Tag: banyuwangi

  • Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Di banyak ruang kelas, cahaya pengetahuan kerap hadir dalam bentuk yang sederhana. Dari sana pula, perubahan sering kali bermula.

    Di Banyuwangi, cahaya itu tumbuh pelan namun konsisten melalui langkah seorang pendidik bernama Betty Lutviyanti, yang memilih menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian—bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang-ruang budaya dan sosial.

    Berangkat dari kesehariannya sebagai guru sekolah dasar, Betty menjadikan dunia anak, lingkungan sekolah, dan pendidikan sebagai sumber inspirasi utama karya-karyanya.

    Ia percaya bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan upaya menumbuhkan rasa, nalar, dan imajinasi sejak dini.

    Betty Lutviyanti merupakan pendidik dengan pengalaman mengajar selama 18 tahun. Ia mengabdi sebagai kepala SD Negeri 4 Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

    Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta Magister Pendidikan yang diraihnya pada tahun 2025, Betty aktif merancang dan menjalankan berbagai inovasi literasi di sekolah.

    Program seperti GESSAH (Gerakan Sedekah Satu Buku untuk Anak Sekolah), SAPA (Sehari Satu Pantun), dan Rame Riang (Gerakan Membaca Sehari Satu Dongeng) menjadi ikhtiar nyata untuk menumbuhkan budaya baca di kalangan siswa.

    “Literasi harus dihadirkan dengan cara yang dekat dan menyenangkan. Anak-anak perlu merasakan bahwa membaca dan menulis adalah bagian dari keseharian, bukan beban,” ujar Betty dalam salah satu kesempatan.

    Selain mengajar, Betty juga dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya telah diterbitkan, di antaranya Harmoni Putih Abu-abu dan Hujan Diksi Bulan Desember (2021), Praktik Baik Merdeka Mengajar dan Mengeja Rindu (2023), Pinasthika Laksamana (2024), serta Antologi Gotong Royong dan Toponimi Wilayah di Banyuwangi (2025).

    Ia juga terlibat sebagai kontributor dalam berbagai karya kolaboratif, termasuk e-book Anjasmara Kasmaran: Hikayat Damarwulan terbitan DISPUSIP Banyuwangi, antologi cerita cendhek Using Aroma Ring Pawon Using dalam buku Leroban, serta antologi cerita anak nusantara Lentera dari Timur ke Barat Jilid 2.

    Dedikasi tersebut turut membuahkan prestasi. Betty meraih Juara 2 Lomba Dongeng Video AI (2024), Juara 3 Lomba Cipta Puisi kategori umum KOPIWANGI (2024), serta terpilihnya 59 puisi karyanya dalam ajang cipta puisi bertema ibu dan guru pada tahun 2023.

    Ia juga aktif membina siswa dalam Festival Literasi Using dan PORSENI SD, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

    Lebih dari sekadar deretan karya dan penghargaan, kiprah Betty Lutviyanti menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang kelas yang sederhana, lalu menjalar ke panggung yang lebih luas.

    Ia menghadirkan literasi sebagai praktik kemanusiaan—menghubungkan pendidikan, budaya, dan harapan masa depan.

    Di tengah arus zaman yang serba cepat, langkah Betty menjadi pengingat bahwa perubahan besar kerap berawal dari ketekunan yang sunyi.

    Dari sekolah, cahaya itu dinyalakan—dan dari sana, ia terus menyala, menerangi generasi demi generasi.

  • Warga Dusun Lateng Gelar Kenduren Takir Sewu Sambut Tahun Baru 2026

    Warga Dusun Lateng Gelar Kenduren Takir Sewu Sambut Tahun Baru 2026

    Warga Dusun Lateng, Desa Rogojampi, menggelar tradisi Kenduren Takir Sewu di aula Balai Dusun Lateng, Kampoeng Lebak, pada Kamis (1/1/2026).

    Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar spiritual masyarakat dalam menyambut awal tahun baru 2026.

    Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut berlangsung khidmat namun tetap meriah, dengan melibatkan partisipasi warga secara guyup rukun.

    Kenduren Takir Sewu menjadi ruang kebersamaan warga dalam merawat tradisi lokal yang sarat nilai keagamaan dan sosial.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan ketua panitia, tahlil, doa bersama, dan ditutup dengan ramah tamah makan bersama.

    Momentum ini mempererat tali silaturahmi antarwarga dalam suasana kekeluargaan.

    Koordinator kegiatan, Rita, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kenduren Takir Sewu merupakan ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada masyarakat Dusun Lateng dan sekitarnya.

    Selain itu, kegiatan ini diniatkan sebagai doa bersama agar di awal tahun 2026 seluruh urusan masyarakat dimudahkan, harapan dan cita-cita dikabulkan, serta kehidupan ke depan senantiasa dilimpahi keberkahan.

