Kategori: Sastra

  • Daftar Tiruan Bunyi Terlengkap (Onomatope)

    Daftar Tiruan Bunyi Terlengkap (Onomatope)

    Daftar Tiruan Bunyi (Onomatope)

    Onomatope (dari Bahasa Yunani ονοματοποιία) adalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya.

    Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = “saya buat” atau “saya lakukan”) sehingga artinya adalah “pembuatan nama” atau “menamai sebagaimana bunyinya”.

    Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suara manusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.

    Beberapa contoh onomatope:

    Suara hewan: menggonggong, mendesis, mengeong dsb.
    Suara lain: tercebur
    Suara manusia: ha-ha-ha

    Suara makhluk hidup

    Kucing mengeong
    Burung mencericip/berkicau
    Babi menguik
    Bebek meleter
    Anjing menggonggong/mendengking
    Serigala melolong
    Sapi melenguh
    Katak menguak
    Ular mendesis
    Kambing mengembik
    Merpati berdekut
    Ayam jantan berkokok
    Ayam betina berkotek
    Anak ayam menciap
    Macan mengaum
    Tikus mencicit
    Kuda meringkik
    Tidur mendengkur
    Berjalan terhuyung-huyung.

    Suara benda mati

    Meriam berdentam
    Angin berkesiur/mendesau
    Papan/kayu berderak
    Bel/lonceng berdentang
    Sendok berdenting
    Air bergemericik
    Pintu berderit
    Gigi gelemetuk (kedinginan)
    Telepon berdering
    Peluru berdesing
    Daun bergemeresik
    Jantung berdegup
    Uang logam bergemerincing
    Petir menggelegar
    Kuda berderap.
    Darah berdesir/menggelenyar.
    Selendang berkibar.

    Berdasarkan aktivitas

    Minum: gluk, gluk, gluk
    Menginjak kayu/ranting: krak, krak, krak
    Jatuh ke dalam air: Byur, jebur, plung (jika yang jatuh adalah benda)
    Menggunting: kres, kres, kres
    Meninju: Buk, dhuak
    Menyobek kertas: srek, srek
    Meledak: bum!
    Jatuh dengan keras: gedebuk! Gedebum!
    Barang pecah: Prang!
    Kaleng tertendang: Klontang!
    Menembak: Dor!
    Menyeruput: Srup, srup.
    Mengayun tongkat: Syuut, syuut.
    Menumpuk barang: Bruk, bruk.
    Batuk: Uhuk, uhuk.
    Bersin: Hatsyi! Hatsyi!
    Kunci diputar: Klik.
    Menusuk dengan pisau: Jleb.
    Perut keroncongan: Kruk, kruk.
    Kain dirobek: Breet, breeet.
    Menggigit makanan renyah: Kriuuk.
    Jam dinding kuno: Tik tok.
    Pohon bambu tertiup angin: Keriang keriut
    Ketukan di pintu: Tok tok tok.
    Sepatu hak tinggi di lantai: Tuk tuk tuk.
    Air menetes: Tes tes tes.

    Dari KBBI

    bang n tiruan bunyi spt bunyi – barang jatuh, meletup, dsb
    bap n tiruan bunyi barang jatuh di tanah lembut dsb; debap
    celebuk n tiruan bunyi spt batu dsb yg jatuh ke air
    celepik n tiruan bunyi spt barang kecil (cecak, kertas, dsb) jatuh di lantai
    celepuk n tiruan bunyi spt celepik tetapi lebih nyaring
    celung n tiruan bunyi spt bunyi angklung dsb
    ceter /cetér/ n tiruan bunyi cemeti (cambuk dsb) yg dicambukkan
    cit n tiruan bunyi spt bunyi tikus atau anak burung
    ciut n tiruan bunyi spt bunyi pohon ditempuh angin, pintu terbuka, dsb;
    berciut-ciut (menciut-ciut) v berbunyi “ciut, ciut”
    debak n bunyi spt bunyi orang meninju; debuk;
    debak-debuk v berulang-ulang berbunyi ”bak-buk” (spt bunyi barang-barang berat berjatuhan, orang meninju berulang-ulang, dsb)
    debam n tiruan bunyi spt bunyi benda berat jatuh ke lantai
    debap n tiruan bunyi spt bunyi barang jatuh dsb
    debar n, berdebar (berdebar-debar) v
    bergerak-gerak atau berdenyut-denyut keras atau lebih kencang
    decup n tiruan bunyi spt bunyi ikan menangkap kelekatu;
    berdecup(-decup) v berbunyi spt bunyi ikan menangkap kelekatu
    decur n tiruan bunyi spt bunyi air memancar (memancur dsb);
    medecur v 1 berbunyi spt bunyi air memancar; 2 memancar; memancur; bercucuran
    decut n tiruan bunyi spt bunyi bayi menyusu;
    berdecut(-decut) v berbunyi seperti bunyi bayi menyusu
    gar n tiruan bunyi spt bunyi guruh dsb; degar
    gelebuk n tiruan bunyi spt, barang jatuh
    gerdam n tiruan bunyi spt bunyi barang yg berat dan besar yg jatuh
    gerentang n tiruan bunyi berdentam-dentam (berdentang-dentang)
    koak (koak-koak) n tiruan bunyi spt bunyi burung gagak;
    letang n tiruan bunyi spt bunyi besi dipalu
    letik n tiruan bunyi spt bunyi gelas retak kena air panas;
    meletik v berbunyi
    mung n tiruan bunyi canang
    ning n tiruan bunyi sbg bunyi lonceng kecil
    nung n tiruan bunyi spt bunyi kenung

  • Resensi Novel Kamulah Pemeran Utama Karya Maulana Affandi

    Resensi Novel Kamulah Pemeran Utama Karya Maulana Affandi

    Judul : Kamulah Pemeran Utama
    Penulis : Maulana Affandi
    Tebal : 162 halaman
    Penerbit : Penerbit Renjani

    Resensi Novel Kamulah Pemeran Utama

    Bara adalah seorang mahasiswa berprestasi di kampusnya. Dia menjadi nomor satu dalam urusan nilai, bahkan melebihi kekasihnya, Nay. Melihat kemampuan akademis yang cukup baik,akhirnya tak sedikit dosen yang menawarkannya untuk mengikuti penelitian. Itulah Bara, yang indah kehidupannya di awal perkuliahan.

    Saat tahun ketiga masa kuliahnya, Bara mulai masuk ke dalam persimpangan jalan. Mahasiswa yang berprestasi, kini berubah menjadi mahasiswa abadi yang tak kunjung lulus. Bara mengenal game online dan membuatnya tak kenal waktu. Setiap hari selalu bermain hingga tanggungjawabnya dilupakan. Sama sekali dia tak memikirkan skripsi lagi.

