Tag: sastra

  • Pengertian Folklore, Ciri-Ciri dan Fungsinya

    Pengertian Folklore, Ciri-Ciri dan Fungsinya

    Pengertian Folklore

    Folklore merupakan gabungan dari dua kata Folk dan Lore, kata Folklore berasal dari bahasa Inggris yang masing-masing memiliki arti sebagai berikut:

    Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri khas tertentu seperti kebudayaan, fisik yang membedakan dengan kelompok lainnya.

    Lore adalah kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan maupun Isyarat.

    Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan.

    Adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak dibukukan.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian folklore adalah suatu kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, baik itu dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk isyarat.

    Oleh karenanya Folklor identik dengan tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah yang telah menyatu di dalam kehidupan masyarakat.

    Di indonesia sendiri, setiap daerah, etnis, kelompok, suku, dan golongan agama masing-masing masyarakatnya telah mengembangakan folklorenya sendiri sehingga terdapat beranekaragam folklor yang ada di Indonesia.

    Ciri-Ciri Folklore

    Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri folklore:

    • Folklore merupakan milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini dikarenakan pencipta yang pertama sudah tidak diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya, bahkan mengaku menciptakannya.
    • Pewarisan dan penyebaran dilakukan secara lisan, yakni melalui tutur kata maupun gerak isyarat atau alat pembantu pengikat lainnya. Folklore bersifat anonim, maksudnya penciptanya tidak diketahui.
    • Folklore hadir dalam versi-versi maupun variasi-variasi yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan oleh cara penyebarannya dilakukan secara lisan sehingga sangat mudah mengalami perubahan.
    • Folklore bersifat tradisional, maksudnya adalah folklore disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar.

    Bentuk-Bentuk Folklore

    1. Folklore Lisan

    Merupakan folklore yang bentuknya asli secara lisan yang terdiri dari: Puisi rakyat, seperti pantun dan parikan jowo. Contoh: wajik klethik gula Jawa (isih cilik sing prasaja).

    Bahasa rakyat, seperti logat (Batak, dayak, Jawa, Banyumasan, Bugis, Sunda dan lain-lain), julukan (si cungkring, si pendek) dan gelar kebangsawanan (datok,teuku, raden, dan sebagainya). Ungkapan tradisional, seperti peribahasa/pepatah.

    Sebagai Contoh: koyo monyet keno tulup (seperti kera kena sumpit), seperti telur di ujung tanduk (keadaan yang gawat) yakni untuk menggambarkan orang yang bingung. Cerita prosa rakyat, misalnya mite, legenda, dan dongeng.

    2. Folklore Sebagian Lisan

    Merupakan folklore yang bentuknya yang terdiri dari campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan, seperti: Permainan rakyat, kepercayaan rakyat (takhayul), adat istiadat, tarian rakyat , pesta rakyat dan lain-lain.

    3. Folklore Bukan Lisan (Non Verbal Folklore)

    Merupakan folklore yang bentuknya bukan lisan. Contoh adalah arsitektur rakyat (bentuk rumah Joglo, Minangkabau, Limasan, Toraja, dan sebagainya), kerajinan tangan, pakaian, dan perhiasan dan lain-lain. Yang sesuai dengan daerahnya masing-masing.

    Jenis-jenis Folklore

    1. Mitos

    Mitos merupakan suatu hal yang berbau mistis yang di percayai sekelompok orang yang berkembang di suatu daerah.

    2. Legenda

    Legenda adalah Prosa atau cerita rakyat yang berkembang di suatu daerah.

    3. Dongeng

    Dongeng merupakan cerita-cerita yang di buat oleh manusia yang berisikan nilai moral kehidupan biasanya dongeng diceritakan oleh orang tua kepada anaknya sebagai pengantar tidur.

    4. Nyanyian Rakyat

    Nyanyian Rakyat merupakan salah satu bentuk folklore yang terdiri dari teks dan lagu

    5. Upacara

    Upacara merupakan salah satu cara untuk memberikan penghormatan terhadap nenek moyang, tempat, peristiwa tertentu yang telah terjadi di masa lalu yang dihormati dan dilestarikan hingga kini.

    Fungsi Folklore

    Adapun fungsi folklore, yaitu sebagai berikut:

    • Sebagai sistem proyeksi, sebagai sarana untuk mencerminkan imajinasi kolektif.
    • Sebagai sarana untuk meratifikasi lembaga dan institusi budaya.
    • Sebagai alat pendidikan untuk anak-anak.
    • Sebagai instrumen kekuatan dan kontrol, sehingga norma-norma masyarakat selalu dihormati oleh anggota kolektif mereka.

    Nah, itulah pengertian, bentuk, ciri-ciri, jenis, dan fungsi folklor. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/.

  • Resensi Novel Atheis Karya Achdiat K. Miharja

    Resensi Novel Atheis Karya Achdiat K. Miharja

    Judul: Atheis
    Penulis : Achdiat K. Miharja
    Terbitan pertama : Tahun 1949
    Jumlah halaman : 224

    Sinopsis Novel Atheis Karya Achdiat K. Miharja

    Karya sastra berupa Novel ini menceritakan kisah perjalanan hidup seorang jejaka priangan bernama Hasan.

    Hasan tinggal bersama kedua orang tua dan adik angkatnya yang bernama Fatimah.

    Sedari kecil Hasan sudah dididik dengan ajaran agama yang kuat, sehingga menjadikannya sebagai sosok yang alim dan soleh.

    Kealiman dan kesolehannya ini masih tetap melekat sampai ia dewasa, sehingga ia dijuluki Pak Ustad oleh rekan kerjanya di kota.

    Suatu hari ketika Hasan sedang bekerja, ia bertemu dengan sahabat masa kecilnya yang yang bernama Rusli.

    Dahulu mereka adalah sahabat yang cukup dekat, walaupun Rusli memiliki kebiasaan dan kelakuan buruk.

    Rusli juga mengenalkan Hasan pada Kartini, seorang janda muda yang cantik, kaya, sopan, dan memiliki pergaulan yang lumayan bebas.

    Kartini mengingatkan Hasan pada cinta pertamanya yang bernama Rukmini.

    Bayang-bayang Rukmini sering berkelebat dalam sanubarinya, dan Hasan pun akhirnya memutuskan untuk mulai mecintai Kartini.

    Walaupun pada saat pertama kali melihat Kartini yang bergaul bebas dengan Rusli membuat Hasan merasa risi

    Akan tetapi akhirnya ia sering juga mengunjungi rumah Rusli dan otomatis sering pula bertemu dengan Kartini.

    Seiring berputarnya waktu mereka akhirnya bersahabat menjadi sahabat karib.

    Melalui persahabatan inilah Rusli dan Kartini akhirnya berhasil merubah keyakinan Hasan terhadap Tuhan.

    Hasan mulai tidak percaya pada Tuhan, karena baginya kini Tuhan hanya ada dalam dunia imajinasi manusia.

