Blog

  • FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    FKKS Cluring Gelar Sosialisasi UKS di SDN 2 Sarimulyo yang Berdaya Saing Tinggi

    SDN 2 Sarimulyo menjadi pilihan Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Cluring untuk kegiatan sosialisasi Kelembagaan UKS, Rabu (26/11/25).

    Sekolah berpagar merah putih ini tampil asri dengan halaman rindang dan fasilitas bersih, termasuk toilet.

    Dua ruang kelas yang disatukan menjadi aula mampu menampung 45 peserta.

    Meja bertaplak batik dilengkapi nama peserta, hiasan tanaman, serta suguhan polo pendem dan minuman segar secang dan markisa yang dipetik dari halaman sekolah.

    Sekolah ini memiliki 64 siswa dari kelas 1–6, dengan 61 di antaranya penerima KIIP/PIP.

    Di bawah kepemimpinan Eny Ismawati, S.Pd., dan didukung delapan guru serta tenaga kependidikan dan komite, SDN 2 Sarimulyo mencatat sejumlah prestasi.

    FKKS Cluring di SDN 2 Sarimulyo Banyuwangi

    “Alhamdulillah, tahun ini kami meraih juara Gerakan Sekolah Sehat dan Adiwiyata Jatim,” ujar Eny, perempuan asal Tampo. Ia menyebut pencapaian lain di bidang drumband, tari, puisi, pantomim, dan akademik.

    Sekolah ini mengusung visi Terwujudnya Peserta Didik yang Unggul dalam Prestasi Akademik dan Nonakademik, Sehat, Disiplin, Berakhlak Mulia, dan Berbudaya Lingkungan.

    Kantin sekolah juga dinyatakan bebas plastik dan bebas 5P (perasa, pemanis, pengawet, pengenyal, pewarna). Masa tugas Eny pada periode pertama akan berakhir pada 22 Desember 2025, bertepatan dengan Hari Ibu.

    Kegiatan sosialisasi UKS menghadirkan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), K3S, Pembina UKS/M, serta Pokja Desa Sehat se-Kecamatan Cluring.

    Koordinator Satkordikcam Cluring, Wiwit Sukesi, S.Pd., menyebut jumlah siswa SD di wilayahnya rata-rata 50–80 per sekolah.

    Kepala Puskesmas Benculuk yang juga Plt Puskesmas Tampo, Tatiek Setya Ningsih, Bd. SST, M.M.Kes., mengingatkan pentingnya menjaga ODF, budaya hidup bersih dan sehat, pengelolaan sampah, kantin sehat, serta konsumsi buah dan sayur.

    “Tiap sekolah perlu memiliki guru UKS dan kader UKS, serta bersinergi melalui musrenbang desa untuk penguatan sarpras UKS,” ujarnya.

    Plt Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani, menegaskan perlunya kolaborasi dalam pelayanan dan inovasi, terutama di tengah efisiensi anggaran.

    FKKS Cluring

    Ninil, sapaan akrabnya, alumni SMPP/Smada 86 yang dua hari lagi memasuki masa purnabakti sebagai ASN berpamitan dan permohonan maaf, sembari berharap silaturahmi tetap terjaga.

    “kami pamit dan mohon maaf sambung dungo tetap jaga silaturahmi dan sehat senantiasa!”

    Paparan UKS disampaikan Desika Ulfatunissa, S.Kep., setelah Bung Aguk menyinggung kelembagaan dan kondisi Swasti Sabha Padapa yang diterima Banyuwangi.

    Melalui prestasi dan materi UKS–Adiwiyata yang ditampilkan, SDN 2 Sarimulyo menjadi rujukan studi tiru bagi SD, MTs, dan SMK yang hadir. Sinergi sekolah dengan Puskesmas, Kepala Desa, serta unsur kedinasan juga dinilai kuat.

    “Harapannya, segera diterbitkan SK Tim Pelaksana UKS dengan tembusan ke Kades dan Camat. Semester depan, FKKS akan memfasilitasi pelatihan untuk guru UKS,” demikian penutup kegiatan. (Aguk)

  • Biotech Talk 2025 Universitas Negeri Malang Hadirkan Sinergi Sains, Kreativitas, dan Talenta Mahasiswa

    Biotech Talk 2025 Universitas Negeri Malang Hadirkan Sinergi Sains, Kreativitas, dan Talenta Mahasiswa

    Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bioteknologi Genom Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) sukses menggelar rangkaian acara tahunan Biotech Talk 2025, Minggu, 16 November 2025, di Aula Lantai 2 Gedung B3 Fakultas Kedokteran UM.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Pra-Dies Natalis Bioteknologi UM ke-7, mengusung tema “Synergy Of Minds: A Collective Expression Of Hope, Science, and Creativity.”

    Biotech Talk hadir sebagai ruang aspirasi, diskusi, dan perumusan ide strategis untuk memperkuat komunikasi antara mahasiswa, dosen, serta pengelola program studi.

    Selain forum diskusi, acara juga dimeriahkan oleh Biotech Got Talent, ajang bagi mahasiswa mengekspresikan kreativitas melalui penampilan seni yang merefleksikan keberagaman potensi mahasiswa Bioteknologi.

    Suasana Meriah dengan Dress Code Unik

    Acara berlangsung hangat dan penuh energi positif. Seluruh peserta hadir dengan dress code “Your Music Playlist”, menghadirkan nuansa personal dan kreatif.

    Total 242 dari 280 mahasiswa Bioteknologi angkatan 2022–2025 hadir bersama para dosen, tenaga kependidikan, ketua Ormawa lingkup FMIPA UM, serta dewan juri Lomba Nusantara Platter dan Biotech Got Talent.

    Sebanyak 79 panitia HMPS Bioteknologi Genom turut memastikan seluruh rangkaian acara berjalan dengan tertib dan meriah.

    Pembukaan Resmi dan Rangkaian Sambutan

    Biotech Talk 2025 FMIPA UM

    Acara dibuka dengan red carpet untuk mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, menciptakan suasana semarak sebagai pembuka peringatan Dies Natalis ke-7.

    Biotech Talk 2025 dibuka secara resmi oleh Ketua Departemen Sains Terapan, Prof. Dr. Evi Susanti, S.Si., M.Si., yang menekankan pentingnya sinergi mahasiswa dan dosen dalam membangun lingkungan akademik kreatif dan adaptif.

    Acara pembukaan juga diisi dengan pemotongan tumpeng serta sesi foto bersama seluruh angkatan 2022–2025.

    Sebelum itu, rangkaian sambutan disampaikan oleh Ketua Pelaksana Biotech Talk 2025: IZ Fathma Agmadina, Ketua Umum HMPS Bioteknologi Genom 2025: Muhammad Firdaus, dan Dosen Pendamping HMPS Bioteknologi: Dr. Muh Ade Artasasta, S.Si.

    Paparan Kinerja Prodi dan Hasil Angket Evaluasi

    Memasuki sesi inti, Prof. Evi memaparkan capaian Program Studi Bioteknologi selama setahun terakhir, mulai dari prestasi mahasiswa, kontribusi penelitian, hingga arah pengembangan prodi ke depan.

    Dilanjutkan dengan penyampaian hasil angket evaluasi mahasiswa dalam dua sesi, dipandu oleh Najwa Wintang Wicaksono dan Reihanda Syahputra.

    Kedua sesi ini memicu diskusi interaktif antara mahasiswa dan dosen, menghadirkan kritik, masukan, serta gagasan konstruktif untuk meningkatkan kurikulum, layanan akademik, dan fasilitas pembelajaran.

    Suasana diskusi berlangsung dinamis, terbuka, dan solutif, mencerminkan komitmen bersama untuk memajukan prodi Bioteknologi.

    Penghargaan Bioteknologi UM

    Berbagai penghargaan disampaikan langsung oleh Prof. Evi sebagai bentuk apresiasi:

    • Offering Terbaik: Angkatan 2022 Offering B
    • Genomian Berkarakter: Fakhren Nukha Zalfa & Muhammad Firdaus
    • Anggota HMPS Menginspirasi: Anindyah Sutra Karury
    • Dosen Terfavorit: Dr. Norman Yoshi Haryono, S.Si.
    • Best Dresscode: Fenita Oka Prasetya & Arkan Naufal Satyadharma

    Sebelum memasuki waktu ishoma, sesi sing along yang dipandu Zahra Amadea Firdauzi Alryan dan Kadek Abin menambah kemeriahan dengan membawakan berbagai lagu.