    “Melalui kenduren ini, kita bersyukur bersama sekaligus memanjatkan doa agar tahun 2026 menjadi tahun yang lebih baik, penuh kelancaran, keselamatan, dan keberkahan bagi kita semua,” ujarnya.

    Tahlil dan doa bersama kemudian dipimpin oleh sesepuh Dusun Lateng, Mbah Sabuang, dan diikuti dengan khusyuk oleh seluruh hadirin.

    Suasana religius terasa kental ketika doa-doa dipanjatkan sebagai ikhtiar batin mengawali perjalanan di tahun yang baru.

    Pada sesi ramah tamah, warga menikmati kebersamaan dengan sajian sebanyak 1.000 takir yang disiapkan panitia.

    Beragam kuliner khas Banyuwangi tersaji, mulai dari nasi tumpeng, nasi golong, pecel pitik, ayam kesrut, orem-orem, hingga aneka lauk tradisional lainnya.

    Tak ketinggalan jajanan khas seperti kue lapis, lanun, klepon, getuk, awuk, ketan, hingga jajanan poro bungkil.

    Seluruh hidangan disajikan menggunakan daun pisang, menambah nuansa tradisi dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas Kenduren Takir Sewu.

    Kebersamaan warga tampak semakin hangat saat mereka makan bersama dengan penuh kegembiraan, mencerminkan semangat guyup rukun dan tandang bareng yang telah mengakar kuat di Dusun Lateng.

    Kenduren Takir Sewu Lateng Rogojampi

    Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengajian umum ba’da Magrib bertema “Muhasabah Awal Tahun dan Doa Bersama Meraih Ridho Allah SWT”, yang disampaikan oleh Ustaz H. Andi Hidayat, S.Ag dari Rogojampi.

    Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah menjadikan pergantian tahun sebagai momentum introspeksi diri, memperbaiki niat dan akhlak, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT melalui sholat berjamaah, sedekah, dan memperbanyak sholawat.

    Melalui tradisi Kenduren Takir Sewu Pinggir Banyu ini, warga Dusun Lateng tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan.

    Kegiatan ini menjadi bukti bahwa menyambut tahun baru dapat dilakukan dengan cara yang bermakna, melalui doa, syukur, dan kebersamaan sebagai ikhtiar meraih ridho Allah SWT dan keberkahan di tahun 2026.

  • Refleksi Akhir Tahun 2025, YALI Perkuat Komitmen Angkat Martabat Disabilitas

    Refleksi Akhir Tahun 2025, YALI Perkuat Komitmen Angkat Martabat Disabilitas

    Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI) Banyuwangi menutup tahun 2025 dengan meneguhkan komitmen perjuangan dalam mengangkat harkat dan martabat penyandang disabilitas.

    Tekad tersebut ditegaskan dalam kegiatan Refleksi Aura Lentera Akhir Tahun 2025 yang digelar di Ajeg Resto, Dusun Watu Ulo, Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Selasa (31/12/2025).

    Kegiatan refleksi akhir tahun ini menjadi ruang evaluasi atas seluruh aktivitas advokasi, pendampingan, dan pemberdayaan penyandang disabilitas yang telah dijalankan YALI sepanjang tahun 2025.

    Selain itu, forum ini juga menjadi momentum memperkuat visi perjuangan menuju masyarakat yang lebih inklusif.

    Acara dibuka oleh Wakil Ketua YALI, M. Safarudi yang akrab disapa Cik Nang dengan menekankan pentingnya menjaga semangat kolektif dalam kerja-kerja sosial.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan arahan dari Bung Aguk Darsono, sesepuh sekaligus pengawas YALI.

    Dalam pesannya, Aguk menegaskan bahwa perjuangan mengangkat martabat penyandang disabilitas harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, terutama dalam memperjuangkan kesetaraan hak di tengah masyarakat.

    Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Nurhadi Windoyo, menyampaikan bahwa berbagai aktivitas yang dijalankan YALI selama ini memang terlihat sederhana, namun memiliki dampak luas dalam membangun kesadaran publik.

    “Gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menggerakkan masyarakat Banyuwangi, bahkan Indonesia, untuk mulai membangun kehidupan yang inklusif, dimulai dari keluarga dan dunia pendidikan,” ujarnya.

    Nurhadi Windoyo, yang merupakan penyandang tunanetra sejak usia tujuh tahun, menambahkan bahwa tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi YALI.

    Pasalnya, sejak didirikan pada tahun 2006, YALI baru secara resmi memiliki badan hukum pada 7 Februari 2025.

    “Hampir dua dasawarsa kami berjuang sebagai komunitas relawan tanpa badan hukum,” tuturnya.

