Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, Kecamatan Kecamatan Rogojampi menggelar sejumlah rangkaian kegiatan yang dimulai pada Sabtu, 16 Agustus 2025.
Kegiatan pembuka diawali dengan pengukuhan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) oleh Camat Rogojampi, Edy Basuki, S.E.
Camat menjelaskan bahwa pengukuhan ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni penggunaan kendit yang dipasang sebagai selendang oleh orang tua kepada putra-putri mereka.
Simbol tersebut menjadi tanda kebanggaan baik bagi siswa-siswi maupun orang tua.
“Ini adalah kebanggaan bersama. Putra-putri merasa senang, orang tua pun juga senang,” ujar Camat Rogojampi.
Selain pengukuhan, malam ini juga digelar acara tasyakuran yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari muspika, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga orang tua anggota Paskibraka.
Acara tasyakuran ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
“Setiap bangsa Indonesia pasti mengadakan tasyakuran. Begitu juga di Kecamatan Rogojampi, sore ini kita melaksanakannya bersama,” tambah Camat.
Adapun pada hari Minggu 17 Agustus 2025, upacara pengibaran bendera merah putih akan dilaksanakan di lapangan Lugjag pada pagi hari.
Sore harinya akan dilanjutkan dengan upacara penurunan bendera sebagai rangkaian penutup peringatan HUT ke-80 Proklamasi Kemerdekaan RI di tingkat kecamatan.
Dalam kesempatan tersebut, Camat Rogojampi juga berpesan kepada masyarakat agar selalu mengingat jasa para pejuang dan tetap menjaga persatuan.
"Sebagai bangsa Indonesia, kita wajib mengingat perjuangan para pahlawan kita dan wajib mempertahankan NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Peringatan HUT RI ke-80 di Kecamatan Rogojampi diharapkan dapat berjalan lancar serta menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebangsaan dan membangun wilayah yang lebih baik ke depannya.
Sejumlah program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) digelar di wilayah Rogojampi oleh mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Kegiatan ini mencakup edukasi kesehatan reproduksi untuk pelajar, dukungan digitalisasi bagi pelaku UMKM, hingga pelatihan keterampilan kreatif bagi ibu-ibu PKK.
Keempat mahasiswa Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yakni; Sekarlangit Cahayaningtyas Syaifalanuada Timur Rahman, Wahyu Dwi Pangestu, Cindy Vanellia Agustin, dan Muhammad Cholis. Mereka berasal dari daerah Jawa dan luar Jawa.
Program pertama berfokus pada pendidikan seksual yang diberikan sesuai jenjang usia, mulai dari PAUD hingga SMK.
Materi mencakup pengenalan organ reproduksi, masa pubertas, pencegahan pernikahan dini, hingga pemahaman tentang hubungan sehat di masa muda.
Edukasi ini dilaksanakan di enam sekolah dengan jadwal berbeda, yakni PAUD Mutiara Rogojampi /PKBM Koppat (29 Juli), SDN 2 Rogojampi (26 Juli), SDN 4 Rogojampi (28 Juli), SMPN 3 Rogojampi (30–31 Juli), dan SMK PGRI Rogojampi (7 Agustus).
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (Dok. sastrawacana.id/)
Metode yang digunakan meliputi presentasi interaktif, pemutaran film pendek, diskusi, permainan edukatif, hingga sesi tanya jawab.
Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman pelajar mengenai pendidikan seksual yang aman, sehat, dan sesuai perkembangan usia.
Program kedua menyasar sektor ekonomi lokal dengan pemberdayaan UMKM Desa Rogojampi.
Kegiatan yang berlangsung pada 31 Juli – 5 Agustus 2025 ini menawarkan bantuan pembuatan QRIS untuk transaksi digital dan pembuatan buku menu bagi para UMKM.
Mahasiswa PMM mendatangi langsung lokasi usaha, membantu menjembatani proses pembuatan QRIS pada pihak Bank, dan mendesain buku menu sesuai kebutuhan.
Dari insisiatif tersebut, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi serta memperkuat daya tarik usaha melalui media promosi yang rapi.
Program ketiga adalah workshop meronce bersama ibu-ibu PKK Desa Rogojampi pada 10 Agustus di Balai Desa yang ada relief sejarah Banyuwangi.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan kreatif yang bisa dimanfaatkan sebagai hobi, dekorasi rumah, atau peluang usaha.
Peserta mendapatkan arahan teknik dasar, kesempatan praktik langsung, dan pendampingan hingga menghasilkan karya mandiri.
Fahmi Dwi Mawardi, SE., M.S.A., CRSR. selaku dosen pembimbing juga menyampaikan, "Melalui tiga rangkaian program tersebut, bagaimana mahasiswa melalui program PMM berupaya mendorong peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan perekonomian masyarakat Rogojampi secara berkelanjutan!"
