Tag: banyuwangi

  • Seribu Takir dan Tumpeng Hasil Bumi Warnai Perayaan Suro Penuh Syukur di Desa Sraten

    Seribu Takir dan Tumpeng Hasil Bumi Warnai Perayaan Suro Penuh Syukur di Desa Sraten

    Sraten, Jumat 27 Juni 2025- Semarak Tahun Baru Islam 1447 Hijriah terasa istimewa di Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

    Masyarakat Dusun Sukodadi, khususnya Dukuh Kedawung, kembali menggelar Festival Tumpeng dan Takir Sewu desa Sraten sebagai bentuk syukur dan pelestarian tradisi.

    Festival yang masuk dalam kalender resmi Banyuwangi Festival 2025 ini berlangsung selama dua hari, dimulai sejak Kamis (26/6) dengan kegiatan jalan sehat dan pemeriksaan kesehatan gratis yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi.

    Pada malam harinya, masyarakat mengikuti ritual di Pemandian Mbah Sumber dan Mbah Gitik setelah Magrib, dan dilanjutkan dengan Khataman Al-Qur’an di makam Prabu Tawang Alun selepas Isya.

    Puncak acara berlangsung pada Jumat siang (27/6) dengan sajian 1.000 takir dan tumpeng hasil bumi yang telah disiapkan sejak pagi oleh warga Sraten.

    Setiap kepala keluarga berpartisipasi membuat 10 takir sebagai bentuk gotong royong dan rasa syukur atas panen melimpah.

    Acara resmi dibuka pukul 13.00 WIB di lokasi yang telah disiapkan. Acara dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Banyuwangi Ir. H. Mujiono, M.Si sekaligus membuka acara.

    Setelah pembukaan, digelar arak-arakan tumpeng dan takir sewu menuju area depan makam Prabu Tawang Alun.

    Rangkaian ini menampilkan aneka hasil bumi seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan palawija yang disusun dalam bentuk tumpeng besar, kemudian tumpeng dan takir dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol berbagi berkah.

    Festival ini menarik minat masyarakat luas, bukan hanya dari Sraten, tetapi juga dari berbagai kecamatan di Banyuwangi.

    Menurut sesepuh desa Sraten, Bapak Suraji, S.Pd, kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama: menyambut 1 Suro (Tahun Baru Islam 1447 H), mengenang keberadaan Prabu Tawang Alun, serta sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi.

    Tradisi Tumpeng dan Takir Sewu tidak hanya memiliki nilai budaya dan religi, tetapi juga diharapkan membawa dampak nyata bagi masyarakat Sraten.

    Ketua BPD Sraten, Heru Supriyono, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki dua produk utama yang ingin dicapai.

    “Pertama, aspek spiritual yaitu tumbuhnya kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat. Kedua, aspek material berupa meningkatnya pertumbuhan ekonomi UMKM lokal di Sraten,” ujarnya.

    Melalui kolaborasi budaya dan ekonomi ini, Festival Tumpeng dan Takir Sewu menjadi sarana memperkuat identitas desa sekaligus mendorong kesejahteraan warganya.

    Kemeriahan acara akan ditutup pada malam harinya dengan solawatan dari Majelis Rotib Al Manan yang akan menambah kekhusyukan sekaligus menutup festival dengan nuansa religius dan penuh doa.

  • Lintas Suku Bergandeng Tangan, FPK Banyuwangi Tunjukkan Aksi Nyata Gotong Royong di Pantai Watudodol

    Lintas Suku Bergandeng Tangan, FPK Banyuwangi Tunjukkan Aksi Nyata Gotong Royong di Pantai Watudodol

    Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Banyuwangi kembali menunjukkan eksistensinya sebagai ruang perekat sosial lintas etnis melalui kegiatan bertajuk “Gotong Royong, Wujud Nyata Persatuan dalam Keberagaman” yang digelar di kawasan wisata Grand Watudodol.

    Kegiatan yang digelar pada Rabu, 25 Juni 2025 ini menjadi aksi nyata dalam merawat nilai-nilai kebangsaan dan membangun keharmonisan antar suku, etnis, serta budaya yang hidup berdampingan di bumi Blambangan.

    Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di Kabupaten Banyuwangi, antara lain suku Jawa, Osing, Madura, Bugis, Batak, Arab, Tiongkok, dan Melayu.

    Semua hadir dalam semangat persaudaraan dan kesetaraan, tanpa sekat, serta turut berpartisipasi dalam aksi kerja bakti membersihkan Pantai Watudodol.

    Gotong Royong Forum Pembauran Kebangsaan
    Gotong Royong Forum Pembauran Kebangsaan (sastrawacana.id/)

    Kebersamaan dalam perbedaan menjadi napas utama kegiatan yang berlangsung dengan suka cita dan hangatnya kerukunan.

    Peserta membawa kantong sampah dan alat sederhana lainnya untuk membersihkan area pantai dari sampah plastik dan anorganik.

    Momen ini memperlihatkan bagaimana gotong royong dapat menjelma menjadi perekat sosial yang konkret, di mana seluruh elemen masyarakat saling membantu tanpa memandang latar belakang budaya.

    Dalam sambutannya, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Banyuwangi, Miskawi, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga perwujudan nilai luhur bangsa Indonesia yang diwariskan turun-temurun.

    “Kegiatan hari ini adalah bentuk nyata dari semangat gotong royong. Ini bukan sekadar seremonial, tetapi aksi langsung yang menunjukkan bahwa kita bisa bersatu dalam keberagaman. Jati diri bangsa kita adalah gotong royong, yang sejak dulu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita,” ungkap Miskawi.

    Ia menambahkan bahwa setiap perwakilan suku dan komunitas diharapkan mampu menanamkan semangat gotong royong di lingkup yang lebih kecil, seperti dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

    “Berbaur tidak berarti melebur menjadi sama. Kita tetap bisa menjaga identitas masing-masing sembari membangun harmoni bersama,” tambahnya.

    Forum Pembauran Kebangsaan
    Forum Pembauran Kebangsaan (sastrawacana.id/)

    Senada dengan itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Banyuwangi, Agus Mulyono, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang diinisiasi oleh FPK.

    Ia menegaskan bahwa Kesbangpol memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial melalui upaya-upaya pembauran yang humanis.