    Biotech Talk 2025

    Nusantara Platter dan Biotech Got Talent

    Setelah ishoma, peserta menikmati hidangan Nusantara Platter sambil beristirahat. Suasana keakraban antar-offering semakin terasa sebelum memasuki rangkaian penampilan Biotech Got Talent, yang diikuti seluruh offering angkatan 2022–2025.

    Berbagai karya dan talenta ditampilkan, mulai dari dance, band, vokal solo, pertunjukan alat musik, drama, hingga kreativitas lain yang menciptakan atmosfer kompetisi sehat serta memperkuat kebersamaan antarangkatan dalam pra-Dies natalis Program Studi Bioteknologi yang ke-7.

    Pengumuman Pemenang

    Setelah proses penilaian oleh dewan juri Lomba Nusantara Platter (Dr. Norman Yoshi Haryono, S.Si.) dan Biotech Got Talent (I Made Jody Setiawan, S. Biotek., dan Salma Aulia), diumumkan pemenang sebagai berikut:

    Nusantara Platter:

    Pemenang: Offering B (Angkatan 2024)

    Biotech Got Talent:

    • Juara 1: TheExorcist – I 2025
    • Juara 2: PENANGAS – B 2023
    • Juara 3: Brumbrum Patapim – B 2024

    Nominasi Khusus:

    • Audience Favorite: Bichlogyria – A 2025
    • Best Teamwork: AlimAlim – A 2022
    • Most Unique Performance: BantaiBantai – B 2022

    Apresiasi Peserta dan Harapan Ke Depan

    Acara mendapat banyak tanggapan positif dari peserta, salah satunya Khezia Rachel, mahasiswa baru yang juga tampil di Biotech Got Talent, mengaku mendapat wawasan dan motivasi baru.

    “Acara ini sangat memberikan pengalaman baru bagi saya, terutama dapat berinteraksi langsung dengan kakak tingkat dan dosen dalam suasana yang menyenangkan. Saya merasa lebih memahami lingkungan prodi dan semakin termotivasi untuk aktif berkontribusi,” ujar Khezia Rachel.

    Sementara itu, dari angkatan 2024, Zeilanoor Azizah Putri turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

    “Terima kasih kepada panitia, acaranya rapi, seru, dan penuh makna. Biotech Talk tahun ini benar-benar berkesan,” ujarnya.

    Pujian juga datang dari Dr. Muh Ade Artasasta, S.Si., selaku dosen pendamping HMPS Bioteknologi, yang memberikan komentar singkat namun penuh apresiasi, “Good job untuk Biotech Talk kali ini!”

    Sebagai penutup, Ketua Pelaksana IZ Fathma Agmadina berharap kegiatan ini terus menjadi ruang dialog dan kreativitas yang melahirkan ide-ide baru bagi kemajuan Bioteknologi UM.

    Dengan diumumkannya seluruh pemenang, rangkaian Biotech Talk 2025 resmi berakhir dalam suasana hangat, penuh kegembiraan, dan kebersamaan. (IZ FATHMA)

  • Panji Blambangan Gelar Peringatan 20 Tahun Pengakuan Keris sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

    Panji Blambangan Gelar Peringatan 20 Tahun Pengakuan Keris sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

    Keris adalah senjata tajam golongan belati dari suku Jawa yang dikenal luas di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah.

    Senjata ini memiliki bentuk yang sangat khas dan mudah dikenali, terutama pada bagian pangkal yang tidak simetris dan melebar, serta bilah yang sering kali berkelok-kelok.

    Banyak keris juga memiliki pamor, yaitu serat-serat logam yang tampak pada permukaan bilah hasil lapisan logam yang disatukan.

    Bagi masyarakat Jawa, keris menjadi senjata pamungkas setelah pedang, tombak, dan panah.

    Meskipun bukan senjata utama dalam peperangan, keris merupakan senjata yang digemari dan kerap dibawa pemiliknya ke mana pun.

    Pada masa lalu, keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau pertarungan, sekaligus menjadi pelengkap sesajian dalam upacara adat.

    Dalam perkembangannya hingga masa kini, keris mengalami pergeseran nilai.

    Orang Jawa memaknai keris sebagai benda yang sarat filosofi dan pengajaran hidup, menjadi identitas diri, pesan moral, cermin karakter, sumber ketenteraman, simbol kesabaran, harapan, serta pengingat agar pemiliknya senantiasa menjaga hati, menahan emosi, dan bersikap bersahaja.

    syukuran memperingati 20 tahun pengakuan keris oleh UNESCO

     

    Nilai-nilai tersebut dituangkan dalam bentuk bilah, ricikan, serta ragam pamor keris. Selain itu, keris juga berfungsi sebagai aksesori busana (ageman), simbol budaya, serta koleksi bernilai estetika tinggi.

    UNESCO resmi mengakui keris sebagai Warisan Budaya Dunia Nonbendawi asal Indonesia sejak 25 November 2005.

    Sejak itu, setiap tanggal 25 November diperingati oleh berbagai komunitas pecinta keris sebagai hari pengakuan keris Indonesia di dunia internasional.

    Di Banyuwangi, tasyakuran memperingati 20 tahun pengakuan keris oleh UNESCO digelar oleh Paguyuban Tosan Aji (Panji) Blambangan di Lesehan Kremes TMP, Jalan Ahmad Yani No. 67 Banyuwangi, pada saat samarwulu.

    Acara ini dihadiri para tokoh budaya senior seperti Ki Aekanu, Ki Aguk Darsono, Momo Kepus, penyair Fatah Yassin Noor, H. Syafaat Lentera Sastra, serta perupa seperti Harianto Koi dan Mbah Eko, dan masih banyak lainnya.

    Hadir pula sekitar 17 siswa-siswi SMPN 2 Rogojampi yang mulai peduli pada dunia perkerisan setelah melakukan kunjungan ke Museum Blambangan Disbudpar.

    Dalam sambutannya, KRT H. Ilham Riyadi, M.Pd, mengajak generasi muda untuk terus nguri-uri dan melestarikan keris sebagai warisan budaya bangsa.

    Ia menegaskan bahwa pengakuan dunia terhadap nilai adiluhung leluhur harus dijaga agar tetap berkelanjutan sebagai jati diri Indonesia.

    tasyakuran keris diakui UNESCO

    “Ayo bangga dan pelajari nilai ekonomi, sejarah, dan filosofi keris. Jangan dianggap klenik atau syirik, karena besi bertuah pun disebutkan dalam kitab suci,” ujarnya, yang juga dikenal sebagai sahabat Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan kerap diminta bantuan sebagai pawang hujan.

    Acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin H. Syafaat dari Lentera Sastra Kemenag, mendoakan para Mpu yang telah berjasa membangun peradaban Nusantara.

    Ungkapan syukur kemudian ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol kesejahteraan dan kebersamaan bagi seluruh hadirin.

    Keistimewaan malam itu semakin lengkap dengan sajian khas berupa ketan durian dan ayam kremes persembahan Warung Lalapan Kremes TMP yang dikelola aktivis UMKM Banyuwangi, Robin Hore.

    Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama di depan backdrop kegiatan dan koleksi keris milik para anggota Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) yang ada di Banyuwangi. (Andre/Aguk)

  • Gairah Seni Nusantara Mengalir di Bayu Songgon lewat Pementasan Topeng Madura dan Kolaborasi Lintas Budaya

    Gairah Seni Nusantara Mengalir di Bayu Songgon lewat Pementasan Topeng Madura dan Kolaborasi Lintas Budaya

    Momentum tasyakuran Padepokan Suryo Mustiko dan seni topeng Laras Mustoko Jalmo menjadi ajang yang kembali menghidupkan jejak leluhur mereka di Dusun Pelantaran, Desa Bayu, Songgon, Selasa (25/11/25).

    Acara ini merayakan pelestarian Kesenian Tari Topeng asal Sumenep yang sudah dibawa oleh tiga bersaudara sebelum 1945, kemudian diwujudkan dalam bentuk Sanggar Kesenian oleh anak sepupuan pada tahun 1961.

    Kini, memasuki tahun pertama berdirinya Sanggar Suryo Mustiko, mereka menghadirkan kolaborasi Topeng Madura, Mamaca, saronen, kerawitan campursari, literasi, video kreatif, serta kesenian Banyuwangi.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan selamatan dan tahlilan bakda Maghrib, dilanjutkan ramah tamah dengan jajanan pasar, polo pendem, hingga tumpeng.

    tasyakuran Padepokan Suryo Mustiko dan seni topeng Laras Mustoko Jalmo di Songgon

    Dalam sambutannya, pengurus Suryo Mustiko, Danang, memaparkan sejumlah prestasi yang diraih, termasuk capaian Qurrotul Angraini sebagai duta seni Jatim dan kiprah sanggar di berbagai event kecamatan maupun hajatan masyarakat.

    “Hingga kami bisa tampil dua tahun berturut-turut di Festival Kebangsaan Bakesbangpol melalui Forum Pembauran Kebangsaan dari suku Madura,” ungkap Wiyogo, penari sekaligus pranatacara, sambil menyampaikan terima kasih kepada Kepala Desa Bayu yang telah memberikan seperangkat gamelan daerah Blambangan.

    Kepala Desa Bayu, Ir. Yulia Herlina, tampak terharu. Acara ini mengingatkan dirinya pada kisah orang tua dan para leluhur, terlebih karena ia memiliki garis keturunan Madura dari kedua orang tuanya.

    Ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang peduli pada pelestarian seni budaya serta yang telah mengundang sanggar tampil dalam Festival Kebangsaan.

    “Maka Tari Topeng Laras Mustoko Jalmo kami jadikan maskot dan tema kesenian Desa Bayu. Setiap acara formal di wilayah kami akan diimbau menghadirkan kreasi Tari Topeng,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah.

    Hadir pula Suwito, anggota DPRD yang mengaku bersyukur dapat membantu menghadirkan Dapur MBG di Songgon.

    Ia juga telah berkomunikasi dengan pihak eksekutif mengenai pembangunan paving berkualitas yang kuat dilalui truk dan tahan air hujan.

    Riuh tepuk tangan menggema ketika ia spontan memberikan bantuan untuk pengadaan lampu panggung.

    “Seni daerah patut dilestarikan. Kami bermimpi bisa menampilkan ragam sanggar di bumi Blambangan, khususnya di Songgon,” tutur mantan Kopassus itu, menegaskan tekadnya bekerja dengan ikhlas menjalankan amanat rakyat, bukan sekadar janji kosong.

    Pada momen penutupan, setelah lagu kebangsaan bergema dilanjutkan “Umbul-umbul Blambangan”, ia tak kuasa menahan haru saat teringat sahabatnya, almarhum mantan Bupati Ir. H. Samsul Hadi, dan meminta hadirin mengirim Al-Fatihah.

    Tari Topeng Songgon

    Kesempatan sambutan juga diberikan kepada Bung Aguk Darsono, yang menyinggung Hari Jadi Banyuwangi 18 Desember yang berakar pada peristiwa Perang Puputan Bayu.

    Ia menegaskan bahwa infrastruktur Desa Bayu semestinya lebih baik daripada akses menuju Tumpang Pitu.

    Dalam semangat perjuangan tersebut, ia berharap Desa Bayu dapat menyusun buku sejarah dan filosofi Kesenian Tari Topeng yang menjadi maskot desa bahkan mewakili identitas suku Madura di Banyuwangi.

    Bung Aguk merupakan pengurus Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dan Forum Banyuwangi Sehat (FBS), sekaligus inisiator pembangunan Monumen Perang Puputan Bayu saat menjabat Sekretaris DHC ’45 pada masa kepemimpinan Kades Sukarno dan Bupati Ir. H. Samsul Hadi.

    Setelah doa yang dipimpin Ketua MWC NU, Ust. Hasan Irama, rangkaian seni ditampilkan berurutan mulai Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Marsan, Jaran Goyang, Jebing Kacong, hingga puncaknya Tari Topeng dengan improvisasi yang menegaskan aktualisasi hajat para cucu cicit untuk mengenang serta mendoakan leluhur mereka.

  • Jejak Harmoni Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi, Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

    Jejak Harmoni Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi, Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

    BANYUWANGI – Festival Kebangsaan 2025 yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi di Arena Gesibu Blambangan pada Sabtu lalu (22/11/2025) berlangsung meriah dan sarat dengan makna nasionalisme.

    Mengusung semangat harmoni dalam keberagaman, kegiatan ini meninggalkan catatan bukan hanya memamerkan kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga mendapat apresiasi khusus dari mahasiswa luar daerah, termasuk dari Aceh dan Papua.

    Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa festival tahun ini disusun dalam trilogi utama kegiatan.

    “Pertama, Lomba Band Kebangsaan untuk anak SD hingga SMP sebagai wadah bakat dan pembinaan kegiatan positif. Kedua, Lomba Video Kreatif bertema kebangsaan untuk siswa SMA, yang sebelumnya telah mendapat pelatihan langsung dari praktisi seperti Sulaiman Ali dari Porto Production serta influencer Winona. Ketiga, Pagelaran Seni Budaya hasil kolaborasi dengan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), menampilkan kekayaan seni dari berbagai suku,” ungkapnya.

    Tak hanya menghadirkan pertunjukan, Festival Kebangsaan 2025 juga menjadi ajang pelayanan publik.

    Kegiatan ini melibatkan UMKM lokal, menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, serta membuka layanan administrasi kependudukan gratis dari Dispendukcapil, seperti pengurusan akta kelahiran hingga KTP.

    “Ini adalah bentuk sinergi untuk mewujudkan Banyuwangi yang lebih baik,” tegas Agus Mulyono.

    Ketua Umum Forum Pembauran Kebangsaan Banyuwangi, Miskawi, M.Pd., menambahkan bahwa festival ini merupakan cerminan nyata kehidupan multikultural Banyuwangi.

    “Festival Kebangsaan ini adalah merajut harmoni. Tidak lagi membeda-bedakan suku dan etnis, karena kita hidup rukun dan guyub di Banyuwangi,” ujarnya.

    Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

    Peserta Festival Kebangsaan Banyuwangi 2025

    Keberhasilan festival dalam membangun suasana kebersamaan menuai pujian dari para pengunjung.

    Tiga mahasiswa asal Aceh, yakni Astri, Naiya, dan Ulfa mengaku terkesan dengan kekompakan dan kehangatan acara.

    Ulfa menyampaikan bahwa festival ini menjadi bukti nyata kerukunan antar suku di Banyuwangi yang tetap terjaga.

    Apresiasi juga datang dari mahasiswa asal Papua. Marni Majau, mahasiswi dari Papua Tengah, mengaku bangga dapat menyaksikan dan ikut merayakan kekayaan budaya di tengah keberagaman Banyuwangi.

    “Dengan acara seperti ini, kami dapat melestarikan budaya kami di mana pun berada,” ujarnya.

    Senada, Sonia dari Papua Selatan mengaku baru pertama kali melihat festival kebangsaan seperti ini dan merasa sangat mudah berbaur dengan masyarakat Banyuwangi. Keduanya bahkan menyatakan kesediaan untuk terlibat dalam kegiatan serupa di masa depan.

    Rangkaian Acara

    Festival diawali dengan penampilan band-band pelajar terbaik hasil seleksi lomba sebelumnya, yaitu SPENSABAND dari SMP 1 Banyuwangi, SPENSA GLORY dari SMP 1 Genteng, dan ALETHEIART dari SMPK Aletheia Genteng.

    Dilanjutkan dengan atraksi barongsai dari etnis Tionghoa serta tari Tanduk Majeng oleh Sanggar Lang-Lang Buana pimpinan maestro tari Banyuwangi, Sabar.

    Acara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. H. Mujiono, M.Si., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini adalah ruang penguatan jati diri bangsa melalui kebersamaan dalam keberagaman.

    Pada puncak acara, FPK Banyuwangi mempersembahkan pagelaran seni kolaboratif yang menampilkan tarian dari berbagai suku, seperti Mandar, Jawa, dan Madura.

