Kategori: Puisi

  • Puisi Sirna Karya Rama

    Sirna
    oleh
    Rama

    Dariku
    Yang berada dalam kehampaan daun segar
    Buta, asing, tuli
    Ini alasanku kepada para kilau nama-nama cinta

    Pecandu-pecandu ketulusan itu
    Aku tak menyalahkan
    Jatuh semestinya pecinta
    Bahagia kebosanan
    Selalu campur adukkan

    Sampai pasrah
    Aku tak ingin jauh
    Karena dia pengubah

    Tidaknya aku dan dirimu
    Mendaki keterjalan dunia
    Karena cinta tak harus Adam dan Hawa

    Setelah itu
    Terbanglah di mana kau dapatkan
    Cukup aku daun segar
    Menyayang tanah di liangnya

  • Puisi Menata Umur Karya Dedy Eka

    Menata Umur
    oleh
    Dedy Eka

    Satu kali langkah maju
    Yang mulai memerdekakan aku
    Beban yang besar yang telah lama menunggu

    Kini dia telah meyambutku
    Beban kemarin adalah masa laluku
    Beban sekarang adalah tanggunganku
    Dan beban besok adalah masa depanku

    Semuanya sedang menenggelamkanku
    Memakanku
    Minumku
    Sampai mereka semua memuntahkanku
    Hanya bermodal muntahanku
    Aku sekarang bisa mendekati kemerdekaanku

  • Puisi Tiada Yang Lain Karya Dedi Eka

    Tiada yang Lain
    oleh
    Dedy Eka

    semilirnya angin malam ini
    membuai ku larut dalam lamunan
    hayal tentang keindahan
    dunia fana ini

    bila kita bersama selamanya
    kasih semu yang pernah kau curahkan
    ku bawa di perjalanan hidup ini

    tapi resah dan gelisah
    yang selalu menghantui
    karena sikapmu yang tak pasti

    ku coba melupakan dirimu
    karena ku tahu pasti sifatmu
    agar aku tak selalu rindu padamu

    kasih
    semakin aku lupakan
    semakin aku sadari
    cintaku hanya padamu seorang
    tiada yang lain

  • Puisi Payungan Karya Rama

    Payungan
    oleh
    Rama

    Bangkai-bangkai kapal menunggu
    Perahu mungil digiring ke tanjung
    Aku sudah jatuh

    Dengar curah tangis
    Dari rintih botol-botol serak arak
    Kurasa bodoh
    Di antara para bangkai

    Pergilah tak ada
    Sendiriku mengayun puntung
    Mereka asik larut kalap
    Takbir ramai berolah pesta

    Sadar tak ada lagi dirimu
    Jalang menjadi setan
    Aku merasa dihimpit sesak

    Malam terlalu rapuh di meja
    Payungan rindu naluriku
    Kau tak hilang
    Di bayang-bayang

  • Puisi Siapakah Coretan ini Karya Dedy Eka

    Siapakah Coretan ini
    oleh
    Dedy Eka

    terkadang aku menghianati coretan
    coretan yang telah mengajariku untuk mengerti semuanya
    coretan yang telah menggambarkan jalan hidupku
    seolah-olah coretan lah yang menjadi kemudi hidupku

    kini aku telah mencampakannya
    setelah aku berjumpa setapak jalan buntu
    setapak jalan yang kehilangan coretan

    aku tampak seperti orang bodoh
    bahkan sangat bodoh
    hanya tanpa coretan saja aku terasa kosong

    padahal hanya setapak jalan dan hanya tanpa coretan
    aku gak tahu lagi kemana arah coretan itu
    aku harap aku bisa bertemu lagi dengan coretan itu
    seenggaknya aku bisa memuja coretan itu lagi

