Kategori: Sastra

  • Pengertian Kritik Sastra Beserta Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Kritik Sastra Beserta Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Kritik Sastra

    Kritik Sastra adalah sebuah analisa terhadap karya sastra untuk mengamati atau menilai lebih jauh karya sastra tersebut, mulai dari baik buruknya serta unsur yang terdapa di dalamnya secara obyektif.

    Kritik sastra juga bisa disebut sebagai sebuah bidang studi sastra yang fungsinya untuk menghakimi karya sastra, serta memberi penilaian tentang bermutu atau tidaknya suatu karya sastra tersebut dihadapan kritikus.

    Pengertian Kritik Sastra Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian kritik sastra menurut para ahli.

    1. H.B Jassin

    kritik sastra adalah pertimbangan baik dan buruknya suatu hasil kesusastraan. Pertimbangan yang diungkapkan H.B. Jassin ini maksudnya adalah suatu kritik sastra harus disertai alasan dan berisi mengenai isi dan berbagai bentuk di dalam karya sastra.

    2. Widyamartaya dan Sudiati

    Pengertian kritik sastra adalah proses pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat akan sebuah karya sastra, dan pertimbangan yang adil terhadap baik dan buruknya kualitas, nilai, dan kebenaran suatu karya sastra.

    3. Abrams

    Pengertian kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan suatu perumusan, klasifikasi, dan penerangan, serta juga adanya penilaian karya sastra.

    4. Rene Welk dan Austin Warren

    Rene Wellek dan Austin Warren berpendapat bahwa pengertian kritik sastra merupakan penelitian atau studi terhadap karya sastra atau ilmu sastra yang mencakup tiga bidang. Tiga bidang tersebut antara lain teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra yang terjadi di dalam karya sastra tersebut. Ketiga bidang tersebut memiliki hubungan yang erat dan saling terkait.

    5. Hough

    Hough berpendapat bahwa pengertian kritik sastra tersebut tidak hanya terbatas pada penyuntingan, penetapan teks, interpretasi, dan juga pertimbangan mengenai nilai dari sebuah karya sastra.

    Ciri-ciri Kritik Sastra

    Berikut ini adalah ciri-ciri kritik sastra, antara lain:

    • Kritik sastra bersifat objektif.
    • Bertujuan untuk memperbaiki karya yang dikritik.
    • Menjadi bahan acuan untuk meningkatkan kualitas penciptaan karya sastra.
    • Memberi solusi atas kekurangan dari sebuah karya sastra.
    • Memaparkan nilai-nilai yang perlu dibangun dalam sebuah karya sastra.

    Contok Kritik Satra

    Berikut adalah contoh kritik sastra:

    Hatiku Selembar Daun
    Sapardi Djoko Damono

    Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
    Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini
    Ada yang masih ingin ku pandang
    Yang selama ini senantiasa luput
    Sesaat adalah abadi
    Sebelum kau sapu taman setiap pagi

    Sapardi Djoko Damono ada seorang sastrawan nasional, yang cukup terkenal. Karya-karyanya telah banyak dipulikasikan aaupun diterbitkan.

    Salah satunya adalah puisi Hatiku Selembar Daun. Para pembaca puisi pun ikut menginterpretasikan puisi ini menurut pemahamannya masing-masing.

    Penikmat puisi memaknai puisi Hatiku Selembar Daun karya Sapardi Djoko Damono ini tentang seseorang yang sedang mencari jati dirinya yang telah hilang.

    Ada pula yang menyebutkan  sang penyair memaknai seorang yang telah menemukan akhir hidupnya. Karena penyair terbaring mengenang segala masa lalunya yang ia sesali sebelum nyawanya terenggut.

    Pembaca lainnya pun memberikan makna puisi ini tentang seseorang yang merindukan kematian, puisi ini menggambarkan bahwa merindukan kematian begitu indah.

    Adapun pembaca lain juga memaknai puisi ini dengan kalimat berbeda namun hampir serupa intinya yaitu pengarang menggambarkan bahwa ia hanyalah selembar daun yang dengan mudahnya lepas dari rantingnya walaupun hanya terkena angin.

    Dan akhirnya sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya di dunia ini. Dia berharap agar diberi waktu untuk memikirkan apa yang dulu sering dia tinggalkan, walaupun sebentar cukup untuk memikirkan semuanya.

    Meskipun dia tidak menggambarkan penyesalan sebelum yang maha kuasa yang digambarkan dengan pembersih taman yang melakukan aktifitasnya membersihkan daun-daun yang berserakan.

    Pembaca lain juga menyebutkan makna puisi ini tentang sesulit-sulitnya sesuatu itu, pasti ada sesuatu yang mudah kita lakukan.

    Selain itu ada pula yang menyebutkan puisi ini tentang menunjukkan seseorang yang rapuh dan lemah dan berharap belas kasihan dari orang lain.

    Seorang pembaca lain juga mengatakan pusi ini tentang seseorang yang menanti kematiannya. Ia menanti kematiannya dengan berbuat banyak hal yang belum sempat ia lakukan sebelumnya.

    Pembaca puisi ini pun mengatakan bahwa puisi ini bercerita atau bermakna tentang mengingatkan kepada kita akan kecilnya kita di mata Tuhan, dan untuk itu gunakanlah waktu sebaik mungkin di dunia ini, bersyukur atas rahmat dari Tuhan dan selalu beribadah dan berbuat baik.

    Makna puisi ini yaitu tentang sesorang yang mencoba meratapi nasib dan sikapnya selama ia hidup. Karena ia telah di ujung tanduk atau di detik-detik akhir hidupnya.

    Ia menyadari bahwa kehidupannya akan abadi walau hanya sesaat karena, semua yang ia lakukan tak akan terulang. Ia mencoba menyesali apa yang telah ia lakukan selama ia hidup.

    Ia mencoba merubah semua sikap buruknya namun waktunya hampir habis, sehingga ia mencoba melakukan yang terbaik sebelum kematiannya tiba walau hanya sebentar.

  • Hikayat: Pengertian, Fungsi, Ciri-Ciri, Unsur dan Jenisnya

    Hikayat: Pengertian, Fungsi, Ciri-Ciri, Unsur dan Jenisnya

    Pengertian Hikayat

    Hikayat adalah karya sastra lama berbentuk prosa naratif yang mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh terkenal, biasanya kaum bangsawan, raja, pahlawan, atau orang sakti dengan berbagai kehebatan dan mukjizatnya.

    Hikayat berkembang terutama dalam kesusastraan Melayu klasik, yang banyak tumbuh di lingkungan kerajaan-kerajaan Nusantara.

    Secara etimologis, kata hikayat berasal dari bahasa Arab “ḥakā” yang berarti bercerita atau menceritakan.

