaktif yang memfasilitasi berbagai kegiatan menarik.

    Mulai dari diskusi ringan tentang topik-topik terkini, bedah buku bersama penulis atau pembaca aktif, hingga sesi membaca buku bersama anak-anak sebagai bentuk pendekatan literasi sejak dini.

    Semua kegiatan tersebut dilakukan dengan semangat kebersamaan dan kesukarelaan.

    Lahir dari sebuah keresahan sederhana yang melihat tumpukan buku di rumah yang tak tersentuh dan tak terbaca, ide untuk mengajak teman-teman berkumpul dan membaca bersama pun tumbuh menjadi gerakan yang lebih besar.

    Apa yang awalnya hanya percakapan ringan kini menjelma menjadi agenda rutin yang digelar setiap akhir pekan.

    Bahkan tak jarang, Ruang Baca Kita juga menyelenggarakan kegiatan spontan seperti pojok baca dadakan di lokasi-lokasi strategis, yang selalu berhasil menarik perhatian masyarakat sekitar.

    Salah satu kegiatan yang kini menjadi ciri khas komunitas ini adalah membuka lapak baca di area publik seperti Taman Blambangan, sebuah ruang terbuka hijau yang menjadi pusat aktivitas warga Banyuwangi.

    Dari pagi hingga sore hari, lapak ini ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak yang antusias membuka halaman demi halaman buku cerita, pelajar yang mencari referensi bacaan tambahan, hingga orang dewasa yang sekadar ingin bersantai sambil menikmati bacaan ringan.

    Semua larut dalam atmosfer literasi yang hangat dan inklusif.

    Pada Minggu, 18 Mei 2025, Ruang Baca Kita juga menjalin kolaborasi bersama Banyuwangi Book Party, sebuah inisiatif lokal yang memiliki visi serupa dalam menumbuhkan minat baca masyarakat.

    Kolaborasi ini menjadi momen penting yang memperkuat sinergi antar komunitas literasi di Banyuwangi dan menjadi bukti nyata bahwa gerakan membaca bisa tumbuh subur jika digerakkan bersama-sama.

    Bagi Ruang Baca Kita, membaca bukan sekadar aktivitas menambah ilmu pengetahuan, melainkan juga cara untuk memahami dunia dan diri sendiri.

    Melalui membaca, seseorang bisa menemukan minat dan bakat yang sebelumnya tidak disadari.

    Bahkan, membaca bisa menjadi terapi tersendiri untuk menenangkan pikiran, membuka wawasan baru, serta membangun empati terhadap sesama.

    Dengan mengusung semangat gotong royong, keterbukaan, dan inklusivitas, komunitas ini berharap dapat menjadi percikan kecil yang menyalakan api semangat membaca di tengah masyarakat.

    Sebab mereka percaya, perubahan besar dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti satu halaman buku yang dibaca dengan hati.

    Jika Anda meyakini bahwa sebuah perubahan bisa lahir dari lembar demi lembar buku, maka Ruang Baca Kita adalah tempat yang tepat untuk Anda.

    Ayo, bergabung bersama kami dan jadilah bagian dari gerakan literasi yang menyenangkan, inklusif, dan berdampak!

    Untuk informasi kegiatan dan kolaborasi selanjutnya, silakan kunjungi laman Instagram kami di @ruangbacakitaa.

    Kami tunggu kehadiran dan partisipasi Anda dalam menciptakan masyarakat yang gemar membaca!

  • Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan jurnalistik dan digital marketing digelar di pelataran Saestwo Cafe dan diikuti oleh pelajar serta masyarakat Banyuwangi, pada Sabtu malam (10/5/2025)

    CEO Saestwo, HM. Shodiqin, menyampaikan bahwa materi yang disajikan mungkin dianggap biasa dan tidak penting oleh sebagian orang.

    Namun, dengan niat untuk menuntut ilmu, membuka “gelas kosong”, serta adanya semangat inovasi, motivasi, karakter, dan pengalaman dari para narasumber, pasti ada hikmah yang bisa diambil sebagai lentera dalam menghadapi dunia nyata di era digital saat ini.

    Shodiqin, yang juga merupakan guru di SMKN Kalipuro dan dikenal dengan ciri khas udeng PERGUNU-nya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya workshop ini.

    Di antaranya adalah Media Sastrawacana, Penerbit Lintang, Jurnal News, ACTA News, Brader Advertising, Komunitas Gotong Royong 45, dan Yayasan Aura Lentera Indonesia yang peduli pada disabilitas.

    Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan ini, baik secara langsung maupun melalui siaran live di media sosial seperti TikTok Zhie, Instagram Gotongroyong, dan YouTube Sastrawacana.

    Bahkan, ada netizen dari Al Azhar Mesir, Atambua Belu NTT, Probolinggo, Situbondo, dan Malang yang turut berinteraksi.

    “Oleh karena itu, saya berharap melalui pelatihan ini para peserta dapat memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam meliput berita, menulis artikel, memahami etika jurnalistik, dan cakap bermedia sosial secara sehat,” ujarnya.

    Shodiqin menekankan bahwa keberadaan para jurnalis yang bijak dalam bermedia sosial sangat penting untuk menyampaikan berita dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Banyuwangi.

    Ia berharap momentum ini dapat menjadi wadah untuk bertukar pengalaman dan saling belajar.

    “Maka dari itu, mari kita gunakan momentum ini untuk bertukar pengalaman dan belajar satu sama lain. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh sehingga ke depan bisa menjadi calon-calon jurnalis daerah yang berkualitas dan profesional,” tambahnya.

    Ia juga menyebutkan bahwa pada sore hari sebelumnya, Komunitas Kajian Lingkaran Studio Ar Rahman mengadakan diskusi dan silaturahmi bersama ormas keagamaan Islam.

    Sementara pada Minggu besok, Saestwo Cafe akan menjadi tempat berkumpulnya Komunitas Mobil Kuno Corolla.

    Sementara itu, Ketua Perkumpulan Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima yang menjadi fasilitator workshop ini menyampaikan bahwa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang berfungsi sebagai penyampai informasi kepada publik.

    Jurnalistik juga dapat diartikan sebagai bahasa komunikasi pengantar pemberitaan yang biasa digunakan oleh media cetak maupun elektronik.

    Workshop ini dipandu oleh host difabel daksa yang aktif di TikTok, Puji Zhie Winarsih. Narasumber pertama adalah Andi Budi Setiawan, seorang sastrawan dan wartawan.

    “Sebagai media informasi dan komunikasi, jurnalistik dituntut untuk memberikan informasi yang aktual dan faktual. Seorang jurnalis harus mampu menyampaikan informasi yang mendidik kepada masyarakat, sehingga pembaca bisa memperoleh manfaat dan mampu memfilter opini maupun hoaks,” ujar guru penggerak yang aktif di SMK PGRI Rogojampi dan Komunitas Kopiwangi ini.

    Narasumber kedua adalah Rafly Rafjanjani Aziz Attubel, seorang social media specialist yang merupakan diaspora dari perbatasan NTT dan Timor Leste serta mahasiswa UMM.

    Ia menyampaikan materi tentang bijak bermedia sosial, menguasai SEO dan SEM untuk menjadi viral dan menghasilkan cuan tanpa batas ruang dan waktu.

    Narasumber ketiga adalah Agung Broder, pengusaha dan pemilik percetakan digital printing di Rogojampi, Banyuwangi. Ia membagikan materi mengenai bagaimana menjadi pebisnis yang tangguh.

    Ketiga narasumber memberikan materi yang luar biasa dan bermanfaat, mulai dari penulisan, kebijaksanaan dalam bermedia sosial, hingga ketangguhan dalam berbisnis.

    Pemimpin Redaksi Sastrawacana, Affandi Maulana, S.S., dalam pernyataan penutupnya menyampaikan bahwa seluruh peserta akan dimasukkan ke dalam grup WhatsApp sebagai wadah untuk terus belajar literasi dan sosial bisnis.

    Ia juga membuka peluang agar kegiatan serupa dapat diselenggarakan di sekolah-sekolah, lembaga pemberdayaan masyarakat, PKBM, maupun taman baca masyarakat, dengan narasumber dan topik yang bisa disesuaikan.

  • Edukasi Jurnalistik KJJT dan Polresta Banyuwangi: Cetak Generasi Cerdas, Kritis, dan Taat Hukum

    Edukasi Jurnalistik KJJT dan Polresta Banyuwangi: Cetak Generasi Cerdas, Kritis, dan Taat Hukum

    Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) bersama Polresta Banyuwangi menggelar edukasi jurnalistik bagi pelajar SMP/MTs se-Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan bertajuk “Edukasi Jurnalistik Membangun Generasi Taat Hukum” ini bertujuan membekali para siswa dengan kemampuan literasi yang mumpuni agar terhindar dari berita hoaks dan perilaku negatif seperti bullying.