    Dengan telah dimilikinya legalitas organisasi, Nurhadi menegaskan bahwa YALI harus melangkah lebih profesional dalam menjalankan perannya sebagai lembaga sosial.

    “Tidak ada pilihan lain, kita harus profesional. Apalagi YALI juga bekerja sama dengan lembaga internasional, sehingga tata kelola organisasi harus semakin kuat dan akuntabel,” tegas suami Indah Catur Cahyaningtias (Direktur Program YALI 2025–2030) tersebut.

    Melalui refleksi akhir tahun ini, YALI menegaskan kembali posisinya sebagai organisasi yang konsisten memperjuangkan kesetaraan, kemandirian, dan martabat penyandang disabilitas, sekaligus menyiapkan langkah strategis untuk memperluas dampak perjuangan di tahun-tahun mendatang.

  • Aklamasi Musda III, Duet Mujiono–Sururudin Nahkodai BKPRMI Banyuwangi Periode 2026-2030

    Aklamasi Musda III, Duet Mujiono–Sururudin Nahkodai BKPRMI Banyuwangi Periode 2026-2030

    BANYUWANGI — Musyawarah Daerah (Musda) III Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi secara aklamasi dan mufakat menetapkan duet H. Mujiono, SH sebagai Ketua Umum dan Achmad Sururudin, SE, M.Si, M.Pd sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) masa khidmat 2026–2030.

    Musda digelar pada Ahad (28/12/2025) atau bertepatan dengan 8 Rajab 1447 H di Hotel Aston Banyuwangi.

    Sidang Musda dipimpin Alim Sulaiman, M.Pd, Sekretaris Umum BKPRMI Wilayah Jawa Timur.

    Setelah kepengurusan demisioner dinyatakan berakhir, pimpinan sidang membuka peluang pencalonan Ketua Umum kepada peserta Musda yang terdiri dari jajaran DPD dan perwakilan 25 DPK kecamatan.

    Namun, tidak satu pun peserta mengajukan diri. Situasi tersebut kemudian disikapi oleh utusan DPK Rogojampi, Singojuruh, dan Kalipuro yang mengusulkan skema keberlanjutan kepemimpinan.

    Mereka mengusulkan agar Achmad Sururudin, mantan Ketua Umum dua periode untuk ditetapkan sebagai Ketua MPD, sementara H. Mujiono dipercaya sebagai Ketua Umum.

    Usulan tersebut diterima secara aklamasi oleh seluruh peserta Musda.

    Dalam sambutannya, H. Mujiono mengawali dengan ungkapan haru.

    Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan mengemban amanah sebagai pimpinan organisasi yang bergerak dalam pemakmuran masjid dan pembinaan generasi, dengan ikon nasional Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) yang digelar berjenjang setiap dua tahun.

    “Baik, saya menerima amanat ini dengan syarat dukungan dari semuanya, termasuk tim formatur yang ditunjuk, agar bersama-sama memajukan organisasi,” ujarnya, yang langsung disambut hangat oleh hadirin.

    Musda III BKPRMI Banyuwangi mengusung tema besar Kaderisasi Mujahid Pemakmuran Masjid dan Pembinaan Generasi Qur’ani.

    Kegiatan ini dihadiri peserta pemilik suara dari 25 kecamatan, tujuh Direktur Daerah, Sekretaris Umum DPW BKPRMI Jawa Timur, unsur Forkopimda, serta perwakilan ormas dan lembaga keislaman seperti DMI, MUI, LPTQ, Kementerian Agama, dan Bagian Kesejahteraan Rakyat.

    Pembukaan Musda diwarnai paduan suara para ustadzah Pondok Pesantren Safinda di bawah bimbingan Ustadzah Siti Ruqoyah, S.Pd, yang juga pengurus DPW LPKS-BKPRMI Jatim.

    Panitia turut menayangkan kilas balik aktivitas BKPRMI Banyuwangi selama empat hingga lima tahun terakhir dalam bentuk foto dan video.

    Musda secara resmi dibuka oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE, M.Si, mewakili Bupati Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas sinergi dan kontribusi BKPRMI dalam menjaga Banyuwangi tetap kondusif dan berprestasi.

    Sementara itu, Achmad Sururudin yang telah memimpin BKPRMI Banyuwangi selama dua periode menyatakan kesiapannya menyerahkan estafet kepemimpinan.

    Ia berharap pelantikan kepengurusan baru dapat dilaksanakan sebelum Ramadan, serta merencanakan kirab santri pada 1 Muharram sebagai bagian dari syiar dakwah.

    Dari aspek kaderisasi, Direktur LPSDM BKPRMI, KH. Achmad Zakariya, menegaskan pentingnya penguatan program BCM, metode ngaji paham makna yang menyenangkan, serta Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi remaja masjid, mushalla, sekolah, dan kampus.

