Keputusan Akademi Swedia menganugerahkan Nobel Sastra 2025 kepada László Krasznahorkai, novelis asal Hungaria, justru berujung pada pernyataan tak biasa.
Alih-alih bersyukur, penulis berusia 61 tahun itu menyebut penghargaan paling bergengsi di dunia sastra tersebut sebagai “bencana”.
Krasznahorkai menerima kabar kemenangannya saat berada di Frankfurt, Jerman, Kamis malam (9/10) waktu setempat.
Dalam wawancara via telepon dengan pihak Akademi Swedia, ia mengaku terkejut dan menyamakan momen itu dengan reaksi penulis legendaris Samuel Beckett ketika menerima Nobel.
“Ini lebih dari sekadar bencana. Saya teringat Samuel Beckett yang juga menyebut penghargaan ini sebagai bencana ketika menerimanya,” ujar Krasznahorkai dikutip dari situs resmi Nobel Prize.
Meski menyebutnya bencana, penulis Sátántangó itu tetap mengungkapkan rasa bangga dan bahagia karena bisa sejajar dengan para sastrawan besar dunia.
Ia juga menegaskan pentingnya tetap menggunakan bahasa asli Hungaria dalam karya-karyanya.
“Saya bangga menulis dengan bahasa kecil seperti bahasa Hongaria. Saya berterima kasih kepada para pembaca yang selalu setia,” katanya.
Krasznahorkai juga mengajak masyarakat untuk terus membaca dan berfantasi, karena menurutnya, imajinasi adalah sumber kekuatan di masa sulit.
“Membaca memberi kita kekayaan batin dan kekuatan untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Soal karya terbarunya, Krasznahorkai memilih untuk tidak membocorkan apa pun sebelum buku tersebut diterbitkan.
“Saya tidak pernah membicarakan apa yang sedang saya tulis. Saat waktunya tiba, saya akan memulai kembali dengan karya yang lebih baik dari sebelumnya,” tambahnya.
László Krasznahorkai lahir pada 1964 di kota kecil Gyula, Hungaria tenggara, dekat perbatasan Rumania.
Daerah pedesaan itu menjadi latar bagi novel debutnya, Sátántangó, yang terbit pada 1985 dan langsung menjadi fenomena sastra di Hungaria.
Karya tersebut menggambarkan kehidupan penduduk miskin di sebuah pertanian kolektif menjelang runtuhnya rezim komunis.
Sumber:









