Tag: banyuwangi

  • Pernikahan Dua Tokoh Dakwah Jadi Momentum Silaturahmi Banyuwangi–Bali

    Pernikahan Dua Tokoh Dakwah Jadi Momentum Silaturahmi Banyuwangi–Bali

    Momentum akad nikah pasangan tokoh dakwah H. Hartono bin Ardjo Djaiman dari Bali dengan Endah Chomisah, P.S.Sos., binti Hariyoso dari Banyuwangi berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Thalita Cafe Kemiren, Kalipuro, Banyuwangi, Minggu (29/03).

    Prosesi pernikahan dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kalipuro, H. Lukman, S.Ag., M.Pd.I.

    Pernikahan ini menjadi perhatian karena kedua mempelai telah memasuki usia sekitar 60 tahun. Keduanya juga telah memiliki masing-masing empat anak serta sejumlah cucu.

    Karena itu, suasana akad nikah dan resepsi yang berlangsung tanpa hiburan tersebut tidak diiringi doa yang lazim disampaikan kepada pengantin muda seperti harapan “langgeng sampai kakek-nenek”.

    Sebaliknya, sejak khutbah nikah hingga sambutan dari penghulu dan perwakilan keluarga, yang disampaikan adalah ucapan selamat dan doa agar keduanya membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, disertai guyonan hangat yang mengundang senyum para tamu undangan.

    Sekitar 300 undangan hadir dalam acara tersebut. Para tamu berasal dari Banyuwangi dan rombongan dari Pulau Bali yang datang menggunakan bus pariwisata serta sekitar empat hingga lima kendaraan pribadi.

    Hadir pula seluruh jajaran pengurus PDM dan PDA Tabanan, serta tokoh masyarakat Tabanan seperti Gus Met, Anwar Haryono, Drs. Budi Ratsongko, Widodo, dan H. Ansori yang turut mendampingi mempelai pria.

    Dari Banyuwangi, turut hadir jajaran PDM Banyuwangi, PCM Glagah, PCM Cluring, PCM Rogojampi, Lurah Kemiren, tokoh masyarakat Banyuwangi, jamaah pengajian ibu-ibu, serta sejumlah tokoh pergerakan termasuk para mualaf yang selama ini mendapatkan pembinaan melalui dakwah kedua mempelai.

    Karena masih dalam suasana Idulfitri, momen pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk saling bermaafan dan saling mendoakan agar menjadi hamba yang muttaqin.

    H. Hartono dikenal sebagai mantan Ketua Baznas yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tabanan. Ia juga aktif sebagai Dewan Pembina Yayasan Al-Ikhlas Tanah Bang Permai serta pengurus ICMI Tabanan.

    Sementara itu, Endah Chomisah Prihatini merupakan muslimah bercadar yang mengikuti jejak orang tuanya dalam kegiatan pergerakan dan sosial pendidikan keagamaan.

    Ia aktif di TPQ dan RA Tunas Ceria, Sanggarmae bersama Yatie Noore, serta Nasyiatul Aisyiyah.

    Endah juga pernah menjadi guru di TK Al Amin Denpasar dan direncanakan akan kembali ke Bali untuk mendampingi suami merintis SMP Muhammadiyah serta penguatan program LazisMu.

    Sebagai sesama pendakwah dan pegiat pendidikan keagamaan, kedua mempelai dinilai tidak memerlukan nasihat panjang dalam prosesi pernikahan karena telah lama berkiprah sebagai mujahid dakwah di tengah masyarakat.

    Kelancaran acara turut didukung Yuni Ambarwati, S.Pd. yang berperan sebagai EO, mak comblang, sekaligus pemandu acara.

    Ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian kegiatan dengan lancar dan penuh keberkahan.

    Menariknya, pertemuan kedua mempelai sebelum menikah terbilang sangat singkat.

    Pertemuan pertama terjadi saat proses ta’aruf di rumah orang tua mempelai perempuan yang berada di belakang Masjid Darul Falah Banjarsari, Glagah. Pertemuan kedua berlangsung langsung pada saat akad nikah.

    Prosesi acara diawali pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Achmad Jamzami dan Olief yang merupakan cucu dari Endah Chomisah.

    Sementara wali nasab mempelai perempuan, kakaknya yang berdomisili di Malang, Cholid Tri Cahyono bin Hariyoso, memimpin langsung proses ijab kabul.

    Selanjutnya, keluarga merencanakan tasyakuran lanjutan di Tabanan, Bali, menunggu momentum putra mempelai pria usai wisuda serta terpenuhinya rombongan belajar SMP Muhammadiyah.

