Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, Kecamatan Kecamatan Rogojampi menggelar sejumlah rangkaian kegiatan yang dimulai pada Sabtu, 16 Agustus 2025.
Kegiatan pembuka diawali dengan pengukuhan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) oleh Camat Rogojampi, Edy Basuki, S.E.
Camat menjelaskan bahwa pengukuhan ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni penggunaan kendit yang dipasang sebagai selendang oleh orang tua kepada putra-putri mereka.
Simbol tersebut menjadi tanda kebanggaan baik bagi siswa-siswi maupun orang tua.
“Ini adalah kebanggaan bersama. Putra-putri merasa senang, orang tua pun juga senang,” ujar Camat Rogojampi.
Selain pengukuhan, malam ini juga digelar acara tasyakuran yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari muspika, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga orang tua anggota Paskibraka.
Acara tasyakuran ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
“Setiap bangsa Indonesia pasti mengadakan tasyakuran. Begitu juga di Kecamatan Rogojampi, sore ini kita melaksanakannya bersama,” tambah Camat.
Adapun pada hari Minggu 17 Agustus 2025, upacara pengibaran bendera merah putih akan dilaksanakan di lapangan Lugjag pada pagi hari.
Sore harinya akan dilanjutkan dengan upacara penurunan bendera sebagai rangkaian penutup peringatan HUT ke-80 Proklamasi Kemerdekaan RI di tingkat kecamatan.
Dalam kesempatan tersebut, Camat Rogojampi juga berpesan kepada masyarakat agar selalu mengingat jasa para pejuang dan tetap menjaga persatuan.
"Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib mengingat perjuangan para pahlawan kita dan wajib mempertahankan NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Peringatan HUT RI ke-80 di Kecamatan Rogojampi diharapkan dapat berjalan lancar serta menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebangsaan dan membangun wilayah yang lebih baik ke depannya.
Banyuwangi yang dikenal sebagai Indonesia Mini karena hidup berbagai suku di bumi Blambangan, mencoba menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang difasilitasi Bappeda pada Jumat, 15 Agustus 2025 di Pelinggihan Disbudpar.
Digelar melalui forum diskusi dengan mengundang tokoh adat dan etnis yang mayoritas merupakan pengurus Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) binaan Badan Kesbangpol, serta tokoh pelaku adat Osing dan akademisi.
Kabid Kebudayaan Disbudpar, Dewa Alit, menjelaskan bahwa sebagai kota budaya, Banyuwangi perlu memiliki kerangka acuan dan data lengkap mengenai potensi adat istiadat.
Data ini tidak hanya menjadi dasar kebijakan kebudayaan, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi atraksi dan destinasi pariwisata jangka menengah yang terus digali dan dilestarikan.
Karena itu, forum diskusi ini digelar untuk menjaring masukan dan saran terkait kerangka yang telah disusun oleh Tim PPKD.
I Kadek Yudiana, dosen sejarah Untag, telah merinci ada 45 adat tradisi dari suku adat dan etnis yang bersentuhan dengan insan, alam, dan Tuhan.
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (Dok. sastrawacana.id/)
Sementara itu Ketua FPK, Miskawi yang juga dosen sejarah Uniba, berharap mocoan Osing yang telah ditulis bisa ditambah mocopat Jawa dan mamaca Madura. Istilah dan sebutan sesuai suku tetap perlu dipertahankan untuk kekayaan literasi dan pemetaan.
Purwadi asal Kemiren mendukung apa yang disampaikan semua tokoh adat karena tidak ingin ada "usingisasi" di Banyuwangi yang memang beragam etnis.
Ia hanya berharap bagaimana Boso Using menjadi bahasa, bukan bahasa Jawa dialek Using, serta adanya kesepahaman soal ejaan dan istilah.
"Dan yang ndak setuju bila pejabat dan tokoh budaya pakai bahasa asing dan ganggu kesakralan adat tradisi untuk kepentingan pidato pejabat apalagi ada unsur politik!" tutur Cantrik Eyang Tojo, pembina AMAN ini.
Dari Desa Kebangsaan dan Pancasila, Patoman, Made Widagdo menyampaikan sejarah Kampung Bali yang telah berdiri lebih dari dua abad.
“Monggo dipilah-dipilih unsur agama dan tradisi Bali serta yang sudah kolaborasi kreatif dengan budaya Jawa, Madura, dan Osing!” tutur tokoh religius, sejarawan, sekaligus pengrajin souvenir hingga tongkat komando ini.
Sedang Puang Faisal Mandar berharap pemerintah hadir kala pelaku adat nguri-nguri tradisi. Tapi hanya fasilitasi ndak intervensi ritual upacara adat.
“Pernah pejabat paksa adakan saulak pernikahan padahal belum waktunya ijab qobul. Dan boleh disbudpar sinergi dengan dinas yang bina RPH bantu kepala sapi saat petik laut Mandar yang masuk Banyuwangi Festival serta mau kondisikan semacam bazaar hingga kuliner khas yang dijual pelaku adat!” ungkap tetua adat yang ruang tamunya jadi museum peninggalan adat.