    Dalam tradisi Arab, istilah ini digunakan untuk menyebut cerita-cerita yang berisi nasihat moral, kisah kepahlawanan, dan keajaiban tokoh-tokoh tertentu, baik yang nyata maupun imajinatif.

    Istilah ini kemudian diadopsi ke dalam tradisi sastra Melayu klasik, terutama setelah masuknya pengaruh Islam ke wilayah Nusantara sekitar abad ke-13.

    Sejak saat itu, karya-karya berbahasa Melayu mulai banyak mengadaptasi bentuk naratif Arab dan Persia, serta memadukannya dengan unsur lokal dan India.

    Fungsi Hikayat

    Hikayat bukan sekadar cerita lama untuk hiburan, tetapi juga memiliki fungsi sosial, moral, dan budaya yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Secara umum, fungsi hikayat dapat dijabarkan sebagai berikut:

    1. Sebagai Hiburan

    Hikayat berfungsi memberikan kesenangan dan hiburan bagi pembacanya.

    Kisah-kisah yang penuh petualangan, keajaiban, dan romantika kerajaan membuat pembaca terbawa ke dunia imajinatif yang menarik.

    Misalnya, Hikayat Indera Bangsawan menampilkan petualangan pahlawan dengan berbagai rintangan magis dan keajaiban.

    2. Sarana Pendidikan dan Moral

    Hikayat mengandung banyak pesan moral (didaktis) yang bisa menjadi teladan bagi pembacanya.
    Melalui tokoh utama, hikayat mengajarkan nilai-nilai seperti:

    • Kesetiaan dan keberanian (Hikayat Hang Tuah),
    • Ketaatan kepada orang tua,
    • Keteguhan dalam berjuang, serta
    • Kejujuran dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

    Dengan demikian, hikayat menjadi alat pendidikan karakter pada masa lampau.

    4. Media Dakwah atau Penyebaran Nilai Agama

    Pada masa penyebaran Islam di Nusantara, banyak hikayat digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam melalui bentuk cerita.

    Tokoh-tokoh seperti Amir Hamzah dan Bachtiar digambarkan sebagai pahlawan Islam yang menegakkan kebenaran dan menolak kezaliman.

    Fungsi ini menjadikan hikayat sebagai alat dakwah yang halus dan menarik, karena nilai-nilai agama disampaikan lewat kisah inspiratif.

    5. Sarana Pewarisan Budaya dan Sejarah

    Hikayat menyimpan banyak unsur budaya, adat, dan kepercayaan masyarakat masa lalu.
    Melalui bahasa, simbol, dan latar cerita, pembaca dapat memahami:

    • Sistem sosial kerajaan,
    • Pandangan hidup masyarakat Melayu, dan
    • Tradisi yang berkembang di masa itu.

    Oleh karena itu, hikayat berfungsi sebagai dokumen budaya yang mencerminkan identitas bangsa pada zamannya.

    Ciri-Ciri Hikayat

    Hikayat memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari karya sastra lain seperti dongeng, legenda, atau roman.

    Ciri-ciri ini terlihat pada gaya bahasa, tema, tokoh, dan penyajiannya. Berikut penjelasannya:

    1. Anonim (Pengarang Tidak Diketahui)

    Sebagian besar hikayat tidak mencantumkan nama pengarangnya. Hal ini karena hikayat pada awalnya berasal dari tradisi lisan, diwariskan turun-temurun oleh masyarakat tanpa diketahui siapa penciptanya.

    2. Statis

    Ceritanya tidak mengalami perubahan yang berarti meskipun diceritakan berulang kali dari generasi ke generasi. Isi dan alur umumnya tetap sama karena dianggap bagian dari warisan budaya yang harus dijaga keasliannya.

    3. Komunal (Milik Bersama)

    Hikayat dianggap sebagai milik masyarakat, bukan karya pribadi. Setiap orang boleh menceritakan kembali, menambah, atau menyesuaikan dengan nilai-nilai daerahnya, selama tidak mengubah inti cerita.

    4. Bahasa Klise (Penuh Ungkapan Baku dan Berulang)

    Bahasa yang digunakan dalam hikayat sering mengandung ungkapan-ungkapan khas dan berulang, seperti pembukaan dan penutup cerita yang sama di banyak karya. Ungkapan klise ini memberi nuansa khas sastra lama.

    5. Tradisional

    Hikayat mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan tradisional masyarakat zaman dahulu, seperti kepercayaan terhadap kesaktian, takdir, dan keberkahan. Nilai-nilai ini menjadi cerminan pandangan hidup masyarakat masa lampau.

    6. Didaktis (Mengandung Ajaran atau Nasihat)

    Sebagian besar hikayat mengandung pesan moral yang dapat dijadikan teladan, seperti kesetiaan, kejujuran, dan keberanian. Fungsi ini menjadikan hikayat sebagai sarana pendidikan karakter dan nilai-nilai luhur.

    7. Magis (Mengandung Unsur Keajaiban dan Kesaktian)

    Ciri yang paling menonjol dalam hikayat adalah adanya unsur magis, mukjizat, atau hal-hal supranatural yang sulit diterima akal. Tokohnya sering digambarkan memiliki kekuatan luar biasa atau dibantu oleh makhluk gaib.

    8. Tokoh Utama Selalu Unggul

    Tokoh utama dalam hikayat hampir selalu digambarkan sebagai sosok sempurna: berani, gagah, saleh, bijaksana, dan tidak pernah benar-benar kalah. Hal ini memperkuat fungsi hikayat sebagai kisah teladan atau heroik.

    9. Latar Istana atau Kerajaan

    Sebagian besar hikayat berlatar kehidupan bangsawan, kerajaan, atau dunia istana, karena pada masa itu sastra lebih banyak berkembang di lingkungan istana dan kalangan elit.

    Unsur Hikayat

    Sama seperti karya prosa lainnya, hikayat memiliki berbagai unsur pembangun yang saling berkaitan dan membentuk keutuhan cerita.

    Unsur-unsur ini membantu pembaca memahami makna, alur, serta pesan moral yang ingin disampaikan pengarang. Berikut penjelasan masing-masing unsurnya:

    1. Tema

    Tema adalah ide utama atau gagasan pokok yang menjadi dasar keseluruhan cerita. Tema dalam hikayat umumnya berkaitan dengan kepahlawanan, keadilan, kesetiaan, kebijaksanaan, cinta kasih, atau ajaran moral dan keagamaan. Tema ini menjadi arah utama pengembangan alur dan penokohan.

    2. Latar (Setting)

    Latar mencakup tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Hikayat sering berlatar kerajaan atau lingkungan bangsawan, dengan nuansa kehidupan istana, peperangan, atau petualangan di negeri-negeri jauh. Latar waktu biasanya tidak disebutkan secara pasti, melainkan bersifat masa lampau yang legendaris, sedangkan suasananya sering menggambarkan kemegahan, keajaiban, dan unsur mistis.