  • Puisi Kosong-Plong Karya Dedy Eka

    Kosong-Plong
    oleh
    Dedy Eka

    special??
    bagiku gak ada yang special di dunia ini
    memiliki hati atau gak sama saja bagiku
    special itu gak ada

    sama sekali gak ada
    bahkan dalam diriku sendiri
    aku bukanlah orang yang special buwat diriku sendiri
    sempat aku bayangkan klo akan ada untukku

    satu hati yang akan menemaniku disaat hariku tiba
    tapi itu hanyalah sebatas bayanganku saja
    sebatas bayanganku

    orang berkata
    dari hati turun kemata
    sepasang matakupun aku gak melihat yang namanya special

    special bukanlah keyataan melainkan hanya kata-kata
    ya, hanya kata-kata
    kata-kata KOSONG

  • Puisi Ludah di Lidah Karya Enggar

    Ludah di Lidah
    oleh
    Enggar

    Menari berlari meliuk-liuk
    Dunia menerpamu
    Badai cumbu mengitari
    Luka hati bersalut gincu

    Lidah-lidah menjilati
    Entah di mana Tuhan saat itu
    Mungkin duduk sambil minum teh

    Tapi aku tahu
    Kau yang tidak tahu
    Dia sedang merajut mimpi
    Sekaligus mengoyaknya
    Dan kita adalah serpihannya

    Kau tak tahu rasanya
    Berjalan sekehendakmu
    Bersikap sesukamu
    Berpikir cukup dengan seperempat otak
    Atau tidak sama sekali

    Acuh dengan sampah di lidahmu
    Entah dunia sedang apa

    Jalan Terus!
    Karena kau tak pernah tahu
    Nikmatnya menjadi gila
    Asa menggantung senja
    Duka dia rasa seperti pucuk mengering

  • Puisi Patahan Yang Terlambat Karya Rama

    Patahan yang Terlambat

    oleh

    Rama

    Malam ini
    Hujan di rumahku beserta semua isi
    Ambruk penopang
    Juga dinding sawo matang dikibas deras

    Kugambar bara kepulan asap
    Anggur merah yang tercecer di lantai
    Bertahun-tahun ku indahkan
    Tergaris agar mewah atapnya

    Sekarang siapa doamu itu
    Kau lempar batu merusak
    Kau hujan mengelamkan rumahku
    Tapi juga kau
    Karena hidup mati diriku

    Lebur takdir ini enggan milikku
    Atau aku saja
    Jika itu tidak cinta

    Kutunggu di api abadi yang penuh peluh
    Jika itu mustahil kejujuran
    Aku nama yang sekian barisan
    Yang menunggumu
    Di permohonan malam

    Aku menyayangimu
    Menyayangimu

  • Puisi Gelisah Karya R.M. Adhitya Haritz

    Gelisah
    oleh
    R.M. Adhitya Haritz

    Teruntuk kekasih hati
    Malam ini KITA mulai bercucuran keringat
    Di antara pepohonan yang rimbun ini
    Keinginan KITA untuk bersatu mengalahkan segalanya
    Walaupun sang penguasa tak merestuinya

    Cucuran keringat ini
    Mengingatkanku akan kegelisahan KITA
    Kenangan indah ini tak akan kulupakan
    Walau hanya sejenak

    Coba kau ingat sayang
    Apa yang telah KITA lakukan semalam
    Indah sekali bukan

    KITA bercumbu mesra
    Di tengah rerimbunan pepohonan ini
    Bersatu mengalahkan mereka yang ingin KITA berpisah

    Kegelisahan KITA ini
    Membuat KITA semakin berhasrat untuk bercumbu
    Marilah segera KITA akhiri saja percumbuan malam ini

    KITA songsong hari esok yang telah menanti

  • Puisi Sajak Karya AHM

    Sajak Kita
    oleh
    AHM

    Di sudut malam ini
    Ku mulai menulis sajak tentang kita
    Hanya ada kau dan aku
    Ya..
    hanya KITA berdua

    Tanpa sehelai benangpun
    KITA mulai menyusuri indahnya malam
    Hingga pagi menjelang
    KITA masih bercengkrama
    Tanpa mempedulikan yang lainnya

    Hingga KITA sama-sama lemas
    Dan terbaring bersama

    Tak terasa pagi mulai menyapa
    Dan kaupun membangunkanku dengan sapaan mesramu
    Saat kubuka mata
    Rasanya aku masih ingin bercumbu denganmu
    TUHAN