Banyak masukan lisan dari perwakilan Batak, Minang, Arab dan tertulis dari Tionghoa tentang kesenian maupun kuliner khas.
Ketua DKB, Hasan Basri, juga memberikan masukan yang menarik dan menjadi pegangan tim untuk penyempurnaan, serta melanjutkan diskusi dan wawancara, termasuk pembagian kuesioner.
Dari Bappeda yang merekam dan mencatat jalannya diskusi, Datu, terpukau dan menyimak seksama aspirasi para pelaku adat tradisi yang kerap mengalami dinamika dengan tokoh agama atau protokoler pejabat.
“Harapannya, kita sering bertemu, berbincang sambil ngopi untuk mengungkit pemicu yang pada pertemuan ini belum semua diungkapkan. Tim memang dipacu, tapi jangan terburu-buru. Perlu membuat Google Form untuk menampung inspirasi dan aspirasi dengan cara yang sederhana agar menghindari kesalahan. Bagaimana juga bisa menjadi stimulan kesejahteraan bagi pelaku adat dan seniman. Setiap event bisa menjadi atraksi dan setiap tempat bisa menjadi destinasi wisata. Dan untuk menjaga kesakralan bersih desa adat atau sedekah bumi atau petik laut, pelaku utama dan sutradaranya adalah mereka sendiri. Penonton atau tamu undangan adalah penggembira!” tukas putra guru Bahasa Indonesia yang gemar mempelajari bahasa Jawa kromo inggil ini.
Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman.
Pada Senin, 11 Agustus 2025, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan inovasi pada sembilan tatanan Kabupaten Sehat dalam agenda verifikasi lanjutan tingkat nasional.
Kegiatan ini berlangsung secara daring dari Aula Rempeg Jagapati Pemkab Banyuwangi.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ipuk didampingi oleh Wakil Bupati Mujiono, Sekretaris Daerah Guntur Priambodo, Asisten MY Bramudya, Kepala Bappeda Yayan TW, serta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah.
Turut hadir pula Ketua Forum Banyuwangi Sehat Soekarjo beserta jajaran, perwakilan Forum Kabupaten/Kota Sehat (FKKS) Frida, Camat Kota Banyuwangi Hartono, Ketua TP PKK Anna Nazili Hanim, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya yang berperan dalam pengembangan Kabupaten Sehat.
Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat Tingkat Nasional (Dok. sastrawacana.id/)
Dalam pemaparannya, Bupati Ipuk menyoroti berbagai inovasi dan prestasi yang telah dicapai Banyuwangi pada masing-masing tatanan.
Ia juga memaparkan penghargaan yang telah diraih, mulai dari tingkat nasional hingga pengakuan internasional seperti status Geopark.
Semua pencapaian tersebut menjadi pertimbangan penting agar Banyuwangi kembali memperoleh penghargaan Swasti Sabha Wistara.
Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi antarinstansi dan kolaborasi berbagai pihak yang terus bekerja melayani masyarakat.
Agenda verifikasi lanjutan ini dimoderatori oleh perwakilan Kementerian Kesehatan RI, Anugerah, yang memberikan kesempatan kepada Dirjen untuk menyampaikan sambutan.
Tim verifikator nasional kemudian memberikan catatan, masukan, dan permintaan data tambahan yang berkaitan dengan dokumen yang telah dikirim serta dinilai oleh pembina KKS Provinsi Jawa Timur.
Tidak semua kota atau kabupaten lolos ke tahap verifikasi lanjutan. Bagi yang terpilih, tim nasional juga berpeluang melakukan tinjauan langsung ke lapangan untuk memastikan kesesuaian antara dokumen dan kondisi nyata.
Asisten MY Bramudya dalam sambutannya menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan semata-mata untuk memperoleh penghargaan atau trofi.
Hal yang lebih penting adalah memastikan Banyuwangi tetap menjadi daerah yang bersih, nyaman, dan sehat, baik bagi warganya maupun bagi para tamu yang datang berkunjung.
Sebagai tindak lanjut, seluruh catatan dari tim verifikasi nasional akan segera ditindaklanjuti.
Dalam waktu maksimal 2 x 24 jam, data tambahan dan dokumen yang diminta akan disiapkan oleh SKPD terkait sesuai dengan sembilan tatanan Kabupaten Sehat.
Dalam rangka memperingati Hari Veteran Nasional ke 68 dan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80, Perkumpulan Gotong Royong 45 bekerja sama dengan Media sastrawacana.id/, Jurnalnews, dan Penerbit Lintang menggelar kunjungan ke dua tokoh veteran di Banyuwangi, yaitu IGB Sudharma dan Saimah, S.Hub. Int pada Sabtu (9/8/25).
Sebelumnya, pada Kamis (7/8/2025), rombongan juga bertakzim kepada istri para pejuang kemerdekaan, yaitu Chasiastoetie (85), istri mendiang Suherman yang dimakamkan di TMP Wiswa Raga Satria, serta Wahyuni Oneng (89), istri mendiang Soedarsono Pr, anggota Brigade XII Mas TRIP Jatim yang turut mempertahankan kemerdekaan bersama arek-arek Suroboyo pada 10 November 1945.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada para veteran yang telah mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Safari juga mengajak generasi muda untuk terus mengenang perjuangan para pejuang sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Tidak sekadar berkunjung, tim turut melakukan sesi wawancara podcast dan akan dipublikasikan melalui kanal YouTube sastrawacana.id/.