    Pada Selasa (25/2/2025), kegiatan edukasi digelar di SMPN 1 Banyuwangi dengan menghadirkan narasumber dari KJJT Banyuwangi, termasuk Yudha AO, Fitron Jelani, Bobby Yudha, serta Maulana Affandi, seorang penulis dan pegiat literasi.

    Turut hadir pula Aipda Vicki dari Sat Binmas Polresta yang dalam paparannya menjelaskan berbagai bentuk bullying yang kerap terjadi di sekolah, baik verbal maupun fisik, serta sanksi yang dapat menjerat pelaku.

    Para narasumber memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya literasi dan jurnalistik dalam menyaring informasi serta konsekuensi hukum dari tindakan bullying.

    M. Sodiq, S.Pd (1)

    Kegiatan dibuka oleh Kepala SMPN 1 Banyuwangi, M. Sodiq, S.Pd yang mengapresiasi kegiatan edukasi jurnalistik karena dirasa sangat bermanfaat untuk kreativitas siswa, khususnya dalam menghadapi mengenali hoax di era digital.

    “Terima kasih kepada teman-teman KJJT dan pihak Polresta Banyuwangi yang telah hadir, semoga apa yang disampaikan bisa bermanfaat bagi siswa, khususnya dalam meningkatkan kreativitas dan pemahaman tentang informasi digital,” ujarnya.

    Aipda Vicki

    Materi pertama disampaikan oleh Aipda Vicki yang memberi pengetahuan terkait apa saja bentuk perundungan yang kerap terjadi di sekolah.

    Ia juga menegaskan bahwa saat ini perundungan tidak hanya soal fisik saja, tapi juga ke arah digital, misalnya menggunakan stiker WhatsApp yang sifatnya mengolok-olok.

    “Kan biasanya ada foto temannya dijadikan stiker, terus dishare ke banyak orang. Lebih baik jangan, karena bisa membuat orang lain merasa malu dan sakit hati, itu bisa menjadi bentuk bullying,” tegasnya.

    Tak hanya perihal perundungan, Aipda Vicki juga menyelipkan informasi terkait kegiatan-kegiatan yang melanggar aturan hukum, seperti balap liar, hingga bahaya miras bagi pelajar.

    Maulana Affandi

    Dilanjut ke materi selanjutnya oleh Maulana Affandi yang memberi arahan bagaimana peran literasi dan jurnalistik untuk membentengi para pelajar dari informasi hoax yang marak di media sosial belakangan ini.

    “Bagaimana caranya agar kita tidak mudah termakan hoax? Ya, cara paling mudah adalah dengan literasi, terutama banyak membaca,” ujarnya.

    Tak hanya itu, Maulana Affandi yang saat ini menjabat Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi juga menambahkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis saja, tetapi juga tentang memahami informasi secara kritis.

    Setelah pemaparan materi, para narasumber mengajak para siswa untuk praktik langsung menulis berita tentang kegiatan edukasi ini.

    Fitron Jelani mengawali dengan memberi arahan kepada para siswa tentang bagaimana etika saat ingin mewawancarai narasumber, termasuk mengatur tata bahasa agar komunikasi jadi lebih baik.

    “Biasakan untuk memperkenalkan diri dulu, ya. Namanya siapa, terus dari mana, kemudian dijelaskan maksud dan tujuannya,” papar Fitron, yang kemudian langsung dipraktikkan oleh siswa.

    Tak hanya itu, Fitron Jaelani juga memberikan pengetahuan tentang pertanyaan apa saja yang hendaknya ditanyakan kepada narasumber, sehingga muatan serta substansi beritanya jadi lebih bermanfaat bagi pembaca.

    Sementara pemateri lain, Yudha AO lebih fokus kepada teknik penulisan berita, termasuk bagaimana penyusunan kata demi kata agar lebih mudah dibaca dan dipahami.

    “Berita hendaknya diawali dari nama daerah terlebih dahulu, misalnya Banyuwangi,” ujarnya, sembari memperlihatkan contoh berita di layar proyektor.

    Yudha AO juga menegaskan bahwasanya dalam menghasilkan karya jurnalistik, para siswa harus memerhatikan kalimat yang dirangkai agar tidak terjadi pemborosan kata.

    Di sisi lain, pemateri lain, Bobby Yudha yang kerap disapa Bobby menjelaskan rinci bagaimana struktur berita yang baik dan benar, sehingga berita tersebut menjadi lebih tertata dan mudah dimengerti.

