Blog

  • LSF RI Gelar Bimtek e-SiAS di Banyuwangi, Dorong Literasi Sensor dan Produksi Film Berkualitas

    LSF RI Gelar Bimtek e-SiAS di Banyuwangi, Dorong Literasi Sensor dan Produksi Film Berkualitas

    BANYUWANGI — Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) menggelar kegiatan Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film: Bimbingan Teknis Pembuatan Akun e-SiAS bersama para pemangku kepentingan perfilman se-Jawa Timur, Rabu (19/11), di Blambangan Ballroom Lantai 1 Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center.

    Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat paham mengenai penggolongan usia penonton dan kriteria sensor, membantu masyarakat memilih tontonan yang bermutu, serta mendorong para pembuat film memahami pedoman sensor agar menghasilkan karya yang layak dan berkualitas.

    Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si., membuka acara dengan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini di Banyuwangi.

    Menurutnya, hal ini menegaskan bahwa perkembangan perfilman di Banyuwangi cukup pesat.

    Ia menyampaikan bahwa proses produksi film kini lebih mudah berkat teknologi, namun isi film tetap harus memperhatikan aspek hukum dan regulasi.

    “Harapannya dari Banyuwangi muncul film-film yang berkualitas. Apalagi Banyuwangi sudah menjadi lokasi syuting beberapa film nasional karena keindahan alamnya,” ucapnya.

    Sambutan kedua disampaikan oleh Hairus Salim, Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas LSF RI, mewakili Kepala LSF RI.

    Mengawali dengan pantun, ia menekankan pentingnya para pembuat film mendaftarkan karya ke LSF untuk peninjauan resmi.

    Ia mengingatkan bahwa sensor terbaik dimulai dari lingkungan terdekat, mulai keluarga, sekolah, dan komunitas.

    “Dulu, anak yang diam di rumah dianggap anak baik. Sekarang justru perlu diawasi, karena internet menyajikan film dan konten yang tidak semuanya layak,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa bioskop tidak akan menayangkan film tanpa Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).

    Acara kemudian dipandu oleh Drs. Aekanu Haryono, budayawan dan seniman Banyuwangi.

    Materi Pertama: Film untuk Menggerakkan Pariwisata

    Materi pertama disampaikan oleh Ainur Rofiq, S.Sos., M.M., Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

    Dalam paparannya, ia mengatakan secara langsung bahwa Banyuwangi punya potensi yang luar biasa dalam industri perfilman karena keindahan alamnya.

    “Banyuwangi memiliki potensi besar di bidang perfilman. Banyak film yang sudah dan akan diproduksi dengan memanfaatkan keindahan dan kekhasan daerah ini. Film-film itu bukan hanya karya seni, tetapi sekaligus alat promosi yang mampu menggerakkan pariwisata dan pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.”

    Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara sineas dan pemerintah daerah dapat membuka peluang besar bagi pertumbuhan industri kreatif.

    Materi Kedua: Praktik Membuat Akun e-SiAS dan Pemahaman Regulasi

    Memasuki sesi berikutnya, Ketua Subkomisi Penyensoran LSF RI sekaligus praktisi film senior, Hadi Artomo, memberikan materi mengenai regulasi penyensoran, prinsip film yang baik, serta prosedur administratif pendaftaran film.

    Ia memberikan ilmu kepada para peserta bagaimana produksi film yang baik, termasuk dari pemilihan judul, dan bagaimana menulis skenario cerita yang menarik.

    Di tengah pemaparan, ia secara langsung juga mengajarkan peserta cara membuat akun e-SiAS, mulai dari tahap registrasi, pengisian data, hingga cara mengunggah berkas film untuk proses sensor.

    Hadi juga menegaskan bahwa pendaftaran film kini dapat dilakukan melalui direktorat lembaga seni di masing-masing kota untuk memperoleh Tanda Penerimaan Pendaftaran Film (TPPF).

    “Jika ingin syuting di lokasi tertentu, TPPF ini penting sebagai surat pengantar perizinan,” jelasnya.

    Ia mengingatkan bahwa izin lokasi dari masyarakat sekitar wajib dilakukan untuk mencegah sengketa di kemudian hari.

    Diskusi: Aksesibilitas Film bagi Disabilitas

    Dalam sesi diskusi, Safarudin dari Yayasan Aura Lentera menanyakan tentang regulasi agar film dapat diakses oleh penyandang disabilitas, terutama yang memiliki hambatan pendengaran.

    Pertanyaan tersebut disambut baik oleh pihak LSF, yang menyatakan bahwa mereka akan mendorong pengembangan pedoman teknis agar film semakin ramah disabilitas, agar sesuai dengan standar aksesibilitas sehigga memungkinkan semua kalangan menikmati film secara setara.

    Kegiatan ditutup dengan harapan agar insan perfilman di Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, semakin memahami pentingnya sensor, regulasi, dan etika produksi demi lahirnya karya yang aman, bermutu, dan bermanfaat bagi publik.

  • Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar

    Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Sadar
    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita sering kali terjebak dalam pandangan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari angka, ranking, atau nilai rapor semata.

    Padahal, di balik semua itu, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah pendidikan kita benar-benar sudah memanusiakan manusia?

    Hakikat pendidikan sejati sejatinya bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya—yang berpikir, berperasaan, dan berperilaku bijak.

    Pendidikan seharusnya menuntun setiap individu menemukan jati diri, menggali potensi, dan menumbuhkan kesadaran untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.

    Pendidikan harusnya bisa memberikan kesadaran baru tentang nilai-nilai positif serta pemikiran yang mendalam tentang logika etika dan estetika dalam kehidupan.