Harapannya, kisah perjuangan ini dapat tersampaikan ke seluruh pelosok negeri, terutama kepada anak muda yang menjadi penerus bangsa,
Sesi Pertama: Menyusuri Kisah Perjuangan IGB Sudharma
Veteran IGB Sudharma (Dok. sastrawacana.id/)
Kunjungan pertama berlangsung di kediaman IGB Sudharma, Perumahan Kalipuro Asri, Banyuwangi.
Sebagai informasi, IGB Sudharma adalah sosok pejuang yang cukup menginspirasi anak muda.
Ia kerap datang di berbagai kegiatan sekolah untuk memberi motivasi dan semangat untuk mencintai tanah air dan pelestarian jiwa serta nilai juang 45.
Dalam sesi wawancara yang dipandu oleh Heri Iskandar, veteran yang pernah bertugas di Timor Timur ini memaparkan pengalamannya bertaruh nyawa demi menjalankan misi negara.
Ia bercerita bagaimana setiap hari harus saling rangkul dan bekerjasama dengan sesama prajurit karena situasi saat itu sangat genting.
"Saat itu, saya dan rekan-rekan bertugas di Timor Timur dan pernah bersama Pak Prabowo Subianto. Setiap hari kami berada di garis depan, menghadapi medan berat, dan siap berkorban kapan saja demi merah putih,” ujar IGB Sudharma dengan sorot mata yang tajam, sembari tunjukkan lengan yang sempat terkena peluru.
Dikenal sebagai petarung andal, IGB Sudharma menguasai berbagai cabang bela diri seperti karate, judo, dan tinju.
Ia bahkan menunjukkan sejumlah dokumentasi saat melatih bela diri, memperlihatkan sisi kedisiplinan dan ketangguhan yang masih terjaga hingga kini.
Di penghujung sesi, suasana berubah haru ketika IGB Sudharma membacakan puisinya berjudul Balada Seorang Veteran. Suaranya bergetar, air mata pun menetes.
“Puisi ini saya tulis untuk semua pejuang yang pernah merasakan dingin malam dan panasnya peluru demi negeri ini,” tuturnya.
Selain dikenal sebagai pejuang, IGB Sudharma juga seorang penyair yang telah merangkai kata sejak masa muda.
Bahkan saat masih aktif bertugas, ia tetap menyempatkan diri menulis puisi. Semua karyanya kini dihimpun dalam sebuah buku berjudul Memoar Sang Veteran yang diterbitkan oleh Penerbit Lintang.
Sesi Kedua: Menapak Jejak Perjalanan Saimah
Veteran Saimah (Dok. sastrawacana.id/)
Usai dari kediaman IGB Sudharma, rombongan melanjutkan kunjungan ke Perumahan Brawijaya Cevila Indah, tempat tinggal Saimah, S.Hub. Int.
Veteran wanita ini menyambut tim dengan ramah, mengenakan seragam tugasnya sambil memperkenalkan diri dan bercerita tentang awal mula pengabdiannya di TNI AD hingga kini jadi komandan Kaminved Situbondo.
Sesi wawancara kepada Saimah dipandu oleh Bung Aguk PPM yang merupakan anak seorang veteran juga.
Dalam sesi wawancara, diketahui karier militer Saimah dimulai dari Disinfolahta Mabes AD. Diawali dari situ, ia mulai menapaki perjalanan panjang yang membawanya ke berbagai penugasan penting.
Salah satunya pada tahun 2014, Saimah dipercaya untuk bergabung dengan Satgas Indobat XXIII-H Unifil di Lebanon sebagai Pasi Cimic.
Delapan tahun kemudian, tepatnya 2022, ia mengemban amanat menjadi UN Military Staff Minusca di Central Asia Pasific.
Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi ajudan dari Ibu Ani Bambang Yudhoyono.
Meski dikenal tegas dan berwibawa di lapangan, Saimah memiliki sisi seni yang kuat, ternyata Saimah memiliki sosok feminis, ia gemar menari dan menulis puisi.
Dalam kunjungan ini, ia menorehkan karya berjudul Masa Transisi yang dibacakan langsung dengan suara merdu dan lantang.
Tak hanya berkarier di dunia militer, Saimah juga mengelola sebuah klinik terapi kesehatan yang menawarkan layanan hipnoterapi, akupuntur, refleksi, bekam, dan akupresur.
"Saya ingin tetap bermanfaat untuk masyarakat. Setelah saya pensiun, saya ingin membantu masyarakat karena menjaga kesehatan juga bagian dari pengabdian," ucapnya.
Di akhir sesi, Saimah mengajak seluruh tim untuk menyaksikan tayangan video perjuangan para prajurit Indonesia.
Video itu memperlihatkan dedikasi dan pengorbanan mereka di medan tugas, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari kerja keras dan pengorbanan tanpa pamrih.