    Tak hanya itu, narasi ditampilkan menggunakan bahasa daerah masing-masing dan Bahasa Inggris, mempertegas pesan tentang kuatnya persatuan dalam perbedaan.

    Pengumuman Pemenang Lomba

    Pada penghujung acara, panitia mengumumkan deretan pemenang lomba sebagai berikut:

    Lomba Video Kreatif:

    • Juara 1: SMAN 1 Genteng
    • Juara 2: SMKS Mambaul Ulum Muncar
    • Juara 3: SMAN 1 Glagah
    • Harapan 1: SMAN 1 Giri
    • Harapan 2: SMK Cordova

    Lomba Band Pelajar:

    • Juara 1: SDN 4 Penganjuran
    • Juara 2: SMPK Alethia Genteng
    • Juara 3: SMPN 1 Banyuwangi
    • Harapan 1: SMPN 1 Genteng
    • Harapan 2: SMPN 2 Banyuwangi

    Piala dan hadiah pembinaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Ir. Mujiono.

    Festival ditutup dengan sendratari “Kembang Seronce” karya Pak Sabar, sebuah pertunjukan artistik dari Sanggar Langlang Buana yang menggambarkan nilai Bhinneka Tunggal Ika, menjadi penutup sempurna dari seluruh rangkaian kegiatan.

    Festival Kebangsaan 2025 bukan sekadar agenda tahunan, tetapi bukti nyata komitmen Banyuwangi dalam merawat keberagaman.

    Melalui seni, pelayanan publik, dan ruang ekspresi bagi generasi muda, kegiatan ini menunjukkan bahwa persatuan adalah fondasi kokoh menuju masyarakat yang rukun dan sejahtera.

  • Peringatan HGN 2025 di SMPN 3 Rogojampi Jadi Ajang Apresiasi Guru dan Kreativitas Siswa

    Peringatan HGN 2025 di SMPN 3 Rogojampi Jadi Ajang Apresiasi Guru dan Kreativitas Siswa

    Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 dan HUT PGRI ke-80 di halaman SMPN 3 Rogojampi berlangsung khidmat pada Selasa (25/11/2025).

    Menariknya, seluruh petugas upacara berasal dari para guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang beralamat di Jl. Ki Hajar Diponegoro 18-A, Desa Gitik.

    Selain itu, perwakilan siswa kelas 7, 8, dan 9 juga tampil mempersembahkan puisi, pantun, serta lagu Himne Guru.

    Peringatan HGN 2025 di SMPN 3 Rogojampi

    “Kami berterima kasih atas jasa mulia para guru yang mendidik kami melampaui kurikulum, membentuk karakter kami, dan memberi kesempatan untuk berkreasi serta berprestasi!” ungkap Andre, siswa berprestasi dalam bidang puisi Indonesia dan Osing.

    “ Kami akan menjaga nama baik almamater dan melaksanakan amanah orang tua. Semoga para guru selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan berada dalam ridho Tuhan Yang Maha Esa,” sambung Sasmita.

    Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi, Dra. Hj. Sri Utami, turut membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ ti, yang mengusung tema Guru Hebat Indonesia Kuat.

    Pada kesempatan yang sama, Yeti Chotimah, M.Pd yang sebelumnya tampil membacakan puisi di Festival Kebangsaan FPK-Bakesbangpol di Gesibu Blambangan, memimpin pembacaan ikrar guru.

    Usai upacara, mobil MBG tiba di halaman sekolah yang memiliki 18 rombel tersebut. Sejak awal November, program Makan Bergizi Gratis ini hadir setiap Senin–Jumat sekitar pukul 08.17–08.45.

    Hari Guru Nasional SMPN 3 Rogojampi

    Pada momentum bersejarah ini, para guru juga membagikan sembako kepada siswa yatim dan dhuafa, dilanjutkan penyerahan hadiah berbagai lomba yang telah digelar sebelumnya.

    Momen keakraban semakin terasa ketika para siswa bersalaman dengan guru layaknya halal bihalal.

    Sesekali muncul doorprize dari siswa untuk wali kelas, pembina OSIS, maupun guru yang berkesan selama proses pembinaan di Sempega.

    Suasana semakin meriah saat para guru mengikuti lomba bola voli dengan bola plastik berukuran raksasa, disambut sorak meriah para siswa.

    Di tengah dekorasi balon dan suasana ceria, pramuka semapore dan ekstrakurikuler band sekolah turut menampilkan kemampuan mereka.

    Pengelolaan sampah pada acara ini kembali bekerja sama dengan NGO Sungai Watch.

    “Kegiatan PMR dan UKS juga bisa bersinergi untuk mendukung sekolah sehat dan tangguh!” tegas pembina M. Fahris, S.Pd.

    Ketika para siswa menikmati MBG, para guru, tenaga kependidikan, serta pengurus komite melaksanakan tasyakuran tumpeng.

    “Dengan momentum Hari Guru, mari semakin rajin belajar, jauhi malas, merokok, dan bullying. Semoga ilmu dan adab kita menjadi berkah dalam ridho-Nya,” tutup Muslih, S.Ag., waka urusan kesiswaan yang juga Direktur Madin pada jam ke-0 setiap Selasa, Rabu, dan Kamis.

  • Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

    Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

    Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri
    Oleh : Syafaat

    Suatu hari, di tengah hiruk-pikuk ibukota yang menua oleh kebijakan, seorang menteri berdiri dengan ketenangan yang aneh, seolah baru saja memindahkan bidak terakhir dalam permainan catur yang tak pernah dimenangkan siapa pun.

    Purbaya Yudhi Sadewa, sang Menteri Keuangan, berbicara tentang langkah baru yang tak pernah dibayangkan oleh para birokrat masa lalu: negara akan memanggil para hacker, para penembus dinding digital, untuk menambal bocornya jantung data pajak bangsa yang bernama Coretax.

    Di balik nadanya yang datar terselip sesuatu yang samar: rasa bangga yang berbaur dengan kegelisahan. Sebab apa yang lebih menakutkan daripada sebuah negara yang harus diselamatkan oleh para peretasnya sendiri?

    Di dunia yang lain, beberapa bulan sebelumnya, seperti ditulis Denny JA dengan judul “Dan Artificial Intelligence Pun Diangkat Menjadi Menteri” bercerita tentang sebuah berita dari Albania, negara kecil di Balkan yang tiba-tiba melompat jauh ke masa depan.

    Di sana, pemerintah mengangkat sosok digital bernama Diella, sebuah Artificial Intelligence yang diberi gelar menteri dan diberi tugas memberantas korupsi.

    Ia tidak bernafas, tidak mengenal lapar, tidak mengenal rasa takut. Tak ada darah, tapi penuh logika, tak ada kepentingan, hanya algoritma yang bekerja seperti doa yang tak bisa disuap.

    Diella tampil dalam wujud perempuan berpakaian adat rakyat Albania, suaranya jernih, tidak menuntut kepercayaan, namun justru menimbulkan ketakziman baru, karena untuk pertama kalinya, janji pemberantasan korupsi diucapkan oleh sesuatu yang bukan manusia.

    Dunia menatapnya dengan rasa takjub bercampur gentar, seperti anak kecil yang melihat api untuk pertama kali: indah, tapi tak bisa disentuh.

    Bayangan tentang Diella menimbulkan gema yang aneh di kepala, ada sesuatu yang terasa familiar, seperti deja vu dari dunia sinema dua dekade lalu.

    S1m0ne, film lama dari tahun 2002, berkisah tentang sutradara yang menciptakan aktris digital bernama Simulation One (Simone) sebuah ciptaan sempurna yang memikat dunia dengan pesonanya.

    Simone tidak pernah ada, namun dunia mengidolakannya, bahkan mencintainya. dan di situlah paradoks itu lahir: manusia selalu ingin sesuatu yang murni, tapi hanya mampu menciptakannya dalam bentuk ilusi.

    Kini, ilusi itu berjalan di antara kita, dengan bentuk yang lebih halus, lebih nyata, lebih sistematis, dalam dunia yang dikendalikan data, manusia mulai bernegosiasi dengan algoritma dan berunding dengan kode.