    Sembari mencontohkan ke secarik kertas, Bobby membimbing siswa bagaimana proses menulis karya jurnalistik dengan dimulai dari pembuatan judul terlebih dahulu.

    Sebagai bentuk apresiasi, narasumber memberikan buah tangan berupa buku antologi puisi Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan dan beberapa cokelat.

    Sementara itu, Ketua KJJT Wilayah Banyuwangi, Ricky Sulivan, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan ini.

    Ia menekankan bahwa pembekalan kejurnalistikan akan membantu pelajar mendeteksi berita palsu dan memahami produk jurnalistik yang berkualitas.

    “Dengan literasi yang baik, pelajar dapat mengenali arah sebuah berita, sehingga meminimalisir kesalahpahaman,” ujarnya.

    Ricky Sulivan menambahkan bahwa pemahaman tentang jurnalistik sangat krusial bagi generasi muda.

    Mereka perlu mengetahui bagaimana proses pembuatan berita yang benar, mulai dari penerapan prinsip 5W+1H, cara mengumpulkan data, hingga etika wawancara.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda Banyuwangi yang cerdas, kritis, dan taat hukum.

    Dengan pemahaman literasi yang baik, para pelajar tidak hanya akan lebih bijak dalam menerima informasi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara positif di era digital yang serba cepat ini.

  • Ayumi Zalsabila, Putri Petani dari Nunukan Raih Perunggu di O2SN PDBK 2024

    Ayumi Zalsabila, Putri Petani dari Nunukan Raih Perunggu di O2SN PDBK 2024

    Ayumi Zalsabila, siswi SLB Negeri Nunukan, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, baru saja mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih medali perunggu pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2024, kategori lompat jauh tingkat nasional jenjang Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).

    Prestasi ini tidak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga orang tua, guru, dan seluruh keluarga besar SLB Negeri Nunukan.

    Ayumi, yang merupakan anak pertama dari lima bersaudara, tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana.

    Meskipun orang tuanya bekerja keras di ladang, Ayumi tidak pernah merasa kekurangan dalam hal semangat dan dukungan.

    “Motivasi terbesar saya dalam hidup adalah untuk menjadi pemenang dalam setiap perlombaan,” ujarnya dengan penuh semangat.

    Prestasi yang diraihnya tak hanya di tingkat nasional. Ayumi sebelumnya juga berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Batik Tingkat Provinsi LKSN PDBK, Juara 2 lomba melukis Tingkat Provinsi FLS2N PDBK, serta Juara 1 dalam Lomba Lompat Jauh Tingkat Provinsi O2SN PDBK.

    Namun, pencapaian terbesar Ayumi adalah ketika ia berhasil meraih Juara 3 dalam lomba lompat jauh tingkat nasional O2SN PDBK, yang menjadi bukti nyata kerja keras dan dedikasinya dalam berlatih.

    Perjalanan menuju podium medali perunggu itu tidak mudah. Ayumi harus berlatih keras setiap hari di sekolah, bahkan setelah jam pelajaran selesai.

    “Saya berlatih setiap hari dari pukul 14.00 hingga 16.00 di sekolah. Saya berlatih dengan semangat meskipun tempat latihan agak jauh dari rumah,” ceritanya.

    Bagi Ayumi, salah satu hal yang paling berkesan dalam kompetisi ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah yang memiliki disabilitas yang sama.

    “Kami saling berbagi pengalaman, dan saya merasa kompetisi ini seperti reuni keluarga besar dari berbagai provinsi,” ungkapnya bahagia.

    Tantangan terbesar yang dihadapi Ayumi adalah proses latihan yang memerlukan waktu dan jarak yang cukup jauh dari rumahnya.

    Namun, berkat dukungan penuh dari orang tuanya, Ayumi mampu mengatasi segala kendala tersebut dan tetap fokus pada tujuannya.

    “Orang tua saya sangat mendukung, meskipun mereka sibuk bekerja,” ucapnya penuh syukur.

    Di balik kesuksesannya, Ayumi menganggap kompetisi ini bukan hanya sekadar ajang meraih medali, tetapi sebagai sarana untuk mengembangkan rasa percaya diri, sportivitas, dan keyakinan bahwa usaha yang sungguh-sungguh akan membuahkan hasil.

    “Kompetisi ini mengajarkan saya untuk selalu berjuang dan percaya pada diri sendiri,” tambahnya.

    Guru pembimbing Ayumi, Agustinus Tambing, pun merasa sangat bangga dengan pencapaian yang diraih oleh siswanya.