    3. Alur (Plot)

    Alur adalah rangkaian peristiwa yang tersusun secara logis dan kronologis sehingga membentuk jalan cerita dari awal hingga akhir. Hikayat umumnya menggunakan alur maju (progresif) — dimulai dari perkenalan tokoh, timbulnya konflik, puncak masalah, dan diakhiri dengan penyelesaian bahagia. Namun, beberapa hikayat juga memiliki alur berbingkai atau cerita di dalam cerita.

    4. Amanat (Pesan Moral)

    Amanat adalah pesan, nilai, atau ajaran moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui kisahnya. Pesan ini bisa tersurat (disampaikan secara langsung) atau tersirat (tersimpan dalam tindakan tokoh). Hikayat sarat dengan pesan moral tentang kebaikan, kesetiaan, keberanian, kesabaran, dan keadilan.

    5. Tokoh dan Penokohan

    Tokoh adalah pelaku dalam cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan watak atau sifat tokoh tersebut. Dalam hikayat, tokoh utama sering digambarkan hebat, sakti, dan berjiwa luhur. Sementara tokoh antagonis digambarkan sebagai jahat, iri, atau tamak.

    6. Sudut Pandang

    Sudut pandang adalah posisi atau cara pengarang menempatkan diri dalam menceritakan kisah. Sebagian besar hikayat menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, di mana pencerita mengetahui seluruh kejadian, pikiran, dan perasaan tokoh. Hal ini membuat cerita terasa berjarak dan objektif, sesuai dengan gaya sastra klasik.

    7. Gaya Bahasa

    Gaya bahasa dalam hikayat bersifat klasik, formal, dan penuh dengan ungkapan khas Melayu lama. Ciri khasnya adalah penggunaan kalimat panjang, pengulangan, serta kata-kata arkais seperti sebermula, maka, adapun, syahdan, dan sebagainya. Selain itu, hikayat juga menggunakan ungkapan metaforis, peribahasa, dan kiasan untuk memperindah narasi.

    Jenis Hikayat

    Hikayat memiliki berbagai jenis berdasarkan isi dan tokoh yang diceritakan. Setiap jenis memiliki ciri khas tersendiri dari segi tema, latar, dan pesan yang disampaikan. Berikut penjelasannya:

    1. Hikayat Panji

    Menceritakan kisah kehidupan tokoh kerajaan, terutama tentang cinta, peperangan, dan petualangan para bangsawan.

    2. Hikayat Rakyat

    Berisi kisah kehidupan rakyat biasa dengan unsur keajaiban, nasihat moral, dan nilai-nilai kebaikan.

    3. Hikayat Sejarah

    Mengisahkan tokoh atau peristiwa sejarah yang dipadukan dengan unsur legenda atau mitos untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap masa lalu.

    4. Hikayat Agama

    Berisi ajaran dan nilai keagamaan, menceritakan tokoh suci atau peristiwa yang mengandung pesan moral dan spiritual.

    5. Hikayat Kiasan atau Alegoris

    Disampaikan melalui simbol atau perumpamaan, berisi makna tersembunyi dan pesan kehidupan bagi pembaca.

    6. Hikayat Epos atau Kepahlawanan

    Menonjolkan semangat keberanian, kesetiaan, dan perjuangan tokoh utama dalam menghadapi berbagai rintangan.

  • Pengertian dan Cara Menulis Roman yang Benar

    Pengertian Roman

    Roman adalah sebuah karya sastra yang bentuknya seperti prosa dengan isi dan jalan cerita yang sangat panjang. Biasanya, roman sering disamakan dengan novel, padahal mereka berdua adalah bentuk karya sastra yang berbeda, baik dari unsur instrinsik ataupun ekstrinsiknya.

    Sederhananya, cara membedakan novel dan roman adalah dengan melihat cerita, alur, konflik, dan berbagai unsur di dalamnya. Kalau novel secara umum hanya menceritakan sebagian besar perjalanan hidup seorang tokoh.

    Sedangkan, roman adalah karya sastra yang menceritakan kehidupan seorang tokok secara penuh, dari mulai lahir hingga kematian. Jadi, jika dikatakan mendalam, maka roman adalah yang lebih mendalam ceritanya daripada novel.

    Nah, dengan mengetahui perbedaan itu, tentu saja kita bisa mendapat kesimpulan bahwa menulis roman lebih susah dan butuh waktu lebih lama daripada menulis novel.

    Namun, walau terkesan lebih susah dan memakan waktu lama, bukan berarti sebagai penghalang kita dalam berkarya. Untuk itu, berikut adalah beberapa tips atau cara menulis roman yang benar sesuai kaidah sastra.

    Cara Menulis Roman

    1. Tentukan Tema

    Hal pertama yang harus kita lakukan ketika ingin menulis karya sastra adalah menentukan tema, baik dalam karya sastra apapun, mulai dari puisi, pantun, gurindam, cerpen, termasuk roman.

    Sebab, nantinya tema itu yang akan mengarahkan kita tentang gaya penulisan serta target pembaca. Misalnya, kita ingin menulis tema percintaan, maka kita bisa menggunakan bahasa yang syahdu agar lebih mengena di hati pembaca.

    2. Menentukan Tokoh dan Karakter

    Setelah menentukan tema, maka langkah selanjutnya adalah menentukan tokoh dan karakter. Tentu saja tokoh dan karakter tersebut harus sesuai dengan tema yang diusung. Kedudukan tokoh sendiri merupakan pilar utama dalam membuat roman.

    Jadi, usahakan menulis tokoh utama sampai tooh tambahan yang mendalam karakter serta wataknya agar isi cerita tidak terasa hambar. Selain itu, tokoh yang mendalam karakternya juga bisa selalu diingat oleh pembaca.

    3. Menentukan Alur

    Ketika tokoh utama sampai tokoh tambahan sudah terbentuk, maka kita harus menentukan alur dari karya yang kita tulis. Apakah akan menggunakan alur maju, alur mundur, atau alur campuran.

    Hal itu tentu saja perlu dipikirkan matang-matang dengan pertimbangan sudut pandang pembaca. Jangan sampai pemilihan alur membuat cerita menjadi kurang nyawanya.

    4. Menentukan Latar

    Cara menulis roman selanjutnya adalah menentukan latar. Seperti diketahui, latar merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Ketika kita menulis karya yang menceritakan tentang gadis desa, tentu saja latarnya harus di pedesaan. Jangan sampai salah memilih latar karena akan fatal akibatnya bagi penghayatan pembaca.