Sekar dan tim PMM pada media ini berharap, "Kiprah pengabdian seperti ini, bisa berdampak secara nyata, berkelanjutan dan kami belajar menjiwai denyut nadi ragam lintas sosial sebagai bekal terjun ke masyarakat usai diwisuda kelak!" tutur perempuan asal Mataram NTB ini yang di Rogojampi sembari sambang kakek nenek dan saudara dari ayahnya Fathurahman,SH yang pendiri Teater REGES Rogojampi.
Mengenang setahun program inovasi Madrasah Diniyah (Madin) Takmiliyah diperingati pada Hari Kamis, 7 Agustus 2025, ditandai doa bersama warga sekolah dan tumpengan di gazebo SMPN 3 Rogojampi.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kabid SMP Didik Eko Wahyudi, S.Pd, meresmikan inovasi literasi Al-Qur’an di SMPN 3 Rogojampi pada 7 Agustus 2024. Program ini menjadi yang pertama di sekolah menengah pertama negeri di Banyuwangi.
Acara peresmian juga dihadiri oleh pengawas H.M. Hasan, S.Ag., M.Pd.I, pengurus komite sekolah, para guru, tenaga kependidikan, dan siswa kelas 7 yang kini naik ke kelas 8.
Kegiatan literasi Al-Qur’an ini dilaksanakan setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis pada jam ke nol. Siswa yang beragama Islam mempelajari Al-Qur’an serta doa sehari-hari, termasuk doa untuk kedua orang tua.
Tahun ini, kegiatan tersebut dilengkapi dengan sholat dhuhur berjamaah, serta sesi membaca iqro’ bagi siswa yang berhalangan hadir pada jam ke nol
Direktur Madin Takmiliyah, Muslih, S.Ag., menjelaskan bahwa setelah kegiatan MPLS, sebanyak 17 ustadz telah melakukan tes kemampuan membaca Al-Qur’an kepada para siswa.
Hasilnya, terdapat 50 anak yang sama sekali belum mengenal huruf dan angka hijaiyah, 35 anak sudah mulai bisa membaca juz ‘amma, dan 106 anak sudah tergolong lancar membaca Al-Qur’an.
Dari hasil pemetaan tersebut, siswa kemudian dibagi ke dalam tiga kelas yaitu Ula, Wustho, dan Ulya.
"Alhamdulillah dalam perjalanan setahun ini ada peningkatan kemampuan BTS serta ada prestasi qiroah di Festival Anak Sholeh, dapat apresiasi juara 1 SRC Kemenag Kabupaten Banyuwangi sebagai sekolah yang menerapkan budaya religius serta dapat hibah 600 Al-Qur'an dari Yayasan Al-Fatihah Semarang!" tutur Direktur yang juga Wakasek Kesiswaan ini seraya menyitir ayat barang siapa bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya.
Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi, Dra. Hj. Sri Utami, menyampaikan bahwa program Madin Takmiliyah sejalan dengan visi sekolah yang mengutamakan akhlak mulia, prestasi, dan budaya.
Ia menambahkan, pada fase menjelang remaja, banyak anak yang merasa malu untuk mengaji di lingkungan tempat tinggalnya.
"Maka program Madin jadi solusi untuk bekal sukses dunia akherat. Dan penerapan keyakinan sekolah bareng tim BK jadi lebih sinergi arahkan perilaku anak didik yang berkarakter," tutur guru matematika yang putra-putrinya ada yang jadi dokter dan calon guru ikuti jejak orangtuanya.
Sementara itu, Ketua Komite, Ir. Isnain, berharap agar setiap siswa Muslim yang lulus dari Sempega sudah mampu membaca Al-Qur’an, lalu melanjutkan pembelajarannya hingga tamat SMA, SMK, atau MA
Ia juga menegaskan bahwa para orang tua siap mendukung melalui sedekah dan infak demi pendidikan yang membawa keberkahan ilmu, membentuk akhlak mulia, serta mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
"Kami berpesan buat guru dan ustadz untuk sabar, ikhlas serta jangan sampai emosi hingga lakukan kekerasan apalagi dendam saat membimbing dan mengajar peserta didik!" tukas purnatugas guru MTsN 10 ini sambil tersenyum.
Ia juga menyampaikan pesan bahwa Madin ibarat taman yang menyenangkan, serta mengajak untuk bergabung dengan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur'an BKPRMI yang menjadi binaan DMI dan MUI.
Pemerintah Kecamatan Rogojampi terus menunjukkan komitmen serius dalam mendorong budaya literasi serta pelestarian warisan lokal melalui peluncuran program bertajuk Literasi Desa.
Program ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Penerbit Lintang Banyuwangi dan media literasi online sastrawacana.id/, serta melibatkan para pegiat literasi dan budayawan.
Program Literasi Desa dirancang untuk mendorong setiap desa di wilayah Kecamatan Rogojampi menuliskan sejarah, kebudayaan, tradisi, tokoh penting, serta potensi yang dimiliki desanya.