    Dalam agenda tersebut direncanakan akan turut mengundang petugas KUA, penghulu, dan modin, sekaligus menghadirkan kafilah kerabat dan sejawat yang juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk berwisata ke Pulau Bali menyesuaikan kalender liburan pendidikan. (Aguk Wahyu Nuryadi/AF).

  • Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Ratusan warga Desa Bunder, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, mengikuti tradisi ziarah kubur pada hari kedua Hari Raya Idulfitri atau Lebaran Rong Dino, Minggu (22/3).

    Tradisi turun-temurun tersebut dilaksanakan di pemakaman umum desa setempat dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

    Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, dilanjutkan tabur bunga dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan serta ungkapan syukur.

    Warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua, tampak antusias mengikuti tradisi yang rutin digelar setiap tahun tersebut.

    Salah satu warga, Jatmiko, mengatakan tradisi ziarah makam pada hari kedua Lebaran sudah berlangsung secara turun-temurun.

    Selain untuk mendoakan leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi sarana berkumpul keluarga yang pulang dari perantauan.

    “Kegiatan mendoakan para leluhur di makam ini merupakan warisan budaya yang harus kita jaga. Selain untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal, ini juga menjadi momen mempererat silaturahmi antarwarga setelah Idulfitri,” ujarnya.

    Senada dengan itu, warga lainnya menyampaikan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai sosial yang kuat karena menjadi momen kebersamaan masyarakat desa.

    “Setiap tahun warga selalu menantikan momen ini. Selain berdoa, mereka juga saling berbagi makanan dan cerita sehingga hubungan antarwarga semakin erat,” ungkapnya.

    Lebaran Rong Dino di Desa Bunder

    Sementara itu, pemangku adat Desa Bunder menjelaskan tradisi ziarah mendoakan leluhur telah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan sarat makna spiritual bagi masyarakat.

    “Ziarah mendoakan para leluhur ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Filosofinya adalah mengingat asal-usul, menghormati yang telah mendahului, serta memohon keselamatan kepada Allah SWT serta keberkahan bagi yang masih hidup,” jelasnya.

    Salah satu warga yang turut hadir juga mengaku bersyukur masih dapat mengikuti tradisi tersebut bersama masyarakat desa.

    “Kami merasa lebih dekat dengan keluarga yang sudah tiada. Selain itu, kegiatan ini membuat kami semua berkumpul dan saling memaafkan setelah Lebaran,” tuturnya.

    Tradisi mendoakan para leluhur yang dilaksanakan setiap Lebaran Rong Dino tersebut terus dilestarikan masyarakat karena dianggap sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai religius, sosial, dan budaya.

    Selain menjadi sarana doa bagi para leluhur, kegiatan ini juga memperkuat identitas masyarakat serta menjaga keharmonisan antarwarga.

    Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, masyarakat Desa Bunder berharap tradisi tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi.

  • Halal Bihalal Ikawangi di Pendopo, Bupati Ajak Perantau Jadi Duta Pariwisata Banyuwangi

    Halal Bihalal Ikawangi di Pendopo, Bupati Ajak Perantau Jadi Duta Pariwisata Banyuwangi

    Suasana hangat penuh keakraban mewarnai pertemuan warga diaspora Banyuwangi dalam agenda “Tandang Bareng” yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (23/3).

    Kegiatan halal bihalal Hari Raya Idulfitri 1447 H tersebut menjadi ajang silaturahmi para perantau Banyuwangi dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

    Warga Banyuwangi yang tergabung dalam Ikatan Warga Banyuwangi (Ikawangi) memanfaatkan momentum mudik Lebaran untuk berkumpul, tidak hanya dengan keluarga, tetapi juga mempererat hubungan dengan pemerintah daerah.

    Dalam forum tersebut para diaspora berdialog langsung dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, baik secara tatap muka maupun melalui sambungan virtual dari berbagai wilayah.

    Dalam sambutannya, Ipuk menyampaikan apresiasi atas kehadiran para perantau yang tetap memiliki kepedulian terhadap kampung halaman.

    Halal Bihalal Diaspora Ikawangi

    Ia mengajak momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang berbagi gagasan dan solusi atas berbagai persoalan daerah.

    “Selamat datang di Banyuwangi dan selamat merayakan Hari Raya Idulfitri. Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk bersilaturahmi sekaligus bertukar pikiran. Kehadiran bapak ibu diharapkan dapat memberikan kontribusi solusi atas berbagai tantangan yang kita hadapi bersama. Tak lupa mohon maaf saat pulang kampung masih ada jalan rusak berlubang karena cuaca hujan dan panjang jalan mencapai 2.500 kilometer,” ujar Ipuk.

    Ia menegaskan pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata.