    5. Menentukan Konflik

    Hal ini pun penting dan sangat penting dalam membangun emosional pembaca. Perlu diketahui sebelumnya, konflik pada karya sastra terbagi menjadi dua, yakni konflik batin dan konflik fisik. Kita bisa memilih salah satu atau keduanya dalam karya yang kita tulis.

    Namun, perhatikan betul-betul konfilk ini. Usahakan, ada tahapan-tahapan sampai konfilk benar-benar memuncak hingga menimbulkan berbagai reaksi dari pembaca.

    6. Penyelesaian

    Setelah konflik terjadi, tentu saja cerita akan ditutup dengan penyelesaian atau jalan terang. Biasanya, dalam penyelesaian ini tidak ada aturan khusus. Penulis bisa membuat penyelesaian yang sifatnya sedih ataupun bahagia, itu adalah hak mereka. Namun, tentu saja kita harus memiliki alasan yang kuat ketika menentukan penyelesaian.

    Nah, itulah pengertian roman dan cara menulis roman sesuai dengan kaidah sastra. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/. Selamat berkarya!

  • Keragaman Sastra Periode 1970-1980

    Keragaman Sastra Periode 1970-1980

    Pada tahun 1970-1980an ini beragam serta menunjukkan suatu norma individual/kelompok individu sehingga cenderung heterogen.

    Norma-norma tersebut dapat dibagi dalam kelompok berikut:

    1. Norma Filsafat dalam Sastra Indonesia

    Filsafat eksistensialis adalah suatu pemikiran, filsafat  yang mempertanyakan “keberadaan manusia”.

    Menurut filsafat ini, manusia membuat rencana dalam keadaan yang bebas, selalu bergerak maju atas kekuatannya sendiri maupun atas dasar situasi yang aktual.

    Hidup manusia itu konkret dalam kerangka yang penuh kemungkinan untuk menempatkan dirinya.

    Paham filsafat tersebut berpengaruh pada pengarang Indonesia. Pelopor realisasi filsafat eksistensialis dalam karya sastra Indonesia adalah:

    A. Iwan Simatupang

    Menghasilkan karya-karya yang menunjukkan adanya keterlibatan komunikasi antarbudaya.

    Iwan Simatupang membuka lembaran sejarah baru dengan unsur struktur yang rumit dan pola pemikiran eksistensialis.

    Karya Iwan Simatupang tsb ialah Merahnya Merah, Ziarah, Kering  dan Koong.

    Keempat karya Iwan Simatupang tsb menunjukkan gaya penceritaan yang hampir sama.

    B. Kuntowidjojo

    Dalam novelnya yang berjudul Khotbah di Atas Bukit, melalui tokoh utamanya menonjolkan filsafat eksistensialis, mengajarkan tentang makna kehidupan.

    Novel ini diilhami dari cerita yang terdapat dalam Perjanjian baru yang di dalamnya terdapat cerita tentang Yesus yang berkhotbah di atas bukit.

    Baju yang dikenakan tokoh utamanya pun serba putih seperti gambaran Yesus yang mengenakan jubah putih.

    2. Gaya Surealisme

    Sejarah Sastra Indonesia membuka lembaran baru dengan munculnya karya-karya bersifat surealisme yang menampilkan pikiran bawah sadar dan hal-hal nonrasional dan tidak sesuai dengan kenyataan atau absurd. Misalnya Rafilus karya Budi darma.

    Perhatikan kutipan karya Budi Darma yang berjudul Rafilus berikut:

    “Tentu saja kesan saya salah. Tidak mungkin dia tidak akan mati. Meskipun demikian, hampir selamanya saya tidak dapat mengelak untuk berpendapat, bahwa sosok tubuhnya tidak terbentuk dari daging, melainkan dari besi. Kulitnya hitam mengkilat, seperti permukaan besi yang dipoles dan hampir tidak pernah berhenti digosok” (Darma, 1988: 14).

    Contoh karya bergaya surealisme yang lain adalah:

    – Olenka karya Budi Darma
    – Stasiun karya Putu Wijaya.

    3. Paham Sufistik dan Kebatinan

    Paham ini bukan hal baru dalam sastra Indonesia.

    Pada abad-17 di Aceh paham ini tumbuh subur. Pada masa Pujangga baru paham ini dipelopori oleh Amir hamzah.

    Bedanya paham Sufistik Pujangga Baru muncul dalam bentuk kekaguman.

    Sentara tahun 1970-an muncul sebagai salah satu bentuk filsafat-sastra yang diramu dengan paham spiritual nusantara seperti kejawen, mantra, dan sebagainya dalam rangka berkomunikasi dan memahami Tuhan.

    Tokoh sufistik adalah:

    Sutardji Calzoum Bachri
    Goenawan Muhammad
    Kuntowijoyo
    Danarto
    Abdul Hadi WM
    Emha Ainun Najib

    4. Munculnya Norma-norma Kedaerahan

    Pada tahun 1970-1980 telah bangkit kembali unsur-unsur kedaerahan.

    Unsur tersebut didominasi unsur budaya Jawa, meskipun unsur daerah lain juga tidak kalah suburnya.

    Misalnya: Novel Upacara karya Korrie Layun Rampan menceritakan suatu upacara di daerah Dayak, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi, menceritakan selain tentang wanita Jawa juga mengunakan kata-kata Jawa dan struktur bahasa jawa secara dominan.

    Karya-karya bersetting Jawa:

    – Sri Sumarah dan Bawuk : Umar Kayam
    – Kutut Manggung : Linus Suryadi
    – Ki Blakasuto Bla Bla :  Darmanto Yatman
    – Karta Ia bilang Boten :Darmanto Yatman
    – Burung-Burung Manyar : JB Mangunwijaya
    – Roro Mendut : JB Mangunwijaya
    – Lusi Lindri : JB Mangunwijaya
    – Canting : Arswendo Atmowiloto
    – Ronggeng Dukuh Paruk : Ahmad Tohari
    – Lintang Kemukus Dini Hari : Ahmad Tohari
    – Jentera Bianglala : Ahmad Tohari

  • Pengertian Sastra Nusantara Menurut Para Ahli

    Pengertian Sastra Nusantara Menurut Para Ahli

    Pengertian Sastra Nusantara Menurut Para Ahli

    Istilah Nusantara pertama kali dipakai oleh kerajaan Majapahit untuk menyebut daerah-daerah kekuasaannya.

    1. Vlekke (1958 : 15)

    Kata Nusantara sendiri merujuk pada periode khusus ketika Indonesia dikuasai oleh Majapahit, khususnya ketika kerajaan ini berada di bawah kendali patih besarnya, Gajah Mada. Majapahit adalah negara kesatuan Indonesia di masa silam.