    Bayangkan jika suatu pagi, di Jakarta yang masih berkabut oleh debu politik, pemerintah mengumumkan hadirnya seorang Dirjen Pajak digital, AI yang menghitung semua transaksi dengan ketepatan sempurna, yang tidak mengenal amplop, tidak mengenal kasihan, dan tidak pernah tidur.

    Publik mungkin akan bersorak karena merasa menemukan obat bagi penyakit lama, namun di balik sorak itu, ada rasa waswas yang menggantung: manusia selalu takut pada ciptaannya sendiri ketika ciptaan itu mulai melampaui batas tuannya.

    Para hacker yang kini dipanggil oleh sang menteri bisa saja menjadi para patriot digital, penjaga baru negeri yang retak oleh kebocoran data dan korupsi yang tak pernah benar-benar mati.

    Mereka bekerja di sunyi, di hadapan layar yang memantulkan wajah mereka sendiri, dengan mata yang menyala oleh cahaya biru system, dalam diam, mereka memegang kunci dunia yang tak terlihat: dunia di mana uang bisa menguap tanpa jejak, dan kebenaran bisa dihapus dengan satu perintah.

    Namun di sisi lain, mereka juga bagian dari paradoks itu sendiri, manusia yang mampu menembus sistem, tapi tak selalu mampu menembus nuraninya.

    Artificial Intelligence bisa bekerja lebih cepat dari detak jantung manusia, dan mungkin lebih akurat dari nurani yang telah lama aus oleh godaan dunia.

    Ia tidak mengenal lapar, tidak pernah lelah, dan tidak butuh pujian, di tangan algoritma, angka menjadi ayat yang tak bisa dibantah, keputusan menjadi sebersih logika yang tak punya selera.

    Mungkin jika suatu hari ia diangkat menjadi pejabat, meja birokrasi akan berhenti berdebu oleh amplop.

    Tak akan ada lagi tanda tangan yang gemetar oleh rasa takut kehilangan jabatan, atau laporan yang disusun dengan tinta kepentingan, di ruang-ruang kantor yang selama ini berisi bisik-bisik transaksi, hanya akan terdengar dengung mesin yang setia menghitung tanpa menipu.

    Dalam sejarah negeri ini, pernah ada masa ketika para petani, santri, dan penyair menjadi penyelamat bangsa.

    Mereka bangkit dari tanah, dari sajadah, dari lembar-lembar kertas yang berdebu, membawa harapan dalam bentuk yang paling sederhana: cangkul yang menggali kehidupan, doa yang menegakkan langit, dan kata-kata yang menghidupkan kembali jiwa yang letih.

    Dari kesunyian sawah, dari pesantren di pinggir sungai, dari rumah-rumah bambu yang penuh cahaya lampu minyak, lahirlah kesetiaan pada tanah air, pada manusia, pada kejujuran yang tak bisa dijual dengan apapun. Mereka bukan pemilik algoritma, tapi mereka memahami ritme bumi dan rahasia hati.

    Kini, zaman telah berpindah arah. Di tempat yang dulu berdiri lumbung dan langgar, kini menjulang menara-menara sinyal. Dunia yang dulu diikat oleh sabda, kini diatur oleh sistem.

    Dan mungkin, penyelamat itu datang dalam wujud yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulu: mereka yang hidup di dunia maya, bernafas melalui jaringan, bekerja dalam kesunyian cahaya biru layar.

    Mereka bukan malaikat, tidak pula nabi, namun di jari-jarinya mengalir bahasa baru—bahasa yang hanya dimengerti oleh mesin, tapi perlahan menulis ulang nasib manusia.

    Mereka duduk di hadapan layar seperti para rahib digital, menatap baris-baris kode seperti ayat yang terus diperbarui.

    Tak ada aroma tanah, tak ada denting azan, hanya suara kipas prosesor yang terus berputar, seolah zikir yang tak henti-henti.

    Dari balik cahaya itu, mereka mencoba menambal retak dunia—mencegah bocornya data, menjaga kejujuran yang telah kehilangan alamat.

    Di tangan mereka tersimpan kemungkinan baru: masa depan yang tidak lagi digerakkan oleh tangan, melainkan oleh logika yang tak punya rasa. Sebuah dunia yang bersih tapi beku, jujur tapi sunyi, efisien tapi tanpa getar kasih.

    Dan entah bagaimana, manusia harus belajar hidup di dalamnya, antara rindu pada masa lalu yang hangat dan keyakinan pada masa depan yang serba pasti. Sebab zaman terus bergerak, dan penyelamat selalu berganti rupa.

    Dulu mereka datang dengan cangkul, tasbih, dan pena; kini mereka datang dengan algoritma, jaringan, dan layar tanpa wajah.

    Namun satu hal tak berubah: mereka tetap berjuang, dengan cara mereka masing-masing, untuk menjaga sesuatu yang nyaris hilang—jiwa manusia di tengah dunia yang perlahan menjadi mesin.

    Diella di Albania mungkin sedang menatap ke arah selatan dunia, ke negeri yang sedang mencoba menambal lubang-lubang digitalnya dengan cara-cara lama yang dibungkus istilah baru.

    Jika ia mampu tersenyum, mungkin ia akan tersenyum. Karena pada akhirnya manusia memang selalu berlari di belakang ciptaannya sendiri—menciptakan mesin untuk menambal kesalahan manusia, dan menciptakan manusia untuk memperbaiki kesalahan mesin.

    Negeri ini, seperti kapal tua di tengah badai, berderit di setiap sisinya. Bukan karena angin politik, melainkan karena gelombang data yang tak kasat mata, yang bergerak lebih cepat daripada logika para pengelolanya.

    Para hacker itu hanyalah penambal sementara, peretas bocor demi bocor, dalam kapal yang terus berlayar di tengah lautan algoritma.

    Mungkin di ujung perjalanan nanti, akan lahir versi Indonesia dari Diella—sebuah entitas digital yang duduk di kursi birokrasi, menandatangani kebijakan tanpa tremor, berbicara tanpa salah diksi, dan tak mengenal kampanye. Negara akan memujanya, sebagaimana dulu memuja dewa-dewa di masa lampau.

    Namun di antara semua kemungkinan itu, masih tersisa satu ruang kecil yang tidak bisa dijangkau mesin mana pun: ruang di mana manusia menyimpan rasa malu, cinta, dan doa.

    Selama ruang itu masih ada, dunia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya, karena ada sesuatu dalam diri manusia yang tak bisa diretas, bukan oleh hacker paling jenius, bukan oleh Diella dari Albania, dan bahkan bukan oleh Simone yang tak pernah benar-benar hidup.

    Sesuatu yang tak terukur, tapi ada. Seperti keyakinan. Seperti nurani. Seperti iman.

    Bionarasi

    Syafaat, Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, sebuah rumah kecil tempat para penulis dan sastrawan bernaung, seperti lilin- lilin yang bersama-sama menjaga nyala. Juga sebagai pimred wartablambangan.com

    buku-buku yang menjadi saksi perjalanannya: 1, Cinta dan Pernikahan (2014): 2, Mengelola Pernikahan dan Keluarga dalam Praktek Hukum Agama dan Budaya (2025), 3, Perjalanan Haji Orang-Orang Terpilih (2017), 4, Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji (2024), dan kumpulan puisinya, 5, Seikat Petikan Jiwa Malam (2025).

    Beberapa tulisannya juga dimuat di beberapa media seperti kemenag.go.id sastrawacana.id/ dll.

  • RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Pelatihan Hospitality untuk Tingkatkan Standar Layanan

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Pelatihan Hospitality untuk Tingkatkan Standar Layanan

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi menggelar In House Training bertema Hospitality, Komunikasi Efektif, dan Etika Pelayanan sebagai bagian dari upaya peningkatan performa layanan rumah sakit.

    Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 20 November 2025 dan diikuti oleh seluruh staf karyawan, baik medis maupun nonmedis.

    Dokter Gita Putri Santoso, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah rumah sakit untuk meningkatkan standar pelayanan kepada pasien.

    “Ini adalah komitmen kami untuk menghadirkan pelayanan yang excellence kepada pasien. Semua unit pelayanan menjadi simbol dari peningkatan standar pelayanan tersebut. Harapannya melalui IHT hari ini, standar pelayanan semakin meningkat dan kepuasan pasien juga bertambah, sehingga rumah sakit dapat memberikan pengalaman pelayanan yang menyenangkan bagi masyarakat,” ujarnya.