    “Kami bermimpi lahir pengurus muda BKPRMI usia 33–45 tahun dari desa ke desa,” ungkapnya.

    Musda ini juga menjadi ruang silaturahmi lintas generasi dengan menghadirkan para pendiri BKPRMI Banyuwangi sejak gerakan awal 1990-an, sekaligus doa bersama untuk para mujahid dakwah yang telah wafat, khususnya Ustadz Jazir Jogokariyan dan KH. As’ad Human, pelopor metode Iqra’ yang mendunia. (Affandi)

  • Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Momentum peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 sekaligus Hari Ibu dimaknai melalui lomba baca puisi dan story telling yang digelar di Saestwo Cafe, Banyuwangi, Sabtu (20/12/2025).

    Dua cabang lomba tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan literasi yang sebelumnya telah berlangsung selama dua hari, 19–20 Desember 2025.

    Lomba baca puisi yang mengangkat karya dari Antologi Gotong Royong serta lomba story telling diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.

    Pelaksanaan lomba dimulai pukul 13.00 WIB. Sejumlah peserta datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi untuk mengikuti kegiatan tersebut.

    Antusiasme terlihat dari kehadiran peserta yang tidak hanya berasal dari sekitar lokasi kegiatan, tetapi juga dari kecamatan lain.

    Sebelumnya, pada hari pertama, Jumat (19/12/2025), panitia telah menyelenggarakan lomba pidato cilik (pildacil) TPA/TPQ, bercerita menggunakan bahasa Using, serta lomba melukis di kanvas.

    Pelaksanaan hari pertama bertepatan dengan peringatan hari lahir Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi (KOPPIWANGI) yang ke-10 dan dihadiri Ketua KOPPIWANGI, H. Mujiono, S.H.

    Panitia menyebutkan, lomba baca puisi dan story telling pada hari kedua menjadi ruang bagi peserta untuk mengekspresikan gagasan, imajinasi, serta kepekaan terhadap nilai-nilai gotong royong.

    Kehadiran peserta dari berbagai daerah di Banyuwangi menunjukkan bahwa kegiatan literasi masih mendapat perhatian dan minat dari masyarakat..

    Pemenang Lomba Story Telling

    Pemenang lomba story telling event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Berlian Ramadhani (MI Darunnajah II)

    Juara II: Queenbe Hilwa Tazkia (SD Lazuardi)

    Juara III: Abdul Ghani Ibrahim (MI Darussalam 1 Kalipuro)

    Harapan I: Adhira Kayyira Luneto

    Harapan II: Zahsy Rouwan Haqueena Yadid

    Harapan III: Chantika Irfa’

    Pemenang Lomba Membaca Puisi

    pemenang lomba baca puisi event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Adilla Makhrisza Alharsi (SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya)

    Juara II: Mohammad Rizky Yulleo Altaf (SMK Muhammadiyah 8 Siliragung)

    Juara III: Muhammad Iqbal Maulana (Tenaga Kependidikan SMPN 3 Rogojampi)

    Harapan I: Kristanto (Guru SMA Negeri 1 Bangorejo)

    Harapan II: Farras Aryantaqi (SMK Pelayaran Kalipuro)

    Salah satu juri puisi, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menyampaikan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi.

    “Yang kami lihat bukan hanya teknik, tetapi keberanian peserta dalam menyuarakan nilai gotong royong dan kepekaan mereka terhadap lingkungan sosialnya. Itu yang membuat pembacaan puisi terasa hidup,” ujarnya.

    Sementara itu, ketua panitia menyebutkan bahwa kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai ajang lomba, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan ekspresi bagi anak-anak, remaja, dan masyarakat umum.

    “Melalui kegiatan ini, nilai literasi, seni, dan budaya lokal diharapkan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat,” ujar ketua panitia, H.M Shodiqin.

    Peringatan Harjaba ke-254 melalui kegiatan lomba literasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat semangat gotong royong sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan budaya baca, bercerita, dan berkarya di Banyuwangi.

  • Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Kemajuan literasi di daerah tidak hadir secara instan. Ia tumbuh melalui kesadaran, komitmen, serta keberpihakan para pemangku kebijakan terhadap pentingnya budaya membaca dan belajar sejak usia dini.

    Di Banyuwangi, upaya tersebut terus menunjukkan geliat yang positif, salah satunya melalui peran aktif Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., sosok pemimpin yang dikenal rendah hati, sederhana, dan memiliki kepedulian nyata terhadap literasi.

    Kehadiran Yusdi Irawan dalam kegiatan kunjungan dan donasi buku di MI Islamiyah Kedaleman Rogojampi menegaskan bahwa literasi tidak hanya menjadi wacana di ruang rapat, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata di lingkungan sekolah.