    Di tengah asyiknya masuk ke dalam jurang kehancuran, Bara mengenal seorang wanita sesama Gamer, Bernama Furi. Bara tertarik karena Furi adalah seorang gamer, ditambah lagi dia memiliki tubuh yang seksi. Hingga pada suatu hari, Nay menyadari jika Bara menjalin hubungan dengan Furi.

    Alhasil, Nay langsung memuncak dan tak ingin meneruskan hubungannya. Nay sangat kecewa karena pengorbanannya selama ini tidak berarti. Hingga akhirnya Nay pergi meninggalkan Bara, untuk pulang ke kampung halamannya. Kini Bara sendiri. Dia mencoba kembali dengan Nay, bagaimana pun caranya.

    Agar bisa kembali merebut hati Nay, Bara mendekati teman se kos Nay yang bernama Reni. Di sinilah kisah baru Bara dimulai. Bara mulai dekat dengan Reni karena hampir setiap hari mereka bersama. Bara yang awalnya ingin menggali informasi tentang Nay, kini sedikit menaruh hati pada Reni.

    Padahal, Reni sengaja mendekatinya sebagai bahan penelitian untuk pacarnya yang bernama Giri. Giri adalah mahasiswa psikologi yang butuh bahan observasi tentang seseorang yang ditinggal oleh kekasihnya. Mengetahui keadaan Bara, maka Giri meminta Reni untuk meneliti, tanpa sepengetahuan Bara.

    Bara yang dilema, antara merindukan Nay dan menaruh harapan pada Reni akhirnya bingung dengan perasaannya sendiri. Hingga akhirnya Bara memberanikan diri untuk datang ke acara pernikahan Nay. Sesampainya di gedung pernikahan, Nay menceritakan semua rahasia tentang hubungan mereka.

    Ternyata selama ini Nay sudah menjalin hubungan dengan suaminya, yaitu Mas Aris. Bara merasa tertipu selama bertahun-tahun lamanya. Tapi kali ini dia bisa lebih tenang karena ada Reni, anggapnya. Tapi naasnya, Bara sama sekali tak menyadari jika Reni memanfaatkannya.

    Link baca novel: Klik di sini

  • Resensi Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

    Resensi Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

    Judul: Salah Asuhan
    Pengarang: Abdul Muis (1886-17 Juli 1959)
    Penerbit: Balai Pustaka
    Tahun Terbit: 1928, Cetakan XIX, 1990

    Ringkasan Novel Salah Asuhan

    Tokoh utama kisah ini adalah Hanapi, seorang anak yang dididik dengan cara barat, baik di sekolah maupun di rumah yang mana diharapkan kelak menjadi orang pandai.

    Sayang pendidikannya memberikan bentuk yang salah dalam diri Hanapi yaitu menjadi kebarat-baratan dan menganggap adat timur itu jelek. Bahkan menjadikan Hanapi sering memandang rendah orang lain.

    Tokoh kedua Corrie du Bussee yang merupakan anak blasteran Prancis dan Indonesia. Corrie dikisahkan sebagai kawan sepermainan Hanapi yang kelak berubah menjadi orang yang dicintai.

    Pada awalnya cinta Hanapi bertepuk sebelah tangan karena pengaruh masyarakat dan peranan orang tua. Dilanjutkan dengan Hanapi yang dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

    Alhasil kehidupan keluarga Hanapi bagaikan majikan dan pelayan rumah tangga yang menyebabkan banyak mendapat kecaman dari masyarakat.

    Akibat sebuah keadaan, Hanapi harus pergi jauh dan disana ia bertemu lagi dengan Corrie. Dimulailah benih-benih cinta yang telah padam itu tumbuh.

    Akhirnya mereka menikah meskipun memiliki hambatan besar yaitu perbedaan bangsa. Akibatnya banyak penolakan dari masyarakat, perbedaan pendapat, pertengkaran dan fitnah.

    Belum selesai kesengsaraan mereka, datang lagi pihak ke-3 yang menyebabkan hilangnya rasa percaya dan berakhir dengan sebuah perceraian. Karena perasaan api cinta tersebut masih ada maka usaha Hanapi untuk menggapai kembali masih menggelora.

    Tapi sayang ungkapan perasaan bahwa mereka saling mencintai tersebut tercapai ketika Corrie sekarat yang mana satu hari kemudian meninggal.

    Hancur perasaan Hanapi menyebabkan ia kembali ke kampung halaman. Tapi apa daya istri terdahulunya tak mau tinggal serumah. Dengan perasan tak berguna, Hanapi meminum sublimat (racun) yang mana menyebabkan ia harus pergi dari dunia ini.

    Tapi sebelum mengakhiri hayatnya, Hanapi berpesan kepada ibunya agar anaknya dididik dengan sebaik-baiknya dan jangan mengikuti jejak ayahnya yang salah tersebut.

    Analisa dari kisah tersebut:

    Manusia sering memandang bahwa pendidikan barat adalah yang terbaik, tapi pada kenyataan tidaklah selalu seperti itu.

    Begitu pula dengan sebaliknya. Jadi sebagai manusia haruslah dapat memilih yang baik dan sesuai dengan kepribadian diri dan bangsa. Bukan sebaliknya yang umumnya terjadi.

    Dalam menentukan calon pasangan, mungkin sering diceritakan tantang kawin paksa melawan cinta sejati.

    Orang tua biasanya memilih calon yang terbaik untuk anaknya karena mempertimbangkan pandangan masyarakat dan masa depan anaknya.

    Sedangkan anak hanya mempertimbangkan perasaan dan egonya sendiri, Maka diperlukanlah sebuah komunikasi untuk hal yang terbaik dalam mengambil sebuah keputusan.

    Pendidikan sangat penting terutama pendidikan di masa kecil. Satu hal yang menjadi perhatikan yaitu pendidikan yang kurang pada diri orang tua yang menyebabkan seringkali memberikan jawaban yang tak masuk akal dan cara mendidik anak yang kurang memadai dalam sosialisasinya.

  • Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya

    Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya

    Pengertian Puisi Rakyat

    Pengertian puisi rakyat adalah salah satu jenis sastra lama yang terikat oleh aturan atau syarat penulisan, seperti jumlah bait, baris, dan irama.

    Biasanya puisi rakyat disimbolkan sebagai gambaran atau ungkapan tradisional yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari.

    Lebih dari itu, puisi rakyat juga berisi pesan-pesan moral dan warisan para leluhur nenek moyang Indonesia yang lebih condong untuk selalu mengingat Tuhan (puji-pujian).

    Oleh karenanya, puisi rakyat masih terus dilestarikan sampai saat ini.

    Ciri – Ciri Puisi Rakyat

    Adapun ciri-ciri puisi rakyat adalah sebagai berikut:

    • Penutur atau pengarangnya tidak diketahui secara pasti.
    • Menyebar melalui mulut ke mulut.
    • Berupa sastra lisan.
    • Terikat aturan, seperti jumlah baris, bait, dan irama.
    • Berisi pesan dan nilai moral.
    • Kebanyakan untuk mengingat Tuhan.