    Paradigma baru pendidikan menegaskan bahwa peserta didik bukan sekadar alat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan manusia yang memiliki potensi, minat, dan keunikan masing-masing.

    Mereka bukan mesin penghafal teori, tetapi pribadi yang perlu diarahkan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter. Inilah makna pendidikan yang sejati—pendidikan yang membebaskan, bukan membelenggu.

    Ki Hajar Dewantara telah lama menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

    Pandangan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang memberi ruang bagi guru dan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

    Kurikulum ini menuntut pendidikan yang lebih manusiawi, yang memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

    Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 pada dasarnya hadir untuk memperkuat kerangka kurikulum, menambahkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), menyesuaikan struktur dan muatan pembelajaran untuk semua jenjang serta memperkenalkan mata pelajaran pilihan baru seperti “Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI)” secara bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026.

    Terlalu lama proses belajar terjebak pada rutinitas hafalan, sehingga lupa membuat siswa benar-benar memahami, bertanya, dan tumbuh sebagai manusia. Kerangka 8-3-3-4¹ mendorong sekolah membentuk profil lulusan yang utuh—cerdas, berkarakter, sehat, komunikatif, mandiri, dan kritis.

    Prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan mengajak kita membangun suasana belajar yang hidup, yang tidak berhenti di kelas, tetapi menyentuh hati, pengalaman, dan pola pikir siswa.

    Perubahan ini sesungguhnya bukan beban, tetapi kesempatan bagi sekolah dan guru untuk berkembang bersama.

    Deep learning membuka ruang bagi pendidik untuk mencoba pendekatan baru yang lebih kreatif, memperkuat kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai jembatan untuk memperkaya pengalaman belajar.

    Lingkungan belajar—baik fisik maupun digital—dapat dibentuk menjadi ruang yang aman dan memerdekakan.

    Saat praktik pedagogis diperbarui, kemitraan diperkuat, dan refleksi menjadi budaya, kebijakan ini berubah dari sekadar aturan menjadi momentum penting menuju transformasi pendidikan yang lebih manusiawi.

    Pendekatan ini juga menuntun siswa untuk tidak hanya menghafal, tetapi sungguh memahami konsep, merenungkan maknanya, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Guru pun berperan sebagai pendamping yang menuntun siswa menemukan jawabannya sendiri.

    Di era digital, kemampuan ini menjadi semakin penting, terutama ketika siswa berhadapan dengan pembelajaran koding, teknologi, dan kecerdasan buatan yang menuntut ketelitian, kreativitas, dan adaptasi cepat terhadap perubahan.

    Namun, transformasi pendidikan tidak akan menyentuh maknanya yang paling dasar tanpa nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam keseharian sekolah.

    Menghargai keberagaman siswa, mengakui potensi setiap individu, memberi ruang kebebasan berpikir dan berkarya, serta menilai proses sama pentingnya dengan hasil adalah fondasi yang harus diperkuat.

    Relasi empatik antara guru dan siswa, serta penanaman nilai seperti empati, tanggung jawab, dan kejujuran, menjadi roh dari pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Di sinilah inti perubahan: mengembalikan sekolah sebagai ruang tumbuh, ruang aman, dan ruang yang memberi harapan bagi masa depan setiap anak.

    Pendidikan sejati bukanlah yang membuat anak takut salah, tetapi yang memberi mereka keberanian untuk mencoba, berpikir, dan berbuat baik. Kita tidak sedang mencetak robot yang patuh, tetapi manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak dengan hati nurani.

    Kini saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Tujuan utama pendidikan bukan sekadar melahirkan generasi berprestasi akademik, melainkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berintegritas.

    Pendidikan yang memerdekakan akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

    Karena sejatinya, pendidikan yang baik bukan tentang berapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar pengetahuan itu mampu mengubah dirinya dan memberi manfaat bagi orang lain. Dari sinilah, manusia belajar menjadi manusia seutuhnya.

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Jurnalis Sastrawacana.

    Catatan Kaki
    ¹ Kerangka 8-3-3-4 terdiri dari:
    8 Dimensi Profil Lulusan:
    Keimanan dan Ketakwaan Kepada Tuhan YME; Kewargaan; Kreativitas; Penalaran Kritis; Kolaboratif; Kemandirian; Kesehatan; Komunikasi.
    3 Prinsip Pembelajaran:
    Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga.
    3 Pengalaman Belajar:
    Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi.
    4 Kerangka Pembelajaran:
    Praktik Pedagogis; Kemitraan Pembelajaran (guru, orang tua, komunitas); Lingkungan Belajar (fisik dan digital); Pemanfaatan teknologi digital (Zoom Meeting, Cloud, Gmeet, dll).

  • Lomba Cipta Baca Puisi dan Menulis Cerpen DWP Banyuwangi 2025

    Lomba Cipta Baca Puisi dan Menulis Cerpen DWP Banyuwangi 2025

    Dalam rangka HUT Dharma Wanita Persatuan ke 26, DWP Kabupaten Banyuwangi menggelar Lomba Cipta Baca Puisi dan Menulis cerpen dengan tema: “Peran Strategis Dharma Wanita Persatuan dalam Pendidikan Anak Bangsa untuk Indonesia Emas 2045″

