Kategori: Sastra

  • Jelaskan yang kamu ketahui tentang diksi dalam puisi?

    Jelaskan yang kamu ketahui tentang diksi dalam puisi?

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kbbi), diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan).

    Diksi dalam puisi merupakan salah satu unsur penting yang menentukan keindahan dan kekuatan penyampaian makna.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga menimbulkan efek tertentu seperti yang diharapkan.

    Dengan kata lain, diksi tidak hanya sekadar memilih kata yang sesuai arti, tetapi juga mempertimbangkan nuansa, rasa, dan pengaruh emosional yang ditimbulkan pada pembaca atau pendengar.

    Dalam dunia sastra, khususnya puisi, diksi sering disebut sebagai pilihan kata.

    Pemilihan kata ini harus dilakukan dengan cermat, karena setiap kata memiliki makna tertentu yang berbeda dengan kata lainnya, walaupun sekilas terlihat mirip.

    Misalnya, kata “sunyi” dan “sepi” memiliki arti yang dekat, tetapi “sunyi” cenderung memberi kesan hening dan tenang, sedangkan “sepi” lebih menekankan pada perasaan kesendirian atau kehilangan. Perbedaan kecil seperti ini dapat mengubah suasana keseluruhan dalam puisi.

    Penggunaan diksi yang tepat akan membuat puisi menjadi lebih hidup dan mampu menyampaikan emosi penulis secara efektif.

    Sebaliknya, jika pemilihan kata kurang tepat, pesan yang ingin disampaikan bisa menjadi kabur atau bahkan kehilangan kekuatan estetikanya.

    Oleh karena itu, penyair perlu memahami betul arti dan nuansa setiap kata yang digunakan, termasuk memikirkan kesesuaian bunyi, ritme, dan kesan yang dihasilkan.

    Diksi juga berperan dalam membangun citraan atau imaji dalam puisi. Dengan kata yang tepat, pembaca dapat membayangkan suasana, merasakan emosi, bahkan ikut larut dalam pengalaman yang disampaikan.

    Karena itu, menguasai diksi bukan hanya soal memahami makna kata, tetapi juga mengerti bagaimana kata tersebut bekerja dalam rangkaian bahasa yang indah dan bermakna.

     

  • Gurindam dua belas adalah gurindam karya siapa?

    Gurindam dua belas adalah gurindam karya siapa?

    Gurindam dua belas adalah gurindam karya Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, seorang sastrawan Melayu.

    Gurindam dua belas berisikan nasihat dan petunjuk mulia agar manusia bisa hidup lebih baik dengan berlandaskan agama.

    Gurindam Dua Belas

    Gurindam Pasal 1

    Barang siapa tiada memegang agama,
    sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
    Barang siapa mengenal yang empat,
    maka ia itulah orang ma’rifat
    Barang siapa mengenal Allah,
    suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
    Barang siapa mengenal diri,
    maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
    Barang siapa mengenal dunia,
    tahulah ia barang yang terpedaya.
    Barang siapa mengenal akhirat,
    tahulah ia dunia mudarat.

    Gurindam Pasal 2

    Barang siapa mengenal yang tersebut,
    tahulah ia makna takut.
    Barang siapa meninggalkan sembahyang,
    seperti rumah tiada bertiang.
    Barang siapa meninggalkan puasa,
    tidaklah mendapat dua temasya.
    Barang siapa meninggalkan zakat,
    tiadalah hartanya beroleh berkat.
    Barang siapa meninggalkan haji,
    tiadalah ia menyempurnakan janji.

    Gurindam Pasal 3

    Apabila terpelihara mata,
    sedikitlah cita-cita.
    Apabila terpelihara kuping,
    khabar yang jahat tiadalah damping.
    Apabila terpelihara lidah,
    nescaya dapat daripadanya faedah
    Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
    daripada segala berat dan ringan.
    Apabila perut terlalu penuh,
    keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
    Anggota tengah hendaklah ingat,
    di situlah banyak orang yang hilang semangat
    Hendaklah peliharakan kaki,
    daripada berjalan yang membawa rugi.

    Gurindam Pasal 4

    Hati kerajaan di dalam tubuh,
    jikalau zalim segala anggota pun roboh.
    Apabila dengki sudah bertanah,
    datanglah daripadanya beberapa anak panah.
    Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
    di situlah banyak orang yang tergelincir.
    Pekerjaan marah jangan dibela,
    nanti hilang akal di kepala.
    Jika sedikitpun berbuat bohong,
    boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
    Tanda orang yang amat celaka,
    aib dirinya tiada ia sangka.
    Bakhil jangan diberi singgah,
    itupun perampok yang amat gagah.
    Barang siapa yang sudah besar,
    janganlah kelakuannya membuat kasar.
    Barang siapa perkataan kotor,
    mulutnya itu umpama ketur.
    Di mana tahu salah diri,
    jika tidak orang lain yang berperi.

    Gurindam Pasal 5

    Jika hendak mengenal orang berbangsa,
    lihat kepada budi dan bahasa,
    Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
    sangat memeliharakan yang sia-sia.
    Jika hendak mengenal orang mulia,
    lihatlah kepada kelakuan dia.
    Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
    bertanya dan belajar tiadalah jemu.
    Jika hendak mengenal orang yang berakal,
    di dalam dunia mengambil bekal.
    Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
    lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

    Gurindam Pasal 6

    Cahari olehmu akan sahabat,
    yang boleh dijadikan obat.
    Cahari olehmu akan guru,
    yang boleh tahukan tiap seteru.
    Cahari olehmu akan isteri,
    yang boleh menyerahkan diri.
    Cahari olehmu akan kawan,
    pilih segala orang yang setiawan.
    Cahari olehmu akan abdi,
    yang ada baik sedikit budi,

    Gurindam Pasal 7

    Apabila banyak berkata-kata,
    di situlah jalan masuk dusta.
    Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
    itulah tanda hampir duka.
    Apabila kita kurang siasat,
    itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
    Apabila anak tidak dilatih,
    jika besar bapanya letih.
    Apabila banyak mencela orang,
    itulah tanda dirinya kurang.
    Apabila orang yang banyak tidur,
    sia-sia sahajalah umur.
    Apabila mendengar akan khabar,
    menerimanya itu hendaklah sabar.
    Apabila menengar akan aduan,
    membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
    Apabila perkataan yang lemah-lembut,
    lekaslah segala orang mengikut.
    Apabila perkataan yang amat kasar,
    lekaslah orang sekalian gusar.
    Apabila pekerjaan yang amat benar,
    tidak boleh orang berbuat onar.

    Gurindam Pasal 8

    Barang siapa khianat akan dirinya,
    apalagi kepada lainnya.
    Kepada dirinya ia aniaya,
    orang itu jangan engkau percaya.
    Lidah yang suka membenarkan dirinya,
    daripada yang lain dapat kesalahannya.
    Daripada memuji diri hendaklah sabar,
    biar pada orang datangnya khabar.
    Orang yang suka menampakkan jasa,
    setengah daripada syirik mengaku kuasa.
    Kejahatan diri sembunyikan,
    kebaikan diri diamkan.
    Keaiban orang jangan dibuka,
    keaiban diri hendaklah sangka.

    Gurindam Pasal 9

    Tahu pekerjaan tak baik,
    tetapi dikerjakan,
    bukannya manusia yaituiah syaitan.
    Kejahatan seorang perempuan tua,
    itulah iblis punya penggawa.
    Kepada segaia hamba-hamba raja,
    di situlah syaitan tempatnya manja.
    Kebanyakan orang yang muda-muda,
    di situlah syaitan tempat berkuda.
    Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
    di situlah syaitan punya jamuan.
    Adapun orang tua yang hemat,
    syaitan tak suka membuat sahabat
    Jika orang muda kuat berguru,
    dengan syaitan jadi berseteru.