    Elemen Puisi Rakyat

    • Puisi rakyat lebih kaku karena terikat aturan seperti jumlah kata dalam tiap baris, serta pengulangan kata yang biasanya diletakkan pada akhir sajak.
    • Puisi rakyat mengandung makna yang kuat melalui rangkaian kata.
    • Terdiri dari beberapa deret kalimat.

    Jenis – Jenis Puisi Rakyat

    Berikut adalah beberapa jenis puisi rakyat, diantaranya:

    1. Gurindam

    Pengertian gurindam adalah karya sastra lama berbentuk puisi yang terdiri dari dua baris kalimat yang memiliki rima atau sajak yang sama.

    Contohnya: Jika belajar besungguh-sungguh, Keberhasilan akan kau rengkuh.

    2. Syair

    Kata “Syair” berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang berarti “Perasaan”.

    Kata Syu’ur berkembang menjadi kata Syi’ru yang berarti “Puisi” dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum.

    3. Pantun

    Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti “penuntun”.

    4. Mantra

    Mantra termasuk dalam puisi lama yang dalam masyarakat Melayu tidak dianggap sebagai karya sastra, tetapi lebih terkait dengan kebiasaan dan kepercayaan.

    5. Karmina

    Karmina dikenal dengan nama pantun kilat atau pantun dua seuntai adalah pantun yang terdiri dari dua baris.

    Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi dengan pola sajak lurus.

    Karmina biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

    6. Seloka

    Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepatah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan.

    Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

    7. Talibun

    Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris.

    Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya. Ciri-ciri Talibun adalah seperti berikut:- Ia merupakan sejenis puisi bebas Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk menjelaskan pemerian.

    Contoh Puisi Rakyat

    Berikut adalah beberapa contoh puisi rakyat, diantaranya:

    Jentayu Yang Luka

    Tiba-tiba dia bangkit
    Dengan kelembutan yang tetap sopan
    Berdiri di barisan paling hadapan
    Sebagai pahlawan keadilan

    Lama dulu wajahnya tersembunyi
    Di belakang pemimpin berani sang suami
    Mengintip dengan mata kecilnya
    Segala tingkah dan senyuman pura-pura
    Si pengampu yang bermuka dua
    Si penyembah yang berjiwa hamba
    Si pengemis segenggam laba

    Dia adalah jentayu yang luka
    Terbang mengepak menyonsong gumpalan awan
    Mencakar menjeritkan kebebasan dan keadilan
    Mencabar dunia yang semakin kejam.

    Contoh Puisi Rakyat Berupa Syair

    1.) Jauhi semua perbuatan jahat
    Jauhi pula pebuatan maksiat
    Mari kita segera bertaubat
    Supaya kita selamat dunia akhirat

    2.) Jangan risau dengan cobaan
    Jangan bersedih karena kesulitan
    Berdoa saja pada Tuhan
    Insya Allah Dia kan kabulkan

    3.) Jangan lalaikan perintah-Nya
    Kerjakan yang disuruh-Nya
    Bertaubatlah kepada-Nya
    Dia pasti menerimanya

    Contoh Puisi Rakyat Berupa Gurindam

    Hakikat Seorang Guru

    Siapa hendak menjadi guru
    Maka rajinlah menuntut ilmu

    Ketika sudah menjadi guru
    Jangan merasa paling berilmu

    Karena di atas langit yang biru
    Masih ada langit yang lebih biru

    Ajarlah murid dengan ilmumu
    Serta teladan tingkah lakumu

    Jikalau itu sudah kau laku
    Resmilah engkau menjadi guru

  • Sinopsis Novel Belenggu Karya Armijn Pane

    Sinopsis Novel Belenggu Karya Armijn Pane

    Sinopsis Novel Belenggu

    Novel Belenggu karya Armijn Pane menceritakan seorang dokter bernama Sukartono yang menikah dengan seorang gadis cantik dan cerdas bernama Sumartini.

    Awalnya, mereka tidak saling mencintai, namun karena memiliki kepentingan masing-masing, akhirnya keduanya sepakat untuk menikah.

    Sukartono (Tono) merasa bahwa Sumartini adalah orang yang cocok mendampinginya dengan melihat kecantikan serta kecerdasan yang dimiliki oleh Sumartini. Sedangkan Sumartini menikahi Sukartono dengan alasan ia ingin melupakan masa lalunya.

    Namun apa dikata, rumah tangga mereka tidak harmonis. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Bahkan saling tak menyapa, alias diam tak berbicara, walau tinggal serumah.

    Sukartono adalah seorang dokter yang sangat profesional. Ia bekerja dengan disiplin tanpa kenal lelah. Bahkan, sifatnya yang dermawan juga sering membebaskan biaya untuk pasien yang tidak mampu.

    Namun, pengabdian Sukartono pada pekerjaanya telah membuatnya menomorduakan keluarga. Sumartini merasa diabaikan dan beranggapan bahwa suaminya lebih mencintai pekerjaan daripada dirinya.

    Jangankan untuk bermanja-manja, untuk komunikasi saja seakan tidak pernah ada waktu. Hari-hari mereka sering dilalui dengan pertengkaran. Sumartini merasa tidak dianggap oleh Sukartono.

    Hingga pada akhirnya, suatu hari Sukartono menerima telpon bahwa ada seorang pasien yang sedang sakit keras. Ia diminta menemui pasienya di suatu hotel. Dengan sigapnya, Sukartono pun memenuhi panggilan tersebut.

    Sesampainya di hotel, Sukartono terkejut bahwa pasienya adalah Siti Hayati, alias Rohaya yang merupakan teman sekolah dan sahabat masa kecilnya.

    Sembari memeriksa, Rohaya bercerita kepada Sukartono bahwa ia dipaksa nikah oleh orang tuanya dengan pria yang tidak dicintainya. Akhirnya Rohaya memutuskan untuk menjadi seorang janda dan pindah ke Jakarta.

    Dalam perasaan, sebenarnya Rohaya secara diam-diam telah mengagumi dan jatuh hati pada Sukartono. Itulah yang membuatnya mencari keberadaan Sukartono.

    Setelah bertemu, Rohaya kemudian memuai aksinya untuk rmerayu Sukartono. Semula Sukartono tidak terpengaruh dengan rayuan Rohaya. Tetapi karena terus diberi pujian, akhirnya ia mulai simpati kepada Rohaya.

    Sukartono merasa bahwa Rohaya bisa memberikan ketenangan hati yang selama ini tidak didapatkan dari Sumartini.

    Selang beberapa waktu. Sumartini mengetahui bahwa Sukartono ada hubungan lebih dengan Rohaya. Akhirnya Sumartini murka, kemudian pergi ke hotel tempat Rohaya menginap untuk melabraknya.

