Kategori: Puisi

  • Ragamu Memang Pergi, tapi Kenanganmu Tertinggal di Sini

    Setiap manusia pasti akan mengalami yang namanya mati, ditipu pol*tisi, dan ditinggal pergi. Sekarang atau lusa, cepat atau lambat, kita akan ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayang.

    Begitu juga sebaliknya, kita pun akan pergi meninggalkan orang-orang yang sayang kepada kita. Semakin bertambah usia, seseorang harus siap dengan segala konsekuensi kehidupan. Semakin banyak bertemu, artinya semakin banyak pula perpisahan yang harus dilalui.

    Sebab pertemuan adalah awal dari perpisahan.

    Namun, perpisahan itu tidak selalu komplit. Yang terpisah hanyalah raga, tidak sepaket dengan kenangannya. Bisa jadi pikiran mencoba melupakan seseorang yang telah pergi, tapi bagaimana dengan indera yang lain?

    Kadang, kita mengendus aroma khas tertentu, kemudian ingat lagi dengan orang tersebut. Benar begitu? Berarti, kenangan tentang seseorang bisa menempel di sekujur badan kita.

    Artinya, kita tidak bisa lari dari kenangan dan cerita masa lalu. Cara paling mudah agar tidak tertanggu oleh selimut kenangan adalah melebur dengan kenangan itu sendiri.

    Terima saja, anggap itu bagian dari tubuh kita, meski tak rupa bentuknya. Sebab, apapun yang terjadi sudah ditentukan oleh kuasa-Nya, termasuk pertemuan dan perpisahan. Memang sulit, melebur dengan kenangan masa lalu. Tapi kamu bisa mempelajarinya dengan membaca buku Eunoia Sangkakala.

    Dalam buku itu, ada banyak puisi tentang kehidupan yang akan membuatmu lebih paham bagaimana cinta itu bekerja dan bagaimana semestinya cinta diletakkan.

    Semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa follow @sastrawacana untuk membaca story-story saya yg lainnya.

    Maulana Affandi, 11/06/2022

  • Puisi Hidangan Yang Tak Kunjung Usai – MF. Haiqal

    Hidangan yang Tak Kunjung Usai

    Oleh: MF. Haiqal

    Malam berlalu, lelaki itu masih kalang kabut meramu sajak untuk ibu
    Berhari-hari ditunggunya. Namun Jibril tak kunjung datang memberi wahyu
    Dalam kebingungan, sahabatnya Waktu juga tak membantu
    malah menatap nanar dirinya yang makin diburu waktu
    “Untuk pacarmu, ribuan kalimat mampu kaupikat
    Sedang untuk ibumu, sehuruf pun tak mampu kaurayu!”
    Beberapa kalimat indah telah selesai dirangkai
    tersusun dari serakan huruf yang terpungut di tiap persimpangan
    Kendati segar, segalanya terasa hambar; kurang gurih dan sedap
    tak seperti dendeng ibu yang dimasak penuh rempah renjana
    “Mengapa cinta palsu mampu menggerakkan pena meramu aksara
    sedang cinta sejati tak mampu menggerakkan hati mengukir abadi?”
    Lelaki itu kesal, ocehan Waktu terbukti benar
    Dijejalkan tiap huruf dalam wajan. Diaduk-aduk hingga meluap
    Disulutnya api amarah sampai satu-satu meleleh, melebur
    bersetubuh menjadi tumisan yang siap dihindangkan
    “Sudahi saja usaha kerasmu
    Saat semuanya usai, usianya sudah habis terurai!”
    Lelaki itu kembali kesal, sekali lagi Waktu terbukti benar
    Saat kalimat telah rampung ditumis dengan kalimat segar yang tak amis
    tiada lagi pujian untuk sajak hari itu
    Semuanya tertimbun gundukan tanah merah bertabur rempah
    “Sekarang pulanglah, istirahatkan duniamu
    Santaplah bekal terakhir yang ia buat untuk dirimu!”

    Di dapur sudah tersaji sepiring nasi dengan sepotong lauk
    masakan gurih yang dibumbui rempah renjana
    Meski berkecamuk air mata, lelaki itu makan dengan lahapnya
    Potongan dendeng hangat dari hati ibunya

    22 Desember 2020

  • Kumpulan Puisi Taufik Ismail yang Melegenda

    Kumpulan Puisi Taufik Ismail yang Melegenda

    Taufik Ismail adalah salah satu sastrawan senior di Indonesia. Ia telah menciptakan begitu banyak karya sastra yang indah dan menyentuh hati.

    Untuk membaca biografi lengkap Taufik Ismail, silakan baca di sini: Biografi Taufik Ismail.

    Berikut adalah beberapa kumpulan puisi karya Taufik Ismail.