    Gurindam Pasal 10

    Dengan bapa jangan durhaka,
    supaya Allah tidak murka.
    Dengan ibu hendaklah hormat,
    supaya badan dapat selamat.
    Dengan anak janganlah lalai,
    supaya boleh naik ke tengah balai.
    Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
    supaya kemaluan jangan menerpa.
    Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

    Gurindam Pasal 11

    Hendaklah berjasa,
    kepada yang sebangsa.
    Hendaklah jadi kepala,
    buang perangai yang cela.
    Hendaklah memegang amanat,
    buanglah khianat.
    Hendak marah,
    dahulukan hujah.
    Hendak dimulai,
    jangan melalui.
    Hendak ramai,
    murahkan perangai.

    Gurindam Pasal 12

    Raja mufakat dengan menteri,
    seperti kebun berpagarkan duri.
    Betul hati kepada raja,
    tanda jadi sebarang kerja.
    Hukum adil atas rakyat,
    tanda raja beroleh inayat.
    Kasihkan orang yang berilmu,
    tanda rahmat atas dirimu.
    Hormat akan orang yang pandai,
    tanda mengenal kasa dan cindai.
    Ingatkan dirinya mati,
    itulah asal berbuat bakti.
    Akhirat itu terlalu nyata,
    kepada hati yang tidak buta.

  • Sinopsis Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata

    Sinopsis Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata

    – Judul Buku Resensi : Sang Pemimpi
    – Tahun Terbit : 2011
    – Penerbit : Bentang Pustaka
    – Penulis : Andrea Hirata
    – Jumlah Halaman : 248 halaman

    Sinopsis Novel Sang Pemimpi

    Cerita novel sang pemimpi mengisahkan tentang persahabatan yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

    Mereka memiliki tekad yang kuat untuk mengenyam pendidikan di SMA Negeri yang kemudian mengantarkan mereka ke Kota Sorbenne, Perancis.

    Setelah berhasil melanjutkan sekolah ke SMA Negeri, perjuangan mereka tak berhenti sampai di situ saja.

    Untuk mewujudkan mimpi, mereka rela tinggal di daerah pasar yang kumuh.

    Selain itu, mereka juga bekerja sebagai kuli di pasar agar dapat memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari.

    Baca juga: Sinopsis Novel Rantau 1 Muara Karya A. Fuadi

    Adapun beberapa tokoh dalam buku novel sang Pemimpi ini adalah Arai yang hidupnya sebatang kara.

    Lalu ada Jimbron yang teguh dalam prinsip agama Islam, walaupun sedari kecil ia dididik oleh seorang pendeta.

    Kemudian ada tokoh Ikal yang orangtuanya mengalami kebangkrutan.

    Di tengah-tengah keterpurukan ini, 3 Sang Pemimpi mulai berambisi untuk mulai berani bermimpi.

    Diawali dari mimpi Arai yang kemudian disusul oleh kedua temannya.

    Bermodal keyakinan dan tekad yang bulat untuk meraih cita-cita membuat mereka pergi meninggalkan kampung halaman.

    Ada banyak tokoh pembantu lainnya dalam novel ini, antara lain Pak Mustar, Pak Drs. Julian Ichsan Balia, Nurmalala, Lakshmi, Taikong Hamim, Bang Zaitun dan masih banyak lagi.

    Itulah ringkasan novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

    Saat baca baca novel Sang Pemimpi, pembaca akan merasakan bagaimana kebulatan tekad anak yang berasal dari kampung untuk mengubah masa depan.

    Kemudian, buku Sang Pemimpi juga membawa pembaca melihat persahabatan yang tulus dan saling membantu dalam mewujudkan cita-cita.

  • Sinopsis Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

    Sinopsis Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

    Judul: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur
    Penulis: Muhidin M. Dahlan
    Sinopsis Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

    Cerita ini merupakan kisah nyata seorang mahasiswi S1 di kota Yogyakarta, bernama Nidah Kirani.

    Ia dikenal sebagai aktivis kampus, sekaligus aktivis organisasi Islam.

    Dalam penampilannya, ia sangat terlihat saleha dengan jilbab besar dan tak ketinggalan ibadah sekalipun.

    Karena saking cintanya kepada agama Islam, ia pun mengikuti hampir seluruh organisasi-organisasi Islam untuk menggali ilmunya.

    Tiba saat ia masuk ke salah satu organisasi, ia menemukan kejanggalan.

    Organisasi garis keras yang menyeleweng dari ajaran Islam sebenarnya.

    Bukannya membuat Nidah berislam kaffah, organisasi itu justru merampas nalar kritis dan imannya.

    Membuatnya kecewa dan frustrasi sampai beberapa kali ia menggugat pimpinan organisasi tetapi diancam siapa yang keluar dari organisasi itu maka akan dibunuh.

    Organisasi itu pun seperti menutupi sesuatu dari para anggotanya.

    Puncak rasa kecewanya, Nidah mulai merokok, melepas jilbab, meminum minuman keras, bahkan menjual tubuhnya.

    Dalam pencariannya, ia seakan menantang Tuhannya sendiri, tidak merasa bersalah seusai melakukan perzinaan. Ia merasa sudah berhasil menguliti orang-orang munafik.

    Dosen, seniman, sampai ustad bahkan tunduk pada tubuhnya. Ia merasa bangga dan di atas angin.

    Dalam hati kepercayaannya terhadap laki-laki, cinta, dan pernikahan menjadi nihil.

    Dan dengan perasaan kecewa, marah dan kesal ia berusaha bangkit dan tak mau kalah dalam mencari pembenaran-pembenaran.

    Beberapa kali ia mencoba bunuh diri, untuk menantang Tuhannya bahwa ia bisa mematikan hidup dengan tangannya sendiri.

    Dan saat ia memutuskan menjadi pelacur, justru yang menjadi germonya adalah dosennya anggota DPRD dari fraksi islam.

    Nidah mencari perhatian Tuhan dengan menantangnya.

    Nidah melakukan itu sebagai bentuk pemberontakan terhadap Tuhannya yang ia percayai tetapi ternyata tidak bisa menolongnya.

    Ini adalah kisah tentang Nidah Kirani yang mencari jati dirinya, tetapi mengambil langkah yang salah.

  • Gurindam 12 dan Artinya – Raja Ali Haji

    Gurindam 12 dan Artinya – Raja Ali Haji

    Gurindam Pasal 1

    Barang siapa tiada memegang agama,
    sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
    Barang siapa mengenal yang empat,
    maka ia itulah orang ma’rifat
    Barang siapa mengenal Allah,
    suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
    Barang siapa mengenal diri,
    maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
    Barang siapa mengenal dunia,
    tahulah ia barang yang terpedaya.
    Barang siapa mengenal akhirat,
    tahulah ia dunia mudarat.

    Gurindam Pasal 2

    Barang siapa mengenal yang tersebut,
    tahulah ia makna takut.
    Barang siapa meninggalkan sembahyang,
    seperti rumah tiada bertiang.
    Barang siapa meninggalkan puasa,
    tidaklah mendapat dua temasya.
    Barang siapa meninggalkan zakat,
    tiadalah hartanya beroleh berkat.
    Barang siapa meninggalkan haji,
    tiadalah ia menyempurnakan janji.

    Gurindam Pasal 3

    Apabila terpelihara mata,
    sedikitlah cita-cita.
    Apabila terpelihara kuping,
    khabar yang jahat tiadalah damping.
    Apabila terpelihara lidah,
    nescaya dapat daripadanya faedah.
    Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
    daripada segala berat dan ringan.
    Apabila perut terlalu penuh,
    keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
    Anggota tengah hendaklah ingat,
    di situlah banyak orang yang hilang semangat
    Hendaklah peliharakan kaki,
    daripada berjalan yang membawa rugi.