    Karena itu, Ipuk berharap diaspora Banyuwangi turut ambil bagian dalam memajukan daerah, termasuk berperan sebagai duta promosi pariwisata.

    “Peran teman-teman Ikawangi sangat penting sebagai duta pariwisata. Ceritakan keindahan Banyuwangi kepada dunia agar semakin banyak orang berkunjung,” ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga meluncurkan barcode Diaspora Banyuwangi sebagai basis data global warga Banyuwangi yang merantau maupun bermukim di luar daerah, termasuk yang pernah sekolah atau bekerja di Banyuwangi.

    “Selama ini kami belum memiliki data pasti jumlah warga Banyuwangi di perantauan. Melalui jaringan global ini kita bisa saling terhubung dan berkolaborasi,” jelas Ipuk, yang didampingi Bupati Banyuwangi dua periode sebelumnya, Abdullah Azwar Anas.

    Para diaspora yang hadir mengaku merasa dihargai dan dihormati oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui sambutan Bupati Ipuk Fiestiandani.

    Pertemuan tersebut juga semakin menguatkan rasa memiliki terhadap Banyuwangi sebagai tanah kelahiran sekaligus rumah besar bersama bagi para perantau.

    Usai forum dialog, acara dilanjutkan ramah tamah dengan sajian khas Banyuwangi seperti rujak soto, kikil kesrut, sego cawuk, kare ayam serta ragam buah dan kudapan, termasuk kopi dan temulawak.

    Acara juga dimeriahkan tarian dan musik khas Banyuwangi hingga lagu Umbul-Umbul Blambangan.

    Peserta yang mengikuti kegiatan secara daring juga berasal dari Spanyol, Belanda, Jepang, dan Cina. Salah satunya Isnain, owner Ecoprint Lis Adiwinoto.

    “Tahun lalu saya hadir, tapi kini hanya videocall,” tuturnya.

    Selain Marhen yang menjabat pejabat Kemenkraf Plt Labuan Bajo, hadir mantan Menteri Arif Yahya serta diaspora yang sedang bertugas di lingkungan eksekutif di Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Ibu Kota.

    Hadir pula Brigjen (AL) Dr. Lukman Hakim Laros kelahiran Tukang Kayu dan kini menjadi dosen Universitas Pertahanan di perbatasan Timor Timur.

    Ia didampingi sesama alumni SMAN 1 Glagah H.M Shodiqin yang pernah menjadi Sekretaris MUI dan Ketua PCNU Atambua Belu NTT dan kini mutasi di SMKN Pelayaran Kalipuro.

    Di antara banyaknya peserta yang hadir dalam suasana temu kangen tersebut, panitia juga menghadirkan komunitas disabilitas seperti Pertuni, PPDI, Difawanfi, serta Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Dari YALI, tampak hadir GPK Yeti Chotimah, M.Pd., serta bendahara yayasan yang tunanetra Titis Anganten, S.Psi., S.Pd.LB.

    “Kami merasakan kesetaraan di Bumi Blambangan yang laksana Indonesia Mini yang welas asih, harmoni, gotong royong. Yuk jenggirat tangi tandang bareng seduluran selawase!” tutup Titis Anganten.

    (H.MShodiqin/Bung Aguk)

  • Warga Muhammadiyah Padati Lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khusyuk dan Tertib

    Warga Muhammadiyah Padati Lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khusyuk dan Tertib

    Pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rogojampi berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan ketertiban di lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi pada Jumat pagi, (20/3).

    Sejak fajar mulai menyingsing, para jemaah dari berbagai wilayah di sekitar Rogojampi telah berdatangan dan memadati area lapangan.

    Mereka hadir dengan penuh antusias, mengenakan pakaian muslim yang didominasi warna putih, sehingga menciptakan suasana yang bersih, damai, dan sarat dengan nuansa kebersamaan serta kebahagiaan di hari kemenangan.

    Bertindak sebagai khatib, Ustaz Haji Suharyo AP, S.H yang juga Penasehat PDM Lumajang. Sementara itu, imam salat adalah Ustadz Khairil Anwar, S.Ag.

    Dalam khutbahnya, Suharyo menyampaikan makna Idul Fitri sebagai momentum kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.

    Ia mengajak jemaah menjadikan Idul Fitri sebagai sarana kembali kepada fitrah, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.

    “Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT,” ujarnya.

    Suharyo juga mengingatkan sejumlah amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW selama Ramadan agar tetap dijaga pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya.

    Amalan tersebut meliputi salat tahajud dan salat malam lainnya, membaca Al-Qur’an, berdzikir, meningkatkan kepedulian sosial, menjaga lisan, menjaga wudu, serta menjaga hati agar tetap selaras dengan nilai-nilai keimanan.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan umat di tengah berbagai tantangan zaman.