    Namun, setibanya di hotel, Sumartini tak jadi marah karena perasaannya luluh oleh kelembutan hati dan keramahan Rohaya.

    Setelah pulang dari hotel tempat Rohayah menginap, Sumartini berintrospeksi diri. Ia merasa terlalu kasar pada suaminya dan tidak bisa memberikan rasa kasih sayang seperti yang diinginkan suaminya. Hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk berpisah dengan Sukartono.

    Mendengar keputusan itu, Sukartono langsung menolak. Namun, Sumartini tetap kukuh dengan keputusannya hingga akhirnya Sukartono tak kuasa untuk mencegahnya. Mereka pun bercerai

    Sukartono gundah, ditambah lagi ketika mengetahui bahwa Rohaya telah pergi dan meninggalkan sebuah surat yang menyatakan perasaanya pada Sukartono.

    Hingga akhirnya, Sukartono memilih untuk mengabdikan diri pada sebuah panti asuhan. Di tempat tersebut ia merasa tenang karena bisa membantu orang lain.

  • Sajak: Pengertian, Macam dan Contohnya

    Sajak: Pengertian, Macam dan Contohnya

    Pengertian Sajak

    Sebelum kita membahas macam-macam sajak, alangkah baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu apa arti sajak.

    Jadi, sajak adalah sebuah karya sastra yang penciptaannya tidak terikat dengan aturan-aturan tertentu.

    Ada juga yang mengatakan definisi sajak adalah salah satu bentuk karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris teratur dan terikat.

    Bisa juga dikatakan sebagai persamaan bunyi. Persamaan yang terdapat pada kalimat atau perkataan, di awal, di tengah, dan di akhir perkataan.

    Sedangkan menurut ahli, pengertian sajak adalah puisi baru yang populer, lahir sebagai pilihan kepada puisi tradisional (Hashim Awing).

    Di Indonesia sendiri ada berbagai jenis sajak, salah satunya adalah sajak Sunda.

    Menurut Kbbi, sajak adalah:

    • gubahan sastra yang berbentuk puisi
    • bentuk karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat
    • gubahan karya sastra yang sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa, baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan
    • patut; kena; cocok:ia berpakaian indah lagi —
    • lagak lagu:manis sikap dan –nya

    Macam macam Sajak

    Setelah mengetahui arti dan definisi sajak, mari kita masuk ke poin utama dalam artikel ini, yakni membahas tentang macam-macam sajak. Apa saja macam-macam sajak? Berikut diantaranya:

    1. Sajak Awal

    Sajak awal adalah persamaan bunyi yang terdapat pada awal kalimat.

    Contoh sajak awal:

    Kalau tidak karena bulan
    Tidaklah bintang meninggi hari
    Kalau tidak karena tuan
    Tidaklah saya sampai kemari

    2. Sajak Tengah

    Sajak tengah adalah persamaan bunyi yang terdapat pada tengah kalimat.

    Contoh sajak tengah:

    Guruh petus penuba limbat
    Ikan lumba berenang-renang
    Tujuh ratus jadikan ubat
    Badan berjumpa maka senang

    3. Sajak Akhir

    Sajak akhir adalah persamaan bunyi yang terdapat pada akhir kalimat. Sajak ini terdapat di puisi lama dan puisi baru.

    Contoh sajak akhir:

    Berdiri aku di tepi pantai
    Memandang lepas ke tengah laut
    Ombak pulang peceh berderai
    Keribaan pasar rindu berpaut

    4. Asonansi

    Asonansi adalah persamaan bunyi huruf hidup (vokal) yang terdapat dalam perkataan atau kalimat.

    Contoh asonansi:

    Kini kami bertikai pangkai
    Diantara dua mana mutiara
    Jauhari ahli lalai menilai
    Lengahlangsung melewat abad

    5. Sajak Sempurna

    Sajak sempurna adalah persamaan bunyi pada suku kata terakhir secara penuh.

    Contoh sajak sempurna:

    Gabak hari awan pun mendung
    Pandan terkulai menderita
    Sejak mati ayah kandung
    Makan berrhurai air mata

    6. Sajak Tak Sempurna

    Sajak tak sempurna adalah persamaan bunyi yang penulisannya berbeda. Jadi hanya bunyinya saja yang sama.

    Contoh sajak tak sempurna

    Uncang buruk tak tertali
    Kian kemari bergantung-gantung
    Bujang buruk tak berbini
    Kian kemari meraung-raung

    Nah, itulah pengertian sajak, macam-macam sajak, dan contohnya. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Apa Saja Ciri Ciri Puisi Lama dan Puisi Baru?

    Apa Saja Ciri Ciri Puisi Lama dan Puisi Baru?

    Pengertian Puisi

    Sebelum membahas tentang ciri-ciri puisi, alangkah baiknya jika kita membahas pengertian puisi terlebih dahulu.

    Jadi, puisi adalah sebuah karya sastra yang dihasilkan dari buah pikir, ide, dan pengalaman pribadi yang dikemas dengan menggunakan kata-kata indah.

    Puisi pun dibedakan menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru. Kedua jenis puisi tersebut memiliki perbedaan mendasar, yaitu aturan.

    Puisi lama selalu mengikuti aturan yang terikat. Sedangkan puisi baru atau puisi modern sifatnya bebas, alias tidak terikat aturan-aturan tertentu dalam penulisannya.

    Ciri Ciri Puisi

    Setelah mengetahui definisi puisi singkat di atas, berikut ini adalah ciri-ciri puisi secara umum.

    1. Ciri Ciri Puisi Secara Umum

    • Ditulis dalam bentuk bait yang berisi beberapa baris
    • Tidak berbentuk paragraf layaknya naskah drama
    • Menggunakan diksi yang indah
    • Menggunakan majas secara dominan
    • Memiliki makna tersirat
    • Tidak menjelaskan alur, seting, dan tokoh
    • Padat dan langsung pada inti

    2. Ciri Ciri Puisi Lama

    • Kebanyakan puisi lama sifatnya anonim (tidak diketahui pengarangnya)
    • Terikat aturan, meliputi irama, ritme, notasi, diksi
    • Gaya bahasa yang digunakan statis
    • Lebih sering disampaikan secara lisan
    • Lebih banyak bernuansa perjuangan

    3. Ciri Ciri Puisi Baru

    • Nama pengarang diketahui
    • Tidak terikat aturan
    • Gaya bahasa yang digunakan dinamis
    • Lebih sering disampaikan pada tulisan
    • Lebih banyak bernuansa percintaan
  • Sejarah Singkat Lahirnya Pantun di Nusantara

    Lahirnya pantun cukup erat hubungannya dengan kebiasaan masyarakat lama yang suka mengemukakan maksud tidak secara berterus terang, melainkan dengan berpikir atau secara teka-teki.