Menghidupkan Semangat Perjuangan di Hati Generasi Muda
Kegiatan kunjungan ini menjadi momen refleksi mendalam yang diharapkan tetap menghidupkan semangat perjuangan dan cinta tanah air agar terus terwariskan kepada generasi penerus bangsa.
Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45 yang menaungi Sanggar Merah Putih, JRKBB, Asosiasi Usaha Mikro Kecil, dan Koperasi bersama IWAPI juga yang berpartisipasi serta para mitra medianya berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang bagi para veteran agar kisah perjuangan mereka tidak lekang oleh waktu.
Usai veteran membacakan puisi, juga diimbangi oleh lantunan puisi karya Bung Karno oleh Reyhan Tholib, remaja asal Jalen yang kakeknya bernama Ismail, seorang veteran dalam mempertahan kemerdekaan saat agresi Belanda di wilayah Sempu dan Genteng.
Seperti yang disampaikan oleh Bung Aguk selaku ketua Gotong Royong 45, bahwa veteran merupakan saksi sejarah yang kisah perjuangannya harus diabadikan.
"Veteran adalah saksi sejarah hidup. Kita punya kewajiban menjaga cerita mereka agar tidak hilang, karena dari merekalah kita belajar arti kemerdekaan yang sesungguhnya," tukas Bung Aguk sembari pekik salam nasional "Merdeka, merdeka.. Merdeka..!" yang disambut 17 orang kafilah dengan kepalan tangan dan hormat.
Mengenang setahun program inovasi Madrasah Diniyah (Madin) Takmiliyah diperingati pada Hari Kamis, 7 Agustus 2025, ditandai doa bersama warga sekolah dan tumpengan di gazebo SMPN 3 Rogojampi.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kabid SMP Didik Eko Wahyudi, S.Pd, meresmikan inovasi literasi Al-Qur’an di SMPN 3 Rogojampi pada 7 Agustus 2024. Program ini menjadi yang pertama di sekolah menengah pertama negeri di Banyuwangi.
Acara peresmian juga dihadiri oleh pengawas H.M. Hasan, S.Ag., M.Pd.I, pengurus komite sekolah, para guru, tenaga kependidikan, dan siswa kelas 7 yang kini naik ke kelas 8.
Kegiatan literasi Al-Qur’an ini dilaksanakan setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis pada jam ke nol. Siswa yang beragama Islam mempelajari Al-Qur’an serta doa sehari-hari, termasuk doa untuk kedua orang tua.
Tahun ini, kegiatan tersebut dilengkapi dengan sholat dhuhur berjamaah, serta sesi membaca iqro’ bagi siswa yang berhalangan hadir pada jam ke nol
Direktur Madin Takmiliyah, Muslih, S.Ag., menjelaskan bahwa setelah kegiatan MPLS, sebanyak 17 ustadz telah melakukan tes kemampuan membaca Al-Qur’an kepada para siswa.
Hasilnya, terdapat 50 anak yang sama sekali belum mengenal huruf dan angka hijaiyah, 35 anak sudah mulai bisa membaca juz ‘amma, dan 106 anak sudah tergolong lancar membaca Al-Qur’an.
Dari hasil pemetaan tersebut, siswa kemudian dibagi ke dalam tiga kelas yaitu Ula, Wustho, dan Ulya.
"Alhamdulillah dalam perjalanan setahun ini ada peningkatan kemampuan BTS serta ada prestasi qiroah di Festival Anak Sholeh, dapat apresiasi juara 1 SRC Kemenag Kabupaten Banyuwangi sebagai sekolah yang menerapkan budaya religius serta dapat hibah 600 Al-Qur'an dari Yayasan Al-Fatihah Semarang!" tutur Direktur yang juga Wakasek Kesiswaan ini seraya menyitir ayat barang siapa bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya.
Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi, Dra. Hj. Sri Utami, menyampaikan bahwa program Madin Takmiliyah sejalan dengan visi sekolah yang mengutamakan akhlak mulia, prestasi, dan budaya.
Ia menambahkan, pada fase menjelang remaja, banyak anak yang merasa malu untuk mengaji di lingkungan tempat tinggalnya.
"Maka program Madin jadi solusi untuk bekal sukses dunia akherat. Dan penerapan keyakinan sekolah bareng tim BK jadi lebih sinergi arahkan perilaku anak didik yang berkarakter," tutur guru matematika yang putra-putrinya ada yang jadi dokter dan calon guru ikuti jejak orangtuanya.
Sementara itu, Ketua Komite, Ir. Isnain, berharap agar setiap siswa Muslim yang lulus dari Sempega sudah mampu membaca Al-Qur’an, lalu melanjutkan pembelajarannya hingga tamat SMA, SMK, atau MA
Ia juga menegaskan bahwa para orang tua siap mendukung melalui sedekah dan infak demi pendidikan yang membawa keberkahan ilmu, membentuk akhlak mulia, serta mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
"Kami berpesan buat guru dan ustadz untuk sabar, ikhlas serta jangan sampai emosi hingga lakukan kekerasan apalagi dendam saat membimbing dan mengajar peserta didik!" tukas purnatugas guru MTsN 10 ini sambil tersenyum.
Ia juga menyampaikan pesan bahwa Madin ibarat taman yang menyenangkan, serta mengajak untuk bergabung dengan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur'an BKPRMI yang menjadi binaan DMI dan MUI.