    2. Hamidy (1994 : 7)

    Bahasa tanpa sastra bagaikan jasat tanpa ruh. Bahasa tidak punya semangat jika tidak ada muatan sastra.

    Sastralah yang membuat bahasa menjadi hidup. Dalam sastralah terkesan harapan dan cita-cita masyarakatnya Sastra Nusantara tidak berdiri sendiri, ia terbentuk dari sinkretis antar daerah-daerah di wilayah nusantara.

    Bahasa tanpa sastra bagaikan jasat tanpa ruh. Bahasa tidak punya semangat jika tidak ada muatan sastra. Sastralah yang membuat bahasa menjadi hidup. Dalam sastralah terkesan harapan dan cita-cita masyarakatnya

    3. Djamaris (2001 : 151)

    Bahwa dalam Sastra Nusantara terdapat sastra Jawa, sastra Sunda, sastra Bali, sastra lombok, dan sastra Madura seperti Babad Tanah Jawi, Babad Blambangan, Cerita Dipati Ukur, Sejarah Suka Pura, Babad Buleleng, Babad Lombok, dan Babad Madura.

    Sastra Nusantara juga biasa disebut sebagai sastra daerah. Sastra daerah merupakan bagian dari sastra nusantara yang mewakili kemajemukan daerah yang ada di Indonesia.

    Karya sastra daerah berkembang di daerah dan diungkapkan dengan menggunakan bahasa daerah. Sastra daerah juga mempunyai kedudukan di tengah masyarakat.

    4. Koentjaraningrat (2005 : 20)

    Sastra merupakan salah satu jenis kesenian selain seni musik, seni rupa, seni patung, seni menggambar, dan seni pertunjukan.

    Sastra Daerah adalah ciptaan masyarakat pada masa lampau atau mendahului penciptaan sastra Indonesia moderen.

    5. Tuloli, 2001 : 209)

    Sastra daerah dapat dimasukkan sebagai satu aspek budaya Indonesia yang memperkaya budaya nasional dan menjadi alternatif kedua yang perlu dipertimbangkan dan dikembangkan selain sastra Indonesia.

    Itulah pengertian sastra nusantara menurut para ahli. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Perbedaan Puisi Lama dan Puisi Baru Beserta Contohnya

    Perbedaan Puisi Lama dan Puisi Baru Beserta Contohnya

    Perbedaan Puisi Lama dan Puisi Baru

    Puisi adalah sebuah karya sastra yang diciptakan oleh rajutan kata indah sesuai dengan apa yang dirasakan oleh penyair.

    Puisi sendiri biasanya dipenuhi dengan kata-kata imajinatif yang mengandung makna dalam sehingga banyak yang beranggapan jika puisi adalah salah satu karya sastra yang sifatnya sakral.

    Puisi Lama

    Dalam perkembangannya, puisi terbagi menjadi dua jenis, yaitu puisi lama dan baru. Puisi Lama adalah puisi yang terikat dengan aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya. Aturan tersebut berhubungan dengan kata, baris, bait, rima dan irama.

    Sedangkan puisi baru atau yang juga disebut dengan puisi modern adalah kebalikan dari puisi lama, yang mana puisi baru tidak lagi terikat dengan aturan-aturan tersebut, alias bebas.

    Macam Macam Puisi Lama

    Nah, agar lebih jelasnya, berikut adalah beragam puisi lama yang masih digunakan sampai saat ini:

    1. Pantun

    Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang sangat populer di Indonesia. Pantun sendiri berasal dari Bahasa Minangkabau, yaitu ‘panutun’.  Adapun ciri-ciri pantun sebagai berikut:

    • Setiap bait terdiri dari empat baris
    • Setiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata
    • Memiliki irama (a-a-a-a/ a-b-a-b / a-a-b-b)
    • Baris pertama dan kedua adalah sampiran
    • Baris ketiga dan keempat adalah isi

    Contoh Pantun :

    Anjing bermain dengan tali
    Kera duduk membaca koran
    Bagaimana hati tak geli
    Kepala botak suka sisiran

    2. Karmina

    Karmina juga bisa disebut sebagai pantun kilat yang hanya terdiri dari dua baris saja. Karmina sendiri biasanya disajikan dalam acara-acara kebudayaan serta sebagai materi pembelajaran di sekolah.

    Berikut adalah ciri-ciri Karmina:

    • Setiap bait terdiri dari dua baris
    • Setiap baris terdiri dari 8 sampai 12 kata
    • Memiliki irama pada setiap frasa dengan pola a-b-a-b
    • Baris pertama adalah sampiran
    • Baris kedua adalah isi

    Contoh Karmina:

    Satu titik dua koma
    Kamu cantik saya yang punya

    3. Talibun

    Talibun adalah kebalikan dari Karmina. Jika Karmina merupakan puisi singkat, Talibun adalah puisi yang memiliki baris lebih panjang. Adapun ciri-ciri dari Talibun adalah sebagai berikut:

    • Setiap bait terdiri dari lebih dari empat baris (harus genap)
    • Setap baris memiliki 8 sampai 12 suku kata
    • Irama a-b-c-a-b-c
    • Setengah baris pertama adalah sampiran
    • Setengah baris selanjutnya adalah isi

    Contoh Talibun:

    Telah penat hamba mendaki
    Mendaki batu berjenjang
    Bulan tak juga terang-terangnya
    Telah penat hamba menanti
    Telah putih mata memandang
    Tuan tak kunjung datang juga

    4. Seloka

    Seloka adalah puisi lama yang hampir mirip dengan pantun, hanya saja yang membedakannya adalah letak isi. Berikut adalah ciri-ciri seloka:

    • Setiap bait terdiri dari 4 sampai 8 baris (genap)
    • Setiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata
    • Memiliki irama a-b-a-b
    • Setiap baris adalah isi

    Contoh Seloka:

    Jalan-jalan kekota bertemu umi pipik
    Naik motor milik si Dahlan
    Jadilah pengendara yang baik
    Agar selamat sampai tujuan

    Naik motor milik si Dahlan
    Pergi ke pasar membeli nanas
    Agar selamat sampai tujuan
    Selalu taatilah lalu lintas

    5. Gurindam

    Gurindam adalah bentuk puisi lama yang berupa pantun singkat. Berikut adalah ciri-ciri dari gurindam:

    • Setiap bait terdiri dari dua baris
    • Tiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata
    • Memiliki irama a-a atau b-b
    • Setiap baris adalah isi

    Contoh Gurindam:

    Hendaklah pemimpin memegang amanat
    Supaya dicintai dan dihormati oleh rakyat

    6. Mantra

    Mantra memang terkenal dengan unsur gaib dan mistis, tapi mantra sendiri merupakan jenis puisi lama yang digunakan oleh nenek moyang kita.