Karya-karya tersebut nantinya akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku antologi, yang tidak hanya menjadi dokumentasi penting, tetapi juga sumber inspirasi dan referensi bagi generasi muda dan masyarakat luas.
PLT Camat Rogojampi, Edy Basuki, SE, memberikan dukungan penuh terhadap program ini dan menyambut antusias partisipasi desa-desa yang akan terlibat dalam penulisan.
“Program ini merupakan inovasi untuk meningkatkan literasi yang ada di Kecamatan Rogojampi. Dengan ini, diharapkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih mengenal desanya sendiri,” kata Edy.
Menurutnya, banyak potensi dan kekayaan budaya yang selama ini belum terdokumentasikan secara layak, sehingga rentan terlupakan.
Ia menegaskan bahwa dokumentasi dalam bentuk karya tulis merupakan bentuk pelestarian yang efektif dan abadi.
“Jika tidak diabadikan dalam sebuah karya, setiap potensi desa akan terkikis seiring waktu. Kita punya kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa, dan itu harus diwariskan dalam bentuk yang bisa dibaca dan dipelajari sepanjang zaman,” tegasnya.
Program Literasi Desa (Dok. sastrawacana.id/)
Sebagai contoh, Desa Kedaleman yang berada di wilayah Kecamatan Rogojampi dikenal memiliki beragam tradisi lokal yang khas dan menarik, seperti Ider Bumi, sebuah tradisi spiritual yang dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan desa, serta Pencak Obor, pertunjukan seni bela diri yang dilakukan dengan nyala obor sebagai simbol semangat dan keberanian.
Tradisi-tradisi semacam ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat desa.
Namun, tanpa dokumentasi tertulis, nilai-nilai tersebut bisa saja hilang ditelan zaman, terlebih saat ini sudah memasuki era digital yang sangat padat informasi.
Dengan hadirnya program Literasi Desa, sejarah dan kekayaan budaya desa-desa akan terkuak dan tersaji dalam buku yang dapat dibaca oleh siapa saja, termasuk oleh generasi mendatang yang mungkin sudah tidak mengalami langsung masa-masa kejayaan tradisi tersebut.
Buku ini diharapkan menjadi rujukan penting, semacam ensiklopedia desa yang berisi kisah otentik tentang bagaimana sebuah komunitas tumbuh, berkembang, dan hidup dalam bingkai nilai-nilai lokalnya.
Kecamatan Rogojampi juga telah terlebih dahulu menunjukkan komitmennya terhadap gerakan literasi dengan membentuk sudut baca atau perpustakaan desa di setiap balai desa.
Berkat inisiatif ini, Kecamatan Rogojampi berhasil meraihJuara Harapan dalam lomba perpustakaan tingkat kabupaten, membuktikan bahwa upaya literasi di kawasan ini bukan hanya slogan semata.
Untuk mendukung implementasi program Literasi Desa, Kecamatan Rogojampi merangkul beberapa tokoh serta pegiat literasi di Banyuwangi, seperti Aguk Wahyu Nuryadi (budayawan yang juga pengurus Forum Banyuwangi Sehat), Maulana Affandi (pemimpin Redaksi Penerbit Lintang dan media online sastrawacana.id/), Yeti Chotimah (penulis sekaligus pemerhati budaya), Andi Budi Setiawan (sastrawan sekaligus ketua Kopiwangi), serta Heri Iskandar (penulis puisi dan pencipta lagu).
Semuanya akan menjadi pendamping desa dalam proses penulisan, dari pembekalan teknis, penyusunan naskah, hingga kurasi isi sebelum diterbitkan.
Aguk Wahyu Nuryadi yang akrab disapa Bung Aguk selaku koordinator tim menyambut baik program ini dan mengungkapkan optimismenya bahwa masyarakat desa mampu menghasilkan karya yang berkualitas.
“Kami siap mendampingi desa-desa untuk menggali dan merangkai potensi lokal mereka dalam bentuk tulisan. Program ini luar biasa karena bukan hanya bicara literasi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan sejarah yang selama ini tersembunyi,” ucap Bung Aguk.
Sementara itu, Maulana Affandi menekankan pentingnya menjadikan setiap desa sebagai subjek sejarahnya sendiri.
“Kami percaya bahwa setiap desa punya kisah. Ada narasi lokal yang layak ditulis, ada potensi yang perlu dipetakan, dan ada sejarah yang perlu diangkat ke permukaan. Melalui program ini, kami ingin membantu desa menyuarakan identitasnya sendiri,” ujar Affandi.
Dalam waktu dekat, Kecamatan Rogojampi akan mengundang seluruh kepala desa dan sekretaris desa untuk menghadiri pertemuan awal sebagai langkah pembuka.
Pertemuan ini akan menjadi ajang perkenalan, pengarahan, dan penyusunan strategi pendampingan literasi desa yang sistematis dan terukur.