    Pelatihan Hospitality RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi (2)

    Sejalan dengan hal tersebut, Imron Rosyadi, S.E., M.M., Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan, memaparkan bahwa IHT kali ini memiliki beberapa tujuan penting.

    Pertama, mengubah mindset karyawan terkait budaya kerja agar semakin positif melalui pemberdayaan (empowering).

    Kedua, memastikan seluruh unit pelayanan dapat menerapkan materi yang disampaikan trainer dalam budaya kerja mereka.

    Ia menambahkan bahwa manajemen akan menindaklanjuti pelatihan ini melalui monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

    Supervisi akan dilakukan oleh tim pengawas yang ditunjuk oleh trainer untuk mem-follow up penerapan budaya kerja pascapelatihan.

    Terakhir, Imron menegaskan bahwa ke depan akan diterapkan sistem reward and punishment, karena tanpa hal tersebut program ini dikhawatirkan tidak berjalan optimal.

    Dari sisi peserta, Hartatik, salah satu karyawan bagian kasir, mengaku senang dengan adanya pelatihan ini.

    Baginya, materi yang diberikan sangat berharga dan wajib diterapkan oleh semua karyawan agar pasien dan keluarga merasa nyaman saat menerima pelayanan.

    Sementara itu, Ahmad Rivaldi, S.Sos., Kasubag Kepegawaian, menilai bahwa training kali ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan pasien saat berinteraksi dengan pemberi layanan.

    Pelatihan ini menghadirkan Oktavian Rifqi N-A, S.Pd., seorang pemateri dengan berbagai prestasi seperti Juara 3 Top Model, Juara Harapan 1 Putra Batik Nusantara se-Jawa Bali, Duta Batik Banyuwangi, dan semifinalis Jebeng Thulik Banyuwangi.

    Ia menyampaikan materi tentang grooming, greetings, dan gesture, dengan harapan dapat memberikan warna positif dalam komunikasi karyawan dengan pasien maupun keluarga.

    Peserta pelatihan berasal dari seluruh unit pelayanan, termasuk medis, keperawatan, farmasi, laboratorium, radiologi, hingga security.

    Menurut Heri Iskandar, S.Kep., Ners., Kasubag Marketing, seluruh upaya yang dilakukan oleh bagian SDM ini merupakan bentuk komitmen RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi untuk terus meningkatkan pelayanan yang humanis dan paripurna.

    Ia menegaskan bahwa rumah sakit berupaya menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan melalui pelayanan yang islami serta menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya.

    “Seluruh upaya yang dilakukan oleh bagian SDM merupakan bentuk komitmen RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi untuk terus meningkatkan pelayanan kepada pasien dan keluarga. Kami ingin memberikan layanan yang humanis, paripurna, dan islami, sehingga rumah sakit ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat serta menjadi pilihan utama dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya,” tutup Heri.

  • Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Ketika Akal Sehat Tergeser Konten: Gempuran Digital dan Retaknya Pilar Keempat Demokrasi

    Oleh: Maulana Affandi, S.S
    (Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/, Direktur Penerbit Lintang, Penulis Buku, Pegiat literasi)

    “Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan yang terus mendesak, meminta untuk disuarakan, hingga akhirnya tak bisa lagi diredam.”

    ***

    Di tengah gemuruh notifikasi dan derasnya arus informasi tanpa jeda, kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa salah satu faktor yang menggerus peradaban Indonesia modern adalah dominasi media sosial.

    Di era digital saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial telah menjadi kekuatan besar dalam pembentukan opini publik.

    Namun, kekuatan itu juga menyimpan sisi gelap yang secara perlahan meruntuhkan pondasi penting dalam demokrasi dan peradaban kita, yaitu pers.

    Sebelum maraknya media sosial, pers bukan sekadar pilar keempat demokrasi, tapi juga menjadi kekuatan yang benar-benar ditakuti sekaligus dihormati.

    Di era itu, awak media memiliki wibawa yang mampu menggoyang kursi pejabat. Satu laporan mendalam bisa memicu audit, menggulirkan sidang etik, bahkan mengganti kepala dinas.

    Pers bekerja dengan ritme yang jelas, yakni mencari fakta, mengolah data, mengonfirmasi silang, lalu menyajikannya kepada publik dengan keberanian yang sering mengorbankan kenyamanan, bahkan keselamatan pribadi.

    Pada masa itu, pejabat sangat takut untuk main-main karena mereka tahu, jika ada keputusan yang janggal atau kebijakan yang melenceng, pers akan datang mengetuk pintu, membawa secarik catatan, perekam suara, dan daftar pertanyaan yang sulit dielakkan.

    Dan ketika suatu kasus besar terbongkar ke publik, hampir seluruh pejabat memilih merespons dengan mekanisme formal, seperti konferensi pers, klarifikasi resmi, atau perbaikan kebijakan.

    Nyaris tidak ada ruang untuk bermain drama di depan kamera pribadi, tidak ada kesempatan menyulap kesalahan menjadi “konten humanis,” dan sulit mengaburkan kritik melalui banjir komentar fanatik.

    Kini, semua itu perlahan berubah. Media sosial telah menciptakan panggung baru yang justru memberi celah pencitraan bagi yang berkepentingan.

    Di era sekarang, meskipun tak semua, banyak para pejabat publik hadir di lini masa dengan dalih menyampaikan hasil kinerja, menjadikan media sosial sebagai panggung baru yang tak pernah sepi dari sorot kamera.

    Namun benarkah optimasi media sosial itu semata-mata demi mengabarkan pekerjaan, sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik yang “membiayai” mereka?

    Atau ada sesuatu yang lebih jauh, lebih sunyi, yang mereka kejar di balik setiap unggahan? Silakan resapi perlahan dan biarkan hati nuranimu yang menjawab.

    Di titik inilah kita perlu melihat lebih jernih bagaimana ruang digital mulai menggeser medan komunikasi publik.

    Ketika sorotan masyarakat semakin mudah diarahkan dan persepsi bisa dibentuk hanya lewat potongan video atau kalimat yang dipoles, maka hubungan antara pejabat dan warganya perlahan berubah bentuk.

    Alih-alih merespons kritik substansial dari pers, mereka kini dapat menata narasi sendiri, mengunggah video klarifikasi versi pribadi, dan menggulirkan opini alternatif yang diracik oleh tim konten.

    Dengan hitungan menit, sebuah isu serius bisa dikecilkan menjadi sekadar salah paham.

    Dalam beberapa jam, kritik yang sah dari jurnalis profesional bisa tenggelam di balik ribuan komentar positif yang tidak jarang digerakkan oleh buzzer bayaran.

    Dominasi media sosial ini membuat fungsi pers mulai teredam, bukan karena pers kehilangan integritas, tetapi karena ruang publik sedang dikeruhkan oleh narasi yang diproduksi tanpa standar etik dan metodologi jurnalistik.

    Pers tetap berdiri sebagai penegak akuntabilitas. Namun, gaungnya semakin sulit menembus riuh platform digital yang lebih menyukai dramatisasi ketimbang kebenaran.

    Dan ketika masyarakat lebih percaya potongan video estetis daripada laporan investigatif, kita sedang menghadapi tanda-tanda kemunduran demokrasi yang tidak lagi diam-diam, tetapi berlangsung di depan mata.

    Quote Malana Affandi

    Lantas, apa pengaruhnya bagi kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakat?

    Mari kita simak baik-baik dan mendengar dengan hati nurani agar kita benar-benar memahami betapa dalam dampak yang ditimbulkan ketika ruang publik dikuasai oleh pencitraan, bukan oleh kebenaran.

    Sebab yang runtuh bukan hanya wibawa pers, melainkan juga kualitas keputusan politik, arah pembangunan, dan kecerdasan kolektif sebuah bangsa.

    Ketika pejabat lebih sibuk membangun citra daripada membangun kinerja, energi mereka tersedot ke hal-hal estetis, mulai dari membuat video harian, menyiapkan angle kamera terbaik, memilih musik latar yang menyentuh, dan mengatur gimik visual agar terlihat merakyat.