    Gurindam Pasal 4

    Hati kerajaan di dalam tubuh,
    jikalau zalim segala anggota pun roboh.
    Apabila dengki sudah bertanah,
    datanglah daripadanya beberapa anak panah.
    Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
    di situlah banyak orang yang tergelincir.
    Pekerjaan marah jangan dibela,
    nanti hilang akal di kepala.
    Jika sedikitpun berbuat bohong,
    boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
    Tanda orang yang amat celaka,
    aib dirinya tiada ia sangka.
    Bakhil jangan diberi singgah,
    itupun perampok yang amat gagah.
    Barang siapa yang sudah besar,
    janganlah kelakuannya membuat kasar.
    Barang siapa perkataan kotor,
    mulutnya itu umpama ketur.
    Di mana tahu salah diri,
    jika tidak orang lain yang berperi.

    Gurindam Pasal 5

    Jika hendak mengenal orang berbangsa,
    lihat kepada budi dan bahasa,
    Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
    sangat memeliharakan yang sia-sia.
    Jika hendak mengenal orang mulia,
    lihatlah kepada kelakuan dia.
    Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
    bertanya dan belajar tiadalah jemu.
    Jika hendak mengenal orang yang berakal,
    di dalam dunia mengambil bekal.
    Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
    lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

    Gurindam Pasal 6

    Cahari olehmu akan sahabat,
    yang boleh dijadikan obat.
    Cahari olehmu akan guru,
    yang boleh tahukan tiap seteru.
    Cahari olehmu akan isteri,
    yang boleh menyerahkan diri.
    Cahari olehmu akan kawan,
    pilih segala orang yang setiawan.
    Cahari olehmu akan abdi,
    yang ada baik sedikit budi,

    Gurindam Pasal 7

    Apabila banyak berkata-kata,
    di situlah jalan masuk dusta.
    Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
    itulah tanda hampir duka.
    Apabila kita kurang siasat,
    itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
    Apabila anak tidak dilatih,
    jika besar bapanya letih.
    Apabila banyak mencela orang,
    itulah tanda dirinya kurang.
    Apabila orang yang banyak tidur,
    sia-sia sahajalah umur.
    Apabila mendengar akan khabar,
    menerimanya itu hendaklah sabar.
    Apabila menengar akan aduan,
    membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
    Apabila perkataan yang lemah-lembut,
    lekaslah segala orang mengikut.
    Apabila perkataan yang amat kasar,
    lekaslah orang sekalian gusar.
    Apabila pekerjaan yang amat benar,
    tidak boleh orang berbuat onar.

    Gurindam Pasal 8

    Barang siapa khianat akan dirinya,
    apalagi kepada lainnya.
    Kepada dirinya ia aniaya,
    orang itu jangan engkau percaya.
    Lidah yang suka membenarkan dirinya,
    daripada yang lain dapat kesalahannya.
    Daripada memuji diri hendaklah sabar,
    biar pada orang datangnya khabar.
    Orang yang suka menampakkan jasa,
    setengah daripada syirik mengaku kuasa.
    Kejahatan diri sembunyikan,
    kebaikan diri diamkan.
    Keaiban orang jangan dibuka,
    keaiban diri hendaklah sangka.

    Gurindam Pasal 9

    Tahu pekerjaan tak baik,
    tetapi dikerjakan,
    bukannya manusia yaituiah syaitan.
    Kejahatan seorang perempuan tua,
    itulah iblis punya penggawa.
    Kepada segaia hamba-hamba raja,
    di situlah syaitan tempatnya manja.
    Kebanyakan orang yang muda-muda,
    di situlah syaitan tempat berkuda.
    Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
    di situlah syaitan punya jamuan.
    Adapun orang tua yang hemat,
    syaitan tak suka membuat sahabat
    Jika orang muda kuat berguru,
    dengan syaitan jadi berseteru.

    Gurindam Pasal 10

    Dengan bapa jangan durhaka,
    supaya Allah tidak murka.
    Dengan ibu hendaklah hormat,
    supaya badan dapat selamat.
    Dengan anak janganlah lalai,
    supaya boleh naik ke tengah balai.
    Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
    supaya kemaluan jangan menerpa.
    Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

    Gurindam Pasal 11

    Hendaklah berjasa,
    kepada yang sebangsa.
    Hendaklah jadi kepala,
    buang perangai yang cela.
    Hendaklah memegang amanat,
    buanglah khianat.
    Hendak marah,
    dahulukan hujah.
    Hendak dimulai,
    jangan melalui.
    Hendak ramai,
    murahkan perangai.

    Gurindam Pasal 12

    Raja mufakat dengan menteri,
    seperti kebun berpagarkan duri.
    Betul hati kepada raja,
    tanda jadi sebarang kerja.
    Hukum adil atas rakyat,
    tanda raja beroleh inayat.
    Kasihkan orang yang berilmu,
    tanda rahmat atas dirimu.
    Hormat akan orang yang pandai,
    tanda mengenal kasa dan cindai.
    Ingatkan dirinya mati,
    itulah asal berbuat bakti.
    Akhirat itu terlalu nyata,
    kepada hati yang tidak buta.

    Keterangan

    Bakhil ; kikir atau pelit
    Balai : rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)
    Bachri : hal mengenai lautan (luas)
    Berperi : berkata-kata
    Cindai : kain sutra yang berbunga-bunga
    Damping : dekat, karib, atau akrab
    Fi’il : tingkah laku, perbuatan
    Hujjah : tanda, bukti, atau alasan
    Inayat : pertolongan atau bantuan
    Kafill : majikan atau orang yang menanggung kerja
    Kasa : kain putih yang halus
    Ketor : tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan
    Ma’rifat : tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan yang kuat
    Menyalah : melakukan kesalahan
    Mudarat : sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna
    Pekong : (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk
    Penggawa : kepala pasukan, kepala desa
    Perangai : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan
    Senonoh : perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)
    Tegah : menghentikan
    Teperdaya : tertipu
    Termasa : tamasya

  • Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Cinta dan Kehidupan

    AKU TULIS PAMPLET INI

    Oleh :
    W.S. Rendra

    Aku tulis pamplet ini
    karena lembaga pendapat umum
    ditutupi jaring labah-labah
    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
    dan ungkapan diri ditekan
    menjadi peng – iya – an
    Apa yang terpegang hari ini
    bisa luput besok pagi
    Ketidakpastian merajalela.
    Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
    menjadi marabahaya
    menjadi isi kebon binatang
    Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
    maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
    Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
    Tidak mengandung perdebatan
    Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
    Aku tulis pamplet ini
    karena pamplet bukan tabu bagi penyair
    Aku inginkan merpati pos.
    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
    Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
    Aku tidak melihat alasan
    kenapa harus diam tertekan dan termangu.
    Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
    Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
    Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
    Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
    Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
    Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
    Rembulan memberi mimpi pada dendam.
    Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
    yang teronggok bagai sampah
    Kegamangan. Kecurigaan.
    Ketakutan.
    Kelesuan.
    Aku tulis pamplet ini
    karena kawan dan lawan adalah saudara
    Di dalam alam masih ada cahaya.
    Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
    Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
    Dan di dalam air lumpur kehidupan,
    aku melihat bagai terkaca :
    ternyata kita, toh, manusia !
    Pejambon Jakarta 27 April 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tuhanku,
    WajahMu membayang di kota terbakar
    dan firmanMu terguris di atas ribuan
    kuburan yang dangkal
    Anak menangis kehilangan bapa
    Tanah sepi kehilangan lelakinya
    Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
    tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
    Apabila malam turun nanti
    sempurnalah sudah warna dosa
    dan mesiu kembali lagi bicara
    Waktu itu, Tuhanku,
    perkenankan aku membunuh
    perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Malam dan wajahku
    adalah satu warna
    Dosa dan nafasku
    adalah satu udara.
    Tak ada lagi pilihan
    kecuali menyadari
    -biarpun bersama penyesalan-
    Apa yang bisa diucapkan
    oleh bibirku yang terjajah ?
    Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
    mendekap bumi yang mengkhianatiMu
    Tuhanku
    Erat-erat kugenggam senapanku
    Perkenankan aku membunuh
    Perkenankan aku menusukkan sangkurku
    Mimbar Indonesia
    Th. XIV, No. 25
    18 Juni 1960