    Keadaan ini bertambah parah setelah Hasan bertemu dengan Anwar yang menganggap dirinya sebagai Tuhan dan menjadi lebih buruk lagi saat ia menikah dengan Kartini.

    Hasan pada waktu itu berani memperolok orang tuanya yang masih saja percaya akan Tuhan.

    Akibatnya ia tidak diakui oleh ayahnya sampai ayahnya meninggal.

    Ia baru sadar tentang kesalahannya melupakan Sang Pencipta saat ia bercerai dengan Kartini dan ayahnya meninggal.

    Ia kemudian kembali salat dan berzikir kepada Tuhannya, yakni Allah SWT.

  • 11 Pengertian Frasa Menurut Para Ahli dan Cirinya

    11 Pengertian Frasa Menurut Para Ahli dan Cirinya

    Secara umum, frasa merupakan satuan bahasa yang terdiri atas dua kata atau lebih yang berfungsi sebagai satu kesatuan dalam kalimat.

    Frasa tidak memiliki unsur subjek dan predikat, sehingga tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat utuh.

    Pengertian Frasa Menurut Para Ahli

    Berikut beberapa pengertian frasa menurut para ahli

    1. Verhaar (2001)

    Menjelaskan bahwa frasa adalah kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan yang lebih panjang.

    2. Kentjono (1990)

    Mendefinisikan frasa sebagai satuan gramatika yang terdiri dari dua kata atau lebih dari dua kata yang tidak berciri klausa yang pada umumnya menjadi pembentuk dalam klausa.

    3. Keraf (1991)

    Arti frasa adalah suatu konstruksi yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan.

    4. Kridalkasana (1993)

    Pengertian frasa adalah gubungan dari dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif, gabungan itu dapat rapat, dapat renggang.

    5. Parera (1994)

    Memberikan batasan frasa sebagai suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih, baik dalam sebuah pola dasar kalimat maupun tidak.

    6. Chaer (1998)

    Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang merupakan satu kesatuan, dan menjadi salah satu unsur atau fungsi kalimat (subjek, predikat, objek, atau keterangan).

    7. Tarmini

    Pengertian frasa adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua konstituen atau lebih yang mampu mengisi fungsi sintaksis tertentu yang terdapat dalam kalimat akan tetapi tidak melampui dari batas-batas fungsi klausa atau yang dapat dikatakan sebagai frasa itu nonpredikatif.

    8. Lyons

    Definisi frasa adalah satu kelompok kata yang secara gramatikal sepadan dengan satu kata dan tidak memiliki subjek dan predikat sendiri.

    9. Putrayasa

    Arti frasa menurut Putrayasa adalah kelompok kata yang memiliki kedudukan sebagai sautu fungsi dalam kalimat yang tidak semua dari frase itu terdiri dari kelompok kata.

    10. Trask (1999)

    Arti frasa menurut Trask adalah unit gramatikal yang lebih kecil dibandingkan klausa, terdiri dari 2 kata atau lebih, tapi tidak terkadung unsur-unsur yang ada pada klausa.

    11. Redford (1999)

    Pengertian frasa adalah rangkaian 2 kata atau lebih yang bukan merupakan klausa, karena tidak berisi subjek dan atau predikat.

    Ciri-ciri Frasa

    • Terdiri dari minimal 2 kata atau lebih.
    • Bersifat non-predikatif.
    • Memiliki fungsi gramatikal dalam kalimat.
    • Dalam frasa harus memiliki satu makna gramatikal.
    • Selalu menduduki satu fungsi kalimat.
    • Maknanya dapat berubah sesuai pemakaiannya.
    • Kata penyusun frasa masih mampu dipertahankan untuk makna aslinya.
  • Pengertian Diftong dan Contohnya dalam Bentuk Kalimat

    Pengertian Diftong dan Contohnya dalam Bentuk Kalimat

    Pengertian Diftong

    Diftong adalah gabungan dua huruf vokal yang diucapkan secara bersamaan dalam satu suku kata dan menghasilkan satu bunyi padu.

    Kedua huruf vokal tersebut tidak dapat dipisahkan karena jika dipisahkan, makna atau bunyi katanya akan berubah.

    Dengan kata lain, diftong merupakan perpaduan bunyi vokal yang terjadi dalam satu tarikan napas sehingga terdengar sebagai satu kesatuan suara.

    Dalam bahasa Indonesia, diftong biasanya terjadi pada kombinasi huruf vokal seperti ai, au, dan oi. Ketiga kombinasi ini menghasilkan bunyi yang khas dan tidak dapat dipecah menjadi dua bunyi vokal yang terpisah.

    Misalnya kata harimau, maka huruf a dan u (au) menghasilkan bunyi “aw” adalah diftong. Contoh lain kata pantai, maka huruf a dan i (ai) menghasilkan bunyi “ay” adalah diftong.

    Dalam sistem fonetik bahasa Indonesia, diftong berbeda dari deret vokal biasa.

    Jika dua vokal berada dalam suku kata yang berbeda (misalnya pada kata seolah → se-o-lah), maka itu bukan diftong, melainkan dua vokal terpisah.

    Namun jika dua vokal berada dalam satu suku kata (misalnya pantai → pan-tai), maka itu disebut diftong.

    • Pada kata “harimau”, huruf a dan u membentuk diftong au yang menghasilkan bunyi “aw”.
    • Pada kata “pantai”, huruf a dan i membentuk diftong ai yang menghasilkan bunyi “ay”.
    • Pada kata “tomboi”, huruf o dan i membentuk diftong oi yang menghasilkan bunyi “oy”.

    Contoh Diftong dalam Kalimat Bahasa Indonesia

    Ayo kita pergi ke pantai.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: ay (gabungan a dan i)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: pantai.

    Burung itu selalu berkicau.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah : aw (gabungan dari a dan u)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: kicau.

    Pak Lurah mengimbau warga untuk jaga kebersihan.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: aw (gabungan dari a dan u)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: imbau.

    Si Dewi sangat tomboi karena sering main dengan pria.

    • Huruf diftong pada kalimat di atas adalah: oi (gabungan dari kata o dan i)
    • Kata yang mengandung huruf diftong adalah: tomboi.
  • 6 Alasan Kenapa Ebook Lebih Mahal Dari Buku Cetak

    6 Alasan Kenapa Ebook Lebih Mahal Dari Buku Cetak

    Di zaman yang serba digital ini, hampi semua sektor sudah mulai beralih ke online, termasuk industri penerbitan buku.

    Ya, beberapa tahun belakangan ini, produk buku digital atau ebook sedang naik daun.

    Tidak sedikit yang lebih suka dan tertarik untuk membaca ebook, daripada buku cetak dengan alasan lebih praktis dan mudah dibawa ke mana saja.

    Tentu saja fenomena ini menggeser kedudukan buku cetak yang kini mulai menurun peminatnya.

    Kenapa Ebook Lebih Mahal Dari Buku Cetak?

    Padahal, secara umum, harga ebook lebih mahal daripada buku fisik. Tapi tetap saja, dengan alasan praktis, orang-orang lebih memilih ebook.