    Walaupun tidak selalu terbentur aturan, tapi mantra juga kadang memiliki irama dalam setiap baitnya. Selain itu, mantra juga memiliki unsur seni dengan menggunakan kata-kata yang imajinatif.

    Puisi Baru

    Puisi baru atau yang juga disebut dengan puisi modern adalah kebalikan dari puisi lama, yang mana puisi baru tidak lagi terikat dengan aturan-aturan tersebut, alias bebas.

    Macam Macam Puisi Baru

    Adapun jenis-jenis puisi baru sebagai berikut:

    1. Balada

    Balada merupakan puisi baru yang berisi cerita atau kisah. Ciri-cirinya adalah:

    • Terdiri dari 3 bait
    • Setiap bait terdiri dari 8 baris
    • Memiliki irama a-b-a-b-c-c-b
    • Beralih menjadi a-b-a-b-b-c-c-b-c

    Contoh Balada:

    Balada Ibu yang Dibunuh
    karya WS Rendra

    Ibu musang di lindung pohon tua meliang
    Bayinya dua ditinggal mati lakinya.
    Bualan sabit terkait malam memberita datangnya
    Waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.
    Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
    Dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.
    Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
    Menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.
    Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
    Oleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daun
    Tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.
    Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya
    Ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua.
    Tiada tahu akan meraplah kolik meratap juga
    Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara
    Lalu satu ketika di pohon tua meliang
    Matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.
    Dan jalannya semua peristiwa
    Tanpa dukungan satu dosa, tanpa.

    2. Hymne

    Hmne merupakan salah satu jenis puisi baru yang berisi tentang rasa syukur serta pujian kepada Tuhan, pahlawan, Tanah Air, Almamater, hingga tempat tertentu. Dalam perkembangannya, hymne sering dijadikan musik atau lagu yang dinyanyikan.

    contoh hymne:

    Doa
    Karya: Taufik Ismail

    Tuhan kami
    Telah nista kami dalam dosa bersama
    Bertahun membangun kultus ini
    Dalam pikiran yang ganda
    Dan menutupi hati nurani
    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amiin

    Tuhan kami
    Telah terlalu mudah kami
    Menggunakan asmaMu bertahun di negeri ini
    Semoga Kau rela menerima kembali
    Kami dalam barisanMu
    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amiin

    3. Epigram

    Epigram adalah puisi baru yang berisi tentang etika, moral, serta tuntunan hidup manusia.

    Contoh Epigram:

    Hari ini tak ada tempat berdiri
    Sikap lamban berarti mati
    Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
    Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas

    4. Romansa

    Romansa merupakan jenis puisi baru yang cukup populer di kalangan anak muda karena unsur atau isi dari romansa merupakan ungkapan serta luapan rasa cinta dan kasih sayang

    Contoh Romansa:

    Sajak Putih
    Karya: Chairil Anwar

    Buat tunanganku Mirat
    Bersandar pada tari warna pelangi
    Kau depanku bertudung sutra senja
    Di hitam matamu kembang mawar dan melati
    Harum rambutmu mengalun bergelut senda

    Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
    Meriak muka air kolam jiwa
    Dan dalam dadaku memerdu lagu
    Menarik menari seluruh aku

    Hidup dari hidupku, pintu terbuka
    Selama matamu bagiku menengadah
    Selama kau darah mengalir dari luka
    Antara kita Mati datang tidak membelah

    Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
    Dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
    Kucuplah aku terus, kucuplah
    Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku

    5. Satire

    Satire adalah jenis puisi baru yang sifatnya mengenai sindiran halus kepada penguasa atau orang yang memiliki jabatan khusus dalam sebuah lembaga, Negara, hingga kerajaan.

    Contoh satire:

    Aku bertanya
    Oleh : WS Rendra

    Aku bertanya…
    tetapi pertanyaan-pertanyaanku
    membentur jidat penyair-penyair salon,
    yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

    sementara ketidakadilan terjadi
    di sampingnya,
    dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
    termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.

  • Mengenal Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Karya Sastra

    Mengenal Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Karya Sastra

    Unsur Intrinsik

    Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Unsur-unsur intrinsik karya sastra adalah :

    1. Tema
    2. Amanat
    3. Alur/Plot
    4. Perwatakan/Penokohan
    5. Latar/setting
    6. Sudut Pandang
    7. Unsur-unsur Intrinsik

     1. Tema

    Tema adalah sesuatu yang menjadi ide pokok/pokok masalah/pokok pikiran dari pengarang yang ditampilkan dalam karyanya.

    2. Amanat

    Amanat adalah pesan/kesan yang dapat memberikan tambahan pengetahuan, pendidikan, dan sesuatu yang bermakna dalam hidup yang memberikan penghiburan, kepuasan dan kekayaan batin kita terhadap hidup.

    3. Plot/Alur

    Plot adalah jalan cerita/rangkaian peristiwa dari awal sampai akhir.

    A. Tahap-tahap alur

    1. Tahap perkenalan/eksposisi

    Tahap perkenalan adalah tahap permulaan suatu cerita yang dimulai dengan suatu kejadian, tetapi belum ada ketegangan (perkenalan para tokoh, reaksi antarpelaku, penggambaran fisik, penggambaran tempat.

    2. Tahap pertentangan/Konflik

    Tahap pertentangan/konflik adalah tahap dimana mulai terjadi pertentangan antara pelaku-pelaku (titik pijak menuju pertentangan selanjutnya).

    3. Tahap klimaks

    Tahap klimaks adalah ketika pertentangan atau konflik mencapai puncaknya. Baik konflik batin maupun konflik fisik.

    4. Tahap penyelesaian

    Tahap penyelesaian adalah ketika ada solusi dari masalah yang terjadi.

    B. Macam-macam alur

    1. Alur maju adalah peristiwa –peristiwa diutarakan mulai awal sampai akhir/masa kini menuju masa datang.

    2. Alur mundur/Sorot balik/Flash back adalah peristiwa-peristiwa yang menjadi bagian penutup diutarakan terlebih dahulu/masa kini, baru menceritakan peristiwa-peristiwa pokok melalui kenangan/masa lalu salah satu tokoh.

    3. Alur gabungan/Campuran adalah peristiwa-peristiwa pokok diutarakan. Dalam pengutararaan peristiwa-peristiwa pokok, pembaca diajak mengenang peristiwa-peristiwa yang lampau, kemudian mengenang peristiwa pokok (dialami oleh tokoh utama) lagi.

    4. Perwatakan/Penokohan

    Perwatakan/Penokohan adalah bagaimana pengarang melukiskan watak tokoh dalam karya sastranya.

    Setidaknya ada tiga cara untuk melukiskan watak tokoh dalam sebuah karya, diantarnya.

    1. Analitik

    Analitik adalah pengarang langsung menceritakan watak tokoh.