Models Jurnalisme, 1 Agustus 2025 – Suasana Meeting Room lantai 3 SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) berubah menjadi ruang penuh inspirasi pada Kamis, 31 Juli 2025.
Pagi itu, ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat dan diskusi menjelma menjadi pusat semangat literasi bagi para siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Models Jurnalisme.
Kegiatan hari itu bertajuk Workshop Kepenulisan dan Kurasi Karya, sebuah agenda yang tak sekadar berbicara soal teknik menulis, tetapi juga menyentuh sisi reflektif dan kreatif para peserta.
Workshop ini menjadi bagian dari persiapan menuju penerbitan buku antologi siswa yang direncanakan terbit sebagai rangkaian peringatan Bulan Bahasa mendatang.
Kurang lebih 20 siswa mengikuti acara ini dengan penuh semangat. Yang membuat acara ini istimewa adalah kehadiran Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), sebuah komunitas literasi aktif yang telah lama bergerak di dunia kepenulisan dan penerbitan.
Ketua Kopiwangi, Andi BS (Dok. sastrawacana.id/)
Dalam workshop tersebut, KOPIWANGI menghadirkan dua pemateri. Salah satunya adalah Andi Budi Setiawan, seorang pendidik sekaligus penulis dari SMK PGRI Rogojampi.
Ia juga menjabat sebagai Ketua KOPIWANGI dan dikenal produktif di bidang jurnalistik dan sastra, dengan sejumlah buku puisi dan pentigraf yang telah ia terbitkan.
Materi yang disampaikan dalam workshop tersebut berfokus pada tips menulis puisi dan pentigraf secara cepat, padat, dan layak terbit.
Para peserta diajak memahami struktur karya sastra mini dalam bentuk yang ringan dan interaktif, sehingga tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga langsung dapat dipraktikkan.
Namun, lebih dari sekadar membahas format dan teknik menulis, Andi Budi Setiawan juga menekankan pentingnya nilai reflektif dalam literasi. Dalam salah satu momen penyampaian materi, ia berkata
“Orang yang mencintai literasi sering kali tanpa sadar mampu memperdayakan diri sendiri bukan dalam arti negatif, melainkan karena mereka terbiasa mengevaluasi diri. Di situlah letak kekuatan literasi memperdayakan melalui pemahaman dan refleksi diri,” ujar Andi penuh semangat.
Pernyataan tersebut mengundang perhatian seluruh peserta. Suasana hening sejenak sebuah tanda bahwa pesan tersebut tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan.
Setelah sesi pemaparan, kegiatan berlanjut ke tahapan kurasi karya. Tulisan-tulisan para siswa kebanyakan berupa pengalaman selama mengikuti berbagai organisasi di SMK Models yang telah dikumpulkan sebelumnya, ditinjau secara langsung oleh para pemateri.
Mereka memberi masukan dan menilai kelayakan karya-karya tersebut untuk dimasukkan dalam buku antologi Journey of Organisation.
Sesi ini menjadi salah satu bagian paling menarik dari workshop. Para peserta merasakan bagaimana tulisannya dibaca dan diapresiasi oleh penulis dan kurator sungguhan.
Bagi sebagian siswa, momen ini menjadi pengalaman pertama karya mereka diperhatikan secara serius oleh pihak luar.
Menjelang akhir acara, suasana dibuat lebih santai melalui sesi ice breaking berupa permainan kata.
Peserta diberikan satu kata secara acak dan diminta menghubungkannya dengan kata lain yang sesuai. Tawa dan semangat mulai terdengar memenuhi ruangan.
Meski singkat, permainan ini berhasil mengasah spontanitas dan kreativitas berpikir peserta dalam waktu singkat.
Workshop ini bukan sekadar satu hari belajar menulis. Ia adalah bagian dari proses yang lebih besar menghidupkan budaya literasi di sekolah, membangun kepercayaan diri dalam berkarya, dan menyatukan suara siswa dalam sebuah karya kolektif.
Buku antologi yang sedang dipersiapkan bukan hanya kumpulan tulisan, melainkan bukti bahwa semangat menulis dan berpikir reflektif tetap tumbuh, bahkan di tengah kesibukan aktivitas sekolah.
Melalui kolaborasi bersama KOPIWANGI, SMK Models membuka ruang bagi para siswa untuk tidak hanya menulis, tetapi juga menemukan suara mereka sendiri.
Dan dari ruang kecil di lantai tiga itulah, semangat literasi dinyalakan, bukan hanya untuk hari itu, tetapi untuk perjalanan panjang ke depan.
Memaknai setahun berdirinya Taman Baca Masyarakat (TBM) Al-Djawahir sekaligus menyambut Hari Anak Nasional, digelar serangkaian lomba kreatif dan literatif yang meliputi puitisasi Alquran, bercerita, serta menggambar dan mewarnai pada Ahad (20/7/2025) di kawasan kompleks TBM Al-Djawahir, Gambiran, Banyuwangi.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas komunitas yang melibatkan TBM Al-Djawahir, Mak'E Mart, Posyandu Desa, komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih'45, Jaringan Rumah Kita Banyuwangi (JRKBB), media literasi sastrawacana.id/, media online jurnalnews, event organizer Senyum Agmadina, serta komunitas-komunitas literasi lainnya di Kabupaten Banyuwangi.