    Namun, terlepas dari itu semua, tahukah kamu kenapa ebook lebih mahal daripada buku cetak? Kalau belum tahu, mari simak beberapa faktanya berikut ini.

    1. Ebook Lebih Praktis dan Nyaman

    Ketika seseorang sudah nyaman dengan satu pilihan, maka ia akan siap berkorban. Begitupula dengan ebook.

    Banyak yang merasa nyaman dengan ebook sehingga mereka rela mengeluarkan nominal yang lebih tinggi.

    Selain itu, membeli ebook juga tak serumit membeli buku cetak. Kamu hanya perlu membuka platform toko buku, kemudian klik pesan dan bayar.

    Berbeda dengan buku cetak. Kamu harus ke toko buku terlebih dahulu. Walaupun bisa pesan online, tapi kamu tidak bisa langsung membaca karena menunggu buku datang.

    2. Ebook Lebih Awet

    Salah satu alasan yang membuat ebook bernilai lebih tinggi adalah kekuatannya. Jika file tidak terhapus, maka ia tidak akan pernah usang sampai kapanpun.

    Berbeda dengan buku cetak yang rentan rusak, misalnya sobek atau terkena air. Jadi, secara teknis, ebook lebih awet sehingga harganya pun menjadi lebih tinggi.

    3. Penerbit Ingin Buku Cetak Tetap Eksis

    Kebanyakan penerbit serta penulis masih ingin buku cetak tetap eksis. Oleh karenanya, salah satu pertimbangan menaikkan harga ebook adalah agar posisi buku cetak tidak terlalu tergeser.

    Sebab, ketika ebook dibanderol dengan harga yang murah, maka itu adalah sebuah mimpi buruk bagi buku cetak. Jadi, dengan pertimbangan itulah kenapa ebook dijual dengan harga yang lebih tinggi.

    4. Pajak Ebook Cukup Tinggi

    Beberapa negara memiliki aturan pajak yang cukup tinggi pada produk buku digital.

    Contohnya di Inggris, pemerintah setempat mengenakan pajak yang cukup tinggi untuk ebook, yakni sebesar 20 persen. Oleh karenanya, harga ebook cukup fantastis di sana.

    5. Risiko Pembajakan Tinggi

    Semua karya memang memiliki risiko dibajak.

    Tapi untuk ebook, risikonya lebih tinggi karena pembajak tidak butuh alat cetak, kertas, dan sebagainya.

    Tentu saja pembajakan ini juga memberi dampak pada pemasaran serta penjualan.

    Sehingga kebanyakan penerbit mengantisipasi terjadinya pembajakan ini dengan cara menjual ebook dengan harga yang lebih tinggi.

    6. Sistem Penjualan Berbeda

    Sistem penjualan ebook berbeda dengan buku cetak. Jika buku cetak biasanya melibatkan agen atau pengecer, maka ebook tidak.

    Ebook langsung dijual oleh penerbit dan tanpa perantara lagi.

    Penerbit akan bekerjasama dengan beberapa platform jual beli buku digital seperti Google Play Book.

    Tentunya penerbit akan membayar pajak kepada platform ketika ebook terjual.

  • 4 Karya Mochtar Lubis yang Paling Fenomenal

    4 Karya Mochtar Lubis yang Paling Fenomenal

    Mochtar Lubis adalah seorang jurnalis sekaligus sastrawan top tanah air. Sejak zaman pendudukan Jepang, ia telah banyak memberikan kontribusi terhadap kemajuan literasi Indonesia.

    Selain itu, Mochtar Lubis juga dikenal sebagai penyair fenomenal yang terus mengkritik penguasa dengan karya-karyanya.

    Buku Mochtar Lubis

    Nah, dari sekian banyak karya-karyanya, ada beberapa yang cukup fenomenal dan masih menjadi pembicaraan hingga saat ini.

    sastrawacana.id/ telah merangkum, dari segudang karyanya, setidaknya ada empat buku Mochtar Lubis yang cukup fenomenal dan populer hingga sekarang. Berikut diantaranya.

    1. Harimau! Harimau!

    Buku berjudul Harimau! Harimau! adalah salah satu karya Mochtar Lubis yang cukup populer, diterbitkan pada tahun 1975.

    Buku ini bercerita tentang tujuh tokoh pendamar bernama Pak Haji, Pak Balam, Sanib, Buyung, Talib, Sutan, dan Wak Katok. Ketujuh orang ini sangat disegani di kampungnya karena mereka punya perilaku yang sopan dan baik.

    Pada suatu hari ketika sedang berburu kijang di hutan, mereka bertemu dengan harimau yang juga ingin memangsa kijang.

    Harimau tersebut marah karena merasa buruannya diambil, kemudian harimau itu menyerang Pak Balam dan Talib.

    Dari penyerangan itu, akhirnya terbongkar beberapa rahasia kelam keduanya yang jauh berbeda dengan pandangan masyarakat selama ini.

    Buku fenomenal ini ditulis ketika Mochtar Lubis berada di dalam penjara.

    Meski ditulis dalam jeruji besi, akhirnya buku Harimau! Harimau! diberi penghargaan sebagai buku terbaik dari Departemen Pendidikan dan Budaya RI dan sudah diterjemahkan ke dalam tiga bahasa, Inggris, Belanda, dan Mandarin.

    2. Senja di Jakarta

    Buku Senja di Jakarta merupakan sebuah kritik keras yang dituangkan ke dalam tulisan. Buku ini bercerita tentang bobroknya ekonomi, sosial, dan politik di Jakarta pada tahun 1950-an.

    Tokoh dalam buku Senja di Jakarta adalah Suryono dan ayahnya, Raden Kaslan. Dalam ceritanya, mereka berdua adalah orang yang bergelimang harta. Hanya saja harta itu hasil dari korupsi.

    Kritik Lubis pada buku Senja di Jakarta sangat terasa, bahkan sampai saat ini. Kemudian pada tahun 1957, Senja di Jakarta akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Claire Holt dengan tajuk Twilight in Jakarta.

    Tidak berhenti sampai di situ, buku ini juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, mulai dari Belanda, Malaysia, Itali, Spanyol, Korea, dan Jepang.

    3. Jalan Tak Ada Ujung

    Buku Jalan Tak Ada Ujung bercerita tentang sosok guru teladan bernama Isa yang selalu dilanda ketakutan.

    Isa memiliki sahabat yang bernama Hazil, seorang gerilyawan gagah yang tak kenal takut untuk berperang.

    Latarnya menggambarkan kondisi Indonesia yang sedang revolusi dan kondisi mencekam akibat peperangan.

    Buku yang terbit pada tahun 1952 ini mendapat banyak ulasan oleh para sastrawan lain sehingga disebut-sebut sebagai karya terbaik dari Mochtar Lubis.

    4. Maut dan Cinta

    Buku Maut dan Cinta bercerita tentang tokoh utama bernama Sadeli, seorang perwira yang mendapat tugas sebagai intelijen karena ia memiliki kecerdasan tinggi serta kefasihan berbahasa asing.