    SEBUAH JAKET BERLUMURAN DARAH

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun.

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja
    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
    Berikara setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang.

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan.

    Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

    Jika adalah yang harus kaulakukan
    Ialah menyampaikan kebenaran
    Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
    Ialah ang bernama keyakinan
    Jika adalah yang harus kau tumbangkan
    Ialah segala pohon-pohon kezaliman
    Jika adalah orang yang harus kauagungkan
    Ialah hanya Rasul Tuhan
    Jika adalah kesempatan memilih mati
    Ialah syahid di jalan Ilahi.

    KARANGAN BUNGA

    Tiga anak kecil
    Dalam langkah malu-malu
    Datang ke salemba
    Sore itu.

    Ini dari kami bertiga
    Pita hitam pada karangan bunga
    Sebab kami ikut berduka
    Bagi kakak yang ditembak mati
    Siang tadi.

    Salemba

    Alma Mater, janganlah bersedih
    Bila arakan ini bergerak pelahan
    Menuju pemakaman
    Siang ini.

    Anakmu yang berani
    Telah tersungkur ke bumi
    Ketika melawan tirani.

    GUGUR DALAM PENCEGATAN TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN

    Demikian cerita kakek penjaga
    Tentang pengunjung lelaki setengah baya
    Berkemeja dril lusuh, dari luar kota
    Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya
    Datang ke musium perjuangan
    Pada suatu sore yang sepi
    Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela
    Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara
    Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu
    Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan
    Dan sebelum dia pergi
    Menyalami dulu kakek Aki
    Dengan tangannya yang dingin aneh
    Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh
    Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan
    Ke tengah gerimis di pekarangan
    Tetapi sebelum ke pagar halaman
    Lelaki itu tiba-tiba menghilang

    DOA

    Tuhan kami
    Telah nista kami dalam dosa bersama
    Bertahun-tahun membangun kultus ini
    Dalam pikiran yang ganda
    Dan menutupi hati nurani

    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amin

    Tuhan kami
    Telah terlalu mudah kami
    Menggunakan AsmaMu
    Bertahun di negeri ini
    Semoga Kau rela menerima kembali
    Kami dalam barisanMu

    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amin

    12 MEI, 1998

    Mengenang elang Mulya, Hery Hertanto,
    Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan

    Empat syuhada berangkat pada suatu malam
    gerimis air mata tertahan di hari keesokan
    telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
    dan simaklah itu sedu-sedan

    Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
    mengukir reformasi karena jemu deformasi
    dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,

    Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
    Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu

    Tapi malaikat telah mencatat
    indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti
    bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
    mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,

    Merah putih yang setengah tiang ini
    merunduk di bawah garang matahari
    tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi,

    Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama
    dan kalian pahlawan bersih dari dendam
    karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari tuhan.

    SYAIR ORANG LAPAR

    Lapar menyerang desaku
    Kentang dipanggang kemarau
    Surat orang kampungku
    Kuguratkan kertas
    Risau
    Lapar lautan pidato
    Ranah dipanggang kemarau
    Ketika berduyun mengemis
    Kesinikan hatimu
    Kuiris
    Lapar di Gunungkidul
    Mayat dipanggang kemarau
    Berjajar masuk kubur
    Kauulang jua
    Kalau.

    MEMANG SELALU DEMIKIAN, HADI

    Setiap perjuangan selalu melahirkan
    Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
    Jangan kau gusar, Hadi.

    Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
    Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
    Jangan kau kecewa, Hadi.

    Setiap perjuangan yang akan menang
    Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
    Dan para jagoan kesiangan.

    Memang demikianlah halnya, Hadi.

  • Puisi Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)

    Puisi Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)

    Pada Suatu Hari Nanti
    Sapardi Djoko Damono

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau tak akan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau tak akan letih-letihnya kucari

  • Puisi Melebur dengan Bayangmu

    Melebur dengan Bayangmu
    oleh Eva

    Resah.. Gundah.
    Bukan, Ini rindu..

    Baru saja aku beranjak,

    tapi bayangmu terus berpijak.

    Aku tak tahu harus apa.

    Yang aku tahu..
    Kau nyaris sempurna.

    Garis nadimu sangat nyata.
    Bagaimana mungkin aku bisa lupa?

    Hanya rajutan kata cinta,
    yang bisa menghantar rasa.

    Semoga saja..
    Kau menyukainya.

  • Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

    Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

    Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

    AKULAH SI TELAGA
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
    berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan
    bunga-bunga padma;
    berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
    sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
    — perahumu biar aku yang menjaganya

    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    ANGIN, 1
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke
    sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar
    suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei
    siapa ini yang mendadak di depanku?”

    angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita
    untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh
    lagi

    — sampai pagi tadi:
    ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di
    tengah bising-bising ini tanpa Hawa
    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    ANGIN, 2
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar
    semalaman.
    Seekor ular lewat, menghindar.
    Lelaki itu masih tidur.
    Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
    di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    AKU INGIN
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
     

    ANGIN, 3
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    “Seandainya aku bukan ……
    Tapi kau angin!
    Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut
    kamar,
    menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
    “Seandainya aku . . . ., .”
    Tapi kau angin!
    Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang
    perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
    “Seandainya ……
    Tapi kau angin!
    Jangan menjerit:
    semerbakmu memekakkanku.
    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    YANG FANA ADALAH WAKTU
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
    memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
    sampai pada suatu hari
    kita lupa untuk apa.
    “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
    tanyamu.
    Kita abadi.

     Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di
    belakang

    aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

    aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
    yang telah menciptakan bayang-bayang

    aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
    kami yang harus berjalan di depan

    BUNGA, 1
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    (i)
    Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
    Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit;
    siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak
    terbang berputar-putar di atas padang itu;
    malam hari ia mendengar seru serigala.

    Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku
    ini si bunga rumput, pilihan dewata!”

    (ii)
    Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.

    Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi,
    dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua
    itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm
    dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
    hutan terbakar dan setelah api ….

    Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para
    manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!” 
    Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    BUNGA, 2
    Oleh : Sapardi Djoko Damono

    mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
    taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
    jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya — tak ada
    alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
    menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
    kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
    selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
    menjelma
    pendar-pendar di permukaan kolam 
    Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    BUNGA, 3
    Oleh : Sapardi Djoko Damono 

    seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat
    ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
    tak ada sahutan
    seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di
    empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika
    terdengar ada yang memaksa membuka pintu
    lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah
    membawa pergi jasadku?”
     
    Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
    1982.

    HUJAN BULAN JUNI
    Tak ada yang lebih tabah
    Dari hujan bulan juni
    Dirahasiakannya rintik rindunya
    Kepada pohon berbunga itu
    Tak ada yang lebih bijak
    Dari hujan bulan juni
    Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
    Yang ragu-ragu di jalan ituTak ada yang lebih arif
    Dari hujan bulan juni
    Dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu(1989)DALAM DIRIKU
    Dalam diriku mengalir sungai panjang,
    Darah namanya;
    Dalam diriku menggenang telaga darah,
    Sukma namanya;
    Dalam diriku meriak gelombang sukma,
    Hidup namanya!
    Dan karena hidup itu indah,
    Aku menangis sepuas-puasnya
    (1980)Tiba-Tiba Malam pun risik
    tiba-tiba malam pun risik
    beribu Bisik
    tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
    satu-satunya Duka

    Di Atas Batu
    ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali…
    ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari…
    ia pandang sekeliling :
    matahari yang hilang – timbul di sela goyang daun-daunan,
    jalan setapak yang mendaki tebing kali,
    beberapa ekor capung
    — ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini
    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982.

    Hatiku Selembar Daun

    Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
    nanti dulu, biarkan aku sejenak…
    Terbaring di sini;
    ada yang masih ingin kupandang,
    yang selama ini senantiasa luput;
    Sesaat adalah abadi sebelum kausapu
    tamanmu setiap pagi…
    ~*Sapardi Djoko Damono*~
    Pada Suatu Hari Nanti
    Pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi…
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau tak akan kurelakan sendiri…
    Pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi…
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati…
    Pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi…
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau tak akan letih-letihnya kucari…
    ~*Sapardi Djoko Damono*~
  • Puisi Candu Rindu Karya Maulana Affandi

    Candu Rindu

    Maulana Affandi

     

    Hai candu rindu
    Yang selalu mengobati pilu

    Binar rembulan
    Yang membuat hati nyaman

    Seorang paling bermakan
    Tiada duanya
    Ya, itu kamu!

    Hari ini
    Dalam satu tarikan napas
    Kau menerimaku sebagai istrimu

    Kau bersaksi dengan amat tegas
    Tapi aku tahu
    Kau sedikit gemetar!

    Suamiku,
    Izinkan aku memelukmu
    Melayanimu dengan segenap ragaku
    Menjadi sandaran lelahmu
    Menghapus peluhmu

    Dan..
    Membahagiakanmu.

    Karena..
    Aku mencintaimu.

  • Pengertian Puisi Prosais dan Contohnya

    Pengertian Puisi Prosais dan Contohnya

    Pengertian Puisi Prosais

    Puisi Prosais adalah sebuah puisi yang tidak ditulis dalam format larik atau baris, tapi lebih menggunakan paragraf.

    Puisi prosais digunakan oleh seseorang untuk mengekspresikan pengalaman dan suasana batin yang sublim dengan nilai‑nilai rasa.