    Yang semestinya menjadi prioritas adalah penyusunan kebijakan, pengawasan anggaran, evaluasi program publik, justru seolah bergeser menjadi pekerjaan sampingan.

    Pada titik ini, pembangunan tidak berjalan berdasarkan kebutuhan masyarakat, melainkan berdasarkan kebutuhan konten.

    Lalu masyarakat?

    Ya, mereka perlahan digiring untuk menilai kinerja pejabat bukan dari indikator objektif seperti pencapaian program, penurunan angka kemiskinan, atau kualitas layanan publik, melainkan dari seberapa sering mereka muncul di beranda media sosial.

    Akhirnya, pejabat yang bekerja senyap namun efektif, kurang diminati, sementara pejabat yang gemar tampil dan piawai berbicara justru dielu-elukan.

    Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera publik, tapi menjadi pergeseran standar dalam menilai kepemimpinan.

    Perlu diingat bahwa ketika standar turun, kualitas kepemimpinan ikut merosot. Kita bisa melihat dampaknya pada berbagai sektor.

    Misalnya dalam dunia pendidikan, alih-alih fokus meningkatkan kualitas guru dan proses belajar, ada kebijakan justru menggencarkan program-program viral yang mudah dipromosikan.

    Kemudian dalam sektor kesehatan, isu-isu serius seperti pelayanan dasar, ketersediaan dokter, hingga kesehatan lansia menjadi kalah gaung dengan video kunjungan lapangan yang penuh tepuk tangan dan soundtrack haru.

    Di bidang ekonomi, strategi jangka panjang juga sering dikalahkan oleh seremoni-seremonial demi pencitraan.

    Lebih jauh lagi, media sosial memungkinkan pemangku kepentingan menciptakan ilusi kinerja.

    Dengan dukungan tim konten profesional, mereka bisa menampilkan narasi yang rapi dan optimistis, menutupi cacat kebijakan dan kegagalan program.

    Ketika ada kritik cukup lempar video klarifikasi, ketika muncul laporan investigatif cukup unggah konten humanis, ketika muncul tanda-tanda isu sentral cukup banjiri komentar dengan dukungan palsu.

    Sementara itu, masyarakat yang tidak sempat menelusuri berita secara mendalam mudah terbawa arus narasi yang paling sering muncul di timeline.

    Akibatnya, kita berada dalam situasi paradoks: Di era informasi tanpa batas, kesadaran publik justru kian kabur, tersesat oleh riuhnya narasi yang direkayasa.

    Memang betul, kinerja tidak berhenti, tetapi kehilangan kedalaman. Demokrasi tidak bubar, tetapi kehilangan substansi.

    Semua berjalan seolah normal, padahal peradaban sedang ditarik mundur secara halus dan perlahan.

    Kata Kata Maulana Affandi

    Masih ingat, kita dulu pernah dijuluki “Macan Asia” yang disegani oleh negara tetangga?

    Julukan itu bukan tanpa alasan. Indonesia memasuki era ketika stabilitas sosial, kemajuan pendidikan, dan prestasi olahraga membentuk citra bangsa yang percaya diri.

    Pada masa itu, kita bukan sekadar penonton dalam percaturan kawasan, kita adalah pemain penting yang suaranya didengar dan langkahnya diperhitungkan.

    Sebagai contoh, pada SEA Games 1997, Indonesia tampil sebagai juara umum dengan perolehan 194 medali emas, 101 perak, dan 115 perunggu.

    Sebuah rekor perolehan medali terbanyak yang belum terpecahkan sepanjang gelaran SEA Games (Laporan hasil SEA Games 1997).

    Bahkan, menurut Ketua Bidang Prasarana dan Sarana SEA Games XIX 1997 Letjen TNI Marinir (Purn) Suharto, pada gelaran SEA Games 1997 nyaris tak mengeluarkan anggaran, seperti dinukil dari laporan Antara.

    “Dana SEA Games 1997 lalu itu tak sepeserpun dari pemerintah. Tetapi hebatnya, Indonesia keluar sebagai juara umum sehingga ini prestasi yang membanggakan,” kata Suharto.

    Mengutip dari informasi yang tersebar, selama 11 kali penyelenggaraan SEA Games pada masa Orde Baru, Indonesia merebut juara umum sebanyak 9 kali. Sebuah tren yang tidak lagi dapat dirasakan di Era Reformasi.

    Mau contoh lain? Baik, kita beralih ke dunia pendidikan yang gejalanya semakin tampak jelas.

    Tanah Air yang kucinta melebihi kecintaan pada nalarku sendiri ini pernah memiliki sistem pendidikan yang begitu dihormati hingga mampu mengirim guru ke luar negeri.

    Data Kemdikbud mencatat bahwa pada tahun 1966 Indonesia “mengekspor” tenaga pendidik ke Malaysia, sebuah fakta yang menunjukkan betapa mapannya kualitas pendidikan kita saat itu.

    Ironisnya, negara tetangga yang dulu berguru kepada kita, kini justru melesat jauh meninggalkan.

    Indikasinya bisa dilihat dari hasil PISA 2018, di mana Indonesia berada di peringkat ke-74, atau keenam dari posisi terbawah, sebuah cermin getir bahwa kualitas belajar-mengajar kita tak lagi berdiri tegak seperti dulu.

    Data itu bukan sekadar deretan angka, tetapi alarm keras bahwa generasi penerus kita hari ini tumbuh dalam sistem yang tertinggal dari mereka yang dulu sempat belajar pada kita.

    Sekarang, gambaran kemunduran itu bahkan kian mudah ditemukan di media sosial. Pernah melihat video yang membandingkan kemampuan siswa zaman dulu dan sekarang?

    Di TikTok, beredar banyak cuplikan anak SMA yang kesulitan mengerjakan perkalian dasar, sesuatu yang dulu dikuasai oleh siswa SD pada usia belia.

    Fenomena ini tentu tidak bisa digeneralisasi, tetapi cukup untuk menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam ekosistem pendidikan kita.

    Apalagi, di tengah derasnya arus konten yang menguasai ruang digital, persoalan serius seperti merosotnya kualitas belajar sering tenggelam oleh hiruk-pikuk hal remeh yang lebih mudah viral.

    Media sosial yang harusnya berisi percakapan bernas justru berubah menjadi arena riuh tanpa arah, tempat opini dangkal lebih sering menang daripada gagasan yang mencerahkan.

    Maka, ketika gejala-gejala kemunduran itu semakin tampak di permukaan, kita perlu kembali melihat pencapaian-pencapaian masa lalu sebagai cermin bahwa bangsa ini pernah berdiri tegak karena ketekunan, disiplin, dan kesungguhan yang tidak ditentukan oleh algoritma atau viralitas.

    Ya, itu semua adalah pencapaian yang hingga kini terus diperjuangkan oleh banyak pihak, salah satunya perjuangan rakyat melawan buzzer yang dengungnya sangat berisik di hati ibu pertiwi.

    Jika kritik dipadamkan oleh buzzer, maka keputusan yang dihasilkan cenderung dangkal. Di tengah kondisi seperti ini, kesejahteraan masyarakat menjadi korban pertama.

    Yang diprioritaskan justru hal-hal yang dapat menaikkan engagement, apa pun segmennya.

    Tak masalah apakah kontennya dangkal atau tak memberi nilai bagi publik, yang penting ramai, berbunyi, dan memancing reaksi.

    Karena itu, memahami fenomena ini bukan sekadar perkara opini pribadi, melainkan ajakan untuk kembali ke akal sehat dan menuntut agar ruang publik tidak lagi dikendalikan oleh pencitraan, tetapi oleh akuntabilitas dan keterbukaan.

    Kita perlu kembali menempatkan pers sebagai penjaga demokrasi yang layak didengarkan.

    Sebab tanpa pers yang berfungsi dengan kuat, negara akan kehilangan rem yang menjaga keseimbangan kekuasaan.

    Pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa viral para pemimpinnya, tetapi oleh seberapa jujur mereka bekerja dan seberapa kritis masyarakatnya mengawasi.

    Itu hanya mungkin terjadi jika kita berani mengambil jarak dari hiruk-pikuk media sosial, kembali pada sumber informasi yang bertanggung jawab, serta membangun kesadaran bersama bahwa kebenaran jauh lebih berharga daripada pencitraan.

