Mengungkap Sosok Enny Arrow, Penulis Novel Dewasa yang Misterius

Sastrawacana.id

enny arrow
enny arrow

Pada tahun 1980-an, di Indonesia belum ada internet atau telepon genggam.

Film-film pendek yang agak cabul juga belum banyak. Jadi, bagaimana remaja zaman itu tahu soal seks?

Mereka belajar dari novel-novel yang agak nakal, seperti yang ditulis oleh Enny Arrow.

Biasanya, novel-novel ini dijual secara sembunyi-sembunyi di antara koran, kios buku bekas, atau penjual buku pinggir jalan.

Baca juga: 10 Novel Karya Enny Arrow Lengkap dengan Sinopsisnya

Enny Arrow adalah nama samaran, dan banyak penulis lain ikut-ikutan menggunakan nama itu karena popularitasnya.

Novel-novel Enny Arrow berisi cerita-cerita yang vulgar tentang seks, tidak punya alur cerita yang jelas karena tujuannya hanya untuk membangkitkan hasrat seks pembacanya.

Seringnya menggunakan kata-kata kasar dan menjelaskan detail tentang organ tubuh manusia.

Tujuannya jelas: untuk membuat pembaca terangsang. Ironisnya, ada yang mengatakan bahwa mungkin penulisnya sendiri belum pernah melakukan hubungan seks.

Pembaca novel Enny Arrow tidak hanya anak-anak atau remaja, tapi juga orang dewasa. Mereka penasaran tentang seks.

Meskipun novel-novel Enny Arrow dijual secara sembunyi-sembunyi, tapi kepopulerannya patut diakui.

Bahkan, survei pada tahun 2003 menemukan bahwa 17,2% responden mengaku belajar tentang seks pertama kali dari karya Enny Arrow.

Tapi, seiring dengan makin majunya teknologi dan internet, karya-karya Enny Arrow mulai ditinggalkan. Sampai sekarang, misteri tentang siapa Enny Arrow sebenarnya masih belum terpecahkan.

Konon, Enny Arrow dulu bekerja di toko jahit yang namanya “Arrow” di Jakarta Timur.

Mungkin karena bosan bekerja, dia mulai menulis novel pada tahun 1965. Novel pertamanya judulnya agak seram, “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta”.

Ada yang menuduh judul itu bermuatan politik. Nama “Arrow” dari tempat kerjanya itu dicantumkan di belakang nama aslinya, Enny (Sukaesih Probowidagdo).

Entah apa hubungannya, tapi pada akhir tahun yang sama, Enny Arrow kabur ke Filipina, lalu ke Hong Kong, dan akhirnya ke Seattle, Amerika Serikat, pada April 1967.

Menurut informasi yang beredar, dia lahir di Hambalang, Bogor, tahun 1924, dan sebelumnya dia adalah wartawan.

Saat revolusi kemerdekaan, dia jadi wartawan Republikein yang melaporkan pertempuran di sekitar Bekasi.

Tentang Enny Arro, masih banyak cerita yang beredar.

Ada yang bilang, Abdullah Harahap tahu bahwa Enny Arrow sebenarnya adalah nama samaran penulis pria, tapi Abdullah Harahap sudah meninggal, jadi kebenaran tersebut tidak bisa dikonfimasi.

Di Amerika Serikat, Enny Arrow belajar menulis cerita kreatif ala Steinbeck. Dia menemukan cara menulis ala Steinbeck dan mencoba untuk dimuat di beberapa koran terkenal di sana.

Salah satu yang dimuat adalah novel berjudul “Mirror Mirror”.

Pada tahun 1974, Enny Arrow kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai penulis iklan di sebuah perusahaan asing.

Tapi godaan menulis terus menghantuinya. Pada pertengahan tahun 1970-an, nama Enny Arrow melejit dan populer di Indonesia, bersaing dengan popularitas Teguh Esha dan Ali Topan.

Selama satu dekade berikutnya, sampai pertengahan tahun 1980-an, Enny Arrow menjadi salah satu penulis terkenal di kalangan remaja Indonesia, bersama dengan komik-komik seperti Zaldy, Sim, Jan, dan sebagainya.

Baca Juga

Bagikan:

Sastrawacana.id

Sastrawacana.id

Media Literasi Indoenesia