    Bahkan pada jaman itu, banyak orang yang mengetahui dan pandai memahami bahasa berkias dianggap sebagai orang yang berilmu atau orang pandai (Hendy, 1990:48).

    Pantun sendiri tergolong sebagai puisi lama, beberapa keistemewaan pantun dibandingkan dengan bentuk puisi yang lain yaitu pantun relatif lebih mudah ditangkap maknanya.

    Dengan demikian pantun merupakan salah satu alat yang paling efektif untuk mengungkapkan perasaan.

    Menurut sejarah, pantun sudah dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia sebelum pengaruh kebudayaan Hindu dan Arab masuk ke Indonesia.

    Pantun adalah warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang paling unik (Suseno, 2008:9). Pantun yang merupakan bagian dari bentuk puisi lama, hampir merata dikenal di seluruh penjuru tanah air (Nusantara), walaupun diucapkan dalam bahasa daerah.

    Dalam versi lain, ada juga yang menyebut pantun adalah sebagai salah satu bentuk sajak yang diawali oleh syair-syair tasawuf Abul Jamal, yaitu seorang penyair dan sufi Melayu yang hidup pada abad 17 m di Barus. Ia merupakan murid dari Syekh Syamsudin Pasai.

    Syair yang ditulis oleh Abdul Jamal itu disebut dengan bandun, bantun dan lantun. Dalam syair tersebut, pantun diartikan sebagai puisi yang dilantunkan secara spontan untuk menghibur, menyindir dan berseloroh.

    Di beberapa daerah Nusantara seperti Sasak di Lombok dan Madura di Jawa Timur, pantun mempunyai arti nyanyian.

    Sebagian masyarakat Madura menyebut orang yang menyanyikan sajak dengan apantun (berpantun). Perkataan dan kebiasaan menyanyikan pantun telah dikenal mulai abad 18 M, yaitu pada saat lembaga-lembaga Islam mulai tumbuh.

    Sedangkan menurut ahli yang berasal dari Belanda abad ke 19, yaitu De Hollander dalam bukunya yang berjudul Handleideing bij de beofening der Maleische taal en letterkunde (1893) mengatakan bahwa pantun merupakan sebuah lirik yang dinyanyikan.

    Dia menyebutkan bahwa sebagian besar pantun berisi tema percintaan yang dibacakan atau dinyanyikan secara spontan.

    Pendapat tersebut dikemukakan setelah ia membaca dua hikayat Melayu, yaitu Hikayat Bikrama Datya Jaya dan Hikayat Bujangga Mahaputra.

    Dalam Hikayat Bikrama Datya Jaya banyak ditemukan kata-kata percintaan seperti ”Segala dayang-dayang pun bersyair dan berpantun dan berseloka”. Hollander mempunyai pendapat bahwa syair berasal dari Arab, seloka berasal dari India dan pantun adalah nyanyian asli Melayu.

    Namun, perkembangan pantun semakin hari semakin melebar. Tidak lagi digunakan sebagai bahan hiburan atau percintaan saja, tapi pantun juga mulai berkembang untuk hal lainnya.

    Misal penggunaan pantun untuk menyindir, mengkritik, pantun agama, pantun politik, pantun budaya, pantun motivasi, dan masih banyak lagi.

    Nah, itulah sejarah singkat lahirnya pantun. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Pengertian Resensi Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Pengertian Resensi Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Definisi Resensi

    Resensi adalah sebuah ulasan atau penilaian terhadap suatu karya, baik berupa buku, film, atau karya lainya.

    Kata resensi sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere.

    Artinya dengan meresensi, maka seseorang akan melihat, menimbang, atau menilai karya tersebut.

    Dalam bahasa Belanda, resensi dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah review.

    Namun, dari ketiga istilah tersebut tetap mengacu pada hal yang sama, yaitu mengulas buku.

    Resensi Menurut Para Ahli

    Menurut Saryono (1997:56) pengertian resensi adalah sebuah tulisan berupa esai dan bukan merupakan bagian suatu ulasan yang lebih besar mengenai sebuah buku.

    Isinya meliputi laporan, ulasan, dan pertimbangan baik-buruknya buku tersebut. Dalam resensi, biasanya dilengkapi/didukung dengan ilustrasi buku, misalnya foto buku atau cover.

    Menurut WJS Poerwadarminta (dalam romli, 2003: 75) arti resensi secara bahasa adalah sebagai pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku yang menilai kelebihan atau kekurangan buku tersebut.

    Dimana orang yang meresensi akan memberikan dorongan kepada masyarakat tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan seberapa manfaatnya buku tersebut.

    Resensi juga berkaitan dengan literasi novel, yaitu kemampuan individu untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi sebuah novel dengan baik.

    Kemampuan ini meliputi pemahaman terhadap alur cerita, karakter tokoh, tema, dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui novel tersebut.

    Sehingga secara sederhana, resensi bisa dikatakan sebagai sebuah tindakan yang memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik suatu buku.

    Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resensi adalah:

    pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku: majalah itu memuat — buku-buku yang baru terbit
    pendapat atau pertimbangan redaksi tentang hasil kesenian, kesusastraan, dan sebagainya

    Jenis Jenis Resensi

    Secara umum, resensi terbagi menjadi tiga jenis, diantaranya:

    • Resensi Informatif, yaitu resensi yang hanya menyampaikan isi secara singkat dan umum dari keseluruhan isi buku.
    • Resensi Deskriptif, yaitu resensi yang mengulas secara detail pada tiap bagian atau bab dalam buku.
    • Resensi Kritis, yaitu resensi yang berbentuk ulasan terperinci dengan metodologi penelitian. Isi dari resensi kritis biasanya cukup tajam dan objektif dalam menilai sebuah buku.

    Struktur Resensi

    Ada beberapa struktur resensi, berikut diantaranya:

    • Identitas, yang mencakup judul buku, penerbit, pengaran, tahun terbit, tebal halaman.
    • Orientasi, yaitu penjelasan tentang kelebihan buku, misalnya penghargaan yang pernah diraih.
    • Sinopsis, yaitu ringkasan yang menggambarkan isi cerita tentang buku tersebut.
    • Analisis, yaitu paparan tentang keberadaan unsur-unsur cerita, seperti tema, watak, penokohan, latar, dan alur.
    • Evaluasi, yaitu paparan tentang kelebihan dan kekurangan suatu karya.

    Unsur Resensi

    Dalam resensi novel atau buku, diperlukan unsur-unsur resensi yang harus dipenuhi, sebagai berikut:

    1. Judul Resensi

    Judul sebuah resensi harus mempunyai korelasi dengan isi resensi. Tidak lupa juga, judul resensi harus dibuat semenarik mungkin agar bisa memberikan nilai tersendiri.

    2. Menyusun Data Buku

    Selanjutnya adalah menyusun data buku. Adapun hal yang dapat dilakukan dalam penyusunan data buku adalah sebagai berikut.