    “Fungsi Kesbangpol adalah menjaga kerukunan antar elemen masyarakat. Melalui FPK, semangat persatuan dapat terus dijaga dan dikembangkan. Kami mendorong agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sampai di sini, tapi terus digelorakan sebagai bentuk cinta tanah air,” ujar Agus.

    Agus juga mengajak seluruh anggota FPK untuk terus bersinergi menjaga harmoni di tengah perbedaan yang ada.

    “Mari kita jaga betul kebersamaan ini. Jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun Banyuwangi yang lebih rukun dan berkemajuan,” imbuhnya.

    Berbagai tokoh dan komunitas turut memberikan tanggapan positif. Perwakilan suku Madura dari Komunitas Joko Tole, menyatakan bahwa FPK adalah wadah yang sangat penting bagi terwujudnya toleransi dan persatuan.

    “Kami sangat mengapresiasi keberadaan FPK. Terima kasih kepada Kesbangpol dan panitia yang telah memfasilitasi kegiatan luar biasa ini. Kegiatan seperti ini perlu terus dilakukan agar anak cucu kita kelak tahu bahwa kita pernah bersatu dalam keberagaman,” ujarnya.

    Sementara itu, Agus Wahyu Nuryadi atau yang akrab disapa Bung Aguk, selaku moderator sekaligus Wakil Ketua 2 dari unsur Suku Jawa, menyampaikan pandangannya bahwa nilai gotong royong harus terus diamalkan karena bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia.

    “Gotong royong adalah pemantik yang telah lama hidup di tengah masyarakat kita. Hari ini, FPK membuktikan bahwa nilai itu masih ada dan bisa dirawat dengan cara sederhana namun bermakna. Melalui aksi membersihkan pantai, kita mengingatkan kembali bahwa kerja bersama adalah solusi dari banyak persoalan sosial,” ujar Bung Aguk yang juga Ketua Ormas LSM Komunitas Gotongroyong Empat Puluh Lima.

    Bung Aguk juga menambahkan bahwa gotong royong ini merupakan wujud serta amalan dari Pancasila yang menjadi filosofi bangsa di pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945 sebagai hari konstitusi NKRI.

    Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama yang berlangsung hangat, menyatukan berbagai latar belakang budaya dalam suasana penuh keakraban.

    Tidak hanya mempererat hubungan antarsuku, acara ini juga menjadi ajang pertukaran pengalaman dan pandangan mengenai pentingnya hidup rukun dalam keberagaman.

    Dengan semangat gotong royong dan komitmen yang kuat, FPK Banyuwangi kembali menegaskan peran strategisnya sebagai motor penggerak pembauran kebangsaan.

    Banyuwangi pun semakin mengukuhkan dirinya sebagai miniatur Indonesia, tempat di mana keberagaman tidak menjadi alasan untuk berjarak, melainkan menjadi alasan untuk saling mendekat dan bersatu.

  • Memukau, Aksi Siswa dalam Pentas Operet Al Qomah Sukses Guncang Emosi Penonton di Wisuda Hafidz DaQu School

    Memukau, Aksi Siswa dalam Pentas Operet Al Qomah Sukses Guncang Emosi Penonton di Wisuda Hafidz DaQu School

    Kisah menyentuh tentang seorang anak yang kesulitan mengucapkan syahadat karena belum memperoleh rida ibunya menjadi penutup yang mengharukan dalam rangkaian Wisuda Hafidz dan Pentas Seni SD Darul Qur’an School, Sabtu, 21 Juni 2025.

    Drama operet berjudul Al Qomah yang dibawakan oleh siswa kelas 4 A Al Quddus di Auditorium Untag Banyuwangi sukses mencuri perhatian dan menggugah hati para hadirin.

    Mengangkat kisah klasik dalam khazanah Islam, operet ini mengisahkan Al Qomah, seorang pria saleh dan rajin beribadah, namun lalai terhadap ibunya lantaran lebih menuruti istrinya.

    Ketika menghadapi sakaratul maut, Al Qomah tak mampu mengucapkan syahadat hingga Rasulullah menyarankan agar sang ibu membakar jasad putranya sebagai pelajaran.

    Di momen puncak, sang ibu akhirnya memaafkan, dan barulah Al Qomah dapat wafat dalam keadaan husnul khatimah.

    Di balik panggung, ada perjuangan luar biasa. Para orang tua, khususnya para bunda dari paguyuban wali murid, terlibat penuh dalam proses produksi, mulai dari mendampingi proses casting, menyiapkan kostum bergaya era Rasulullah, hingga mengatur tata rias dan properti.

    Dari serangkaian proses tersebut, nuansa gotong royong benar-benar terasa kuat dalam setiap tahap persiapan.

    Pentas Operet Al Qomah
    Pentas Operet Al Qomah (Dok. sastrawacana.id/)

    Awalnya, wali kelas dari yayasan kemitraan Ustadz KH Yusuf Mansur hanya berbekal naskah sarat hikmah dan semangat pendidikan praktik baik. Dengan pengalaman yang masih terbatas, berbagai tantangan pun muncul.

    Titik terang hadir ketika Ketua Umum BKPRMI, Ahmad Sururudin, berkunjung ke rumah HM Basir Nadim, wali dari salah satu pemeran, Queen.

    Dari pertemuan itulah terjalin komunikasi dengan Divisi Media BKPRMI, yang sebelumnya telah menggelar pelatihan BCM (Bermain, Cerita, dan Menyanyi) untuk para ustaz LPPTKA.

    Tawaran bantuan langsung disambut oleh Bung Aguk Darsono, fasilitator BCM, yang turun tangan secara langsung.

    Dalam waktu terbatas, ia membimbing siswa melalui bedah naskah, latihan vokal, dan teknik dasar pernapasan.

    Ia tidak sendiri. Ia dibantu oleh tim dari Sanggar Merah Putih 45, yaitu Abdul Mun’im serta Nuhbatul Fakhiroh, pembina teater MTsN 1 Banyuwangi sekaligus juara baca puisi Radar Banyuwangi.

    Hanya dalam tiga hari, para siswa digembleng intensif dalam olah vokal dan penokohan.

    Rekaman suara yang semula diperkirakan selesai dalam dua jam ternyata memakan waktu hingga lima jam.

    Proses tersebut dipandu oleh tim Radio Bung Tomo JRKI dan Studio Aura Lentera yang digawangi oleh pasangan tunanetra nasionalis, Indah CC dan Nurhadi Windoyo. Keduanya dikenal sebagai juara nasional drama dan Iklan Layanan Masyarakat.

    Meski tak lepas dari dinamika, mulai dari suara bising di luar naskah, intonasi karakter yang belum konsisten, hingga kejadian unik saat rekaman dilakukan pada hari tasyrik, termasuk momen berbagi daging kurban dan kejutan ulang tahun salah satu bunda, proses terus berlanjut.

    Latihan lanjutan dilakukan di Aula Panti Khadijah dengan fokus pada blocking dan dubbing. Gladi kotor dilangsungkan pada Senin, 16 Mei 2025, di Lantai Dua Ocha Aksesoris dan Oleh-Oleh Banyuwangi, Jalan Dr. Soetomo.

    Gladi Kotor Al Qomah
    Gladi Kotor Al Qomah (sastrawacana.id/)

    Kehadiran pelatih teater dan pegiat literasi, Affandi Maulana, S.S., yang kerap menjadi juri baca puisi dan lomba bercerita, memberikan suntikan semangat dan motivasi tambahan bagi para siswa.

    “Alhamdulillah, penampilan anak-anak luar biasa. Tari kreasi merah putih dan operetnya ekspresif, penuh penghayatan, dan mendapat aplaus dari para hadirin. Semoga ke depan anak-anak bisa terus didampingi belajar public speaking, entah itu pidato, storytelling, MC, atau puisi,” ungkap salah satu bunda yang turut berperan sebagai paman dan mertua Al Qomah, saat ramah tamah di Restoran Rehana, dekat kediaman Bupati Banyuwangi.

    Penampilan ini bukan sekadar hiburan penutup, melainkan juga ruang pembelajaran karakter, akhlak, serta kreativitas. Sebuah permulaan yang menjanjikan untuk pembinaan seni dan adab Islami sejak usia dini.

  • Program Literasi Desa Segera Dimulai, PLT Camat Rogojampi Dukung Setiap Desa Mengabadikan Sejarah dan Potensinya

    Program Literasi Desa Segera Dimulai, PLT Camat Rogojampi Dukung Setiap Desa Mengabadikan Sejarah dan Potensinya

    Pemerintah Kecamatan Rogojampi terus menunjukkan komitmen serius dalam mendorong budaya literasi serta pelestarian warisan lokal melalui peluncuran program bertajuk Literasi Desa.

    Program ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Penerbit Lintang Banyuwangi dan media literasi online sastrawacana.id/, serta melibatkan para pegiat literasi dan budayawan.

    Program Literasi Desa dirancang untuk mendorong setiap desa di wilayah Kecamatan Rogojampi menuliskan sejarah, kebudayaan, tradisi, tokoh penting, serta potensi yang dimiliki desanya.

    Karya-karya tersebut nantinya akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku antologi, yang tidak hanya menjadi dokumentasi penting, tetapi juga sumber inspirasi dan referensi bagi generasi muda dan masyarakat luas.

    PLT Camat Rogojampi, Edy Basuki, SE, memberikan dukungan penuh terhadap program ini dan menyambut antusias partisipasi desa-desa yang akan terlibat dalam penulisan.

    “Program ini merupakan inovasi untuk meningkatkan literasi yang ada di Kecamatan Rogojampi. Dengan ini, diharapkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih mengenal desanya sendiri,” kata Edy.

    Menurutnya, banyak potensi dan kekayaan budaya yang selama ini belum terdokumentasikan secara layak, sehingga rentan terlupakan.

    Ia menegaskan bahwa dokumentasi dalam bentuk karya tulis merupakan bentuk pelestarian yang efektif dan abadi.

    “Jika tidak diabadikan dalam sebuah karya, setiap potensi desa akan terkikis seiring waktu. Kita punya kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa, dan itu harus diwariskan dalam bentuk yang bisa dibaca dan dipelajari sepanjang zaman,” tegasnya.

    Program Literasi Desa
    Program Literasi Desa (Dok. sastrawacana.id/)

    Sebagai contoh, Desa Kedaleman yang berada di wilayah Kecamatan Rogojampi dikenal memiliki beragam tradisi lokal yang khas dan menarik, seperti Ider Bumi, sebuah tradisi spiritual yang dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan desa, serta Pencak Obor, pertunjukan seni bela diri yang dilakukan dengan nyala obor sebagai simbol semangat dan keberanian.

    Tradisi-tradisi semacam ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat desa.

    Namun, tanpa dokumentasi tertulis, nilai-nilai tersebut bisa saja hilang ditelan zaman, terlebih saat ini sudah memasuki era digital yang sangat padat informasi.

    Dengan hadirnya program Literasi Desa, sejarah dan kekayaan budaya desa-desa akan terkuak dan tersaji dalam buku yang dapat dibaca oleh siapa saja, termasuk oleh generasi mendatang yang mungkin sudah tidak mengalami langsung masa-masa kejayaan tradisi tersebut.

    Buku ini diharapkan menjadi rujukan penting, semacam ensiklopedia desa yang berisi kisah otentik tentang bagaimana sebuah komunitas tumbuh, berkembang, dan hidup dalam bingkai nilai-nilai lokalnya.

    Kecamatan Rogojampi juga telah terlebih dahulu menunjukkan komitmennya terhadap gerakan literasi dengan membentuk sudut baca atau perpustakaan desa di setiap balai desa.

    Berkat inisiatif ini, Kecamatan Rogojampi berhasil meraihJuara Harapan dalam lomba perpustakaan tingkat kabupaten, membuktikan bahwa upaya literasi di kawasan ini bukan hanya slogan semata.

    Untuk mendukung implementasi program Literasi Desa, Kecamatan Rogojampi merangkul beberapa tokoh serta pegiat literasi di Banyuwangi, seperti Aguk Wahyu Nuryadi (budayawan yang juga pengurus Forum Banyuwangi Sehat), Maulana Affandi (pemimpin Redaksi Penerbit Lintang dan media online sastrawacana.id/), Yeti Chotimah (penulis sekaligus pemerhati budaya), Andi Budi Setiawan (sastrawan sekaligus ketua Kopiwangi), serta Heri Iskandar (penulis puisi dan pencipta lagu).

    Semuanya akan menjadi pendamping desa dalam proses penulisan, dari pembekalan teknis, penyusunan naskah, hingga kurasi isi sebelum diterbitkan.

    Aguk Wahyu Nuryadi yang akrab disapa Bung Aguk selaku koordinator tim menyambut baik program ini dan mengungkapkan optimismenya bahwa masyarakat desa mampu menghasilkan karya yang berkualitas.

    “Kami siap mendampingi desa-desa untuk menggali dan merangkai potensi lokal mereka dalam bentuk tulisan. Program ini luar biasa karena bukan hanya bicara literasi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan sejarah yang selama ini tersembunyi,” ucap Bung Aguk.

    Sementara itu, Maulana Affandi menekankan pentingnya menjadikan setiap desa sebagai subjek sejarahnya sendiri.

    “Kami percaya bahwa setiap desa punya kisah. Ada narasi lokal yang layak ditulis, ada potensi yang perlu dipetakan, dan ada sejarah yang perlu diangkat ke permukaan. Melalui program ini, kami ingin membantu desa menyuarakan identitasnya sendiri,” ujar Affandi.

    Dalam waktu dekat, Kecamatan Rogojampi akan mengundang seluruh kepala desa dan sekretaris desa untuk menghadiri pertemuan awal sebagai langkah pembuka.

    Pertemuan ini akan menjadi ajang perkenalan, pengarahan, dan penyusunan strategi pendampingan literasi desa yang sistematis dan terukur.

    Program ini bukan hanya soal menulis, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa desa adalah pusat pengetahuan yang autentik.

    Ketika desa mampu menarasikan dirinya sendiri, maka pembangunan berbasis identitas lokal akan semakin kuat dan berkelanjutan.

    Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pegiat literasi, dan masyarakat, Literasi Desa diharapkan menjadi model inspiratif bagi kecamatan lain di Banyuwangi, bahkan di Indonesia dalam menanamkan budaya menulis dan mencintai sejarah sendiri.

  • Dari Camat Rogojampi hingga Kabat, Dukungan Terus Mengalir untuk Banyuwangi Menuju Kabupaten Sehat

    Dari Camat Rogojampi hingga Kabat, Dukungan Terus Mengalir untuk Banyuwangi Menuju Kabupaten Sehat

    Ikhtiar Forum Banyuwangi Sehat (FBS) untuk menyukseskan Swasti Sabha Wistara terus digencarkan. Selama bulan Mei hingga Juni 2025, FBS melakukan kunjungan langsung ke 25 Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS), termasuk di antaranya ke Pendopo Kecamatan Rogojampi pada Selasa, (17/06/25).

    Kegiatan ini dihadiri oleh Muspika, Puskesmas, UPTD seperti Satkordikwilcam, para Kepala SMPN, Sekretaris Desa, serta kader PKK dan Pokja Desa Sehat.

    “Kami siap mendukung semangat OPD yang dipimpin oleh Kepala Bappeda serta membersamai 217 kepala desa dan lurah agar Kabupaten Banyuwangi tercinta kembali meraih Swasti Sabha Wistara ke Bumi Blambangan. Kita layak mendapatkannya karena berbagai inovasi dan prestasi yang telah dicapai, termasuk menjadi tujuan studi tiru dari berbagai daerah lain,” tekad Plt. Camat Rogojampi Edy Basuki, SE.

    Ia menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga pengelolaan IPAL Pasar, mengajak masyarakat mendukung program pengelolaan sampah “Banyuwangi Hijau”, serta meningkatkan pelayanan di semua sektor, terutama dalam pemenuhan 9 tatanan FBS.

    Camat Edy juga menggagas inovasi bersama Penerbit Lintang Kedaleman untuk menyambut Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) 2025 dengan menerbitkan buku berisi sejarah, adat istiadat, toponimi, serta potensi tematik dari 10 desa di wilayahnya.

    Sementara itu, Kepala Puskesmas Gitik, drg. A.I. Nurul, menyampaikan bahwa seluruh desa di wilayahnya telah aktif bergerak dan membangun sinergi yang baik.

    “Kami melihat perlunya tim khusus yang menangani dokumentasi dan pengarsipan. Dengan begitu, saat monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan, tersedia bukti nyata atas gerakan yang telah dilaksanakan oleh semua pihak,” ujarnya.

    Ia juga menyambut baik kehadiran FKKS dalam kegiatan di sekolah atau posyandu sebagai bentuk kolaborasi yang memperkuat implementasi program.

    Pernyataan tersebut disambut antusias oleh Ketua FKKS Rogojampi, Drs. Yaseni, M.Pd., yang juga aktif di PMI dan menjadi pelatih senam LTK.

    Hal senada diungkapkan Ketua FKKS Kecamatan Kabat, Yayuk Puji Rahayu, dalam rapat koordinasi di Balai Desa Pondoknongko usai menerima bimbingan teknis (bimtek) dari tim FBS: Bung Aguk Wahyu Nuryadi, Dewi Anggorowati, dan Qoriatul Adawiyah.

    “Kami bersama para kepala desa akan menggiatkan kaderisasi dan kolaborasi lintas program agar memiliki data dan fakta yang valid. Ini penting sebagai rujukan dalam menyusun program dan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang tepat. Kami juga berharap semua pihak memahami bahwa kehadiran FBS dan FKKS ke kecamatan atau desa bukan dalam rangka pemeriksaan, tetapi sebagai upaya pembinaan,” jelas aktivis lingkungan yang juga aktif di PKK tersebut.

    Harapan serupa datang dari pelaku seni dan adat tradisi, Agus Hermawan, S.Sos., NL.P., yang kini menjabat Kepala Desa Tambong.

    Ia mendorong agar seluruh SKPD yang memiliki keterkaitan dengan program kesehatan dan pendidikan duduk bersama menyusun petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang dapat dituangkan dalam Peraturan Bupati (Perbup).

    “Dengan adanya juklak-juknis yang jelas, tidak terjadi tumpang tindih program di lapangan, dan kader tidak perlu merangkap terlalu banyak tugas. Untuk sarana prasarana dan infrastruktur, penting juga dilakukan koordinasi dengan desa agar benar-benar sesuai kebutuhan dan mendukung terciptanya Desa Sehat yang harmonis dengan kearifan lokal,” tegasnya.

    Ia juga menyebut pentingnya pembangunan MCK umum dengan sistem pengairan yang baik sebagai upaya mengikis budaya buang air besar di sungai, walaupun masyarakat sudah memiliki toilet pribadi di rumah masing-masing.

    Sementara itu, Plt. Camat Kabat, Teddy Radiansyah, S.STP, yang hadir didampingi Kapolsek dan Danramil, berpesan kepada para kepala desa untuk melakukan penyegaran Surat Keputusan (SK) serta membenahi sekretariat Pokja Desa Sehat, menyesuaikan dengan hasil bimtek yang dilakukan di ruang Pokja Desa Sehat Pondoknongko pada hari yang sama.

    Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga predikat Kabat sebagai wilayah 100 persen Open Defecation Free (ODF), yang menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian Kabupaten Sehat.

  • Literasi Jadi Sorotan di Classion 2025: SMKPRO Buktikan Komitmen sebagai Sekolah Literasi Nasional

    Literasi Jadi Sorotan di Classion 2025: SMKPRO Buktikan Komitmen sebagai Sekolah Literasi Nasional

    SMK PGRI Rogojampi menggelar kegiatan classmeeting bertajuk “Classion – Classmeeting & Fusion” dengan mengusung tema “Kolaborasi dan Kompetisi antar Kelas yang Seru & Harmonis” pada Selasa, 17 Juni 2025.

    Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengisi waktu setelah pelaksanaan Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS) Genap selesai.

    Classmeeting tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena menghadirkan kolaborasi antara unsur atletik, seni, dan literasi.

    Peserta didik dari kelas X dan XI berpartisipasi dengan mengirimkan perwakilan dari tiap kelas untuk mengikuti berbagai lomba yang telah dijadwalkan.

    Kegiatan Classion berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 17 hingga 19 Juni 2025, bertempat di kampus SMK PGRI Rogojampi.

    Lomba atletik dan seni dilangsungkan di lapangan sekolah, sementara lomba literasi dipusatkan di aula.

    Salah satu panitia dari OSIS menyampaikan, “Classmeeting tahun ini berbeda dari sebelumnya. Adanya lomba literasi, khususnya cipta dan baca puisi, memberikan kesan tersendiri bagi peserta.”

    Apel pembukaan yang digelar pada pukul 07.00 WIB dipimpin oleh Waka Kesiswaan, Ahmad Misadi, S.P., S.Pd., sebagai pembina sembari memberikan motivasi kepada para peserta.

    Dalam amanatnya ia menyampaikan agar para siswa menjadikan kegiatan classmeeting ini untuk wadah belajar dan berkompetisi secara positif.

    “Jadikan kegiatan classmeeting ini bukan hanya momen untuk kesenangan, tapi juga sebagai wadah belajar dan berkompetisi, melatih sportivitas serta rasa tanggung jawab.”

    Tahun ini, SMK PGRI Rogojampi juga berpartisipasi dalam Program Sekolah Literasi Nasional 2025 yang diadakan oleh Nyalenesaia.

    Hal ini selaras dengan penyelenggaraan lomba literasi cipta dan baca puisi yang memberikan ruang serta peluang bagi peserta didik pecinta literasi untuk semakin bersemangat berkarya.

    Adapun jenis lomba yang digelar dalam Classion 2025 meliputi:

    • Lomba cipta & baca puisi
    • Balap karung
    • Estafet borung
    • Senam
    • Mendongeng
    • Octopus race
    • Estafet sedotan
    • Tari

    Lomba cipta dan baca puisi dilaksanakan dalam dua sesi terpisah. Pada sesi pertama, yaitu lomba cipta puisi, setiap peserta diwajibkan melakukan registrasi sebelum memasuki ruang lomba yang telah ditentukan.

    Dalam ruangan tersebut, peserta hanya diperkenankan membawa bolpoin, sedangkan kertas disediakan langsung oleh panitia.

    Aturan ini diterapkan untuk memastikan bahwa setiap puisi yang ditulis merupakan hasil karya orisinal peserta, tanpa bantuan teknologi apa pun, termasuk kecerdasan buatan (AI), dan sesuai dengan tema yang telah ditentukan.

    Peserta diberikan waktu 40 menit untuk menyelesaikan puisinya. Hasil karya kemudian dikumpulkan untuk dinilai oleh dewan juri.

    Tidak hanya menulis, peserta juga diwajibkan membacakan puisinya dalam sesi kedua lomba baca puisi.

    Penilaian dilakukan berdasarkan dua aspek: kualitas cipta puisi dan performa baca puisi dengan kriteria yang telah ditetapkan.

    Antusiasme peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pendaftar dalam lomba cipta dan baca puisi.

    Fakta ini membuktikan bahwa tingkat literasi di SMK PGRI Rogojampi mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya dan menjadi nilai tambah yang berpengaruh dalam akreditasi sekolah.

    Sesi kedua lomba baca puisi berlangsung meriah dan penuh ketegangan.

    Para peserta tampak antusias, meski tak sedikit yang menunjukkan raut gugup hingga pucat saat naik ke panggung untuk membacakan karya mereka secara langsung.

    Penilaian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama: vokal, ekspresi, dan totalitas penampilan.

    Salah satu juri, Andi Budi Setiawan, menyampaikan, “Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang telah sampai tahap ini. Kalian semua adalah pemenang karena sudah dipercaya sebagai perwakilan kelas. Berikan penampilan terbaik sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Selamat berkompetisi!”

    Para peserta benar-benar memberikan performa maksimal.

    Dewan juri pun menghadapi tantangan berat dalam menentukan juara 1, 2, dan 3 karena banyak peserta yang tampil luar biasa dengan vokal yang kuat, ekspresi penuh makna, dan totalitas dalam pembacaan puisi.

    Secara keseluruhan, semua peserta memberikan pertunjukan yang memukau bagi para penonton.

    Lomba baca puisi menjadi penutup kegiatan Classion hari pertama dengan kesan yang mendalam. Pada hari kedua, agenda dilanjutkan dengan lomba mendongeng menggunakan Bahasa Using (bahasa asli masyarakat Banyuwangi).

    Sedangkan hari ketiga akan diisi dengan lomba tari dan puncaknya adalah penyerahan penghargaan (award) kepada para pemenang.