    Di sela-sela jadwal yang padat, Yusdi Irawan tetap meluangkan waktu untuk hadir langsung di tengah masyarakat, sebuah teladan kepemimpinan yang patut diapresiasi.

    Bagi penulis, sebagai pegiat literasi dan Ketua KOPIWANGI, langkah tersebut mencerminkan kepemimpinan yang memahami bahwa perpustakaan sekolah merupakan fondasi penting dalam menumbuhkan budaya baca di tengah masyarakat.

    Yusdi Irawan memandang perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai ruang belajar yang hidup dan berkelanjutan.

    Pandangan tersebut sejalan dengan program-program Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi yang selama ini berfokus pada penguatan perpustakaan sekolah, peningkatan minat baca, serta perluasan akses literasi hingga ke wilayah-wilayah yang belum terjangkau secara optimal.

    Kehadiran layanan perpustakaan keliling serta kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sekolah-sekolah menjadi wujud komitmen nyata dan kesungguhan dalam memajukan literasi di Banyuwangi.

    Dalam dialog bersama pihak sekolah, ia tidak hanya menyerahkan buku, tetapi juga menyampaikan masukan strategis terkait pengelolaan perpustakaan serta pembiasaan membaca bagi siswa.

    Pernyataannya bahwa kebiasaan membaca akan tumbuh menjadi budaya membaca mencerminkan pemahaman yang mendalam bahwa literasi merupakan proses jangka panjang, bukan kegiatan seremonial semata.

    Dari kebiasaan inilah akan tumbuh karakter peserta didik yang menyadari pentingnya membaca sebagai bekal menghadapi masa depan, sebab membaca adalah jendela untuk memahami dunia dan kehidupan.

    Sebagai seorang pendidik yang aktif di dunia literasi, penulis mengapresiasi komitmen tersebut.

    Dukungan langsung dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi sekolah.

    Perpustakaan pun menjadi lebih bermakna; guru dan siswa merasa diperhatikan, sementara sekolah memperoleh dorongan moral untuk terus berinovasi dalam kegiatan literasi.

    Dalam konteks ini, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai ruang membaca, tetapi juga sebagai ruang diskusi untuk berbagi gagasan, ruang kolaborasi untuk bekerja sama, serta ruang inovasi dalam melahirkan karya-karya kreatif.

    Apresiasi yang sama juga disampaikan oleh Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi dan Media Sastrawacana.

    Menurutnya, keterlibatan aktif Yusdi Irawan mencerminkan sinergi yang sehat antara pemerintah daerah, penerbit, media, komunitas literasi, dan sekolah.

    Sinergi inilah yang menjadi kunci terciptanya ekosistem literasi yang kuat dan berkelanjutan.

    Komitmen tersebut dibuktikan melalui kehadiran serta dukungan penuh Yusdi Irawan terhadap program donasi buku ke sekolah-sekolah yang membutuhkan, yang telah dicanangkan oleh Media Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, penguatan literasi sejak pendidikan dasar sebagaimana yang didorong Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi merupakan investasi masa depan.

    Literasi tidak hanya membentuk kecakapan membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan nilai berpikir kritis, karakter, dan kepekaan sosial.

    Pada dasarnya, literasi berfungsi memberikan pencerahan (enlightenment), memperkaya pemikiran (enrichment), serta memberdayakan (empowerment).

    Penulis meyakini bahwa Banyuwangi berada di jalur yang tepat dalam membangun budaya literasi bagi generasi masa depan.

    Keyakinan tersebut tumbuh karena hadirnya pemimpin yang memiliki visi dan arah kebijakan yang jelas.

    Sosok Yusdi Irawan, S.E., M.Si. menunjukkan bahwa kemajuan literasi tidak cukup diwacanakan, tetapi menuntut kehadiran nyata, komitmen kebijakan yang konsisten, serta kerja bersama lintas sektor.

    Pada akhirnya, upaya memajukan literasi merupakan kerja kolektif yang menuntut kolaborasi berbagai pihak.

    Namun demikian, dukungan dan keteladanan dari pemimpin daerah menjadi penggerak utama agar gerakan literasi tidak berhenti di tengah jalan.

    Apa yang dilakukan Yusdi Irawan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk menjadikan Banyuwangi sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga kuat dalam tradisi membaca, berkesadaran tinggi, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat.

    ✍️ Penulis adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Banyuwangi – Upaya menjaga kebersihan sungai dan kelestarian lingkungan terus digencarkan di Kabupaten Banyuwangi.

    Salah satunya melalui aksi bersih-bersih sungai kolosal bertajuk “Big Clean Up” yang digelar di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, pada Jumat (19/12/2025).

    Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Mangir, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan organisasi lingkungan Sungai Watch.

    Mengusung semangat “Saatnya Sungai Kita Bernapas Kembali”, aksi ini menjadi wujud kepedulian bersama untuk membersihkan sungai dari pencemaran sampah plastik dan limbah lainnya.

    Hasil dari kegiatan gotong royong tersebut terbilang signifikan. Berdasarkan data di lapangan, total sampah yang berhasil diangkat dari aliran sungai mencapai 4.162,52 kilogram atau setara 4,1 ton.

    Sampah tersebut dikumpulkan dan dipilah ke dalam 871 karung (kampil).

    Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Sebanyak 45 personel Sungai Watch diterjunkan langsung untuk memimpin teknis pembersihan, dengan dukungan 111 relawan yang terdiri dari warga lokal dan berbagai komunitas.

    Aksi bersih sungai ini turut dihadiri oleh Forkopimka Kecamatan Rogojampi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pengairan, serta Dinas Pertanian.

    Sejumlah komunitas dan organisasi kepemudaan juga berpartisipasi aktif, di antaranya Tim Jebeng Thulik Banyuwangi, Pencinta Lingkungan Banyuwangi (PLC), PC IPNU Banyuwangi, dan Kelompok KIPAN Banyuwangi.

    Dari tingkat desa, dukungan penuh datang dari Pemerintah Desa Mangir bersama 3 Pilar, BPD, LPMD, HIPPA, TP PKK, Komite Persampahan, Gapoktan, Poktan, BUMDes, KDMP, serta Pendamping Desa Kemensos.

    Partisipasi kepala sekolah dan pelajar dari jenjang TK, SD, MI, hingga SMK se-Desa Mangir, serta anggota Linmas, semakin memperkuat semangat gotong royong dalam kegiatan tersebut.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan sungai merupakan tanggung jawab bersama demi menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

    Sungai Watch sendiri merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2020 di Bali.

    Saat ini, Sungai Watch memiliki lebih dari 100 anggota tim yang tersebar di wilayah Bali, Banyuwangi, dan Sidoarjo, Jawa Timur.

    Organisasi ini memiliki misi menghentikan sampah, khususnya anorganik, sebelum mencapai laut dengan cara membersihkan sungai.

    Sungai Watch juga mengembangkan teknologi jaring sampah yang telah terpasang di 180 titik.

    Setiap hari, tim Sungai Watch secara rutin membersihkan sampah yang tertangkap di jaring tersebut untuk kemudian dibawa ke lokasi pemilahan dan pengelolaan sampah yang berada di Station Bangorejo, Rogojampi, dan Giri.

    Hingga saat ini, Sungai Watch telah mengumpulkan lebih dari 4.000.000 kilogram sampah anorganik dari sungai, mangrove, dan pantai di berbagai wilayah Indonesia.

    Dalam kegiatan Big Clean Up di Desa Mangir, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik sekali pakai, styrofoam, dan kemasan sachet.

    Sampah hasil kegiatan ini tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan dibawa ke Station Sungai Watch di Giri, Rogojampi, dan Bangorejo untuk dipilah, dibersihkan, dilakukan brand audit, serta didaur ulang.

    Langkah ini bertujuan mengurangi volume sampah residu yang berakhir di TPA sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

  • Lomba Literasi dan Seni Meriahkan Peringatan Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Lomba Literasi dan Seni Meriahkan Peringatan Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254, Saestwo Cafe berkolaborasi dengan komunitas Gotong Royong 45 dan media sastrawacana.id/ menggelar lomba literasi dan seni pada Jumat (19/12/2025).

    Kegiatan ini didukung oleh sejumlah komunitas dan organisasi di Banyuwangi, antara lain BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, Koppiwangi, Gata, Jurnalnews, PERGUNU, ELC Sibon, dan Aura Lentera.

    Rangkaian lomba berlangsung selama dua hari, 19–20 Desember 2025, dengan melibatkan peserta dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

    Lomba hari pertama diisi dengan tiga cabang, yakni pidato cilik (pildacil), bercerita menggunakan bahasa Using, serta lomba melukis.

    Lomba Pildacil Harjaba Saestwo Cafe

    Sejak siang, peserta silih berganti tampil di hadapan dewan juri, disaksikan orang tua dan pengunjung kafe yang turut memberi dukungan.

    Sementara itu, untuk hari kedua yang akan digelar hari Sabtu (20/12), panitia menjadwalkan lomba membaca puisi dari buku antologi Gotong Royong yang diterbitkan oleh Penerbit Lintang Banyuwangi dan story telling sebagai penutup rangkaian kegiatan.