    • Judul
    • Pengarang
    • Penerbit
    • Tahun terbit beserta cetakannya
    • Dimensi buku
    • Harga

    3. Isi Resensi Buku

    Isi resensi biasanya selalu berisi tentang sinopsis, ulasan singkat buku dengan kutipan singkat yang dianggap penting. Tidak lupa juga, perlu dicantumkan kelebihan serta kelemahan buku.

    4. Penutup Resensi Buku

    Pada bagian penutup resensi, bisa diisi dengan kesimpulan yang berisi aalasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan.

    Manfaat Resensi

    Adapun beberapa manfaat resensi adalah sebagai berikut:

    1. Bahan Pertimbangan

    Memberikan gambaran umum kepada pembaca tentang suatu karya dan memengaruhi mereka atas karya tersebut. Sehingga mereka mendapat pertimbangan apakah layak untuk membeli/tidak, membaca/tidak.

    2. Nilai Materi

    Menjadi sumber penghasilan. Sebab begitu banyak penerbit yang menginginkan buku-buku terbitannya di resensi hingga bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.

    3. Promosi Buku

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, resensi bisa membuat sebuah karya menjadi lebih dikenal masyarakat luas. Maka dari itu, banyak penulis/penerbit yang menginginkan jika karya terbarunya diresensi.

    4. Melatih Kreativitas

    Meresensi buku juga bisa melatih kreativitas seseorang. Di mana, kata-kata yang digunakan haruslah yang baik dan benar sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas.

    Ciri Ciri Resensi

    Apa saja ciri-ciri resensi? Berikut diantaranya:

    • Terdapat judul resensi.
    • Memberikan identitas buku secara lengkap.
    • Ada sinopsis atau ulasan buku.
    • Menyajikan kelebihan dan kelemahan buku.
    • Penggunaan bahasa yang baik dan benar.
    • Memberi masukan, kritik, dan saran kepada penulis.
    • Memberi apresiasi atas sebuah karya tulis.
    • Menilai karya sastra secara objektif.

    Tujuan & Manfaat Resensi

    Adapun tujuan dan manfaat resensi adalah sebagai berikut.

    • Membantu pembaca untuk mengetahui gambaran umum sebuah buku secara ringkas.
    • Mengetahui kelebihan dan kelemahan buku yang diresensi.
    • Mengetahui latar belakang penulis dan alasan buku itu dibuat.
    • Menguji kualitas sebuah karya dan membandingkan dengan karya lainnnya.
    • Memberi masukan kepada penulis yang berupa kritik dan saran.
    • Mengajak untuk berdiskusi tentang karya yang diresensi.
    • Memberikan pemahaman secara komprehensif kepada pembaca.

    Contoh Resensi

    Berikut adalah contoh resensi buku yang berjudul Serpihan Masa Lalu karya Utami Panca Dewi.

    Judul : Serpihan Masa Lalu
    Penulis : Utami Panca Dewi
    Penerbit : Nuansa
    Cetakan : Pertama, 2016
    Tebal : 155 halaman
    ISBN : 978-602-73112-7-5

    Novel remaja ini bercerita tentang perjalanan seorang wanita bernama Dara.

    Sejak kepergian ibunya, Dara menjadi anak yang pendiam. Tentunya hal membuat itu ayahnya, Farid menjadi prihatin.

    Ayahnya yang berprofesi sebagai dokter berinisiatif mengajak Dara mengunjungi Rumah Singgah Bina Insani, yang sekaligus panti asuhan bagi anak-anak yang kurang beruntung, milik Bu Respati.

    Dokter Farid ingin Dara memiliki keceriaan kembali seperti sebelum ditinggal ibunya.

    Diawali dengan memperkenalkan diri di kelas barunya, banyak anak panti yang meminta Dara menjelaskan cara penyelesaian soal-soal IPA.

    Sebab, Dara merupakan siswi paling cerdas di kelas XI IPA 2. Dia mampu menjelaskan soal-soal secara mudah, melebihi teman-teman sekelasnya.

    Melihat keceerdasan Darai, Bu Respati mintanya menjadi guru atau pengajar mata pelajaran IPA bagi anak-anak panti.

    Kebetulan Rumah Singgah itu belum memiliki guru IPA dan Dara menyetujuinya. Jadi, setiap Jumat sore, Dara memberi pelajaran IPA pada anak-anak panti.

    Setelah berbulan-bulan mengajar di Rumah Singgah, akhirnya Dara sadar akan passion-nya. Seketika Dara ingin menjadi guru.

    Dia benar-benar menikmati momen saat berada di tengah anak-anak panti tersebut.

    Dia merasa jika menemukan kepuasan ketika murid-muridnya bisa memahami materi yang dijelaskannya. Bisa dikatakan sebagai sebuah kebanggaan tersendiri.

    Tentu saja cita-cita ini bertolak belakang dengan keinginan dokter Farid, ayahnya.

    Sebagai seorang dokter senior, Farid ingin Dara menjadi dokter juga agar dapat menggantikan mengelola klinik tersebut.

    Banyak pihak yang heran dengan cita-cita Dara. Salah satunya adalah Ruben, kakak kelasnya yang diam-diam menyukai Dara.

    Namun, Dara tetap teguh dengan harapannya. Dia menganggap bahwa setiap anak bebas memilih jalan yang diinginkan tanpa harus memenuhi permintaan orang tuanya.

    Padahal Dara memiliki rasa kepada Ruben. Tapi, Dara memilih mengubur perasaannya karena cita-citanya tersebut.

    Selain itu, dia juga memikirkan perasaan Mela, sepupu Dara, juga menyukai Ruben.

    Karena orang tua Mela baru saja bercerai, Mela harus pindah tempat tinggal dan sekolah. Terlebih lagi Mela mengidap thallasemia.

    Dara tak ingin sepupunya bersedih. Jika bersama Ruben bisa membuat Mela bahagia, Dara rela mengesampingkan perasaannya, walau harus sedikit terluka.

    Di sisi lain, Dara juga tertarik pada Ale, seorang remaja seusianya yang menjadi penjaja koran di lampu merah.

    Adik Ale, Adelia, seorang berkebutuhan khusus merupakan salah satu anak asuh Rumah Singgah Bina Insani, murid Dara.

    Setelah ayahnya meninggal, Ale berjuang membesarkan adiknya. Dia rela putus sekolah asal adiknya bisa mengenyam pendidikan.

    Dokter Farid tidak senang melihat kedekatan Dara dengan Ale.

    Menurutnya, anak jalanan seperti Ale yang berambut gondrong tidak punya sopan santun dan tidak punya masa depan sehingga tidak layak untuk dicintai.

    Apalagi mengetahui Dara terlambat pulang karena pergi bersama Ale, makin beranglah Dokter Farid.

    Untuk menjauhkan anak kesayangannya dari Ale, Farid mengizinkan Dara mengambil program studi Pendidikan Biologi di Yogyakarta.