Program ini bukan hanya soal menulis, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa desa adalah pusat pengetahuan yang autentik.
Ketika desa mampu menarasikan dirinya sendiri, maka pembangunan berbasis identitas lokal akan semakin kuat dan berkelanjutan.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pegiat literasi, dan masyarakat, Literasi Desa diharapkan menjadi model inspiratif bagi kecamatan lain di Banyuwangi, bahkan di Indonesia dalam menanamkan budaya menulis dan mencintai sejarah sendiri.
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam perhelatan akbar peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2025.
Kegiatan ini berlangsung meriah di halaman TK Negeri Model Banyuwangi pada Sabtu (31/05) dan diikuti oleh puluhan lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.
Diselenggarakan oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Banyuwangi, ajang ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan bakat, kreativitas, serta semangat berkompetisi secara positif dalam suasana yang menyenangkan.
Tidak hanya menjadi tempat menampilkan talenta, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter anak sejak dini melalui pengalaman langsung di atas panggung.
Pada kesempatan kali ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi tampil mencuri perhatian dengan berhasil membawa pulang tiga piala kemenangan dari berbagai cabang lomba, yakni:
Juara 1 lomba mewarnai tingkat TK se-Kabupaten Banyuwangi
Juara 1 lomba lari rintangan
Juara 2 lomba menari bertema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”
Capaian ini tentu bukan hasil instan, melainkan buah dari kerja keras para guru dalam membina anak-anak secara konsisten, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua murid yang terus terjalin harmonis.
Kelompok Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)
Salah satu momen paling mengesankan dalam kegiatan ini adalah penampilan tim tari TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam lomba menari yang mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.
Dengan kostum nyentrik yang mencerminkan semangat anak-anak masa kini dan gerakan tari yang enerjik serta terkoordinasi dengan baik, tim ini sukses memukau dewan juri dan penonton.
Tak heran jika mereka berhasil meraih posisi sebagai Juara 2 tingkat Kabupaten dan menuai banyak pujian.
Ketua Komite Sekolah, Sugeng, memberikan apresiasi tinggi atas usaha dan kepercayaan diri para peserta didik.
Ketua Komite TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)
Dalam wawancaranya, beliau menyampaikan rasa bangga atas sinergi yang kuat antara guru, siswa, dan orang tua.
“Anak-anak menunjukkan performa yang luar biasa. Mereka tampil percaya diri, antusias, dan sudah cukup matang untuk ukuran usia dini. Ini adalah hasil nyata dari semangat kebersamaan serta dukungan luar biasa dari para guru dan orang tua,” ujarnya penuh kebanggaan.
Kebanggaan serupa juga dirasakan oleh para wali murid, salah satunya Eva, orang tua dari peserta lomba tari yang terharu ketika melihat anak-anak menari di atas panggung.
“Rasanya haru sekali melihat anak-anak tampil sepenuh hati. Mereka begitu percaya diri, dan sebagai orang tua, itu adalah momen yang sangat menyentuh. Kami sangat bersyukur bisa menyaksikan sendiri proses mereka belajar, berlatih, hingga meraih juara,” tutur Eva dengan penuh haru.
Yang membuat lomba menari tahun ini semakin spesial adalah kehadiran Subari Sofyan, seorang maestro tari tingkat nasional yang didapuk sebagai juri utama.
Dengan pengalaman panjang di dunia seni pertunjukan, Subari memberikan penilaian yang mendalam dan menyeluruh terhadap setiap penampilan peserta.
Ia tidak hanya menilai dari aspek gerakan tari, namun juga memperhatikan kostum, pemilihan musik, ekspresi wajah, penguasaan panggung, serta keselarasan gerak antar anggota tim.
Juri dan Tim Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)
Tak berhenti di situ, Subari juga menyempatkan diri untuk memberikan edukasi seni kepada peserta dan para pendamping, menjadikan ajang ini tidak hanya kompetitif namun juga edukatif.
Melalui torehan prestasi ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi menunjukkan bahwa pembinaan karakter dan bakat anak usia dini harus dilakukan secara menyeluruh dan terarah.
Lingkungan belajar yang positif, guru-guru yang berdedikasi, serta dukungan penuh dari orang tua menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang unggul, percaya diri, dan berprestasi.
Ajang Hari Anak Nasional tahun ini menjadi bukti bahwa anak-anak, meskipun masih sangat belia, namun mampu tampil mengesankan bila diberikan kesempatan, bimbingan, dan ruang untuk berkembang.
Dan TK Kemala Bhayangkari Rogojampi telah membuktikannya dengan beberapa prestasi yang sangat gemilang.
Suasana penuh semangat dan keceriaan mewarnai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 yang digelar oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kecamatan Rogojampi pada Senin pagi (26/5).
Berlangsung di TK Aisyah Bustanul Athfal Rogojampi, kegiatan yang diselenggarakan oleh IGTKI Kecamatan Rogojampi ini diikuti oleh 25 lembaga Taman Kanak-Kanak dan 5 Kelompok Bermain yang tersebar di wilayah kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Panitia M. Gufron, S.Pd., yang menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan ini.