    Syarat dan Ketentuan Lomba Cipta Baca Puisi

    • Lomba khusus untuk anggota DWP SMAN, SMKN, dan SLBN Kabupaten Banyuwangi.
    • Peserta menulis puisi karya sendiri, original, tidak plagiat, dan sesuai tema.
    • Penampilan lomba baca puisi pada 13 Desember 2025, dimulai pukul 08.00 WIB di SMKN 1 Glagah Banyuwangi.
    • Peserta membawa salinan puisi untuk diserahkan ke dewan juri saat penampilan.
    • Penampilan baca puisi maksimal 7 menit, tanpa pengeras suara, tidak diperkenankan mengeluarkan aksi teatrikal puisi yang berlebihan, misalnya: begulung-gulung di lantai, melompat, berlari, dsb.
    • Peserta tidak diperkenankan menggunakan iringan musik dan atau property yang terindikasi sebagai senjata tajam.
    • Kriteria Penilaian: Pemilihan Diksi, Kedalaman Makna, dan Penampilan.
    • Juara lomba diambil dari juara 1, 2, 3, harapan 1, harapan 2, harapan 3.
    • Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

    Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Cerpen

    • Lomba khusus untuk anggota DWP SMAN, SMKN, dan SLBN Kabupaten Banyuwangi
    • Menulis cerpen karya sendiri, tidak plagiat, tidak menggunakan AI, dan sesuai tema.
    • Panjang cerpen minimal 1000 kata, maksimal 3000 kata.
    • Pengiriman karya mulai terakhir tanggal 4 Desember 2025.
    • Cerpen dikumpulkan melalui link yang telah disediakan atau klik disini.
    • Kriteria penilaian: struktur dan isi cerita (tema, alur, perwatakan, latar), keindahan bahasa (diksi, gaya bahasa, keefektifan kalimat), aspek teknis (tata bahasa, ejaan, tanda baca, kerapian tulisan).
    • Juara lomba diambil dari juara 1, 2, 3, harapan 1, harapan 2, harapan 3.
    • Juara diumumkan pada tanggal 6 Desember 2025, di SMKN 1 Glagah Banyuwangi.
    • Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

    Hadiah

    Masing-masing juara (juara 1 sampai harapan 3) akan mendapatkan:

    • Thropy
    • Sertifikat
    • Hadiah berupa barang

    Informasi

    081332162448 (Indah Utami)

    Dewan Juri

    • Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E
    • Andi Budi Setiawan, S.Pd
    • Maulana Affandi, S.S
  • SMK PGRI Rogojampi Resmi Bentuk PC Khusus PGRI, Langkah Baru Penguatan Organisasi Guru

    SMK PGRI Rogojampi Resmi Bentuk PC Khusus PGRI, Langkah Baru Penguatan Organisasi Guru

    SMK PGRI Rogojampi resmi menggelar Konferensi Pengurus Cabang Khusus (PC Khusus) PGRI di aula baru Sasana Pro, pada Sabtu (15/11).

    Acara ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar SMK PGRI Rogojampi, karena untuk pertama kalinya lembaga ini membentuk PC Khusus PGRI secara mandiri.

    Konferensi berlangsung dalam suasana hangat, tertib, serta mencerminkan komitmen kuat untuk memperkuat organisasi profesi guru di tingkat sekolah.

    Konferensi PC Khusus PGRI Rogojampi turut dihadiri oleh Ketua PGRI Banyuwangi, Sudarman, S.Pd., M.Si., beserta perwakilan dari PC PGRI Rogojampi.

    Kehadiran para tokoh tersebut memberikan dukungan moral sekaligus penguatan regulasi terhadap rencana pembentukan PC Khusus di SMK PGRI Rogojampi.

    Dalam sambutannya, Sudarman menjelaskan bahwa salah satu syarat pembentukan PC Khusus PGRI adalah adanya minimal 20 anggota aktif di satu instansi atau lembaga pendidikan.

    Sementara itu, SMK PGRI Rogojampi menunjukkan kesiapan yang sangat baik dengan jumlah anggota lebih dari 70 orang.

    Konferensi Pengurus Cabang Khusus PGRI di SMK PGRI Rogojampi

    Jumlah tersebut tidak hanya memenuhi aturan, tetapi juga menunjukkan antusiasme besar para guru dan karyawan untuk terlibat aktif dalam organisasi.

    Lebih lanjut, Sudarman menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan para pendidik di SMK PGRI Rogojampi.

    “Keberhasilan penyelenggaraan konferensi ini merupakan buah dari komunikasi dan koordinasi yang intens antara Ketua PC PGRI Rogojampi dengan perwakilan calon pengurus PC Khusus di sekolah,” terangnya.

    Sinergi yang terbangun ini diharapkan dapat menjadi landasan kuat dalam memperkokoh peran PGRI sebagai wadah profesionalitas dan kesejahteraan guru di wilayah Rogojampi.

    Dalam proses konferensi, seluruh peserta melalui rangkaian sidang pemilihan sesuai tata tertib yang berlaku.

    Pada akhir sidang, forum secara mufakat menetapkan H. Danang Bagiono, S.Si. sebagai Ketua PC Khusus PGRI Rogojampi periode 2025–2030.

    Selain itu, konferensi juga menetapkan empat pengurus harian serta menunjuk 14 koordinator bidang yang akan mengelola berbagai program, mulai dari peningkatan mutu profesi, advokasi, organisasi, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

    Sebagai ketua terpilih sekaligus Kepala SMK PGRI Rogojampi, H. Danang Bagiono, S.Si dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas amanah yang diberikan.

    Ia menekankan bahwa keberadaan PC Khusus PGRI di sekolah bukan hanya sebagai pelengkap struktur organisasi, tetapi sebagai wadah bagi guru untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan menguatkan kompetensi dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

    “PC Khusus ini adalah ruang bagi guru untuk tumbuh bersama. Kita tidak hanya bekerja, tetapi saling menguatkan agar mampu menjawab tuntutan pendidikan yang semakin kompleks,” ujarnya.

    Ia berharap seluruh pengurus yang berjumlah 19 orang dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, loyalitas, dan komitmen tinggi demi kemajuan PGRI di wilayah Rogojampi.