    Contoh : Siapa yang tidak kenal Pak Edi yang lucu, periang, dan pintar. Meskipun agak pendek justru melengkapi sosoknya sebagai guru yang diidolakan siswa. Lucu dan penyanyang.

    2. Dramatik

    Dramatik adalah pengarang melukiskan watak tokoh dengan tidak langsung.

    Bisa melalui tempat tinggal, lingkungan,percakapan/dialog antartokoh, perbuatan, fisik dan tingkah laku, komentar tokoh lain terhadap tokoh tertentu, jalan pikiran tokoh.

    Contoh : Begitu memasuki kamarnya Yayuk, pelajar kelas 1 SMA itu langsung melempar tasnya ke tempat tidur dan membaringkan dirinya tanpa melepaskan sepatu terlebih dahulu. (tingkah laku tokoh)

    3. Campuran

    Campuran adalah gabungan analitik dan dramatik. Pelaku dalam cerita dapat berupa manusia , binatang, atau benda-benda mati yang diinsankan.

    5. Pelaku/Tokoh

    1. Tokoh utama

    Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan utama dalam cerita dan selalu hadir/muncul pada setiap satuan kejadian.

    2. Tokoh pembantu

    Tokoh pembantu adalah tokoh yang berfungsi membantu pelaku utama dalam cerita.Bisa bertindak sebagai pahlawan mungkin juga sebagai penentang pelaku utama.

    3. Tokoh protagonis

    Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang watak tertentu yang membawa ide kebenaran.(jujur,setia,baik hati dll)

    4. Tokoh antagonis

    Toko antagonis adalah tokoh yang berfungsi menentang pelaku protagonis (penipu, pembohong dll)

    5. Tokoh tritagonis

    Tokoh tritagonis adalah tokoh yang dalam cerita sering dimunculkan sebagai tokoh ketiga yang biasa disebut dengan tokoh penengah.

    6. Latar/Setting

    Latar/setting adalah sesuatu atau keadaan yang melingkupi pelaku dalam sebuah cerita. Adapun macam-macam latar, sebagai berikut:

    1. Latar tempat adalah latar dimana pelaku berada atau cerita terjadi (di sekolah, di kota, di ruangan dll)

    2. Latar waktu adalah kapan cerita itu terjadi (pagi, siang,malam, kemarin, besuk dll)

    3. Latar suasana adalah dalam keadaan dimana cerita terjadi. (sedih, gembira, dingin, damai, sepi dll)

    7. Sudut Pandang Pengarang

    Sudut pandang adalah posisi/kedudukan pengarang dalam membawakan cerita. Sudut pandang dibedakan atas :

    1. Sudut pandang orang kesatu adalah pengarang berfungsi sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam cerita, terutama sebagai pelaku utama. Pelaku utamanya(aku, saya, kata ganti orang pertama jamak : kami, kita)

    2. Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang berada di luar cerita, ia menuturkan tokoh-tokoh di luar, tidak terlibat dalam cerita. Pelaku utamanya (ia, dia, mereka,kata ganti orang ketiga jamak, nama-nama lain)

    Unsur Ekstrinsik

    Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar, seperti:

    1. Latar Belakang Penciptaan adalah kapan karya sastra tersebut diciptakan

    2. Kondisi masyarakat pada saat karya sastra diciptakan adalah keadaan masyarakat baik itu ekonomi, sosial, budaya, politik pada saat karya sastra diciptakan

    3. Pandangan hidup pengarang/Latar belakang pengarang.

  • Pengertian Kritik Sastra Beserta Penerapannya

    Pengertian Kritik Sastra Beserta Penerapannya

    Kritik Sastra

    Kritik sastra adalah salah satu cabang ilmu sastra yang digunakan untuk mengamati serta menghakimi suatu karya sastra. Menghakimi tersebut bukan dalam artian memvonis, tapi sebagai cakupan nilai yang dilakukan secara objektif.

    Dalam penerapannya, kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya sastra.

    Kegiatan kritik sastra pertama kali di dunia dilakukan dua orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM.

    Xenophanes dan Heraclitus mengecam keras seorang pujangga besar bernama Homerus yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi. Namun, seiring berkembangnya peradaban keilmuan sastra, kritik sastra pun hadir di Indonesia.

    Istilah dan pengertian kritik sastra baru muncul ketika para sastrawan Indonesia mendapat pendidikan dengan sistem Eropa pada awal abad ke-20.

    Adapun beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam kritik sastra adalah pendekatan strukturalis, pendekatan poststrukturalis, serta pendekatan feminis. Lantas jika dilihat dari jenis-jenisnya, kritik sastra bisa dibedakan menjadi 4 macam, diantaranya:

    1. Kritik Mimetik

    Kritik ini bertolak pada pandangan bahwa suatu karya sastra adalah gambaran atau rekaan dari dunia dan kehidupan manusia.

    2. Kritik Pragmatik

    Kritik ini melihat kegunaan suatu karya sastra. Kegunaan ini dilihat dari segi hiburan, estetika, pendidikan, dan hal lainnya.

    3. Kritik Ekspresif

    Kritik yang menekankan analisis pada kemampuan pengarang dalam mengekspresikan atau menuangkan idenya dalam wujud sastra.

    4. Kritik Objektif

    Pendekatan ini melihat karya sastra sebagai karya yang berdiri sendiri. Karya sastra adalah objek yang mandiri dan memiliki dunianya sendiri.

    Bila ditarik kesimpulan lebih sederhana, maka dapat dikatakan bahwa gfungsi kritik sastra memiliki perbedaan satu sama lain, namun wajib melewati tiga tahapan seperti interpretasi (penafisran), analisis (penguraian), dan evaluasi (penilaian).

    Secara garis besar, bisa disimpulkan bahwa fungsi kritik sastra yaitu sebagai media yang menghubungkan antara sastrawan dan penikmat sastra untuk memahami lebih dalam tentang karya sastra itu sendiri.

  • Pengertian Sastra Secara Umum Dan Perkembangannya

    Pengertian Sastra

    Sastra, sebuah kata yang sangat tak asing bagi telinga kita. Seiring perjalanan sejarah dan peradaban manusia, sastra adalah salah satu di dalamnya.

    Sastra turut berperan dalam pola pikir peradaban masyarakat yang terus diturunkan ke generasi-generasi berikutnya.

    Tapi apakah kita tahu, apa esensi dari sastra?

    Banyak yang mengartikan sastra sebagai sebuah karya tulis yang indah dan mengandung makna dalam.

    Definisi tersebut didapatkan karena pada umumnya karya sastra berupa tulisan-tulisan yang diwariskan.

    Menurut bahasa Sansekerta, Sastra dapat diartikan sebagai teks yang mengandung instruksi atau pedoman.