Dalam sambutan pembukaan, Djawahir selaku pendiri TBM Al-Djawahir menyampaikan sejarah singkat berdirinya taman baca tersebut.
Ia menuturkan bahwa TBM ini lahir dari semangat menyediakan ruang alternatif belajar bagi masyarakat, khususnya anak-anak di wilayah Gambiran dan sekitarnya, agar lebih dekat dengan budaya membaca.
Pengalaman beliau saat di perpustakaan sekolah membekas untuk diteruskan iqro’ membaca ke anak cucu.
Ketua panitia, Dafik Ismail, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini perdana yang juga sebagai tasyakuran mendapatkan hibah 1000 buku dari Perpustakaan Nasional berikut rak bukunya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari berbagai wilayah di Banyuwangi yang telah ikut berpartisipasi, serta kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini seperti Perpustakaan Nasional, Enggal Modified beserta pegiat literasi dan seniman yang jadi juri serta media partner. Semoga kegiatan ini bisa menjadi semangat bersama dalam membumikan literasi di kalangan generasi muda,” ujar aktivis dakwah dalam naungan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini.
Sambutan juga diberikan oleh Yeti Chotimah yang turut menyemarakkan acara dengan membagikan sejumlah buku hasil karyanya sebagai hadiah bagi para pemenang lomba.
Kehadiran hadiah buku ini diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta untuk terus berkarya dan mencintai literasi. Antara lain buku Sejarah seni budaya, bathokan, cerpen bisikan manis serta yang baru diluncurkan Penerbit Erlangga Jakarta, yakni cerita rakyat maupun adat tradisi Banyuwangi seperti Keboan, Puter Kayun dan Mantu Kucing. Rencana akan terbit 11 judul buku.
Rangkaian lomba untuk kategori puitisasi Alquran dan bercerita, pelaksanaan lomba dilakukan dalam dua tahap, yaitu seleksi video secara daring dan penampilan langsung di lokasi acara bagi tiga finalis terpilih di masing-masing kategori.
juri lomba puitisasi alquran (Dok. Fathma/Syifa)
Dewan juri lomba puitisasi dan bercerita terdiri dari tiga tokoh literasi dan seni yang berpengalaman, yakni Maulana Affandi (penulis dan pemimpin redaksi Penerbit Lintang) sebagai ketua juri, Syaiful Anwar (guru SMK Muhammadiyah 1 Genteng sekaligus penulis aktif ), dan R. Ayu Pudjiati (seniman teater asal Madura).
Ketiganya tak hanya menilai, tetapi juga memberikan masukan langsung kepada peserta yang tampil di panggung.
Mereka menyoroti pentingnya penguasaan panggung, ekspresi wajah, gestur, hingga pemilihan diksi yang tepat agar pesan cerita atau puisi tersampaikan secara kuat dan menyentuh.
Dalam penjelasannya, Maulana Affandi menyampaikan bahwa seluruh peserta yang tampil langsung di lokasi adalah anak-anak terbaik yang telah lolos proses seleksi ketat dari seluruh peserta yang mengirim video.
“Anak-anak yang hadir di panggung ini adalah mereka yang terpilih, bukan sembarang peserta. Maka dari itu, orang tua patut berbangga karena putra-putrinya menunjukkan kualitas dan semangat yang luar biasa,” ujarnya dengan semangat.
Syaiful Anwar juga menegaskan bahwa proses ini diibaratkan sebagai menjajaki anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai puncak.
“Jadi, anggap saja perlombaan seperti ini sebagai proses anak menaiki anak tangga yang pada waktunya akan sampai di puncak,” jelasnya.
Sementara itu, lomba menggambar dan mewarnai diperuntukkan bagi siswa TK dan SD, dan diikuti oleh puluhan peserta dari seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.
Suasana lomba tampak semarak karena para peserta datang bersama orang tua yang setia mendampingi.
Sorak semangat, tawa anak-anak, serta dukungan dari para pendamping menambah hangat suasana kegiatan.
Dewan juri untuk lomba mewarnai dan menggambar juga menghadirkan para praktisi seni dan pendidikan.
lomba mewarnai dan menggambar (Dok. Fathma/Syifa)
Ketua juri adalah Muhammad Taufik, S.Sn yang biasa dipanggil Oklek guru kesenian di SMP Muhammadiyah 1 (Muhi) Genteng.
Ia didampingi oleh dua juri lainnya, yakni Indriana Laily dan Qurrota Ninin yang juga aktif dalam kegiatan seni dan pengembangan kreativitas anak.
Dalam proses penilaian, Oklek tak lupa berpesan kepada segenap orang tua yang hadir agar terus mendampingi anak-anaknya untuk mengasah bakat seni yang dimiliki.
“Anak-anak di sini sudah memiliki bakat seni yang luar biasa, jadi hendaknya didampingi terus, kalau bisa dihadirkan guru seni untuk mengasah bakatnya,” papar Oklek.