Ia menyapa satu per satu tamu undangan, dewan juri, guru, dan peserta lomba dengan penuh semangat.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, mulai dari orang tua, guru, dewan juri, hingga panitia yang telah bekerja keras. Harapan kami, anak-anak dari Rogojampi bisa menjadi wakil Kabupaten Banyuwangi untuk berkompetisi di tingkat Provinsi Jawa Timur,” ujar Gufron dalam sambutannya.
Hari Anak Nasional yang rutin diperingati setiap tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk memberikan ruang ekspresi, eksplorasi, dan unjuk bakat bagi para peserta didik.
Dalam sambutan kedua, Ketua IGTKI Kecamatan Rogojampi, Sri Isniwati, S.Pd., menjelaskan bahwa HAN merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan secara serempak mulai dari tingkat kecamatan hingga pusat oleh IGTKI.
“Setiap tahun, bentuk lomba yang diadakan selalu berbeda karena HAN bukan sekadar seremoni, tetapi juga ajang pelatihan kompetensi untuk anak-anak dan para pendidik. Tahun ini, kami ingin lebih banyak menggali aspek budaya, lingkungan, dan kemampuan literasi anak sejak usia dini,” terang Isniwati.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi pada pukul 08.17 WIB oleh Dian Indriyati, S.Pd., selaku Koordinator Wilayah Kerja Satuan Pendidikan (Korwilkersatdik) Kecamatan Rogojampi.
Dalam sambutannya, Dian menyampaikan apresiasi tinggi kepada IGTKI Rogojampi atas kerja keras dan sinergi dalam menyelenggarakan kegiatan ini dengan sangat baik.
“Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini yang begitu tertib dan edukatif. HAN bukan hanya milik anak-anak, tapi juga momentum bagi kita sebagai pendidik untuk terus belajar dan mengembangkan pendekatan yang kreatif,” ujar Dian yang juga membuka secara simbolis kegiatan HAN.
Peringatan HAN tahun ini di Rogojampi menghadirkan beragam cabang lomba yang menarik dan edukatif, seperti: Lomba Bercerita, Lari Rintangan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Kreasi 3M lingkunganm dan 7 Tari Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Setiap lomba didesain untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kerja sama, kemampuan motorik, serta menanamkan nilai-nilai budaya dan kecintaan terhadap lingkungan.
Khusus untuk lomba menari, perwakilan Kecamatan Rogojampi diwakili oleh TK Kemala Bhayangkari.
Mereka menampilkan pertunjukan penuh semangat dan berwarna yang memikat perhatian penonton, memperlihatkan latihan yang matang dan kerja keras yang dilakukan bersama guru dan orang tua.
Salah satu cabang lomba yang paling menyita perhatian adalah lomba bercerita, di mana anak-anak tampil membawakan cerita-cerita pengalaman pribadinya, seperti saat sedang berlibur ke luar kota.
Penampilan mereka tidak hanya menampilkan kemampuan bicara di depan umum, tetapi juga ekspresi, intonasi suara, kesesuaian busana, dan penguasaan panggung untuk anak seusia mereka.
Lomba ini dinilai oleh tiga juri berpengalaman dari berbagai latar belakang seni dan literasi, diantaranya Bung Aguk, seorang budayawan kenamaan Banyuwangi, Sri Umiati, penari senior sekaligus istri dari almarhum maestro tari Banyuwangi, Sumitro Hadi, serta Maulana Affandi, penulis dan pegiat literasi Banyuwangi.
Menurut para juri, penampilan peserta sangat menggembirakan dan menjadi bukti bahwa geliat literasi di Rogojampi semakin berkembang.
Namun, mereka juga memberikan beberapa catatan penting agar peserta, terutama para juara, dapat meningkatkan kualitas menjelang kompetisi di tingkat kabupaten.
“Ada beberapa aspek yang bisa ditingkatkan, seperti penguasaan panggung (blocking), ekspresi wajah, dan pemanfaatan properti. Ini bukan untuk mengurangi nilai, tapi sebagai bekal untuk bisa melangkah lebih jauh di tingkat yang lebih tinggi,” ujar Bung Aguk.
Sementara itu, Sri Umiati menegaskan bahwa dalam bercerita, ekspresi harus diperhatikan agar isi dalam cerita dapat tersampaikan.
“Jadi, ekspresi harus selaras dengan cerita yang disampaikan supaya penonton merasakan hal yang serupa dengan apa yang diceritakan,” tegasnya.
Sementara itu, Maulana Affandi yang mengingatkan agar para guru memerhatikan juknis lomba, termasuk durasi waktu sehingga dapat menulis naskah yang disesuaikan dengan waktu penampilan.