    Dalam doa penutup, ia berharap seluruh jemaah dapat meningkat derajatnya menjadi insan bertakwa setelah Ramadan, serta diberi kesempatan kembali bertemu dengan Ramadan di tahun mendatang.

    Pelaksanaan salat berlangsung tertib dan lancar dengan dukungan panitia PCM Rogojampi, mulai dari pengaturan saf hingga pengamanan dan kebersihan.

    Kegiatan ditutup dengan saling bersalaman antarjemaah, menciptakan suasana hangat sebagai simbol saling memaafkan di hari yang fitri.

  • Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Dewan Masjid Indonesia (DMI) Banyuwangi, serta didukung Baznas Banyuwangi menyiapkan 48 masjid di berbagai titik.

    Program ini ditujukan untuk memudahkan para pemudik selama arus mudik dan balik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

    “Dengan adanya masjid ramah pemudik, kami berharap para pemudik dapat merasa nyaman dan aman selama perjalanan,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat launching program di Masjid Al Huda, Kelurahan Bulusan yang berbatasan dengan Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Selasa (16/3/26).

    Masjid yang terlibat dala program ini akan dibuka selama 24 jam dan dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari area istirahat, tempat ibadah, toilet bersih, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir.

    Selain itu, tersedia juga layanan kesehatan yang didukung puskesmas, fasilitas pijat gratis di beberapa titik, serta penyediaan air minum, kopi, teh, makanan ringan gratis hingga menu berbuka.

    Ipuk menambahkan, masjid memiliki peran penting sebagai pusat peradaban, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

    Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan kajian dan diskusi berbagai persoalan kehidupan.

    bupati banyuwangi ipuk

    “Masjid memang pusat peradaban sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas seperti untuk mengkaji dan diskusi ragam topik kehidupan,” ujar Bupati Ipuk Fiestiandani yang didampingi Ketua Baznas Drs. Dwi Yanto, M. Pd.

    Sementara itu, Kepala Kemenag Banyuwangi, Drs. H. Chaeroni Hidayat, MM, menyampaikan bahwa Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Jawa Timur dengan jumlah masjid ramah pemudik terbanyak. Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, Baznas, dan DMI.

    “Kami berterima kasih atas kolaborasi yang baik antara pemkab, Baznas, dan DMI dan semua yang terlibat, semoga jadi ladang amal saleh kita semua,” ujarnya.

    Peluncuran program ini juga diisi dengan kegiatan sosial, seperti santunan kepada anak yatim, pemberian sembako kepada lansia dhuafa, serta penyerahan bantuan peralatan kepada masjid yang tergabung dalam program.

    Selain itu, diberikan pula dukungan kepada Yayasan Aura Lentera yang mengoordinasikan pemijat tunanetra dan difabel lainnya.

  • IKSASS Peringati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag Rogojampi

    IKSASS Peringati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag Rogojampi

    Keluarga Besar Ikatan Santri Salafiyah Sukorejo Situbondo (IKSASS) mengisi rangkaian kegiatan Ramadhan dengan memperingati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk.

    Kegiatan tersebut digelar di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag, Pengatigan, Kecamatan Rogojampi pada Sabtu, 7 Maret 2026 atau bertepatan dengan 17 Ramadhan.

    Acara ini juga dirangkai dengan kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri para santri, alumni, serta masyarakat sekitar.

    Ustadz Faruq atas nama takmir masjid menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah dan warga yang telah menyambut para tamu dengan baik.

    Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyambutan masih terdapat kekurangan.

    “Mohon maaf bila suguh, gupuh, dan lungguh kami ada yang kurang berkenan,” ungkap santri KH Yusuf Muhammad Jember yang saat ini mengajar di MI Islamiyah Rogojampi.

    Ia juga menyampaikan bahwa banyak alumni MI Islamiyah Rogojampi yang melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Sukorejo pada masa kepengasuhan KHR As’ad Syamsul Arifin.

    Sementara itu, alumni angkatan tahun 1970-an, Syech HM Ikrom asal Temenggungan, berharap para santri dapat tumbuh menjadi insan yang berkualitas.

    Menurutnya, santri harus mampu berpikir inspiratif, memiliki kekuatan ekonomi, serta menjaga tradisi silaturahmi dan kekompakan antarsesama.

    “Jaga pesan kiai dan jaga marwah pondok,” pesan mantan anggota DPRD yang juga aktif di Rumah Kebangsaan, sebuah forum yang bergerak dalam penguatan persatuan lintas suku, agama, dan berbagai elemen masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, KHR Achmad Azaim Ibrahimy sebenarnya dijadwalkan hadir.