    Lebih jauh, Danang menekankan pentingnya kolaborasi antarpengurus. Menurutnya, organisasi yang besar membutuhkan kerja sama yang solid dan komunikasi yang baik.

    “Tidak ada program besar yang bisa berhasil tanpa kolaborasi. Kita harus solid, transparan, dan saling mendukung, karena itulah kunci kekuatan sebuah organisasi guru,” tandasnya.

    Lima tahun masa bakti ke depan akan menjadi periode yang penuh tantangan, di mana PGRI dituntut mampu menjawab berbagai isu profesionalitas guru, kurikulum, hingga peningkatan kualitas pembelajaran.

    Dengan semangat solidaritas yang tinggi, para pengurus PC Khusus PGRI Rogojampi menyatakan komitmennya untuk menjalankan tugas seoptimal mungkin.

    Mereka siap bersinergi, berinovasi, serta menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi guru dan sekolah.

    Konferensi ini tidak hanya menjadi awal perjalanan organisasi baru, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan baru bagi para pendidik di SMK PGRI Rogojampi.

  • Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Oleh: Amalia Salsa Sabila
    (Mahasiswi Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di Banyuwangi)

    Ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 saat ritual salat Jumat, membuka mata banyak pihak akan urgensi membangun sistem dukungan kesehatan mental di sekolah yang nyata, bukan sekadar formalitas.

    Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan fisik, tetapi cerminan ketidakstabilan sosial dan psikologis yang telah lama mengendap di kalangan siswa.

    Ketika lingkungan belajar berubah menjadi tempat yang dipenuhi rasa takut. Ada masalah mendasar terkait cara sekolah memahami, mengidentifikasi, dan menangani tanda-tanda gangguan emosional serta perlakuan yang diterima siswa setiap hari.

    Menurut pernyataan dari Kepolisian Daerah Metro Jaya dan saksi di lokasi kejadian, salah satu siswa yang diduga sebagai pelaku telah menahan gejolak batinnya terlalu lama.

    Dia sering mengekspresikan perasaannya melalui media nonverbal seperti tulisan, gambar, dan bahkan ekspresi wajah sehari-hari, tetapi gagal mendapatkan respons yang tepat dari lingkungan sekolah (Kombes i Hermanto, tvOneNews, 10 November 2025; Wikipedia SMAN 72).

    Kasus ini memperkuat pendapat bahwa pendekatan preventif melalui konseling, komunikasi terbuka, dan pembentukan karakter harus menjadi inti sistem pendidikan, bukan sekadar tambahan dalam kurikulum.

    Konselor bimbingan, dengan segala tantangan pekerjaan mereka, harus hadir di tengah dinamika siswa dengan empati, bukan menunggu laporan administratif atau bahkan terjebak dalam praktik perundungan internal.

    Sekolah perlu menyadari bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, tekanan, dan mekanisme penyesuaian yang berbeda.

    Sistem konseling yang efektif adalah sistem di mana guru benar-benar mengenali perubahan sikap, perilaku, dan tingkah laku, serta menciptakan ruang aman bagi siswa yang merasa terancam atau tidak nyaman, terutama mereka yang menghadapi stigma sosial atau perundungan (Sela, ANTARA News, 7 November 2025; DetikNews, CCTV SMAN 72).

    Sama pentingnya, keluarga juga harus menjadi sistem dukungan utama yang dapat memberikan landasan stabil di tengah tekanan kehidupan sekolah.

    Orang tua saat ini diharuskan memahami perubahan perilaku anak-anak mereka sejak dini, bukan hanya ketika masalah akut muncul. Komunikasi dua arah antara anak dan orang tua merupakan kunci untuk mencegah anak mencari “solusi” di luar saluran yang sehat.

    Pendidikan karakter dan dukungan psikososial, jika diterapkan secara konsisten, akan mencegah siswa merasa sendirian atau terpaksa “bertahan” dalam ekosistem pendidikan tanpa bimbingan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Siaran Pers, 9 November 2025; BBC Indonesia).

    Tragedi di SMAN 72 juga memaksa kita untuk mengevaluasi peran semua pihak: mulai dari kepala sekolah, guru, staf, hingga lingkungan sekitar, dalam memutus rantai perundungan dan berbagai bentuk intimidasi yang disamarkan sebagai disiplin.

    Insiden yang menewaskan lebih dari 90 korban terluka ini membuktikan bahwa masalah psikologis tidak boleh diremehkan.

    Sekolah harus mengembangkan SOP untuk deteksi dini perilaku berisiko, mengintegrasikan skrining emosional ke dalam program harian, dan selalu berkolaborasi dengan psikolog profesional.

    Kemitraan antara sekolah dan keluarga tidak boleh sekadar formal, tetapi aktif dan memiliki program konkret yang bertujuan menciptakan ruang yang aman dan nyaman, bukan sekadar slogan.

    Maka kampanye anti bullying sejak dini perlu digalakkan yang lebih humanis dan empiris. Juga kesetaraan atas mungkin perbedaan fisik, keyakinan dan suku untuk suasana yang nyaman, aman dan harmoni penuh toleransi.

  • Film Horor Darma Malam Kelahiranku Wujudkan Geliat Sineas Muda Banyuwangi

    Film Horor Darma Malam Kelahiranku Wujudkan Geliat Sineas Muda Banyuwangi

    Industri film Banyuwangi kembali bergeliat dengan hadirnya karya baru dari komunitas anak muda Kresek Entertainment asal Kecamatan Srono, yang merilis sebuah film horor berjudul “Darma Malam Kelahiranku”.

    Film karya Muftiurrahman ini diangkat dari kepercayaan lokal masyarakat Jawa dengan premis cerita akan terjadi tragedi saat tradisi keluarga dilanggar.