    Kegiatan Classion ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi sehat, melainkan juga sebagai ruang kolaborasi dan ekspresi kreativitas siswa di berbagai bidang. Semangat ini selaras dengan jargon SMKPRO:

    “SMK Bisa! SMK Hebat! SMK PGRI Rogojampi Bisa! Hebat! Siapa Kita? SMKPRO!”

  • Syukuran Kepulangan dari Tanah Suci, Bupati Banyuwangi Gelar Walimatul Hajj Bersama Tokoh dan Warga

    Syukuran Kepulangan dari Tanah Suci, Bupati Banyuwangi Gelar Walimatul Hajj Bersama Tokoh dan Warga

    Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menggelar acara walimatul hajj di kediaman pribadinya pada Jumat (13/6/2025).

    Acara ini dihadiri oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh masyarakat, serta para tetangga di sekitar kediaman Bupati.

    Walimatul hajj ini merupakan bentuk ungkapan syukur atas kepulangan Bupati Banyuwangi dari tanah suci Makkah usai menunaikan ibadah haji.

    Suasana acara semakin khidmat dengan pembacaan doa dan penampilan hadrah dari Majelis Shalawat Sajadah Nusantara.

    Ketua OJK bersama para tamu undangan menyampaikan ucapan selamat kepada Bupati atas kepulangannya dari ibadah haji.

    Mereka juga menyampaikan apresiasi atas semangat Bupati yang berhasil menjalankan ibadah haji dengan baik, sembari tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin daerah.

    Kebahagiaan juga dirasakan oleh masyarakat Banyuwangi atas kepulangan pemimpin mereka.

    Tak sedikit yang berharap agar Bupati Ipuk Fiestiandani dapat menjadi teladan dalam menjalani kehidupan beragama dan menjalankan tugas pemerintahan dengan penuh integritas.

    Dalam sambutannya, Bupati Ipuk membagikan pengalaman berhajinya di tahun ini yang menurutnya sangat luar biasa, terutama karena adanya perubahan sistem pelaksanaan haji berbasis syarikah.

    Perubahan sistem ini disebutnya membawa dampak positif terhadap keteraturan dan keamanan proses ibadah haji.

    “Pelaksanaan haji tahun 2025 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan adanya penerapan berbasis syarikah dan pemeriksaan secara ketat kepada jamaah haji oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia,” ujarnya.

    Tak lupa, Bupati juga menyampaikan bahwa selama di tanah suci, dirinya memanfaatkan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan jamaah haji asal Banyuwangi.

    Ia pun menitipkan doa untuk keberkahan, keselamatan, dan kemajuan Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam penutup sambutannya, Bupati berharap agar seluruh perangkat kerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dapat melaksanakan tugas dengan baik, penuh tanggung jawab, dan senantiasa mendapat keberkahan dari Allah SWT.

    Acara walimatul hajj tersebut berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan, menjadi momen syukur yang tak terlupakan bagi Bupati Banyuwangi serta seluruh tamu undangan yang hadir.

    Kegiatan walimatul hajj ini tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur pribadi Bupati Ipuk Fiestiandani, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat.

    Momentum spiritual ini menjadi pengingat akan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai religius, serta semangat kebersamaan dalam membangun Banyuwangi yang lebih baik.

  • Bimtek Pokja Desa Sehat Digelar di Srono dan Cluring, Camat Tekankan Pentingnya Dokumentasi dan Sinergi

    Bimtek Pokja Desa Sehat Digelar di Srono dan Cluring, Camat Tekankan Pentingnya Dokumentasi dan Sinergi

    Camat Srono yang sekaligus menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani secara resmi membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Kelembagaan Pokja Desa Sehat pada Kamis (12/06/2025).

    Kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi, yakni pagi hari di aula Kecamatan Srono dan siangnya di Kecamatan Cluring, dengan menghadirkan fasilitator dari Forum Banyuwangi Sehat (FBS).

    Dalam sambutannya, Ir. Tri Wahyu Angembani menyampaikan bahwa pada dasarnya seluruh program desa sehat telah berjalan dengan baik.

    Para aparat dan kader sudah aktif bergerak. Namun, ia menekankan perlunya peningkatan dalam hal dokumentasi dan pengarsipan yang seringkali belum dilakukan secara rapi dan terstruktur sesuai timeline.

    “Mung kadang luput didokumentasikan dengan timeline dan pengarsipan ndak rapi. Dan sebagai gerakan boleh dapat partisipasi CSR atau sumbangan tak mengikat yang bila bentuk makanan atau barang hendaknya dicatat dalam nilai rupiah!” tutur sosok perempuan energik yang juga dikenal sebagai ahli investasi dan penanaman modal. Ia merupakan teman semasa SMPP ’86 dari Wakil Bupati Ir. H. Mujiono, M.Si.

    Pejabat yang akan memasuki masa purna tugas di akhir tahun ini juga berharap agar seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan desa dapat mengikuti bimtek ini secara seksama.

    Hal ini bertujuan agar masing-masing desa mampu mengirimkan data yang valid serta melakukan sinkronisasi program dengan semangat kolaborasi.

    Ia pun mengimbau agar para peserta membawa laptop untuk mendukung proses pelatihan yang lebih efektif.

    Ia menambahkan, apabila Banyuwangi berhasil meraih penghargaan Swasti Saba Wistara, hal tersebut tentu akan berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, minat investor dalam menanamkan modal, serta mewujudkan masyarakat yang sentosa.

    Dari pihak Forum Banyuwangi Sehat (FBS), Desika Ulfarisa menjelaskan bahwa inti dari kelembagaan Pokja Desa Sehat mencakup lima hal utama, yakni Surat Keputusan (SK) pengurus, program kerja, laporan keuangan, sekretariat tetap, dan dokumentasi kegiatan.

    Penjelasan tersebut dilengkapi oleh Pipit Haryono yang turut membagikan link drive berisi panduan teknis, didampingi oleh Forum Komunikasi Kecamatan Sehat: M. Harun di Kecamatan Srono dan Imam di Kecamatan Cluring.

    Ditekankan bahwa pada bulan depan, laporan setengah semester tahun 2025 diharapkan sudah dapat disusun secara mandiri oleh masing-masing desa dengan mengedepankan kearifan lokal.