    Pembukaan acara dilakukan oleh Ketua Panitia, H.M. Shodiqin yang juga Owner Saestwo Cafe.

    Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut digelar bukan sekadar untuk memeriahkan Harjaba, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan minat literasi dan apresiasi seni sejak usia dini.

    Lomba Bercerita Using Harjaba Saestwo Cafe

    “Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong tumbuhnya minat literasi dan apresiasi seni sejak usia dini. Anak-anak perlu diberi ruang untuk mengekspresikan gagasan dan kreativitasnya,” ujar Shodiqin.

    Ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan lomba ini sekaligus sebagai peringatan momentum Hari Ibu.

    Di sela sambutannya, Shodiqin mengajak seluruh peserta dan panitia menyanyikan lagu Kasih Ibu yang membuat suasana acara terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan.

    Selain lomba, kegiatan hari pertama juga dihiasi dengan tasyakuran 10 tahun Koppiwangi (Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi).

    Tasyakuran tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Koppiwangi Mujiono, S.H., beserta jajaran pengurus dan anggota komunitas.

    Mujiono, S.H menyampaikan bahwa Koppiwangi sejak awal berdiri berkomitmen untuk mendukung akses dan kualitas pendidikan melalui berbagai kegiatan literasi.

    Tasyakuran 10 tahun Koppiwangi

    Menurutnya, kolaborasi lintas komunitas seperti ini penting untuk menjaga semangat gotong royong dalam dunia pendidikan.

    “Kegiatan seperti ini menjadi contoh bahwa literasi bisa tumbuh dari ruang-ruang alternatif, tidak harus selalu di sekolah atau ruang formal,” ujarnya.

    Kemeriahan acara juga didukung kehadiran pelaku ekonomi kreatif lokal.

    Green Jasmine dan Batik Gerilya tampak membuka lapak di area kegiatan, memamerkan berbagai produk unggulan seperti batik khas Banyuwangi dan aneka kerajinan tangan.

    Kehadiran mereka menambah warna tersendiri sekaligus menjadi ajang promosi produk lokal kepada masyarakat.

    Pemenang Lomba Melukis Harjaba Saestwo Cafe

    Dari sisi apresiasi peserta, panitia menyediakan berbagai hadiah menarik. Salah satunya dukungan dari PT Tulus Hijrah Baitullah yang memberikan hadiah berupa voucher uang muka (DP) umrah senilai Rp2 juta bagi setiap pemenang lomba.

    Kemudian, khusus untuk lomba pildacil, juara pertama mendapatkan hadiah tambahan berupa voucher menginap di Hotel Aston.

    Hadiah tersebut dipersembahkan oleh Ketua BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, Achmad Sururuddin, S.E., M.Pd., sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan potensi anak-anak di bidang dakwah dan public speaking.

    Panitia berharap, rangkaian lomba ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.

    Melalui peringatan Harjaba ke-254, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang bertemu bagi komunitas, orang tua, dan anak-anak untuk bersama-sama menumbuhkan budaya literasi, seni, serta semangat gotong royong di Banyuwangi.

  • DPC Peradi Banyuwangi Peringati HUT ke-21, Tegaskan Komitmen Peningkatan Kualitas Advokat

    DPC Peradi Banyuwangi Peringati HUT ke-21, Tegaskan Komitmen Peningkatan Kualitas Advokat

    Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Banyuwangi menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Peradi ke-21 di Hotel Aston Banyuwangi, Kamis (18/12/2025).

    Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi yang mewakili Bupati Banyuwangi, serta sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

    Pada peringatan HUT ke-21 ini, Peradi Banyuwangi mengusung tema “Meningkatkan Kualitas Advokat dalam Rangka Menyongsong Berlakunya KUHP dan KUHAP Baru.”

    Tema tersebut selaras dengan berbagai agenda Peradi, baik di tingkat nasional maupun daerah, khususnya dalam penguatan kapasitas advokat melalui diskusi, sosialisasi, dan pendidikan hukum berkelanjutan.

    Ketua DPC Peradi Banyuwangi, Eko Sutrisno, S.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan peringatan HUT Peradi ke-21 sengaja dipilih pada 18 Desember 2025 karena bertepatan dengan Hari Jadi Banyuwangi ke-254.

    HUT Peradi ke-21 Banyuwangi

    Menurutnya, hal tersebut merupakan wujud kecintaan dan komitmen Peradi Banyuwangi terhadap daerah.

    “Ini adalah salah satu bentuk kecintaan DPC Peradi Banyuwangi kepada Kabupaten Banyuwangi,” ujarnya.

    Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kontribusi Peradi dalam mendukung peningkatan kualitas penegakan hukum di Banyuwangi.

    Ia menegaskan peran strategis advokat sebagai pilar penting dalam menjaga marwah keadilan serta melindungi hak-hak masyarakat.