    Dalam buku ini, pembacan akan terbawa suasana betapa mencekamnya kondisi saat itu, ketika revolusi Kemerdekaan Indonesia.

    Ceritanya juga menceritakan tentang cinta, perjuangan, harapan, perlawanan, serta petualangan masa revolusi Indonesia.

    Banyak pesan yang disampaikan oleh Lubis dalam buku ini sehingga pada tahun 1979, Maut dan Cinta berhasil terpilih sebagai novel terbaik.

  • 7 Manfaat Membaca Karya Sastra yang Harus Kamu Ketahui

    7 Manfaat Membaca Karya Sastra yang Harus Kamu Ketahui

    Manfaat Membaca Karya Sastra

    Meski membaca adalah sebuah aktivitas yang memiliki segudang manfaat, nyatanya tidak sedikit orang yang malas melakukannya dengan berbagai alasan.

    Salah satu alasan yang paling umum adalah mengatakan jika membaca itu merupakan sebuah hal membosankan.

    Terlebih lagi jika harus membaca karya sastra yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai bacaan yang berat.

    Fakta tersebut menjadikan karya sastra kurang begitu diminati, bila dibandingkan dengan buku bacaan lainnya.

    Padahal, sastra memiliki pengaruh yang besar dalam peradaban dunia karena terkandung histori serta kritik di dalamnya.

    Bahkan, tanpa adanya karya sastra, kita tidak akan pernah tahu bagaimana sejarah dan riwayat hidup orang terdahulu.

    Apa manfaat membaca karya sastra bagi pelajar?

    Maka dari itu, janganlah malas membaca, apalagi membaca karya sastra karena ada segudang manfaat yang akan kita dapatkan.

    Apa saja manfaat membaca karya sastra? Kali ini sastrawacana.id/ telah merangkum beberapa manfaatnya, yuk disimak!

    1. Mengetahui Histori dan Riwayat

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, karya sastra cukup kental akan histori dan sejarah di dalamnya.

    Kebanyakan penulis sastra pasti menyelipkan latar belakang, latar tempat, dan latar pendidikan masyarakat pada zamannya.

    Hal ini bisa menjadi sebuah pembelajaran baru sehingga kita bisa tahu bagaimana histori dan sejarah dari seluruh belahan dunia.

    Sebagai contoh, karya sastra yang berjudul Siti Nurbaya.

    Dari novel itu kita bisa tahu bagaimana kehidupan orang-orang Hindia-Belanda pada tahun 1922.

    Kita pun menjadi mengerti betapa rumitnya menjalin hubungan pada masa itu.

    2. Mengenal Budaya dan Tradisi

    Karya sastra juga akan mengenalkan kita dengan budaya dan tradisi dari seluruh penjuru dunia.

    Dari sini kita bisa belajar banyak karena setiap daerah memiliki budaya dan tradisinya masing-masing.

    Kita bisa mengetahuinya dari narasi atau dialog yang ada di dalam karya sastra.

    3. Mempertajam Insting

    Setiap karya sastra memiliki alur dan cerita yang berbeda-beda.

    Dengan banyak membaca sastra, kita bisa mempertajam insting kita untuk mengetahui bagaimana alur cerita.

    Sebab, kebanyakan karya sastra memiliki sebuah pesan yang bisa diterapkan ke dalam pola pikir kita sehingga kita bisa lebih peka terhadap orang lain dan lingkungan.

    4. Menambah Perbendaharaan Kata

    Karya sastra selalu ditulis dengan pemilihan kata atau diksi yang baik.

    Kadang ada kata atau diksi yang tidak kita pahami maksudnya.

    Dari situ, kita bisa belajar untuk mengenal lebih banyak diksi untuk menambah perbendaharaan kata.

    Lambat laun, kita akan terbiasa menggunakan kata-kata yang tepat dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang lain akan menganggap kita lebih profesional.

    5. Media Pelipur Lara

    Karya sastra juga sangat baik dijadikan pelarian saat hati sedang resah.

    Daripada harus melakukan hal-hal yang kurang baik, membaca adalah solusi yang tepat.

    Sebab, kadang ada kisah sastra yang mirip dengan apa yang kita alami sehingga kita bisa mengambil kesimpulan dan mendapatkan solusi untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

    6. Meningkatkan Skil Menulis

    Syarat utama untuk menjadi penulis adalah harus banyak membaca.

    Jika kita ingin menjadi seorang penulis, maka kita harus rajin membaca, termasuk karya sastra.

    Dari situ, kita akan tahu bagaimana cara penulis menyusun naskahnya hingga menjadi karya yang bisa dinikmati oleh khalayak ramai.

    7. Meningkatkan Kreativitas

    Dan yang tak kalah penting juga adalah bisa meningkatkan kemampuan otak kita. Membaca bisa melatih otak dan menguatkannya.

    Maka tak heran jika banyak orang berprestasi memiliki hobi membaca.

    Ada banyak buku yang bisa kita baca, misalnya buku pengetahun, buku motivasi, dan buku sastra.

    Nah, itulah 7 manfaat membaca karya sastra yang harus kita ketahui. Jadi, mulai sekarang jangan malas membaca, ya!

  • Kumpulan Diksi untuk Menulis Puisi

    Kumpulan Diksi untuk Menulis Puisi

    Pengertian Diksi

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kbbi), diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan).

    Diksi atau sering juga disebut pilihan kata, penggunaan diksi berhubungan dengan ketetapan penggunaan kata, setiap kata memilki makna tertentu yang berbeda dengan makna yang lainnya.

    Walaupun ada beberapa kata yang sekilas memilki makna yang hampir sama, tetapi sebenarnya masing-masing memilki perbedaan.

    Diksi cocok digunakan untuk yang ingin mengikuti lomba puisi atau digunakan untuk puisi bulan ramadhan.

    Sebab, dengan menggunakan diksi maka puisi yang ditulis akan menjadi lebih indah.

    Sehingga cocok digunakan untuk puisi cinta, apalagi bagi kita yang ingin membuat buku kumpulan puisi atau antologi.

    Namun, meski diksi dapat mempercantik puisi, tapi penulis juga perlu bijak dalam menggunakannya.

    Sebab, jika terlalu dipaksakan memasukkan diksi-diksi, maka puisi akan terlihat aneh dan cenderung sulit dipahami oleh pembaca atau pendengar.

    Banyak sastrawan ternama yang tidak terlalu mementingkan diksi, tapi karyanya tetap dapat dinikmati oleh banyak orang, salah satunya adalah Sapardi Djoko Damono.

    Dalam buku puisi Sapardi Djoko Damono, beberapa karyanya tidak terlalu menggunakan diksi yang berat.

    Buku Sapardi Djoko Damono cenderung diisi oleh puisi-puisi dengan kata sederhana, tapi dalam maknanya.

    Sebagai contoh puisi Sapardi Djoko damono Hujan Bulan Juni yang menggunakan kata-kata sederhana, tapi sangat indah bila dibaca.

    Contoh lain puisi Karangan Bunga karya Taufik Ismail. Bisa dilihat setiap baitnya tersusun atas kata-kata yang digunakan sehari-hari.