Di akhir acara, para pemenang dari tiap kategori diumumkan dan diberikan penghargaan, berupa trofi, piagam, serta hadiah menarik.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara para pemenang dan dewan juri sebagai penanda kebersamaan dan semangat literasi yang terus tumbuh di tengah masyarakat Banyuwangi.
Perkembangan teknologi yang semakin masif telah menyentuh hampir seluruh lini kehidupan. Semua sektor dituntut untuk beradaptasi, tak terkecuali dunia pendidikan yang merupakan fondasi utama dalam membentuk masa depan bangsa.
Di era Internet of Things (IoT) ini, internet bukan hanya alat bantu untuk mempermudah berbagai urusan, melainkan telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari.
Berangkat dari tantangan dalam proses pembelajaran yang mengharuskan guru dan murid memanfaatkan perangkat serta platform digital, Rohmaniyah, S.Pd., guru kelas VI saat itu, menginisiasi sebuah inovasi pembelajaran dengan mengintegrasikan internet ke dalam kegiatan belajar-mengajar.
Inovasi tersebut diberi nama Sabernet (Sehari Bersama Internet). Tujuannya sederhana namun berdampak luas, yaitu menghadirkan pembelajaran yang relevan dan adaptif melalui pemanfaatan internet secara produktif.
Melalui prosedur yang relatif mudah, setiap kelas diarahkan untuk menyisipkan elemen digital dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.
Beragam platform digital dimanfaatkan, mulai dari YouTube, Google Classroom, Quizizz, Canva, Edmodo, Skuling, hingga Platform Merdeka Mengajar (PMM).
Guru dan murid bersama-sama mempelajari berbagai platform tersebut, sehingga tidak hanya memperkaya proses pembelajaran, namun juga meningkatkan literasi digital warga sekolah secara menyeluruh.
Pada awal pelaksanaan Sabernet di tahun 2022, kegiatan masih memanfaatkan gawai pribadi milik siswa dan beberapa laptop milik guru.
Namun sejak SD Negeri 2 Pakistaji mendapatkan bantuan laboratorium komputer lengkap dengan Chromebook dan LCD pada tahun 2024, kegiatan ini terpusat di laboratorium tersebut, sehingga lebih terstruktur dan optimal.
Dampak positif dari inovasi ini cukup signifikan. Terjadi perubahan pola penggunaan internet oleh warga sekolah, dari yang sebelumnya kurang produktif menjadi lebih bermakna dan mendukung proses pembelajaran.
Internet bukan lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi alat bantu yang memperkaya pengalaman belajar.
Inovasi Sabernet juga telah mencatatkan sejumlah prestasi membanggakan, antara lain:
Masuk nominasi Innovation Government Awards (IGA) 2023,
Meraih Terbaik I Sayembara Pendidikan Kabupaten Banyuwangi oleh BBGP Jawa Timur dalam kategori Pemimpin Pembelajaran,
Tercantum dalam Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 51 Tahun 2023 tentang Inovasi Daerah.
Tak hanya di lingkup sekolah, inovasi ini juga telah disosialisasikan ke beberapa sekolah di Kecamatan Kabat.
Terbaru, Sabernet diikutsertakan dalam Pameran Solusi Pendidikan (PSP) pada ajang Temu Pendidik Nusantara XII yang digelar di SD Negeri Model Kabupaten Banyuwangi pada 8 Juli 2025.
Rohmaniyah S.Pd bersama dengan Andi Budi Setiawan, S.Pd saat memperkenalkan inovasi Sabernet (Dok. sastrawacana.id/)
Dalam salah satu dokumentasi kegiatan, terlihat Rohmaniyah sedang memperkenalkan inovasi Sabernet kepada Andi Budi Setiawan, S.Pd., redaktur media sastrawacana.id/, sekaligus Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).
Rohmaniyah berharap inovasi ini dapat disebarluaskan kepada komunitas literasi dan pendidikan lainnya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak pihak.
Pesan inspiratif darinya yang patut direnungkan dan menjadi motivasi bersama adalah:
“Kebanyakan dari kita selalu berpikir tentang grand design dan ide-ide besar saat berbicara tentang inovasi. Padahal sejatinya, inovasi bisa lahir dari hal-hal kecil di sekitar kita yang dekat dan kita temui setiap hari. Sebab, yang paling penting dari sebuah inovasi adalah nilai kebermanfaatannya. Semakin mudah sebuah inovasi diterapkan, semakin besar pula peluang manfaatnya untuk dirasakan oleh banyak orang.”
Ketika kebanyakan perangkat desa sibuk mengurusi administrasi dan pelayanan masyarakat, Andi Sep Kurniawan, S.Sos, justru melangkah lebih jauh.
Di sela-sela kesibukannya sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat di Pemerintah Desa Pondoknongko, ia merangkai kata, merangkai makna, dan memupuk harapan lewat tulisan.
Lahir di Banyuwangi pada 17 September 1997, Andi bukan hanya seorang abdi negara, tapi juga seorang penulis aktif, pegiat literasi, sekaligus penggerak komunitas.