    GERILYA
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling di jalan
    Angin tergantung
    terkecap pahitnya tembakau
    bendungan keluh dan bencana
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Dengan tujuh lubang pelor
    diketuk gerbang langit
    dan menyala mentari muda
    melepas kesumatnya
    Gadis berjalan di subuh merah
    dengan sayur-mayur di punggung
    melihatnya pertama
    Ia beri jeritan manis
    dan duka daun wortel
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Orang-orang kampung mengenalnya
    anak janda berambut ombak
    ditimba air bergantang-gantang
    disiram atas tubuhnya
    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan
    Lewat gardu Belanda dengan berani
    berlindung warna malam
    sendiri masuk kota
    ingin ikut ngubur ibunya
    Siasat
    Th IX, No. 42
    1955

    GUGUR
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Tiada kuasa lagi menegak
    Telah ia lepaskan dengan gemilang
    pelor terakhir dari bedilnya
    Ke dada musuh yang merebut kotanya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Ia sudah tua
    luka-luka di badannya
    Bagai harimau tua
    susah payah maut menjeratnya
    Matanya bagai saga
    menatap musuh pergi dari kotanya
    Sesudah pertempuran yang gemilang itu
    lima pemuda mengangkatnya
    di antaranya anaknya
    Ia menolak
    dan tetap merangkak
    menuju kota kesayangannya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Belumlagi selusin tindak
    mautpun menghadangnya.
    Ketika anaknya memegang tangannya
    ia berkata :
    ” Yang berasal dari tanah
    kembali rebah pada tanah.
    Dan aku pun berasal dari tanah
    tanah Ambarawa yang kucinta
    Kita bukanlah anak jadah
    Kerna kita punya bumi kecintaan.
    Bumi yang menyusui kita
    dengan mata airnya.
    Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
    Bumi kita adalah kehormatan.
    Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
    Ia adalah bumi nenek moyang.
    Ia adalah bumi waris yang sekarang.
    Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
    Hari pun berangkat malam
    Bumi berpeluh dan terbakar
    Kerna api menyala di kota Ambarawa
    Orang tua itu kembali berkata :
    “Lihatlah, hari telah fajar !
    Wahai bumi yang indah,
    kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
    Nanti sekali waktu
    seorang cucuku
    akan menacapkan bajak
    di bumi tempatku berkubur
    kemudian akan ditanamnya benih
    dan tumbuh dengan subur
    Maka ia pun berkata :
    -Alangkah gemburnya tanah di sini!”
    Hari pun lengkap malam
    ketika menutup matanya

    HAI, KAMU !
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Luka-luka di dalam lembaga,
    intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
    noda di dalam pergaulan antar manusia,
    duduk di dalam kemacetan angan-angan.
    Aku berontak dengan memandang cakrawala.
    Jari-jari waktu menggamitku.
    Aku menyimak kepada arus kali.
    Lagu margasatwa agak mereda.
    Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
    Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
    Jakarta, 29 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SEORANG GERILYA
    (Untuk puteraku Isaias Sadewa)
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Engkau melayang jauh, kekasihku.
    Engkau mandi cahaya matahari.
    Aku di sini memandangmu,
    menyandang senapan, berbendera pusaka.
    Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
    engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
    Engkau menjadi suatu keindahan,
    sementara dari jauh
    resimen tank penindas terdengar menderu.
    Malam bermandi cahaya matahari,
    kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
    Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
    engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
    Peluruku habis
    dan darah muncrat dari dadaku.
    Maka di saat seperti itu
    kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
    bersama kakek-kakekku yang telah gugur
    di dalam berjuang membela rakyat jelata
    Jakarta, 2 september 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    LAGU SERDADU
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Kami masuk serdadu dan dapat senapang
    ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
    Yoho, darah kami campur arak!
    Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak
    Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
    Wahai, tanah yang baik untuk mati
    Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
    cukilah ia bagi puteraku di rumah
    Siasat
    No. 630, th. 13
    Nopember 1959

    MAZMUR MAWAR

    Kita muliakan Nama Tuhan
    Kita muliakan dengan segenap mawar
    Kita muliakan Tuhan yang manis,
    indah, dan penuh kasih sayang
    Tuhan adalah serdadu yang tertembak
    Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
    sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
    dengan baju compang-camping
    membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
    Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
    Dengan pandangan arif dan bijak
    membelai kepala para pelacur
    Tuhan berada di gang-gang gelap
    Bersama para pencuri, para perampok
    dan para pembunuh
    Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
    Raja dari segala raja
    adalah cacing bagi bebek dan babi
    Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
    yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu
    Dan sekarang saya lihat
    Tuhan sebagai orang tua renta
    tidur melengkung di trotoar
    batuk-batuk karena malam yang dingin
    dan tangannya menekan perutnya yang lapar
    Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
    menangis di tepi jalan.
    Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
    Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
    Para perampok, pembunuh, penjudi,
    pelacur, penganggur, dan peminta-minta
    Marilah kita datang kepada-Nya
    kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.
    Dikutip dari:
    Sajak-sajak Sepatu Tua
    Rendra
    Pustaka Jaya

    NOTA BENE : AKU KANGEN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,
    indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
    Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
    dan anak kita akan lahir di cakrawala.
    Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
    Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
    untukmu hidupku terbuka.
    Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
    Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
    Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
    aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
    Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ORANG-ORANG MISKIN
    Oleh :
    W.S. Rendra

    Orang-orang miskin di jalan,
    yang tinggal di dalam selokan,
    yang kalah di dalam pergulatan,
    yang diledek oleh impian,
    janganlah mereka ditinggalkan.
    Angin membawa bau baju mereka.
    Rambut mereka melekat di bulan purnama.
    Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
    mengandung buah jalan raya.
    Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
    Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
    Tak bisa kamu abaikan.
    Bila kamu remehkan mereka,
    di jalan kamu akan diburu bayangan.
    Tidurmu akan penuh igauan,
    dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
    Jangan kamu bilang negara ini kaya
    karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
    Jangan kamu bilang dirimu kaya
    bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
    Dan perlu diusulkan
    agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
    Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
    Orang-orang miskin di jalan
    masuk ke dalam tidur malammu.
    Perempuan-perempuan bunga raya
    menyuapi putra-putramu.
    Tangan-tangan kotor dari jalanan
    meraba-raba kaca jendelamu.
    Mereka tak bisa kamu biarkan.
    Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
    Mereka akan menjadi pertanyaan
    yang mencegat ideologimu.
    Gigi mereka yang kuning
    akan meringis di muka agamamu.
    Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
    akan hinggap di gorden presidenan
    dan buku programma gedung kesenian.
    Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
    bagai udara panas yang selalu ada,
    bagai gerimis yang selalu membayang.
    Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    tertuju ke dada kita,
    atau ke dada mereka sendiri.
    O, kenangkanlah :
    orang-orang miskin
    juga berasal dari kemah Ibrahim
    Yogya, 4 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    Sajak Sajak Cinta

    Setiap ruang yang tertutup akan retak
    karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi
    Dan akhirnya akan meledak
    bila tenaga waktu terus terhadang

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Ikhlas dan sebenarnya
    Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa
    Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada

    Cintaku kepadamu Juwitaku
    Kemudian meruang dan mewaktu
    dalam hidupku yang sekedar insan

    Ruang cinta aku berdayakan
    tapi waktunya lepas dari jangkauan
    Sekarang aku menyadari
    usia cinta lebih panjang dari usia percintaan
    Khazanah budaya percintaan­
    pacaran, perpisahan, perkawinan
    tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta

    Dan kini syairku ini
    Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu

    Syair bermula dari kata,
    dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu
    lepas dari kamus, lepas dari sejarah,
    lepas dari daya korupsi manusia
    Demikianlah maka syairku ini
    berani mewakili cintaku kepadamu

    Juwitaku

    belum pernah aku puas menciumi kamu
    Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca
    Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku
    Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut,
    gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi
    Kamu sulit menghadapi diri sendiri
    Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu
    kamu takut kepada dunia

    Juwitaku
    Lepas dari kotak-kotak analisa
    cintaku kepadamu ternyata ada
    Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita
    Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos
    di dalam kalbuku

    Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu
    Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya
    Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu :

    Cintaku kepadamu telah mewaktu
    Syair ini juga akan mewaktu
    Yang jelas usianya akan lebih panjang
    dari usiaku dan usiamu

     

     

    Sajak Orang Lapar

     

    kelaparan adalah burung gagak
    yang licik dan hitam
    jutaan burung-burung gagak
    bagai awan yang hitam

    o Allah !
    burung gagak menakutkan
    dan kelaparan adalah burung gagak
    selalu menakutkan
    kelaparan adalah pemberontakan
    adalah penggerak gaib
    dari pisau-pisau pembunuhan
    yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

    kelaparan adalah batu-batu karang
    di bawah wajah laut yang tidur
    adalah mata air penipuan
    adalah pengkhianatan kehormatan

    seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
    melihat bagaimana tangannya sendiri
    meletakkan kehormatannya di tanah
    karena kelaparan
    kelaparan adalah iblis
    kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

    o Allah !
    kelaparan adalah tangan-tangan hitam
    yang memasukkan segenggam tawas
    ke dalam perut para miskin

    o Allah !
    kami berlutut
    mata kami adalah mata Mu
    ini juga mulut Mu
    ini juga hati Mu
    dan ini juga perut Mu
    perut Mu lapar, ya Allah
    perut Mu menggenggam tawas
    dan pecahan-pecahan gelas kaca

    o Allah !
    betapa indahnya sepiring nasi panas
    semangkuk sop dan segelas kopi hitam

    o Allah !
    kelaparan adalah burung gagak
    jutaan burung gagak
    bagai awan yang hitam
    menghalang pandangku
    ke sorga Mu.

     

     

    Surat Cinta

     

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    bagai bunyi tambur yang gaib,
    Dan angin mendesah
    mengeluh dan mendesah,
    Wahai, dik Narti,
    aku cinta kepadamu !

    Kutulis surat ini
    kala langit menangis
    dan dua ekor belibis
    bercintaan dalam kolam
    bagai dua anak nakal
    jenaka dan manis
    mengibaskan ekor
    serta menggetarkan bulu-bulunya,
    Wahai, dik Narti,
    kupinang kau menjadi istriku !

    Kaki-kaki hujan yang runcing
    menyentuhkan ujungnya di bumi,
    Kaki-kaki cinta yang tegas
    bagai logam berat gemerlapan
    menempuh ke muka
    dan tak kan kunjung diundurkan

    Selusin malaikat
    telah turun
    di kala hujan gerimis
    Di muka kaca jendela
    mereka berkaca dan mencuci rambutnya
    untuk ke pesta
    Wahai, dik Narti
    dengan pakaian pengantin yang anggun
    bunga-bunga serta keris keramat
    aku ingin membimbingmu ke altar
    untuk dikawinkan
    Aku melamarmu,
    Kau tahu dari dulu:
    tiada lebih buruk
    dan tiada lebih baik
    dari yang lain­
    penyair dari kehidupan sehari-hari,
    orang yang bermula dari kata
    kata yang bermula dari
    kehidupan, pikir dan rasa

    Semangat kehidupan yang kuat
    bagai berjuta-juta jarum alit
    menusuki kulit langit:
    kantong rejeki dan restu wingit
    Lalu tumpahlah gerimis
    Angin dan cinta
    mendesah dalam gerimis.
    Semangat cintaku yang kuta
    batgai seribu tangan gaib
    menyebarkan seribu jaring
    menyergap hatimu
    yang selalu tersenyum padaku

    Engkau adalah putri duyung
    tawananku
    Putri duyung dengan
    suara merdu lembut
    bagai angin laut,
    mendesahlah bagiku !
    Angin mendesah
    selalu mendesah
    dengan ratapnya yang merdu.
    Engkau adalah putri duyung
    tergolek lemas
    mengejap-ngejapkan matanya yang indah
    dalam jaringku
    Wahai, putri duyung,
    aku menjaringmu
    aku melamarmu

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    kerna langit
    gadis manja dan manis
    menangis minta mainan.
    Dua anak lelaki nakal
    bersenda gurau dalam selokan
    dan langit iri melihatnya
    Wahai, Dik Narti
    kuingin dikau
    menjadi ibu anak-anakku !

  • Apresiasi Sastra: Pengertian Menurut Ahli, Tujuan, dan Fungsi

    Apresiasi Sastra: Pengertian Menurut Ahli, Tujuan, dan Fungsi

    Pengertian Apresiasi Sastra

    Apresiasi sastra adalah penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra.

    Baik yang berbentuk puisi maupun prosa atau suatu kegiatan menggauli sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

    Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan- atau “menghargai”.

    Konteks yang lebilt luas dalam istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna;

    (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan

    (2) pemahaman dan pengakuan terhadap keindahan yang diungkapkan pengarang.

    Apresiasi sebagai suatu proses yang melibatkan tiga unsur inti, yaitu;

    (1) aspek kognitif,
    (2) aspek emotif, dan
    (3) aspek evaluatif.

    Oleh karenanya diperlukan seperangkat pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan apresiasi karya sastra dengan baik.

    Pengertian Apresiasi Sastra Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa definisi apresiasi sastra menurut para ahli.

    1. Aminudin (1987:34)

    Mengemukakan, apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.

    Apresiasi dikembangkan manusia melalui penumbuhan sikap yang sungguhsungguh dan sebagai satu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaninya.

    2. Panuti Sudjiman (1990:9)

    Menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah penghargaan terhadap karya sastra yang didasarkan atas pemahaman.

    3. T. Suparman Natawidaja (1981:1)

    Menyatakan apresiasi sastra adalah pemaha- man dan penghargaan atas suatu hasil seni atau budaya.

    4. C. Tarigan (1984:41)

    Menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang sadar dan kritis.

    5. Effendi (1982:7)

    Menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

    6. Hornby

    Menurut Hornby, dalam Sayuti, pengertian apresiasi mengacu kepada pengertian pengenalan dan pemahaman yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian.

    7. Elliyati

    Menurut Elliyanti, apresiasi merupakan setiap kegiatan mengakrabi karya sastra secara bersungguh-sungguh.

    Berkaitan dengan hal itu, apresiasi membutuhkan kesungguhan penikmat sastra untuk mengenali, menghargai, dan menghayati, sehingga ia dapat menemukan penjiwaan yang benar-benar dalam.

    8. Prayogi

    Menurut Prayogi, apresiasi merupakan setiap aktivitas penghargaan yang dilakukan sebagai hasil penggunaan, peresapan, dan penilaian seseorang terhadap sebuah karya sastra atau pun karya seni tertentu.

    Apresiasi juga dapat diartikan sebagai bentuk rasa kagum atau pun kekaguman yang keluar dari diri pengguna atau pun penikmat karya seni atau pun karya sastra tertentu.

    Tujuan Apresiasi Sastra

    Apresiasi sastra bertujuan menyelenggarakan perjamuan-perjamuan dan percakapan agar terhidangkan atau tersuguhkan pengalaman, pengetahuan, kesadaran, dan hiburan.

    Fungsi Apresiasi Sastra

    Fungsi eksperensial, yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengalaman-pengalaman manusia kepada pengapresiasi sastra agar ia dapat menjiwai, menghayati, dan menikmati pengalaman-pengalaman manusia itu dengan cara menyelenggarakan permenungan tentang makna pengalaman manusia.

    Fungsi informatif yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengetahuan-pengetahuan kepada pengapresiasi sastra agar ia dapat menjiwai menghayati dan menikmati pengetahuan itu.

    Fungsi penyadaran yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan dan menghidangkan sinyal-sinyal kesadaran kepada pengapresiasi sastra. Setelah itu, si pengapresiasi diharapkan menyadari sesuatu, misalnya hakikat hidup, hakikat manusia, kewajiban hidup, dan tanggung jawab manusia. Dalam hal ini, karya sastra dapat diperlakukan sebagai pengumpan dan pemberi sinyal-sinyal kesadaran. Sebagai contoh, Cerpen Robohnya Surau Kami (A.A.Navis) .