    Maka, kesimpulannya adalah diksi puisi tetaplah penting, tapi jangan terlalu memaksakan untuk memasukkan diksi-diksi karena yang paling penting adalah makna dari puisi itu sendiri.

    Contoh Diksi Dalam Puisi

    Berikut ini adalah kumpulan diksi yang bisa digunakan untuk menulis puisi.

    Tentunya pemilihan diksi akan mempengaruhi hasil puisi itu sendiri. Maka, gunakanlah diksi-diksi yang tepat agar karya menjadi semakin baik.

    Akara : Bayang
    Aksa : Jauh/Mata
    Aksama : Ampunan
    Ambu : Aroma
    Anala : Api
    Ancala : Gunung
    Anila : Angin
    Anindita : Sempurna
    Anindya : Cantik Jelita
    Anitya : Tidak Kekal
    Asrar : Rahasia
    Astu : Puji
    Atma : Jiwa
    Bagaskara : Matahari
    Baswara : Berkilau, Bercahaya
    Bernas : Berisi Penuh, Semakin Berisi
    Bhama : Nafsu
    Bianglala : Pelangi
    Citta : Maksud Hati, Pikiran
    Cumbana : Mencium
    Dahayu : Cantik, Molek, Elok
    Daksa : Badan; Tubuh
    Dama : Cinta Kasih
    Dayita : Kekasih
    Dekap : Peluk
    Gata : Telah Pergi
    Gundah : Sedih, Bimbang, Gelisah
    Harsa : Kegembiraan
    Hirap : Hilang
    Ina : Matahari Pagi/Senja
    Indurasmi : Sinar Rembulan
    Jamanika : Tirai, Tabir
    Janardana : Menggairahkan
    Kama : Dipuja
    Kampa : Getaran
    Kampana : Mempunyai Getaran
    Korelasi : Hubungan Timbal Balik
    Miang : Lugut
    Nabastala : Langit
    Nestapa : Sedih Sekali, Susah Hati
    Persistensi : Gigih, Kukuh, Tekun, Terus Menerus.
    Rimpuh : Sudah Tua Sekali
    Rinai : Gerimis, Rintik-Rintik
    Sedari : Sejak
    Sempena : Berkah
    Sendu : Sedih, Pilu, Dukacita
    Sporadis : Tidak Tentu, Kadang2
    Termaktub : Tertulis, Tercantum
    Umbu : Nenek Moyang
    Urgensi : Sangat Penting
    Zamin : tanah/negeri/negara
    Wiweka : sangat berhati-hati
    Sujana : berburu (bijaksana, pandai)
    Bianglala : pelangi
    Hibuk : giat bekerja/banyak pekerjaan/sibuk
    Melankolia : depresi
    Pupus : habis sama sekali/hilang/lenyap
    Lenggana : segan/enggan/tidak sudi
    Renjana : rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, dan sebagainya)
    Gemintang : susunan bintang/peta bintang/rasi bintang
    Temaram : remang-renang
    Lazuardi : batu permata berwarna biru
    Lara : sedih/susah hati/sakit
    Mara : bencana/bahaya
    Mandalika : sebuah sebutan atau jabatan (gubernur, Adipati, dan sebagainya)
    Palapa : memikat serta menarik hati
    Padmarini : indah serta tajam
    Asmaraloka : dunia cinta kasih
    Retislaya : luka dalam hati
    Indurasmi : sinar rembulan
    Kama : dipuja
    Mala : sengsara
    Rudita : ditangisi
    Harsa : bahagia/gembira
    Gata : telah pergi
    Kalbu : hati
    Nabastala : langit
    Terdayuh : sedih
    Jelampah : bergelimpang, bergolek, terkapar
    Basirah : hati, penglihatan hati, qalbu
    Relikui : benda keramat, aji-aji, jimat
    Gapah : cakap, lincah, trengginas, pantas
    Sadrah : berserah, pasrah, bertawakkal

    Baca juga: Daftar Tiruan Bunyi Terlengkap (Onomatope)

    Huruf A

    1. Abap : Bunga / Kembang Api
    2. Abhati : Cahaya Agung
    3. Adorasi : Pengorbanan
    4. Afsun : Pesona
    5. Agah : Tatap
    6. Ajun : Maksud
    7. Akara : Bayang
    8. Aksa : Jauh (KBBI) / mata
    9. Aksama : Ampunan
    10. Alap : Bagus
    11. Amaraloka : Dunia cinta kasih
    12. Ambivalen : Mencintai dan membenci pada orang yang sama
    13. Ambu : Aroma
    14. Anak Dara : Anak perempuan yang sudh mencapai usia remaja dan belum kimpoi
    15. Anala : Api
    16. Anca : RIntangan
    17. Abacai : Hacur (minang), abai
    18. Ancala : Gunung (KBBI)
    19. Andam Karam : Lenyap
    20. Angggara : Buas, liar
    21. Anila : Angin
    22. Anindita : Sempurna
    23. Anindya : Cantik Jelita
    24 Anitya : Tidak Kekal
    25. Apatis : Acuh tidak acuh
    26. Arkais : Berhubungan dengan masa lalu atau cerita kuno, tidak lazim dipakai lagi
    27. Arkian : Sesudah itu; kemudian dari itu
    28. Arumi : Harum, wangi
    29. Arunika : Fajar atau matahari terbit
    30. Astu : Puji, alem, sembah
    31. Atma : Jiwa, arwah, sukma
    32. Ayut : Bersetubuh, bersenggama

    Huruf B

    1. Bagaskara : Matahari
    2. Baka : Abadi, awet, kekal, lestari, qadim
    3. Baswara : Berkilau, bercahaya
    4. Bekile : Makan yang dilakukan secara bersama-sama
    5. Belungsang : Bentak / Hardik
    6. Bena : Menarik / Ombak dan banjir
    7. Benawat : Sombong
    8. Berahi : Perasaan cinta antara 2 orang berlainan jenis
    9. Bhama : Nafsu
    10. Bilur : Luka panjang pada kullit (Seperti kena cambuk)
    11. Birai : Dinding berukuran rendah di tepi jembatan atau tangga
    12. Bongko : Mati (Jawa Kasar)
    13. Buhul : Ikatan / simpul

    Huruf C

    1. Candala : Rendah, hina, nista ; kata sifat (KBBI) / rendah diri ‘nggak pede’ ; kata kerja (KBBI)
    2. Candramawa : Hitam bercampur putih / Bulu kucing (KBBI) / Kebijakan
    3. Ceraki : Pedagang bahan obat / jamu
    4. Citta : Maksud hati, pikiran
    5. Cumbana : Mencium
    6. Cumbanarasa : Kenikmatan bersenggama