“Bagaimanapun itu, setiap perlombaan terikat oleh aturan, sehingga diharapkan para guru dapat memerhatikan juknis sehingga para peserta bisa tampil maksimal,” tandasnya.
Membentuk Generasi Hebat Sejak Dini Kegiatan Hari Anak Nasional 2025 di Kecamatan Rogojampi menjadi refleksi nyata bagaimana pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, baik secara akademik, emosional, maupun sosial.
Dengan dukungan dari guru, orang tua, dan pemerintah daerah, anak-anak Rogojampi menunjukkan bahwa mereka siap menjadi generasi hebat Indonesia yang penuh semangat, cerdas, dan cinta budaya.
Di sisi lain, peringatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan panggung kebanggaan bagi anak-anak untuk tampil dan mendapat ruang yang layak dalam proses pendidikan mereka.
Momentum Syawal dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Rogojampi dan Yayasan Pendidikan Islam Ahlussunnah Waljamaah (YPIA) Rogojampi untuk menggelar Halal Bihalal, Ahad pagi (27/4).
Bertempat di lingkungan gedung MWC NU Rogojampi, kegiatan ini dihadiri jajaran Pengurus MWC NU, pengurus YPIA, serta perwakilan organisasi badan otonom seperti Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, ISNU, Pagar Nusa, Lazisnu, dan para guru di bawah naungan YPIA Rogojampi.
Acara di buka dengan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu Yalal Waton dan pembacaan ayat suci Al Quran.
Dalam sambutannya, Ketua MWC NU Rogojampi, Ustad Anwar Rofiq, menegaskan bahwa Halal Bihalal ini menjadi agenda rutin tahunan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan warga NU Rogojampi.
“Kami berharap, semua ranting NU di kecamatan Rogojampi semakin solid dan kompak demi kemaslahatan umat ke depan,” ungkapnya penuh semangat.
Kegiatan ini juga mendapatkan perhatian dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi. Perwakilan PCNU yang hadir memberikan pesan agar seluruh MWC NU dan ranting NU se-Kabupaten Banyuwangi menjaga kesolidan, serta tegak lurus dalam barisan yang sejalan dengan arah perjuangan PBNU, PWNU, dan PCNU.
Mengusung tema “Halal Bihalal adalah Waktu yang Tetap untuk Mengembalikan Kehangatan Persaudaraan dan Menumbuhkan Rasa Saling Mengasihi,” acara ini menjadi refleksi penting untuk memperkuat rasa persatuan di tengah perbedaan.
Dalam tausiyahnya, Kyai. Fathurraq Ahdini, Rois Syuriah MWC NU Rogojampi, menyampaikan pesan menyejukkan tentang pentingnya memelihara ukhuwah.
“Jika membenci seseorang, jangan terlalu dalam. Bisa jadi kelak rasa itu berubah menjadi cinta. Begitu pula sebaliknya. Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan adalah rahmat,” tutur beliau, mengingatkan hadirin dengan hikmah penuh makna.
Hadirin sangat khidmat sekali mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh rois syuriah MWC NU Rogojampi sampai selesai meski dalam suasana panas di siang hari.
Acara ditutup dengan pembacaan doa dan berjabat tangan antar peserta, sebagai simbol saling memaafkan dan menguatkan kembali ikatan persaudaraan dalam keberagaman.
Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2025, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi menggelar Kompetisi Inovasi Satuan Lembaga Pendidikan. Ajang ini diikuti oleh Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Banyuwangi.
Dari seribu lembaga yang berpartisipasi, sebanyak 100 lembaga berhasil lolos seleksi, termasuk KB dan TK Muslimat Al Abror.
Menariknya, yayasan ini berhasil meloloskan dua unit sekaligus dalam ajang bergengsi ini.
Berdiri sejak 2014 di Desa Adat Keboan Aliyan, KB dan TK Muslimat Al Abror sempat menghadapi tantangan besar saat pandemi, hingga nyaris tutup ketika memasuki usia sembilan tahun.
Namun, semangat kebangkitan kembali membawa lembaga ini bertahan dan kini meraih pencapaian membanggakan.
Kelompok Bermain Muslimat Al Abror memiliki jumlah peserta didik yang masih terbatas, begitu juga dengan TK-nya yang menempati lahan terbatas hanya beberapa meter persegi.
Dengan tiga kelas, lima guru, dan dua tenaga kependidikan, lembaga ini terus berjuang meningkatkan kualitas pendidikan.
“Alhamdulillah, saya bermimpi bisa masuk tiga besar. Jika suatu saat ada yang ingin berbagi pengalaman atau melakukan studi tiru ke lembaga yang masih merintis dengan jumlah peserta didik sedikit, saya ingin menyampaikan: ‘Ojo cilik ati.’ Layani anak negeri dengan hati penuh cinta kasih, sebagaimana Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya,” ujar Kepala KB Al Abror, Mutiara Sani, S.M. Setiap sore, ia juga mengajar mengaji di TPQ Tholibin Ilmi, Cermean, Singolatren, Singojuruh.