    Fungsi rekreatif adalah fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan hibura-hiburan kepada pengapresiasi bilamana ia melakukan apresiasi suatu karya sastra. Yang disediakan, ditawarkan, disuguhkan, dan dihidangkan oleh apresiasi sastra adalah hiburan batiniah dan sukmawi.

  • Unsur Unsur Fiksi Menurut Ahli Membuat Cerita Hidup dan Bermakna

    Unsur Unsur Fiksi Menurut Ahli Membuat Cerita Hidup dan Bermakna

    Karya fiksi adalah ciptaan imajinasi yang membawa pembaca ke dalam dunia baru yang sengaja dirancang oleh pengarang.

    Dunia ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah alam semesta yang hidup, penuh dengan tokoh, konflik, dan makna yang menggugah.

    Dalam bentuknya yang paling utuh, seperti novel, karya fiksi menjelma menjadi sebuah totalitas seni yang menggabungkan berbagai elemen secara harmonis.

    Setiap bagian dalam karya fiksi saling terhubung, saling mendukung, dan membentuk keseluruhan yang memikat, menawarkan pengalaman membaca yang mendalam dan penuh inspirasi.

    Novel, sebagai salah satu bentuk karya fiksi, adalah karya seni yang menyeluruh. Ia bukan hanya tentang cerita, tetapi juga tentang bagaimana cerita itu disampaikan.

    Sebagai sebuah totalitas artistik, novel terdiri dari berbagai unsur yang saling berkaitan erat.

    Unsur-unsur ini bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman yang utuh, membuat pembaca tenggelam dalam dunia yang diciptakan pengarang.

    Untuk memahami lebih jauh, mari jelajahi unsur-unsur pembentuk karya fiksi, yang mencakup fakta cerita, tema, sarana sastra, serta perbedaan antara cerita dan wacana.

    Unsur-unsur Pembentuk Karya Fiksi

    Menurut Robert Stanton (1965), unsur pembangun novel dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, yaitu fakta cerita, tema, dan sarana pengucapan sastra. Ketiganya memiliki peran penting dalam membentuk struktur dan daya tarik sebuah karya fiksi.

    1. Fakta Cerita

    Fakta cerita mencakup elemen-elemen yang menjadi dasar nyata dalam dunia imajinasi novel. Elemen ini meliputi tokoh, plot, dan latar (setting).

    Tokoh adalah karakter yang menghidupkan cerita, baik sebagai pahlawan, penutur, atau bahkan penutur sampingan.

    Mereka memiliki sifat, motivasi, dan konflik yang membuat cerita terasa hidup. Plot adalah rangkaian peristiwa yang membentuk alur cerita, memberikan dinamika dari awal hingga akhir.

    Latar, baik tempat maupun waktu, memberikan konteks di mana cerita berlangsung, seperti kota kecil di abad ke-19 atau dunia fantasi futuristik.

    Ketiga elemen ini adalah pilar yang membuat pembaca dapat membayangkan dunia cerita secara nyata, seolah-olah mereka ikut berada di dalamnya.

    2. Tema

    Tema adalah jantung dari sebuah cerita, inti gagasan yang menjadi dasar narasi.

    Tema menghubungkan cerita dengan pengalaman manusia yang universal, seperti cinta, kehilangan, keberanian, pengkhianatan, atau pencarian makna hidup.

    Tema bukan sekadar topik, tetapi juga pandangan atau pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

    Misalnya, sebuah novel tentang perjuangan seorang imigran mungkin memiliki tema ketahanan dan identitas.

    Tema yang kuat membuat cerita relevan dan menggugah emosi pembaca, memberikan lapisan makna yang lebih dalam di balik alur dan tokoh.

    3. Sarana Pengucapan Sastra

    Sarana pengucapan sastra adalah cara pengarang menyampaikan cerita agar memiliki dampak maksimal, mencakup teknik seperti sudut pandang, gaya bahasa, nada, simbolisme, dan ironi.

    Sudut pandang menentukan siapa yang menceritakan kisah, apakah tokoh utama, orang ketiga yang serba tahu, atau sudut pandang lain yang unik.

    Gaya bahasa mencerminkan pilihan kata dan struktur kalimat, yang bisa formal, puitis, atau santai. Nada menentukan suasana cerita, seperti optimis, kelam, atau sarkastik.

    Simbolisme dan ironi menambahkan lapisan makna, membuat pembaca berpikir lebih dalam tentang apa yang tersirat di balik kata-kata.

    Dengan sarana ini, pengarang mengatur detail cerita menjadi pola yang bermakna dan memikat.

    Cerita dan Wacana: Dua Sisi Karya Fiksi

    Dari perspektif strukturalisme, karya fiksi dapat dipahami melalui dua dimensi utama, yaitu cerita dan wacana.

    Cerita adalah isi atau substansi dari narasi, apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia fiksi. Wacana, di sisi lain, adalah cara cerita itu disampaikan kepada pembaca, bentuk ekspresinya dalam teks (Chatman, 1980).

    Perbedaan ini penting karena cerita yang sama bisa disampaikan dengan cara yang berbeda, menghasilkan efek yang berbeda pula.

    Kaum formalis Rusia, seperti Vladimir Propp, memperkenalkan istilah fabel dan sujet untuk membedakan dua aspek ini.

    Fabel adalah materi dasar cerita, yaitu urutan peristiwa sebagaimana terjadi dalam dunia fiksi. Ini adalah inti cerita yang mencakup semua kejadian dari awal hingga akhir, seperti yang dibayangkan dalam urutan logis.

    Misalnya, dalam sebuah novel petualangan, fabel mencakup perjalanan tokoh, rintangan yang dihadapi, dan akhirnya kemenangan atau kegagalan.

    Sujet, atau yang sering disebut plot, adalah cara peristiwa-peristiwa dalam fabel disusun dalam teks.

    Pengarang bisa memilih untuk menyampaikan cerita dengan urutan yang tidak biasa untuk menciptakan efek dramatis. Ada tiga pola utama dalam sujet:

    Urutan Kronologis

    Cerita disampaikan secara linier, dari awal hingga akhir (A-B-C). Misalnya, sebuah novel biografi mungkin mengikuti perjalanan hidup tokoh dari masa kecil hingga dewasa secara berurutan.

    Pola ini mudah diikuti dan sering digunakan dalam cerita yang ingin menekankan perkembangan alami.

    Urutan Sorot Balik (Flashback)

    Cerita dimulai dari akhir atau tengah, lalu mundur ke peristiwa sebelumnya (C-B-A). Teknik ini sering digunakan untuk mengungkap misteri atau memberikan konteks emosional.

    Contohnya, novel kriminal mungkin membuka dengan pembunuhan, lalu kembali ke peristiwa yang mengarah ke sana.

    Urutan In Medias Res

    Cerita dimulai dari tengah, pada momen konflik atau ketegangan tinggi, lalu menjelaskan peristiwa sebelum dan sesudahnya (B-A-C).

    Teknik ini menciptakan ketegangan sejak awal, menarik pembaca untuk terus membaca demi memahami konteks. Banyak novel petualangan atau thriller menggunakan pendekatan ini.

    Mengapa Memahami Unsur Fiksi Penting?

    Memahami unsur-unsur karya fiksi membantu pembaca dan penulis menghargai kompleksitas sebuah novel.

    Bagi pembaca, ini memungkinkan mereka menangkap lapisan makna yang tersembunyi, seperti simbolisme atau ironi yang digunakan pengarang.

    Bagi penulis, pemahaman ini menjadi panduan untuk menciptakan cerita yang kuat dan terstruktur. Setiap elemen, dari tokoh hingga sudut pandang, adalah alat untuk membangun dunia yang meyakinkan dan emosional.

    Karya fiksi, khususnya novel, adalah cerminan kreativitas manusia. Ia mengajak pembaca untuk melangkah ke dunia baru, merasakan pengalaman tokoh, dan merenungkan makna hidup melalui tema yang disampaikan.