    Huruf D

    1. Dahayu : Cantik, molek, elok
    2. Daksa : Badan (KBBI)
    3. Dama : Cinta Kasih
    4. Dampo : Sapaan orang tua yang mengadopsi anaknya (Saudara)
    5. Dayita : Kekasih
    6. Dersik : Desir, bunyi angin (KBBI)
    7. Dewana : Tergila-gila
    8. Diksi : Pilihan kata yang tepat atau selaras
    9. Diperdom : Dimaki dengan kata makian “Perdom”
    10. Dore : Lumpur yang sangat cair, dalam dan dapat enghisap objek yang jatuh ke dalamny (lumpur hisap)

    Huruf E

    1. Efemeral : Tidak kekal hanya bersifat sesaat
    2. Eminser : Potongan yang sangat tipis dari daging, buah atau sayur
    3. Eonoia : Pemikiran yang indah dan baik

    Huruf F

    1. Faktisius : Nggak asli, tiruan, imitasi
    2. Fiat : Persetujuan yang diberikan secara penuh atau sah dan biasanya digunakan dalam kontek formal

    Huruf G

    1. Galaksi : Gugusan bintang
    2. Galau : Berat otak, bingung, kacau karut, karuut
    3. Gamang : Merasa takut, ngeri, serta khawatir ketika melihat ke bawah
    4. Gata : Telah pergi
    5. Gelabah : Sedih / gelisah
    6. Gemintang : Peta bintang, rasi bintang
    7. Geni : Api
    8. Geniwara : Ritual berpuasa dengan makanan yang dimasak dengan api
    9. Genosida : Pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau daerah
    10. Genta : Lonceng besar
    11. Gorilya : Pencuri, maling, pencolong

    Huruf H

    1. Halai-balai : Kusut, tidak keruh, terlantar
    2. Harsa : Gembira / bahagia, kegembiraan
    3. Hasta Karya : Kerajinan tangan / swakarya
    4. Hidu : Mencium aroma / bau
    5. Hirap : Hilang (KBBI)
    6. Hirta : Lumpur yang sangat halus, bewarna kuning atau kehijauan dan sering ditemukan menempel pada pipa air
    7. Holokaus : Penghancuran / pembuhan sistematis di seluruh wilayah kekuasaan nazi

    Huruf I

    1. Idrak : Dalam keadaaan merasaka, mencapai, mengetahui, mengsafi (sesuatu) yang diperoleh melalui pancaindera, akal dan batin
    2. Ina : Matahari pagi atau fajar
    3. Indurasmi : Sinar rembulan

    Huruf J

    1. Jamanikaa : Tirai atau tabir
    2. Janardana : Menggairahkan
    3. Japri : Jalur privat, jalur pribadi
    4. Jeremba : Mengulurkan tangan (untuk mencapai sesuatu), menggapai

    Huruf K

    1. Kalbu : Hati
    2. Kalis : Suci, bersih, murni
    3. Kama : Dipuja
    4. Kampa : Getaran
    5. Kampana : Mempunyai getaran
    6. Kenes : Anak kecil yang lincah dan terus aktif/genit
    7. Ketaksaan : Keraguan tentang makna, ambiguitas
    8. Kimpoidra : Rajanya pujangga
    9. Kirana : Sinarnya cantik dan molek
    10. Kiwari : Modern, kin dan kontemporer
    11. Klandestin : Secara diam-diam atau rahasia
    12. Kulacino : Bekas air di meja akibat gelas dingin atau basah

    Huruf L

    1. Lajnah : Panitia / komisi
    2. Laknat : Kutuk, seranah, serapah ,sumpah
    3. Lakuna : Ruang kosong / bagian yang hilang
    4. Ligar : Berligar-ligar / berputar-putar
    5. Lintang : Bintang
    6. Lokawigna : Pengganggu dunia

    Huruf M

    1. Madah : Kata-kata pujian / berpanjang-panjangan
    2. Mala : Sengsara
    3. Mangata : Bayangan bulan di air yang terbentuk seperti jalan
    4. Mangkus : Efektif, berhasil guna
    5. Masygul : Bersusah hati karena suatu sebab; sedih; murung
    6. Matrik : Batas / pembatas
    7. Mega : Awan
    8. Megar : Mekar (Jawa)
    9. Membacang : Menahan
    10. Meraki : Melakukan sesuatu dengan cinta, kreativitas dan sepenuh jiwa
    11. Mudita : Perasaan bahagia melihat kebahagiaan orang lain

    Huruf N

    1. Nabastala : Langit
    2. Nayanika : Mata yang indah dan memancarkan daya tarik
    3. Nirmala : Tanpa cacat, cela, bersih dan tidak bernoda
    4. Nuraga : Empati dan berbagi rasa

    Huruf P

    1. Padika : Syair
    2. Padikaku : Metode
    3. Padma : Teratai merah
    4. Padmarini : Indah serta tajam
    5. Pahang : Tangkai bunga
    6. Pair jantungku : Detak jantungku tidak normal
    7. Paksa : Sayap / separuh bulan
    8. Palapa : Memikat serta menarik hati
    9. Palawa : Bersemi
    10. Panasea : Obat untuk semua penyakit / kesulitan
    11. Pancarona : Bermacam warna / Panca warna ( KBBI)
    12. Payoda : Awan / Awan yang menghasilkan air
    13. Pedar : Benci, antipati, berang, bingit
    14. Perdom : Kata untuk memaki
    15. Petrikor : Aroma tanah saat terkena hujan
    16. Pilau : Perahu
    17. Pilon : Tidak tahu apa-apa

    Huruf R

    1. Rahara : Perempuan yang usisa yang selayaknya menikah
    2. Rahsa : Rasa / Rahasia
    3. Rajaswala : Penuh nafsu
    4. Recaka : Bernafas
    5. Rimpuh : Sudah tua sekali
    6. Risak : Mengusik / mengganggu
    7. Rodra : Kejam
    8. Romansa : Novel / atau kisah prosa lainnya yang berciri khas tindakan kepahlawanan, kehebatan dan keromantisan dengan latar belakang historis atau imajiner
    9. Rucira : Cemerlang
    10. Ruciragati : Luwes
    11. Rucita : Gemerlap
    12. Rudira : Darah
    13. Rudita : Ditangisi
    14. Rundung : Mengganggu, mengusik terus-menerus, menyusahkan

    Huruf S

    1. Saban : Tiap-tiap
    2. Sabana : Padang rumput yang ada pohonnya
    3. Sangkil : Efektif,efesiesn, beradaya guna
    4. Sarayu : Hembusan angin / angin
    5. Savana : Tidak baku dari sabana
    6. Sawala : Debat
    7. Sehari : Sebahu, sebau, sehaluan, sepakat, sependirian, sepikiran dan seragam
    8. Semenjana : Menengah, sedang yang biasa merujuk pada kasta
    9. Sempena : Berkah (KBBI)
    10. Senandika : Percakapan tokoh dengan dirinya sendiri
    11. Sepai : Berpecah menjadi kecil dan berserak kemana-mana
    12. Seracik : Seiris
    13. Serendipiti : Menemukan sesuatu yanng menyenangkan saat tidak bermaksud mencarinya
    14. Shyam : Kegelapan malam
    15. Suar : Nyala api (cahaya) untuk tanda
    16. Subtil : Halus, lembut
    17. Sumarah : Menyerah pada keadaan, pasrah
    18. Suryakanta : Kaca pembesar
    19. Swakarya : Hasil karya sendiri
    20. Swastaita : Matahari terbenam / sore hari
    21. Swastamita : Pemandangan indah matahari terbenam