    “Saya sangat senang dan bangga. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dalam proses latihan dan akhirnya bisa melaju ke tingkat nasional,” ungkapnya.

    Menurut beliau, dukungan sekolah sangat besar dalam memfasilitasi para siswa yang mengikuti lomba, baik dari segi fasilitas maupun pendanaan.

    “Sekolah mendukung penuh setiap kegiatan yang diikuti siswa, termasuk menyediakan dana yang diperlukan,” jelasnya.

    Agustinus Tambing juga memiliki harapan besar untuk Ayumi. “Terus berusaha, tekuni setiap perlombaan yang kamu ikuti, dan nikmati setiap proses latihan. Jangan pernah menyerah,” pesannya.

    Ayumi Zalsabila bukan hanya pemenang dalam lomba, tetapi juga simbol ketekunan, semangat juang, dan optimisme.

    Perjuangannya menginspirasi banyak orang untuk tidak pernah berhenti berusaha dan selalu percaya bahwa setiap kerja keras pasti ada hasilnya.

    Dalam setiap langkah Ayumi, terlihat tekad yang kuat untuk terus menggapai impian dan mengukir prestasi yang lebih tinggi lagi di masa depan.

    Sumber: Kemdikbud

  • Omah Sehat Banyuwangi, Pusat Terapi Tradisional Sukses Gelar Kegiatan Bakti Sosial Untuk Masyarakat

    Omah Sehat Banyuwangi, Pusat Terapi Tradisional Sukses Gelar Kegiatan Bakti Sosial Untuk Masyarakat

    Bertempat di Perumahan Taman Permata Hijau, Lingkungan Beran, Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, Omah Sehat Banyuwangi yang dipimpin oleh Niken Kurnia Ningrum terus menunjukkan dedikasi dalam menghadirkan layanan kesehatan tradisional.

    Pada Minggu, 19 Januari 2025, Omah Sehat Banyuwangi bersama komunitas Sedulur Terapis Blambangan (STB) menggelar kegiatan bakti sosial yang berhasil menarik perhatian masyarakat luas.

    Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai metode pengobatan tradisional sekaligus memberikan layanan kesehatan gratis.

    Layanan yang diberikan meliputi bekam, akupuntur, pijat relaksasi, pembetulan tulang belakang (PTB), terapi ruqyah, hingga terapi totok wajah. Lebih dari 100 orang warga mendapatkan manfaat dari acara ini.

    Ketua STB, Budy Amboyna, C.Ht., menjelaskan bahwa komunitas STB merupakan wadah bagi para terapis dari berbagai latar belakang.

    “Kegiatan baksos ini bertujuan untuk mengenalkan berbagai metode terapi yang ada, baik tradisional maupun modern. Kami ingin masyarakat tahu bahwa ada banyak cara untuk mengatasi masalah kesehatan tanpa harus mengeluarkan biaya besar,” ujar Budy.

    Sebagai salah satu penggerak utama komunitas STB, Niken Kurnia Ningrum menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan solusi kesehatan Islami dan tradisional.

    “Kesehatan adalah amanah. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi dan membantu masyarakat untuk menjangkau layanan kesehatan yang terjangkau, berkualitas, serta berlandaskan nilai-nilai kebaikan,” ujar Niken.

    Menurut Niken, Omah Sehat Banyuwangi tidak hanya menjadi pusat layanan kesehatan, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai kegiatan sosial yang mendukung kesehatan masyarakat secara holistik.

    “Kami percaya bahwa kesehatan tubuh dan jiwa harus berjalan seiring. Dengan pendekatan tradisional yang alami dan Islami, kami ingin menjadi bagian dari solusi kesehatan masyarakat Banyuwangi,” tambahnya.

    Kegiatan bakti sosial ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari warga setempat. Titis Anganten, salah satu peserta terapi, mengaku sangat terbantu dengan layanan ini.

    “Pelayanan yang baik dan pemeriksaan yang akurat membuat saya lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Bung Aguk yang juga sebagai pemerhati kesehatan masyarakat turut mengapresiasi kegiatan ini.

    Disebutkan jika bakti sosial seperti sangat membantu masyarakat, khususnya bagi yang kurang mampu, sehingga diharapkan bisa dilakukan secara rutin.

    “Kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat, terutama bagi yang kurang mampu. Semoga kegiatan ini bisa terus dilakukan secara rutin,” papar Bung Aguk yang merupakan anggota FBS (Forum Banyuwangi Sehat).