    Misalnya: duka yang dalam, gairah cinta yang melimpah, semangat heroisme yang berkobar‑kobar, emosi keagamaan, pengalamah  religius, dan sebagainya.

    Adapun ciri-ciri Puisi Prosais sebagai berikut:

    • Mengisahkan sebuah cerita dengan padat, padu ,dan indah melalui pililhan  kata, larik, rima dan ritme.
    • Argumen untuk puisi prosais menekankan perhatian yang tinggi terhadap bahasa dan penggunaan yang menonjol dari metafora.
    • Puisi prosais dapat diidentifikasi terutama sebagai prosa untuk ketergantungan pada asosiasi dengan prosa naratif dan harapan presentasi  tujuan dari kebenaran.

    Contoh Puisi Prosais

    Epitaf Rumah Buram
    Oleh
    Maulana Affandi

    Pahatan kayu yang indah sebagai atap pelindung tubuh manja

    Walau menengadah sombong tak akan gentar oleh sang mentari

    Rintik air dari langit ketujuh tak mampu membasahi muka

    Tiupan angin kencang tak mampu menembus kokohnya bangunan ini

    Berkumpul, berseri, dan berbagi cerita dengan kawan sedarah

    Saling membantu dan menyayangi tanpa tanda jasa

    Senyum manis dari bibir mereka setiap penghuni rumah

    Tempat pelipur lara saat hati sedang berduka

    Merasa kenyamanan ini adalah keabadian dan lalai dengan kewajiban

    Salah!

    Kesombongan menantang alam seakan dicatat olehnya

    Mereka dendam, mereka murka

    Tak ada yang membantu tak ada yang peduli

    Isakan tangis dari setiap wajah yang disayangi mulai meredup

    Sepi…. Dingin… Sendiri

    Tubuh terjepit tanah yang dipenuhi cacing-cacing liar

    Kain putih bersahaja sudah berganti warna dan tak layak pakai

    Itulah rumah sesungguhnya, rumah keabadian.

    Rumah yang hanya beratapkan epitaf nama buram.

  • Puisi Ibu (Rindu)

    Rindu Ibu

    oleh
    Yani

    Puisi Ibu sebagai pengobat rindu

    Entah harus bagaimana kukatakan
    Rasa  pedih ini
    aku yang terbuang

    Aku sungguh tak sanggup
    hidup dengan hati yang tersayat ini

    Apakah dosaku apakah kurangku
    Tak cukupkah pedih ini
    Tak cukupkah penderitaan ini

    Aku sungguh tak kuat menahan luka ini
    ibu..
    tolong peluk aku

    Mengapa mereka selalu menyakitiku
    ibu..
    bawahlah aku pergi
    jangan  biarkan  putus asa ada dihatiku
    kuingin tertidur dipelukmu

    Seandaikan aku boleh memilih
    kuingin akhiri hidup ini
    agar tak kurasakan lagi penderitaan ini

    ibu..
    temani aku dalam tidur malamku

    Kuingin malam ini
    kau tak melepas pelukanku

    Kuingin menangis dalam pelukmu ibu
    kuingin kau menguatkan hatiku
    dari deraan anak anakmu yang lain
    ibu..
    tolonglah  aku

  • Puisi Mengagumimu Dalam Diam

    Mengagumimu Dalam Diam

    oleh
    Yani

    Goresan aksaraku
    ingin menyapa tentang mu yang jauh
    benih benih rindu kini tumbuh dihatiku

    Rasa berdetak jantungku
    saat memandang lukisan wajahmu
    sungguh aku terpesona

    Apakah

    Rasa ini hanya aku yang rasakan
    Jujurku ingin dekat denganmu
    Ingin bersenda gurau denganmu
    Walau hanya lewat maya yang semu

    Namun bibirku tak sanggup berucap
    Hanya lewat aksara ini
    Ku ungkap keinginan hati

    Karena aku tau siapalah aku
    ku hanya wanita yang tak sempurna
    Mungkinkah kau terima aku dihatimu

    Walau sekedar teman tapi mesra
    Teman berbagi cerita berbagi rasa
    Sungguh keinginan ini menyiksaku

    Kukirimkan lewat maya ungkapan rasa
    yang tak sanggup ku ucap
    rinduku laksana candu
    merindumu setiap waktu

    Untaian sayairmu yang mengoda hatiku
    mungkinkah akulah pujaan hatimu
    ah….. jatuh cintakah aku

    Rasa itu ada
    sejak aku pertama kali mengenalmu
    sadarku betapa tak pantasnta aku untukmu

    Biarlah cinta dan rindu jadi rahasia hatiku
    biarlah bayangmu jadi teman mimpiku

    Kerena kamu tak mungkin menjadi
    Kekasih hatiku
    kerena kamu seperti dewa
    dan hatimu tak mungkin tersentuh olehku