    Screening perdana film tersebut digelar di Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pada Jumat (14/11).

    Acara tersebut dibuka oleh Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofiq, yang juga bertindak sebagai moderator diskusi.

    Pemutaran ini dihadiri oleh sineas senior Banyuwangi, Bambang Harjito, serta berbagai perwakilan kelompok pemerhati film di Banyuwangi.

    Angkat Kultur ‘Pamali’ Weton

    Film Horor Darma Malam Kelahiranku

    Film “Darma Malam Kelahiranku” berangkat dari kultur masyarakat yang meyakini bahwa bepergian pada hari kelahiran atau weton adalah pamali (tabu) dan dapat mendatangkan malapetaka.

    Disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Jawa, film ini mengisahkan petualangan empat remaja, yaitu Darma dan ketiga kawannya.

    Mereka memutuskan untuk mendaki gunung. Di tengah hutan, mereka bertemu dengan kuncen yang memperingatkan agar mereka pulang.

    Namun, Darma dan kawannya mengabaikan nasihat tersebut dan memilih melanjutkan perjalanan.

    Keputusan itulah yang membawa mereka pada serangkaian peristiwa mistis yang memakan korban jiwa, termasuk Darma sendiri, yang tewas tepat pada hari dan weton kelahirannya.

    Tanggapan dan Evaluasi Membangun

    Film yang diproduksi oleh anak muda ini menuai apresiasi dan kritik yang membangun.

    Secara umum, para pemerhati film yang hadir menilai film ini memiliki kualitas yang sangat baik untuk sebuah karya anak muda, khususnya dalam hal sinematografi dan manajemen adegan.

    “Untuk ukuran karya anak muda, hasilnya sudah luar biasa. Aspek visual dan pengaturan scene di beberapa adegan sudah tertata dengan baik,” ujar Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45 dalam diskusi tersebut.

    Di sisi lain, beberapa kritikan juga mengemuka, seperti adegan dinilai masih kurang natural, terutama dari intonasi dialog para pemain yang dianggap masih terdengar seperti membaca naskah teater.

    Aspek makeup dan kostum juga dinilai masih perlu banyak penyempurnaan. Selain itu, terdapat ketidaktepatan dalam pemilihan kandidat atau casting untuk beberapa peran.

    Menurut Bambang Harjito, produser perlu memahami arti Based on True Story dan Based on Culture, karena ketika mencantumkan kalimat Based on True Story, berarti film ini dibuat dari kisah yang betul-betul pernah tejadi peristiwanya.

    Sedangkan jika hanya berdasarkan dari sebuah kepercayaan yang ada pada kultur budaya masyarakat setempat sebaiknya jangan mencantumkan “Based on True Sory” dalam cover filmnya, tetapi yang tepat adalah “Based on Culture”.

    Kehadiran film “Darma Malam Kelahiranku” dinilai sebagai angin segar bagi industri kreatif lokal Banyuwangi.

    Karya ini tidak hanya menjadi media ekspresi bagi sineas muda, tetapi juga upaya pelestarian budaya lokal melalui bahasa dan kepercayaan yang diangkat ke dalam medium film.

  • Pelukan Cinta Keluarga dan Sambutan Hangat Guru serta Relawan Dukung Kesetaraan Disabilitas

    Pelukan Cinta Keluarga dan Sambutan Hangat Guru serta Relawan Dukung Kesetaraan Disabilitas

    Program Awareness Raising yang digagas oleh Building Effective Network (BEN) bekerja sama dengan Aura Lentera dan Rumah Literasi Indonesia, berlangsung hangat dan penuh makna pada Jumat (14/11) di aula SLB dekat GOR dan LPP Blambangan FM.

    Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara penyandang disabilitas, pendamping, orangtua, guru, aktivis literasi, serta para pemerhati inklusivitas di Banyuwangi.

    Acara diawali dengan pembukaan oleh NS Tunggul Harwanto, M.Kes., Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi.

    Dalam paparannya, Tunggul memperkenalkan tujuan utama program BEN, yakni membangun jaringan kolaborasi yang efektif antar komunitas dan lembaga yang bergerak dalam isu disabilitas.

    Tunggul menegaskan bahwa keberadaan ruang seperti ini sangat dibutuhkan bagi para penyandang disabilitas di Banyuwangi.

    “Kami berharap kegiatan ini bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah bagi teman-teman disabilitas untuk terus berkarya, menunjukkan kemampuan, dan menginspirasi masyarakat luas. Mereka punya potensi besar, dan kita, sebagai masyarakat, harus menjadi lingkaran dukungan yang kuat,” ujarnya.

    Indah Caturningtyas

    Sedang Indah Catur Cahyaningtyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI) sebagai moderator mengungkapkan jika kesadaran publik tentang hak-hak disabilitas masih perlu diperkuat.

    Sehingga edukasi dan jejaring kolaboratif menjadi kunci penting yang ingin ditegakkan melalui program BEN. Oleh karnanya, butuh intervensi pemerintah dan uluran hati untuk pemberdayaan lainnya.

    Materi pertama disampaikan oleh Masfufah M. Pd dari Perkins Internasional, yang memaparkan gambaran umum tentang isu disabilitas di Banyuwangi serta pentingnya pendekatan humanis dan inklusi dalam proses pendampingan maupun sarpras serta kebijakan publik.

    Kepala Sekolah ini juga menjelaskan bagaimana lembaga dan komunitas dapat berperan menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan ramah bagi disabilitas.

    “Kita perlu memastikan setiap penyandang disabilitas merasakan bahwa mereka diterima. Inklusivitas bukan hanya slogan, tetapi tindakan nyata dalam memperlakukan mereka sebagai individu yang setara,” tegasnya penuh kelembutan.