    Namun karena adanya udzur yang mendesak dan mendadak, beliau tidak dapat menghadiri acara sehingga diwakilkan oleh Lora Abdul Quddus.

    Dalam taushiyahnya, Lora Abdul Quddus menyampaikan tentang mukjizat Al-Qur’an serta pentingnya menjaga amanat para kiai.

    Ia menegaskan bahwa keberkahan ilmu yang diperoleh selama mondok di pesantren harus terus dijaga agar dapat memberikan manfaat yang maksimal ketika para santri terjun ke tengah masyarakat.

    Pada sesi doa, acara dipimpin oleh Ustadz Mistari selaku Ketua IKSASS Rayon Banyuwangi.

    Sementara itu, Dr. H. Lukman Hakim turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pengajian tersebut.

    Ia juga menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan serupa akan dilanjutkan di Muncar pada tanggal 26, yang insya Allah akan dihadiri langsung oleh pengasuh.

    Selain itu, Lukman Hakim mengungkapkan bahwa tahun ini IKSASS memiliki target untuk memiliki kantor yang berlokasi di dekat Masjid Cheng Ho Sumberrejo.

    Ia pun berharap adanya partisipasi dari para santri dan alumni untuk mewujudkan rencana tersebut.

    “Mari berkhidmat kepada organisasi dan pondok pesantren demi keberkahan ilmu serta kehidupan beragama dan berbangsa,” tutur Rektor Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi sekaligus mantan Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi tersebut.

  • PERGUNU Banyuwangi Gelar Ngaji Rukyat, Bahas Penentuan Awal Bulan dan Hilal 1447 H

    PERGUNU Banyuwangi Gelar Ngaji Rukyat, Bahas Penentuan Awal Bulan dan Hilal 1447 H

    Dalam rangka menyongsong fenomena gerhana bulan sekaligus persiapan penentuan awal bulan hijriah, PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Banyuwangi menggelar Ngaji Rukyat bertema “Kajian Hilal dan Penentuan Awal Bulan” pada Ahad, 1 Maret 2026.

    Kegiatan ini berlangsung di ruang simulator SMK Negeri Kalipuro Banyuwangi.

    Acara menghadirkan dua pemateri, yakni Kang Gufron Mustafa selaku Ketua Badan Hisab Rukyat Banyuwangi dan Kang Zamroni Fikri, Ustadz Falak Sari PP Subulussalam Tegalsari.

    Keduanya mengupas metode hisab dan rukyat sebagai dua pendekatan yang saling melengkapi dalam menentukan awal bulan hijriah.

    Menurut Haikal Kafili, M.Pd. dan H. Wawuh Sondi Purnomo, ST., Gr., kegiatan ini bertujuan mendiseminasikan cara menakar hilal secara ilmiah dan spiritual, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya rukyat dalam penentuan awal bulan.

    “Yang jelas rukyat dan metode hisab saling melengkapi dan memiliki dasar ilmiah maupun ilahiah,” tegas Wawuh, yang kini menjadi Tim Pengembang Mutu SMKN 1 Kalipuro sekaligus mendapat amanah sebagai Kepala SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Panderejo.

    Ngaji Rukyat ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat untuk memahami proses penentuan awal bulan secara lebih komprehensif, sekaligus menjaga tradisi keilmuan falak yang menjadi bagian penting dari khazanah Islam Nusantara.

    Ketua PC PERGUNU Banyuwangi, Drs. H. Widjanarko, M.Pd., didampingi HM. Shodiqin, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi jawaban atas kegelisahan umat terkait khilafiah penentuan awal Ramadan 1447 H.

    “Langkah ini strategis bagi Persatuan Guru Nahdlatul Ulama yang sering menjadi rujukan pertanyaan sekaligus penyampai informasi kepada murid. Kami bersyukur bisa memanfaatkan alat sextant dan simulator untuk memahami titik koordinat serta sudut secara lebih paripurna,” ungkap Kepala SMK Gajah Mada tersebut.

    Ia juga menambahkan bahwa perwakilan PERGUNU direncanakan akan turut serta dalam pemantauan 1 Syawal di Pantai Pancur Alas Purwo sebagai bagian dari praktik langsung rukyat hilal.

    Melalui kegiatan ini, PERGUNU Banyuwangi berharap sinergi antara tradisi rukyat dan pendekatan hisab semakin dipahami secara utuh, sehingga umat dapat menyikapi perbedaan dengan bijak, berlandaskan ilmu dan nilai-nilai kebersamaan.

  • Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Dalam upaya memperkuat layanan inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas, Rumah Literasi Indonesia bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia menggelar Pertemuan Validasi Data Program Building Effective Network (BEN), Selasa (3/3/2026), di Hotel Aston Banyuwangi.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini diikuti 45 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, tenaga pendidik, serta organisasi penyandang disabilitas.

    Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia memaparkan latar belakang dan tujuan program BEN.

    Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi satu-satunya klaster yang dipercaya menjalankan tiga proyek sekaligus, yakni Building Effective Network (BEN) Pemberdayaan Disabilitas Berbasis Jejaring Masyarakat, MYP Pengembangan Potensi Anak dan Remaja Difabel (Down Syndrome & OYPMK), serta Body Talk SRHR tentang Perkembangan Kesehatan Reproduksi.

    Kepercayaan tersebut diberikan karena Banyuwangi dinilai memiliki komitmen kuat dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas dan pengembangan daerah inklusif yang mendapat dukungan penuh dari bupati serta berbagai elemen masyarakat.

    “Kami berharap melalui pertemuan ini, sinergi antarsektor semakin kuat sehingga pelayanan terhadap penyandang disabilitas dapat berjalan terpadu dan berkelanjutan,” ujar Tunggul.

    Program BEN merupakan inisiatif yang didukung oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia.

    Program ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mewujudkan layanan inklusif melalui pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

    Pertemuan ini menjadi forum untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah kolaboratif berbasis data yang valid dan terintegrasi.

    Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, S.Sos., MBA., MM., hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta sistem database yang terintegrasi.

    “Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini. Validasi dan integrasi data merupakan langkah strategis untuk memastikan program tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegasnya.

    Sesi diskusi yang difasilitasi Indah Catur Cahyaning Tyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia menghadirkan dua narasumber dari unsur pendidikan dan kesehatan.

    Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan jejaring lintas sektor guna mendukung pengembangan sekolah inklusif.

    Ia juga mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya karena keterkaitannya dengan data kependudukan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, H. Amir Hidayat, S.K.M., M.Si., menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan inklusif berbasis analisis kebutuhan dan data yang akurat serta ramah disabilitas.

    Peserta yang hadir merupakan anggota Forum RBM (Rehabilitasi Berbasis Masyarakat) yang menjadi inti Building Effective Network.

    Mereka berasal dari Dinas Sosial dan PPKB, Bappeda, Camat Kalipuro dan Rogojampi, Kepala Puskesmas Klatak dan Gladag, kepala desa/lurah, tenaga pendidik dari sekolah inklusif dan SLB, serta organisasi seperti Perkins, GERKATIN, HWDI, dan Aisyiyah.

    Tunggul Harwanto dan Indah Catur Cahyaning Tyas selaku Leader Tim Transisi Banyuwangi menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan menyusun perencanaan berbasis data, memperkuat peran Forum RBM, serta membangun komitmen kolaboratif antar pemangku kepentingan di tingkat kabupaten untuk keberlanjutan program hingga 2028.

    Diskusi berlangsung aktif dalam sesi tanya jawab. Masfufah, S.Pd., Ketua Yayasan Matahati, menyampaikan harapan agar pendampingan dan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin diperkuat, terlebih regulasi sudah tersedia.

    Yudi, guru dari SDN 2 Gladag, juga mengungkapkan tantangan terkait seorang siswa dengan disabilitas intelektual yang orang tuanya belum berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

    Selain itu, Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang terlibat dalam pendataan anak dan remaja disabilitas membagikan temuan lapangan, khususnya terkait tantangan layanan di puskesmas dan sekolah serta pentingnya koordinasi yang baik dengan pemerintah desa.

    Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi dan integrasi layanan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi, menuju sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan menyongsong pelaksanaan program tiga tahun yang akan dimulai pada April 2026.

  • SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Kenalkan Pendidikan Karakter Berbasis Pemahaman Al-Qur’an Jelang Ramadhan 1447 H

    SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Kenalkan Pendidikan Karakter Berbasis Pemahaman Al-Qur’an Jelang Ramadhan 1447 H

    sastrawacana.id/ – Menyongsong Ramadhan 1447 H, pengasuh Ponpes Akmalul Muhsinin Karangbaru, Panderejo, Banyuwangi, KH. Imam Hasan Thoha bersilaturahmi ke pengasuh Yayasan Sahal Suhail Bajulmati serta tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat yang juga Ketua Forum BPD Desa se-Wongsorejo, Sabtu (14/2/2026).

    KH. Imam Hasan Thoha bersama Kepala SMP Qur’an Akmalul Muhsinin, H. Wawuh Sondi Purnomo, ST, Gr, kemudian menjadi narasumber talkshow di Radio Komunitas Planet FM. Talkshow tersebut dipandu host Hadi Purwanto.