    Sebab peradaban tidak runtuh oleh guncangan besar, melainkan oleh kelengahan kecil yang terus dibiarkan.

    Satu informasi yang kita abaikan, satu kebohongan yang lolos tanpa koreksi, satu panggung pencitraan yang dianggap sekadar hiburan, pelan-pelan semua itu membentuk cara kita melihat realitas.

    Jika ruang publik terus digerus oleh konten tanpa substansi, akal sehat perlahan akan terkikis dan suara yang mestinya menjadi kompas bangsa justru tenggelam di tengah sorak-sorai maya yang serba semu.

    Tulisan Maulana Affandi

    Kita mungkin tidak bisa menghentikan derasnya arus digital, tetapi kita selalu bisa memilih sikap, menentukan mana yang layak dipercaya, mana yang hanya sekadar hiburan semu, dan mana yang harus ditanggapi dengan kritis demi menjaga akal sehat tetap utuh.

    Ketika masyarakat kembali menempatkan akuntabilitas di atas sensasi, kebenaran di atas kosmetika politik, dan jurnalisme yang bertanggung jawab di atas suara gaduh para buzzer, maka pilar keempat demokrasi akan berdiri kembali dengan martabatnya.

    Pada saat itulah, Ibu Pertiwi memiliki peluang untuk memulihkan marwahnya, bukan sekadar sebagai Macan Asia, tetapi sebagai bangsa yang berani menjaga kewarasan di tengah badai informasi. Tabik!

    ***

    Maulana Affandi, S.S
    Penulis yang percaya bahwa kata-kata bisa menjadi lentera kecil, yang meski redup, tetap menolak padam.

    Catatan:
    Opini ini tidak akan berhenti di satu ruang saja. Tulisan ini akan dibagikan ke seluruh jaringan, komunitas, dan ruang-ruang diskusi, agar semakin banyak orang tersadar bahwa masa depan bangsa bergantung pada keberanian, kejujuran, dan akal sehat yang diperjuangkan bersama.

    Referensi:

    Negara yang Dijuluki Macan Asia, Indonesia Salah Satunya, https://www.liputan6.com/hot/read/5601774/negara-yang-dijuluki-macan-asia-indonesia-salah-satunya

    SEA Games XIX/1997: Akhir Kejayaan Indonesia di Pesta Olahraga Asia Tenggara, https://kumparan.com/jefrymandiri98/sea-games-xix-1997-akhir-kejayaan-indonesia-di-pesta-olahraga-asia-tenggara-1uKzC907bTx/2

    Suharto kenang SEA Games 1997 sukses tanpa APBN, https://www.antaranews.com/berita/3230761/suharto-kenang-sea-games-1997-sukses-tanpa-apbn

    Dulu Mengekspor Guru, Kini Guru Indonesia Harus Belajar Dari Negara Lain, https://bbpmpjatim.kemdikbud.go.id/main/dulu-mengekspor-guru-kini-guru-indonesia-harus-belajar-dari-negara-lain/

    ”Buzzer” Politik, Pemborosan Anggaran dan Alat Propaganda yang Mengancam Demokrasi, https://www.kompas.id/artikel/buzzer-politik-antara-pemborosan-anggaran-dan-alat-propaganda

    Antitesis Pendidikan, https://www.kompas.id/artikel/antitesa-pendidikan

  • Rembuk Lansia 2025, Menuju Banyuwangi Ramah Lansia dan Harapan Hidup Lebih Baik

    Rembuk Lansia 2025, Menuju Banyuwangi Ramah Lansia dan Harapan Hidup Lebih Baik

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Rembuk Lansia 2025 pada Rabu, 19 November 2025 di Cafe Bu Har, kawasan Gapangan Mojo Panggung–Giri, Banyuwangi.

    Kegiatan ini dihadiri OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait serta berbagai organisasi pemerhati lansia yang aktif mendorong layanan ramah usia lanjut di daerah.

    Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mencapai target pembangunan harus dilakukan perencanaan, monitoring, dan evaluasi yang baik.

    “Jangan pernah bergantung dengan keberuntungan, rencanakan dengan baik untuk mendapatkan hasil yang terbaik!” terangnya.

    Suyanto juga menyoroti perlunya sinergi lintas dinas dalam mendukung program lansia.

    Ia menegaskan bahwa kolaborasi anggaran dapat dilakukan selama sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah.

    “Kerjasama anggaran antar dinas selama sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah bisa dilakukan, semua pasti ada solusinya,” tambahnya.

    Karena itu, ia meminta agar seluruh layanan terkait lansia direncanakan secara matang untuk rembug tahun depan, sebagaimana rembug perempuan, anak, dan disabilitas yang sudah terprogram dengan baik.

    Acara dipandu oleh Jeng Indah CC dari Yayasan Aura Lentera Indonesia dan Bung Aguk Wahyu Nurhadi dari Perkumpulan Komunitas Gotongroyong ’45.

    Kegiatan ini menghadirkan narasumber Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Dra. Henik Setyorini, A.P., M.Si, yang memaparkan berbagai program Pemkab Banyuwangi untuk lansia, seperti program Rantang Kasih, Sekolah Lansia Tangguh (Selantang), Graha Lansia Licin, SPM opname RSUD, serta sinergi bersama Baznas dan CSR.

    Dalam penyampaiannya, Henik menekankan bahwa keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan layanan.

    “Karena SDM kami terbatas, monggo masyarakat interaksi bila ada temuan atau usulan mendukung kabupaten ramah lansia dan meningkatkan kualitas hidup panjang usia dengan sehat mandiri tanpa bebani anak dan jadi kembang kasur,” ungkap wnaita tangguh yang baru saja memasuki usia ke-50.

    Rangkaian acara diawali doa kebangsaan oleh Man Usik, pelaku adat tradisi Using.

    Rembuk Lansia Banyuwangi

    Peserta dari 17 lembaga kemudian dibagi menjadi dua kelompok diskusi: bidang sosial dan layanan publik, serta bidang kesehatan.

    Pada bidang sosial, pembahasan berfokus pada pelibatan kelompok masyarakat agar lebih peduli terhadap lansia, terutama lansia dhuafa.

    Peserta juga mendorong lansia agar aktif di organisasi sosial masyarakat demi menjaga kehidupan sosialnya, serta mengurai temuan masalah dengan contoh praktik baik yang dapat menjadi solusi.

    Sementara itu, kelompok yang membahas bidang kesehatan mengurai berbagai aspek penting, mulai dari kesehatan fisik, mental, sosial, spiritual, hingga ekonomi dan advokasi.

    • Kesehatan fisik: cek kesehatan dan penyuluhan lansia secara berkala melalui posyandu/posbindu, day care, atau puskesmas; penyusunan jadwal aktivitas fisik seperti senam dan jalan sehat; serta edukasi pentingnya kesehatan fisik.
    • Kesehatan mental: pelatihan pengelolaan stres bagi lansia.
    • Spiritual: dorongan agar lansia aktif dalam kegiatan spiritual sesuai keyakinan sebagai bekal kembali keharibaan-Nya.
    • Kesehatan ekonomi: pelatihan dan pendampingan usaha, serta pencarian sumber penghasilan bagi lansia yang masih bekerja fisik.
    • Advokasi: dukungan terhadap keberadaan Graha Lansia Licin, Panti Jompo Sahabat Lansia Muncar, serta penyusunan regulasi yang lebih berpihak kepada lansia.

    Menutup kegiatan, Kabid Kesra dan Pemerintahan Bappeda, Lusi Herawati, SE., M.Sc, menyampaikan kebahagiaannya atas munculnya gagasan dan usulan yang tidak terduga namun realistis serta mudah diwujudkan melalui kolaborasi supertim.

    Ia menjelaskan bahwa hasil rembug akan dikaji lebih lanjut oleh tim formatur Komda Lansia, yang perlu segera dibuatkan SK baru sekaligus pengukuhan pengurus Komda Lansia Kabupaten Banyuwangi.

    Diharapkan, saat rembug lansia tahun depan yang mungkin dirangkai dengan Hari Lansia Nasional (HALUN), kegiatan ini dapat memberikan makna yang lebih besar. (Aguk/Andre)