    Meski dilakukan secara sukarela, peserta diizinkan memberikan infak yang digunakan untuk operasional acara.

    Niken dan tim berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

    “Kami ingin menjangkau lebih banyak masyarakat, tidak hanya di kota Banyuwangi, tetapi juga di daerah-daerah terpencil. Dukungan dari berbagai pihak akan sangat membantu agar kegiatan ini bisa lebih luas manfaatnya,” tutup Niken.

    Sekilas Tentang Omah Sehat Banyuwangi

    Omah Sehat Banyuwangi adalah pusat layanan kesehatan yang berfokus pada metode pengobatan tradisional dan Islami.

    Berlokasi di Perumahan Taman Permata Hijau, Lingkungan Beran Blok E11, Kebalenan, Banyuwangi, Omah Sehat Banyuwangi dikelola oleh Niken Kurnia Ningrum, seorang terapis berpengalaman yang juga aktif dalam komunitas Sedulur Terapis Blambangan (STB).

    Layanan yang tersedia di Omah Sehat Banyuwangi meliputi:

    • Bekam
    • Akupuntur
    • Pijat relaksasi
    • Pembetulan Tulang Belakang (PTB)
    • Ruqyah syar’i
    • Totok wajah, dan berbagai metode terapi tradisional lainnya.

    Selain memberikan layanan kesehatan, Omah Sehat Banyuwangi juga rutin mengadakan kegiatan sosial seperti bakti sosial dan terapi gratis bagi masyarakat.

    Dengan mengusung nilai-nilai Islami, Omah Sehat Banyuwangi hadir untuk memberikan solusi kesehatan holistik yang alami, efektif, dan terjangkau.

    Alamat:

    Perumahan Taman Permata Hijau, Lingkungan Beran Blok E11, RT.01/RW.01, Kebalenan, Kec. Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68417.

  • Meilysa Ajeng Kartika Putri, Perjalanan Inspiratif Seorang Dosen dan Aktivis Literasi

    Meilysa Ajeng Kartika Putri, Perjalanan Inspiratif Seorang Dosen dan Aktivis Literasi

    Meilysa Ajeng Kartika Putri, gadis kelahiran Banyuwangi tahun 1999, memiliki segudang prestasi yang membanggakan.

    Kecintaannya pada dunia pendidikan, khususnya literasi, tak diragukan lagi.

    Dengan latar belakang pendidikan Magister Pendidikan Matematika, Meilysa kini berprofesi sebagai pengajar sekaligus dosen, serta aktif menulis jurnal tentang pendidikan.

    Dikenal dengan sapaan akrab “Meme,” ia juga berperan sebagai instruktur di Guru Inspiratif Indonesia.

    Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam bidang pembelajaran, penelitian, dan penulisan karya tulis ilmiah secara daring, dengan cakupan wilayah seluruh Indonesia.

    Selain itu, Meilysa juga menjabat sebagai CEO sekaligus instruktur PTK di Mentor Guru.

    Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi pedagogis dan profesional guru secara daring, yang dapat diikuti oleh para pendidik dan dosen di seluruh Indonesia.

    Di tengah kesibukannya, Meilysa masih meluangkan waktu untuk menyalurkan hobi menulis, membaca, dan menyanyi.

    Ia kerap menulis puisi, esai, jurnal pendidikan, juga sesekali menjadi MC di berbagai acara formal maupun nonformal, serta tampil sebagai penyanyi solo.

    Sebagai aktivis literasi, Meilysa saat ini menjabat sebagai Koordinator Bidang Nonfiksi di Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

    Komunitas ini bergerak di bidang literasi dengan program pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya, serta rutin menyelenggarakan berbagai acara literasi di Banyuwangi.

    Beberapa acara literasi yang pernah diikuti Meilysa:

    1. Event literasi KOPIWANGI
    2. Event Menulis Esai Guru Inspiratif Indonesia
    3. Event Menulis PTK bersama Guru Inspiratif Indonesia, Guru Cendekia, dan Mentor Guru

    Prestasi yang telah diraih:

    1. Juara 3 Event Menulis Puisi Tema Kemerdekaan KOPIWANGI 2024
    2. Penghargaan Indeks Prestasi Kumulatif Tertinggi Program Magister 2023

    Karya yang telah diterbitkan:

    1. Developing Student Worksheet for Grade Seven on Social Arithmetics and Its Use in Flipped Classroom Blended Learning (Jurnal Sinta 3, 2021)
    2. Antologi Puisi: Bangkit Pendidikan Sejahtera Indonesia (2022)
    3. Bagaimana Siswa Dapat Berkomunikasi Dalam Memecahkan Masalah Matematika? (Jurnal Sinta 2, 2022)
    4. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Lesson Study for Learning Community Bernilai Budaya Using untuk Meningkatkan Numerasi (Jurnal Sinta 2, 2022)
    5. Bagaimana Perangkat Pembelajaran Berbasis LSLC Bernilai Budaya Berpengaruh terhadap Kemampuan Numerasi? (Jurnal Ber-ISSN, 2023)
    6. Buku antologi puisi Lentera di Pengujung Asa – Pendidikan yang Memerdekakan (2024)

    Menurut Meilysa, literasi adalah kunci menuju kesuksesan.

    “Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, berkomunikasi efektif, hingga mengambil keputusan dengan bijak,” jelasnya.

    Ia juga memberikan pesan motivasi kepada generasi muda:

    “Jangan pernah berhenti belajar dan bereksplorasi. Dunia literasi sangat luas, selalu ada buku baru dan topik menarik untuk dijelajahi. Jadilah pembaca yang haus pengetahuan dan agen perubahan melalui literasi. Manfaatkan apa yang kalian pelajari untuk menginspirasi orang lain dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik.”

    Dedikasi dan kontribusi Meilysa dalam dunia pendidikan dan literasi menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya generasi muda.

    Penulis: Andi Budi Setiawan

  • Hizkil Achmad Dayan: Dari Pedesaan Hijau Menuju Panggung Literasi Nasional

    Hizkil Achmad Dayan: Dari Pedesaan Hijau Menuju Panggung Literasi Nasional

    Hizkil Achmad Dayan yang akrab dipanggil Hizkil merupakan pelajar berprestasi di MAN 1 Banyuwangi.

    Lahir di Desa Pondok Nongko, Kecamatan Kabat Oktober 2006. Saat ini Hizkil duduk di bangku kelas XII dan aktif dalam kegiatan akademik maupun non akademik di tingkat kabupaten sampai nasional.

    Hizkil sejak kecil memiliki ketertarikan dalam literasi. Disela-sela kesibukannya, Hizkil meluangkan waktu untuk membaca buku dan menulis puisi serta esai.

    Selain hobi tersebut, Hizkil juga suka berkebun karena bertepatan tinggal di pedesaan yang masih hijau dan asri.

    Menurutnya literasi adalah ibadah, pilihan habituasi terbaik yang dibenarkan aqli (akal) dan naqli (dalil).

    Secara akal, tidak mungkin manusia bisa menjalani, mempertahankan, apalagi mengembangkan hidupnya jika tanpa literasi.

    Melalui literasilah, skema-skema alam terbaca, sumber-sumber daya ternilai guna, dan peradaban-peradaban perlahan tumbuh di lanskap-lanskap dunia.

    Secara naqli, terlampau sering kita dengar, bahwa Allah telah “berpagi-pagi” memerintahkan kepada kita (hamba-Nya) untuk senantiasa mengamati alam dengan membaca.

    Membaca apa saja, asal dengan menyebut nama-Nya. Di sinilah literasi berperan “agung” sebagai alat atau cara kita mengamati semesta, merenungkan penciptaannya, hingga dengan mantap meniscayakan keberadaan-Nya.

    Hizkil memiliki minat dan bakat di sastra, penelitian ilmiah, saintis, teknisi pertanian, desainer grafis, desainer UI/UX, public speaker, dan cendekiawan muda.

    Hal itu dibuktikan dengan aktif dalam kegiatan yang ada didalam sekolah mulai dari Club Kimia Mansaolympia, Eksis Jurnalistik, dan KIR Neo-Adisiswa (2022-2024).

    Ia juga aktif dalam organisasi di masyarakat diantaranya PR IPNU desa Pondoknongko, Remas Baiturrahim Pondoknongko, Karang Taruna Pondoknongko, PAC IPNU kecamatan Kabat.

    Tak hanya itu, Hizkil juga aktif dalam Komunitas Pecinta Leterasi Banyuwangi dikenal dengan KOPIWANGI.

    Prestasi yang pernah diraihnya antara lain:

    1. Juara 2 Lomba Artikel Opini dan Konten Instagram Feskom UI 2024 Kategori Pelajar SLTA dan Mahasiswa Tingkat Nasional

    2. Juara 1 Lomba Essay Gemnas Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) 2024 Kategori Pelajar SLTA Tingkat Nasional

    3. Juara 3 Lomba Essay Phoenix Universitas Airlangga (Unair) 2024 Kategori Pelajar SLTA Tingkat Nasional. 

    4. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Ikatan Guru Inovator Literasi Nasional (IGINOS) 2024 Kategori Pelajar SLTA Tingkat Nasional. 