Sambil memangku salah satu muridnya, Faradila Zhakaylah, yang bercita-cita menjadi polwan, Bu Tiara menjelaskan inovasi yang diusungnya, yaitu ACBK (Amati, Contoh, Biasakan, dan Kolaborasi).
Strategi ini dirancang untuk membantu anak-anak membentuk karakter positif melalui contoh yang baik serta sinergi dengan seluruh warga belajar dan pemangku kepentingan.
“Baru setahun mengajar langsung masuk 19 besar? Tentu saya terkejut dan bahagia. Pengalaman mengajar ngaji dan aktif di berbagai kegiatan saat sekolah dan kuliah sangat berpengaruh. Namun, yang paling besar daya picunya adalah sosok yang menggembleng kami dengan segala keterbatasan tetapi tetap penuh syukur, sabar, ikhlas, kasih sayang, dan disiplin, yaitu Bu Ida!” ungkapnya.
Sosok Bu Ida atau Faridatul Hasanah, S.Pd, merupakan Kepala TK Muslimat Al Abror Aliyan yang inovasinya “Sentuhan Alamku” juga berhasil melaju ke seleksi 30 besar per jenjang.
Ia juga merupakan kepala sekolah dengan dedikasi tinggi versi YPM, peraih prestasi inovasi PAUD HI tingkat nasional saat mengabdi di lembaga sebelumnya.
Selain itu, ia adalah seorang Asesor Jatim dan mentor narasumber nasional yang telah berbagi ilmu hingga ke Kangean dan Kalimantan.
“Saya ikut membidani kelahiran TK ini sekitar satu dasawarsa. Saat situasi mengharuskan saya berpindah lembaga, banyak pihak menawarkan tempat mengabdi baru. Namun, hati saya terpanggil kembali ke Al Abror, meskipun saat itu muridnya sedikit dan belum memiliki prestasi. Bersama tujuh guru dan tenaga kependidikan yang baru, kami harus berpikir keras, cerdas, dan ikhlas. Kini, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh, bahkan sebelum tahun ajaran baru dibuka, sudah ada yang menitipkan anak dan cucunya. Alhamdulillah, melalui proses luar biasa ini, Allah menjawab perjuangan kami dengan membawa lembaga ini masuk sebagai salah satu lembaga inovatif dalam rangka menyongsong Hardiknas 2025. Dengan penuh syukur dan rendah hati, kami optimis melangkah lebih jauh untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan di Banyuwangi,” ujarnya.
Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) periode 2025-2028 di Pondok Pesantren Safinatul Huda (Safinda) yang berlokasi di Secawan, Dadapan, Kabat, Banyuwangi,Minggu (23/03/25).
Acara ini dihadiri oleh Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) se-Banyuwangi, Camat Kabat, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi yang mewakili Wakil Bupati, serta para pengasuh pondok pesantren.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars BKPRMI. Suasana penuh semangat dan khidmat terasa sejak awal acara berlangsung.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sururudin, S.E, M.Si yang menjelaskan struktur dan program kerja BKPRMI.
Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa BKPRMI memiliki 7 lembaga utama, yaitu:
Lembaga Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an (LPPTKA, Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPP SDM), Lembaga Pembinaan Keluarga Sakinah (LPKS), Lembaga Ekonomi dan Koperasi (LPP-Ekop), Lembaga Kesehatan Masyarakat, Lembaga Bantuan Hukum dan Brigade Masjid.
Selanjutnya, Kabag Kesra Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E, M.Si memberikan apresiasi terhadap peran BKPRMI dalam membangun generasi muda Islami yang berakhlak dan berkarakter.
Dalam sambutannya, Yusdi Irawan menekankan pentingnya pendidikan sebagai solusi utama dalam memutus mata rantai kemiskinan.
“Pendidikan adalah kunci utama bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Baginya, BKPRMI memiliki peran besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan dan wawasan luas.
Setelah sesi sambutan, masing-masing tim melakukan rapat koordinasi di tempat yang telah disediakan.
Salah satu yang menjadi perhatian utama dalam rakor kali ini adalah tim IT yang dikomandoi oleh Ustaz Aguk Wahyu Nuryadi selaku Biro Digital dan Media Sosial BKPRMI.
Dalam diskusi tim IT, disepakati bahwa perlu adanya pendataan yang lebih sistematis terkait guru ngaji dan lembaga pendidikan Al-Qur’an di seluruh Banyuwang dengan operator tetap di aplikasi Emis Kemenag sekaligus kontributor reporter website.
Tujuan dari pendataan ini adalah agar bantuan dapat tersalurkan secara merata dan tepat sasaran khususnya guru ngaji.
Setelah pendataan di lembaga yang sudah punya ijin operator tetap yang dibekali ilmu reportase untuk menghidupkan website BKPRMI.
Dengan pemanfaatan teknologi digital, diharapkan pengelolaan data semakin akurat dan transparan.