    Dari divisi TP PKK yang tergabung dalam FBS, Dewi Anggorowati menjelaskan bahwa penilaian Kabupaten Sehat meliputi sembilan tatanan, ditambah aspek kelembagaan yang kini menjadi perhatian utama.

    “Mari semangat tanpa perlu dioprak dengan injuri time, sudah bisa dicicil sesuai data dan fakta!” harapnya di hadapan peserta yang terdiri dari Kasie Kesra, Pokja Desa Sehat, kader PKK, Posyandu, dan KPM Rumah Desa Sehat.

    Ia juga mengingatkan agar sepulang dari Bimtek, seluruh peserta segera melakukan koordinasi dengan bagian perencanaan, sekretaris desa, serta pemangku kepentingan di bidang kesehatan guna menindaklanjuti materi yang telah diterima.

    Dalam sesi diskusi, terungkap berbagai keluhan dan kebingungan yang sering ditemui di lapangan.

    Namun, peserta mengaku merasa lebih lega dan tercerahkan setelah mengikuti bimtek, karena pada dasarnya sebagian besar program dan kegiatan tersebut telah dijalankan.

    Melalui pelatihan ini, terbentuk kesamaan persepsi mengenai tujuan bersama yaitu mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera, aman, asri, bersih, dan bahagia.

    Kehangatan dan antusiasme peserta turut terlihat dari senyuman Kasie PMK Kecamatan Srono, Imam Basori, dan Kasie PMK Kecamatan Cluring, Arif, yang juga hadir sebagai penasehat bersama Sekretaris Camat.

    Sementara itu, PLKB Cluring, Syaiful Bahri yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Forum Komunikasi Kesehatan Sekolah (FKKS) di Sempu, menyampaikan bahwa mulai tahun ini diharapkan adanya dokumen valid yang dapat menjadi acuan utama bagi para pengambil kebijakan.

    Ia mengakui bahwa proses pembelajaran terkadang terasa tumpang tindih, namun menjadi lebih ringan dan menyenangkan karena dijalani bersama dengan semangat gotong royong untuk kepentingan bersama, sesuai amanat dan tanggung jawab masing-masing pihak.

  • Kolaborasi Pokja dan Rumah Desa Sehat di Blimbingsari Hadirkan Sinergi Baru bagi Pembangunan Kesehatan Masyarakat

    Kolaborasi Pokja dan Rumah Desa Sehat di Blimbingsari Hadirkan Sinergi Baru bagi Pembangunan Kesehatan Masyarakat

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Blimbingsari mempertemukan dua lembaga yang sama penting dan berbasis pada tema kesehatan, namun di lapangan terasa berjalan sendiri-sendiri.

    Kedua lembaga tersebut adalah Pokja Desa Sehat yang dimotori oleh Kementerian Kesehatan dan Bappenas, serta Rumah Desa Sehat (RDS) yang diinisiasi oleh Kementerian Desa.

    Keduanya juga memiliki regulasi bersama dari Kementerian Dalam Negeri yang melibatkan Gubernur, Bupati/Wali Kota, serta Camat, dengan sasaran yang sama yaitu melibatkan Kepala Desa dan masyarakat.

    Di lapangan, terdapat pihak-pihak lain yang juga bergerak dalam bidang yang sama, seperti PKK (khususnya Pokja IV PKK) serta Bidan Wilayah/Bidan Desa dari Puskesmas, sehingga terkadang tumpang tindih dan terkesan ego-sentris.

    Bertempat di Balai Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, telah dilaksanakan serangkaian sosialisasi pembangunan sumber daya manusia dan lingkungan yang menghadirkan pengurus PKK, Pokja Desa Sehat, serta kader RDS dari 10 desa.

    Plt. Camat Blimbingsari, H. Khoirul Anam, dalam sambutannya menyampaikan betapa pentingnya kolaborasi dan komunikasi antar pemerintahan desa untuk pengembangan sumber daya manusia.

    “Kolaborasi dan komunikasi antar pemerintahan desa di tingkat desa sangat menyokong tumbuh kembangnya pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya. Untuk itu, diharapkan kader desa dapat menjadi jembatan antar program pemerintah yang sesungguhnya saling mendukung untuk kepentingan desa itu sendiri, yang misinya adalah masyarakat sehat, nyaman, aman, sejahtera, dan bahagia!” tuturnya.

    Ia juga berpesan agar semua pihak menjaga kebersihan lingkungan, termasuk mengawasi MCK di sungai karena Kabupaten Banyuwangi telah mendeklarasikan 100% ODF (Open Defecation Free).

    Plt. Camat yang kini menempati kantor baru di kawasan Pantai Pecemengan ini juga menyampaikan sejumlah prestasi tematik desa-desa di Kecamatan Blimbingsari.

    Di antaranya Desa Sukojati sebagai Desa Anti Korupsi, Desa Patoman sebagai Desa/Kampung Pancasila dan Kampung Kebangsaan, Gintangan yang akan menerima tamu studi banding UMKM kerajinan bambu dan gula kelapa, serta Desa Karangrejo yang baru saja menjuarai lomba Perpustakaan Desa dan Rumah Desa Sehat.

    “Dan Desa Bomo sendiri maju ke tingkat nasional atas kinerja zero stunting. Mohon doa restunya!” tambahnya seraya disambut tepuk tangan para hadirin.

    Sementara itu, Kepala Desa Bomo, Ir. M. Sutikno, dalam sambutan selamat datangnya juga mendoakan agar H. Khoirul Anam dapat segera menjadi Camat definitif karena simpati dan kinerjanya yang baik.

    Sekretaris FKKS Blimbingsari yang juga Kasie PMK Kecamatan Blimbingsari, Abdul Aziz, S.H., M.H., selaku moderator mempersilakan narasumber pertama, Aguk Wahyu Nuryadi dari Forum Banyuwangi Sehat.

    Ia mengapresiasi pertemuan yang mempertemukan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) dengan DPMD Kabupaten Banyuwangi yang selama ini memiliki program RDS yang masih dipertanyakan di semua kecamatan.

    Kini, telah ditemukan titik temu yang bisa menjadi inspirasi bagi kecamatan lainnya.