    Ia menekankan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

    “Setiap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama karena semua manusia itu setara. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana masyarakat mampu menyediakan ruang yang inklusif,” ujar Masfufah.

    Awareness Raising Building Effective Network dan Aura Lentera

    Ia menambahkan bahwa mewujudkan inklusi adalah tanggung jawab bersama, yang dimulai dari cinta keluarga, diteruskan dengan penerimaan di komunitas maupun di sekolah, demi Indonesia yang benar-benar setara.

    Masfufah yang lebih akrab disapa Ufa, melanjutkan materinya dengan menjelaskan konsep CBR (Community-Based Rehabilitation) atau rehabilitasi berbasis komunitas.

    Ia memaparkan bahwa CBR merupakan strategi pengembangan masyarakat yang menggabungkan rehabilitasi, pemberdayaan, dan pembangunan relasi sosial.

    Menurut Ufa, CBR berfungsi untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas, memberdayakan mereka untuk terlibat dalam kehidupan sosial maupun ekonomi, dan menciptakan hubungan harmonis antara disabilitas dan lingkungan sekitarnya.

    Menutup materinya, Ufa memberikan pesan menyentuh kepada orang tua dan pendamping.

    “Menjadi orang tua dari anak disabilitas itu bukan pilihan. Tetapi memutuskan untuk mendampingi dan menjadi guru bagi mereka adalah pilihan penuh cinta dan keteguhan. Di situlah kekuatan sejati sebuah keluarga,” tutupnya.

    Dari puluhan peserta yang hadir, ada satu yang menarik perhatian, yakni Arsy, penyandang daksa dari Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi. Arsy hadir bersama ibunya yang mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini.

    Arsy disabilitas kedaleman

    Ia menyampaikan rasa terima kasih karena memperoleh wawasan baru serta kesempatan berkonsultasi langsung dengan para pegiat disabilitas di Banyuwangi.

    “Kami bersyukur bisa hadir di sini. Banyak ilmu baru yang kami dapat, dan bisa bertanya langsung pada ahlinya tentang pendampingan anak kami,” ujarnya.

    Arsy, yang kini duduk di kelas 2 MI Kedaleman, dikenal berprestasi. Ia bahkan berhasil meraih peringkat satu di kelas, sehingga kisahnya menjadi inspirasi bagi peserta lain.

    Pada sesi akhir, peserta mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi bersama Isti, Tim konsultan Program BEN Indonesia.

    Sesi ini menjadi salah satu bagian paling interaktif karena menjawab kebutuhan-kebutuhan konkret yang sering dialami penyandang disabilitas dan orang tuanya.

    Dalam sesi konsultasi, Isti memberikan sejumlah arahan teknis maupun psikologis yang sangat membantu para peserta.

    Ia menjelaskan pentingnya strategi pendampingan emosional di rumah agar anak merasa aman dan dihargai.

    Selain itu, ia memaparkan cara menstimulasi kemampuan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya, sehingga orang tua dapat mendukung pertumbuhan mereka secara tepat.

    Isti juga menekankan perlunya membangun komunikasi yang efektif antara orang tua, guru, dan komunitas sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak disabilitas.

    Konsulting disabilitas

    Tidak hanya itu, ia turut membahas cara meningkatkan kepercayaan diri anak serta langkah-langkah memetakan minat dan bakat mereka agar dapat diarahkan menuju potensi terbaiknya.

    Dengan penjelasan menyeluruh tersebut, peserta merasa lebih memahami bagaimana memberikan pendampingan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

    Lebih istimewa lagi, kegiatan yang digelar pada hari Jumat dan turut disambut hujan yang menyejukkan ini juga dihadiri oleh pihak donor dari NLR Liliane Fonds serta konsultan, Maman Sutarman.

    Sebelum kegiatan Awareness Raising, Maman beserta tim juga telah melakukan FGD dengan PJ Kusta dari Puskesmas Sobo dan Kertosari untuk menggali sejauh apa kondisi OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) maupun pelayanan untuk penderita kusta yang masih menjalani pengobatan.

    Kegiatan Awareness Raising ini diharapkan dapat memperkuat gerakan inklusif di Banyuwangi dan mendorong masyarakat melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang mampu berkarya dan memberikan kontribusi nyata.

  • RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah ke-47, Wujud Kepedulian Nyata untuk Sesama

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah ke-47, Wujud Kepedulian Nyata untuk Sesama

    Dalam semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi kembali menggelar kegiatan donor darah ke-47, bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Banyuwangi, pada Kamis, (13/11).

    Kegiatan sosial yang telah menjadi agenda rutin setiap tiga bulan sekali ini berlangsung di aula RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.

    Suasana terlihat ramai dan penuh antusiasme, baik dari para pendonor tetap maupun masyarakat umum yang baru pertama kali ikut berdonor.

    Kegiatan Donor Darah di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi

    Ketua tim pelaksana dari UDD PMI Banyuwangi, Amirir Rosadi, A.Md.Kep, menjelaskan bahwa kegiatan donor kali ini melibatkan lima orang petugas medis dari tim mobile unit PMI.

    “Kami menyiapkan 70 kantong darah untuk kegiatan donor di Rogojampi kali ini. Alhamdulillah, hingga acara selesai, kami berhasil mengumpulkan 40 kantong darah, sementara ada 9 pendonor yang belum memenuhi syarat karena alasan medis,” ujarnya.

    Dari data tim medis, sembilan orang tersebut dinyatakan tidak lolos karena beberapa faktor: satu orang mengalami tekanan darah tinggi, tiga orang tekanan darah rendah, dua orang baru saja minum obat, dan tiga orang memiliki kadar hemoglobin rendah.