    Huruf T

    1. Takaluf : Mengutamakan formalitas sampai menyulitkan diri sendiri
    2. Taklif : Menyerahkan beban (tugas kewajiban) yang sangat berat
    3. Terdayuh : Sedih
    4. Tergamang : Merasa kesunyian
    5. Teyan : Donasi / menyumbang
    6. Tirta Airmata : Air kehidupan

    Huruf U

    1. Ufuk : Kaki langit
    2. Ugem : Berpegang (teguh)

    Huruf V

    1. Visus : Ketajaman penglihatan / jernihnya pandangan (biasa digunakan dalam kedokteran)

    Huruf W

    1. Wasana : Kekuatan bawa sadar yang memengaruhi karakter
    2. Weharima : Kerja sama, gotong royong
    3. Wekel : Rajin dan sunggguh-sungguh; tekun
    4. Wiyata : Pengajaran / pelajaran

  • Pengertian, Jenis dan Contoh Rima dalam Puisi

    Pengertian, Jenis dan Contoh Rima dalam Puisi

    Pengertian Rima

    Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak. Rima termasuk salah satu unsur penting dalam puisi.

    Sebab, melalui rima, keindahan suatu puisi akan tercipta. Posisinya rima tidak selalu di akhir baris dalam satu bait, tapi juga bisa terletak dalam satu baris yang sama.

    Jenis-Jenis Rima

    Rima Berdasarkan Suku Kata

    • Rima Sempurna

    Seluruh suku akhirnya berirama sama.

    Contoh :

    ma – lang → ma – tipa – lang → ha – ti

    • Rima Tak Sempurna

    Hanya sebagian suku akhir yang sama.

    Contoh :

    pu – lang → pa – gitu – kang → ha – ri

    • Rima Mutlak

    Seluruh kata berima.

    Contoh :

    Mendatang-datang juaKenangan masa lampau
    Menghilang muncul juaYang dulu sinau-silau
    Kata jua yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak.

    • Rima Terbuka

    Yang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama.

    Contoh :

    bu – ka → ba – tu → pa – gimu – ka → pa – lu → la – ri

    • Rima Tertutup

    Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama.

    Contoh :

    hi – lang →  su – sut → li – dahma – lang → ta – kut → su – sah

    • Rima Aliterasi

    Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiuap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan.

    Contoh :

    Bukan beta bijak berperi
    Pandai  mengubah madahan syair
    Bunyi b pada kata-kata dalam baris pertama bait puisi di atas disebut rima aliterasi.

    • Rima Asonansi

    Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan.

    Contoh :

    se – cu – pak → tum – bang
    se – cu – kat → mun – dam

    Yang disebut asonansi ialah vokal-vokal e – u – a  dan u – a pada kata-kata tersebut di atas.

    • Rima Disonansi

    Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan.

    Contoh :

    Tin – dak → tan – duk ( i– a / a – u )Mon – dar → man – dir  ( o – a / a – i )

    Berdasarkan Letak Kata

    • Rima Awal

    Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata.

    Contoh :

    1. Pemuda kaulah harapan bangsa
    2. Pemuda jangan suka berpangku tangan
    • Rima Tengah

    Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah.

    Contoh :

    1. Pemuda kaulah harapan bangsa
    2. Pemudi kaulah harapan negeri
    • Rima Akhir

    Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir. Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam.

    Contoh :

    1. Tolong – menolong umpama jari
    2. Bantu membantu setiap hari
    3. Bekerja selalu berlima diri
    4. Itulah misal Tuhan memberi
    • Rima Tegak

    Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan.

    Contoh :
    Terlipat
    Terikat
    Engkau mencari
    Terang matahari

    • Rima Datar

    Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama.

    Contoh :

    1. Air mengalir menghilir sungai
    2. (bunyi ir pada akhir ketiga kata)
    • Rima Sejajar

    Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun.

    Contoh :

    1. Dapat sama laba
    2. Cicir sama rugi
    3. Bukit sama didaki
    4. Lurah sama dituruni
    5. Berat sama dipikul
    6. Ringan sama dijinjing
    7. Terapung sama hanyut
    8. Terendam sama basah
    • Rima Berpeluk (Rima Berpaut)

    Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga. Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rima a – b – b – a

    Contoh :

    1. Perasaan siapa ta’kan nyala ( a )
    2. Melihat anak berlagu dendang ( b )
    3. Seorang sajak di tepi padang ( b )
    4. Tiada berbaju buka kepala ( a )
  • Biografi Muhammad Yamin, Sastrawan Nasional

    Biografi Muhammad Yamin, Sastrawan Nasional

    Nama : Prof. Mohammad Yamin, S.H.
    Lahir : Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903
    Meninggal : Jakarta, 17 Oktober 1962 (umur 59)
    Agama : Islam
    Ayah : Tuanku Oesman Gelar Baginda Khatib
    Ibu: Siti Saadah

    Jabatan 

    Menteri Kehakiman Indonesia ke-6 (27 April 1951 – 14 Juni 1951)
    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-8 (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
    Menteri Penerangan Indonesia ke-14 (6 Maret 1962 – 17 Oktober 1962)

    Biografi Muhammad Yamin

    Prof. Mr. Muhammad Yamin, S.H dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903.

    Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Salah seorang anaknya yang dikenal, yaitu Rahadijan Yamin.

    Ketika kecil , Muhammad Yamin oleh orang tuanya diberi pendidikan adat dan agama hingga tahun 1914.

    Di zaman penjajahan, ia termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi.

    Lewat pendidikan itulah, ia sempat menyerap kesusastraan asing, khususnya kesusastraan Belanda.

    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi sastra Belanda diserapnya sebagai seorang intelektual sehingga ia tidak menyerap mentah-mentah apa yang didapatnya itu.

    Dia menerima konsep sastra Barat, dan memadukannya dengan gagasan budaya yang nasionalis.

    Riwayat Pendidikan Muhammad Yamin

    Pendidikan yang sempat diterima oleh Muhammad Yamin, antara lain, Hollands inlands School (HIS) di Palembang, tercatat sebagai peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan dan Pertanian di Cisarua, Bogor, Algemene Middelbare School (AMS) ‘Sekolah Menengah Umum’ di Yogya, dan HIS di Jakarta.

    Muhammad Yamin menempuh pendidikan di AMS setelah menyelesaikan sekolahnya di Bogor yang dijalaninya selama lima tahun.

    Studi di AMS Yogya sebetulnya merupakan persiapannya untuk mempelajari kesusastraan Timur di Universitas Leiden, Belanda.

    Di AMS, ia mempelajari bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Kaei, dan sejarah purbakala.

    Dalam waktu tiga tahun saja ia berhasil menguasai keempat mata pelajaran tersebut, suatu prestasi yang jarang dicapai oleh otak manusia biasa.