    Selain dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi, kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Forkopimda, antara lain dari Polresta Banyuwangi, Kodim Banyuwangi, Lanal Banyuwangi, Pengadilan Negeri Banyuwangi, Pengadilan Agama Banyuwangi, serta para mitra kerja DPC Peradi Banyuwangi lainnya.

    Sesuai dengan tema yang diusung, rangkaian acara Dirgahayu Peradi ke-21 ditutup dengan seminar nasional yang menghadirkan Prof. Dr. Ir. Firmanto Laksana P., S.H., M.M., M.H., CLA sebagai narasumber. (Mujiono, S.H)

  • Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Upaya menghidupkan budaya literasi di kalangan pelajar terus dilakukan oleh Penerbit Lintang bersama media literasi sastrawacana.id/ dengan melakukan kunjungan serta donasi buku.

    Kegiatan ini menyasar lembaga-lembaga pendidikan di berbagai wilayah Banyuwangi sebagai bagian dari gerakan penguatan minat baca sejak dini.

    Kunjungan kali ini terasa lebih istimewa karena dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., yang berlangsung di MI Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, pada Rabu (17/12/2025).

    Di sela-sela kesibukannya, Yusdi Irawan menyempatkan diri untuk turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi dalam mendukung penguatan budaya baca di lingkungan sekolah.

    Kehadirannya sekaligus menjadi wujud perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sarana edukatif yang strategis bagi pembentukan karakter dan peningkatan kualitas literasi peserta didik sejak usia dini.

    Kunjungan Perpusda di MI Kedaleman

    Dalam kesempatan tersebut, Yusdi Irawan memantau langsung kondisi perpustakaan MI Kedaleman sekaligus berdialog dengan pihak sekolah terkait literasi.

    Selain menyerahkan sejumlah buku, ia juga memberikan masukan yang berhubungan dengan pengelolaan perpustakaan dan strategi menumbuhkan minat baca siswa sejak usia dini.

    Menurutnya, keberadaan perpustakaan sekolah harus dimaknai lebih dari sekadar fasilitas pelengkap, melainkan sebagai ruang pembelajaran yang aktif dan berkelanjutan.

    “Perpustakaan sekolah bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang yang hidup dan mampu menumbuhkan minat baca anak-anak. Jadi, perlu ada rutinitas membaca karena kebiasaan akan berubah menjadi budaya membaca,” ujar Yusdi Irawan.

    Ia menambahkan, penguatan literasi sejak sekolah dasar menjadi fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

    Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, S.Pd., yang dalam kesempatan itu menyerahkan sejumlah buku, termasuk karya tulisnya sendiri.

    Seperti diketahui, Andi Budi Setiawan merupakan penulis asal Banyuwangi yang telah melahirkan berbagai karya sastra serta aktif mendorong gerakan literasi di daerah.

    Kepala Sekolah MI Kedaleman, Nur Lailiyah, S.Ag, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan perhatian yang diberikan.

    Ia menilai kehadiran Kepala Dinas Perpustakaan bersama Penerbit Lintang dan sastrawacana.id/ menjadi semangat baru bagi sekolah.

    “Kunjungan ini menjadi energi positif bagi kami. Kami merasa mendapat dukungan moral untuk terus mengembangkan perpustakaan serta budaya membaca di sekolah,” ungkap Nur Lailiyah.

    Ia berharap ke depan dapat terjalin kolaborasi berkelanjutan dengan Perpustakaan Daerah Banyuwangi.

    Sebagai informasi, MI Kedaleman Rogojampi dikenal sebagai salah satu sekolah yang memiliki keunggulan dalam bidang keagamaan.

    Para siswa dibekali pendidikan akhlakul karimah sejak dini sebagai fondasi pembentukan karakter.

    Melalui penguatan literasi yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan, sekolah ini berupaya mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

    Sementara itu, Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang, Maulana Affandi, S.S., menegaskan bahwa kegiatan donasi buku dan kunjungan sekolah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Penerbit Lintang dalam mendukung gerakan literasi di Banyuwangi.

    “Kami percaya bahwa literasi tidak bisa dibangun secara instan. Butuh kehadiran, ketelatenan, dan kerja bersama berbagai pihak. Kunjungan seperti ini adalah upaya sederhana kami untuk menghadirkan buku lebih dekat dengan anak-anak, sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka pada membaca,” ujar Maulana Affandi.

    Menurutnya, sinergi antara komunitas literasi, media, sekolah, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan dan menjangkau lebih banyak sekolah, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses bacaan.

    Kegiatan donasi buku dan kunjungan ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berkelanjutan dalam menumbuhkan semangat membaca serta memperkuat ekosistem literasi di Banyuwangi.