    Dengan memahami fakta cerita, tema, sarana sastra, serta perbedaan antara cerita dan wacana, pembaca dapat menikmati karya fiksi dengan lebih mendalam, sementara penulis dapat menciptakan karya yang tak hanya menghibur, tetapi juga bermakna.

  • Prosa: Pengertian, Unsur, Jenis, dan Contohnya

    Prosa: Pengertian, Unsur, Jenis, dan Contohnya

    Pengertian Prosa

    Kata prosa berasal dari bahasa latin yang artinya “terus terang”.

    Sehingga setiap jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta, ide, dan peristiwa.

    Oleh karenanya, prosa juga dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

    Secara umum, prosa adalah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai dan tidak terikat oleh rima, ritma, jumlah baris, atau aturan-aturan lainnya.

    Prosa juga bisa juga diartikan sebagai jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar.

    Serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya atau bisa juga diartikan sebagai hasil karya sastra lisan dan tulisan yang panjang, baik yang berbentuk cerita ataupun bukan cerita.

    Pengertian Prosa Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian prosa menurut para ahli.

    1. H.B. Jassin (dalam Suroto, 1989)

    Mengungkapkan bahwa prosa ialah pengucapan seorang penyair dengan pikiran yang berbeda dengan puisi yang merupakan pengucapan penyair dengan perasaan.

    2. Zainuddin (1991)

    Memberikan pengertian bahwa prosa ialah pengungkapan peristiwa secara jelas dengan penguraikan seluruh pikiran dan juga seluruh perasaan serta tidak terikat syarat-syarat tertentu dalam sebuah karya sastra.

    3. Aminuddin (2002)

    Memberikan pemahaman bahwa prosa fiksi ialah kisahan atau ceritera yang diemban olehpemeran tertentu dengan memperhatikan, latar, tahapan dan rangkaian.

    4. M. Saleh Saad Dan Anton M. Muliono (dalam Tjahyono, 1998)

    Mengungkapkan bahwa prosa ialah suatu bentuk narasi berplot yang dihasilkan oleh daya imajinasi.

    5. Henry Guntur Taringan (1993)

    Memberikan pemahaman bahwa prosa ialah karya sastra fiksi dalam bahasa Indonesia secara singkat dari buah hasil imajinasikan.

    6. Teeuw (1984)

    Memberikan pemahaman bahwa prosa ialah suatu bentuk kisah fiksi yang mencoba membeberkan suatu kenyataan.

    7. Henry Guntur Taringan (1993)

    Memberikan pengertian bahwa prosa ialah karya sastra fiksi yang bersifat relitas, bukan bersifat aktualitas.

    8. Herman J. Waluyo (2006)

    Menurutnya prosa fiksi adalah karya sastra dibagi menjadi tiga yaitu roman, novel dan cerita pendek atau cerpen.

    Unsur Intrinsik Prosa

    Adapun unsur intrinsik prosa adalah sebagai berikut.

    1. Tema, adalah inti dari cerita atau prosa.
    2. Amanat atau pesan, yaitu nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca.
    3. Plot atau alur, adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita.
    4. Karakteristik atau penokohan, adalah cara-cara pengarang menggambarkan watak pelaku.
    5. Sudut pandang, adalah cara pengarang menempatkan diri.
    6. Sudut pandang orang pertama, adalah pengarang sebagai pelaku.
    7. Sudut pandang orang ketiga, adalah pengarang tidak menjadi pelaku.
    8. Latar atau seting, adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi atau suasana berlangsungnya peristiwa.
    9. Gaya bahasa, adalah corak pemakaian bahasa.

    Jenis Jenis Prosa

    Prosa dibagi menjadi dua, yaitu prosa lama dan prosa baru. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

    A. Prosa Lama

    Prosa lama adalah prosa nusantara yang belum terpengaruhi budaya luar sehingga ide cerita atau cara penyampaian ceritanya masih khas Nusantara. Selain ditulis, prosa lama juga sering dilafalkan secara verbal.

    Contoh Prosa Lama:

    Bentuk-bentuk prosa lama adalah sebagai berikut.

    1. Hikayat

    Hikayat adalah prosa lama yang sifatnya fiktif dengan mengisahkan tentang kehidupan para dewa, dewi, bidadari, pangeran, puteri, atau raja-raja yang mempunyai kekuatan gaib.

    Hikayat identik dengan karya sastra yang menceritakan tentang kesaktian yang dimiliki seseorang, walaupun sebenarnya hal tersebut hanyalah imajinasi belaka.

    Hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh hikayat: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

    2. Sejarah

    Sejarah (tambo) adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah berdasarkan fakta.

    Biasanya berisikan silsilah para raja. Contohnya : Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

    3. Kisah

    Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan, pelayaran, perjuangan, dan pengembaraan orang jaman dulu yang suka keliling dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud dan tujuan tertentu. Contoh : Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

    4. Dongeng

    Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal atau imajinasi. Dongeng memiliki banyak ragam, diantaranya:

    • Fabel: Fabel adalah cerita lama yang menceritakan tentang kehidupan binatang sebagai lambang pengajaran moral sehingga cerita fabel biasa disebut sebagai cerita binatang. Contoh : Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, dan masih banyak lagi.
    • Mite (mitos): Mitos adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Contoh : Nyai Roro Kidul, Harimau Jadi-Jadian, Kelambai, dan lain-lain.
    • Legenda: Legenda adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya sebuah tempat atau wilayah. Contoh : Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, Legenda Alas Purwo, dan lain-lain.
    • Sage: Sage adalah cerita lama berhubungan dengan sejarah yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, dan kesaktian seseorang. Contoh : Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, dan lain-lain.
    • Parabel: Parabel adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh : Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Bhagawagita, dan lain-lain.
    • Dongeng jenaka: Dongeng jenaka adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing dikemas secara jenaka atau lucu. Sehingga dongeng jenaka sifatnya adalah untuk hiburan.

    5. Cerita Berbingkai

    Cerita berbingkai adalah cerita di dalam cerita. Masudnya adalah sebuah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh : Seribu Satu Malam.

    B. Prosa Baru

    Prosa baru adalah jenis karangan prosa yang muncul setelah mendapat pengaruh sastra dan budaya Barat. Adapun bentuk-bentuk prosa baru adalah sebagai berikut.

    1. Roman

    Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan tokoh secara lengkap, mulai dari masa kanak-kanak, dewasa, danampai meninggal dunia. Roman juga mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh.

    Roman juga dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:

    • Roman Percintaan (Liebesroman)
    • Roman Petualangan (Abendteuerroman)
    • Roman Pendidikan (Bildsdungsroman)
    • Roman Kriminal (Krimi-und roman)
    • Roman Hiburan (Unterhaltungsroman)
    • Roman Psikologi (Psychologischerroman)
    • Roman Anak dan remaja ( Kinder-un Jugendroman)

    2. Novel

    Novel adalah bentuk prosa baru yang menceritakan kehidupan tokoh. Novel hampir sama seperti roman, tapi novel tidak selengkap roman.

    Keduanya sama-sama karya fiksi yang dikemas dalam bentuk tulisan dengan ide dan alur cerita yang imajinatif, artinya sesuai dengan kreativitas penulis.

    Contoh novel: Laskar Pelangi.

    3. Cerpen

    Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebuah peristiwa secara singkat dan ringkas. Hampir mirip seperti novel, hanya saja cerpen dibuat lebih ringkas tanpa perlu ratusan halaman.

    Contoh cerpen: Bola Lampu oleh Asrul Sani.

    4. Riwayat

    Riwayat (biografi) adalah sebuah karangan prosa yang berisi tentang perjalanan dan pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.I Habibie, Ki Hajar Dewantara.

    5. Kritik

    Kritik adalah karya prosa yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan dan kriteria tertentu yang sifatnya objektif. Maksud dan tujuan dari kritik adalah agar karya bisa menjadi lebih baik.