    Dalam siaran yang inspiratif itu, KH Imam menekankan pentingnya memahami makna bacaan Al-Qur’an, agar remaja tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami tafsir dan menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Ia juga mendorong generasi muda untuk melaksanakan ibadah wajib sesuai rukun Islam serta menjadi teladan yang beradab di lingkungan masing-masing.

    “Dengan metode i‘rab, murid jadi paham tafsir dan makna yang dibaca. Soal hafal Al-Qur’an itu bonus dan membutuhkan amalan individu yang siap kami terima sorogan tiap hari atau tiap minggu sesuai kemampuan,” ujar alumni Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep itu.

    Siaran pada frekuensi 107,7 MHz tersebut juga disiarkan langsung melalui Facebook dan YouTube radio.

    Pendengar dan warganet dapat mengajukan pertanyaan seputar sistem SPMB serta proses pendidikan di SMP Qur’an dalam membentuk karakter remaja, khususnya di tengah kecenderungan kecanduan gawai.

    Targetnya, lulusan mampu menjadi imam salat yang khusyuk dan fasih, bahkan saat kelas IX sudah mampu menjadi khatib Jumat.

    Talkshow ini turut dipublikasikan di portal online Sinergi Media serta media sosial Gotong Royong ’45.

    Menurut H. Wawuh Sondi Purnomo, peserta didik tidak wajib mukim di pondok.

    Namun, jika memilih mondok akan memperoleh nilai tambah berupa pendidikan madrasah diniyah kitab serta kemampuan membaca huruf pegon.

    Biaya sekolah hanya Rp50 ribu per bulan, sedangkan akomodasi pondok sekitar Rp300 ribu per bulan.

    “Ke depannya untuk makan siang bisa memanfaatkan UMKM sekitar sekolah dan siap menerima program MBG,” tutur pengurus PERGUNU dan LPPTKA-BKPRMI yang sehari-hari juga mengampu pengembangan mutu SMK Negeri Kalipuro tersebut.

    Ia juga melayani pertanyaan dan pendaftaran peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 melalui nomor 081281856321.

    “Terima kasih kepada koordinator KKM dan K3S yang telah memberi kesempatan kami menyampaikan informasi kepada siswa dan wali murid kelas VI,” ungkap Hariyanto, wali santri asal Kepundungan, Srono.

    Selain melalui silaturahmi, media mainstream, dan media sosial, sosialisasi SMP Qur’an juga dilakukan dengan menurunkan tim lapangan ke SD/MI yang terdiri dari Edi, Hariyanto, dan Syaifudin, didampingi Yudha Hari Setiawan, SE, SH.

    Di kompleks pondok di Jalan Kopral Sanusi 32 Panderejo, terdapat admin Abidin Zaen (HP 083875684605) yang juga mengelola LKSA Graha Anak Sholeh bagi yatim dan dhuafa.

    Dalam bidang pengembangan minat dan bakat, SMP Qur’an tidak hanya memiliki ekstrakurikuler hadrah dan tilawah, tetapi juga khitobah, puisi, qishah, pidato, jurnalistik, serta konten kreatif.

    Kegiatan ini dilatih oleh seniman Aguk Darsono dari Sanggar Merah Putih ’45.

    Usai talkshow, rombongan melanjutkan silaturahmi ke kediaman H. Hasan Bashori di Sidodadi.

    Rumah tersebut pernah menjadi tempat pernikahan putri hafidzah alumni Yogyakarta yang dinikahkan oleh KH Azaim Sukorejo pada 5 Oktober 2024 dengan seorang hafidz asal Rogojampi alumni Salafiyah Sukorejo.

    Kunjungan juga direncanakan untuk memohon restu kepada Ra Fadhol Alasbuluh sebagai bagian dari keluarga besar Ponpes Nurul Jadid Paiton.

  • Haul Pendiri Al Anwari Kertosari Berlangsung Khidmat, Ditandai 99 Khataman dan Beli 17 Petak Tanah

    Haul Pendiri Al Anwari Kertosari Berlangsung Khidmat, Ditandai 99 Khataman dan Beli 17 Petak Tanah

    sastrawacana.id/ – Haul ke-36 pendiri Ponpes Al Anwari, KH Abdul Wahid Akwan Al-Hafidz dan haul ke-4 Nyai Hj. Fathma Wahid digelar pada Jumat, 13 Februari 2026 bertepatan 25 Sya’ban 1447 H.

    Kegiatan berlangsung di halaman pondok di Jalan KH Abdul Wahid, Kertosari, Banyuwangi, dengan menghadirkan mubaligh KH Syamsuri Mukhtar, pengasuh Ponpes Salaf Darussalam Rejoagung.