    Meski demikian, Amirir mengapresiasi semangat para pendonor yang datang dengan antusias, bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi pendonor rutin sejak kegiatan pertama kali digelar.

    “Antusiasme masyarakat sangat tinggi, dan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik. Saat ini stok darah, khususnya golongan O, mulai menipis. Kami berharap masyarakat lebih termotivasi untuk mendonorkan darahnya. Setetes darah sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” jelas Amirir.

    Selain tenaga medis dari PMI, kegiatan donor darah ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak rumah sakit.

    Heri Boani Endang Handayani, selaku koordinator pelaksana dari RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, menyebutkan bahwa kegiatan “Rogojampi Berdonor” selalu mendapat sambutan positif dari masyarakat.

    Donor Darah di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi

    “Peserta donor darah kali ini cukup variatif. Ada dari instansi pemerintah, para guru, karyawan swasta, pedagang, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Semua datang dengan semangat yang sama: ingin membantu sesama,” ujarnya.

    Menurut Handayani, kegiatan donor darah rutin di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi sudah menjadi agenda yang dinantikan oleh banyak pendonor.

    Selain karena lokasi yang strategis dan dekat dengan tempat kerja mereka, pelayanan petugas yang ramah dan profesional juga menjadi alasan utama tingginya partisipasi masyarakat.

    “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, mulai dari tenaga medis, pengurus PMI Banyuwangi, hingga masyarakat. Kegiatan sosial ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian bisa diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti mendonorkan darah,” tambahnya.

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi berkomitmen untuk terus menjaga keberlanjutan kegiatan donor darah ini.

    Melalui kerja sama yang baik dengan UDD PMI Banyuwangi, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan darah di Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berbagi dan menolong sesama.

    Dengan semangat “Satu Tetes Darah untuk Kehidupan”, kegiatan Rogojampi Berdonor ke-47 ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan kemanusiaan.

    “Semoga kegiatan donor darah ini terus istiqomah dan ke depannya mampu menghasilkan lebih banyak kantong darah setiap pelaksanaan. Setiap tetes darah yang disumbangkan adalah kehidupan baru bagi orang lain,” pungkas Handayani.

  • Menjalin Silaturahmi Spiritualitas, Romo Tjahja Kunjungi Sanggar Perwathin Surabaya

    Menjalin Silaturahmi Spiritualitas, Romo Tjahja Kunjungi Sanggar Perwathin Surabaya

    Pendiri yang juga sesepuh Komunitas Spiritual Kawruh Budi Wijayanti, Romo Tjahja Tribinuka, Minggu (09/11/2025), berkunjung ke Sanggar Penerangan di Jalan Serayu Surabaya.

    Sanggar Penerangan adalah salah satu tempat berkumpul dan beraktivitas anggota
    Persatuan Warga Theosofi Indonesia (Perwathin).

    Ada 16 Sanggar Perwathin di Pulau Jawa, antara lain: Sanggar Penerangan Surabaya, Sanggar Penataran Blitar, Sanggar Wishnu Malang, Sanggar Shanti Malang, Sanggar Sala Surakarta, Sanggar Wjaya Kusuma Semarang, Sanggar Dharma Yogyakarta, Sanggar Adiwerna Tegal, Sanggar Mangir Bantul, Sanggar Dewaruci Kudus, Sanggar Sophia Bandung, Sanggar Bogor di Bogor, Sanggar Saraswati Jakarta, Sanggar Blavatsky Jakarta, Sanggar Luxor Jakarta dan Sanggar Cetho Karanganyar.

    Keberadaan warga Theosofi di suatu kota memang ditandai dengan adanya sanggar, tempat berkumpul bersama secara periodik.

    Perwathin AHU 2023, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025) menggelar Kongres ke-62 di Hotel Cakra, Pasar Kliwon, Kauman, Solo. Kongres diikuti 13 dari 16 pengurus Sanggar Theosofi.

    Dalam Kongres ke-62 di Solo, dari 15 sanggar, 9 pengurus hadir langsung, sedangkan yang mengirimkan wakil dengan surat mandat pengurus sanggar ada 4 orang. Total ada 13 sanggar yang hadir.

    Ketua Perwathin AHU 2023, dr. Dany Syumanjaya menjelaskan, berdasarkan jumlah kehadiran pengurus sanggar, Kongres ke-62 diikuti 86 persen pemilik hak suara.

    “Dengan demikian semua keputusan yang diambil dalam kongres ini sah. Karena peserta kongres memenuhi kourum,” katanya.

    Meskipun keberadaan warga Theosofi di suatu kota ditandai dengan adanya sanggar, banyak anggota Theosofi yang tinggal di kota yang tidak ada sanggarnya.

    “Warga Theosofi itu ada di mana-mana, hampir di seluruh kota besar di Indonesia ada anggotanya. Ada juga organisasi Theosofi tingkat internasional di beberapa negara di dunia,” tutur Hernowo Adiwarna, warga Theosofi asal Bogor, yang menerima kunjungan Romo Tjahja Tribinuka di Sanggar Penerangan.

    Romo Tjahja datang ke markas Theosofi Surabaya bersama Ibu Ragil, Ketua Ajaran Kawruh Budi Wijayanti, Kakung Yatmin, Kakung Tris dan Kangmas Ari.

    Hernowo juga mengungkapkan hasil Kongres Perwathin di Solo tahun 2025.

    Kongres ke-62 Perwathin di Solo antara lain menyepakati perubahan Anggaran Dasar Perwathin, perubahan status kepengurusan beberapa sanggar di tahun 2025, pelantikan pengurus Sanggar Cetho Karanganyar dan pemberian mandat kepada pengurus Perwathin AHU 2023 untuk mengatasi masalah hukum di pengadilan mana pun di Indonesia.