    6. Resensi

    Resensi adalah pembicaraan atau ulasan suatu karya (buku, film, drama) yang isinya bersifat memaparkan poin-poin penting dari karya tersebut agar pembaca mengetahui aspek-aspeknya, seperti tema, alur, perwatakan, dialog, konflik, dan sebagainya.

    7. Esai

    Essay atau Esai adalah tulisan yang mengandung opini, gagasan, pandangan, atau ekspresi seseorang mengenai sebuah hal yang sedang terjadi di masyarakat. Seringkali esai juga digunakan sebagai sebuah jajak pendapat dalam menilai peristiwa secara gamblang.

  • Nama-Nama Tokoh Sastrawan Angkatan Pujangga Baru

    Nama-Nama Tokoh Sastrawan Angkatan Pujangga Baru

    Tokoh Sastrawan Angkatan Pujangga Baru

    Angkatan Pujangga Baru adalah angkatan yang terbentuk pada tahun 1993 dengan tujuan untuk menggantikan angkatan Balai Pustaka.

    Karya dari angkatan ini dipublikasikan melalui majalah Pujangga Baru. Adapun nama-nama tokoh sastrawan angkatan pujangga baru adalah sebagai berikut.

    1. Sutan Takdir Alisjahbana

    Motor dan pejuang bersemangat gerakan pujangga baru ialah Sutan Takdir Alisjahbana yang lahir pada tahun 1908.

    Sejak tahun 1929, ia muncul dalam panggung sejarah Indonesia, yaitu ketika ia menerbitkan roman pertama yang berjudul “Tak Putus Dirundung Malang”.

    Roman ini diterbitkan oleh Balai Pustaka.

    Kemudian, ia menulis roman kedua yang berjudul “Dian yang Tak Kunjung Padam (1932)” dan yang ketiga berjudul “Layar Terkembang (1936)”.

    Sedangkan roman yang berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941) ditulisnya lebih dahulu daripada Layar Terkembang dan dimuat sebagai feuilleton dalam majalah Pandji Poestaka, namun diterbitkan sebagai buku.

    Tiga puluh tahun kemudian Takdir menulis sebuah roman kembali berjudul Grotta Azzurra (Gua Biru) yang diterbitkan tepat pada hari lahirnya yang ke-60.

    Takdir terkenal sebagai penulis esai dan pembina bahasa Indonesia kala itu.

    Bahkan, ia pernah disebut sebagai “insinyur bahasa Indonesia” oleh Ir.S. Udin.

    Berkat inisiatif Takdir melalui Poedjangga Baroe, pada tahun 1938 di Solo diselenggarakan gerakan Kongres Bahasa Indonesia yang pertama.

    Ia juga pernah menjadi pimpinan majalah Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952) yang memuat segala hal-ihwal perkembangan serta masalah perihal bahasa Indonesia.

    Tulisan-tulisannya yang berkaitan dengan bahasa Indonesia kemudian diterbitkan dengan judul “Dari Pejuang dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)”.

    Setelah kematian istrinya yang pertama, sajak-sajak yang ia tulis diterbitkan sebagai nomor khusus majalah Poedjangga Baroe berjudul “Tebaran Mega (1936)”.

    2. Armijn Pane

    Armijn Pane adalah salah satu Sastrawan Senior di Indonesia dengan salah satu karya sastra yang paling terkenal ialah novel Belenggu.

    Pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru.

    Misinya adalah mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

    Sebagai pelajar di Solo, ia bergabung dengan organisasi pemuda nasional yakni Indonesia Muda, namun politik tampaknya kurang menarik minatnya daripada kesusasteraan.

    Saat itu ia memulai karirnya sebagai penulis dengan menerbitkan beberapa puisi nasionalis, dan dua tahun kemudian menjadi salah seorang pendiri majalah Pujangga Baru.

    Armijn Pane pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), mingguan Penindjauan (1934), surat kabar Bintang Timoer (1953), dan menjadi wartawan lepas.

    Ia pun pernah menjadi guru di Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur.

    Menjelang kedatangan tentara Jepang, ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka.

    Pada zaman Jepang, Armijn Pane bersama kakaknya Sanusi Pane, bekerja di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan menjadi kepala bagian Kesusasteraan Indonesia Modern.

    Sesudah kemerdekaan, ia aktif dalam bidang organisasi kebudayaan.

    Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan dan pernah menjadi anggota pengurus harian Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) (1950-1955).

    Tahun 1969 Armijn Pane menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI karena karya dan jasanya dalam bidang sastra.

    Pada awal Fevruari 1970, Tepatnya pada tanggal 16 Februari 1970, beliau meninggal.

    3. Amir Hamzah

    Amir Hamzah (1911-1946) adalah seorang keturunan bangsawan Langkat di Sumatera Timur.

    Ia pergi ke Jawa untuk sekolah hingga menjadi mahasiswa Fakultas Hukum yang dibiayai oleh pamannya, seorang Sultan Langkat.

    Di Jawa, Amir Hamzah aktif dalam kegiatan-kegiatan gerakan kebangsaan.

    Hingga akhirnya ia bersama Sutan Takdir dan Armijn Pane mendirikan majalah Poedjangga Baroe.

    Tapi Amir harus meninggalkan semuanya karena mendapat pagngilan dari pamannya sehingga ia harus pulang ke Langkat dan menikah dengan salah seorang putri Sultan Langkat.

    Dalam sajak-sajaknya, baik yang dimuat dalam Buah Rindu maupun yang dimuat dalam Nyanyian Sunyi, Amir banyak menggunakan kata-kata klasik, yang diambil dari khazanah bahasa Melayu dan Kawi.

    Ia pun menggunakan kata-kata dari bahasa daerah, terutama bahasa-bahasa Melayu, Jawa dan Sunda.

    Sajak Amir lebih banyak bernada kerinduan, penuh dengan ratap kesedihan yang menimbulkan kesunyian dan kepasrahan.

    Tapi setelah melampui masa kesepian dan kebimbangan.

    Akhirnya ia menemukan kedamaian dalam Tuhan yang disebutnya, kemudian dimuat sebagai sajak terakhir dalam Nyanyi Sunyi.

    4. J.E Tatengkeng

    J.E Tatengkeng (1907-1968) adalah seorang sastrawan kelahiran Sangihe. Ia merupakan umat Kristen yang taat.

    Bahkan ketika anaknya meninggal saat bayi, ia menganggapnya sebagai kehendak Tuhan, kemudian menulis sajak berjudul ‘Anakku’.

    Sajak itu bersama dengan sajak lainnya diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Rindu Dendam (1934).

    Isinya kebanyakan sajak-sajak kerindudendaman terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

    Rindu Dendam adalah satu-satunya buku J.E Tatengkeng yang pernah terbit.

    Namun, sebetulnya banyak karyanya yang dimuat dalam berbagai majalah, terutama dalam majalah Poedjangga Baroe.

    Dalam berkarya, bahasanya bukanlah bahasa yang baik menurut norma-norma bahasa Melayu Riau.

    Struktur puisinya pun begitu, bila dibandingkan dengan kawan-kawan seangkatannya yang kebanyakan berasal Sumatera.

    Puisi J.E Tatengkeng terbilang yang paling bebas dari pengaruh pantun dan syair Melayu lama.

    5. Asmara Hadi dan Penyair Pujangga Baru Lainnya

    Diantara para penyair yang sajak-sajaknya sering dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe, masih ada penulis lain yang tidak dibukukan.

    Seperti Asmara Hadi, Mozasa (nama samaran Muhammad Zain Saidi), M.R. Dajoh dan lain-lain.

    Sajak-sajak Asmara Hadi yang nama aslinya Abdul Hadi (lahir di Bengkulu 1914) kebanyakan romantik dan kesedihan karena ditinggal mati oleh kekasih.

    Luka jiwa karena kehilangan cintanya itu justru digunakan oleh Asmara Hadi sebagai sumber semangat berjuang yang tak kunjung padam.