    Majelis haul yang sarat keberkahan itu dihadiri berbagai unsur, antara lain:

    • Keluarga besar KH Hasan Abdillah (Bani Siddiq Jember dan KH Hamid Pasuruan),
    • Kasi Bimas Kemenag,
    • Direktur LPPTKA-BKPRMI,
    • Ketua MUI Kecamatan Kota bersama Dewan Syuro dan Ketua Tanfidziyah PAC NU Kota,
    • Camat Kota Andik Basuki,
    • Lurah Nur Hasanah,
    • Kepala SD/MI se-Kecamatan Kota,
    • Para alumni,
    • Wali santri,
    • Muslimat dan masyarakat sekitar.

    Pesantren yang telah berdiri lebih dari 40 tahun ini kini juga mengelola lembaga formal SMP dan MA Unggulan Al-Anwari.

    Haul ke-36 pendiri Ponpes Al Anwari Banyuwangi

    Rangkaian acara diawali gema sholawat hadrah Al-Banjari, dilanjutkan pembacaan Juz Amma oleh Gus Hasan Ali Murtadhoh, Lc bin Achmad Siddiq, kemudian doa khotmil Qur’an oleh KH Abdullah Faishol, pengasuh pondok di Lamongan.

    Selanjutnya Gus Washil membacakan Surat Yasin, diteruskan tahlil oleh Gus Ahyar, dengan doa penutup oleh KH M. Thohir Ahmad dari Glenmore, adik Nyai Fatmah.

    Kepala KUA Sempu, Achmad Syakur Isnaini, S.Ag., M.H.I., selaku ketua alumni, berharap keberkahan haul dapat dirasakan seluruh keluarga besar pesantren.

    Ia menilai para pendiri merupakan teladan keikhlasan dalam berbagi ilmu agama dan kepedulian sosial. “Semoga Al Anwari menjadi cahaya dunia dan akhirat,” tuturnya, alumni tahun 1995.

    Pengasuh pesantren, KH Achmad Siddiq, menceritakan sejarah perjuangan orang tuanya.

    Ia mengisahkan sang ayah wafat pada 1990 ketika dirinya hampir menuntaskan studi kitab di Ponpes Darussalam Blok Agung.

    Saat itu ia dipanggil pulang oleh Gus Hisyam Syafaat dan mendapati ayahnya telah wafat, meninggalkan delapan anak yatim, sementara kondisi pondok nyaris dilelang.

    “Yakinlah, hanya munajat kepada Allah Yang Maha Kaya. Harus ikhtiar dan doa. Pondok harus memiliki usaha ekonomi mandiri yang kuat, jangan sampai terjerat judi online dan pinjaman ilegal,” pesannya.

    Kini, pesantren mampu membeli 17 petak tanah untuk perluasan. Ia juga menyebut tiga anaknya hafidz Al-Qur’an, dan dari 15 cucu, sebagian besar juga penghafal Al-Qur’an.

    KH Achmad Siddiq merupakan alumni Universitas Nurul Jadid, sedangkan putra sulungnya alumni Universitas Al-Azhar.

    Ia juga menyampaikan bahwa sebulan sebelum haul, telah dilaksanakan rangkaian khataman Al-Qur’an oleh santri putra dan putri, murid, keluarga, hingga alumni.

    Puncaknya adalah khataman ke-99 yang dilakukan para alumni di makam pendiri pada malam Jumat hingga dini hari.

    Haul ke-36 pendiri Ponpes Al Anwari (2)

    Pesantren Al Anwari juga mencatat sejumlah prestasi, di antaranya siswa SMP dan MA yang unggul di bidang multimedia, meraih juara 1 lomba Pendidikan Agama Islam dan Musabaqah Hifdzil Qur’an hingga tingkat nasional.

    Selain itu, ustadzah Handariyatul Masruroh berhasil masuk ajang Festival Dai Indosiar.

    Dalam tausiyahnya, KH Syamsuri Mukhtar menyampaikan bahwa keberadaan jamaah dalam majelis tahlil merupakan bentuk tabarukan kepada para ulama pendahulu.

    Ia mengajak umat menjadi hamba yang pandai bersyukur, baik saat mendapat cobaan maupun nikmat.

    “Rezeki tidak selalu berupa materi. Ketenangan batin dan kesehatan hingga bisa beribadah juga rezeki besar. Siapa yang bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya,” ujarnya.

    Ia juga mengingatkan pentingnya mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

    Ceramah disampaikan dengan gaya segar, diselingi sholawat serta puji-pujian dalam bahasa Osing dan Jawa, sehingga jamaah mengikuti rangkaian acara dengan khusyuk sekaligus hangat hingga selesai.