Setelah rangkaian rapat koordinasi selesai, kegiatan Rakerda BKPRMI Banyuwangi ditutup dengan sesi buka bersama dan pembagian sarung.
Suasana kebersamaan dan keakraban semakin terasa, menguatkan semangat para peserta untuk menjalankan amanah yang telah diberikan.
Dengan adanya Rakerda ini, diharapkan BKPRMI Kabupaten Banyuwangi semakin solid dalam menjalankan program-programnya, khususnya dalam pengembangan pendidikan, kesejahteraan umat, serta pemanfaatan teknologi digital untuk kemajuan bersama.
TK Muslimat NU Aliyan memperkenalkan inovasi terbaru dalam dunia pendidikan anak usia dini melalui program “Sentuh Alamku”, sebuah metode pembelajaran berbasis stimulasi motorik yang mengintegrasikan unsur-unsur alam dalam aktivitas belajar.
Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan motorik halus dan kasar anak melalui eksplorasi lima elemen utama: batu, kayu, pasir, air, dan angin.
Latar Belakang Program
Program “Sentuh Alamku” lahir dari kebutuhan akan metode pembelajaran yang lebih alami dan interaktif dalam mendukung perkembangan anak.
Studi menunjukkan bahwa banyak anak usia dini mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya akibat kurangnya stimulasi yang tepat.
Dengan pendekatan multisensorik, anak-anak diajak untuk berinteraksi langsung dengan alam, sehingga dapat mengembangkan koordinasi tubuh, kreativitas, keseimbangan emosional, serta kecerdasan intelektual secara lebih optimal.
Metode dan Aktivitas Program
Pelaksanaan program “Sentuh Alamku” mencakup berbagai aktivitas inovatif yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna, di antaranya:
1. Stimulasi Gerakan Lima Jari – Latihan khusus untuk memperkuat otot tangan dan meningkatkan keterampilan motorik halus anak.
2. SPA Banata (Pijatan Relaksasi) – Terapi sederhana yang dilakukan secara berkala untuk membantu anak lebih rileks, meningkatkan fokus, dan mengurangi stress.
3. Senam Otak dengan Angin – Aktivitas sensorik yang memanfaatkan angin sebagai elemen stimulasi untuk meningkatkan kesadaran dan kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar.
4. Eksplorasi Elemen Alam – Anak-anak diajak untuk bermain pasir guna melatih kreativitas, menyusun kayu untuk meningkatkan koordinasi motorik kasar, serta berinteraksi dengan air untuk memperkuat keseimbangan tubuh dan stimulasi sensori.
Program ini juga melibatkan peran aktif orang tua melalui sesi parenting berkala yang bertujuan untuk membekali orang tua dengan pengetahuan tentang perkembangan anak, sehingga pendampingan di rumah dapat selaras dengan pembelajaran di sekolah.
Pendekatan holistik ini menjadikan “Sentuh Alamku” lebih dari sekadar program edukasi, tetapi juga sebuah langkah untuk membangun harmoni antara anak, orang tua, dan alam.
Dampak dan Harapan
Sejak diterapkan pada Januari 2024, program “Sentuh Alamku” telah menunjukkan dampak positif yang signifikan, seperti:
Peningkatan daya tahan tubuh anak melalui aktivitas fisik berbasis alam.
Perkembangan kreativitas dan eksplorasi anak yang lebih optimal.
Lingkungan belajar yang lebih harmonis, aktif, dan menyenangkan.
Dengan inovasi ini, TK Muslimat NU Aliyan berharap dapat menjadi pelopor dalam penerapan metode pembelajaran berbasis alam yang efektif.
Program ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan model pendidikan yang lebih alami dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini.
Kepala TK Muslimat NU Aliyan, Faridatul Hasanah, S.Pd., menuturkan bahwa alam merupakan guru terbaik yang dapat mengajarkan banyak hal untuk anak didik yang tidak bisa digantikan dengan teknologi.
“Alam memberikan pengalaman nyata yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Ketika anak-anak menyentuh tumbuhan, merasakan hembusan angin, atau bermain dengan air, mereka belajar tentang tekstur, gerakan, dan keseimbangan secara langsung, sehingga membangun koneksi emosional dan fisik yang sangat bermanfaat bagi perkembangan anak,” tutur Kepala TK Muslimat NU Aliyan.
Lebih lanjut, Faridatul Hasanah, S.Pd., menambahkan jika metode ini dapat tidak hanya mampu membuat anak-anak menjadi kreatif, tapi juga memiliki sisi emosional yang positif dan humanis.
“Kami yakin dan ingin anak-anak tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang sehat, harmonis, dan peduli pada alam sekitar,” tutupnya.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program ACBK dan TK Muslimat NU Aliyan, silakan hubungi melalui alamat berikut ini:
Alamat: TK Muslimat NU Aliyan, Desa Aliyan, Dusun Krajan RT 03 RW 01, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.