    Dalam mempelajari bahasa Yunani, ia banyak mendapat bantuan dari pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan dalam bahasa Latin ia dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer.

    Setamat AMS Yogya, Ia bersiap-siap berangkat ke Leiden. Akan tetapi, sebelum sempat berangkat sebuah telegram dari Sawahlunto mengabarkan bahwa ayahnya meninggal dunia.

    Karena itu, kandaslah cita-cita Yamin untuk belajar di Eropa sebab uang peninggalan ayahnya hanya cukup untuk belajar lima tahun di sana. Padahal, belajar kesusastraan Timur membutuhkan waktu tujuh tahun.

    Ia akhirnya melanjutkan kuliah di Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’ pada tahun 1932.

    Riwayat Organisasi Muhammad Yamin

    Sebelum tamat dari pendidikan tinggi, Muhammad Yamin telah aktif berkecimpung dalam perjuangan kemerdekaan.

    Berbagai organisaasi yang berdiri dalam rangka mencapai Indonesia merdeka yang pernah dipimpinnya antara lain, adalah, Yong Sumatramen Bond ‘Organisasi Pemuda Sumatera’ (1926–1928).

    Peran Muhammad Yamin bisa dilihat dalam Kongres Pemuda II.

    Muhammad Yamin termasuk tokoh yang ikut merumuskan sumpah pemuda. Disana disepakati penggunaan bahasa Indonesia

    Pada tahun 1938 hingga 1942, ia tercatat sebagai anggota Pertindo, yang merangkap sebagai anggota Volksraad ‘Dewan Perwakilan Rakyat’.

    Setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Muhammad Yamin dalam pemerintahan Indonesia antara lain sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962).

    Dari riwayat pendidikan Muhammad Yamin dan dari keterlibatannya dalam organisasi politik maupun perjuangan kemerdekaan, tampaklah bahwa ia termasuk seorang yang berwawasan luas.

    Walaupun pendidikannya pendidikan Barat, ia tidak pernah menerima mentah-mentah apa yang diperolehnya itu sehingga ia tidak menjadi kebarat-baratan.

    Ini merupakan salah satu sifat teladan Muhammad Yamin.

    Ia tetap membawakan nasionalisme dan rasa cinta tanah air dalam karya-karyanya.

    Barangkali hal ini merupakan pengaruh lingkungan keluarganya karena ayah ibunya adalah keturunan kepala adat di Minangkabau.

    Dengan demikian, dapat dipahami apabila ia tidak terhanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah diterimanya.

    Baik itu berupa karya-karya sastra Barat yang pernah dinikmatinya maupun sistem pendidikan Barat yang pernah dialaminya.

    Karya Sastra Muhammad Yamin

    Umar Junus dalam bukunya Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern (1981) menyatakan bahwa puisi Yamin terasa masih berkisah, bahkan bentul-betul terasa sebagai sebuah kisah.

    Dengan demikian, puisi Yamin memang dekat sekali dengan syair yang memang merupakan puisi untuk mengisahkan sesuatu.

    ”Puisi Yamin itu dapat dirasakan sebagai syair dalam bentuk yang bukan syair”, demikian Umar Junus.

    Karena itu, sajak-sajak Yamin dapat dikatakan lebih merupakan suatu pembaruan syair daripada suatu bentuk puisi baru.

    Akan tetapi, pada puisinya seringkali bagian pertamanya merupakan lukisan alam, yang membawa pembaca kepada suasana pantun sehingga puisi Yamin tidak dapat dianggap sebagai syair baru begitu saja.

    Umar Junus menduga bahwa dalam penulisan sajak-sajaknya, Yamin menggunakan pantun, syair, dan puisi Barat sebagai sumber.

    Perpaduan ketiga bentuk itu adalah hal umum terjadi terjadi pada awal perkembangan puisi modern di Indonesia.

    Jika Umar Junus melihat adanya kedekatan untuk soneta yang dipergunakan Yamin dengan bentuk pantun dan syair, sebetulnya hal itu tidak dapat dipisahkan dari tradisi sastra yang melingkunginya pada waktu masih amat dipengaruhi pantun dan syair.

    Soneta yang dikenal Yamin melalui kesusastraan Belanda ternyata hanya menyentuhnya pada segi isi dan semangatnya saja.

    Karena itu, Junus menangkap kesan berkisah dari sajak-sajak Yamin itu terpancar sifat melankolik, yang kebetulan merupakan sifat dan pembawaan soneta.

    Sifat soneta yang melankolik dan kecenderungan berkisah yang terdapat didalamnya tidak berbeda jauh dengan yang terdapat dalam pantun dan syair.

    Dua hal yang disebut terakhir, yakni sifat melankolik dan kecenderungan berkisah, kebetulan sesuai untuk gejolak perasaan Yamin pada masa remajanya.

    Karena itu, soneta yang baru saja dikenal Yamin dan yang kemudian digunakannya sebagai bentuk pengungkapan estetiknyha mengesankan bukan bentuk soneta yang murni.

    Keith Robert Foulcher (1974) dalam disertasinyha mengemukakan bahwa konsepsi Yamin tentang soneta dipengaruhi sastra Belanda dan tradisi kesusastraan Melayu.

    Karena itu, soneta Yamin bukanlah suatu adopsi bentuk eropa dalam keseluruhan kompleksitas strukturalnya, tetapi lebih merupakan suatu pengungkapan yang visual, sesuatu yang bersifat permukaan saja dari soneta Belanda, yang masih memiliki ekspresi puitis yang khas Melayu.

    Muhammad Yamin Wafat

    Muhammad Yamin wafat pada tanggal tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta. Atas peran dan jasa Muhammad Yamin maka pemerintah kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional.

    Walaupun pada masa dewasanya ia praktis meninggalkan lapangan sastra dan lebih banyak berkecimpung dalam lapangan politik dan kenegaraan ia telah meninggalkan karya-karya yang berarti dalam perkembangan sastra Indonesia.

    Di samping menulis sajak, misalnya Ken Arok dan Ken Dedes (1943) dan Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932?). Yamin memang banyak menaruh minat pada sejarah, terutama sejarah nasional.

    Baginya sejarah adalah salah satu cara dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia Raya. Dengan fantasi seorang pengarang roman dan dengan bahasa yang liris, ia pun menulis Gadjah Mada (1946) dan Pangeran Diponegoro (1950).

    Ia banyak pula menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, antara lain karya sastrawan Inggris William Shakespeare (1564–1616) berjudul Julius Caesar (1952) dan dari pengarang India Rabindranath Tagore (1861–1941) berjudul Menantikan Surat dari Raja dan Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga.

    Karya Muhammad Yamin

    Puisi : Indonesia, Tumpah Darahku
    Drama : Ken Arok dan Ken Dedes, Kalau Dewa Tara Sudah Berkata.
    Terjemahan : Julius Caesar karya Shakspeare, Menantikan Surat dari Raja, Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga, Tan Malaka.
    Sejarah : Gadjah Mada, Sejarah Pangerah Dipenogoro.