Ia dikenal luas di kalangan pecinta literasi sebagai Koordinator Karya Fiksi KOPIWANGI, komunitas literasi Banyuwangi yang terus tumbuh dengan visi Bergerak Bersama Majukan Literasi Banyuwangi.
Kegiatan Andi Sep Kurniawan (Dok. sastrawacana.id/)
Dari Desa, Untuk Dunia Literasi
Berangkat dari hobi menulis dan memotret, Andi membuktikan bahwa inspirasi tak harus lahir di kota besar.
Desa yang tenang justru menjadi ladang cerita yang kaya. Ia produktif menulis cerita anak, cerpen, esai, jurnal, hingga puisi yang banyak di antaranya ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Using, ciri khas Banyuwangi yang ia banggakan.
Beberapa karyanya yang telah diterbitkan antara lain:
Puisi Terbangun (2019)
Melangkah Menuju Terang (2020)
Di Mana Ibuku? (2022)
Tanaman Nuri Layu (2023)
Siapa Pemenangnya? (2024)
Dimuat pula di Radar Banyuwangi, Belambangan.com, Jurnal Madaniya, dan At-Tamkin.
Prestasi yang Membakar Semangat
Tak hanya berkarya, Andi juga aktif mengikuti berbagai ajang literasi. Di antaranya:
Lolos Sayembara Cerita Anak Tahap 1 dan 2 (Balai Bahasa Jatim, 2025)
Lolos Seleksi Penerjemah (Balai Bahasa Jatim, 2025)
Workshop Cerita Anak Nasional (Pusbuk SIBI, 2025)
Lomba Esai Bank Indonesia Wilayah Sekarkijang, 2025
Menyalakan Obor untuk Generasi Literasi
Baginya, literasi bukan sekadar aktivitas menulis atau membaca, melainkan nyala hidup. Filosofinya sederhana, namun mendalam:
“Urip iku urub. Membacalah untuk mengenal dunia, dan menulislah agar dikenal dunia. Maka namamu akan abadi.”
Kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak malu memulai dari kecil dan tidak ragu bermimpi besar:
“Jika profesi dan hobi tak selaras, tak apa. Lanjutkan saja. Perbedaan itu melengkapi.”
Cahaya dari Pinggir Kota
Andi Sep Kurniawan membuktikan bahwa dari desa pun, kita bisa bersinar. Ia adalah pengingat bahwa literasi bukan milik akademisi saja, tapi milik siapa pun yang ingin menyalakan terang, termasuk kamu, yang sedang membaca ini.
Karena sejatinya, cahaya yang paling dibutuhkan dunia kadang menyala dari tempat yang tak disangka.
Pameran lukisan “Semerbak Mewangi” telah resmi dibuka di Galeri Ujung Timur Ketapang, Banyuwangi.
Acara yang diselenggarakan pada Kamis, 19 Juni 2025 ini menampilkan karya-karya seni lukis dari seniman lokal Banyuwangi maupun dari luar kota yang dianggap memiliki bakat dan kreativitas tinggi.
“Pembukaan pameran lukisan ini merupakan kesempatan bagi masyarakat Banyuwangi untuk melihat dan menikmati karya seni yang indah dan kreatif, baik dari para seniman lokal maupun dari luar daerah,” ujar Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Banyuwangi (DKB).
“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan rasa cinta, kepedulian, dan penghargaan masyarakat terhadap seni lukis. Tentu saja, harapan kita bersama agar seni lukis ini bisa ikut membawa harum nama Kabupaten Banyuwangi,” tambahnya.
Meski lokasinya berada di pinggir jalan provinsi dan agak tersembunyi di antara deretan toko-toko di samping Galeri Mozes Misdy, pameran ini tetap mencerminkan kualitas kelas nasional jika melihat asal para pesertanya.
Bukan hanya dari Banyuwangi, para pelukis juga datang dari berbagai daerah seperti Bali, Jember, Lumajang, Pasuruan, Sidoarjo, Malang, Pamekasan, Mojokerto, Surabaya, Madura, Tuban, Kebumen, Yogyakarta, Semarang, Bekasi, Bandung, Mataram, hingga Balikpapan. Bahkan ada peserta yang berasal dari luar negeri, yaitu Filipina.
Kepala Desa Ketapang, Slamet Utomo, dalam sambutannya menyampaikan, “Kami sangat senang dan bangga bisa menjadi tuan rumah pameran lukisan Semerbak Mewangi ini. Desa Ketapang memiliki potensi besar di bidang seni dan budaya, dan kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi dan memperkuat kekayaan budaya di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pameran lukisan “Semerbak Mewangi” akan berlangsung selama 10 hari dan terbuka untuk umum. Pengunjung dapat menikmati karya-karya seni yang indah dan penuh kreativitas, serta berkesempatan untuk bertemu dan berdialog langsung dengan para seniman yang hadir.
Ketua panitia pameran, Riyanto, mengatakan, “Pameran Lukisan Semerbak Mewangi ini menampilkan karya-karya seni luar biasa dari para pelukis luar daerah Banyuwangi. Kami telah menerima puluhan karya lukis yang beragam dan kreatif, dan kami berharap kegiatan ini menjadi wadah bagi para seniman untuk saling berbagi karya dan pengalaman.”