    Organisasi tua

    Organisasi Theosofi didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky bersama Henry Steel Olcott pada tahun 1875 di New York, Amerika Serikat. Nama organisasi awalnya Theosopichal Society atau Perkumpulan Theosofi.

    Tujuan berdirinya Perkumpulan Theosofi adalah mempelajari ajaran spiritual dari berbagai agama dan budaya serta memahami hukum-hukum alam semesta.

    “Jadi tidak usah kaget kalau anggota Theosofi berasal dari penganut agama apapun. Di Theosofi kita tidak bicara agama, melainkan bicara soal manusia dan kemanusiaan,” tambah Hernowo.

    Pendiri Theosofi Madame Blavatsky dikenal sebagai seorang spiritualis dan penganut okultisme.

    Sedangkan Olcott yang seorang pengacara dan jurnalis membantu Blavatsky menyebarkan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia. Theosofi kemudian berkembang di Amerika Serikat, Eropa serta Asia.

    Blavatsky sendiri punya perhatian khusus terhadap aktivitas spiritual dan budaya di Indonesia. Itu sebabnya ia sempat datang langsung ke Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia sebanyak dua kali.

    Itu pula sebabnya banyak berdiri Sanggar Theosofi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

    Sanggar Penerangan Surabaya misalnya, didirikan pada tahun 1903 di Jalan Serayu. Hingga kini gedung berusia 122 tahun itu masih dalam kondisi baik.

    Menurut Rudyanto Philips, pengelola Sanggar Penerangan Surabaya, saat Bung Karno masih berguru pada Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Surabaya, sering datang ke Sanggar Penerangan.

    “Karena ayah Bung Karno (R. Soekemi Sosrodihardjo) adalah Ketua Theosofi di Blitar,” demikian Rudyanto.

    Sementara Sanggar Wijaya Kusuma Semarang berdiri tahun 1908. Bersamaan dengan tahun berdirinya Boedi Oetomo yang didirikan Dr. Wahidin Soedirohoesodo.

    Beberapa tokoh penting Theosofi di dunia antara lain Annie Besant, Presiden Theosophical Society setelah meninggalnya Blavatsky dan Olcott.

    Nama lain yang dikenal sebagai pegiat Theosofi internasional adalah Charles Webster Leadbeater dan Jiddu Krishnamurti.

    Webster bahkan dikenal di dunia gara-gara tulisannya tentang okultisme dan spiritualitas, sementara Jiddu Krishnamurti dikenal sebagai filsuf spiritual yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan spiritualitas modern. (Yami Wahyono)

  • MTs Maulana Ishaq Buktikan Komitmen Pendidikan Bermutu Lewat PKKM 2025

    MTs Maulana Ishaq Buktikan Komitmen Pendidikan Bermutu Lewat PKKM 2025

    Kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) di MTs Maulana Ishaq berjalan dengan lancar dan penuh semangat, pada Selasa (11/11).

    Kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang memiliki peran penting sebagai sarana evaluasi kinerja kepala madrasah.

    Melalui kegiatan ini, dilakukan penilaian atas pelaksanaan tugas, tanggung jawab, serta upaya kepala madrasah sebagai manajer guna meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan madrasah.

    Evaluasi ini juga menjadi tolok ukur bagi keberhasilan program kerja dan arah pengembangan madrasah menuju lembaga pendidikan yang semakin berkualitas.

    PKKM dilaksanakan dengan tujuan untuk menilai sejauh mana kepala madrasah menjalankan fungsi manajerial, supervisi, dan pengembangan lembaga sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Selain sebagai bentuk penilaian, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan agar kepala madrasah terus meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya dalam menjalankan tugas.

    Dalam kegiatan tersebut, hadir dua pengawas dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, yaitu Faiz Abadi, M.Si. dan Drs. Edy Suharto, M.Pd.

    Keduanya melaksanakan penilaian dari berbagai aspek, seperti pemeriksaan dokumen, wawancara, serta observasi terhadap pelaksanaan program dan aktivitas madrasah selama satu tahun terakhir.

    Seluruh guru dan tenaga kependidikan turut mendukung kegiatan ini dengan menyiapkan data dan informasi yang diperlukan agar proses penilaian berjalan lancar dan objektif.

    PKKM 2025 MTs Maulana Ishaq

    Kepala MTs Maulana Ishaq, Rustam Effendi, S.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan PKKM menjadi kesempatan penting bagi dirinya dan seluruh warga madrasah untuk menilai sejauh mana kinerja yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

    Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar penilaian, tetapi juga ajang refleksi dan motivasi untuk terus berbenah.

    “Dari hasil PKKM ini, kami bisa belajar banyak hal, memperbaiki yang kurang, dan merancang langkah ke depan agar mutu pendidikan di MTs Maulana Ishaq semakin baik,” ujarnya dengan penuh semangat.

    Ia juga menegaskan bahwa hasil penilaian ini akan menjadi acuan untuk pengembangan madrasah, baik dalam bidang akademik maupun kegiatan nonakademik, agar MTs Maulana Ishaq terus tumbuh menjadi madrasah yang unggul dan berprestasi.

    Suasana di MTs Maulana Ishaq tampak begitu hidup saat kegiatan PKKM tahun 2025 berlangsung. Kolaborasi yang baik serta kebersamaan yang tinggi menjadi kunci suksesnya acara ini.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang penilaian, tetapi juga momentum untuk refleksi dan perbaikan menuju arah yang lebih baik.

    Harapannya, MTs Maulana Ishaq terus berkembang menjadi madrasah unggul yang melahirkan generasi berprestasi dan berkarakter Islami.