    Narasumber kedua, Novita Eka Herawati, S.AP., Fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat Bidang Pemberdayaan Kelembagaan Masyarakat dan Sosial Budaya DPMD, dalam paparannya menyampaikan bahwa Rumah Desa Sehat merupakan rumah bersama semua kelembagaan kesehatan dan menjadi pintu untuk mengumpulkan data, dokumen, hingga menjadi sarana advokasi yang menjadi rekomendasi bagi pemegang kebijakan dalam mengambil keputusan.

    “Semua penting dan semua harus dirangkul dengan semangat gotong royong. Saat banyak FKKS dan Pokja Desa Sehat bertanya soal isian data FBS, saya menghubungi kader RDS untuk sinergi. Maka camat bisa tenang saat ada forum di Bappeda. Saya juga menunggu undangan dari camat atau FKKS soal kolaborasi ini. Baru Blimbingsari yang mengawali langkah untuk duduk bersama menyamakan persepsi dan mimpi bersama ini!” tutur.

    KTU Puskesmas, Tuti Lestari A. Jd. Keb., juga menyambut baik pertemuan ini.

    “Maka narasi dan potret timeline bidan desa bisa digunakan untuk mendukung Pokja dan RDS. Kita bisa bersama-sama dalam satu rumah, satu WAG, untuk membuat data tunggal yang nantinya akan dipilah oleh pengurus harian RDS. Mereka punya komputer dan printer, lalu data akan diolah oleh Kasie PMK Kecamatan ataupun pengurus FKKS,” tutur pembina RDS Desa Karangrejo yang siap melangkah ke tingkat provinsi.

    Selesai dialog, peserta masih melanjutkan diskusi. Harapan moderator, kegiatan ini tidak hanya berhenti di administratif saja, tetapi juga bisa berjalan sesuai harapan dalam pelaksanaannya di lapangan.

    Sementara itu, Camat bersama Kepala Desa dan BPD Bomo melakukan kunjungan dan memberikan tali asih kepada warga Dusun Kedunen yang semalam tertimpa musibah kebakaran.

  • Boyong Tiga Piala, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi Tampil Gemilang di HAN 2025

    Boyong Tiga Piala, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi Tampil Gemilang di HAN 2025

    Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam perhelatan akbar peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2025.

    Kegiatan ini berlangsung meriah di halaman TK Negeri Model Banyuwangi pada Sabtu (31/05) dan diikuti oleh puluhan lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.

    Diselenggarakan oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Banyuwangi, ajang ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan bakat, kreativitas, serta semangat berkompetisi secara positif dalam suasana yang menyenangkan.

    Tidak hanya menjadi tempat menampilkan talenta, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter anak sejak dini melalui pengalaman langsung di atas panggung.

    Pada kesempatan kali ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi tampil mencuri perhatian dengan berhasil membawa pulang tiga piala kemenangan dari berbagai cabang lomba, yakni:

    • Juara 1 lomba mewarnai tingkat TK se-Kabupaten Banyuwangi
    • Juara 1 lomba lari rintangan
    • Juara 2 lomba menari bertema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”

    Capaian ini tentu bukan hasil instan, melainkan buah dari kerja keras para guru dalam membina anak-anak secara konsisten, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua murid yang terus terjalin harmonis.

    Kelompok Tari TK Kemala Bhayangkari
    Kelompok Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Salah satu momen paling mengesankan dalam kegiatan ini adalah penampilan tim tari TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam lomba menari yang mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.

    Dengan kostum nyentrik yang mencerminkan semangat anak-anak masa kini dan gerakan tari yang enerjik serta terkoordinasi dengan baik, tim ini sukses memukau dewan juri dan penonton.

    Tak heran jika mereka berhasil meraih posisi sebagai Juara 2 tingkat Kabupaten dan menuai banyak pujian.

    Ketua Komite Sekolah, Sugeng, memberikan apresiasi tinggi atas usaha dan kepercayaan diri para peserta didik.

    Ketua Komite TK Kemala Bhayangkari
    Ketua Komite TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam wawancaranya, beliau menyampaikan rasa bangga atas sinergi yang kuat antara guru, siswa, dan orang tua.

    “Anak-anak menunjukkan performa yang luar biasa. Mereka tampil percaya diri, antusias, dan sudah cukup matang untuk ukuran usia dini. Ini adalah hasil nyata dari semangat kebersamaan serta dukungan luar biasa dari para guru dan orang tua,” ujarnya penuh kebanggaan.

    Kebanggaan serupa juga dirasakan oleh para wali murid, salah satunya Eva, orang tua dari peserta lomba tari yang terharu ketika melihat anak-anak menari di atas panggung.

    “Rasanya haru sekali melihat anak-anak tampil sepenuh hati. Mereka begitu percaya diri, dan sebagai orang tua, itu adalah momen yang sangat menyentuh. Kami sangat bersyukur bisa menyaksikan sendiri proses mereka belajar, berlatih, hingga meraih juara,” tutur Eva dengan penuh haru.

    Yang membuat lomba menari tahun ini semakin spesial adalah kehadiran Subari Sofyan, seorang maestro tari tingkat nasional yang didapuk sebagai juri utama.

    Dengan pengalaman panjang di dunia seni pertunjukan, Subari memberikan penilaian yang mendalam dan menyeluruh terhadap setiap penampilan peserta.

    Ia tidak hanya menilai dari aspek gerakan tari, namun juga memperhatikan kostum, pemilihan musik, ekspresi wajah, penguasaan panggung, serta keselarasan gerak antar anggota tim.

    Subari Sofyan
    Juri dan Tim Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Tak berhenti di situ, Subari juga menyempatkan diri untuk memberikan edukasi seni kepada peserta dan para pendamping, menjadikan ajang ini tidak hanya kompetitif namun juga edukatif.

    Melalui torehan prestasi ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi menunjukkan bahwa pembinaan karakter dan bakat anak usia dini harus dilakukan secara menyeluruh dan terarah.

    Lingkungan belajar yang positif, guru-guru yang berdedikasi, serta dukungan penuh dari orang tua menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang unggul, percaya diri, dan berprestasi.

    Ajang Hari Anak Nasional tahun ini menjadi bukti bahwa anak-anak, meskipun masih sangat belia, namun mampu tampil mengesankan bila diberikan kesempatan, bimbingan, dan ruang untuk berkembang.

    Dan TK Kemala Bhayangkari Rogojampi telah membuktikannya dengan beberapa prestasi yang sangat gemilang.