    Bagi Dara, tak masalah dijauhkan dari Ale, selama tidak dilarang menjadi guru. Sebab, cita-citanya sudah bulat menjadi seorang guru yang berguna bagi setiap anak.

  • Majas: Pengertian, Macam-Macam, dan Contohnya

    Majas: Pengertian, Macam-Macam, dan Contohnya

    Pengertian Majas

    Pengertian majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dengan cara yang imajinatif atau kiasan. Sehingga secara umum, sifat majas adalah tidak pada makna yang sebenarnya sehingga.

    Menurut Kbbi, majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain; kiasan

    Sedangkan menurut Slamet Muljana, arti majas adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis sehingga menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca.

    Jadi, dapat disimpulkan jika majas adalah sebuah cara menyampaikan sesuatu dengan kiasan atau tidak pada arti yang sebenarnya.

    Penggunaan majas biasanya bertujuan untuk menyentuh emosional pendengar atau pembaca sehingga majas seringkali digunakan untuk menyindir secara halus.

    Macam Macam Majas

    Ada berbagai jenis majas dalam Bahasa Indonesia yang sering digunakan. Namun, secara garis besar, majas dibagi menjadi empat, yaitu: majas perbandingan, majas penegasan, majas sindiran, dan majas pertentangan. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya berikut ini.

    A. Majas Perbandingan

    Majas perbandingan adalah sebuah gaya bahasa atau kata-kata yang digunakan untuk menyatakan perbandingan terhadapa sesuatu.

    Misalnya kita akan membandingkan satu objek dan objek lainnya, maka kita bisa menggunakan majas perbandingan.

    Adapun macam atau jenis majas perbandingan adalah sebagai berikut:

    1. Majas Personifikasi

    Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang menggambarkan sebuah benda mati seolah-olah menjadi hidup dengan melakukan hal-hal atau tindakan layaknya manusia.

    Majas personifikasi banyak digunakan dalam menulis karya sastra, baik berupa puisi, pantun, prosa, novel, dan sebagainya. Ciri khas dari majas personifikasi adalah meletakkan sifat manusiawani (hidup) kepada benda (mati).

    Contoh majas personifikasi:

    1. Badai tsunami menyapu bersih apapun yang dilaluinya
    2. Kursi goyang itu menidurkan nenekku dengan ayunannya
    3. Gempa mengoyang goyang seluruh gedung pencakar langit
    4. Lonceng stasiun memberitahu para penumpang untuk bergegas naik kereta
    5. Setiap hari lampu merah di jalanan mengatur para pengguna jalan
    6. Matahari bersinar terik terasa menggigit seluruh kulit tanganku

    2. Majas Metafora

    Majas metafora adalah sebuah majas perbandingan yang menjelaskan sesuatu secara kiasan atau bukan pada makna sesungguhnya.

    Lebih mudah lagi, majas metafora bisa dikatakan sebagai majas yang menggambarkan barang mati seolah-olah menjadi hidup, misalnya jago merah yang berarti api.

    Contoh majas metafora:

    1. Si jago merah melalap rumah susun hingga tersisa debu.
    2. Raja siang terbit di hari yang cerah.
    3. Raja malam mulai mengawasi mangsanya.
    4. Pak Karno sangat sayang dengan buah hatinya.
    5. Sampah masyarakat selalu meresahkan warga.

    3. Majas Asosiasi

    Majas asosiasi adalah majas yang menggunakan ungkapan dengan membandingkan dua objek berbeda, namun dianggap sama.

    Penggunaan majas asisoasi dilakukan dengan memberikan tanda sambung: bagaikan, bak, layaknya, atau seperti.

    Contoh majas asosiasi:

    1. Nasibku pasti berganti seperti roda yang berputar.
    2. Hatiku melebur dengan hatimu bak menabur garam di lautan.
    3. Menasehati Agus itu percuma, layaknya berbicara dengan tembok.

    4. Majas Hiperbola

    Majas hiperbola adalah majas yang mengungkapkan sesuatu dengan kesan yang berlebihan. Bahkan majas hiperbola selalu membandingkan sesuatu dengan cara yang terkesan tak masuk akal.

    Contoh majas hiperbola:

    1. Larinya secepat kilat sampai tak ada yang bisa mengejarnya.
    2. Bu Guru sangat baik seperti malaikat.
    3. Ayah bekerja sampai memeras keringat untuk biaya sekolahku.

    Baca juga:

    5. Majas Eufisme

    Majas eufemisme adalah majas yang menggantikan kata-kata kasar/kurang pantas menjadi padanan kata yang lebih halus dan bermakna sepadan.

    Contoh majas eufisme:

    1. Agus adalah seorang tuna daksa.
    2. Kita jangan kasar dengan orang yang tuna wisma.
    3. Kasihan Andi, ia terlahir sebagai tuna rungu.

    6. Majas Metonimia

    Majas metonimia adalah majas yang fungsinya menyandingkan merek atau istilah tertentu yang sudah populer, tujuannya adalah untuk merujuk benda yang sebenarnya lebih umum.

    Contoh majas metonimia:

    1. Ayah sangat suka dengan gudang garam.
    2. Dia menyuruhku membeli djarum super.
    3. Tolong ambilkan Aqua, aku haus sekali.

    7. Majas Simile

    Majas simile adalah gaya bahasa perbandingan yang di tandai dengan kata depan dan penghubung. Seperti layaknya. Ibarat, bagaikan, seperti, bagai, seumpama.

    Contoh majas simile:

    1. Adikmu tampak sangat lapar, jalannya seperti singa kelaparan.
    2. Rapat hari ini sangat kacau, seperti hutan terserang angin ribut.

    8. Majas Alegori

    Majas alegori adalah majas yang menyandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan bermakna konotasi atau ungkapan.

    Contoh majas alegori:

    1. Dina sedang mencari pelabuhan cintanya, dan pada Deni lah ia berlabuh.
    2. Dalam perlombaan memenangkan hati, jurinya adalah perasaan.

    9. Majas Sinekdok

    Majas sinekdode adalah majas yang menyebutkan sebagian, tapi yang di maksud adalah sseluruh bagian atau bahkan sebaliknya.

    Majas sinekdode terbagi menjadi dua, yaitu pars pro toto (sebagian untuk seluruh) dan  totem pro parte (seluruh untuk sebagian).

    10. Majas Simbolik

    Majas simbolik adalah gaya bahasa yang membandingkan antara manusia dengan sikap makhluk hidup lain dalam bentuk ungkapan.

    Contoh majas simbolik:

    1. Agus sangat berani seperti raja hutan.
    2. Rani bak ratu lebah yang disukai banyak pria.

    B. Majas Pertentangan

    Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kiasan yang bertentangan dengan yang maksud sesungguhhnya. Adapun jenis atau macam majas pertentangan adalah sebagai berikut.