    5. Juara 1 Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Bidang Kimia Kategori Pelajar MA Tingkat Kabupaten Banyuwangi. 

    6. Juara 1 Lomba Cerdas Cermat Kelompok Sadar Hukum (Kadarkum) mewakili Desa Pondoknongko, Kategori Desa/Kelurahan Tingkat Kabupaten Banyuwangi. 

    7. Penghargaan Siswa Berprestasi MA Se-Kabupaten Banyuwangi dalam rangka Kemenag Banyuwangi (Kemangi) Award 2023.

    Adapun karya yang telah terbit, diantaranya:

    1. Buku Antologi Puisi dan Cerpen: Kearifan Lokal Kreativitas Sastra, terbitan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI). 

    2. Buku Antologi Cerpen Eksis Jurnalistik MAN 1 Banyuwangi: Sembagi Arutala, terbitan Penerbit Temalitera.

    3. Esai (Individu): PHY-SMART (Phytoremediation Stimulating Method with Partnership): Aplikasi Program Fitoremediasi Berbasis Kolaborasi Guna Memulihkan Lahan Tercemar Sebagai Upaya Pembangunan Berkelanjutan

    4. Esai Kelompok bersama Muhammad Reihan Rafsanzani dan Wildan Athala Rifqi: HUMBLE (Human Bioprocess Learning): Inovasi Edukasi Fisiologi Berbasis Gamifikasi untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan Masyarakat dalam Menyongsong Pembangunan Berkelanjutan, berhasil menjadi Juara 3 Essay Phoenix Unair 2024.

    5. Artikel Opini: Mengkaji Society 5.0: Di manakah Eksistensi Manusia?, berhasil menjadi Juara 2 Feskom UI 2024.

    6. Artikel Opini: Gen Z dan Pancasila Emas 2045, berhasil terbit di Times Indonesia (website) pada 20 Januari 2024.

    7. Artikel Opini: Flypast pada Upacara Kemerdekaan: Atraksi atau Polusi?, berhasil terbit di Radar Banyuwangi pada 23 Agustus 2023.

    8. Puisi: Entalpi Literasi, berhasil menjadi Juara 1 Cipta Puisi IGINOS 2024.

    9. Puisi: Madrasah Kauniyah, berhasil menjadi Juara 2 Cipta Puisi KOPIWANGI 2024.

    10. Puisi: Jika Kita Adalah Kupu-Kupu, peserta Cipta Puisi Internasional Sharepedia.id.

    Menurutnya di era media sosial, Gen Z lebih terpengaruh pada lingkungan eksternal dari pada internal.

    Mereka punya banyak kelebihan dibidang digital skill yang mumpuni, komunikatif, kreatif, dan cenderung peduli pada isu-isu global.

    Namun, ketergantungannya yang tinggi terhadap teknologi telah membuat mereka serba instan atau praktis, minim social skill, sehingga rawan gangguan mental.

    Hal-hal ini secara tidak langsung berpengaruh pada interest nya terhadap literasi.

    Namun kecenderungan untuk terjebak dopamine effect, mendapat validasi publik, dan ihwal ketergantungan lainnya telah membuat mereka rapuh di dalam walau terlihat gagah di luar (strawberry generation).

    Orientasi “keren” generasi ini telah berubah, dari yang awalnya keren adalah produktif menyerap ilmu dan menghasilkan karya-karya setiap hari, kini bergeser menjadi: keren adalah update foto-foto narsis di Instagram, ikut geng-geng unfaedah, dan menjadi superior di suatu komunitas sosial.

    “Untuk teman-teman millenial, saya berharap bisa menumbuhkan kesadaran dan lebih menghargai waktu. Setidaknya dengan tulisan ini, ada sedikit insight yang di dapat untuk berbenah. Berbenah mindset, berbenah kata, berbenah sikap, berbenah budaya, berbenah karakter, dan berbenah masa depan. Perhatikan, rumus cepatnya adalah berbenah mindset sama dengan berbenah masa depan. Tanamkan kesadaran pentingnya literasi, mulai akrabi buku-buku, dan yakinlah Allah akan memberikan jalan untuk mewujudkan komitmen dan masa depanmu” jelas Hizkil.

    Penulis: Andi Budi Setiawan