    Suku katanya adalah Sas yang berarti instruksi, lalu Tra yang mengandung arti alat atau sarana.

    Lantas, pada bahasa Indonesia, kata tersebut bisa diterapkan sebagai suatu makna kesusastraan yang berarti tulisan indah beserta makna di dalamnya.

    Nah, kembali lagi pada konteks tulisan. Diserap dari bahasa Sansekerta pun, sastra akan dianggap sebagai sebuah tulisan. Benarkah begitu?

    Memang benar demikian, tapi sejatinya sastra adalah tulisan di dalam tulisan yang mengandung makna terselubung di dalamnya.

    Perlu kita pahami betul bahwasanya segmentasi sastra memang menggunakan teks sebagai tubuhnya.

    Tapi, dalam tubuh tersebut terdapat tulang, darah, daging, serta organ-organ yang didapat dari perjalanan hidup manusia.

    Mulai dari tak ada menjadi ada (lahir), hingga kosong (kembali). Yang mendasari sastra lahir adalah buah budi, akal, serta pemikiran manusia yang mau berpikir tentang sudut pandang liar dalam kehidupannya.

    Sastra seringkali digunakan dalam sebuah pengungkapan rasa yang paling qolbu mengenai sekelumit ganjalan di salah satu ruang pada hati.

    Pahamilah, dalam hati serta pikiran manusia terdapat beberapa ruang yang berbeda. Kenali satu persatu dari ruangan tersebut agar kita tidak salah memasuki ruang yang sesungguhnya.

    Begitu pula karya sastra dapat terbentuk dari huruf demi huruf yang dirajut rapi. Darimana darangnya huruf demi huruf tersebut?

    Mungkin datangnya dari salah satu ruang di hati yang berteriak saat melihat keadaan sekitar.

    Maka dari itu, kebanyakan karya sastra selalu menggunakan peristiwa atau tragedi pada kehidupan sebagai objeknya.

    Sampai saat ini perkembangan sastra terus mengalami kemajuan. Ribuan bahkan jutaan karya sastra akan terus menemani peradaban manusia pada setiap generasinya.

    Itu perlu dan tidak akan bisa lepas, ibaratnya langit dan bumi yang berjalan beriringan walau tak bisa bergandengan.

    Mungkin sekian yang bisa saya jelaskan. Pahamilah esensi kehidupan, bukan hanya sekedar menjalankan.

    Sebab, perjalanan akan terasa menyenangkan jika disambi dengan pengetahuan yang mendalam.

    Auhor: Maulana Affandi

  • Apa yang Dimaksud dengan Semiotik Sastra?

    Apa yang Dimaksud dengan Semiotik Sastra?

    Pengertian Teori Semiotika

    Teori semiotika adalah teori tentang tanda, ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah teori tentang gaya bahasa.

    A. Teew (1984 : 6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindakan komunikasi dan kemudian disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki, untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas dalam masyarakat.

    Konsep Semiotik Sastra

    Semiotik merupakan bahasa yang mencerminkan bahasa sastra yang estetis, sistematis dan memiliki pluralitas makna ketika dibaca oleh pembaca dalam memberi pemahaman terhadap teks karya sastra.

    Semiotik terbagi atas tiga konsep, yaitu:

    1. Semiotik Pragmatik

    Semiotik pragmatik berkaitan dengan asal-usul tanda, kegunaan tanda dalam penerapan, dan efek tanda bagi yang menginterpretasikannya. Semiotik pragmatik ini dalam batas perilaku objek.

    2. Semiotik Sintaktis

    Semiotik sintaksis adalah kombinasi tanda tanpa memperhatikan maknanya ataupun hubungannya terhadap perilaku subjek.

    3. Semiotik Semantik

    Semiotik semantik adalah tanda dalam “arti” yang disampaikan.

    Wawasan Semiotik dalam Studi Sastra

    • Karya sastra merupakan gejala konsumsi yang berkaitan dengan pengarang, wujud sastra sebagai sistem tanda, dan pembaca.
    • Karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem tanda yang memiliki struktur dalam tata tingkat tertentu.
    • Karya sastra merupakan fakta yang harus direkrontruksikan pembaca sejalan dengan dunia pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

    Semiotik Menurut Para Ahli

    Adapun definisi semiotik menurut para ahli adalah sebagai berikut:

    1. Charles Sander Pierce (1839 – 1913)

    Mengemukakan tentang teori segitiga makna, yaitu:

    A. Tanda (sign)

    Adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan meripakan sesuatu yang merujuk (merepresentasi) hal lain di luar tanda itu sendiri.

    Tanda terbagi menjadi tiga yaitu simbol, ikon, dan indeks. Simbol adalah tanda yang muncul dari kesepakatan atau konvensi-konvensi bahasa.

    Ikon adalah tanda-tanda yang muncul dari perwakilan fisik. Indeks adalah tanda yang muncul dari hubungan sebab akibat.

    Dalam penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan semiotik, tanda berupa indeks yang paling banyak dicari, yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukan hubungan sebab-akibat.

    B. Interpretant atau Penggunaan Tanda

    Adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.

    C. Objek

    Adalah konteks sosial yang menjdi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.

    2. Ferdinad De Sausure

    Mengemukakan pembagian tanda menjadi 2, yaitu:

    • Penanda (Signifer) adalah tanda yang dapat dilihat dari bentuk fisik.
    • Pertanda (Signifed) adalah makna yang terungkap melalui konsep fungsi atau nilai-nilai yang terkandung.

    3. Rolan Barthes

    Membagi tanda menjadi dua yaitu:

    • Denotasi, yaitu tingkat pertanda yang menjelaskan hubungan penanda dan pertanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti.
    • Konotasi, yaitu tingkat pertanda menjelaskan hubungan penanda dan pertanda yang didalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti.

    Kelebihan Semiotik dalam Menelaah Karya Sastra

    • Memperindah karya sastra.
    • Mengetahui keindahan karya sastra.
    • Dalam penelitian analisisnya lebih spesifik dan komperhensif.
    • Memberikan pemahaman makna dari simbolik baru dalam membaca karya sastra
    • Pembaca mengetahui dua makna yaitu makna bahasa secara literlag dan makna simbolik.
    • Kelemahan Semiotik dalam Menelaah Karya Sastra
    • Kurang memperhatikan struktur, mengabaikan unsur intrinsik.
    • Memerlukan banyak dukungan ilmu bantu lain seperti linguistik, sosiologi, psikologi.
    • Perlu kematangan konsep luas tentang sastra wawasan luas, dan teorinya.
    • Cenderung menggunakan subjektifitasnya yang menampilkan itu semua dan itu sangat risjan untuk meneliti dengan teori ini.