    1. Majas Litotes

    Majas litotes adalah kebalikan dari majas hiperbola, tetapi lebih sempit pada ungkapan yang bertujuan untuk merendahkan diri, dan pada kenyataannya yang dimaksud tidak seperti yang dikatakan.

    Contoh majas litotes:

    1. Monggi dinikmatii makanan seadanya.
    2. Maaf kalau sedikit, ini ada uang pengganti untuk membeli es.
    3. Kami hanya bisa mobil butut.

    2. Majas Paradoks

    Majas paradoks adalah majas membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikan.

    Contoh majas paradoks:

    1. Aku merasa lapar, padahal aku tinggal kawasan pusat kuliner.
    2. Agus tetap tersenyum, meski hatinya sedih karena ditinggal Dina.

    3. Majas Antitesis

    Majas antitesis adalah majas yang memadukan pasangan kata yang memiliki arti bertentangan.

    Contoh majas antitesis:

    1. Besar kecil jumlah gajinya, kita harus tetap bersyukur.
    2. Tinggi rendah martabat seseorang tergantung akhlaknya.
    3. Penilaian baik buruk tetap berlandaskan perilaku seseorang.

    4. Majas Kontradiksi Interminus

    Majas Kontradiksi Interminus adalah gaya bahasa dengan ungkapan menyangkal ujaran yang telah dipaparkan sebelumnya.

    Penggunaan majas ini biasanya diikuti konjungsi, seperti kata kecuali atau hanya saja.

    Contoh majas kontradiksi interminus:

    1. Hewan ternak milik Pak Agus sehat – sehat, tapi ada beberapa yang sakit – sakitan.
    2. Banyak mobil modern di dealer ini, kecuali satu mobil itu yang terlihat kuno.

    C. Majas Sindiran

    Majas sindiran adalah majas atau gaya bahasa yang tujuannya untuk menyindir seseorang atau perilaku tertentu dengan kata-kata kiasan. Adapun jenis atau macam majas sindiran adalah sebagai berikut.

    1. Majas Ironi

    Majas ironi adalah majas atau gaya bahasa untuk menyatakan suatu maksud sindiran atau berlainan/bertolak dengan maksud tersebut.

    Contoh majas ironi:

    1. Bersih sekali kamarmu, sampai-sampai bisa jadi sarang tikus.
    2. Wangi sekali rambutmu, sampai banyak lalat yang mengerubuti.
    3. Besar sekali hadiahmu, sampai bisa dimasukkan dalam kantong celana.

    2. Majas Sinisme

    Majas sinisme adalah gaya bahasa yang menyampaikan sindiran secara langsung. Sinisme tidak menggunakan ungkapan untuk memperhalus sindiran, namun sindiran juga tidak disampaikan secara kasar.

    Contoh majas sinisme:

    1. Kamarmu kotor sekali, sampai debu debu bertebaran di mana-mana.
    2. Apek sekali bantalmu seperti tidak pernah dicuci setahun.
    3. Kamu terlalu kurus, seperti orang yang tak makan setahun.

    3. Majas Sarkasme

    Majas sarkasme adalah majas atau gaya bahasa yang berisi sindiran secara kasar dan apa adanya.

    Contoh majas sarkasme:

    1. Kamu hanya sampah masyarakat yang tak berguna!
    2. Kenapa kamu sangat dungu dan tidak tahu apa-apa?
    3. Janganlah jadi anak tolol sehingga membuatku muak.

    D. Majas Penegasan

    Majas penegasan adalah majas yang tujuannya meningkatkan pernyataan penegas agar mempengaruhi pendengar/pembaca. Adapun jenis majas penegasan adalah sebagai berikut.

    1. Majas Pleonasme

    Majas pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata bermakna sama, sehingga terkesan tidak efektif. Tapi hal ini sengaja dilakukan untuk menegaskan.

    Contoh majas pleonasme:

    1. Silakan angkat tangan ke atas bagi yang setuju pendapat saya.
    2. Bagi yang merasa mampu mengerjakan, maju ke depan.
    3. Jangan pernah lupa akan sejarah di masa lalu.

    2. Majas Repetisi

    Majas repetisi adalah pengulangan kata, frase, atau bagian kalimat yang di anggap penting untuk memberikan penekanan.

    Contoh majas repetisi:

    1. Dia adalah tersangka, dia pencurinya, dialah yang mengambil dompetku.
    2. Saya ingin lebih baik, saya ingin rajin belajar, saya ingin pintar, saya ingin membanggakan orang tua.

    3. Majas Retorika

    Majas retorika adalah majas yang digunakan untuk memberi penegasan dalam bentuk kalimat tanya, yang sesungguhnya tidak perlu dijawab.

    Contoh majas retorika:

    1. Kapan Aku pernah memintamu untuk membohongiku?
    2. Apakah ada orang yang mau ditipu?
    3. Siapa yang rela jika harus kehilangan orang yang dikasihinya?

    4. Majas Klimaks

    Majas Klimaks adalah majas untuk menuturkan satu gagasan atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana meningkat ke gagasan atau hal yang lebih kompleks.

    Contoh majas klimaks:

    1. Kecil, sedang, besar, semua kue ini akan kubeli untukmu.
    2. S, L, M, XL, XXL, kita semua memiliki ukuran pakaian itu.

    5. Majas Antiklimaks

    Majas antiklimaks adalah kebalikan dengan klimaks, yaitu gaya bahasa yang tujuannya menegaskan sesuatu dengan mengurutkan suatu tingkatan dari tinggi ke tingkatan yang rendah.

    Contoh majas antiklimaks:

    1. Tua, muda, juga anak-anak punya hak yang sama.
    2. S3, S2. S1. juga D3, dipersilakan untuk mendaftar kerja di sini.

    6. Majas Pararelisme

    Majas paralelisme adalah gaya bahasa yang dilakukan dengan mengulang-ulang sebuah kata di dalam berbagai definisi berbeda. Jika pengulangan dilakukan di awal, maka disebut sebagai anafora.

    Contoh Majas Paralelisme:

    1. Cinta itu sabar.
    2. Cinta itu lemah lembut.
    3. Cinta itu memaafkan.
    4. Cinta itu tidak serakah.

    7. Majas Tautologi

    Majas tautologi adalah majas yang berupa pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata secara berlebihan dan tidak perlu.

    Majas ini memiliki kemiripan dengan pleonasme karena sama-sama menambahkan kata atau keterangan yang tidak diperlukan.

    Contoh majas tautologi:

    1. Suasana di acara ini sangat ramai, meriah, gegap gempita.
    2. Kelasmu terasa begitu sepi, sunyi, senyap, tidak ada yang hadir.
    3. Aku sua dia, karena dia ceria, gembira, riang, dan penuh suka cita.
    4. Jika memilih celana, ia selalu memilih yang modis, elegan, modern, dan gaya.